Kaki cungkring berjingkrak-jingkrak mengukir pola letter x pembuat disleksia garuk-garuk kepala. Satu lagi batok kepala menggelinding di sela-sela kelingking ringkih tak kuasa menggodel amnesti, hanya sanggup melompati helai-helai rambut berguguran. Menengadah sepasang bola mata menembus kosmik, menggema auman rapalan bariton hipnotik tanpa perisa kecut mimik, mandek serotonin. “Hai… Kisanak…, panoramik menggumpal jasad penuh aur-auran darah itu sudah biasa, kisanak harap teruskan bertapanya, raihlah kedamaian di samping lubang revolver saling berkucumbu mengencani bokong Pediculus humanus capitis.”
Bahkan ketertiban dan kesunyian menumpang tidur dalam luka koreng, tapi tetap saja itu koreng, cepat lambat menggantung inang menuju kemelut gerbang dekomposisi, respawn dari 0 menggaung sandi morse samsara. Sukur-sukur kromosom sudra balik ditambal sulam sim salabim berubah kasta penguasa, berhiaskan konde mahkota menutupi aroma tengik dewa RA, membikin mata Machiavelli berhamburan keluar, menetesi tiap lembar “The Prince” dari daftar wanti-wanti 10 dosa kekuasaan jadi keset modal tulisan segede telapak obelisk, tanpa satu detikpun diusik.
Apa boleh buat kalo tetiba suara kian tak bisa lagi berdebat ngotot-ngototan sintesis antara dualisme semiotik dan simbolik Kristeva, kalo pita suara hanya cakap menghimpun aksioma bunyi ngak ngik ngok. Banter-banter kena cekal orde lama, dijebloskan di balik tangkai jeruji, sipir gendut mempersilahkan ngudut dan ngalor-ngilur bareng koes bersaudara sampai purnama tak lagi malu menyeringai menunjukkan bopeng-bopengnya.
Goblok betul mengira setiap oret-oretan imaji, digusur secara jantan duel satu lawan satu kontra robot gedek yang disetir atas nama konstelasi kebebasan. Satu raga, meneropong orang-orangan dijemur sampai kulit mengering bagai kambium menggila seraya ikut-ikutan terantuk teori pelanggeng perbudakan ala Darwin “Survival of the Fittest” berdalih atas bisikan santunan nasihat dari ibu pertiwi yang bijak. Satu lagi, pendekar yang sehabis pulang sauna dari Daoju Diyu, seenaknya menggorok leher, menotok mampus aliran-aliran darah sampe muncrat-muncrat ala Niagara, melanggeng ngenyek tanpa ada layangan advokasi yang punya nyali mengendus periferi.
Tolong kasih ke tukang rongsok depan rumah, buku-buku Heidegger dan Nietzsche yang menjamur di lemari, setidaknya cangkeman sekopong daun mahoni mereka menggerek roda perputaran ekonomi menggelinding berkisar lima ribu perak. Keberadaan dan waktu kami persilahkan, untuk cecunguk (kulo nuwun, ternyata lebih hina dari cecunguk) merayap lubang telinga memasang remot kontrol tepat 180 derajat di atas serebrum bagai taktakan pisin di bawah dedak kopi pahit sesajen malam kliwon. Terkekeh sepuasnya, semula banyolan belaka kian mengokop kesadaran dan tanggal kadaluarsa peredaran sebagai alat propagandis banalitas.
Koe beli rokok sepuntung di warung Pak Kosin, karena koe wis mumet ngeliat dengan ndas koe dewek, di tempat gawe penuh senggol bacok, tangan-tangan bejat mengemis ratifikasi, keranjingan adiksi steroid validasi, cap verifikasi centang biru to-do list ontologi gadungan rekayasa akal-akalan kapitalistik ber-material plastik. Jadi koe ndak usah sok-sokan berperangai ala-ala filsuf konter kontinental yang selalu rumangsa semua iso dilontarkan secara inheren dan seenak karep udel. Ndak kitu carane dunia melangkah sekarang Cah bagus! Cah bagus!
Bocah yang masih bau air susu dan mumet overthinking oedipus komplek kenyang dicekoki sedari dini, air yang tenang tak ayal mendamba kedamaian dan kenyamanan. Keblingernya, semakin air kencing mengental, koe tanpa terpengaruh keedanan psikotropika sekalipun malah nyemplung, membasuh diri dalam sungai berkependudukan alligator. Jadi perantauan yang meracau silih berganti zaman dan kebiadaban saat ini, apakah berpihak pada amoralitas dan meludahi kontrapuntal silogistik?
Semua menempa sekuat tenaga, memoles kualitas diri menjadi berlian, tapi apa boleh buat jika ujung-ujungnya cuman jadi seonggok tokai ayam pakan lele? Tak apa, ke dua-duanya mengemban tugas meluber rasa eman, yang satu dipandang sebelah mata, kusabab satunya terbiasa jadi langganan pengenyang perut oligarki dan penjilat hegemonik.
Jalan lurus terkusut ratusan hermeneutik bertaji saling mengeliminasi kemungkinan. Fatamorgana mengaduk-aduk kesadaran berkelok, turun bero kadar gula dibuatnya bergelinjang mata memberat bertengger gagang pedang si usil Loki, terkilir kesenyapan kesadaran disekap harum manis. Terlambat sudah, jentikan jari seketika mendobrak mata berpijar berada di tengah kolam volatilitas valhalla. Lintasan bejibun kelokan rambu atonalitas, himpunan kehidupan sesungguhnya. Bila mati, matilah sekalian menukik ke dasar jurang berkesadaran manuver kencang, tetapi kepastian yang tak dapat dibungkam rasa sunyi, kesadaran menyala hidup ugal-ugalan dan bertanggung jawab sepenuh desiran nafas bersuara parau.
Butir-butiran kolase beling terpahat, mengoyak-oyak tali senar gitar menjalar menjadi saling bercengkrama, jerit-jeritan tarik ulur komat-kamit kesadaran komorbid melintang bercermin, menatap sukma diri keblinger menyentuh imaji tatanan keberlangsungan sesungguhnya. Kolektif-kolektif yang termuntahkan diwartakan memicu agresi penolakan menguncup rumpun superstruktur tirani. Persetan tangga nada sebagai pijakan suci utilitas primata menuju keajaiban transenden, meledak di antara katastropi hingga melumat aspal lalu melaju bak lesakkan pelor dragunov memekik dinamika fortississimo, koar-koar definisi revolusi sesungguhnya peruntuh konspirasi korporasi yang sedang ngeden dalam pose konstipasi.
