Playlist-Kawan-Mengawal-Sudut-Kota

Hari Senin hingga Kamis, biasanya aku mengendarai skuter listrik mungil berwarna pink-putih di sepanjang jalan kota untuk pergi ke kampus. Sepulang dari perkuliahan, aku terus pergi ke kantor buat ngambil draft pekerjaan yang harus aku beresin, ngerjain tugas-tugas kuliah, atau ikut rapat bulanan antar tim. Maklum, menjelang semester-semester akhir perkuliahan, semakin sedikit sks mata kuliah yang bisa aku ambil, jadinya aku memberanikan diri buat ngambil kerjaan jadi ilustrator paruh waktu, di sebuah perusahaan media kreatif dan digital. 

Aku mungkin udah pernah cerita di sini, kalau salah satu hobiku adalah menggambar. Sejak SMP, aku mulai suka gambar. Bahkan, pas aku mulai masuk SMA, aku cukup rajin buat ikut lomba menggambar, entah itu dari pihak sekolah, atau pihak luar sekolah yang ngadain. Jujur selama riwayatku ikut lomba gambar, aku belum pernah jadi juara satu sih, tapi seenggaknya beberapa kali aku bisa masuk 3 besar (aduhhh maaf… sombong tipis-tipis, hehe). Dan kayaknya udah bukan jadi rahasia lagi bagi teman-teman dan orang-orang terdekatku, kalau aku suka gambar dan mereka sering memuji hasil gambarku, yang kadang bikin aku salting dan malu-malu kucing.

Nah ceritanya, beberapa bulan lalu seorang teman kuliahku ngasih tawaran ke aku, ngasih tahu kalau salah satu kenalannya lagi cari tenaga ilustrator paruh waktu buat di kantornya. Aku ga ragu dan mikir panjang lagi buat ngambil salah satu kesempatan yang udah aku nanti-nantikan selama ini. Singkat cerita, aku akhirnya keterima dan here I am… Tapi, meski aku bisa selalu dekat buat ngelakuin hal apa yang aku sukai, tapi tetep harus ada pengorbanan yang dilakuin. Pada hari-hari biasa, aku jadi lebih sering pulang malam. Kadang emang selain aku sengaja memilih  ngerjain tugas-tugas kuliah dan pekerjaan di kantor (karena banyak temen buat ngobrol dan curhat juga di sana), hampir setiap kali ketika pulang, aku kejebak macet. Jadinya, jadwal waktu jam pulangku kadang bisa molor 1 sampai 2 jam, dari jadwal seharusnya. 

Apalagi jarak rumahku ke kampus dan kantor tempat aku bekerja, cukup jauh, rumahku terletak di sudut kota, sedangkan ke-2 tempat yang sering aku kunjungi di hari-hari biasa itu, hampir berada di tengah-tengah kota. Tapi sebenarnya yang kadang bikin aku ngerasa lebih cape, bukan karena jarak tempuhnya yang panjang. Tapi ketika pas perjalanan pulang, aku terdiam bersama dengan puluhan kendaraan serta pengendara lainnya di tengah jalan raya yang sedemikian luas. 

Hal itu yang kadang bikin aku suntuk dan secara ga sadar berhasil bikin tangan kananku terlepas dari genggaman gagang skuterku, untuk menutup mulut yang tak henti-hentinya menguap di sepanjang jalan.  Aku juga terpaksa melototin balik lampu merah yang terus melihat ke arahku dan enggan berkedip selama satu menit ke depan, sembari berharap-harap warnanya lekas berubah menjadi hijau. Momen itu juga bikin pikiranku melayang-layang sesaat, membayangkan apa yang bakal aku lakukan sepulang dari perjalanan ini. 

Tapi sejak aku mulai melakukan hal ini 2 bulan belakangan, rasa kebosanan akan perjalanan pulangku menjadi berkurang drastis. Aku selalu melakukan ritual khusus, sebelum aku beranjak dengan gas skuter listrik, melesat meninggalkan halaman parkir kantor. Aku mengeluarkan sepasang headset wireless berwarna krem untuk kugunakan menyumpal ke-2 lubang telingaku dan dengerin musik sepanjang perjalanan. Jadi, daripada aku mendengarkan kebisingan lalu-lalang lalu-lintas yang begitu riuh berseliweran di sela-sela lubang kupingku, lebih baik aku mendengarkan lantunan-lantunan merdu dari lagu-lagu yang aku suka, maupun lagu yang aku anggap cocok untuk menemaniku dalam perjalanan pulang.  

