Soulreaper-2025-Albums-Recap

“Soulreaper menggumpulkan rilisan-rilisan album yang berhubungan dengan metal, yang dirasa pantas untuk mewakili suara musik metal tahun ini”

2025 menjadi tahun terkelam bagi musik metal sejauh ini. Asosiasi “kelam” seringkali seperti terdengar lontaran pujian bagi musik metal, tetapi untuk kali ini, definisi yang datang di balik kata “kelam” mengundang konotasi negatif. Setelah menginjak 10 bulan pada ahun 2025, berita mengenai kematian musisi-musisi metal dunia seolah belum surut sekalipun. Berita yang paling menggemparkan jatuh kepada Ozzy Osbourne, yang secara ironis meninggal tepat seminggu setelah Black Sabbath menggelar pertunjukkan terakhir di kota kelahirannya, Brimingham, United Kingdom.

Tidak ada yang menyangka bahwa konser penutupan Black Sabbath, sekaligus menjadi panggung terakhir bagi “sang pangeran kegelapan”, bersama band yang telah membesarkan namanya. Masa-masa berkabung masih terus menghantui, ketika mendengar kabar para pahlawan berguguran satu per satu.

Hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun, masa metalhead mendapat kabar mengenai kematian dari Thomas Lindberg vokalis utama At The Gates, Brent Hinds eks gitaris Mastodon, Drummer asli Baroness Allen Blickle, Jürgen Bartsch pendiri band dsbm asal Jerman Bethlehem, hingga terakhir menyusul info kematian mengenai berpulangnya gitaris utama Kiss, Ace Frehley dan bassist dari Limp Bizkit, Sam Rivers.

Dibalik merasakan kehilangan dan duka mendalam, melirik dan mengapresiasi rilisan-rilisan terbaru tahun ini setidaknya bisa menjadi sedikit pelipur lara. Menandakan bahwa sekalipun kehilangan begitu banyak sosok penting, masih ada generasi penerus yang berusaha dari bawah tanah menjaga agar nyala api valhalla tidak pernah padam sedikitpun.

Sebagai bentuk apresiatif, ini adalah rekap album apapun yang menyangkut metal yang sengaja disusun. Rekap ini tidak mengglorifikasi sebagai kurasi yang terbaik dari terbaik, pemilihan hanya berdasarkan pertimbangan album apa yang pantas menjadi perwakilan di tahun ini, di antara album-album yan didengar.

Ada 3 kemungkinan apabila ada album yang tidak terdaftar. Pertama, album tersebut belum masuk dalam radar redaksi. Kedua album tersebut secara tertunda untuk disertakan (susunan rekap ini akan diperbaharui 1 minggu sekali). Ketiga, secara nilai subjektivitas belum bisa menjadi representasi rilisan tahun ini, karena masih ada album lain yang dirasa lebih layak.

Tidak usah risau dengan urutan, karena ini tidak bekorelasi dengan kualitas dan penempatannya hanya berdasarkan ulasan mana yang ditulis lebih dulu. Pertimbangannya sangat sederhana, bahwa jika album diurutkan berdasarkan nilai subjektivitas pribadi dari yang terbaik dan terburuk, secara tidak langsung telah menciptakan presepsi bawah sadar bahwa album yang berada di urutan atas, adalah barang-barang bagus, sementara peringkat semakin bawah menunjukkan kualitas album yang kurang atau jelek dan terjadi sebaliknya.

Penempatan acak memungkinkan semakin banyak penilaian subjektivitas yang dapat terafirmasi dalam list tunggal, dan akan menghasilkan kesan “menemukan harta karun” di tempat tak terduga. Jadi, selamat berburu di tengah kebisingan!

One Of Nine – Dawn of the Iron Shadow

Soulreaper-One-of-Nine-Dawn-of-the-Iron-Shadow

Melangkah dalam sekat menghadapi kegelapan, adalah kebebasan sesungguhnya. Tanpa terbebani oleh peristiwa dan objek malang-melintang, kaki ini mampu mendarat dimanapun kehendak bersandar. Klaim statement ini telah terdefinisikan sebagaimana hakikat black metal yang menatap tajam di balik bayangan kelam, menuntut segala jeruji dan belenggu pembebasan segera dihapuskan. 

Tetapi sebagaimana kegelapan mensenyapkan perubahan, sebuah langkah subtil yang tidak disadari telah menggeser kekuatan black metal yang tidak lagi hanya menjadi seruan statement, pergi menuju proses bagaimana meraih statement tersebut diwujudkan dalam kiasan bercorak naratif. Dalam kurun beberapa waktu terakhir, sub hibrida semacam atmospheric black metal, symphonic black metal, hingga melodic black metal menuntut sebuah kesatuan dan kejelasan tema. 

Substansi yang tidak hanya terisi dari secarik kertas yang terisi penuh ayat-ayat penghujatan terhadap dogmatis Agama, irasionalitas pro-mortalis, hingga Kampak yang mengayun pada leher dalam semangat barbarisme dan kesenangan. 

Stormkeep terperangkap dalam narasi Tolkien yang membeku, Wayfarer yang terhuyung akan kegersangan padang pasir barat, hingga Paydretz yang menaruh topi pada peristiwa kontra-revolusioner Perancis, sebagai sepersekian bukti bahwa black metal berjalan dalam lingkar naratif. One of Nine mencoba peruntungan serupa pada sophomore-nya, setelah menselebrasikan kemenangan melodic black metal era 90’an, dalam magnum opus debutnya, “Eternal Sorcery”. 

Menjadi konsekuensi logis, mendengar ekspansi elementer dungeon synth memiliki tata letak yang vital. Sebagai rekam jejak, dungeon synth telah diapresiasi berkat kemampuannya mengekstrasi sebuah fantasi tanpa monolog dalam kehidupan abad pertengahan yang tersaturasi antara mitologis dan literatur sejarah. 

One of Nine, memiliki tingkat kepercayaan tinggi agar poros penulisan lagu dapat silih berganti menempatkan kekuatan riff-riff melodis maupun perangai melodi synth skala prioritas yang membantu menajamkan tema utama setiap lagu. 

Singkatnya dungeon synth tidak hanya terselip pada bagian interlude yang terisolir, tetapi meresonansikan atmosfer dan kedalaman emosional cultural yang tidak terwujud dalam kondimen instrumen konvensional. Seperti pada pendobrak “Age of Chains” yang menggelegar, sekaligus menyematkan kemilau pantulan air jernih danau, dan klebatan melodi yang menyala terang, dibalik dataran riff yang terasa kokoh. 

Sangkakala yang telah dibunyikan sebagai secercah harapan optimis yang digapai dalam pacuan ritme drum dan ritmis galloping menuju medan pertempuran, berkumandang dalam kidung “Quest of the Silmaril”. Sekaligus sebagaimana saksi bahwa black metal dapat menghasilkan komposisi berliku penuh cerita, dan kesan yang berangsur didapat dari fluktuasi emosi riff dan iringan synth analog. 

Demi menaikan titik rendah keputusasaan menjadi seruan pedang yang mengangkasa, One of Nine memutarbalikan lingkaran menuju interval mayor, yang membuat narasi peperangan maupun perjuangannya terasa mencolok sekaligus bergairah. 

Misalnya pada “Dreadful Leap” dengan pergerakan resolusi melodi yang melalang buana sejenak sebelum kembali pada nada awalan yang mengeksplorasi tingkat keberanian dan jiwa petualang pada rangkaian album. One Of Nine masih mengingat secara jelas, bagaimana cara menghunus dan mengayunkan senjata yang membunuh. 

“Dreadful Leap” maupun “Of Desperate Valor” membuka dengan bengis dan dingin dari saduran riffing black metal Norwegia pekat. Dengan pendekatan tekstur rekaman yang membuat basah dan beruap, massa suara seberat itu mampu melangkah ringan dan fleksibel seperti kelipan debu berwarna merah jambu. 

Rasanya, kedua departemen gitaris saling berkoordinasi agar memainkan bagian identik. Membuatnya terasa berlapis, tegas, hingga tidak terintervensi oleh garis gitar ke-2 yang secara normatif memainkan fragmen berbeda. Tetapi potensi kekosongan variasi tersebut tidak membuat risau, kontras kejernihan timbre yang diperdengarkan dalam dualisme synth dan gitar, telah saling mengisi variasi tekstur, atmosfer, hingga dinamika. 

Setelah melakoni pertempuran hebat, dan nyanyian-nyanyian tragis, seluruh awan menggulung dan petir saling menyambar, narator membuka dialognya dengan nada sengau dan muram pada penghujung “Death Wing Black Flame”. Sang cahaya turun untuk menginjakan kakinya di atas tanah yang penuh darah dan kesunyian. Sementara langit begitu bersinar terang, dunia telah siap menemui ajalnya.

Saor – Amidst the Ruins

Sonorri-Amidst-the-Ruins

Ketika atmospheric black metal berada dalam masa heyday pada awal dekade 10’an, Saor menjadi salah satu garda terdepan yang berhasil menarik banyak peminat terhadap jenis black metal ini. Tetapi sama halnya dengan Fallujah, Saor sempat mengalami kendala teknis produksi pada beberapa album awal.

Bedanya, Saor bermain dalam ranah black metal yang bisa mentoleransi dengan merangkul “kecerobohan” produksi sebagai perpanjangan nilai estetik. Tetapi semenjak album, “Origins” (2022), Saor mensterilkan rekamannya dan mencoba memangkas selaput-selaput kabut suara yang mengaburkan aksen kejelasan instrumen.

Pendekatan ini bahkan ditindaklanjuti dengan perbaikan pada “Amidst the Ruins”, ketika setiap suara instrumen terdengar lebih stabil secara dinamika volume. Membuat rekamannya terasa jernih, sinematis, dan membuat aksen riff menancap keras dan bersinar. Mendengar rff multipalis maupun selintingan alat musik tiup yang meliuk di antara gemuruh drum, rasanya seperti melihat aliran air jernih di sungai yang penuh bebatuan.

Bahkan jika suara drum berkekuatan pedal ganda 16 ketukan mengepung, Saor tetap menjaga keseimbangan melodis dari suling, riff melodis yang menebal, maupun vokal bersih, seperti pada “Glen of Sorrow”. Terdapat penguatan elemen-elemen musik folk dalam album ini, yang terintegrasi secara imersif dan berpengaruh vital dalam mengendalikan jalur kemudi aransemen.

Andy Marshall menggaet vokalis-multi instrumentalist, Ella Zlotos untuk bersenandung mengisi register vokal mezzo-sopran halus sembari memainkan beberapa variasi alat musik tiup tradisional khas celtic (Uilleann Pipes, Tin Whistle, & Low Whistle). Selain penguatan dari sisi elemen folk, beberapa elemen konvensional Saor turut mengalami kenaikan kualitas.

Vokal Andi Marshall yang tidak lagi berteriak susah payah untuk menembus kabut, seperti beberapa rilisan awal, tetapi menggeram, seperti tunas-tunas yang bermekaran dari tanah menancapkan presensi sekaligus menghidupi suasana. Penulisan riff memperkuat sisi melodis, hingga dapat menghantarkan garis riff dengan karakteristik kemerduan suara yang mampu bersanding ketika Andi maupun Ella bernyanyi dalam corak vokal lembutnya.

Beberapa perubahan di atas yang memantapkan Saor menulis materi yang lebih panjang, bahkan terpanjang semasa karirnya. Memiliki banyak variasi dan pendekatan yang dapat dikeluarkan, seperti pada “Amidst the Ruins” yang memberikan persedian riff-riff yang menggugah secara sonik maupun menjaga hubungan kohesivitas terhadap gambaran besar lagu.

“Glen of Sorrow” yang memainkan dinamika yang keras dan lembut, dari riff maupun suling melodramatic dan epik, dengan geraman vokal. “Echoes of the Ancient Land” menampilkan harmonisasi duet vokal Andi dan Ella, serta peningkatan permainan instrumen tradisional, mengubah jalan lagu memiliki persentase porsi folk yang tinggi.

Sebagai pembuktian elemen folk yang semakin tergali, Andi Marshal mengosongkan durasi album sepanjang 8 menit, demi menulis lagu neo-folk ambient dalam “The Sylvian Embrace”. Penebalan elemen folk jelas membuat aksen drum dapat berkembang sekaligus “mengorbankan diri” untuk tidak selalu menghamburkan kebisingan blast-beat yang mampu mengganggu stabilitas dan kebosanan, jika direntangkan dalam durasi yang lama.

Sudah menjadi tradisi Saor, meninggalkan hadiah perpisahan penuh kesan mendalam di penghujung album, dan kali ini membuat vokal Ella menggema beresonansi pada setiap instrumen, di bagian penutupan “Rebirth”. Menjamah setiap instrumen menjadi ornamen penghasil panorama keelokan yang rimbun, tempat yang cocok sebagai peristirahatan jiwa penuh kedamaian.             

INNUMERABLE FORMS – Pain Effulgence

Soulreaper-INNUMERABLE-FORMS-Pain-Effulgence

Death doom metal bisa hidup dalam 2 ekosistem berbeda dan awan yang sama mengenai pemusnahan eksistensial. Pertama, adalah langkah menyeret yang terperangkap riff rawa-rawa, menghirup bau-bauan tidak sedap dari hasil buruan bangkai binatang dalam gua, diikuti geraman manusia purba dan blast-beat deras yang menghujam kapanpun selayaknya mineral stalaktit.

Peristiwa yang mengembalikan manusia pada era primal, memiliki kedudukan rantai makanan setara dengan kingdom animalia lainnya. Koloni death doom seperti ini dipopulerkan oleh fraksi death metal Amerika (Autopsy, Incantation), membentang hingga lingkungan Finlandia yang ekstrem (Demilich, Convulse, Rippikoulu).

Lalu ada jenis death doom yang menelanjangi manusia pada pemahaman nihilitas dan penderitaan, sebagai bantalan eksistensial. Hingga membuat kidung-kidung yang meratap dalam raungan gitar keras, yang kerap kali pecah menjadi tangisan melodis, tempo tertatih-tatih, hingga meminjam sudut gothic demi melihat kesinisan dunia dari balik tirai romantisme tradisi.

Asal-usul death doom ini dapat dilacak pada trisula peaceville Records (Paradise Lost, Katatonia, Anathema) membentang dari dataran Swedia hingga Inggris. Justin DeTore telah menyaksikan ke-2 nya, dan alih-alih menciptakan kesenjangan, Justin DeTore menjahit ke-2 nya di INNUMERABLE FORMS. Pada “Pain Effulgence” Justin kembali mempercayakan karya rasa tangan dingin Arthur Rizk untuk memantau seluruh teknis proses audio dibalik layar, dari rekaman hingga proses rekayasa.

Arthur telah begitu berpengalaman merestorasi berbagai gaya suara metal klasik, dengan pendekatan sintesis antara menggaris wilayah yang merangkul modernitas, dengan mempertahankan citarasa metal pra-sejarah. Upaya ini tetap konsisten, dan membuat rekaman “Pain Effulgence” memiliki stabilitas dan kerapihan suara yang paripurna disandingkan beberapa predecessor INNUMERABLE FORMS.

Death-doom yang seolah tidak membiarkan udara masuk dan terus dijejali oleh multilapis riff tremolo, serta serangan telak dari pukulan bertubi-tubi pedal ganda yang tidak manusiawi. Proses dekomposisi itu semakin jelas dan di depan mata, sering dengan mengasah ketajaman gitar, maupun melapangkan kick drum hingga menempa suara snare terasa membengkak.

Tidak ada upaya pembusukan yang ditutup-tutupi, dan semuanya meresap ke telinga hingga pada lapisan gitar terbelakang yang menyentuh dalam nadi aorta bass yang memompa. Pada “Blotted Inside”, aksen-aksen simbal yang saling memercik antara gerontolan tremolo riff dan vokal menambah gerakan sonik yang meneror.

Selayaknya para mutasi symbiote yang terkadang merubah kostum dengan cepat, INNUMERABLE FORMS terkadang menanggalkan atribut “kebusukan” sesaat, dengan lincah memperlihat pengaruh terhadap gaya doom klasik, yang mengedepankan atmosfer.