Rong – Siram Keedanan Dengan Kegendengan Sampai Hanyut
Konon kabarnya, musik rock beserta konco-konconya (punk, hardcore, metal) jadi ajang paguyuban orang-orang bermentalitas tahan banting yang tidak mudah dicolok moncong idungnya dan iso di kerek-kerek seenak dewek. Dalam hati siapa yang bisa menghajar keluar prasangka sampe termuntah-muntah, berbalik sangka pun sulit melepaskan pergelangan kaki dari jerat koherensi konsekuensi masyarakat komunal yang dikerek satu batang otak berkomuk bengal.
Mangkanya, dibanding mengusik kesadaran oleh kebisingan kehidupan “bernegara” yang mengenyam bangku penindasan otoriter, begundal-begundil lebih sudi dicekoki ceramah repertoar bising menyulut tabung speaker reot sampai menyublim klimaks menghirup gas katarsis bercampur asap bako kretek. Rumpun noise rock digadang-gadang raja terakhir anak kandung hard rock yang telah berumur senja dan lebih getol nongkrong di warkop sambil nyocot politik berparas malu malu tokai.
Tapi lebih mendingan…. ada masa musik rock justru disalahgunakan anak gedongan buat senga-sengaan di tongkrongan, lalu diracik jadi ekstase menemani kobam sampe subuh di klub-klub borju ber-AC dan minuman mahal hasil genjot duit monopoli old money. Puncak komedi menggelitik sekujur tubuh, ketika kooptasi industri membuka lowongan badut “pencari bakat” penerus musik rock, menertawai pria-pria gondrong don bosco yang gagah dan tinggi semampai dari karikatur serampangan rebellious sosial yang nekat, jadi arak-arakan tontonan ondel-ondel yang nyungsep ke kuadran eskapisme hiburan belaka, serba-serbi pragmatis miskin perlawanan tersurat. Esensi tersedot bebarengan tokai mampet tersedot mobil sepiteng Fuso setengah karatan, carilah siapa tahu wig jon bon jovi cikole masih nyungsep di antara gumpalan mineral yang semerbak itu.
Untung saritung, masih ada yang punya kewarasan tingkat edan, membawa musik rock, punk, dan konco-konconya digetok kembali menuju kelahiran dari kesamaan nasib akar rumput yang ngebet menjungkirbalikan akumulasi kekuasaan sentralistik tatanan, menjadi terdesentralisasi meluhurkan citra horizontal, merata, dan menjunjung solidaritas. Siklus resistensi terus bergejolak hingga Trump masih bikin rese dari balik kursi parlemen untuk kali ke-2, mengusir imigran-imigran dari kandang kumuhnya.
Rong, kuartet noise rock asal Boston berdaya ratusan personil. Filosofinya jangan sampai kesunyian menyerbak terendus rongga telinga, itulah tanda awal dari pembungkaman. Lebih baik ajojing gara-gara terjangkit delirium dibanding molor mimpi indah dioplos anestesi bualan janji dan omon-omon kekuasaan. Setiap kanal suara berjubel-jubel disumpel distorsi gitar sekering trombosit-trombosit bekas luka yang dikerik. Ling lung melintasi alam dualitas harmoni-disonansi, kedutan bass yang tak kuasa menahan hasrat rantuan lompatan nada, kegusaran mengimbangi teriakan vokal parabolik tak peduli pengendalian frekuensi, apalagi interval.
Semestinya gerak akar lah yang paling ajeg mengoyak-oyak massa suara, sedangkan langit-langit overtone hanya sanggup melangkah kecil langkah demi langkah, menunduk erangan voltase rendah bermagnitudo delapan. Biar sekendi-kendi sakarin dituangkan, tak dapat memaniskan getah empedu dibiarkan turun temurun menghasilkan kepahitan bagi yang sudi memunculkan wajahnya pada dunia. Rong memantapkan diri mengguyur goresan luka dengan seliter alkohol kadar 80%, sampai-sampai Saccharine Trust terkejang-kejang dibuatnya, tak kuasa menahan sensasi korosif mengelupaskan pori-pori.
Riuh distorsi menjuntai kemana-mana dari segala era kegendengan noise rock 80’an, post-hardcore tulen sebelum kena penyakit mental kepiting awal 2000’an, skizofernik art punk yang gelisah setiap saat menjalani hidup sederhana dengan membikin segalanya kusut dan ruwet, post-punk pesimistik tunapijar, sampai-sampai berani-beraninya menghampiri salah satu murid di kelas rock yang terkenal sebagai si badung weirdo, nerdy, dan edgy secara etiket ritme yang tak lain tak bukan jatuh kepada math rock.
Bass Kim Gordon digondol dari stand sejenak, buat gelombang suara setebal mungkin, sampe-sampe daun jendela buatan IKEA tak lagi sanggup menopang kaca. Baiknya Rong ditempatkan se-ruangan psikiatris dengan abang-abangan se-kewarganegaraan Coughs yang lebih dulu terjangkit demam tinggi, berteriak-teriak ngigau keranjingan atonal tanpa rem di atas pedal gas berlagak adrenalin merusuh.
Olivia W.B selaku vokalis utama Rong, memiliki kredensial di luar lapangan sebagai figur yang kerap menggagas gerakan-gerakan bersifat pemberdayaan dalam lanskap organisasional. Semasa hidup dalam fase pendidikan, Olivia tercatat sebagai salah satu mitra magang di Albany Free School yang kerap memfasilitasi program seni di penjara, berikut membantu penyaluran distribusi publikasinya bernama “Prison Action News”. Khidmat pembentukan komite publikasi tidak lain tidak bukan sebagai tali pengerat sesama narapidana yang saling menulis rasa aksi solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan, meski tubuh mereka tidak bebas berkeliaran.
Olivia kemudian memiliki jejak rekam lainnya yang kian mengakrabkan diri pada bidang ekspresi seni, sebagai koordinator Worcester Artist-Activist Residency. Unit organisasi besutan Olivia, memfasilitasi secara gratis sesiapa yang fokus pada proyek eksplorasi seni yang secara lantang dan berani mengekspresikan berbagi spektrum ekspresi politik selama satu hingga tiga bulan. Tak mengherankan, Olivia dan keempat personil Rong lainnya George Hooper (Gitar), Nick Weideman (Gitar), David Silverstein (Bass), Adric Giles (Drum), nekat tampil ugal-ugalan mementingkan gitar dan ritme berpola baragajulan, dibanding permak melodi oplas sana-sini semata elok terlihatnya.