Nah sekarang, aku bakal kenalin ke kalian 5 lagu yang akhir-akhir ini sering aku jadikan playlist  kawan mengawalku pulang menuju sudut kota. Siapa tahu, ke-5 kawanku ini bisa menjadi kawan kalian juga yang setia menemani dan ngobrol bersama kalian selama perjalanan pulang, Jadi selamat menikmati…dan jangan lupa tetep semangat. 

Miki Nakatani – Temptation

Playlist-Miki-Nakatani

Beberapa dari kalian mungkin kenal nama Miki Nakatani dari film Ring (1998), sebagai pemeran karakter Mai Takano. Ring sendiri, emang disebut-sebut sebagai salah satu film horror supranatural buatan Jepang yang sukses dan mendunia. Tapi, mungkin kalian ga banyak yang tau kalau Miki Nakatani juga punya karir bermusik dan udah ngerilis beberapa album studio. Aku sendiri, baru aja dengerin album dia yang berjudul “Shiseikatsu” beberapa bulan belakangan ini. 

Dan.. entah mengapa vibes album itu pun, terkesan misterius… dan ambient nya kuat banget. Tapi dari semua lagu yang ada di album itu, lagu “Temptation” aku pilih sebagai salah satu playlist perjalanan pulangku belakangan ini. Kadang momennya bisa kebetulan banget, ketika lagu ini mulai gilirannya untuk diputer, suasana perjalanan pulang aku tiba-tiba jadi lebih sepi, senyap, dan seolah-olah semuanya melambat gitu. Lagunya sendiri juga lebih banyak nuansa hening, cuman ada senandungan vokal Miki dan ketukan drum yang seolah-olah detak jantung Miki sendiri yang berdegup-degup. 

Kadang lagu ini, juga bikin aku reflek buat senandung nada yang menyerupai lagu ini. Aku pribadi emang lebih suka muter atau denger lagu yang rileks, atau ga terlalu banyak suara untuk perjalanan pulangku, jadi biar tetep enak kalo didenger meski misalnya tiba-tiba aku lagi ga fokus dengerin lagunya, karena kena distraksi keadaan sekitar, atau tiba-tiba ngelamun. Lagunya mungkin emang agak aneh sih, tapi cocok banget buat diputer malem-malem. 

Telenova – In The Name Of Your Love

Playlist-Telenova

Telenova, jadi salah satu artist temuan favorit aku di tahun ini. Aku mulai kepincut dengerin album barunya “The Warning” pas ga sengaja dengerin single-nya di Youtube yang judulnya, “In the Name Of Your Love”. Setelah aku cobain lagu selain singlenya, ternyata cocok dikupingku dan beberapa lagu ada yang masuk playlist harianku. Tapi kalo untuk playlist khusus buat nganter pulang, lagu single yang pertama kali ku danger ini yang masuk dan jadi lagu yang wajib aku puter setiap kali dalam perjalanan pulang. 

Meskipun, aku sebelumnya sempet bilang kalau aku emang bakal lebih tipikal nyari lagu-lagu yang slow dan chill, tapi kalo misalnya aku dalam keadaan ngantuk, aku selipin juga beberapa lagu yang up-beat dan bersemangat, buat ngusir rasa ngantukku di saat perjalanan. Yang aku suka dari lagu ini, selain chorus nya yang memorable dan enak banget buat sing-along, lagunya ga terlalu “berisik” meski temponya lebih up-beat.  

Liriknya juga aku suka banget, dimana lagu ini seolah nyeritain kerinduan dan rasa kangen yang gak tertahankan, yang bisa aku rasain di bait-bait liriknya berikut: 

“Tunggu dulu, apakah aku jatuh cinta?