Misalnya pada riff-riff penengah keputusasaan yang menendang secara lambat pada “Pain Effulgence”, mengambil pendekatan era emas Candlemass, album “Epicus Doomicus Metallicus”, hingga menampilkan solo dengan distorsi overdrive menjerit seperti khas metal klasik 80’an. “Austerity and Attrition” yang memasukkan pengaruh periode awal Anathema, bahkan Justin DeTore seperti menembus dimensi Dream Unending, untuk memungut bulir-bulir air mata yang terkristalisasi oleh melodi dan solo gitar yang meratap sembari menggali kuburan sedalam-dalamnya sembari menancapkan nisan bertuliskan “beristirahatlah dengan kutuk atas nama funeral doom metal”.

INNUMERABLE FORMS memainkan dramaturgi dalam tempo yang lambat maupun cepat dengan sama jahat dan piciknya. Seperti pada “Dissonant Drift”, yang mengingatkan intensitas bipolar antara proses peregangan nyawa, dan proses kremasi dari karya Autopsy, “Mental Funeral”. Hingga serangan barbarik pada “Overwhelming Subjugation”, merangkai tapping solo yang memiliki kebiadaban  setara dengan punggawa war metal.

“Pain Effulgence” adalah album yang ditunjukkan membangkitkan orang yang sudah mati, untuk kembali merasakan penderitaan metafisik dan siksaan fisik, lalu dikirim pada lapisan terbawah tanah yang tandus.  

Kexelür – Epigrama de un pasado perdido

Kexelür enggan bertekuk lutur tak berdaya dan melakukan pemujaan berlebihan terhadap para entitas status quo black metal yang telah hidup jauh lebih lama.

Mengembangkan yang disebut sebagai sebuah upaya produksi dalam menyiasati panoramik pendengaran oleh sayatan melodi dissonant yang diurutkan demi membuat sebuah konstruksi kerunutan melodi secara konsonan.

Mengintegrasikan struktur hiperaktif yang merubah perilaku sesering mungkin: dari gerakan melandai membangun atmosfer menuju intensitas tinggi penuh ruang improvisational, dari pergerakan satu dimensi yang kaku menuju ritme ganjil saling bersahutan, hingga parade lempengan riff kasar dan ganas hasil selipan thrash metal dan progressive metal yang dapat mematahkan leher berubah menjadi melodi melankolis yang meratap.

Tidak banyak jenis register vokal, yang sanggup menangani gejolak skizofrenia instrumen yang mampu melampauinya. Pada akhirnya, vokal diarahkan pada jeritan dengan pitch meninggi sembari menambah konten kebencian, membiarkan eksistensi terasa nyaring.

Kemudian menggeram dalam nada bawah parau yang menghasilkan guncangan demi melebarkan pada pengaruh death metal . Apa yang Kexelür persembahkan secara kiasan seperti mengadakan sebuah konsepan pantonalitas secara pengalaman indera.

Artinya, menghubungkan beberapa batas elemen dominan (tonalitas) yang saling tidak terkait (atonalitas), itulah kira-kira titik kesimpulan dari pengalaman pantonalitas indera yang diambil dalam epilog “Epigrama de un pasado perdido”. 

Shadow of Intent – Imperium Delirium 

Shadow-of-Intent-Imperium-Delirium

Shadow of Intent dianggap sebagai juru selamat, bagi komunitas deathcore modern saat ini yang mulai dilanda kekeringan inovasi dan stagnasi melahirkan pergeseran inovatif. Sejauh ini, Shadow of Intent tidak pernah gagal melejitkan ekspektasi, dan nampaknya angin segar berhembus kembali di hadapan wajah.

Shadow of Intent memahami bahwa trikotomi performa powerfull vokal Ben Duer yang dinamis dalam mengganti warna vokal, gaya rekaman bombastis, serta teknikalitas permainan gitar melodis yang diimbangi dengan atmosfir musik yang gelap nan simfonik menjadi aset utama.

Hal-hal tersebut yang kemudian diforsir demi mencapai batas maksimal. Tidak menjadi masalah bahwa rekaman menghasilkan tingkat loudness tinggi yang mencederai dinamika arsitektur suara keseluruhan. Sebagai gantinya memberikan ledakan-ledakan dahsyat yang secara langsung memercik di wajah, sebagai pemenuhan satu dari trikotomi syarat di atas.

Perluasan “Imperium Delirium” tidak hanya berada dalam skala vertikal, yang mencoba merangkul elemen-elemen baru atau jenis musik yang belum pernah tersatukan sebelumnya. Shadow of Intent melakukan pematangan konsep secara horizontal, mengartikan pergi pada penggalian metode yang lebih efektif.

Mencari timing yang tepat dalam melempar solo gitar, misalnya pada lagu “Flying The Black Flag” yang menikung dari letupan drum menuju solo gitar yang dialiri oleh tremolo riff pekat di sekelilingnya.

Setelah mendapat serum dna futuristik, Shadow of Intent menaruh latar suara yang memanfaatkan momentum demi mendramatisir sekaligus memberikan kepastian variasi. “Infinity Of Horrors” telah berhasil menggelar backdrop simfonis legam yang megah sekaligus menghadirkan lapisan tragis pada lagu.

Sejak beberapa tahun kebelakang, Shadow of Intent memiliki rekam jejak yang mampu menciptakan kumpulan riff dan solo yang berhasil menggugah selera, permainan drum fantastis baik secara suara dan teknik, serta mengawinkan antara atmosfer dan kerumitan.

Menjadi tidak ada alasan bagi Shadow of Intent agar sesering mungkin singgah pada bagian breakdown yang hanya membuatnya menjadi barang murah yang kehilangan unsur scarcity.

“They Murdered Sleep” yang sangat mengandalkan fluktuasi kepadatan drum, “The Facets Of Propaganda” maupun “No Matter The Cost” yang melibatkan jauh unsur simfonis sebagai jembatan utama lagu, hingga kehadiran sang vokalis penjagal handal, George Fisher yang membuat vokal memiliki meter ritme yang cepat dan ber-riak dalam “Feeding The Meatgrinder”.

Menjelang penutupan, Shadow of Intent mengambil pendekatan progresif. Track instrumental “Apocalypse Canvas” yang membuat penggemar menyebutnya sebagai lagu Dream Theater versi deathcore atau Dream of Intent. Lgu terakhir, “self-titled” mengambil pendekatan yang sabar dan teratur dalam menaikkan intensitas. 

Der Weg einer Freiheit – Innern

Soulreaper-Der-Weg-einer-Freiheit-Innern

Ketidaksengajaan sang ayah Kamprad, memberikan sebuah diary milik seorang tahanan misterius, telah menuangkan tinta yang semakin pekat dalam “Innern”. Ke-4 anggota Der Weg einer Freiheit, bersenggama melakukan sesi rekaman bersama dalam satu ruang studio.

Hasil menerka guratan misterius setiap bait, terhenti dalam konklusi memproduksi lirik yang berada dalam persimpangan kegoyahan eksistensial, pengembaraan, dan introspeksi jiwa yang sarat menghasilkan turbulensi antar ketegangan, kegundahan, dan kemarahan.

Inspeksi mendalam terhadap penyelidikan setiap relung emosi, telah berimplikasi menghasilkan sonik dalam rentang ekstrim. “Marter” sebagai pengenalan, mengepung nuansa dalam simfoni hitam terokestrasi pada synth dan interval rendah gitar berparas kelam. Kamprad bahkan menghela nafas selama beberapa detik, sebelum menarik vokal rasa sakitnya bertumbukan dalam rapatan blast-beat tanpa celah.

Setiap riff maupun akor gitar terakumulasi menjadi massa suara yang tidak lagi berbicara pada taraf teknis, melainkan perpanjangan ungkapan emosi yang terbentur dan tak terwakilkan seutuhnya oleh frasa. Kemarahan serta kegundahan pencarian eksistensi tak berujung, terwakilkan dalam gaya riff pekat ala skandinavia black metal dan snare maupun kick drum yang membombardir seperti pada “Xibalba”.

Pada “Eos”, ketika perang memecah suasana antara dendam dan tragedi, teriakan dan intensitas yang menuju puncak crescendo, perlahan menuruni lereng curam tragedi diiringi petikan gitar sendu post-metal, serta riff sekonyong-konyong melemahkan kontraksi tekstur.

Membuat rangkaian nada bercorak melankolis menadahkan tangan demi secuil pengharapan. Pencarian “Innern” membuahkan kemungkinan entitas mental baru yang larut dari petikan gitar muram, tenunan vokal getir, serta pedal kaki berdegup kencang ala post-punk seperti pada pembukaan lagu penutup “Forlorn”.   

Zeicrydeus – La Grande Heresie

Soulreaper-Zeicrydeus-La-Grande-Heresie

Ada serangkaian kombinasi aneh yang mungkin tidak terpikirkan bahwa cara yang ditawarkan Zeicrydeus bekerja. Pertama, Zeicrydeus yang berasal dari Kanada justru merujuk musik-musik black metal khas Yunani (Hellenic black metal) sebagai gudang inspirator.

Kedua, keortodoks-an Zeicrydeus yang mencampurkan berbagai pengaruh dewa metal klasik mulai dari  Metallica, Running Wild, Manowar, Helstar, Bathory, hingga Varathron, justru datang dari seorang yang memiliki rekam jejak mengubah wajah metal ke arah progresif dan post-modernis.

Philippe Tougas selaku konseptor tunggal yang menggenakan nama samaran Foudre Noire, telah banyak terlibat pada proyek technical death metal modern sebut saja First Fragment, Equipoise, Eternity’s End, Worm, Serocs. Sifat riff di sini bukan sekedar formalitas belaka yang merepetisi serangkaian not, melainkan melukiskan sebuah ideasi tema mengenai sesuatu yang digambarkan secara gagah dan heroik.

Produksi kick drum yang menggelegar dan meruang, alih-alih terasa sempit, lapisan permainan multi lapis dari melodi gitar, hingga himne-himne liturgis yang mengayun dalam beberapa kesempatan, menjadi muara kemunculan kesan epik dari album ini berasal.

Tougas mungkin dikenal sebagai virtuosois gitar yang bersemayam dalam kerumitan kombinasi skala dengan pengetahuan menciptakan melodisasi dan harmonisasi, tetapi disini kemampuan virtuoso nya dialihkan pada permainan bass 4-senar yang secara mengejutkan mengimbangi kemampuan gitar dalam merakit bagian solo substansial pada setiap aransemen.

Penempatan elementer thrash metal atau permainan riff kompleks memukau, ditempatkan pada posisi strategis. Jelasnya, kanon penting tersebut akan diikuti semacam bagian build up sebagai pengenalan yang terwakili dalam tempo melandai, mengenalkan ambience album, performa vokal memukau, dan mendekorasi melodi lead gitar.

Ini yang berimplikasi pada mempertahankan varietas dan mengisi lubang dinamis agar lebih padat, di tengah mayoritas lagu mengalami pembengkakan durasi. 

The Acacia Strain – You Are Safe From God Here

Sejak pertengahan dekade 2010’an, The Acacia Strain seperti menemukan eureka momentnya. Bergerak secara perlahan dan merangkak, The Acacia Strain mulai mendapat pengakuan secara kreasi sonik, dibandingkan rilisan lawas era’ awal 2000’an. 

Momen pencerahan itu justru bukan didapat dari berpikir secara futuris demi menghasilkan materi deathcore / metalcore yang segar dan memiliki muatan radikal yang menggaris jurang pemisah kontra pendahulunya. 

Sebelumnya, The Acacia Strain telah bertindak tiga langkah lebih maju dengan mengenalkan pola groove gitar rumit dan ketukan sinkopasi yang mengganjal, pada “The Dead Walk” (2006). Sayangnya saat itu djent belum populer, hingga upaya evolusionis The Acacia Strain, belum dinilai menjadi hal “menakjubkan” berikutnya. 

Ironisnya djent populer kemudian awal dekade 2010’an, dengan band seperti Meshuggah, dan Animal As Leaders yang mengambil kredit lebih besar atas invensi djent. Apa yang membukakan jalan The Acacia Strain dari kebuntuan dan stagnasi kreativitas, adalah justru dengan menyusuri serta meminta restu dari dewa-dewa sludge metal yang tinggal dalam gorong-gorong New Orleans.

Menggunakan jenis beatdown deathcore sub yang mengijinkan deathcore bergerak lebih lambat menjadi jembatan penghubung yang membuat pengaruh-pengaruh NOLA sludge metal dan doom metal, tampak bekerja dalam musik metalcore / deathcore yang berintensitas. 

Formula itu terbukti berhasil melahirkan karya-karya terbaik The Acacia Strain, semacam “It Comes in Waves” (2019), “Slow Decay” (2020), hingga album ganda “Failure Will Follow” (2023), dan “Step into the Light” (2023). 

Posisi “You Are Safe From God Here” seperti murid didik yang berkelana dengan menggenggam gulungan suci dari mahaguru. Pengaruh NOLA sludge metal maupun doom metal  yang mengajarkan membuat atmosfer menjadi berkerak, derap bass berlumpur, decitan feedback tanda waspada, hingga gerakan sinematis dari riff dengan suara yang membal dan berat masih dipertahankan. 

Tetapi sudah saatnya sang murid beradaptasi dengan teknis dan jurus yang membuatnya bertahan dari serangan metafisis bernama “kemonotonan”. The Acacia Strain, kali ini kembali mengasah pengaruh suara hardcore metallic 90’an nya. Lagu pembukaan, “eucharist i: Burnt Offering”, yang kemudian disambung oleh lagu “A Call Beyond” telah menunjukannya. 

Ketika suara bass berlumpur dan desingan noise membuka dengan hawa, rawa-rawa mencekam, seketika meledak begitu saja menjadi arena moshpit yang liar. “A Call Beyond”, sebaliknya merancang pola riff lambatnya, menjadi sebuah medan penuh adrenalin dengan memantulkan riff kontra terhadap snare

Terkadang hasrat The Acacia Strain dapat bergerak tidak waras dan tak terkendali yang menyamai intensitas grindcore. Dengar interplay mulus dari “Swamp Mentality” yang memainkan pola rumit groove beatdown, menuju ledakan blasting grindcore pada beberapa bar, sebelum mengembalikan formula andalan breakdown triplet gitar, dengan simbal yang mendesing dalam kekosongan. 

“The Machine that Bleeds” mempersatukan amarah grindcore, dan distorsi keras metallic hardcore yang menghentakan massa seberat baja tepat di wajah. Meski durasi dari setiap lagu, begitu dipersingkat menjadi tampak seperti durasi lagu grindcore, The Acacia Strain tidak sedikitpun berpikir mengendurkan gejolak kelokan musiknya, yang telah dipertahankan sejak lama. 

Selain menjadi efisien, itu jelas membuat belokannya semakin tajam dan tidak terduga. Lagu “Morning Star” yang terasa atmosferis, dengan lolongan akor post-metal, tetap ditempatkan pada fluktuasi permainan riff gitar. 

“Sacred Relic” yang seolah menjadi anthem penghancur sekaligus penggiling organ dalam, berubah seketika menjadi jeritan keputusasaan, yang berlarut-larut dalam tempo doom metal melandai, akor gitar yang menyerupai kabut, dan suara distorsi gitar dan gema kick drum yang berdeburan menciptakan simpul ombak kegelisahan.

The Acacia Strain melapangkan track penutup berdurasi 13 menit, “eucharist ii: BLOOD LOSS” dengan pergerakan tempo yang menyeret, dari jalan terjal berbatu riff-riff bertekstur keras, berakhir dalam jurang kemuraman petikan gitar berkabut, dan vokal bercorak gothic yang khusyuk di atas bukit, sumbangsih dari Blackwater Holylight.

The Acacia Strain mengalami momen pelepasan yang perlahan namun menyakitkan, membiarkan hantaman dan sayatan terasa menyerap pada setiap pori-pori dalam taraf kesadaran penuh. Memang terasa nyeri yang hebat, tetapi sekaligus meninggalkan kesan bekas goresan luka mendalam, yang tercampur antara tragedi dan memori.   

Violator – Unholy Retribution

Violator-Unholy-Retribution

Hanya memakan waktu 3 tahun dalam pertengahan dekade 80’an, thrash metal menyebar dengan cepat. Fenomena trash metal mampu menyusup di antara wilayah pantai timur dan barat Amerika yang melahirkan style thrash masing-masing, dataran Eropa seperti Jerman, Inggris, Swiss, hingga benua Amerika seperti Canada, dan Brazil.