Dunia memang sudah edan, anehnya bagi Rong untuk menjaga kewarasan tetap senantiasa melek melebihi durasi jam tayang wayang golek semalam suntuk, setiap orang harus tak kalah berlagak lebih sinting dan menerobos kendali sosial, bertransformasi ala buddha kegilaan yang diaktivasi atas horizon dan kesadaran dewek.
Pertobatan mandiri saja tak cukup melepas cengkram dari modus kapital yang meringsik hingga merusak jaringan internum familia (Bagi bangsa Romawi kuno, kata ini dasarnya terbentuk oleh kekuasaan untuk menghukum) yang serba ditinjau dari kolong objektifikasi kepemilikan. Olivia pernah membagi kocek yang diperoleh dari hasil Rong memekakan telinga bertukar kesadaran, untuk pendanaan aksi protes anti-imigran yang digagas badan penegakan hukum dan departemen keamanan dalam Negeri U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE). Semangat kolektifnya sebanding kerasnya sonik membuncah dari garukan, gebukan, betotan instrumen, lebih gigih dan deden mariden dari urat malu engkong-engkong NPD cengengesan di podium selebrasi kampiun saksi kemenangan sang penerus kontra sang messias di perhelatan 4 tahunan sakral duniawi.
Baringkan tubuh belati siap menghujam, siapa yang senantiasa mengandalkan indra siap ditipu kapanpun. Setiap kawan berpotensi mutasi secepat kelebatan kukri jadi lawan, pencakar langit tidak sekedar benda mati, tersirat meja-meja aristokrasi kelahiran birokrasi ilusi liberal hedging pengaman kepentingan bersama seraya penjamin ego pintu keluar likuiditas sesi pribadi. Sunyi itu tanda kelabakan dan ketakberdayaan, riuh semestinya dihardik oleh bising bukan disenyapkan.
PRE – 3 Tuntuntan Mandat Teruntuk Penguasa Dari Republik Rakyat Madat
Banyak baca buku penting, biar rasa senewen geram membingkai pertikaian membangkitkan naluri raja rimba, meredam duduk meringkuk, menopang kepala berdiameter pelek mobil MBG, sembari mengurut-ngurug janggut, manut-manut metafisis berkelindan prakonsepsi tindakan. Karo-karo bimbang melongok kolam terisi air, ojo diminum sisan, isine kabeh air berkaporit. Sudah waktunya menguras isi air yang dibuang dari setiap kelenjar getah bening yang singgah menaruh niat hati ogah-ogahan.
Adakalnya, mengubur diri dalam miskin kepercayaan membal memantul gaya pegas bola bekel seceng-an lebih baik ketimbang jadi guci emas harga milyaran korban inflasi melongo menanti-nanti cemas tuan tuan bersarung tangan eksploiter menenteng-nenteng, menempatkan guci berjejer di antara senapan paspampres, “hormat grakk!!!”, “tegak grakk!!!”, “istirahat di pojokkan grak!!!!”, “Tolong Guci!!, cuci kertas ini sebersih mungkin biar tidak timbul pertanyaan! Komite Pemeriksaan Kekayaan, mengerti?”.
Belajar sejarah cara koe tidak dibodohi, tapi koe bakal jadi budak sontoloyo, kalo koe belajar sejarah. Mana daging ayam boyler, mana daging tiren di amalagamsi era terponggah menuju dystopian ini, tak ada yang pasti secara hitam-putih menggembleng perbatasan semenonjol DMZ. Opini digurat sedemikian rupa oleh para rupawan modal kredit digital kembang kempis pemakai topeng narcissus, jadi tabiat baru. Sementara penerima mandat rakyat yang dipilih republik rakyat madat, sibuk memutar balik siklus kalender, menyutradarai rekayasa kisah dokumenter versi skrip buatan tangan ketengan sistem kebut semalam kolektivan ala anak-anak garasi DIY, langsung cepret adegan ala kadarnya berharap optimistik menggagas karya seminal garapan sang magnus visioner Christopher Nolan. Jangan heran di kemudian hari anak-anak berhamburan keluar menggenggam clurit meneror-neror bapaknya lari terbirit-birit, hanya karena apa yang terangsang dalam bacaan buku sang anak, dikebiri dari apa yang tertulis sebenarnya.
Konsep kepemilikan properti sudah disambit jauh-jauh hari oleh pria kembaran Colonel Sanders masa-masa, jaman Jerman silau keranjingan dan dahaga ide-ide penyegaran. Sebaliknya, hak kepemilikan atas pribadi dirinya yang kudu dibebaskan dari pasokan rantai kapitalistik yang menyerahkan kunci-kunci rantai pada para borju sok pemberi wejangan wejangan hidup, cuhhhh!! (baiknya telan saja ludah yang mengalir dari congor ini).Tapi siap-siap konsep ini kena damprat oleh kaum-kaum yang mengira sampai di puncak meminjam sepasang sayap gargoyle, tau-tau cuman modal naro dengkul di atas kepala sesama, injak terus sampai skoliosis. Andai semua kunci dilepas, semula-mula yang tadinya dijadikan anjing tanah, punya kesanggupan berubah seketika jadi dewa tak tertandingi sekuat CEO-CEO pelunas armor plot twist dracin sasetan.
Jadi sebaiknya daripada pura-pura alim, alias manut-manut bae melahap postulat “konsensus” yang kian hari hanya disodok atas kebudayaan dan kausalitas keharmonisan, PRE tanpa kompromi, tedeng aling-aling, menggaris demarkasi mana batas persetujuan yang dianut, mana wilayah yang sebaiknya jadi tempat berak bersama, meski itu taman bunga sekalipun buat tempat kencan ABG beger yang baru merasakan cinta monyet kelas 1 SMA. Tulisan memang sengaja digurat untuk berpusing, mutar-muter blas, terpelanting kesana-kemari, bikin perut mual, muntah terkena racun kompilasi dadaistik penuh romansa cium tangan keabsurdan sampai Camus bersedia di ruqiyah, semata tanda membungkuk setengah badan, gerakan prelude penampilan enerjik bin nyeleneh regu noise rock brojolan London di masa-masa balita.