Aku hanya ingin dipelukmu

Sekarang aku menangis, mengutuk, dan berteriak ke langit di atas sana

Tapi kaulah yang kuinginkan dan aku akan berdarah demi cintamu”

Ga salah, aku milih lagu ini buat nemenin aku (atau mungkin kalian juga nanti), ngegalau sambil senyum-senyum sendiri di jalan, sembari menikmati alunan lagu nya yang enak dan vokalnya yang merdu.

Everything but the Girl – Single

Everything-But-the-Girl

Jujur, sebenernya aku jarang banget denger musik-musik lawas, terutama era 2000’an ke bawah. Aku cuman denger musik lawas itu, dari lagu-lagu dan artist yang pernah jadi soundtrack semasa kecilku, atau karena dikasih rekomendasi dari beberapa temenku yang emang cocok. Dan kalian juga mungkin udah tau, kalo aku ga terlalu ngikutin dan getting into sama musik elektronik (apalagi yang fully instrument). Tapi Everything but the Girl, ini justru berhasil bikin aku jatuh cinta, sama tipikal musik-musik yang jarang aku denger seperti yang aku jelasin barusan. 

Mereka, basically itu grup pop 80’an asal Inggris dengan formasi duo Ben Watt (vokal, instrumen) dan Tracey Thorn (vokal, gitar). Mereka juga udah bikin banyak album dan gaya musiknya beda-beda, kadang bisa kaya pop-jazz gitu, kadang ada sentuhan pop elektroniknya. Nah awal perkenalanku dari band ini, ketika algoritma Youtube aku secara random ngasih rekomendasi salah satu album mereka yang judulnya, “Walking Wounded”.  

Di luar dugaan, ketika aku iseng coba nge-klik dan nyoba, aku langsung suka sama album ini. Gaya instrumen elektroniknya unik banget di telinga, walau aku belum familiar musik elektronik di album mereka itu masuk sub-genre apa (yang tau, komen ya…). O iya, plus di album ini semua vokal cuman diisi sama Tracey Thorn yang menurut aku gaya vokalnya itu ngingetin sama lagu-lagu R&B gitu. 

Dari 9 lagu yang ada di album itu, aku masukin lagu “Single” jadi salah satu lagu andalan buat mengawalku menuju perjalanan pulang. Pembawaannya cenderung lebih kalem, dan mellow gitu nuansanya. Dan kalo aku sempet baca liriknya, lagu ini itu kaya nyeritain orang yang lagi overthinking atau galau gitu, sama apa yang diperbuatnya, entah mungkin mengenai hubungan cinta yang bimbang buat mikirin biar bisa cepet move on, tapi di satu sisi masih berharap-harap buat tetep balikan. Ini salah satu bait lirik yang paling ngena di lagu itu buat aku: 

“Dan sekarang aku tahu 

Setiap kali aku pergi 

Aku tidak benar-benar tahu 

Apa yang kupikirkan 

Apakah kau menginginkanku kembali? “

Aku sebenernya juga suka denger lagu ini di siang hari, tapi entah kenapa kalo masuk ke playlist buat perjalananku pulang di malam hari, rasanya lebih keluar magisnya lagu ini. Dunia ini seolah kaya berhenti berotasi, buat ikut ngerenungin isi dari lagu ini, dan ngalir ngikutin iramanya yang sendu tapi sekaligus bisa nenangin pikiran juga. 

tonun – Friday Magic

tonun

Aku nemu lagu ini, pas ga sengaja lagi muter-muter beberapa playlist J-pop di Apple Music. Waktu itu niatnya emang lagi cari musik J-Pop apa yang lagi happening buat aku masukin ke playlist J-Pop favoritku. Nah ga sengaja aku nemu lagu ini dan aku amati, sering nongol di beberapa playlist lain juga. Tapi seperti biasa, sebelum nyobain lagu baru, aku suka ngecek apa genre musiknya, biar ada gambar nanti pas dengerin. 