Magnet thrash metal 80’an begitu kuat, hingga periodisasi musik thrash metal setelahnya tidak bisa merevitalisasi genre ini pada perubahan eksponensial. Beberapa album seperit, “Rust In Peace”, “Mental Vortex”, “Dimension Hatröss” mencoba membawa thrash pada ranah yang lebih rumit.

Tapi tetap saja, era thrash 80’an masih menjadi daya tarik yang kuat, hingga para regenerasi masih sangat bergantung terhadap sumber suara thrash metal era itu. Violator menjadi segelintir band modern thrash yang meski keseluruhan sumber daya dan kekuatannya diambil dari gaya retro thrash, tetapi masih menjadi daya tarik.

Menunggu 13 tahun lamanya, untuk mendengar “Unholy Retribution”, nampaknya bukan perbuatan sia-sia. Lahir dan besar di Brazil, sebuah negara yang melahirkan banyak veteran (Sepultura, Sarcofago, Vulcano), Violator turut merangkul pengaruh thrash metal dari negara lain.

Thrash metal sendiri memiliki 2 cabang jalan yang dapat dipilih, satu sebagai berandal jalanan yang berang terhadap otoritas dan aparat. Kedua, memilih jalur gelap dalam balutan lirik dan karikatur okultisme, peperangan, dan satanisme.

Violator telah mengalami fase “kiri”-nya pada 3 rilisan awal, dan “Unholy Retribution” adalah waktu tepat untuk menghitamkan rasa, sebelum mencapai titik jenuh. Tidak mengherankan Violator merangkul para titan thrash dalam jalur ini seperti Kreator, Slayer, Exodus, Exhumer untuk mempengaruhi laju aransemen.

Riff tidak hanya menerjang secara cepat dan tajam, tetapi kerap meninggalkan jejak-jejak interval nada berparas demonic. Tremolo riffing yang bergerak dalam mode rusuh bersamaan dengan ketukan skank beat yang mengimbangi kelincahan gitar. Jangan salah paham, bahwa Violator tidak terjangkit elemen blackened.

Pada kenyataannya Violator lebih mengandalkan riff patah-patah (staccato) untuk membakar moshpit sekaligus memeras elemen groovy pada gitar. Violator tidak menyingkirkan sepenuhnya pengaruh crossover, dan kini digunakan sebagai bagian riff bertempo sedang, sebagai peralihan menuju riff-riff mematikan maupun solo dengan jeritan whammy bar dan lick yang tidak memandang batas kecepatan dan keindahan.

Sisa-sisa orasi kemarahan dan teriakan protes dari Pedro Arcanjo masih terasa, ketika domain vokal justru lebih terasa dengan band sejenis Vio-Lence, DRI. Harus diakui bahwa semenjak kehadiran Power Trip, elemen crossover banyak mempengaruhi regenerasi thrash. Itu bisa dianggap sebagai langkah cerdik dari Violator yang sama sekali tidak membuang pengaruh crossover ke tong sampah, dan mempertahankannya demi nilai kesegaran. 

Istapp – Sól Tér Sortna

Soulreaper-Sól-Tér-Sortna-Istapp

Ada masa, ketika idealisme black metal selaku advocatus diaboli melawan sonoritas dan keindahan, diuji. Ketika gelombang Norwegia seperti Enslaved, Ulver, hingga Windir mengutilisasi harmonisasi nada, instrumentasi, dan vokal ala kebudayaan Nordik.

Itu masih dianggap pemakluman, sebagai kepentingan pelestarian kebudayaan. Lalu, ketika gerombolan swedia (Dissection, Sacramentum, Unanimated) merekonstruksi riff terasa melodis. Hal itu justru dianggap pernyataan sikap, menormalisasikan melodi bersinggungan dengan kegelapan dan nihilitas.

2 pergeseran ini yang setidaknya masih menjadi ambang toleransi memisahkan pribumi black metal dengan para diaspora. 3 dekade berselang, Istapp datang untuk menguji batas itu dengan membawa pengaruh kental elemen nordik dan melodic black metal.

Meski mengklaim sebagai band yang melakukan perlawanan simbolis terhadap matahari, namun “ Sól Tér Sortna” menjadi album paling bersinar dengan benderang terkait produksi maupun kelimpahan melodi, dibanding 3 album sebelumnya. Sangat jarang mendengar gerombolan black metal nordic, terasa ajeg dan nyaman mengeksplorasi melodi-melodi catchy dengan pitch meninggi.

Selain mengeluarkan suara nyaring, pendekatan ini mengijinkan gitar menciptakan “nyanyian” melodis yang tidak hanya datang dari porsi vokal bersih, maupun ornamen koor vokal viking dan performa vokalis tamu Elizabeth Andrews, dan Nova yang menyanyi dalam gaya lepas, seolah suara ibu pertiwi langsung yang menggema melalui rambatan udara.

Jika pada album sebelumnya vokal tanpa jeritan hanya sebagai tambahan keindahan, di sini performanya semakin menonjol. “Nifelheim” yang menampilkan bait lebih utuh, atau “Storm Av Is” yang dapat melelehkan badai sesaat dari gempuran riff dan pedal membredeli, menghasilkan kelengketan vokal catchy.

Keterlimpahan melodi yang tersedia dari berbagai sudut vokal, piano, hingga gitar tidak sedikitpun melemahan sisi liar dan primata black metal. Meski tampil dalam tempo sedang, “Gryla” menampilkan performa vokal kikir, diselingi oleh riff latar murung. “Kallbrand” terasa meledak-ledak, hingga meninggalkan jejak sinkopasi ketukan yang menaikan adrenalin.

Lagu berjudul sama dengan album, tetap meninggalkan jejak Istapp versi konservatif, yang penuh lika-liku melodis dan blast-beat, tetapi vokal konstan berada di jalur jeritan yang menggeram. Istapp mencoba mencairkan batas apakah format melodic black metal gubahannya masih diterima, atau toleransi yang selama ini diperlihatkan hanya sebuah upaya fatamorgana sentimen dan bias.     

Fallujah – Xenotaph

Soulreaper-Fallujah-Xenotaph

Meski Fallujah dianggap sebagai salah satu penguasa ceruk progressive / technical death metal, setiap rilisan album studio seringkali dihantui ketidakmujuran. Ketika “The Harvest Wombs” dirilis 2011 silam, ide permainan maupun pemindaian eksekusi masih dikatakan mentah.

Kemudian, ketika “The Flesh Prevails”, digadang-gadang sebagai magnum opus, kendala teknis menggerogoti. Over-kompresi, dinilai oleh para kritikus mengurangi kenyamanan, sampai akhirnya mendapat edisi remaster tahun lalu, dalam perayaan 10 tahunan.

Tampil lebih stabil pada “Dreamless”, Fallujah masih dinilai kurang kreatif dan hanya mencoba mengulang “The Flesh Prevails”. “Undying Light” menjadi sumber kemunduran hebat dari band. Keputusan blunder mendepak vokalis utama Alex Hofmann, berhasil menempatkan “Undying Light” dalam jajaran album metal paling mengecewakan sepanjang 2019 baik dari kalangan fans hingga kritikus.

Fallujah berhasil membenahi diri pada “Empyrean” di tengah turbulensi pergantian anggota. Sehingga bisa dibilang, “Xenotaph” adalah uji kompetensi dan konsistensi Fallujah sebenarnya secara objektif dengan beban relatif ringan. Pergantian formasi ritem gitar, Sam Mooradian yang baru bergabung tahun 2023, tidak menimbulkan masalah baru. Sebaliknya, itu dapat menguatkan salah satu atribusi dalam genre ini, yakni teknikalitas.

Misalnya pada “Labyrinth of Stone” yang menampilkan kelincahan dan kompleksitas permainan riff staccato berimbang dan presisten. “Kaleidoscopic Waves” memperlihatkan bahwa kombinasi melodi gitar yang halus, interplay vokal atmosferis, dan geraman death metal di atas pedal ganda yang berlari masih menjadi hidangan utama.

Kehadirannya bahkan terasa lebih dekat, ketika Fallujah menjernihkan produksi, kemudian menyuntikan steroid agar kedua bass dapat mengeluarkan suara dalam taraf maksimal secara intensitas volume maupun teknikalitas. Meski ini momen pertama kalinya Scott Carstairs dan Sam berpartner, interaksi yang ditunjukkan sama sekali tidak menimbulkan gelagat kecanggungan.

Keduanya begitu licin dan lincah, dalam membenturkan lick, bertukar peran menghasilan riff multi tekstural, hingga memainkan solo-solo yang menyentuh berbagai teritori susunan nada bernuansa futuristik. Elastisitas gitar dalam mengubah peran menjadi lebih sentimentil, bahkan mampu menempatkan diri dari himpitan ledakan drum dan bass.

Pada “Step Through the Portal and Breathe” menyebarkan akor jazz ditengah taburan solo gitar yang gesit tetapi sarat menavigasikan emosional dalam permainan. Fallujah memberanikan diri kembali tampil tanpa sokongan vokalis tamu.

Kyle Schaefer selain penggeram handal, juga mampu melembutkan kontur vokalnya. Simak “The Crystalline Veil” sebagai salah satu lagu yang memiliki momen big chorus dalam album, atau “The Obsidian Architect” yang menampilkan rentang vokal memukau. Dari erangan deathcore, menggeram, hingga menghembuskan vokal merdu. 

Messa – The Spin

Messa-The-Spin

2018, ketika kali pertama mendengar “Feast For Water”, perasaan kagum langsung terbentuk. Lewat album ke-2 tersebut, Messa mengambil langkah inovatif dalam menghubungkan benang hitam tipis antara doom metal, blues, dan jazz yang tampak tak berhubungan satu dengan lainnya.

Akan tetapi, kesenangan diikuti oleh pertanyaan dilematis, mengenai sampai dimana batas eksplorasi yang sanggup dikelola? Seberapa tahan tingkat toleransi dari doom metal menerima evolusi, ketika jenis doom metal pada dasarnya lebih sering mempertahankan repetisi riff, dibandingkan mencermati cakrawala elemen yang lebih luas?

Jawaban ini baru didapatkan secara jelas, dihari “The Spin” lahir. “The Spin” menjadi pelengkap kausalitas, yang berdasar mengenai mengapa praduga tersebut muncul. Pengaruh dari dominasi riffriff legam yang berat semakin meluntur dalam “The Spin”, tersubtitusikan oleh palette kesuraman post-punk dan gothic rock yang memiliki persediaan emosional yang terasa lebih menyentuh.

Menjadi bentuk penyempurnaan formulasi transisi crescendo dari Messa. Ketika Messa menjadi semakin menyukai memainkan petikan gitar halus dan basah kuyup sebagai transisi awal dinamika pelan, lalu kemudian meledak dalam geraman distorsi maupun solo gitar menjerit. Formulasi ini dapat langsung dirasakan pada “Immolation” yang cenderung memiliki struktur crescendo linear seperti doomgaze.

Messa turut mengkooptasi penggunaan synth 80’an yang berat dan minim kolorasi seperti pada pembukaan “Fire on the Roof”. Dalam album “Close”, selaku titik awal trayektori eksplorasi Messa yang lebih eksponensial, lebih banyak ditemukan kepadatan riff yang gersang dengan repetisi yang merentang.

Ini yang menjadi semacam alasan, meski “The Spin” memiliki paket durasi yang singkat (41 menit), aransemennya terasa padat dan meluas dengan gerakan yang terus melaju dan tidak terkungkung dalam similaritas baris. Pada bagian tengah “The Dress”, Messa mengubah medan menjadi lapangan improvisational, membiarkan liukan pilu saksofon bernuansa noir dan solo gitar blues tumpah ruah, mengisi ruang sentimentalitas dan melankolis.

Perkembangan mencolok turut menempel dalam kemampuan vokal Sara Bianchin. Sarah semakin melatih kualitas vokal tingginya, hingga memberanikan diri berimprovisasi dan menciptakan chorus dalam koridor tersebut, seperti pada “The Dress”, “Fire on the Roof”, dan “Thicker Blood”.

Harmonisasi vokal gothic membayang, bergentayangan mengisi ruang-ruang kosong, menciptakan ketegangan okultisme serupa ala nuansa horror Suspiria.   

Ovader – Asagrim

Pada 2020 ketika, proyek solo melodic black metal asal Bulgaria Ovader melepas debut “Wotankult”, sampul albumnya menampilkan karya lukisan milik Oscar A. Wergeland, berjudul “Nordmennene lander på Island år 872“ yang telah diwarna ulang menjadi dominan abu-abu gelap.

Saat itu, Ovader menampilkan potongan lukisan bagian ekor, memperlihatkan beberapa pria viking yang tampak bimbang dalam melakoni perjalanannya. Kemudian 5 tahun berselang, Ovader menampilkan potongan bagian kepala lukisan, yang tampak lebih sigap dan perkasa dalam mengarungi ombak dan perjalanan menuju daratan medan pertempuran yang telah menanti di depan.

Semangat pengembaraan dan keberanian itu yang coba ditangkap Ovader. Meski lahir dengan latar belakang negara yang tidak memiliki kebudayaan black metal mengakar, Ovader tidak menyerah mencari sumber musik black metal terbaik dari belahan negara lain, demi menjadi pejuang yang tidak hanya tahan banting, tetapi terampil.

Menghirup udara dan warisan yang sama dalam kultur Nordik, tetapi kemudian melipir melihat kisah abad pertengahan yang terabadikan oleh gerakan medieval black metal yang akhir-akhir ini berkembang di Eropa Barat (khususnya Perancis). Nyala semangatnya terpancar, dari pemilihan gaya riff melodis yang terasa menyala, dan irama-irama yang cocok sebagai lantunan hymne peperangan.

Ovader berusaha meninggikan pemilihan interval nada riff, menghindarkan akan efek saturasi keseragaman nada bass yang rendah, demi menciptakan kontras langit maupun tanah yang digunakan sebagai medium lukis melodi-melodi menceritakan kisah peperangan heroiknya.

Tidak ada pembaharuan apapun di sini, tetapi Ovader membuat hal yang terkesan kuno menjadi relatif segar. Seperti pada penerapan pukulan pedal tunggal sebagai jalan mulus riff gitar dapat merubah bentukan dari serangan tremolo picking menuju kocokan riff gaya heavy metal klasik.

Ovader memahami esensi melodic black metal terletak pada riff yang bertumpu pada irama dibanding tekstur yang berat dan cepat, sehingga membuat suaranya terasa jernih seperti kristal, ringan, dan lengket dalam memori dengan jangka waktu lama. “Ymir’s Tale” punya transisi menohok, ketika kocokan gitar tiba-tiba berubah menjadi bergelombang, namun tetap dalam colak melodisnya.

Begitu juga, “The Mistletoe Arrow, Pt. 2” yang bermain dalam tempo pasang-surut, hingga “Rulers of Fate” yang memperkenalkan diri melalui ketukan alt-rock, dan nyanyian riff merdu yang menguap di udara. Ovader selalu menerapkan strategi mengubah susunan formasi melodi pada tema utama, sebagai bentuk variasi sekaligus menjaga kohesitifitas dan mengusir kebosanan.

Bahkan ketika harus membunyikan gitar dalam formasi akor, Ovader kerap menghindari interval terlalu rendah agar tidak kehilangan aksesibilitas terhadap melodi. 2 lagu terakhir “Rulers of Fate”, dan “And the Chains with Hate I’ll Break” menampilkan sisi dinamis Ovader yang bisa ditampilkan dalam nuansa berseberangan.

“Rulers of Fate” terkesan lebih nekat untuk mengintersepsi alur agar meliuk menuju potongan ekstensi instrumen, riff-riff tempo medium maupun solo gitar bercitara rasa klasik. “And the Chains with Hate I’ll Break” menampilkan transisi yang terkesan sabar dan cenderung atmosferis, dimana setiap bagian harus memiliki kesinambungan transisi seperti rantai.

Ovader mengambil semangat heroisme dan kebesaran hati yang dicurahkan sepenuhnya untuk berperang dan menolak bertekuk lutut pada tradisi pendatang, demi mempertahankan martabat dan kesucian.   