Jangan salah, dinding tak nampak agar sesama homo sapiens berangkulan ini begitu sopan dan menjunjung tinggi kebaikan dan adab! Sampai-sampai menjulurkan kaki dan melonggak-longgek dengan kemolekan tubuh yang dirahmati oleh alam sekalipun dicantolkan embel-embel abjeksi yang menista. Saking pekanya sosial, anumu mengarah mata angin tertentu saja sudah dapat rapalan ramalan, akan ke mana masa depan dan orientasi seksual sampean. Benar-benar menjunjung aspek kekeluargaan sekali alias famulus alis fames alias famine. Jadi pembatasan ruang gerak yang menyengsarakan perempuan-perempuan tanpa persetujuan semacam itu, jelas bakal jadi bahan gunjingan, celaan, dari sang frontwoman PRE, Akiko Matsuura.
Masa awal karir PRE, Akiko Matsuura dan rekan-rekan sejawat sudah repot-repot mengumpulkan massa pasang mata tertuju pada adegan over acting dan menguji nyali plus ketangkasan jemari nge-band anak-anak garasi yang tiap hari ketumpahan oli dan setengah sinus akibat desingan distorsi yang terus melenting. Jadi basi campur gengsi rasanya menampilkan performa nge-band yang dapat ditiru dengan mudah oleh band-band anak SMA serba tanggung. Insting (atau lebih tepatnya insanity) Akiko bekerja secara langsung di tempat, detik-detik menjelang satu huruf dilantunkan, Akiko membuka rok pendek selutut, membiarkan geraknya berhamburan hanya mengenakan sempak, berteriak-teriak nyaring mengadu kening bertatapan langsung dengan berisiknya voltase instrumen yang menegang bersamaan dengan beberapa manuk cucokrowo di ruangan setempat. Oksigen seketika mengalami defisit bagi segelintir pria bujangan hari itu, tapi Akiko tetap ngegas, joget hiperaktif, sampe tak henti-hentinya berpindah dari setiap sudut panggung remang-remang.
Maaf beribu maaf bila tiba-tiba kisah berubah menjadi komik erotis, membikin para pembaca pengidap adiksi kecanduan pornografi, lagi-lagi harus kembali ke kamar mandi untuk mensucikan diri dari najis-najis yang kembali bergelantungan di area tubuh tertentu. Tapi dibalik hingar-bingar trivial semata, tersilap simbolik atas semestinya fleksibilitas sosial yang memfasilitasi segala jenis potensi ekspresi setiap kepala, sebagai satu-satunya cara mengadopsi model pluralitas yang sedari awal menjadi perbekalan awal setiap sapien hasil ejawantah penerimaan sepahit brotowali sebagai “yang satu-satunya”, “yang otonom”, dan “yang gendeng”.
Prafigurasi yang penting, saat PRE ngedekem di ruang penyimpanan pizza beku semedi bermalam-malam, rekam album debut sampe muntah sejadi-jadinya 14 lagu, lalu posting keleleran di toko-toko rilisan fisik, berpakaian jewel case, sambil tulis caption singkat “Epic Fits”, jepret dan tempel foto Akiko berfilter berang-berang pencahayaan ala-ala photobooth dadakan, tak lupa susupi tagar #noisrock #punk #avant-garde #nowave #mathrock, plus hashtag binti ngarep #subpop manifestasi dilirik label tongkrongan abang-abangan kebelet cadas.
Disaat koloni lebih suka menggantungkan harapan agar kiamat cepat segera menyambar, PRE lebih memilih bikin utopia sendiri, sampe-sampe keranjingan dan terobsesi selayaknya bocah ingusan yang mahir bikin tata kota lewat permainan virtual waralaba simcity di komputer tabung butut bermodalkan otak Windows 98. Diserahkan pada eyang-eyang Mozart, Bach, Vivaldi, hasil coretan tangan album debut PRE, memang terlihat seperti oret-oretan TK paud pelosok desa – minim serapan pemahaman epistemik proporsi dan bentuk, gradasi suara slengean, polifonik sembrono sampe mencret-mencret, dan ansambel kacau balau berstruktur lelucon post-modern para konservatif yang menyerepahi kata “kapal pecah” kontra hal yang tidak dimengertinya.
Bisa jadi bikin terkekeh-kekeh sambil mengiris-iris pemahaman snobbish soal bikin membikin musik. Tapi toh, tak ada manusia yang kembali dari kematian, lagipula oret-oretan anak TK di era maju mundur ogah begini, jauh lebih penting dan bermartabat dibanding seonggok tulang-belulang yang menjentikan jarinya saja tak sampai. Setidaknya bocah-bocah TK gapai kedisiplinan anarki tulen, seseorang tak mampu bertelanjang bebas jika tunduk pada segala bentuk otoritas apapun termaksud tetek bengek aturan tertulis tak tertulis teorema counterpoint. Dan sosok yang buta ini, dapat memandang segalanya tapi penuh rasa ketidakpuasan, walhasil jadilah serdadu tanpa seragam yang lawan modal teriakan penging, bisul-bisul suara yang diedarkan khas gebukan d-beat dan punk lengkap suara tom medok, dan desisan simbal yang membandel bercokol di lubang telinga.
Hasil godokan dan dedikasi puritansi menerka suara-suara bising nan ngeyelan ini, kerap diiberi jejak forensik sebagai kembar siam beda induk dari Melt-Banana. Semirip-mirip citra yang mengalahkan similaritas cermin, tak ada yang bisa satupun mencetak imaji, pengalaman rupawan yang serumpun. Melt-Banana masih ada toleransi taat aturan bikin musik durasi 4 menitan, dan ambisi repetisi ekspresi yang merasuki pra-sadar terkena jerat pengaruh masih tertanggal. Sedangkan Pre, hanya sekedar ingin berkumur-kumur cepat tandas, lalu gegas pergi meninggalkan busa dan kuman-kuman di wastafel tanpa terkena basuhan.
Tampilannya jelas terasa lebih kumuh dalam arti, tanpa pengantar elegan, PRE langsung libas jalan-jalan raya tanpa pake rem dan handling, dengan distorsi compang-camping melodi menggigil yang diketeng dari kolektif-kolektif semacam AIDS Wolf, Arab on Radar, tersiram tumpahan cairan metallic bass yang langsung bereaksi menciptakan fiksasi. Alhasil cempreng, lincah, sekaligus berotot, maskulin, dan bermassa satuan kwintal mengolok-olok separasi konstruksi gender, berinisiasi mahluk queer berparas cantik, berotot kaki dan lengan se-menonjol Ade Rai.
Selain lihai mengoperasikan distorsi gitar mengembik, j. art webb miliki segudang fantasi liar mendramatisir riff demi riff menjadi mencekam dan meneror layaknya gubahan karya-karya John Carpenter membuat sensasi mandi malam-malam jadi bergidik ngeri kalau-kalau sesosok asing tiba-tiba menikam abdominal dari belakang. Padahal dia memeras keringat seorang diri, tanpa bantuan subtitusi suara alternatif gitaris ke-2 yang kehadirannya terkadang disia-siakan telinga positivistik. Satu-satunya tandem pengkreasi melodi ialah kevin hendrix, itupun ke-2 nya tidak sering bercakap-cakap di ruangan yang sekamar.
Kontribusi Kevin memilih untuk tidak menjadi wannabe sang dewa gitar, alih-alih aji mumpung punya nama belakang serumpun, betotan bassnya kontras dengan betotan bass rekan sejawat matthew p. Warburton, yang mendem di garis bariton. Pantas meski suaranya seberat eskavator komatsu, penampakannya tetap semengkilap keramik. Getaran pitch elektrik bass Kevin mondar mandir register tenor, kadang memecingkan diri selaras irama semrawutan vokal Akiko Matsuura yang memang sedari tadi ngeledek tangga nada diatonis. Frekuensinya sengaja dilebihkan tapi juga sengaja tidak ingin naik pada anak tangga berikutnya, membikin teriakan binal disonansi membandel sekaligus pelengkap kesatuan simfonia cacophony yang terciprat dari lelehan-lelehan pembakaran berangus kedisiplinan penuh kepalsuan akibat bensin yang terus menerus dipantik oleh korek api (Fiuhh, untuk bensinnya tidak dioplos).
Jadi jangan salahkan kami, bila melawan balik atas aksi kooptasi serampangan pengacak-acak abolisi makna perjuangan seenaknya. Sedari menanam peju, menumbuhkan zigot, hingga membisikkan otak sakau kebenaran tentang kesesatan, anarki bukan tipu muslihat naluriah binal nihil adab dan etika semata. Memang berbahaya bagi mereka yang tak tau kecoa pun bisa hidup tanpa kepala. Seratus cara demi menghentikan kertakan gigi, memporak-porandakan mental yang kepalang tanggung menghirup karsinogenik bualan setiap harinya. PRE menyulut beberapa preposisi sesungguhnya tercemin melintang konsep anarki tersirat atas kunci robohnya instalasi beton berkarat yang semestinya dibom sejak era kolonial.
Satu; tentang pembangkitan kesadaran, merangkak transformasional dari si buta cahaya, penuh legam skeptikal berkultivasi. Mencak-mencak senada porak-poranda, melandai piramid runtuh menari-nari di atas puing-puing rongsokan memantulkan silau, fatamorgana, dan terik membara. Meski tidak semencolok dan semegah saudari jauhnya, PRE naik drastis di posisi kuadran sifat sanguinistis, ekstorvert dan meledak-ledak membongkar isi kepala, dan kemauan tanpa sedikitpun merasa takut dipersekusi.
Hal ini jadi konjungsi preposisi Kedua: atas rangkulan eratnya menggandeng labirin emosional dan spektrum estetis plural; tak risau engkau dan diriku berbeda, selagi sama-sama ingin menapak langit yang sama, sudah sepatutnya sepasang dari kita rangkul-rangkulan bukan saling memukul satu dengan yang lain. Ketiga; tak ada sedikitpun jarak yang mampu memisahkan, semua memiliki hak suara, jawab, dan membantah yang sama tinggi dan derajatnya. Demokrasi bukan hanya untuk si intelek kutu buku yang boring dan canggungan, atau politikus yang lihai beratraksi logika, tapi demokrasi dikalungkan pada mereka yang ingin merasakan dekapan yang lebih erat pada persahabatan, rasa persamaan nasib, dan ambil andil pengerat keberlangsungan tanpa pamrih sepeserpun menarik saldo disusupkan belakang saku celana.
Shimmer – Vox Populi, Vox Apoleia
Sebaiknya tak usah lama-lama mendekam dalam kubangan yang satu ini. Tidak perlu juga memanjatkan prosa puitis, sebagai bungkus kado yang berisi doa permohonan pengampunan. Sejauh ini, sebagus-bagusnya bungkus kado, jelas orang memilih isinya, dan melupakan sampulnya sekilat penurunan tayangan film nasionalis karya bangkotan bangsa (ehm… satu untuk pengalihan isu), di podium hiburan sinema interlokal. Satu hal yang ditekankan Shimmer, bikin onar di kocok sampai kian rusuh tak payah lama-lama, serasa drama dialog anak STM sebelum saling membacok, cukup tunjukkan bagaimana caranya membunyikan keacakan, berteriak serak kebanyakan gorengan plastik hasil karya tangan penjual gorengan kriminal hasil kambing hitam ketimpangan ulah mamang-mamang berdasi dan kebijakan ala kadar.
Kuartet art-punk, no wave, dan expermiental rock yang kali ini lagi-lagi digerakan independent woman Anina Ivry-Block, tidak pernah sedetik pun membisu, apalagi meluangkan waktu dan ruang rata-meratap melankolia tangis-tangisan drama picisan Korea. Vox Populi, Vox Apoleia, frasa itu yang menggenap di sanubari setiap langkah sonik melengking, mengkerut kisut, sampai melebar tembus siklus langit terjun balik samsara. Totalitas Lah yang dipupuk sedari awal, itikad itu yang menggaet keinginan pihak Shimmer menggarap secara visual, video-video pendamping lengkap setiap track tersulut kejar-kejaran aksi mendebarkan, dan kegilaan abstraksi merobek nalar. Tak perlu riasan tulisan pers, kamera-kamera segede gaban, dan sodoran mikrofon pelunas validasi untuk mengenalkan visi esentrik mereka, tontonan setiap visual karya video nya justru diputar secara perdana pada ruang-ruang pameran eksklusif di bioskop mikro independen dan ruang galeri seni avant-garde membentang dari Spectacle Theatre berdomisili Brooklyn, hingga mendarat di Vox Populi berdomisili di Pennsylvania.
Memang ruang-ruang seperti itu yang butuh dan sudi mendengar ekspresi seni sebagai tanda kejujuran dan lepas dari kolektiva-kolektiva tai kucing yang sebenarnya tersisip penindasan terselubung mematikan kreativitas atas dasar “kebersamaan” – bersama tak ayal mengartikan seharusnya seragam. Sebagaimana dijelaskan dalam esai Marcuse, “Essay on Liberation”, yang berceloteh perilaku kaum muda radikal menolak kebutuhan semu yang diiklankan di mana-mana dan justru mengupayakan “kebutuhan vital yang sesungguhnya, termasuk “penghapusan ketidakadilan dan penderitaan” serta pembebasan dari kenyamanan yang diatur dan produktivitas destruktif masyarakat eksploitatif, pembebasan dari heteronomi yang berjalan mulus.
Bahkan sekaliber abang-abang anarki sok menenteng-nenteng buku Kropotkin ke ruang-ruang kantin, bilamana sudah kebablasan uring-uringan membual anarkisme yang dipaksakan pada individual yang belum tersentuh secercah transfiguratif kesadaraan, perilaku semacam itu tak ayalnya dengan para puritan kekuasaan manipulatif mengangkangi ego semata di atas kepentingan bersama. Baiknya cecunguk semacam ini dijauhkan saja dari lingkaran pergaulan.
Gerakan No Wave memang selalu mengajak endusan hidung pelacak ini untuk akhirnya tertuju pada adegan pusat bawah tanah New York, mulai dari palung kelahiran kadal segende onta penunggu ruang tungu (The Lounge Lizards), James Chance & The Cortorions, hingga tempat kelahiran kultus-kultus seminal seperti Sonic Youth, Swans, yang kini dipuja oleh segenap gen-z baru nyebur di toko distro dan kaset, sampai mamang-mamang tukang sablon yang tak ada habisnya menerima pesanan kaos sablon bootleg bergambarkan album “Goo”. Jadi bilamana telinga-telinga sudah biasa dicekoki dosis tinggi amfetamin distorsi berperisa getir dan menggigit bokong seperti kolektif yang tercatat barusan, seharusnya tidak ada lagi sensasi palpitasi yang mengakibatkan sekujur tubuh kelojotan mengalami sakaratul maut.
Gebukan drum Nina Ryser lebih suka dicicil dalam patahan ritme backbeat tom memompa sekencang-kencangnya, sekaligus diberi tambahan angsuran menonjok muka dari gelontoran bass Simon dan senyum sinis menyeringai jahat dari genjrengan bersetrum Paco Cathcart. Tak diberi tahu siapa identitas yang diam-diam menambal kekosongan dengan bunyi-bunyian kartunis 2 dimensi tanpa bayang dan kedalaman efek suara, tapi menelisik dari informasi tambahan yang diberi, nampaknya Paco menjadi dalang pengoperasian synth maupun sampling-sampling suara lusuh yang mengosongkan imaji menjadi kopong melalang buana antara masa lalu dan fantasi palsu rekayasa ekspedisi liar pikiran terangsang desahan suara yang bocor. Linglung di persimpangan gema “And I Revel”, secarik trek instrumental sehorror pengiring musik latar Castlevania, melukis kegentaran asa bulu kuduk merinding takut-takut ada yang menghisap.
Tapi bukan sesosok Vladimir yang muncul dan mencupang leher hingga kering, melainkan selongsong para opsir yang membuat mental mungkir, lalu dijungkir balikan dalam jeruji besi tanpa sebab. Tak menyoal apabila protes dilayangkan sedari tadi, tanpa sedikitpun menyinggung yang semiotik dan literal, perkara lirik, meringkus nada menjadi uraian politik dan penerjemahan kondisional melongok bios, lebih kreatif dan mahir, dibanding nyali sekecil mata bintitan yang tak berani berspekulasi di alam liar serba tak menentu ini. Lanjutannya tersaji dari track ke-9 “Enter the Rounds” yang sama berputar-putar dan gelisahnya, sambil menggeleng-geleng kepala bisikan skizofrenia menusuk telinga tanpa sepengetahuan.
Vokal Ani kerap merengek-rengek seperti anak badung yang pertama kalinya mendapat perlawanan dari mangsa buliannya. Tapi separau-paraunya ekspresi vokal senewen Ani, nyalinya gede untuk menyuruh rekan-rekannya diam sesaat, membiarkan dirinya selang beberapa detik menjadi diva sesaat, Madonna yang baru nongkrong di Blok M, ngalor ngidul ngomongin Rancid, Sonic Youth, The Exploited, Black Flag sambil menenggak kapal api sachet 3 gelas, tak lupa gehu di tangan satunya sambil menggares cengek hijau membiarkan biji-biji capsicin bergelontoran, menggelayuti tenggorokan, meradanglah suara kawan kita satu ini sambil setengah mewek akibat kepedesan.
Shimmer tak ngoyo-ngoyo amat menyoal menjadi mahluk jadi-jadian yang seutuhnya berbeda dan otonom dari pendahulunya. Toh, seperti yang diucap pada adegan pembuka dramaturgi cap kadal ini, durasinya terlalu singkat untuk kelayapan ke berbagai konferensi suara kemudian dioplos lebih lanjut menjadi racikan opium nihilistik berfilter versi yang mereka idamkan. Satu yang penting, bikin knob speaker mentok dan jebol lebih dulu, taring suaranya yang selalu bergerigi, moh diatur, dan lebih mengedepankan unsur tekstur dan amplifikasi kebanalan suara gitar dibanding organisasi baris-berbaris nada berbunyi, hal yang semestinya noise rock berkecamuk di antara kocokan musik rock lainnya yang mulai lapuk dan reot dibabat habis musik mental dan kroni-kroninya. Tak ada cara lain, selain satu-satunya siasat yang bisa musik rock mampu bergairah kembali, tarik-tarik urat knob volume dan saling adu ketangkasan oprak-oprek efek suara & feedback menggergaji kapiler, sambil tetap mampu beradu lakon eksentrik, gendeng, dan sinting di depan kerumunan yang sama-sama tak waras dan hanya merasa hidup jika hanya menenggak ciu.
Shimmer sama sekali tak berkeberatan, bila ujung-ujungnya dikatakan urakan, dan tak terdefinisikan, karena basis kolektif Shimmer diciptakan toh memang bikin seni acakadut, menendang tepat di perut pemuda-pemudi romantik sampe nungging-nungging tersungkur di tanah meringis tahan sakit, sambil tambah sekalian uppercut kiri, gigi rontok, darah mengucur, dan paling penting teriakan arogan berubah menjadi ratapan hamba yang meminta pengampunan. Moh diistimewakan, moh dimasukkan dalam etalase, moh diemong-emong soal-menyoal juruselamat seni dari kemandekan hasil ketok palu kurasi selera industri yang terpatri arus kas.
Jadi bisa dikatakan secara aksioma, Shimmer berkulit dan berparas noise rock, penuh duri, keras, dan solid sekuat adamantium. Namun secara perkara subtil yang menyentil ontologis, Shimmer mendekati itikad friksi no wave yang lebih sibuk menukangi makna pergerakan penuh wanti-wanti wacana dadaisme, dan mengusik tatanan. Seandainya para anarcho berhasrat memiliki fetish pemenggalan kepala yang ingin diwujudkan, Shimmer merasakan tertawa puas menyaksikan potongan tubuh bekas kepalanya yang terpenggal Geraknya memang menjadi tak terkendali, sulit dipahami, dan tidak bisa dihentikan begitu saja. Tapi justru saat itulah bagi Shimmer, manusia mengalami fase paling sober dan sadar sepanjang siklusnya, gerak-geriknya kini secara murni ditransmisikan dari spinal yang mengirimkan sinyal secara spontan tidak ada lagi gerak yang dibebankan fantasi, ambisi, dan kehendak untuk berdaulat, berkuasa, apalagi menindas, Gatel Kabeh!!! .
Flooding – Depolarisasi Polemik Katarsis Abal-abal & Tulen
Dalam lingkar hempas papir bertukar oksigen jadi abu sepait congor pemusnahan Jeremy Bentham, irama musik makrak bila tak digas sampai ingin berhasrat ngeden timpa kemunafikan jadi bangsal penghancuran, ibarat meratap tertutup hisap asap cerutu, nihil segelas kopi legam, yang ada hanyalah air perasaan gula merah yang giung buat gigi tancap ngiung-ngiung sengilu feedback oprekan tangan dekil Ramleh. Mana bisa tinggal diam tengok menjulur wetan dan kulon, ringseknya wis vis a vis, dan bergelindingan terakumulasi tanpa ekor. Saking dongkolnya sanubari ini, humanus meta-modernica etikus bronchitis ini bertranspolasi mengurek-ngurek gulungan surat-surat guratan tangan filsuf-filsuf pahatan stoa. Mendadak gembar-gembor “stoikisme” jadi pegangan kitab sakti mandraguna, yang dicari-cari biksu tong sampai 3 musim berganti selama ini.
Alih-alih permisi ke kaki gunung tapa, lewat hasil jarahan kitab legendaris yang cuman ditemukan tempat tak bisa sembarang kaum sudra (baca Gramedia), para pengusa, maling, mafia hong kong, dan antek-antek asing, ndak usah repot-repot cetak baliho segede gaban, reproduksi propaganda, lewat corong jilat-jilat grendel pintu kaum rumput, sambil melempar bansos seintens pesawat pengebom Pearl Harbor. Orang-orang sudah setara petapa Zen, ketika akhirnya rumangsa jika “berdamai dengan keadaan” jadi sterilisasi atas ke-irasionalitas dunia agar mampu menggenggam segumpal kelereng legitimasi suci nu agung, dan layak duduk nangkring di Firdaus. “Dunia sudah ada sejak kami tiada, dan sudah seperti ini, jadi apa kuasa kami merubahnya, jika kakek-nenek buyut kami yang hidup lebih lama dari kami juga tak bisa mengubahnya?” Lengkap sudah penghasil generasi apokalips berjubah gabriel berotak isi dengkul sederajat zombie-zombie left 4 dead yang dikontrol akses level ter-cetek dalam permainan.
Dari lubang mencuat ini, katastropi diledakan atas gonjang-ganjing ketenangan yang serba mencekam nan menyusup di sela-sela relung tingkat resistensi, perlawanan, dan kepedulian yang kian lama mengeropos. Tak ayal kegerahan drum yang naik pitam, riff-riff ngalor ngidul dan vokal-vokal sengak bersenjatakan prosa membuat penguasa bergidik, ngompol di celana sambil ngumpet dibalik ketek militer membikin musik-musik cadas mengagulkan sikap kepahlawan haram yang dipersepsikan munafikun. Cara mereka menggelontorkan unek-unek aspirasi diludahi, tapi apa yang kau tak sanggup sampaikan, karena kau lebih takut cocot berak buzzer bermahar empat ratus perak, dibanding ulu hati kena cipok Mivaso, ternyata adalah teriakan yang selama ini kau bekap dalam ketakutan dan tersimpan rapi dalam toples yang dipoles dari rasa trauma-mu. Lalu apa harus melangkah di bumi pertiwi ini yang kian membusuk setiap harinya, perlu terjaga setiap saat memegang belati dan menghujam sampai-sampai langit mengirim guntur dan mengerang bersuara “Savage Mode”? Emulsi pun tak kalah penting, tapi bukan untuk memupuk-mupuk hingga mata terlelap, tidur tanpa terjaga, dan tak tau lagi mana apel busuk, mana apel bagus.
Metode ini terbukti klinis untuk melarutkan trauma, apes, dan kesialan masa lalu agar tidak menggulung memperkarai kehidupan kini, terberangus oleh borgol hauntology terus bergentayangan sewaktu-waktu. Singkatnya, proses terapeutik memulihkan anda wahai jiwa-jiwa wong kalahan, untuk balik setelan 0, dan saat itu isilah dengan murka, kritis, dan keyakinan untuk mampu rontokan kemungkaran penguasa. Satu yang ubah terapi surga ini, jadi serasa tempat siksaan baal, engkau harus rela kembali melihat dirimu yang tak berbentuk di masa lalu, bertemu mata demi mata, mengakui tindak bajingan, dan salah-salah kau harus jadi hakim tolol yang bersedia memaafkan penjahat-penjahat yang telah melukis batin dengan arak dan hujaman ketikan biadab.
Jika belum punya nyali dan roso legowo menjalankannya, Flooding bisa jadi pendamping, atau pemberi testimoni yang terus mendorong-dorong panggul untuk tak banyak basa-basi masuk ruang psikiatri kalian masing-masing. Aksaranya dipinang dari istilah teknik terapi paparan dalam batas lingkup psikologi klinis. Caranya digubah dari ketelatenan penyembuh memaparkan stimulus ketakutan terbesar yang pernah dirasakan pada penyintas, dalam durasi intens sampai-sampai melebihi batas ansietas yang berangsur-angsur lepas dan tak lagi menjerat napas. Ada rasa dialog percakapan psikoanalisa yang terbentang, memaparkan memo diary mungil pada orang asing itu sulit. Tapi ironisnya dalam dunia psikologis logika kebalik selalu yang memegang peranan kewarasan seseorang. Mereka yang sama sekali tak pernah bersentuhan, muncul dalam keseharian justru yang bisa mengangkat segala wabah dan kenistaanmu, yang disebabkan oleh segenap jiwa yang didamba-damba bisa menjadi benteng dan mengantarmu sampai ranjang peristirahatan terakhir.
Digelontorkannya sement 10 sak, melapisi tembok lapisan bass menggempal, menghimpit rusuk kiri-kanan, hingga meretak sedap berbunyi “Kraakk”, kunyah kerupuk ikan tenggiri busuk hasil olahan kong kalikong jendralmu itu. Sepekat renungan gila deftones yang memang keranjingan bass berpadu distorsi gaung gelap bersiul menggema, melambai-lambaikan tangan penggoda anak-anak gothic yang kerap akrab dengan sejawat imajinasinya dibanding ibu sendiri. Tapi itu hanya lapisan luarnya saja yang tampak demikian, semakin menghunus dinding, semerbak masam menenggelamkan muka di lumpur hisap doom metal penimbang malapetaka dan kebatilan pengisi neraca kiri dan kanan lengan dewi keadilan.
Ditenggelamkannya vokal Rose Brown si gadis mungil hilang arah di odyssey lumpur selebar titik distribusi kopdes seluruh pelosok diburu sampai ke ujung hutan sana. Berendam mandi di air kecoklatan, kental, hasil terasering baunya macam-macam antara amis, belerang, cuka, dan bekas-bekas luka bakar guyur antiseptik meronta-ronta ujung tandus, mengering tercugak beling diarak menuju semenanjung San Diego hill. Kalang kabut tersengat voltase gitar elektrik sendiri diredam korslet sampai-sampai perlu menjerit beleber reverb membanjiri lantai sekitar, mengais rasa katarsis lambat laun merubah diri jadi masokis.
Akui saja, kendati isi ruang tanp lubang tertambal hanya sebatas diisi keluh kesah berisak tangis membatu jadi kedengkian, ruang tunggu terapi yang diarsiteki Flooding terlihat megah, tidak semenjana atau semengerikan bangsal-bangsal maupun asylum yang makin tekan mental remuk bersamaan dengan pamflet-pamflet tuntutan 17+8 ber-pallete cincau yang memudar tanpa sisa. Rapih betul disusunnya gitar yang kerap kali menurunkan uratnya memetik halus senar segemulai dan selentik irama akor dream pop, sementara drum mendegup dibalik getarannya rasa ini antara panik dan mengebu-gebu tak lagi ada bedanya. Sudah dibikin curek oleh tusukan feedback yang ngajelengeng dan gasakan bass bertaji, kini malah dibikin mewek bombai berlinang-linang air mata.
Sungguh fasilitas yang menawan untuk seukuran yang hanya terdiri atas ruang tunggu dan ruang dialog pasien, selain infrastruktur memadai, sang dokter lihati membikin penyintas terbelalak mengeluarkan segala unek-uneknya, tak tertahankan sebijpun, naik turun emosi dari lemas tak berdaya, sampai naik pitam mengoyak-oyak leher membekas cengkram memerah. Sesi konselingnya pun tak sampai satu sesi pertandingan sepak bola plus tambahan sesi water break, dan meski mata terpejam tak sedikitpun serbuk-serbuk kantuk menaburi mata membuat terlelap, membuai kesempatan jadi kesia-siaan. Flooding tak perlu resep obat-obat paten apalagi zat-zat psikedelika yang bikin mata teleng, pikiran hanya rileks sesaat, saling mendengar omongan dan menyentuh dan mensadarkan kembali jiwa yang telah hilang asa dan arah sudah cukup bermujarab ria, merontokan pelbagai kepenatan hidup yang terus merongrong dari ujung kaki hingga helai rambut kepala.
Ngebacot soal yang mujarab dan kemutakhiran, “Silhouette Machine” ini bukan album pendobrak siklus disrupsi mesin kelahiran inovasi dan ide-ide bebas kooptasi yang tak terjangkau akal manusia manapun di muka bumi. Rahasia dari isinya, cuman baca, baca, baca, belajar lagi dari para pendahulu-pendahulu, renungkan, dan coba lakukan dalam kesadaran sebaik mungkin versi diri sendiri. Coba sekali-kali oplos dengan versi dirimu, meski itu yang paling pait, murah, dan kumuh sekalipun, itu salah satu cara menaikan angka kelahiran autistik tanda berkembang biaknya suatu sub-genre. Jika tidak bisa mampu membawa perubahan, setidaknya jangan busuk hati menciptakan malapetaka dan kesengsaran dalam lingkungan.
Tak disangka lewat kelusuhan dan nuansa doomed tak terelakan, mampu menciptakan senyawa kimia pemberdaya kemampuan depolarisasi, menguraikan mana katarsis jadi-jadian yang cuman modal nyocot perubahan dari dalam diri, tapi membiarkan kebiadaban, dan kedunguan di sekitar terus menjalar layaknya narasi-narasi khas politisi, abang-abangan, motivator abal-abal, dan aktivis gadungan modal ketik di medsos berhaluan libertarian, sang tangan kanan buntung para penjarah kapitalis, dan mana katarsis yang memberanikan diri mengambil sikap yang lebih dalam setelah penyembuhan tiba untuk diteruskan sampai merangsek-ringsek pada piramid kolektif kolegial sebagaimana seorang pemudi/pemuda anarki yang terus berteriak-teriak di depan bedil dan mobil-mobil besi sekalipun.
Jadi wahai kisanak sekalian, angkat pembalut luka tempelkan pada hatimu, lalu naikan pedang ke langit, ayunkan dan tumpas semua penjahat, tikus-tikus, dan para biadab itu agar tidak ada lagi hati dan nyawa yang hilang, bukannya angkat pembalut luka tempelkan pada hatimu, silahkan yang mau menusuku lagi mengantri dengan tertib, pembalut luka ku masih banyak, mungkin aku juga bisa colong pembalut luka milik tetanggaku.






2 thoughts on “Dari yang Riuh Untuk Bising, Menggugat Ketenangan Dengan Katastropi”