“Tidak tahu lagi lanjut berbuat, sekelompok pemuda asal Malaga berkomplot menciptakan grup noise rock, 713avo Amor. Misi mereka dibalik mic rekaman maupun di panggung hanyalah satu, berorasi senyaring-nyaringnya mengenai ketidakadilan dan kebobrokan kekuasaan politik yang terjadi di negaranya. Meski itu mengartikan bagi mereka, sebagai benteng terakhir untuk menyuarakan keadilan.”
Amerika memulai dekade 90’an dengan resesi. Gejolak politik memaksa pemulihan bergerak lambat. Gerakan grunge, hanya serpihan atas kausalitas frustasi domestik Amerika yang melanda. Tren dikalangan anak muda berubah dalam sikap pesimistik, sinis, dan acuh tak acuh, hingga fenomena ini menggema menyebrang lautan. Secara kebetulan, Spanyol mengalami nasib serupa. 1994, jajaran pemerintahan Felipe González diguncang skandal korupsi yang merusak kepercayaan publik terhadap sistem parlementer. 3 pemuda asal Malaga berkomplot untuk menciptakan proyek noise rock, 713avo Armor sebagai respon berang atas ketidakadilan yang terjadi.
713Avo Amor meminjam palette distorsi gitar grunge yang lusuh dan muram. Namun dibandingkan berada dalam pusaran pesimistis, 713Avo Amor memiliki semangat revolusionis, dan kemauan kuat mengepalkan tinju mengarah langit. Selain nyanyian murung dan jeritan yang marah, vokalis “Carlos Desastre” mampu berorasi mengenai perjuangan di atas instrumen yang rancak. “Alubias y sus sueños rotos” melempar kritik melalui lensa kebobrokan moral sosial yang sinis dengan bayangan terpantul dalam keseharian: “Anak-anak yang tidak bersekolah membeli sebatang rokok di kios / Para petugas polisi kota bersikap sok tahu sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh dan tidak berguna di dekat lapangan sepak bola. Kebisingan dan teriakan terakumulasi dalam pola drum menggulung dan distorsi gitar yang menjerit, mengiris tajam pendengaran.
Konotasi “noise” tidak hanya disajikan semata dalam pemberontakan artistik, namun meluas pada huru-hara disonansi politik yang terjadi. 713avo Amor tidak beritikad menjadi kelompok noise rock yang mengacaukan bentuk oleh birama asimetris atau kebisingan menjejali sepanjang aransemen. Sebaliknya, merangkak pada sudut gelap sunyi yang siap mengintai kapan saja. Intaian kesunyian menyebabkan tekanan psikis yang sulit dihilangkan dan diatasi, daripada serangan literal, yang dicontohkan pada lagu-lagu “Cadena perpetua – Condena voluntaria, dan “Tu canción favorita”. “Un día, solo, ante la puerta de mi cabeza” membunyikan tanda sirine bahaya pada gitar, sementara “En el país de los sueños” menangkap sudut melankolis. “Aku belum pernah melihat wajah secantik wajahmu. Malam ini aku tertembak Aku mendengar jeritanmu, aku memimpikanmu” dengan perpaduan vokal lirih yang bercerita mengenai kerinduan akan kebebasan berekspresi yang telah lama terbungkam dengan metafora keadaan romantis dan tangis kerinduan.
Jika mengatakan bahwa konspirasi politik bawah meja hanya berdampak pada sirkular elit, semoga kisah “Nos cambiaron por pistolas” tidak mengetuk pintu depan rumah. Sebuah karya naratif 16 menit bercucuran darah yang menceritakan seorang Ayah yang tega menjaminkan ke-3 orang anaknya pada tuan tanah kejam, “El Goronto” untuk dieksploitasi. 713avo Amor secara dadaistik memperlihatkan bahwa kesemena-menaan kekuasaan yang mengangkangi kepentingan bersama, hanya menumbalkan generasi muda yang tengah menatap polos dan bersusah payah tumbuh di atas lahan semak belukan yang telah dipatok kekuasaan.
Baca Juga : ZWOYLD – Zeuhl Yang Tersamarkan Dalam Bentuk Musik Fusion