Coroner – Dissonance Theory 

Coroner-Dissonance-Theory

Setiap kali band-band veteran memutuskan comeback merilis album baru, ada rasa pertaruhan besar dibalik euforia terjadi. Apalagi jika tidak mencapai ekspektasi, hingga mencoreng rentetan sejarah menghasilkan karya-karya masterpiece, seperti yang menimpa Dark Angel akhir-akhir ini.

Tetapi Coroner melepaskan bayang-bayang keraguan, memantapkan diri melepas album baru, setelah genap 20 tahun lamanya tidak merilis album studio pasca “Self-titled” (1995). Bisa dikatakan, trio technical thrash metal asal Swiss ini, belum melepas album bermasalah.

Tentunya ini semakin memperbesar pertaruhan, dan beruntung “Dissonance Theory” melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan bisa dibilang lebih baik dari album “self-titled” sebagai jejak terakhir 20 tahun silam. Coroner masih memahami sintesis dari keinginan penggemar dan musikalitas yang secara inheren ingin terus dikembangkan.

Menyeimbangkan antara teknikalitas yang tidak terlampau aneh dan nerdy, yang mampu mengeluarkan aura kekejaman thrash metal dan sentuhan groovy gitar yang padat. Produksi yang jelas telah dimodernisasi dan memiliki tendensi untuk melesakkan peluru yang meledak tertuju pada satu arah, alih-alih mengambil pendekatan yang meruang.

Letak teknikalitas Coroner bukan pada kemahiran virtusois gitar maupun drum yang menguasai berbagai teknik, tetapi memanfaatkan ritme dan tempo. Lagu pembukaan “Consequence”, memainkan mid-tempo thrash yang tetap terjaga. Ini sebagai jalan tengah yang memastikan perubahan tidak terkesan mendadak, ketika gerak musik cenderung lebih agresif dari pacuan solo, maupun bagian yang memiliki tensi lebih rendah.

Rasanya itu yang membuat Coroner tidak terkesan se-eksentrik Voivod maupun Vektor yang bermain dalam ranah serupa, bahkan solo kibor bernuansa kosmis baru ditunjukkan Coroner pada lagu penutup, “Prolonging”. “Sacrifical Limb” terhubung dalam gaya yang lebih atmosferis, dengan sengaja membenamkan chord menjuntai lebih banyak.

Vokal Ron Royce dengan aksen seraknya, seperti karat pada besi yang tidak hanya membuat eksistensinya timbul, namun juga dapat berperan menambah karakteristik tekstur. Gitar memiliki 2 fokus utama, selain memastikan ketajaman aksen masih dalam koridor thrash juga memastikan tidak terjebak dalam pola kemonotonan.

Penempatannya secara sengaja diletakan secara sinkopasi seperti pada “Symmetry”, dan “Transparent Eye” atau “The Law” yang mencoba melipir sejenak pada gaya melodeath lalu kemudian meledak dalam aksen snare yang menggulung-gulung.

Kehadiran solo gitar, tidak hanya sebagai parade teknikalitas dan mengeskalasi ketegangan, tetapi berusaha untuk membuat melodi-melodi yang eksploratif terhadap nuansa. “Sacrificial Limb”, “Symmetry”, “Transparent Eye”, hingga “Trinity” dapat dikatakan memiliki koleksi solo, yang membuat Steve Vai maupun Joe Satriani mengangguk setuju membawakan ulang solo, seandainya ke-2 maestro mendengar album ini. 

PSYCHO-FRAME – Salvation Laughs in the Face of a Grieving Mother

Bagi penikmat extreme metal, deathcore hanya akan memiliki identitas acquired taste apabila, semakin merangkul elemen-elemen death metal, bahkan black metal. Setelah 2 dekade lebih namanya, deathcore menjadi outsider yang kerap menimbulkan perselisihan terhadap kerabat death metal.

Kini, keduanya kini telah sepakat bahwa deathcore yang hanya mengandalkan bagian-bagian breakdown, otomatis terdaftar ke dalam basket kategori deathcore  generik yang sebaiknya ditinggalkan dan dilupakan. Bahkan personifikasi deathcore adalah versi death metal dengan ritme yang surut, terasa tidak relevan seiring dengan tuntutan agar deathcore meningkatkan visibilitas permainan teknik , variasi kepadatan sonik, dan substansi atmosfer.

Maka disinilah PSYCHO-FRAME terdampar, mencampuradukkan elemen-elemen deathcore yang nampaknya dapat diterima sebagai acquired taste bagi penggemar death metal atau deathcore dengan aliran pemahaman yang menuntut brutalitas, seperti meminjam riff-riff jagal yang memotong secara sadis bergaya brutal death metal, membalikan tatanan dunia dengan gesit dan lihai seperti aliran technical deathcore, hingga melempari berbagai lick dan phrase gitar memusingkan, milik penganut aliencore.

Tanpa menjual jiwanya pada “iblis” untuk mengubah musik menjadi kelam dan menghitam, seperti trend deathcore kekinian, PSYCHO-FRAME dapat menjaga keseimbangan tanpa kehilangan arah untuk menjadi legiun deathcore yang brutal, ber-teknik, sekaligus menghasilkan kedalaman nuansa.

Pada beberapa lagu seperti, “The Portal”, “Apocalypse Through Lysergic ‘Possession”, “Still Water Salvation”, PSYCHO-FRAME begitu lihai bergerak di antara dimensi waktu.

Terkadang mampu tampil dalam wujud riff-riff brutal death metal yang mentah dan mendobrak secara barbar melalui ledakan vokal gurgling, kemudian menjelajahi kosmis dan dunia pasca-apokalipsis yang beresonansi melalui kelincahan solo gitar merangkai tapping note dengan dialog musikal asing dan gravity blast.

Dengan terpengaruh oleh unsur slam, serta inisiatif vokalis, yang mengeluarkan jangkauan range vokal luas, bagian breakdown dalam album terasa tidak membosankan. Ambil contoh, “Blueprints for Idol Genocide”, yang membuka jurang terasa lebih curam, penurunan stem nada yang ekstrim, dan pinch harmonic dari riff setebal baja yang diulur ketika bagian breakdown berkumandang.

“Inverted Spear of Heaven” punya penyelesaian yang variatif, ketika breakdown dipasangkan oleh bagian sinkopasi drum dalam gerakan secara fluktuatif. Pada “Endless Agonal Devotion”, permainan riff technical death metal naik ke permukaan pada pembukaan, sebelum menghasilkan ledakan dahsyat dari reruntuhan blast-beat.

Dibalik keganasannya yang membabi buta, PSYCHO-FRAME, mampu menunjukkan lonjakan kegembiraan pada, “I Won’t Be There To Watch You Go”. PSYCHO-FRAME seperti hendak menunjukkan mode Killing Frenzy, dengan menitikberatkan pada variasi pukulan drum bergaya d-beat dan hardcore yang dilepas bebas dalam tempo yang terpacu.

Meski album ini banyak menangkap esensi deathcore lawas, produksi album ketara dalam pendekatan deathcore kekinian. Mengkompresi drum secara berlebihan hingga menembakkan transisi ledakan yang berada dalam taraf lapisan ozon, seperti hendak mendobrak suara keluar speaker.

PSYCHO-FRAME mengorek kembali artefak-artefak senjata deathcore kuno, kemudian merestorasinya menjadi baju tempur yang dapat digunakan dalam pertempuran modern yang mengandalkan serangan taktis dan ledakan dahsyat. 

Qrixkuor – The Womb of the World

Soulreaper-Qrixkuor-The-Womb-of-the-World

Dalam “The Womb of the World”, Qrixkuor membuang pertikaian dikotomistik metafisis Kafka dan Dostoevsky ke dalam mulut neraka. Tidak ada yang perlu didebatkan antara mempertahankan ilusi sebagai hegemon kebahagiaan, atau membiarkan penderitaan menjadi landasan kebenaran.

Mencari pelarian dalam menarik ulur dalam konsep spatio-temporal, hanya menghadapi kesia-siaan. Qrixkuor telah menggariskan traktat bahwa riff-riff gitar dan deru blast-beat adalah alat mekanistik yang memberikan hujaman rasa sakit terhadap siksaan sadomasokis secara fisikal. 

Alunan simfoni yang berteriak nyaring dan gelisah dalam interval tinggi, nyanyian opera tragedi, hingga geraman vokal angker monolitik, telah mematikan kemampuan represif mental, terpasung oleh kesadaran baru yang menjustifikasi cahaya telah tergantikan refleksi hitam berbayang yang menyatu secara primordial. 

Amalgamasi elementer bestial war metal, dissonant death metal, doom metal, atmospheric black metal hingga symphonic black metal telah membuat langkah keputusan membelokan kemudi aransemen menjadi permisif. Keseluruhan entitas berevaporasi, membentuk unison tak tergoyahkan. 

“So Spoke the Silent Tears”, selaku gerbang pembuka, mampu meneruskan dinding-dinding tragedi yang saling berteriak dalam pukulan blast-beat berdebar-debar, tremolo riff yang pekat dan menusuk, hingga permainan string simfonis kolosal yang sesering mungkin berada pada ambang fortissimo, seolah menghunus jantung dengan tiupan sangkakala, memaksa peristiwa apokalipsis terjadi dari qalbu. 

Setiap himne 4 sudut yang terwakilkan oleh durasi panjang, telah membuat Qrixkuor berinisiatif membuat ladang inferno terdekorasi ruang lebar yang terisi ragam alat siksaan. Mengambil basis alunan melandai dari doom metal, keseluruhan aktivitas tampak melambat, meresapi setiap detik kejanggalan dan kebiadaban yang merayap di setiap persendian dalam ketahanan yang lama.

Pada setiap kali rotasi perubahan aransemen dilakukan, korban akan diseret pada bagian-bagian yang tidak pernah muncul sebelumnya. Adegan kemerosotan dapat datang dari fret gitar yang memainkan pusaran nada atonalitas tak terkendali seperti pada “Slithering Serendipity”, hymne ritualistik penyerahan tubuh fana pada sang dewi kosmis yang berteriak nyaring dan bergairah dalam menselebrasikan kebinasaan seperti pada “And You Shall Know Perdition as Your Shrine”, atau langkah yang tertatih-tatih menginjak blast-beat dan tremolo riff yang tersulut, menghasilkan hawa panas penghangus epidermis seperti pada “The Womb of the World”. 

Elemen simfonis di sini tidak ditujukkan untuk menciptakan landasan gletser dan hujan bunga es berjatuhan yang menghasilkan kemegahan kastil-kastil yang menjulang tinggi berselimut salju. Fungsionalitas utamanya, penegasan persepsi akan apa yang terbentuk dalam taraf firasat buruk, merangkak mengendalikan saraf sensoris dan membangun kausalitas empiristik yang terealisasikan. 

Kombinasi kehadiran elemen simfonis terhadap pendekatan produksi yang berkerak dan meruang seperti gua, menjadi ikonografi sebuah altar pemujaan yang mempersatukan sekte-sekte pembalasan dendam kosmis dengan cara-cara yang primitivistik sekaligus dinamistik. Secara tekstural, fenomena persenggama elemen simfonis berhadapan dengan tremolo riff yang tidak pernah menyentuh lingkaran interval penuh, menyalakan varietas pada domain timbre

Pada “And You Shall Know Perdition as Your Shrine”, kemunculan melodi gitar menjadi semerbak di awal, sebelum dikacaukan oleh kabut kebisingan, dan kembali menjelang penutupan album sebagai traktat iblis yang ditagihkan kembali seiring dengan terombang-ambingnya tubuh pada gesekan simbal drum yang bercucuran. 

Seksi gitar pada lagu penutupan “The Womb of the World” berdurasi 16 menit, menjalar seperti tentakel-tentakel, antara menjaga ketegasan tema melodis utama, berekspansi pada teritori akor dissonant asing, tapping-tapping atonalitas yang dipenuhi kejanggalan stabilitas sonik, hingga menggetarkan nada-nada rendah, menjaga agar lapisan bara api tetap menempel di tanah. 

Solo gitar bukan dari rangkaian agenda kecerdasan akan tetapi mengemban tugas simbolistik yang ekuivalen terhadap karya Marche Funèbre, gubahan Chopin. Meski berkarisma mengekspansi nuansa maupun nada, kehadirannya sebagai inisiator pelepasan, berfungsi melucuti setiap lapisan tubuh, menyisakan keterlanjangan yang menyusutkan keperkasaan ego, menjadikannya pil yang ditelan oleh absurditas.  

Dephosphorus – Planetoktonos

Dephosphorus-Pnatoktonos

Meski tagar grindcore menempel, musik Dephosphorus tidak memiliki kesan one-dimensional selayaknya rekaman-rekaman grindcore tulen. Seringkali ada elemen black metal maupun death metal yang terasa pekat mencuat dari cara meramu riff.

Misalnya pada album “Impossible Orbits” yang justru banyak menempatkan riff mid-paced yang terasa renyah dan menghentak, alih-alih menghardik. Warna vokalis utama, Panos Agoros lebih terdengar seperti rintihan, dibanding mengeluarkan unek-unek kemarahan sebagai aksis resistensi dan perlawanan.

Puncaknya pada, “Sublimation” yang dirilis 2020 lalu, ketika Dephosphorus semakin lupa (atau melupakan) cara membuat materi grindcore yang meledak dahsyat hanya dalam hitungan kurang dari 2 menit. Ekspedisi eksodus telah membuat sepenuhnya nyaman, hingga Dephosphorus melakukan ekspedisi eksodus inter-galaksi dalam album terbarunya “Planetoktonos”.

Meninggalkan unsur-unsur hellenistic nya agar menuju refleksi kehidupan masa depan kosmologis yang jauh bahkan sulit digapai peradaban manusia. Bahwa perubahan tone gitar yang terdengar gelap, diikuti oleh permainan riff yang semakin mendekat pada kompas black metal dan death metal. Sisa-sisa “aroma” Bolt Thrower, Nasum, hingga hardcore lawas masih terendus di antara kepulan besi berkarat pada tekstur suara.

Terekam jelas pada pembukaan “Living in a Metastable Universe”, Dephosphorus merentangkan tempo pada tingkat medium dan suara gitar yang berat dan berkarat itu sebagai sumberdaya utama riff pada lagu.

Dephosphorus telah mencoba membangun intensitas ketegangan dari wajah misterius kosmis seperti pada “Hunting for Dyson Spheres” yang membuka nuansa horor dalam petikan akor miring black metal dan racikan elektronik beraroma psychedelic retro.

Lantas apakah Dephosphorus menjelma menjadi rekaman blackened death metal yang hanya mampu dipahami melalui jalur esoteris dan tidak memiliki kesenangan instan? Tidak sepenuhnya demikian, Dephosphorus tidak lupa bahwa musik yang mereka bawakan tidak hanya memiliki kedalaman pemahaman, tetapi tebaran agresivitas tetap harus digaungkan, demi membuat racun yang semakin mematikan.

“Pale Veins” memiliki tempo ala hardcore ugal-ugalan, “After the Holocaust” dan “The Triumph of Science and Reason” memiliki ritme maupun ketukan blast-beat drum yang semakin sering berjingkrak, hingga “Planetkiller” memiliki tensi semakin memanas.

Dalam rentang durasi tidak lebih dari 30 menit, Dephosphorus mencoba memenuhi kondisi menyeluruh dalam menempati ruang dan waktu melalui usaha memberikan pemahaman yang dalam dan luas, dari sekedar kebisingan dan keruwetan sonik. Menciptakan kontinuitas waktu yang berimplikasi menciptakan keterisian ruang.     

Havukruunu – Tavastland

Soulreaper-Havukruunu-Tavastland

Anggapan bahwa Finlandia tergolong dalam “Skandinavia” tidaklah benar. Kenyataanya Finlandia memiliki sejarah, bahasa, dan kebudayaan berbeda.

Anomali ini juga tercermin dalam kancah black metal di Finlandia. Ketika Norwegia dan Swedia memiliki band-band yang kental terhadap pemujaan kultur paganisme dan nordic, para leluhur black metal Finlandia tetap mendekatkan diri terhadap karikatur satanisme.

Bahkan tidak jarang ditemukan bahwa band black metal Finlandia bergerak dengan haluan lebih politis dibandingkan ke-2 negara tetangga yang erat memeluk kultur dan kepercayaan leluhur. Tidak mengherankan bila Havukruunu selaku generasi penerus black metal Finlandia, memilih mendekatkan diri pada black metal Norwegia dan Swedia secara pengaruh musik dan emosional.