Pas aku liat sih, tonun ini dilabelin sebagai penyanyi indie pop gitu. Aku pikir musiknya, kaya musik-musik yang melow, santai gitu, tapi pas didenger ternyata aku malah kaya ngerasa “kok kaya musik city pop gitu ya?”. Tapi ini lebih modern aja kedengerannya, soalnya suara bass-nya nge-pump banget dikupingku. Dan aku cari-cari informasi lebih lanjut, kalo tonun pas bikin album “Intro” ini dikontrak sama label Universal. Jadi aku masih bingung, darimana label “indie”-nya? (Mungkin kalo kalian punya pencerahan, bisa komen di bawah ya….)

Musiknya sih kedengeran mewah dan berwarna banget untuk disebut musik indie pop mah. Dari semua lagu di album itu, aku ngerasa “Friday Magic” cocok buat aku masukin di playlist perjalanan malam, mengawal kepulanganku ke rumah. Aku suka suara gitarnya, yang bikin semangat tapi enak juga melodi-melodinya sama vokalnya yang ear-catching banget di kupingku. Ini tipikalnya beda banget sama beberapa lagu yang aku rekomendasiin barusan. 

Temponya lebih bersemangat, lebih berwarna, dan yang paling penting, bikin semangat. Aku biasanya dengerin lagu ini pas di hari-hari akhir menjelang libur akhir minggu. Tujuannya, sih… buat nge-boost lagi semangatku buat jalanin liburan semasa udah lelah bekerja selama hari-hari biasa di sepanjang minggu. Jadinya bisa dibilang, lagu ini masuk jadi salah satu anthem senang-senangku akhir-akhir ini. Eh, btw… kalo kalian tertarik denger full album-nya juga, lagunya lumayan beragam, ada yang ballad dan mellow juga, dan ada yang cocok buat temen dance juga, tinggal disesuain aja sama mood lagi denger yang mana, hehehe.

Angelia – Bintang

Playlist-Angelia

Meski sekarang aku udah migrasi ke apple music, tapi kalo buat urusan nyari penyanyi lokal hidden gem, aku masih suka sekali-kali login di akun Spotify-ku. Aku ngerasa, nemu penyannyi hidden gem, disana lebih gampang aja sih dan lebih cepet nemunya, karena aku udah kebiasaan bertahun-tahun nyari di sana, sedangkan aku baru pake Apple Music baru setaun belakangan ini. Kali ini, aku nemu lagu berjudul “Bintang” yang dirilis oleh penyanyi yang namanya Angelia. Aku liat di halaman Spotify-nya sih, dia baru rilis lagu ini aja dan pendengar bulanannya juga masih dibawah 1000, jadi aku tertarik banget nyoba lagunya yang sesuai dengan kriteria pencarianku. 

Tapi, serius aku suka banget sama gaya penulisan liriknya, meski pake kata-kata yang sederhana, tapi makna yang disampeinnya pasti relate sama kebanyakan orang yang alami saat ini dan cukup dalem juga. Liriknya pun punya nuansa yang haru dan mungkin ngerasa jadi melankolis kali kalo yang ngalamin juga, yaitu tentang sepasang kekasih yang saling mencinta, tapi entah karena satu hal keadaan, keduanya ga bisa lagi bersama. Tapi di antaranya, masih ada rasa rindu yang ingin merajut kembali cinta itu. Ini salah satu penggalan lirik di lagu ini yang bikin aku ngerasa nyess banget dengernya: 

“Dia sosok yang amat ku damba

Ingin kuberi dunia untuknya

Namun akhirnya ku tak berdaya

Mengapa aku dan kamu tak bisa menjadi kita?”

Dari lagunya sendiri, lebih kaya nuansa ballad piano gitu. Ada suara gitar dan vokal laki-laki yang seolah menjadi balasan kerinduan dari pihak seberang yang mencinta juga turut merasakan kerinduan untuk segera bersatu kembali. Ya…, sesuai judulnya kalau misalnya aku kedapatan denger lagu ini pas lagi dalam keadaan macet, kadang aku nyempetin diri dongakin kepala ke atas melihat bintang-bintang di atas langit sana, sambil ikut mempertanyakan lantunan lirik di lagu ini. 

Baca Juga : Selamat Datang Cinta Yang Tak Ku Kenali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *