“Meski tidak banyak diungkap secara eksplisit, ekspresi traumatis masih beresonansi melalui tarikan vokal Dave Bixby yang terdengar lirih, maupun pergerakan akor yang merangkak lesu. Mengajarkan bahwa penerimaan spiritual hanyalah masa remisi, dengan sisa perbuatan yang harus ditanggung oleh ketabahan dan kesungguhan hati.“
Dave Bixby memang tidak berkaitan langsung dengan penurunan harapan terhadap idealisme hippie yang dikampanyekan oleh gerakan Summer of Love akhir 60’an. Akan tetapi kisah transpersonalnya, dapat mengorek pergeseran isu sosial yang kembali berpulang pada inklusivitas dan pengkultusan. Lahir di Grand Rapids, Michigan sebagai musisi folk amatiran, Dave Bixby mengadopsi gaya hidup hippie, bahkan menjadi pecandu berat LSD. Pada suatu masa, selepas tur di tahun 1968, David bersama dengan gitar 12-senar kesayangannya, sedang melakukan perjalanan pulang. Mesin mobilnya mati, dan dengan waktu yang lama dan keadaan frustrasi, Dave terjebak salju.
Sembari berbaring beriringan bersama hipotermia yang perlahan merenggut kesadarannya, Dave mendengar suara misterius yang bersumber dari atas langit. Dave menganggapnya sebagai wahyu dari Tuhan, dan sejak peristiwa itu, ia berkomitmen menjalani hubungan yang inklusif terhadap keagamaan. Dave Bixby kemudian bergabung sebagai pemimpin kultus Kekristenan Karismatik, The Group, meninggalkan janji-janji inklusif kebebasan sekularisme hippie menuju kesungguhan perjalanan spiritual yang eksklusif.
Satu bulan setengah, pasca momen katalisatornya, Dave pergi menuju rumah salah satu petinggi The Group, Don DeGraaf, menumpang merekam materi debutnya di sana. Semuanya terkesan seperti ruang sempit dan tertutup, tempat pengintograsian kesalahan maupun peti penebusan dosa bagi Dave. Dia hanya menggunakan 2 mic yang menghadap ke arahnya, merekam vokal dan gitar menggunakan mesin 4 trek di ruang tamu milik Don DeGraaf. Tidak mengherankan, mendengarkan keseluruhan rekaman seperti menyimak percakapan intim bersama Dave, atau barangkali hanya tumbuh sebagai suara-suara di kepala mengenai penyesalan dan pertobatan. “Dulu hidupku indah / Sekarang lihat apa yang telah kulakukan / Aku telah menghancurkan kuilku / Dengan narkoba, pikiranku terpukul”, Dave berbisik pada lagu “Drug Song” yang menyelami masa-masa kecanduan akut LSD-nya. Namun itu hanyalah satu-satunya lagu yang membuka kisah kelam masa lalunya, ketika perubahan begitu drastis pada narasi lirik lagu-lagu berikutnya.
Dave seperti telah kehilangan kesabaran untuk segera menyebarkan kabar keselamatan, dengan memberikan kesaksian memperoleh kebebasan kekal, seperti pada lagu ke-2, “Free Indeed” yang berbunyi: Dia datang kepadaku / Dan berkata bahwa Dia telah membebaskanku / Dan berkata bahwa Dia mati untukku / Dan bahwa Dia mencintaiku. Sapuan gitar dalam lagu “Moher”, berubah dengan mempererat jalinan melodi, membuka kenangan sekaligus sedikit penyesalan, bahwa jauh sebelum memasuki periode kelam, Ibunya telah lebih dulu menawarkan jalan yang kini dipilihnya. “Lonely Faces” secara rekursif berusaha mengulurkan tangan bantuan, posisi yang sama ketika Dave mendapatkan uluran tangan kesempatan kedua. Tensi gitarnya semakin mengeras, dan mengerucut pada nada-nada tinggi yang klimaks sebagai tanda pelepasan, dan secara gemulai menghaluskan vokal.
Vokal Dave paling bersinar dalam campuran, dengan pengaturan nuansa sekitar yang lapang dan penuh celah keheningan, yang menimbulkan fenomena sinar matahari pagi menembus rudungan awan mendung. Meski tidak banyak diungkap secara eksplisit, ekspresi traumatis masih beresonansi melalui tarikan vokal yang terdengar lirih, maupun pergerakan akor yang merangkak lesu. Mengajarkan bahwa penerimaan spiritual hanyalah masa remisi, dengan sisa perbuatan yang harus ditanggung oleh ketabahan dan kesungguhan hati.
Baca Juga : Maki Asakawa – 寂しい日々, Gadis Blues Dari Ishikawa