Mempelajari bagaimana Bathory menciptakan saga karya pertempuran epik dan megah, atau menelisik bagaimana Immortal dapat merancang panorama atmosferis nan melodis, meski meruncingkan kemampuan riffing yang keras dan bergelombang.

Guncangan dari gerontolan bass, dan blast-beat pada “Havukruunu ja Talvenvarjo” terasa intens, tetapi mampu menggali sisi emosional dari riff melodious, transisi pada bagian akustik, hingga mengubah peran bass menjadi pengambil keputusan utama improvisasi melodis.

“Yönsynty” meledakan pedal drum dan himne surgawi menjuntai yang hampir pasti mengirimkan memori pada ingatan gaya musik Bathory selepas 3 album awal. Selain menyelidiki pengaruh secara kultural, Havukruunu mencoba membawa peran gitar yang sempat membuat heavy metal dicap musik rumit sekaligus menghibur.

“Kuoleman Oma” sebuah lagu yang menghasilkan riak rima, yang turut memainkan tapping solo lick, sebelum bertransformasi menjadi melodi dan lick yang sering digunakan band metal penganut heavy / glam metal klasik. Lagu “self-titled” tampak tidak melenceng dari jalur, meski diawal terdengar sangat murka.

Hal ternetralisir oleh puja-puja vokal dan beberapa bar solo gitar. “Unissakävijä” sebagai sisi paling hitam, membuka dengan gaya blast-beat norsecore seperti genderang perang dan serdadu yang maju serempak. Harus dikatakan bahwa Havukruunu memang bukan tipikal band yang mampu tampil menjadi setan seutuhnya.

Seberapa keras menjadi biadab dan terkutuk, pada akhirnya panggilan jiwa nordic dalam diri tetap meraung-raung. Hasilnya adalah gerombolan viking yang memainkan not-not solo lincah yang terpelanting dari gitar Jackson, sembari menyanyikan alam di tengah badai salju dengan tubuh menggigil dan ancaman terjangkit hipotermia.  

Helloween – Giant & Monsters

Soulreaper-Helloween-Giant-And-Monsters

Ketika Helloween mengumumkan pertama kali rencana reuni bersama eks-vokalis Michael Kiske & eks-vokalis-gitaris Kai Hansen, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Pasalnya semenjak kepergian Kai Hansen pada tahun 1989, disusul oleh Kiske tahun 1993, tidak ada tanda-tanda secara pasti bahwa Andi Deris (vokalis Helloween saat ini) beserta kolega agar kembali berekonsiliasi.

Penggemar telah terbiasa dengan tarikan vokal suara serak-merdu Deris, yang dianggap telah menyelamatkan Helloween, dan tetap mampu mengibarkan bendera sang kepala labu hingga saat ini. Secara mengejutkan tahun 2016, Helloween mengumumkan tajuk tur barunya, “Pumpkin United”, dan disitulah awal cerita reuni setengah mimpi ini terjadi.

Lebih jaul, awalnya ini hanya sekedar reuni konser coba-coba, seperti yang diutarakan Kiske pada Blabbermouth. Tapi antusias, membuat masa tur diperpanjang, hingga 2019 (rencana awal 2016-2017), hingga berujung pada perilisan album “self-titled” pada 2021.

Penggemar mungkin berpikir bahwa itu adalah puncak periode bulan madu, tetapi masa bulan madu telah bertransformasi menjadi kehidupan rumah tangga harmonis, ketika formasi reuni Helloween kembali merilis album ke-2 “Giant & Monsters”. Sebagai band, Helloween hampir menamatkan siklus keberlangsungan sebuah band: ketenaran, kejatuhan, kepergian, kebangkitan, hingga reuni, sehingga seharusnya sudah tidak ada lagi ekspektasi muluk-muluk, menggerakan poros kreativitas pada spektrum yang baru.

Tuntutan penggemar hanyalah terkait konsistensi mengenai harmonisasi simbiosis antar anggota dan kesetian atas nama power metal dalam menggemuruhkan pedal ganda, sengatan riff secepat kilat, duel solo gitar, dan lantunan-lantunan vokal epik. “Giants On The Run”, langsung terbang menyulut semangat, dalam gaya klasik helloween dalam memainkan gaya power metal khasnya.

Cepat, melodis, dan bertaburan vokal-vokal catchy dan menawan dari trio Andi Deris, Michael Kiske, dan Kai Hansen yang silih berganti. Uniknya, vokal Kai Hansen yang terkesan lebih menghentak, justru dibiarkan menyanyi bersih dalam bridge, sementara vokal Deris terkirim pada bait chorus yang membuatnya epik dan bertenaga sekaligus.

Dibanding dengan beberapa lagu power metal dalam era keemasan awal, lagu ini menampilkan lika-liku yang lebih banyak dari pembagian porsi solo gitar, perubahan tempo, maupun alur. Baru pada “Savior Of The World” sangat terasa elemen era Keeper of the Seven Keys, ketika Kiske yang kini mengambil alih vokal utama, dan struktur musik yang terasa lurus.

Sedikit menhela nafas pada “A Little Is A Little Too Much”, yang berorientasi pada synth pop-rock, kemudian kembali mengencangkan sabuk pada “We Can Be Gods” yang mengembalikan masa muda membara dan mentah Helloween dari era “Walls of Jericho” pada riff pembukaan. Ini menjawab rasa penasaran penggemar, bila seandainya “Walls of Jericho” diubah olang dengan pendekatan Helloween pada era setelahnya.

Konsistensi tetap terjaga sampai penghujung, bahkan ketika kreativitas diuji dalam durasi lagu yang relatif panjang, Helloween telah memiliki cukup pengalaman dan ketenangan mengeksekusinya. “Universe (Gravity For Hearts)” yang mampu tampil bertaji meski dalam bobot 8 menit, hingga lagu penutup “Majestic” yang kali ini mengambil performa agar tampil dalam busana baju besi seutuhnya, meski diakhiri dengan fade-out anti klimaks.

Rekaman yang terasa berpasir dan kasar dari album sebelumnya, adalah cara untuk memberi pengalaman yang terasa surealis dalam menikmati album, menonjolkan sisi kementahan era awal raksasa power metal asal Jerman ini, berdiri.

Putridity – Morbid Ataraxia

Soulreaper-Putridity-Morbid-Atraxia

20 tahun lamanya Putridity berupaya menciptakan rekam jejak dalam peta musik ekstrim melalui gaya brutal death metal buas dan busuk dengan otentisitas kerenyahan suara dan brutalitas yang menonjol.

Momentum itu baru diraih 1 dekade silam melalui “Ignominious Atonement” (2015), dan perlu menempuh kembali waktu 1 dekade lamanya, agar Putridity merengkuh kembali mahkota yang menancap. Memahami setiap intensitas kenyaringan serta kebusukan Putridity, perlu disikapi dalam pandangan anti-fondasionalis.

Artinya, tidak ada proses determinisme pada penggalian sebuah unsur sebagai landasan memahami setiap distorsi, dan gaungan yang berderu. Putridity tidak menancapkan riff-riff slam dan beatdown yang trendi, tidak memamerkan berbagai teknik pernapasan dan register rumit dari vokal, juga tidak memuaskan hasrat elitisme, melalui syahwat akan permainan teknikalitas eksplorasi skala dan nada.

Menjadi tidak valid dalam mengapresiasi Putridity, apabila menikmati satu hingga 2 unsur saja, lalu kemudian menampikan unsur lain, termasuk selektif dalam hal hanya memilih lagu tertentu untuk didengarkan. Memahami apa yang diperbuat Putridity, berarti harus menerima keseluruhan unsur menjadi sesuatu yang utuh secara egaliter.

Demi mendapat klimaks, membran timpani harus terbiasa submisif terhadap pedal ganda yang berlarian dengan perhitungan penempatan ritme non konvensional, growl monolitik Andrea “Ciccio” Aimone, serta  distorsi gitar yang tebal namun secara kepadatan riff sengaja mengaburkan susunan nadanya, seperti dilempari 1 kuintal daging merah mentah tanpa olahan, tetapi dalam  kualitas wagyu A5. 

Dibandingkan “Ignominious Atonement” yang masih terasa “terang”, distorsi gitar “Morbid Ataraxia” terasa semakin keruh, menenggelamkan pada lumpur hidup dengan daya hisap kuat. Sehingga sia-sia usaha meronta-ronta yang semakin membuat terperosok ke dalamnya, hingga fenomena ini yang pantas disebut sebagai galeri pertunjukkan seni pembusukan alami.    

Esoctrilihum – Ghostigmatah – Spiritual Rites of the Psychopomp Abxulöm

Esoctrilihum - Ghostigmatah – Spiritual Rites of the Psychopomp Abxulöm

Kematian bisa datang kapan saja, tanpa ada penanda yang dapat menyadarkan untuk berada di samping mempersiapkan, sebelum dilahap olehnya. Tidak ada lagi perasaan yang dapat berkompromi dengan agitasi yang datang dengan pancung dan kuda hitam berbayang.

Itulah gambaran kehadiran Esoctrilihum dalam “Ghostigmatah – Spiritual Rites of the Psychopomp Abxulöm” di tengah-tengah kesucian yang digiring masuk dalam kotak siksaan dengan pedal ganda besi yang menghujam, dan mantra-mantra kuno simfonis black metal berwujud gumpalan kabut astral synth yang menyusup di antara stabilitas kewarasan tubuh subtil.

Dalam mendekati pengalaman yang semakin esoteris menerawang kehidupan setelah kematian, Esoctrilihum telah berevolusi untuk merasuki wilayah yang terasa amorf.

Esoctrilihum mengambil sisa-sisa daging busuk death metal primitif, menyembelihnya dalam perilaku babarisme dari serangan keji black / death metal. Kemudian diberikan sebagai sesembahan pemujaan ritual yang telah memanggil iblis-iblis penjaga gerbang neraka dan kematian dari kitab black metal kuno.

Mantranya terkadang menjadi panggilan memohon yang tulus, yang beresonansi di balik kemegahan simfonik black metal yang kokoh, terkadang seperti jeritan pengorbanan tawanan bawah tanah yang menempati ruang dingin, pengap, dan gelap.

Esoctrilihum dapat menempelkan setiap memar dan sayatan yang nyata, sembari menggambar jelas bagaimana kehadiran surga di langit ke-7 sana, tidak akan pernah digapai oleh para makhluk biadab dan terkutuk.

Ambil contoh pada “Kneeling Before The Keeper Of The Golden Key To The Absolute Void”, ketika riff dan ketukan blast-beat yang sesak dan terus menghimpit vokal yang meraung-raung kepanasan. Seperti menterlentangkan tubuh di atas bara api panas, awan synth yang melayang-layang mulus di permukaan.

“At The Mercy Of The Flaming Spear Of The Bestial Hierophant” menggambarkan kausalitas alam yang tampak tidak berbahaya, berubah menjadi ekosistem yang mengancam. Tremolo riff yang merentang seperti tusukan duri pasif, tiba-tiba gerak dengan cara memotong, dan blast-beat dengan suara yang membengkak, dan merubah suara dari hujan deras menjadi hujan bebatuan.

Ada nyanyian penahan rasa sakit yang hampir pada taraf mengigau di pertengahan lagu. Bagi yang telah menyaksikan rekam jejak Esoctrilihum sampai saat ini, bukan menjadi suatu bentuk keheranan apabila Asthâghul dapat merentangkan varietas vokal.

Asthâghul dapat bertindak seolah seperti monster penghisap jiwa itu sendiri dengan menggelontorkan suara dalam, menjadi korban yang menjerit terpanggang oleh api keabadian, menjadi narator yang mengisahkan jalan cerita dengan nada vokal yang besar, menghantui dengan jeritan-jeritan pembuat bulu bergidik, dan iblis-iblis kecil dan goblin penghuni neraka yang terkekeh menyaksikan penyiksaan secara langsung.

Keterampilan fleksibilitas vokal itu dapat ditemukan dalam “Flesh Pierced By The Blades Of Thritônh, Eyes Devoured By Vulth Suidarl, The Giant Fly” dan “Mauled, Swallowed And Dissolved Into Nothingness By The 8-Eyed Psychopomp”.  Sebuah lagu penjerat kontradiktif ilusi yang menghipnotis selayaknya para pelaut yang terkena tipu daya oleh lantunan merdu dan kecupan siren.

Terdapat ornamen-ornamen alat musik senak tradisional yang menempel, seolah memancing kesadaran akan kemolekan wujud dan suaranya yang merdu. Tanpa sadar itu hanyalah lidah dari kodok raksasa yang menjulur dengan lendir licin, sebelum melahap mangsa seperti lalat yang tak berdaya.

“Hypnotic Danse Macabre Of The Blind Noctivagants” tampil dalam perilaku riff yang berirama, hentakan drum yang memegang erat prinsip groove, serta petikan-petikan mistis dari Dulcimer yang terpaku (atau mungkin kantele?).

“Saturnal Towers Of The Mighty Scarlet Moon Upon The Black Universe” yang membuat jiwa-jiwa panik, ketika sangkakala berbunyi dari balik celah-celah awan yang mendung, mengubah susunan akor maupun melodi menjadi ratapan tragedi dan belas kasihan.

Meski memasuki perjalanan panjang dan curam, durasi 83 menit telah berhasil mengikis setiap perjalanan dan lapisan jiwa yang semakin dekat menuju ajal. Esoctrilihum tetap menampilkan sisi kemisteriusannya yang aneh namun penasaran, hingga penghujung album seperti “The Cosmic Deathbringer Comes, Riding A Bloody Horse Of Goshenite” yang mengenyangkan hasrat mendengar materi black metal agresif yang sarat makna.

Lalu “Supplication Of The Veiled Saint From The Secret Book Of The Ghostigmatah Rites” yang menempelkan aura-aura mistis dari sapuan harpa new age yang menjadi lintasan terakhir menghadapkan momen pelepasan raga dan jiwa. 

BYONOISEGENERATOR – Subnormal Dives

Soulreaper-BYONOISEGENERATOR-Subnormal-Dives

3 hal yang menjadikan grindcore sebagai lawan dari prinsip umum musik Satu, intensitas yang mengabaikan peran dinamika (kontras keras-lembut). Kedua, agresivitas yang disadur dari beberapa turunan sub-musik ekstrim sekaligus (hardcore punk, crust punk, death metal, thrash metal). Ketiga, tidak ada kejelasan tonalitas, sehingga selain menghasilkan keacakan dari segi bentuk dan tekstur, juga menyajikan distopia bagi hirarkis konsep nada.

BYONOISEGENERATOR berusaha membelokan aturan tanpa mematahkan aturan grindcore itu sendiri. Tetap memelihara keliaran grindcore yang bahkan diperpanjang dengan aspek yang lebih teknis dan rumit secara permainan maupun eksplorasi bentuk.

Mempertahankan konsep disonansi dan atonalitas yang mengeluarkan banyak nada acak tidak selaras, hingga mengeksplorasi konsep kromatis saxophone free jazz, atau bassline yang membuat pola anyaman nada rumit. Hal berbeda ditujukan pada dinamika dan intensitas, ketika BYONOISEGENERATOR menyalahi “aturan lama”, hingga hasilnya terlihat kontras bahwa mereka membuat album grindcore non-one dimensional.

Mereka mendeklarasikan diri mengalami mutasi genetik dari sekedar grindcore vanilla menuju jazz math-grind revolusioner. Jika para penganut fan-boy naked city atau jazz-grind lainnya menggunakan elemen jazz sebagai penguat dukungan penuh pada konsep menghasilkan kebisingan nada dan tidak terstruktur, BYONOISEGENERATOR justru memanfaatkannya sebagai gradasi  mengkontraskan kebisingan dengan bagian yang lebih lembut dan melankolis.

Dengar misalnya, “LoveChargedDiveBombs” sebuah lagu grindcore yang memiliki build-up, dan sekali lagi melelehkan liukan legato saksofon atau pada “NULL.state = PERMANENT; return VOID;” atau “UVB-76” menjadi tempat perhelatan spiritual dari gaya permainan saksofon Sun Ra, setelah terombang-ambing oleh hardikan drum maupun gitar.

