Aku ngerasain salah satu momen ajaib dengerin musik baru itu bisa ngasih warna pada hal-hal yang aku anggap biasa aja (bahkan ga aku suka) jadi lebih berarti. Aku pernah yapping di artikel yang kutulis sebelumnya, salah satu aktivitas yang paling aku ga suka dan membosankan ketika perjalanan di malam hari sepulang kerja atau ngerjain tugas-tugas kuliah. Kalian yang tinggal di ibu kota, pasti biasa ngalamin yang namanya kemacetan apalagi di malam hari yang menurutku jauh lebih parah.
Sebagai orang yang ngalamin ini hampir setiap hari, rasanya suntuk dan buang waktu banget, cuman bengong di jalanan hampir 1 jam. Waktunya kebuang sia-sia, padahal aku bisa pake buat ngelakuin hal yang aku suka dan berarti bagiku. Tapi sejak aku mulai ngebiasain diri denger lagu pas pulang dan nemu lagu-lagu baru yang cocok sebagai kawan mengawalku pulang menuju sudut kota, aku ngerasa nemu soundtrack yang bisa ngasih warna dan makna pada aktivitas perjalanan pulangku itu.
Sambil dengerin lagu dan kadang sampai turut larut menghayati lagu dengan bersenandung, aku bisa lebih ngerasain apa yang di sekitarku lebih hidup, dan aku juga lebih nggeh dengan vibes keadaan sekitar. Secara sekilas, aku ngeliat kejadian apa aja yang di jalan entah itu nyala lampu kota, aktivitas lalu lintas, dan jalanan-jalanan yang sepi buat aku pikirin dan masukin ke dalam video klip imajinasiku buat lagu yang lagi aku dengerin. Jadinya bikin daya imajinasi aku lebih aktif buat ngebayangin, seandainya aku ada di keadaan berbeda yang sesuai dengan apa yang lagi aku imajinasikan.
Sekarang aku malah suka banget ngelakuin perjalanan pulang di suasana malam itu, dan ga sabar banget pengen cepet-cepet beranjak dari kantor atau kampus untuk melayang di tengah jalan raya yang gelap dengan kibasan sayap malaikat, raut wajah yang tersipu-sipu sembari menyaksikan kepalaku yang bersinar dengan imajinasi-imajinasi dan mimpi indah yang tak sabar ingin segera ku wujudkan.
Nah, sebagai malaikat yang baik hati (ngarep aja dulu, hehehe) aku juga turut ingin berbagi momen magic dan kebaikan ini pada kalian. Siapa tau lewat banyaknya rilisan-rilisan album baru yang bakal aku kasih setelah ini, kalian juga bisa nemu lagu-lagu yang cocok sebagai soundtrack untuk aktivitas atau hal-hal yang mungkin selama ini kamu anggap kurang berarti.
Ok ga usah lama-lama lagi yappingnya, aku bakal mulai dari kabar salah satu penyanyi pop yang lagi nge-hits akhir-akhir ini, yaitu Olivia Rodrigo yang baru rilis album baru dengan judul “You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love”. Ini sekaligus jadi album ke-3 bagi penyanyi kelahiran California itu, dan kelanjutan dari album sebelumnya, “Guts” (2023). Kali ini, Olivia Rodrigo bakal bikin album sebagai soundtrack kisahnya mengenai perjalanan dan cinta, tapi dibungkus dengan emosi yang melankolis.
Tapi dibalik perasaan yang dituang ke dalam bentuk yang rapuh, Olivia Rodrigo justru manfaatin buat eksplorasi musiknya untuk melangkah lebih jauh, sampai dia mengatakan kalo ini bakal jadi album paling “experimental”-nya dia selama ini. Olivia Rodrigo kembali bekerja sama dengan Daniel Nigro sebagai produser untuk ke-3 kalinya. O iya, album ini sendiri kebagi dalam 2 sisi, sisi pertama dimasukkan dalam bagian berjudul “Girl So in Love” terdiri dari 7 lagu yang nyeritain tentang sisi yang sedang mulai jatuh cinta, dan sisi kedua berjudul “You Seem Pretty Sad” terdiri 6 lagu yang nyeritain sisi kesedihan yang mulai dialami pada momen proses cinta berlangsung.
Kalo Olivia Rodrigo lagi sedang berada dalam masa-masa melankolis dalam hubungan cinta, Mon Laferte lagi dalam keadaan berapi-api, buat nunjukin sisi keberaniannya sebagai seorang wanita yang tangguh dan berbahaya. Penyanyi pop jazz kelahiran Chile ini baru aja rilis album terbaru dengan judul “Femme Fatale Vol.2”. Sesuai dengan judulnya, album ini bakal jadi sekuel langsung dari album “Femme Fatale” yang baru aja dirilis tahun lalu. Mon Laferte tetep ngebawain elemen vokal jazz yang gelap, melankolis tapi penuh dengan improvisasi suaranya. Mon Laferta pun sebenernya sadar dengan frasa “Femme fatale” yang kerap dikonotasiin sebagai kata yang negatif buat gambarin seorang wanita yang angkuh dan jahat. Tapi justru dia coba embrace dan mengiyakan itu, karena baginya itu cocok dengan konsep musiknya yang gelap, dramatis, sekaligus sebagai refleksi pada beberapa momen hidupnya.
Ngomongin soal sesuatu yang gelap, Kelsey Hu bakal bikin kalian bertanya-tanya lewat rilisan album terbarunya berjudul “So Help Me God”. Warna sampul album yang dipakai begitu hitam pekat 180 derajat beda banget sama album debutnya, “Blood” yang kerasa lebih sensual dengan warna oranye-nya. Sambil berpose duduk menyamping, menatap ke arah kita dengan dingin, dan mengeluarkan benda-benda aneh menyerupai ranting di punggungnya, Kelsey Hu ngasih gesture kalau album ini bakal berbeda dan sesuatu yang mengejutkan bakal menghampiri kalian, ketika denger ke-10 lagu yang ada di album ini. O iya di album ini kalian juga bakal ngedengerin Kelsey Hu kolaborasi dengan musisi lintas genre dari penyanyi alt-R&B Sampha, musisi jazz Kamasi Washington, sampai Kim Gordon solois sekaligus frontwoman band noise rock Sonic Youth.
Kita beralih ke kabar K-Pop, meski minggu ini rilisan K-Pop ga seheboh minggu-minggu sebelumnya, tapi menurutku ada rilisan yang patut kalian icip sebagai KPopers multifandom. Yang paling aku saranin adalah mini album dari comebacknya grup k-pop IZNA. Album dengan judul “Set the Tempo” ini sekaligus jadi mini album ke-3 bagi grup yang kini beranggotakan 6 orang itu. Album ini juga sekaligus jadi album kedua IZNA tanpa kehadiran salah satu personilnya, Yoon Jiyoon yang hiatus di tahun 2025, karena diterpa masalah kesehatan. Mini album ini sendiri diisi oleh 5 lagu, termasuk lagu “Metronome” sebagai single utama dari mini album ini.
Ok sekarang aku bakal bawa kalian kembali ke masa lalu dengan soundtrack lintas waktu yang dipersembahkan Baauer lewat album studio ke-3 nya berjudul “U”. Produser sekaligus musisi elektronik yang namanya sempet jadi nominator ajang Grammy itu, ngaku kalo album terbarunya ini terinspirasi dari soundtrack dunia awal 2000’an, yang biasa orang sebut sama estetika Y2K. Selain ngambil pengaruh musik-musik elektronik yang sempet besar di era itu, Baauer juga mempersembahkan estetika dan fashion yang semakin ngingetin kita dengan era kebangkitan milenium itu. Eli Teplin sebagai pianis maupun kibordis yang udah tampil bareng musisi besar seperti Justin Bieber dan Charli XCX, hadir di album ini sebagai salah satu kolaborator Baauer bersama dengan beberapa vokalis seperti Aluna, Brazy, dan Betzy.
Selanjutnya, ada Klimt 1918 band asal Italia yang baru aja rilis album baru dengan judul “Amor”. Well, album ini jadi penanda comeback-nya mereka setelah 10 taun lamanya mereka absen bikin materi studio baru. Ga kaleng-kaleng, buat membuktikan keseriusan mereka menggarap materi terbaru ini, Klimt 1918 menggaet produser Tony Doogan dan ngerekrut Frank Arkwright untuk ngerjain album ini di Abbey Road Studio. Keduanya sendiri udah pernah menjalin kerja sama dengan band-band ternama sebut saja Mogwai, Snow Patrol, Joey Division, sampai Oasis sekalipun. Album ini bakal jadi kumpulan soundtrack yang mengiringi ekspresi emosional mereka yang terasa lebih jujur dan apa adanya. Ga heran di album ini, mereka nampilin sisinya yang lebih keras lewat elemen shoegaze dan post-rock yang terasa bakalan emosional dan melodis.
Ngomongin post-rock kayanya ga afdol kalo ga nyenggol MONO, yang disebut-sebut sebagai sepuh dan pionir dari genre musik ini. Band post-rock kelahiran Tokyo ini baru aja rilis album baru dengan judul “Snowdrop” yang sekaligus bakal jadi album studio ke-14 sejak mereka mulai berdiri tahun 1999. Kilas balik kisah MONO ketika mereka ngerekam album “Oath” di tahun 2023. Saat itu mereka ngerjain bareng produser kawakan Steve Albini yang udah langganan nanganin album-album mereka. Tapi nggak disangka, Steve Albini berpulang pada 7 Mei 2024 dan itu yang bikin MONO akhirnya rilis album “Oath” 1 minggu setelah kepergian Steve Albini.
Kepergian Steve Albini 2 tahun silam, nampaknya masih membekas di benak MONO. Dari rasa takut dan kesuraman yang tak terbayangkan, karena ditinggal mendadak oleh orang yang tercinta, sampai akhirnya mempertemukan mereka dengan produser baru Brad Wood yang menangani album mereka kali ini. Selain, karena MONO merasa cocok, Brad Wood sendiri udah jadi sahabat Steve Albini sejak lama, jadinya MONO masih tetep menjaga hubungan emosionalnya dengan Steve Albini, meski Steve Albini udah nggak ada lagi. Makanya, album ini bakal nampilin sisi utuh dari MONO mulai dari perjuangan mereka mengatasi rasa kehilangan, sampai munculin rasa syukur yang mendalam, karena mereka telah diberi kesempatan pernah menjalani kehidupan bersama teman yang terkasih (Duh…, ko aku ngetiknya sambil mewek gini ya).
Udahan-ah bersedih-sedihannya, sekarang kita beranjak ke rilisan baru dari band math-pop asal Jepang JYOCHO dengan judul “Unforgettable Memories”. Kalo dari judulnya sih, jangan bilang album ini juga nyeritain kisah kehilangan atau mungkin sebaliknya, tentang memori-memori indah yang sulit dilupakan. Ahh… nanti aku coba dengerin full, berhubung aku nulis ini di hari Rabu jadi aku belum bisa nyicipin full album mereka. Album ini udah cukup lama dinanti sama penggemar mereka, karena JYOCHO terakhir kali rilis album itu di tahun 2022, dengan judul album “Let’s Promise to Be Happy”.
Album ini sendiri terdiri dari 10 lagu, 5 lagu baru, dan 5 lagu sisanya itu single-single yang mereka rilis secara digital dan sering jadi favorit penggemarnya untuk dibawa secara live kaya lagu “Strong Body and Rich Future of Macho Minimal Fairy,” “Mujou no Gassho“, “Sekishun”, dan “Hajime kara Subete Shitteiru”. O iya salah satu lagu baru mereka, “Utamahi” juga udah dijadiin ending theme song buat serial TV animasi “Kami no Niwatsuki Kusunoki Tei” yang udah tayang sejak bulan April lalu.
Dari tadi kita sibuk ngomongin lagu-lagu atau musik yang bisa dijadiin soundtrack buat setiap aktivitas dan perasaan yang kita hadapi. Tapi gimana seandainya kalo suara-suara disekitar kita yang tampak seperti remah yang remeh temeh juga bisa ngisi lagu di kehidupan kita? Itu yang dilakuin komposer sekaligus musisi Vanessa Rossetto lewa album terbarunya berjudul “The Professional”. Sesuai dengan aliran musiknya bergenre field recording yang merekam suara sesuai apa yang terjadi, di sini Vanessa banyak banget ngasilin suara-suara yang keluar dari aktivitas orang-orang pada umumnya, mulai dari suara riuh kendaraan, deru angin, dan orang-orang yang saling ngobrol dijadiin ambience album ini.
Dia dibantu beberapa musisi tamu untuk mengisi bagian instrumen atau vokal utama seperti Michael Garin & Mardie Millit sebagai pengisi vokal dan piano, dan Rada Hadjikostova yang muncul sebagai pemain biola di salah satu lagunya berjudul “Won’t do Anything”. Album ini sendiri dibagi dalam 2 babak, dimana babak pertama bakal diwakilin sama 5 lagu awal, dan babak kedua bakal diwakilin 4 lagu sisanya.
The Professional by Vanessa Rossetto
Well sebenernya proses lagu jadi soundtrack kehidupan itu agak mbulet juga, karena para musisi juga biasanya manfaatin apa yang terjadi di hidup mereka atau apa yang emosi dan pikiran yang mereka rasain buat dijadiin inspirasi karya-karya mereka, seperti yang dilakuin Tujiko Noriko, lewat album terbarunya berjudul “Pon”. Komposer sekaligus musisi elektronik kelahiran Jepang ini nyimpen backstory yang pilu dibalik kenapa dia mutusin rilis album “Pon”. Album ini didedikasikan untuk mendiang kucing Tujiko Noriko yang diadopsi sejak kecil karena lahir dalam keadaan tunarungu dan meninggal karena kecelakaan. Tapi dari kisah yang pilu itu, justru bisa munculin sisi musik Tujiko Noriko yang lebih lembut, tulus, dan larut dalam emosi maupun keajaiban kekanak-kanakan yang berusaha dibangun dan dipelihara Tujiko Noriko di sepanjang album ini.
Kalo Tujiko Noriko milih musik ambient yang senyap buat ngeluarin ekspresinya, lain halnya dengan Sleeping With Sirens yang milih musik penuh distorsi dan teriakan sebagai luapan ekspresi mereka. Band alt-rock / post-hardcore ini baru aja rilis album dengan judul “An Ending in Itself”. Album ini sendiri bakal jadi kelanjutan tema dan konsep mereka yang berhubungan dengan emosional dan udah mereka bawa dari album “How It Feels to Be Lost” dan “Complete Collapse”. Album ini sendiri terdiri dari 12 lagu, termasuk lagu “Forever / Always” yang jadi salah satu single terbaru mereka.
O iya ngomongin musik musik dan soundtrack, ada juga ternyata musik-musik yang justru dibuat dengan tujuan ngeluarin kita sejenak dari rumitnya situasi sehari-hari. Grup math-rock / experimental rock asal Jerman berusaha ngewujudin mimpi itu lewat album terbarunya dengan judul “Demand to Be Taken to Heaven Alive!”. Dibalik labirin rumitnya suara yang mereka bikin dan tuang ke dalam 12 lagu, siapa sangka mereka justru bikin album ini dengan tujuan manusiawi buat ngebebasin pendengar dari kehidupan sekitar ke dalam dimensi suara yang spiritual dan seolah-olah bisa bikin kita lupa dari kehidupan sekitar.
Stormkeep lebih seneng bikin soundtrack untuk kisah-kisah fantasi mereka yang berkutat di setting abad pertengahan. Band symphonic black metal ini baru aja ngerilis album studio ke-2 nya dengan judul “The Nocturnes of Iswylm”. Ini jadi album yang dinanti-nantikan sama penggemar black metal, setelah Stormkeep sempet menggebrak lewat album debutnya “Tales of Othertime” yang dirilis 5 tahun lalu. Di album ini, Stormkeep masih menjalin kerjasama dengan Arioch dan Arthur Rizk, 2 sosok yang ngasih kontribusi dan pengaruh di balik layar semenjak album debut mereka rilis. Arioch kembali jadi produser sekaligus ngurusi perkara mixing dan rekaman, sementara Arthur Rizk ngasih sentuhan akhir lewat sesi mastering album.
Sebagai penutup aku bakal kasih album yang punya lore yang lebih rumit sebagai final boss buat ngehubungin antara musik, kehidupan kita, dan fiksi yang berkeliaran hehehe. Konsep ini dateng dari band experimental / avant-metal Genghis Tron yang secara ambisius ngehubungin kejadian di dunia game buat cerminan apa yang terjadi di kehidupan dunia saat ini. Dari hasil yang aku baca dan riset, album terbaru mereka yang berjudul “Signal Fire” ini, ngambil latar distopia dari game Metal Gear series garapan Hideo Kojima buat ngeliat kondisi sekarang yang dilimpahin banyak informasi, bikin manusia jadi lebih jahat, licik, dan serakah. Ya kayanya konsep ini emang beneran cocok sama musik mereka yang eksperimental banget ngambil pendekatan elektronik tapi juga kentel banget sama unsur musik rock dan metal-nya. Jadi kan, makin berasa ala nuansa distopianya yang hancur lebur berantakan, hehe…
Ok untuk minggu ini segitu aja dari aku, mudah-mudahan kalian bisa nemu soundtrack buat semakin menghidupkan aktivitas dan kehidupan kalian sehari-hari. Kalo kalian masih belum nemu yang cocok dan sreg dari apa yang udah aku kasih di atas, tenang… seperti biasa aku juga udah ngasih list album lainnya yang dirilis minggu ini. Jadi kamu masih punya banyak banget pilihan yang bisa dicoba. Happy digging & listening, semuanya… see u next week, all.
Baca Juga : Selamat Datang Cinta Yang Tak Ku Kenali…
Rilisan Lainnya
- AI CAN’T REPLACE ME – 00006
- AI CAN’T REPLACE ME – 00007
- Bebe Rexha – Dirty Blonde
- BIG|BRAVE – In Grief or in Hope
- BOYNEXTDOOR – Home
- CFCF – L.U.V.
- Confused Mind – Ascendancy of Confusion
- Cornucopia – Cosmic Consciousness
- Debit – Potpourri
- Defiled – Altered State
- Desdemona – State of Invocation
- Diles Que No Me Maten – Escrito en agua
- diig – Persona
- Edu Falaschi – Mi’raj
- Estertor – Evil Black Church
- Fires in the Distance – Circadian Promise
- Finsmoonth – Chrysalis of Astral Tears
- Fleshcrawl – Epitome of Carnage
- Fruit Bats – The Landfill
- Fyrnask – Íosir
- Hecate – Comment est la nuit ?
- Heavenwood – The Tarot of the Bohemians – Part II
- Iridal – The Underground Hell Road
- Kalia Vandever – Mana
- Kevin Drumm & Taku Unami – Zero Talk
- Kielichy – Sawant
- Khemmis – Khemmis
- Malist – Eternal Echo of the Fall
- Mary Halvorson & Ambrose Akinmusire – Slo-Mo Neon Luminate Hoverings
- Mystiifler / Craven Idol – Demystification of the Fallen Idols
- Numen – Erre
- Odotte Bakari No Kuni – Prism
- Ok Goodnight – Stop / Go
- Otomo Yoshihide & Kei Matsumaru – Shutsumin
- Pugilist – Found Sound
- Rick Ross – Set in Stone
- Ride for Revenge – Angels Fly Low
- ShadowWolf – Return to Asgard
- Soulburn – Quantifying Cosmic Doom
- Sår – Жилищный вопрос
- Tarja – Frisson Noir
- Véhémence – Assiégé pour l’éternité
- Wiki – Ancient History
- Wolfzahn – Lone Wolf Kommando
- Yes – Aurora


