“Berada dalam lingkaran elit para jazz, membuat Margo Guryan jenuh dan ketika secara tidak sengaja mendengar tarikan vokal Brian Wilson, Guryan memalingkan wajah dari komunitas free jazz dan menyatakan inovasi pop lebih menarik perhatiannya.”
Konvensi menyatakan, jazz unggul menegnai perbincangan inovasi musikal disandingkan pop. Margo Guryan menyepakati pernyataan ini, hingga secara tidak sengaja mendengar lagu “God Only Knows” milik The Beach Boys. Lahir di New York dan besar di Far Rockaway, Queens, Guryan tumbuh dari keluarga yang berdedikasi terhadap pendidikan musik formal. Guryan mengikuti jejak sang ibu yang menjadi seorang pianis lulusan Cornell University. Margo Guryan menjadi 1 dari 2 perempuan yang diterima sebagai murid Lenox School of Jazz pada tahun 1959, berkat keahlian komposisi musiknya.
Musikus jazz seperti Bill Evans, Max Roach, dan Milt Jackson sempat menempa Guryan menjadi musisi dan penulis lirik berorientasi terhadap jazz. Guryan memiliki kesempatan langka menulis lirik untuk tokoh free jazz terkemuka Ornette Coleman berjudul “Lonely Woman” yang sekaligus menjadi karya monumental Coleman, hingga bekerja sebagai sekretaris untuk produser jazz kenamaan, Creed Taylor yang mengoperasikan CTI Records.Berada dalam lingkaran elit para jazz, membuat Guryan jenuh dan ketika secara tidak sengaja mendengar tarikan vokal Brian Wilson, Guryan memalingkan wajah dari komunitas free jazz dan menyatakan inovasi pop lebih menarik perhatiannya.
Setelah berada di balik layar cukup lama, Guryan memberanikan diri tampil, bernyanyi dengan suara selembut embun pagi sembari beranjak sesaat dari kursi pianonya. Kreasi eksplorasi kemungkinan sonik, tidak lagi dituangkan dalam satu atau dua alat instrumental, tetapi meresap dalam struktur maupun konseptual album. Guryan memainkan pop psychedelic dan memadukan gaya turunan sunshine pop, yang melentingkan vokal bersinar paling benderang dalam tatanan campuran akhir. Memanfaatkan ilmu disiplin formalnya, Guryan merotasi banyak kunci pada keseluruhan album, hingga bentuk alur suaranya secara bergantian berubah menjadi gaya barok, jazz, dan folk.
Misalnya pada pembukaan “Sunday Morning” dengan akor melingkar dalam progresi ii-V-I, teknik perubahan akor yang lumrah digunakan dalam bossa nova. Penerapan vokal yang alih-alih menekan pita suaranya sekeras mungkin, Guryan bersenandung membuat pergeseran nadanya sangat kentara terdengar, meski berada dalam gerakan halus sekalipun. Lagu “Love Songs” sebagai curahan rasa kehilangannya, yang sembari menengok bahwa pengharapan akan menjemputnya, seperti sinar fajar yang selalu terbit.
“Thoughts” pergumulan batin dengan overdub vokal afirmatif yang menguatkan keyakinan untuk beranjak di tengah pergolakan rasa kebosanan namun enggan ditinggal. “Take a Picture” berisi kolase kenangan manis, ketika pertama kali merajut cinta, dan “What can I Give You” dalam tiupan saksofon dan sorak-sorai suara meriah hanya semata membujuk rasa keceriaan yang surut pada pasangan. Album semata Guryan ini, merupakan refleksi emosional yang secara berdampingan mengisahkan kecintaan dan kehilangan, serta kerinduan dan kegembiraan tanpa berpihak pada titik ekstrim di antaranya.
Baca Juga : Maki Asakawa – 寂しい日々, Gadis Blues Dari Ishikawa