“NoSucessToday!” memiliki masa jamming section pada pertengahan dari riff funky dengan penempatan ganjil yang kemudian diledakkan bersama snare, “4-HO-DMTNzambiKult” yang memamerkan gaya slapping bass dan solo gitar.

“IQ69Exaltations” mengutak-atik aksen blast beat dari gaya tradisional, bomb blast, hingga gravity blast. Satu perubahan paling mencolok dibanding album BYONOISEGENERATOR lainnya, “Subnormal Dives” menanggalkan pengaruh vokal frognoise dan goregrind, untuk berteriak dengan amarah dan tarikan vokal yang membuat tenggorokan terasa gersang dan terbakar.

Vornir – Av Hädanfärd Krönt

Tidak banyak yang tahu, bahwa kolektif black metal Islandia dan Amerika Serikat telah menjalin hubungan interkontinental bawah tanah selama beberapa tahun belakangan ini. Bukti spesifiknya dapat menelusuri rekam jejak ketika Alex Poole mendirikan sekte eksklusif bawah tanah, Mystískaos yang mengorbitkan beberapa legiun black metal yang hidup dari jantung beku Reykjavík, seperti Ljáin, Vonlaus, Wormlust, dan Andavald

Rekonsiliasi tidak hanya terjadi di atas tumpukan kertas dan jabatan tangan kesepakatan bisnis, namun telah bergerak dalam transplantasi ide, eksekusi yang hendak mengembalikan black metal pada bentuk transfiguratif legamnya, sebagai prasyarat cetak biru pernafasan dalam inner circle ekosistem ini. 

Hawanya tidak akan sedingin dan beku dari gelombang norwegian black metal, bahkan cenderung gersang dan membara. Kejernihan telah dikaburkan oleh disonansi kognitif yang memaksa motorik jari-jari menekan akor maupun membunyikan melodi tidak selaras dan instabilitas. Teknik pencampuran suara, akan dilapisi bagian residu distorsi gitar abrasif, blast-beat terkunci rapat, dan noise yang mendesing, membiarkan rekaman tanpa memiliki celah sedikitpun. 

Hubungan ini kemudian melebar tidak hanya secara vis a vis melibatkan Islandia dan Amerika, namun negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Swedia telah tergerak untuk menghasilkan black metal yang memasuki tingkat ketidakwarasan baru ini. Vornir telah mempelajari seluruh literatur cetak biru, kemudian menambahkan lalu menerjemahkan aturannya sendiri. 

Sementara Urzeit sibuk menusukan sebilah noise pada lubang telinga dan mencerai-beraikannya pada ketukan d-beat, atau Serpent Column yang bergejolak dalam kebimbangan tak tertahankan antara keperkasaan dewa yang menghadirkan kutuk dari selangkangan kekuatan supernatural, Vornir mendapat pencerahan terus menyusuri kegelapan dan nihilitas yang diilhami sebagai representasi utuh kehidupan primordial. 

Dibalik terik-nya tremolo riff dengan sayatan kebisingan yang menyengat, terselip melodi-melodi halusinasi yang menarik-narik tubuh di ambang batas kesadaran dan ketidaksadaran. Perasaan seperti ini, menimbulkan rasa deja-vu pada saga Melinoë yang menghantarkan mimpi buruk pada simbolisasi mitologi-mitologi Yunani Kuno milik bab Akhlys

Tetapi dinding antara realitas dan mimpi telah dihancurkan, menghadirkan keporak-porandakan tatanan kosmos tidak hanya menjangkit pada skalar sonik, tetapi telah meresap hingga pada sentuhan dan sensasi. Vornir memakan waktu sepanjang 13 tahun lamanya, demi membuat musiknya dapat meresonansikan dimensi emosional yang mendalam dan mewujudkan tubuhnya secara nyata, di antara bayangan-bayangan yang telah menghantui sejak lama. 

Setelah berteriak dalam taraf kesadaran mengigau cukup lama, “II” terus menekan kebisingan hingga batas limitasi pada blast-beat intens, gerakan bass yang menebal, dan vokal yang berteriak dari balik kubur distorsi dan tindihan lapisan instrumen suara. Ada kalanya tempo bergerak lambat dan melayang seperti hisapan asap yang terkumpul dari aroma-aroma kematian dan keputusasaan melebur sebagai bahtera penggerak kehidupan. 

Pada “III”, dapat disaksikan melodi-melodi ketakutan pada gitar bersinar, sekaligus mengambang, akan tetapi tidak pernah mencapai kepastian. Pembukaan pada lagu penutupan “V” menghantarkan kerutan senar gitar dan petikan mistis yang terasa mentah, selayaknya tali pasung yang dikerek, dan membentangkan tubuh hingga menggigil linu dan kesakitan. 

Terdapat selipan kebisingan yang mampu menembus portal antara tremolo gitar yang melapisi langit, dan lubang penuh blast-beat yang menikam kapan saja. Terhitung dari 16 menit yang ditakdirkan, Vornir cenderung memilih perlawanan sekeras-kerasnya terhadap kebijaksanaan marduk yang perlu dicompang-campingkan hingga tercabik-cabik, agar membalikan ilusi kosmisnya, yang kini akan menyemburkan api hitam keabadian. 

Setelah pergumulan hebat terjadi yang tampaknya dimenangkan dalam kelenyapan kehidupan, aransemen meredup, mengistirahatkan gelombang suara yang terus menerus berkontraksi, hingga alam semesta kembali memejamkan matanya.  

Hexecutor – …where Spirit Withers in Its Flesh Constraint

Hexecutor- …where-Spirit-Withers-in-Its-Flesh-Constraint

Hanya ada beberapa kata kerja yang bisa digariskan dalam musik thrash metal, apalagi dalam domain emosional. Rasanya thrash metal tidak bisa lepas dari asosiasi kemarahan, huru-hara, agresif, dan memberontak.

Meski hadir band-band semacam Slayer, Sacrifice, Onslaught (periode awal) untuk menggeser thrash metal pada ranah okultisme dan satanisme, tapi hawa nafsu akan kedengkian dan murka thrash terlalu membara.

Hingga akhirnya muncul blackened thrash metal yang mencoba menyeimbangkan ke-2 spektrum menggali kerusuhan thrash namun mampu menggores pentagram dan baphomet dalam taraf koneksi batin. Tetapi Hexecutor punya cara tersendiri sebagai penyeimbang, yaitu justru pergi pada sisi melodisasi.

Rasanya hampir tidak ingat kapan terakhir kali kehadiran solo gitar lebih antisipatif dibandingkan kehadiran riff pada thrash metal. Mungkin Marty Friedman pernah melakukan itu bersama Megadeth, tetapi Hexecutor melakukannya dalam ranah blackened thrash metal!

Apapun itu, Hexecutor telah menciptakan twist yang menunjukkan bahwa thrash metal dapat memperlebar ruang emosional. Ketika lengkingan jeritan setan ala Tom Araya membuka “Beyond Any Human Conception of Knowledge”, kemudian memasuki transisi naik turun riff yang terkadang meminjam elemen tremolo riffing dari black metal skandinavia, sebelum ditutup dengan solo dan harmonisasi melodis.

Elemen blackened mengijinkan agar penulisan lagu dapat melipir sejenak menciptakan ritmik mid tempo, seperti pada lagu “Les Lavandières de la Nuit”. Vokal yang biasanya tidak mengenal kata “jeda”, kini memiliki pola bergelombang mengikuti pola drum yang menghentak.

Tetapi itu tak berlangsung lama, ketika kecepatan dan aura kesetanan kembali mengambil jalur kemudi utama. Hexecutor menyadari bahwa kekuatan utamanya mampu menulis lagu dengan persenjataan musikal yang luas, memberanikan diri untuk menulis mayoritas lagu dalam album ini di atas 6 menit sebuah konvensi yang tak umum dalam ruang lingkup thrash metal.

Formulanya dapat berkembang jauh tidak hanya sekedar riff- chorus riff- riff- chorus riff- solo- chorus riff, tetapi ada cukup waktu untuk merancang interlude menarik-kendurkan tempo, hingga membuat susunan tensi. “Youdig (Perfides frontières)” dibuka dalam keadaan relatif, dengan riff-riff dan sinkopasi drum yang mengingatkan pada King Diamond.

Satu-satunya yang tidak menunjukkan sisi “lemah” adalah aksen vokal Jey Deflagratör yang konsisten dalam tampilan suara parau ala vokal Petrozza era awal Kreator jika menyanyi untuk band-band norwegian black metal generasi ke-2. Riff jelas bukan hanya menjadi tujuan fondasionalis untuk menikmati rangkaian album, narasi maupun atmosfer bisa menjadi alternatif yang sama kuatnya.

Misalnya pada “Paol goz” yang membuat kehadiran solo gitar menempatkan urutan prioritas teratas, ketika menciptakan lekukan melodi yang tidak kalah merdu dari solo gitar melodic death metal maupun power metal.

Whitechapel – Hymns in Dissonance

Whitechapel mengalami transformasi ketika melepas “The Valley” (2019) dan sekuel “The Kin” (2021). Sebuah lompatan besar yang tidak hanya tertuju pada inovasi suara mencolok, akan tetapi pergeseran paradigma komunitas metalhead dalam menempatkan kembali Whitechapel. 

Pada ke-2 album tersebut, Phil Bozeman menyingkirkan sejenak fantasinya mengenai misantrophisme, dan kekejaman tribalisme untuk beralih pada catatan personal yang secara berani, membuka tabir kekelaman. Semua yang telah mengikuti Whitechapel mengetahui, bahwa sang vokalis memilih jalan penyembuhan dan pelepasan, tetapi “The Kin” adalah lolongan suara alter jahatnya, berandai-andai mengakhiri beban dengan cara balas dendam. 

Ketika Whitechapel melucuti distorsinya sejenak, demi menyerap pengaruh progressive alternative metal semacam TOOL, Katatonia, dan Opeth, hingga Phil yang memberanikan diri bernyanyi dengan clean vocal halus dan merdu, itu telah membuat sebuah paradoks membingungkan. 

Para pengikut setia Whitechapel, merasa dikhianati, menilai Whitechapel sudah tidak layak lagi menyandang titel deathcore seutuhnya. Sebaliknya, anak-anak elitis metal yang menggap deathcore adalah tiruan death metal murahan, justru mendekatkan diri dan tidak malu mengakui Whitechapel. 

Ketika Phil Bozeman dan kolega mengumumkan bahwa “Hymns in Dissonance”, akan mengembalikan keganasan Whitechapel era awal, sebagian besar fans lamanya kembali bersorak-sorai, sedangkan para pengikut barunya lebih tabah dan berusaha menghargai keputusan dengan menahan diri untuk tidak mengoceh sebelum “Hymns in Dissonance” mendarat di telinga. 

Meski ini adalah momen Reinkaos dari Whitechapel, tapi tidak serta-merta meninggalkan seutuhnya mengenai apa yang telah diperbuat pada ke-2 album sebelumnya. Jelas Phil tidak perlu lagi menyanyi terseguk sedih dan bebas mengeluarkan berbagai warna teknik vokal ekstrimnya yang merentang dari geraman gorong-gorongnya, gigitan vokal yang meledak-ledak, hingga jeritan-jeritan jahat. 

Pendalaman karakter atmosfer dan alur dalam album kembali tergali secara mendalam, sehingga memiliki penopang pondasi yang kuat, tidak mengalami adiksi dalam dosis tinggi terhadap bagian breakdown dan downtuned gitar kelebihan muatan. 

Dengar bagaimana lagu pembuka “Prisoner 666”, yang meskipun memiliki bagian breakdown gitar dan drum yang menghantam sekeras sledgehammer, tetap menghasilkan kabut pekat okultisme dari akor gitar yang direndam dalam reverb, atau pada “Hymns in Dissonance” yang mengembangkan penulisan aksen gitar menuju pada melodi yang mengambil sudut black metal.

Selain bermain dalam tempo breakdown penghenti intensitas, Whitechapel menampilkan sisi kebengisannya yang terpengaruh hardcore, dengan suara gitar tiba-tiba mengering dan pola ketukan loop drum yang lebih singkat. 

Dalam “Diabolic Slumber”, suara Phil sekonyong-konyong berubah menjadi cekikikan vokal milik Dani Filth, sebuah lagu pelan yang berbasis pada gaya tarikan gravitasi kuat, tetapi mampu menyajikan solo gitar indah. Meski telah menginjak usia 40’an, kekuatan vokal tidak sedikitpun mengundur. 

Konsistensinya dalam menyentuh rentang yang hampir pada taraf sub-bass, hingga menjerit masih terjaga dan tersalurkan pada setiap lagu. Kepiawaian rentang vokalnya bisa disimak dalam lagu “The Abysmal Gospel”, hingga “Bedlam” dengan geraman tenaga dalam raksasa pada penghujung lagu, yang relatif ampuh untuk shock therapy.. 

Tidak ada kata pengampunan, sebelum musuh berhenti bernafas, dan “Hymns in Dissonance” tampaknya menuruti prinsip serupa, ketika paruh ke-2 album justru mengalami performa yang semakin menanjak dan tidak terkendali. 

“Hate Cult Ritual” dan “The Abysmal Gospel” secara back-to-back menampilkan susunan lagu penuh ledakan dan agresivitas, sembari tetap membuat nuansa yang suram. “Bedlam” berniat mematahkan leher dengan cara membuat suara gitar yang menebal dan ketukan drum yang menghujam. 

Whitechapel semakin larut dalam jalan kesesatan dan balas dendam, pada ““Mammoth God”. Membiarkan akor gitar maupun solo gitar bernada muram berdenting pada dinding-dinding. 

Hidangan penutup, “Nothing Is Coming for Any of Us” mengeluarkan breakdown ter-beratnya sepanjang album, dan lebih sering membelokan aransemen pada sisi melodis, agresif secara bergantian. Pada akhirnya, ini meninggalkan kesan membekas yang tidak sia-sia bagi yang telah mengikuti alur album hingga pada titik ini.             

Putrescent – Darkness Embraced

Putrescent-Darkness-Embraced

Dalam beberapa tahun terakhir, kebangkitan death metal sekolah lama yang terjangkit pembusukan doom metal dan riff primitif mengalami over supply. Semua yang mengais peruntungan jalur ini, memiliki harapan agar mampu menciptakan hymne kematian yang dikultuskan seperti para leluhurnya, sebut saja Incantation, Immolation.

Dengan banyaknya barang serupa dipasaran, memaksa setiap band menaikkan level permainan dan diversitasnya demi keluar dari pusaran pembusukan sebenarnya, mengendap sebagai band yang hanya dicap imitator dan dilupakan.

Blood Incantation (salah satu entitas berpengaruh merevitalisasi gerakan ini) dalam rilisannya baru-baru ini telah bergeser, merangkul elemen krautrock / kosmische music, Tomb Mold melibatkan sensibilitas petikan gitar manis, hingga Voidceremony yang memperumit konstruksi musiknya.

Berbeda dengan Putrescent,. dalam debutnya, band kelahiran los Angeles ini tidak neko-neko agar tampil mencolok. Putrescent  memiliki concern yang condong terhadap melakukan perbaikan dan polesan pada gaya rekaman mereka yang terasa lebih steril dan menghadirkan bass dengan daya gedor ekstra.

Hasilnya separasi maupun kejelasan intensi artikulasi dari setiap instrumen terasa lebih tajam dan memiliki daya serang berkali lipat. Ketukan triplet yang meluncur menjadi ledakan blast-beat, beradu dengan tremolo riff stem rendah, hingga dwi vokal menjadi growl rendah manusia gua dan serangan erangan vokal yang membuat kerongkongan terbakar menjadi episentrum dari keunggulan pengalaman auditori, membangkitkan erat asosiasi portal diabolis yang menghitam dan nihilistik.

Selain kecepatan dan kepadatan menjadi senjata primer, porsi doom metal diletakan sebagai tanda rehat yang justru membuat jiwa resah dan gelisah, sebagai tanda penyiksaan lebih dahsyat segera tiba. Setidaknya ada beberapa siasat yang dipergunakan, demi menyelaraskan antara dinamika musik yang tampil dalam intensi menyerang secara membabi buta atau menghitamkan nuansa yang semakin mendekatkan diri dengan ajal.

Seperti pergerakan naik turun riff melandai, didasari oleh landasan pedal ganda, yang hanya sedikit menaruh aksen simbal, sebagai aksen penjaga atmosfer album. Sementara serangan blast-beat, riff yang gesit melakukan akselerasi dan perpindahan, hingga memecah kebuntuan melalui solo gitar melengking, adalah ketangkasan Putrescent menciptakan aransemen yang menggigit.

“Black Ceremony” menjadi ujian Putrescent, apakah persenjataan musikalitas, cukup untuk menulis lagu dalam durasi 8 menit. Dan disitu Putrescent menaruh keliaran sesungguhnya, ketika tapping solo yang sesak menggumpal, hingga kelincahan tangan pada fret yang semakin tahan lama dalam menekan not. 

Echoes of Gloom – The Mind’s Eternal Storm

Soulreaper-Echoes-of-Gloom -The-Mind's-Eternal-Storm

Menggenapi bahwa setiap kepala akan kembali ke tanah, dan kaki yang menapak langit Echoes of Gloom ingin menyaksikan dunia seluas yang bisa direngkuh. Dan Elkin seorang diri menulis materi atmospheric black metal dengan elementer folk yang tidak ditujukkan untuk kerinduan akan kepulangan, maupun terjebak dalam ritualistik okultisme sakralisme atas nama kebebasan yang justru menjerat wilayah profan.

Lewat album debutnya, Echoes of Gloom menunjukkan etos sebagai proyek solo black metal pengembara yang tidak membiarkan hal apapun menghentikan sejengkal langkah kakinya. Itu yang membebaskan tonalitas emosional rangkaian album ini yang dapat merentang dari geraman kemarahan, senandungan merenung, hingga terus menatap dalam pencarian belantara ketidaktahuan.

Album dibuka dalam petikan gitar akustik folk yang secara eksplisit tidak mengidentifikasi corak musik folk dari identitas manapun, sebuah persiapan matang dengan berkelana dalam rasa yang siap dan nyaman. Gubahan instrumentasinya terus berjalan, tanpa mencoba merepetisi kanon serupa dalam rentang waktu yang sempit.

Misalnya pada “Immortality Manifest” yang mendapat samberan riff melodic black metal yang solid, sebelum letupan d-beat dan transisi dari riff pacuan dengan aksen metal klasik saling menderap. Namun pada “Great Malignant Towers of Delirium”, transisi diminuendocrescendo mengapit bagian gitar jernih yang bernuansa dreamy dan memiliki tekstur creamy, membiarkan awan metafisik berpikir sejenak dalam dilematis,  sebelum memantapkan langkah yang semakin intens dalam hantaran pedal ganda yang kian bergemuruh. 

“Throes of Bereavement” terbagi dalam 2 babak dalam perjalanan utuh, dimana bagian pertama dari album ini menunjukkan keberagaman penulisan aransemen dibalik kebersahajaan yang tetap menulis materi yang tidak terkesan menunjukkan kemampuan teknis dan perubahan musik yang terlalu esoteris.

Terstruktur dalam menaruh susunan, perjalanan dari petikan gitar lembut, hingga riffing keras yang mulai menghantam, dalam gaya mid-tempo atmospheric black metal. Yang menjadi pembeda, bahwa ketukan drum tidak terus-menerus memberikan solusi pada blast-beat, tetapi membiarkan tekstur musik lainnya yang menjadi perhatian utama.

Suaranya baru mulai menghitam menjelang akhir lagu, sementara babak ke-2 dari “Throes of Bereavement” menunjukkan penyelesaian yang lebih atmosferis, dengan instrumen yang dibiarkan mengendur. Pada lagu penutupan, “Wanderer of the Mind’s Eternal Storm”, terasa seperti kumpulan memori yang terinfusikan oleh pengalaman eksistensial baru.

Ada beberapa bagian yang seperti diambil dari lagu-lagu sebelumnya, seperti gubahan d-beat, peralihan diminuendocrescendo, namun kali ini membuat semua terasa lebih klimaks dalam kehadiran solo gitar, dan tempo yang kian menanjak, menandakan bahwa perjalanan telah mencapai suatu titik perubahan dibandingkan keberangkatan dari garis awal.

Rekaman album sengaja melukiskan tekstur yang panoramik, dimana kualitas nada utama sengaja dikaburkan demi menciptakan tekstur berbayang, atau menambahkan lapisan kibor astral yang menciptakan ilusi melodis fatamorgana sebagai pasang mata yang mengawasi dari kejauhan.       

Martoriator – Bloodpainted Visions of Perpetual Conflict

Sub black/death bukan hanya sekedar hibridisasi antara death metal dan black metal. Ada semacam tambahan lapisan ativistik yang tersimpang antara latar belakang antropologis dan psikologis-sejarah.

Ketika musiknya sedemikian rupa diasosiasikan dalam gambaran manusia prasejarah yang barbar, primitif, dan naluri kebinatangan yang mengambil kendali, black/death kemudian terelaborasi dalam istilah bestial metal.

Lalu, pada saat black/death lebih condong mengangkat tema peperangan secara fenomenologis bukan pada kronologis, elaborasi yang menempel berubah menjadi war metal. Keduanya dapat menciptakan irisan, tetapi Martoriator mengambil sikap mengahadap sepenuhnya pada war metal.

Bahkan itu agaknya mengubah prinsp rekaman dan kualitas sonik, untuk mengarah pada suara yang terdengar gersang, hingga vokal yang tampak dalam warna emosional murka, dan barisan tremolo riff gitar hanya sebagai bensin yang disiramkan selaku pemicu kebakaran lebih dahsyat berikutnya.

Matroriator, sengaja menyempitkan ruangan, hinga membiarkan drum, gitar, dan vokal saling tumpang tindih dan bertempur dalam ruang yang relatif linear. Dari sana munculah interaksi kontraksi dan relaksasi dari blast beat yang menggulung dan bergerak cepat, selayaknya roda panzer tank yang tanpa ampun menghardik apa yang menghalanginya.

Dengan hanya mempunyai waktu 30 menit yang terbagi atas 8 menit, Matroriator tidak punya banyak waktu untuk menarasikan atmosfer, kecuali mendelegasikannya pada potongan singkat sampling dokumentasi peperangan sungguhan.

Interpretasi penggambaran nuansa peperangan, selain dipaparkan secara semantik melalui guratan lirik, pertukaran riff maupun drum yang saling merobek, menghardik, hingga mencabik itu sebagai ukiran dadaistik tentang memperlihatkan kondisi perang secara mental.

Mengambil pendekatan yang paling biadab, dan beringas untuk mengkoneksikannya langsung dalam senar-senar bernada rendah yang tajam seperti kawat pembatas peperangan dan pose vokal berwajah seram.

Tentu saja kehadiran David Bilia sang “Mr.Brutopia” menambahkan berbagai macam peluru yang bisa dilontarkan dalam serangan jarak jauh ala mortir yang meledak dahsyat dalam momentum singkat, atau membredeli seperti senapan mesin yang intens menciptakan luka minor yang terakumulasi menjadi kerusakan mayor. 

Ignoble – À l’écart – Afsondret

Ignoble-À l'écart-Afsondret

Dsbm lahir dengan mengambil jalur pro-mortalitas sebagai dasar keberlangsungan. Dengan bumbu masokis, dsbm diniatkan menjadi perlawanan black metal berikutnya terhadap keyakinan moralis dalam medan pertarungan profan.

Tidak perlu ada upaya sugar coating bahwa dalam pergerakan awal, dsbm memang mengglorifikasi pandangan alternatif yang mampu diapresiasi hanya sebatas seni atau diafirmasi menjadi falsafah hidup.

Tetapi belakangan, dsbm justru bergeser menjadi genre cengeng yang mengambil jalur pro-mortalitas, bukan kesadaran konsekuen melainkan eskapisme akan ketidakberdayaan menghadapi hidup. Ignoble setidaknya segelintir dari band dsbm yang kembali melanjutkan pertengkaran dalam taraf keyakinan.

“ À l’écart – Afsondret” menampilkan gaya dsbm penuh jeritan dan hunusan bertubi-tubi rasa sakit. Tetapi, alih-alih meringis kesakitan atau meratapi nasib, penderitaan itu justru membawa pada perasaan murka, dendam, dan mengambil sikap yang nihilis terhadap jalur kesembuhan dan kekalan.

Dalam perjalanan 4 babak yang memakan waktu 48 menit, tidak sedikitpun Ignoble mengemis belas kasihan agar mendapat simpati. Tidak ada itikad untuk melemahkan sonik melalui selingan dentingan piano, atau petikan akustik agar suaranya merasa dapat dipahami dalam sensasi emosi yang melankolis dan sentimental.

Sebaliknya, dengan konstan melempari setiap ruang suara dalam riffing tebal dengan distorsi dibiarkan menganga, dinamika drum yang sengaja dicopot, hingga erangan vokal gusar dan sekali-kali menjerit dalam taraf bergidik ngeri.

Dibalik pusaran riff yang menancap keras, terdengar sayup-sayup melodi merintih seperti sayatan luka di tubuh yang mengucurkan darah. Cymbal terbuka yang dibiarkan menetes, sebagai lentera satu-satunya yang hanya bisa menerangi jarak pandang sekitar 5 langkah.

Eksplorasi olah interval dan aplikasi variasi yang sempit memiliki intensi untuk menjebloskan persepsi pada ruangan kecil yang pengap. Dalam momen tertentu, ditemukan beberapa fragmen riff yang telah menempel pada lagu sebelumnya.

Selayaknya penderitaan dan amarah yang berlalu, tetapi dapat timbul kapan saja, Ignoble telah menciptakan labirin yang membiarkan siapa saja yang terperosok di dalamnya tetap bercengkrama dalam nihilitas dan kebencian yang terus terakumulasi, sehingga tidak ada kemungkinan lain yang dapat membebaskannya selain mendongakan kepala ke atas, hingga kepala mampu mencium langit-langit.

Vulture Vengeance – Dust Age

Vulture-Vengeance-Dust-Age

Agaknya, heavy metal yang mengisahkan mengenai peperangan heroik, dan saga pertempuran epik tidak begitu terekspos, hingga  akhirnya narasi semacam itu diklaim seutuhnya milik power metal. Band semacam Cirith Ungol, Manilla Road, Chastain, Warlord, hanya kisah sejarah yang hanya diterima oleh sesama maniak metal lawas.

Kelompok epic heavy metal asal Roma, Vulture Vengeance, membuktikan bahwa ceruk epic heavy metal yang “terlupakan” ini tidak akan pernah padam, meski tidak ada yang ingin menyiramkan bensin pada nyala lilin ini.

Meski lahir di tanah eropa, Vulture Vengeance membangun kedekatan pengaruh dengan gerakan heavy metal Amerika, yang telah disebutkan di atas. Ada upaya menyeimbangkan melodi dan harmonisasi  yang menyembur deras melalui lekukan dekor lick gitar dan lengkingan vokal terhadap tempo yang digeber melalui pukulan gemuruh drum demi mendapatkan nuansa epik menyeluruh tentang kisah fantasi yang kerap dibalut peristiwa peperangan dan kekuatan magis.

Setelah pembukaan melodi megah selamat datang pada, “Dust Age” tempo berpacu lebih cepat dengan riffing naik-turun alih-alih menggunakan teknik galloping yang cenderung konstan. Kemampuan vokal Tony T. Steele mampu merentang pada interval nada yang melambung tinggi, melampaui setiap, tetapi ada konten emosional yang terasa mentah dan membara dari percampuran kualitas suaranya yang terdengar serak.

Chorus pada “Queen of the Last Light” terdengar epik, merdu, sekaligus terdengar perkasa. Efek delay pada gitar yang disatukan pada pitch nada yang tinggi, membuat lapisan suara yang berkilau, seperti pada intro arpeggio melodious “Reign of Severance”. Setiap riff tidak mendapatkan pengulangan baris yang identik dalam rentang bar yang panjang.

Selalu ada upaya untuk menambahkan urutan nada demi mencari kemungkinan baru, atau mendapatkan kesan utuh penggambaran suasana, dengan mencari potongan kontras dari gagasan awal riff. Selain permainan riff yang jauh dari kesan membosankan, Vulture Vengeance memiliki ragam koleksi solo yang turut digunakan sebagai senjata utama.

Dari lengkingan solo pada intro“City of a Thousand Blades” yang sengaja mengambil interval bawah dari tonik, menciptakan efek dramatis, teknik pasang-surut dari “The Exiled”, solo gesit yang dahsyat pada pembukaan “The Foul Mighty Temple of Men”, hingga membuat solo sentimental pada lagu penutup bernuansa ballad “It Holds” yang terasa mengambil jalur kebangkitan dan perjuangan.

Defacement – Doomed 

Soulreaper-Defacement-Doomed

Dengan cepat, Defacement meninggalkan warisan dan jejaknya. Meski baru berdiri pada 2019 dan beranggotakan lintas negara, band experimental death metal ini telah mengantongi 4 album, dengan masing-masing album memiliki kualitas yang patut diperhitungkan.

Melanjutkan tradisi, memilih sebuah kata berawalan huruf ‘D’ pada judul album, Defacement kini telah memasuki bab kesengsaran. Sebuah fase yang ditakuti, namun justru sebagai fetish yang dibutuhkan band-band extreme menciptakan aransemen memukau.

Bagian ini yang mampu sisi kerapuhan aransement Defacement mencuat. Kerapuhan dalam arti tidak hanya mencoba mempertahankan kepadatan akan bentuk esoteris terhadap musik, tetapi mendekatkan aransemen bersifat emosional dengan menghadirkan selingan ambient, maupun melodi gitar.

Tidak banyak band sejenis yang berada dalam garda kekacauan sekaligus radikalisme eksperimen bergejolak ini, berani menundukkan diri pada penyelidikan tahapan emosional yang terasa membumi. Tetapi ini tidak mengendurkan sedikitpun keliaran berpikir dalam menggubah kegilaan riff-riff dissonant yang termutilasi dalam penempatan yang tidak selaras, serta suara drum yang menggulung-gulung.

Sebaliknya, membuat instrumen terasa memiliki gejolak psychosis lebih sering. Mengganti bagian lebih sering dari yang merenung dalam akor post-metal yang menghitam, atau emosi tak terkendali dari reruntuhan drum, kekacauan riff, dan hisapan vokal suram yang pelik untuk diselidiki, seperti pada lagu “Unexplainable”.

“Worthless” adalah peralihan fase pertama dan kedua dari 5 fase stages of grief. Pembukaan riff dan drum yang memberontak satu dengan lainnya yang tidak mempedulikan lagi normativitas keselarasan dalam sebuah lagu.Sekilas terdengar sama miripnya dengan kemiringan dan kebengalan gaya riff mathcore yang melompat-lompat, dan meninggalkan kebisingan menyerupai sirine kewaspadaan.

Disonansi akor yang bergeser pada ranah horror dan terus menapaki nuansa suram, serta kemunculan solo gitar di atas hisapan vokal, seperti lubang hitam yang melahap benda apapun yang melintasinya. Defacement konsisten menjaga kepadatan materinya agar tetap menarik dan tidak melelahkan menjelang masa berakhirnya album.

Hal itu digenapi dalam lagu “Unrecognised” yang menampilkan performa vokal yang semakin tersiksa dan nerakawi. Menyelaraskan trikotomi yang saling berselisih antara melodi gitar berbayang yang sedih, vokal yang berteriak, serta rapalan drum yang terus menghujam, seolah tidak menggubris permohonan ampun.

Epilog dari bab ini, akan terdengar klise yakni mengenai transendensi rasa sakit entah melalui penerimaan atau penjembutan ajal, tetapi Defacement membuat jalur soniknya terasa menarik pada “Absent”, selaku lagu penutupan.

Sebagai kondisi awal, Defacement dengan sengaja semakin mendekonstruksi bentuk pada gejolak dissonant riff yang membingungkan bertabrakan bersama riff death metal gigantic, menggambarkan kebobrokan kondisi mental dan metafisis yang semakin tak tertahankan.

Hening sejenak, bersandar pada fase realisasi, sebelum akhirnya melodi kecil mulai melangkah dengan tegar di tengah terpaan kehancuran dan huru-hara yang terus mengelilingi, dengan vokal yang kali ini berusaha menghisap sang jiwa. Prosesi sakaratul maut ini sekaligus menjadi penggenapan keberakhiran siklus “Doomed”, meninggalkan dengan penuh rasa keheningan. 

Bærzerk – Armafaensgeddon

Bærzerk-Armafaensgeddon

Tidak banyak yang berubah dalam perkembangan Norwegian black metal dalam kurun waktu 5 tahun kebelakang. Tidak menampik kemungkinan, bahwa Norwegia tetap menghasilkan regenerasi kompeten, akan tetapi bila telinga telah akrab dengan suara Norwegian black metal 90’an hingga periode awal 2000’an, aroma hauntologist masih begitu pekat terasa.

Djevel mencoba pendekatan norwegian black metal ortodoks dalam lanskap atmospheric black metal, ketika melandaikan durasi dan menciptakan riff yang tidak berorientasi pada daya gedor, tetapi sebagai upaya menarasikan panorama. Whoredom Rife yang mencoba menggali lebih dalam dari segi riff sebagai motor penggerak.

Lalu punggawa penting lainnya, Mork terasa seperti homage sekaligus terawangan, masa depan Darkthrone seandainya tidak pernah mengoplos crust-punk, dan metal purba era 80’an. Bærzerk pun serupa, dengan mengefisiensikan pendekatan yang begitu menohok dalam formulasi hingga tekstur suara yang telah sering digunakan leluhur dalam masa-masa berburunya.

Dalam “Armafaensgeddon” selaku debut, “Bærzerk” mencoba mengekstraksi sisi agresif, thrashy, dan on your face. Sebaliknya, menanggalkan segala kerumitan dan dimensi emosional yang tidak secara inheren tumbuh dalam black metal seperti menyingkirkan kesan simfonik, dan progresif.

Dapat dikatakan Bærzerk memilih black metal Norwegia gelombang ke-3 seperti  Urgehal, Tsjuder, dan Ragnarok sebagai dewa pemandu perang kali ini. “Dødskrampe” salvo beringas yang sekaligus menampilkan permainan drum ciamik. Bærzerk sering mengubah ritme dari gaya blast-beat 16 ketuk konvensional, menuju snare maupun tom yang menggulung dan meledak dalam kecepatan thrash metal.

Atraksi simbal yang terasa epik bersamaan dengan perubahan perilaku riff yang terasa melodis dan memekatkan langit-langit nuansa. Riff yang sengaja mengambil perwujudan suara keras, begitu multifungsi. Ketika menciptakan lagu bertempo mid black n roll seperti pada “Blodhevn” geramannya sangat bergairah dalam penyuntikan sisi jahat bagi setiap yang mendengarnya.

Bahkan ketika berjalan lurus tanpa aksen melodis seperti pada momen-momen di “BÆRZERK” dan “Felttog” kehadiran suaranya seperti semak belukar berduri yang tetap membahayakan bila tersentuh.

Kualitas produksi rekaman drum dalam album ini solid, ketika memilih pendekatan untuk meredam tendangan bass, menaikan tingkat mix pada aksen cymbal, hingga membuat suara snare terasa memecut alih-alih menghantam. Memastikan agar kestabilan suara tidak terganggu dari banyaknya daya ledakan yang meletup dari permainan rapat dan tanpa ampun tabuhan drum.   

Ancient Death – Ego Dissolution

Soulreaper-Ancient-Death-Ego-Dissolution

Ada 2 cara yang dapat ditempuh agar berhasil melestarikan warisan leluhur. Pertama, langkah yang paling mudah dan banyak dilakukan, melanjutkan apa yang telah berlangsung untuk diturunkan pada generasi berikutnya.

Kedua, adalah justru berusaha memisahkan kekangan similaritas dengan melakukan eksplorasi ke dalam. Meski baru melepas debutnya, Ancient Death nekat untuk menempuh pilihan eksplorasi personalitasnya melewati teror jurang curam kegagalan, yang dapat terperosok kapan saja.

Setelah cukup yakin menggali fondasi pegangan yang kuat dari berbagai pengaruh para leluhur death metal: Morbid Angel, Obituary, Death hingga The Chasm, berikutnya adalah menempa sebilah pedang besi secara mandiri.

Bahwa term progressive death metal adalah konsensus induksi yang sedang dikerjakan Ancient Death, tetapi jika ditelisik lebih dalam, ada banyak pretelan yang hanya dimiliki oleh “segelintir” dari sekian banyaknya band atau mungkin hanya Ancient Death.

Setiap lagu memiliki beberapa cara yang berbeda memperkenalkan diri. Salvo pembuka “Ego Dissolution” memperkenalkan bahwa ketangkasan dan naluri kebinatangan dapat melangkah beriringan. Pedal ganda yang seperti menciptakan serudukan banteng berpasangan oleh riff naik turun yang begitu lincah.

Lalu “Breaking the Barriers of Hope” disambut oleh jeritan solo bersuara iblis yang menerjang dengan sekonyong-konyong, bersamaan atraksi tendangan pedal ganda bertubi-tubi. Setelah menghadapi formulasi interplay pasang-surut antara koleksi riff, atmosferik doom mencekam, hingga solo yang mencuat begitu deras pada 2 lagu awal, “Breathe – Transcend (Into the Glowing Streams of Forever)” memiliki alur menanjak, yang dibuka oleh selubung kabut muram dari gaya doom metal kematian, beralih pada lapisan vokal gothic wanita, dan diakhiri oleh kekacauan yang tidak ketara.

Pengelompokan note yang bervariasi dari pergerakan lurus tremolo picking, not-not berukuran mikroskopik yang ditekan secepat mungkin, hingga berbentuk untaian melodi memberikan peran solo gitar sebagai perpanjangan atmosfer mencekam dan ancaman terselubung. Tidak semua solusi penyelesaian eskalasi klimaks dialihtugaskan pada penerapan blast-beat.

Artinya, ada ruang ketersedian yang lebih luas dalam memamerkan skill drum set. Didukung oleh kenyamanan produksi suara, mempertajam setiap aksen dan teknik pukulan yang diartikulasikan: Snare berdetak secepat kilat, kick drum yang bejubel, hingga bagian tom yang menciptakan relasi jungkat-jungkit terhadap riff gitar yang mampu menebalkan aspek kerenyahan hentakan ritmis, varietas, dan intensitas dalam sekali jalan.

Bahkan pada  “Unspoken Oath”, salah satu lagu cepat album ini digubah agar memiliki pola drum fluktuatif. Ancient Death bisa dibilang menekan eksplorasi dalam effort semaksimal mungkin pada keseluruhan aspek.

Segi produksi suara yang memukau, koleksi riff, solo maupun jenis pukulan drum dengan kedalaman variasi melimpah, alur musik sarat kejutan, hingga mengeksplorasi vokal, sebuah lini yang jarang diperhatikan bagi para pelestari warisan leluhur death metal sekolah lama.

Délirant – Thoughteater

Soulreaper-Délirant-Thoughteater

Setelah film Lord of the Chaos mengudara, kisah kontroversial Mayhem lebih terdengar seperti cerita horror creepypasta yang dinikmati. Orang-orang maupun konten media sosial berlomba-lomba menceritakan ulang hanya untuk mendapat validitas dan kesenangan mengenai betapa mereka dapat menerima hal-hal ekstrim.

Lagipun gimmick satanisme dan tindak ekstrim sudah usang dalam black metal yang telah banyak didaur ulang dalam pembawaan yang kurang segar, sejak genre ini mengudara sekitar akhir 80’an.

Kini trend justru bergeser pada tema-tema yang terdengar abstrak, dan kosmik hingga sulit terjangkau oleh pengamatan empirik bahkan imajinasi sekalipun. Sebagai mantan anggota label bawah tanah, Mystikaos, Délirant membawa padanan misterius serupa lewat sampul dan simbol logo band yang tersusupi.

Meski sekarang telah berpindah rumah label menuju “Sentient Ruin Laboratories”, Délirant tidak sedikitpun melunturkan perangai kemisteriusannya. Satu-satunya anggota band, D.B. menggabungkan pendekatan dissonant black metal yang kusut terhadap manipulasi fuzz, efek vokal yang bersifat kaustik, hingga begitu lihai menempelkan elemen ambient gelap ritualistik, yang mencuci kesucian iman menuju pemberontakan dogmatisme.

Mengambil dalam definisi kata serapan Perancis, Délirant sendiri memiliki konotasi melebihi batas wajar, kemudharatan, dan sampai pada taraf maniac. Barangkali sebuah wujud pendobrakan ke luar dari tubuh fisik dan dogmatisme yang serba terbatas, hingga dapat mencapai ekstase kebebesan melayang dalam setiap sendi-sendi semesta.

Untuk itulah meski riff terkesan memiliki bentuk dengan kepadatan cakram, tetapi struktur dan formalisasinya tidak dapat dipersepsikan pada sebuah fasad. Terkadang harmonisasi disonansi dapat berpusar membentuk semacam serangan tornado, yang mementalkan bentuk ke segala arah, seperti pada “Thoughteater II”, berkamuflase dari kebisingan putih menuju melodi-melodi beku yang keras dalam “Thoughteater III”, dan sayatan disonansi yang seperti membuka portal dunia negatif yang menghasilkan dimensi suara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, seperti pada “Thoughteater VI”. 

Masih di lagu yang sama, kemunculan jeritan solo gitar yang menjatuhkan suara nyaring, menjadi penutup klimaks dalam lagu sepanjang 9 menit yang semakin lama kegaduhan kian mendekat. Selain piawai menciptakan gonggongan astral, kerunutan konstruksi aransemen kerap disisipi oleh resapan riffing doom yang dapat menarik kesadaran untuk lebih jeli memerhatikan seliweran elemen di sekelilingnya.

“Thoughteater I” sebagai lagu pembuka berdurasi 3 menit, tampil seutuhnya dalam kemasan doom metal, yang membuat pola riff miring terasa seperti pilar yang kokoh berdiri tegak. Délirant menggenapi frasa bahwa hal yang paling ditakuti adalah ketidaktahuan, dan anonimitas identitas hingga perilaku soniknya telah berhasil membangkitkan ketegangan dan kegelisahan sebagai bahan psikotropika yang mendorong manusia melebihi limit toleransinya. 

Death Rites – Self-Titled

Pada masa pertengahan 80’an, stenchcore sempat menjadi salah satu dari sedikit pilihan varian musik ekstrem yang ada. Namun dengan pendefinisian batasan suara yang kabur saat itu, membuat stenchcore tidak memiliki spotlight seperti layaknya thrash metal, crust-punk, atau perkembangan gelombang awal dari death metal maupun black metal.

Saat suatu band memiliki pola ritmis d-beat, dengan kebisingan yang membengkak. Band semacam itu akan dimasukan ke dalam payung crust-punk. Lalu ketika membuat musiknya dengan sudut yang menghitam dan berbalut okultisme, terminologi dari “black metal” menjadi top of mind definisi yang sering digunakan.

Sekarang, ketika semua sub-genre telah berkembang, dan menemukan tikungan batasan yang lebih tajam, stenchcore pun dapat menggaris wilayahnya secara jelas. Seperti yang dimainkan Death Rites dalam debutnya ini, stenchore adalah kemarahan terhadap relasi hirarkis yang diruncingkan oleh anarkisme crust punk, lalu meminjam kekuatan gelombang black metal pertama, demi mempertegas oposisi terhadap status quo, membuat aksi pemberontakan tumpah ruah secara liar dalam gerakan silang hardcore punk dan thrash metal.

Suaranya terasa kasar, rancak, dan memiliki kedudukan vis a vis terhadap distorsi gitar berkarakter metallic. Tidak hanya menghasilkan banalitas ketukan d-beat yang menghajar irama konvensional, akan banyak ditemukan bagian gitar yang digali dalam beragam sumber-sumber musik metal.

“Last Breath” menampilkan secuplik solo dive bomb yang terkekeh, atau ”Extermination” maupun “Living Hell” yang membuat solo-solo gitar jahat. “Total Devastation” membuka dengan cabikan powerchord berirama khas bay area thrash, melanjutkan breakdown ala crossover thrash dan meledak dalam kocokan riff yang tiada habisnya berakselerasi dalam kecepatan ganda alternate picking.

Rasanya seperti membenamkan kepala pada aspal, sambil mengendarai motor yang menghasilkan efek terbakar. Teknik vokal seolah seperti iblis yang diberikan megaphone untuk berorasi tentang keresahan di depan massa. Terdengar, serak, menggema, sekaligus lantang dan berapi-api dalam mengeluarkan setiap oechan lirik.

Dengan sedikitnya ketersediaan rilisan stenchcore tahun ini, tidak diragukan lagi bahwa “Death Rites” berdiri dalam garda terdepan, sebagai rilisan stenchcore terbaik tahun ini.

https://www.youtube.com/watch?v=dO2amCkj1iI&list=RDdO2amCkj1iI&start_radio=1&pp=ygUZRGVhdGggUml0ZXMgLSBEZWF0aCBSaXRlc6AHAQ%3D%3D

Sacred – Fire To Ice

Soulreaper-Sacred-Fire-To-Ice

Salah satu keunggulan utama para pemasok retro revivalist heavy metal adalah melakukan perjalanan masa depan sambil tetap dalam timeline masa lalu. Misalnya, tahun 1984 gemuruh teknik drum bass rapat 16 nada belum banyak digunakan dalam heavy metal.

Teknik itu baru ramai digunakan ketika gelombang power metal Jerman dan Amerika mulai bermunculan beberapa tahun kemudian. Para revivalist di era sekarang yang telah merasakan 2 periode tersebut, bisa menggabungkannya ke dalam satu semesta.

Membayangkan bagaimana Iron Maiden mampu berlari segesit Helloween, atau Quiet Riot yang memiliki nuansa ksatria dan pertempuran khas Hammerfall. Sacred dengan jeli memanfaatkan keunggulan ini, dengan mengambil banyak koleksi kepingan vinyl metal lawas, untuk dipahat menjadi kepingan versi tersendiri.

Dari pengaruh yang langsung menyentuh epidermis seperti Iron Maiden, Hammerfall, Queensryche, hingga yang hanya sebatas berwujud aura semacam Falconer, Judas Priest, hingga DIO. Bahkan dalam intro lagu pembuka “Into the Light”, harmonisasi yang menyala terasa akan citara rasa permainan gitar dari Adrian Smith dan teriakan gaya Bruce Dickinson dari Iron Maiden yang samar-samar membayangi.

Tetapi seiring dengan pertambahan durasi, warna vokal yang disuguhkan tidak terasa seperti carbon copy Bruce seorang, terkadang vokal mampu melengking dengan nada tinggi mengingatkan pada gaya Joacim Cans era Hammerfall awal, atau mempertahankan melodi vokal yang meliuk dalam rentang medium.

“Fire to Ice” tidak selalu tampil menggebu-gebu setiap saat, dan berkat kreasi chorus vokal catchy sekaligus melodious, membuat lagu bertempo sedang pun tetap tidak terasa membosankan, seperti Hook vokal berlapis epik dari “Caught in a Snowstorm”. Meski sering berada dalam kurva aransemen yang bersifat melodis, tetapi Sacred tetap bersikukuh pada formulasi heavy metal yang perkasa, tidak meluntur pada musik arena rock yang cenderung bercorak mellow.

Bahkan ketika menyanyikan ballad berdurasi hampir 7 menit, pada “On the Verge of Becoming a Shadow”, tarikan vokal Gustav tidak melunak secara timbre. Permainan riff hingga solo gitar sepenuhnya mengandalkan pengelompokan dan penggabungan lick demi meyakinkan membuat solo gitar yang berkesan.

Permainan tapping solo yang hanya muncul pada lagu “Gateway to the Gods” sebagai lagu dengan sudut agresif dalam album ini. Tidak ada whammy bar berlebihan maupun sweep picking. Ini lebih banyak variasi motif ritme maupun solo yang terisi.

Pada beberapa kesempatan, saat bagian solo memasuki aransemen, seringkali meletakkan nada awal di bawah interval tonik sebagai penanda kontras emosi, seperti pada “Wasting Away”,  “Fire to Ice”, hingga lagu penutup “The Flying Dutchman”. 

Baca Juga : SOULREAPER – Keabadian Dari Bawah Tanah – 01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *