“Bagi Wha-Ha-Ha, musik hanyalah lelucon belaka yang menghantarkan kesenangan seperti gelak tawa bayi yang terbahak-bahak”
Dalam tradisi keemasan barat, seni musik telah dipandang pretensius dan elitis. Perdebatan tak berujung pencarian kebenaran musik universali, mengundang sikap penciptaan musik dengan tingkat keseriusan setengah mati. Itu yang kerap dilakukan orang-orang dewasa, penggalian sebuah makna, semata mencari dogma, sebagai validitas kebenaran mereka. Akan tetapi, ide semacam itu sama sekali tidak menarik bagi ansambel eksperimental kecil-kecilan asal Jepang, Wha-Ha-Ha. Mereka secara lantang menyebut, musik sebagai lelucon belaka yang mengundang gelak tawa terbahak-bahak.
Sebagai realisasinya, Wha-Ha-Ha menjatuhkan hati pada musik yang menitikberatkan bauran spontanitas sebagai ekspresi kesenangan murni. Pilihan itu jatuh pada jenis musik zolo / avant-prog yang leluasa bergerak di antara sela-sela kerumitan progresif rock maupun jazz, hingga kelugasan penerapan perangkat musik elektrik kaleidoskopik new wave serta irama berdegup kencang, tanda ansietas ala post-punk. Tanpa gerak kesantunan apapun, Wha-Ha-Ha tampil semrawut, urakan, dan mengoceh selayaknya omongan bayi yang sulit dimengerti. Lagu pembuka, “INANAKI”, melompat di antara countermelody bass mondar-mandir, kelipan synth ruang angkasa, hingga selingan piano maupun saksofon yang saling bergumul dalam instabilitas kesadaran mikrotonal free jazz.
Lagu “self-titled” , berfantasi mengenai kehidupan primitivistik lugu, melalui letupan lempeng irama baja berirama tribal, dan komat-kamit mantra jenaka. “On the Floor” yang memainkan campuran formulasi instrumental synth-pop, terhadap free-jazz, tampak seperti lukisan ternodai coretan krayon hitam dari seorang bocah. Tanpa merasa berdosa, sang bocah mengacaukan komposisi warna, mengobrak-abrik proposisi estetis lukisan, menyisakan keindahan yang hanya bisa diintip dari tumpukkan garis-garis kusut.
Dalam “My Happiness (Is Not Yours)”, terekam buncahan ekspresi tawa Mishio Ogawa selaku vokalis utama, yang rembes hingga pada proses rekaman. Alih-alih mencongkel keluar pengambilan rekaman yang gagal, pihak band mempertahankannya, semata menunjukkan konsistensi pandangan musik adalah lelucon belaka. Beberapa baris bar awal “KOHMORI”, Wha-Ha-Ha beritikad menulis lagu dengan disiplin tema melodi dan harmoni konsonan dari lengkingan saksofon dan pijakan synth simfonis. Namun lagi-lagi, Wha-Ha-Ha mengeluarkan sifat kekanak-kanakannya, secara iseng membelokan aransemen pada pusaran piano memusingkan, nihilitas stabilitas pada irama drum, dan harmoni vokal surgawi atas kepolosannya yang tersucikan dari dosa.
Album “Shinutokiwa Betsu” ini, sebagai palet kesenangan para bayi yang sukar dipahami orang dewasa. Seorang bayi mampu tertawa terbahak-bahak, tanpa sedikitpun terkontaminasi oleh determinasi bahasa dan interpretasi makna yang mengikat. Perlu dicatat bahwa, keseluruhan lagu di album ini diisi oleh vokal utama bergaya onomatope yang tidak terikat pada prosedural kebahasaan manapun. Bagi orang dewasa, kesenangan bayi tampak membingungkan, tidak waras, bahkan mengerikan, tetapi mungkin itulah satu-satunya jalan kesenangan yang paling luhur dan sama sekali tidak diracuni ambisi, ego, dan hasrat untuk berkuasa.
Abstrak : Midori Takada – Merasakan Alam Dari Balik Corong Kaca


