Ordh-Blind-in Abyssal-Realms-Cover

“Ordh kembali menarik jiwa-jiwa yang telah mengalami masa-masa rekonsiliasi oleh ketenangan ilusi-ilusi untuk kembali tersadar, akan proses kematian yang kembali menjadi wilayah esoteris, yang hanya dilalui oleh proses pembusukan yang dijalankan oleh tingkat kesucian yang tak ternoda setitikpun.

Segerombolan kanibal yang terpencar dalam lintas waktu seperti Cannibal Corpse, Devourment, Pathology memainkan riff-riff busuk seberat 1 ton, menghardik drum yang tanpa henti, seperti peluru membredeli tubuh mengeluarkan darah dan nanah, serta lolongan serak yang becek dan menjijikan. Di tangan mereka yang berlumuran darah, daging busuk, dan kotoran, death metal telah menjadi jalan seremonial kematian bersifat kesenangan psikopat, mengilhami semangat anti-natalis dengan cara-cara maskulin sebagai pengalihan rasa takut akan kematian, menjadi semacam tontonan sadis yang patut dinikmati. Ada pertunjukan seni galeri khusus untuk semua pertunjukkan yang serupa itu, yang dimasukkan ke dalam ruangan bernama “brutal death metal”. 

Akan tetapi, tepat di seberang kamar para penghuni masokis yang jaraknya tidak sampai 5 hasta, ada ruangan yang tampaknya gelap, dipenuhi suasana berkabung yang sunyi dan jeritan di saat bersamaan. Di sana, waktu terasa berotasi lebih lambat, dan setiap gerakan menimbulkan sensasi ngilu tak tertahankan. Ruangan yang bertuliskan “death doom metal” ini, telah mengganti kecepatan dan hujaman siksaan yang bertubi-tubi, menjadi pembasmian yang terjadi dalam proses pembusukan yang melandai. Coba rentangkan kaki ke depan atau ke atas secara perlahan hingga membentuk sudut 180 derajat (jika bisa), rasa sakit yang biasanya nihil, akan menghampiri dalam intensitas tak tertahankan. 

Seperti itulah cara kerja death doom metal dalam mencairkan pemusnahan, menekan setiap bagian tulang dan daging dengan beban berat yang digesek dalam tekanan tinggi dan rentang waktu yang lama. Death doom metal tidak hanya menjadi bentuk yang paling primitivistik dari kelompok death metal, tetapi dapat dianggap sebagai entitas yang dapat mentransendensikan death metal pada kelahiran evolusi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tengok bagaimana pada pertengahan dekade 10’an, ada begitu banyak darah segar yang kembali memainkan jenis musik ini dan telah membawa death metal purba pada gelombang kebangkitan baru yang disebut sebagai revivalist old-school death metal

Tetapi semakin bertambahnya hari, agenda atavistik yang dipertontonkan secara vulgar semacam itu, telah membuat fenomena sakral kematian menjadi semacam upacara formalisme belaka. Sudah tidak terhitung berapa banyak band yang berusaha menyeragamkan cara-cara menghembuskan nafas terakhir dan menggali tanah kubur yang serupa dengan para pendahulunya: Incantation (band yang paling sering dikutip sebagai catatan kaki), Autopsy, Dead Congregation, atau gerombolan Finlandia seperti Demilich, Demigod, hingga Adramelech. Ironisnya, ini membuat seni death doom yang memandang proses pembusukan dan kematian sebagai hal esoterik yang ditakuti, hanya dilahap sebagai tren pelunasan ego yang pretensius. 

Namun semua mengetahui, bahwa pencerahan tidak akan sudi mengetuk semua pintu hati setiap umat manusia. Mereka datang hanya dalam keadaan persiapan akan kesadaran dan keadaan membuka diri pada siklus transformasional. Pergeserannya tidak bergerak secara eksodus, tetapi segelintir band semacam Blood Incantation, Tomb Mold, Chapel of Disease, dan Inter Arma, telah mencoba mendobrak formalisme yang kini telah mulai mengalami pengerasan bentuk menjadi semacam tradisi. 

Ordh, selaku zigot yang baru saja berevolusi menjadi embrio death metal baru, berenang mengikuti arus para pembangkang ini yang tengah secara bersamaan berbekal gen dan kromosom berbeda. Dalam debutnya, bertajuk “Blind in Abyssal Realms”, Ordh berusaha sekuat tenaga melepaskan kebosanan hasrat para nekrofilia yang melampiaskan nafsu dan hasratnya pada jasad yang telah membusuk, menuju pada penglihatan kematian dan pembusukan untuk diserahkan kembali pada abstraksi yang melampaui hal-hal materialisme, rasionalitas, dan kembali terselubungi oleh kemisteriusan. Hal-hal semacam ini yang akan membuat daya tarik kematian kembali dipandang dengan penuh ketakutan, menimbulkan kegelisahan dan ancaman, serta menjadi sesuatu yang dijauhi bahkan yang telah secara aktif menyadarinya. 

Ordh jelas memposisikan pembusukan dalam wilayah arbiter, bahwa pembusukan adalah kesucian yang menyentuh areal denotatif dari kehidupan itu sendiri dan pembusukan sebagaimana adalah proses yang berjalan. Atas dasar itu, Ordh tidak sudi untuk menyerahkan pembusukan tersentuh oleh tangan-tangan yang telah tercampur oleh dosa dan kenajisan yang telah melekat secara turun-temurun. Ordh membiarkan kosmik dan alam semesta ini yang merotasi pekerjaan mulia semacam itu. Perubahan titik suhu, kelembapan dan volume udara adalah alat-alat mekanistik alam merepresikan kekuatannya pada peristiwa-peristiwa pembusukan. Ordh telah secara sengaja membanjiri suara efek gitar yang terasa beruap, mengubah titik suhu hingga memiliki pengaruh lingkungan yang lembab, dalam rangka percepatan masa pembusukan. Bahwa sifat-sifat yang diturunkan secara alamiah semacam itu jelas tidak memiliki intensi determinisme untuk menyerang pada bagian relativistik tertentu, tetapi menerjang dengan secara menyeluruh. Serangan pada riff gitar telah melebar dalam memainkan dinamika, interval, tempo, dan tekstur disaat yang bersamaan. 

Kendati Ordh kerap membuat bongkahan riff yang terbentuk atas nada rendah sember yang dipetik secara tremolo, tetapi terdapat fragmen-fragmen melodi maupun ritme gitar yang multidimensional. Silahkan cermati dengan jeli, bahwa penempatan ritmis maupun melodi gitar akan terasa rumit sekaligus lincah, dan tidak hanya memamerkan rasa lengkingan atonalitas nada-nada yang bersifat pemakluman semata, tetapi ada kedalaman sisi untuk menjadi semacam portal transisional untuk melongok pada bagian yang terasa memasuki ruang gaib, mistis, dan penuh arwah yang melayang-layang. Seperti pada pembukaan “Apis Bull”, yang menebalkan garis melodi kesuraman sesaat sebagai bentuk penegasan simbolik dan kemudian himne gitar yang saling merajut, bertumpuk, dan menyerang dalam kesigapan panik. 

Ordh telah membangun kesadaran pengalaman transisi secara mitosis, dimana secara paralel ada bagian-bagian yang ditelan dan dimusnahkan, lalu tergantikan siklus sel-sel hidup yang baru. Perubahan itu yang diresapi dalam sifatnya yang alamiah, ketika bagian kanon yang lambat, dihancurkan pada intensitas blast beat berlipat, vokal kematian yang terasa menghisap, lalu mengulangi siklus kelahiran berikutnya dalam suasana yang terasa hening, meresapi pembusukan yang telah secara senyap melangkah. Pada “Moon of Urd”, presensi solo gitar yang mengintai mengambil perhatian khusus atas aksi tonalitas mengkilap yang memperlihatkan bagaimana jernihnya kalsium dari tulang-belulang yang terdekomposisi, dapat disaksikan langsung oleh pasang mata. Semuanya terasa memiliki perasaan berkabut, dan melodi-melodi antar jemput nyawa yang tampaknya tidak sabar untuk segera menarik seluruh nafas dari kurungan paru-paru.

Meski seni semacam ini memiliki ketahanan luar biasa untuk menanggung berat dari tumpukkan kebisingan frekuensi yang luar biasa, tetapi Ordh tetap memperhatikan secara cermat akan upaya kemegahan pembusukannya yang telah menemukan sisi transdentalnya. Solo gitar bisa saja berteriak sesuka hati, lapisan gitar ke-2 yang terus berusaha mengisi kekosongan, dan geraman vokal maupun drum yang saling beradu menyentuh gelombang hingga pada frekuensi terendah, tetapi semua lapisan secara merata, terasa keberadaan dan fungsionalitasnya.  

Berbicara pada sifat pemenuhan udara sebagai kebutuhan medium pembusukan yang bersifat tersucikan, Ordh mencarinya hingga pada lapisan atmosfer dunia lain dengan menarik pengaruh-pengaruh angin kosmik musik progressive rock dekade 70’an. Bahkan jika menggali maknanya secara literal, sub hibrida progressive rock era 70’an asal Jerman, disebut Kosmiche Musik, merujuk pada pengalaman destinasi musik yang melampaui pengalaman yang diekstrak dari sifat-sifat materialistik, memanfaatkan gaya musik yang bersifat ambient sebagai alat penyelidikan fenomenologis untuk mengetahui rahasia pengalaman kosmologis. Ordh memanggilnya dengan cara-cara yang tampak bersifat mimesis hingga menjadi genetik yang bermutasi.

“Phlegraean Fields”, sungguh 10 menit perjalanan memukau untuk menjelaskan relasi Ordh yang dimaksud terhadap gerakan musik progressive rock 70’an dengan domain yang sangat jauh di luar kemahiran teknis dan interpretasi death metal. Pada bagian pembukaan, petikan gitar halus membentuk bulir-bulir sekaligus suara bass berdegup, serta vokal yang kali ini memekik dari gelombang lubang hitam, menghasilkan pengalaman yang menghasilkan keraguan, kecemasan, dan kebimbangan dalam bentuk yang intimidatif. Bahwa, sebelum lebih banyak dentuman drum dan geraman vokal dijatuhkan, ada beberapa menit adegan melapangkan instrumen sebagai resapan cerminan reflektif emosional yang berusaha ditangkap daripada momen surreal semacam itu.

Penerapan metodis itu telah secara sengaja diadaptasi pada gaya turunan musik progressive rock aliran Berlin untuk mengamati peristiwa musikal dalam pemahaman menyeluruh yang tidak terdistraksi akan satu dua objek gelombang suara yang bersifat dominan. Pengenalan semacam itu perlu untuk membuat jembatan kesadaran mutasi yang beberapa selang kemudian dilakukan oleh serangan vokal dan ritme gitar yang berkelok agar ditempelkan pada sebuah kesadaran universal. Tentu jika ditinjau dari aspek motif, progresi, dan pengaruh perilaku kontrapung yang bergerak, lagu ini didedikasikan untuk skenario mutasi musik death-doom metal ditulis dalam penerapan metodis musik progressive aliran Berlin beserta jenis kerabat lainnya. Ada bagian yang secara khusus terhindar dari sifat mutasi, ketika Ordh mengubah implementasinya menjadi bersifat mimesis, ketika menghantarkan secara langsung kelipan suara synth analog yang menjalar pada masa transisi penutupan lagu. 

Ordh-Blind-in Abyssal-Realms-Cover-Album

Sekilas, ketika bergeser pada lagu “Blind in Abyssal Realms”, terasa bahwa lagu ini akan memiliki aliran kesadaran serupa dengan “Phlegraean Fields”, atau bahkan terasa mengalami peningkatan pengalaman surreal, ketika Ordh akhirnya menghubungkan geraman vokal kematian tulen mereka, yang telanjang menangalkan baju distorsi gitar dan melantai begitu saja di atas kilauan synth. Akan tetapi setelah merangkak hingga titik durasi penghabisan, lagu ini akan tampak sebagai kausalitas daripada “Phlegraean Fields”. Lagu ini telah jelas mengembalikan pengaturan kesadaran pada ritme bergejolak, drum yang bergemuruh, hingga patahan groove ala Morbid Angel yang menghajar sekuat tenaga namun dalam perasaan yang elegan sambil mengambil serbuk-serbuk melodi penghipnotis dari kantung ginjal yang sedang dilubangi. Pembusukan terasa semakin intens dan segala sudut penglihatan diarahkan secara eksplisit untuk menelisik setiap sudut kehancuran, jika di lagu sebelumnya, perhatian hanya mengarahkan pada langit dan belantara kosmik sebagai bentuk eksplanatori darimana sumber yang menghendaki pembusukan itu berasal dan sebagai sarang penyebabnya.

Sebagai konsistensi, Ordh melakukan langkah penegasan akhir yang senantiasa berkomitmen dalam menyikapi sekaligus menggenapi kematian, adalah memang sesuatu yang perlu ditakuti, mengancam hirarkis kekuasaan manusia, dan lintasan penuh liku dan siksaan yang sangat tidak mengenakan. Ordh tidak sedang mencoba menjalankan misi kesucian moralis untuk akhirnya pergi pada kesimpulan akhir yang mendamaikan diri pada sifat kontemplatif terhadap kematian dan pembusukan, sebagaimana yang diturunkan oleh tradisi-tradisi spiritualitas ketimuran. “Hierothesion” selaku lagu penutup, jelas terasa memiliki struktur yang “hancur”, membabi-buta, dan tidak lagi berkompromi. Bahwa, Ordh telah merasa cukup untuk menjabarkan secara gamblang terkait darimana sumber pembusukan dan kematian berasal, hingga prasyarat yang perlu dipenuhi untuk mensterilkan ritual kesucian ini dari kenajisan. Atas pertimbangan ini, masa-masa kritis ini adalah momen yang terasa paripurna untuk akhirnya memisahkan serat-serat daging dari tulang-belulang secara total dan leluasa. Gebukan drum dan ritem gitar yang menggulung, serta solo gitar yang berteriak tinggi tanpa terkendali, semakin keras memompa terus menerus hingga pada taraf ketika darah dialirkan dalam tekanan yang tinggi pada pembuluh-pembuluh darah hingga pecah. 

Sampai titik ini, tidak ada lagi gerakan saraf motorik, fungsi sensorik, dan kesadaran yang sanggup mengendalikan kegilaan ini. Ya, Ordh dalam bab “Blind in Abyssal Realms” telah menunjukkan siklus secara klimaks, ditengah dekadensi ketika setiap orang mulai melihat kematian dan pembusukan hanya semacam sikap formalisme tradisi. Ordh kembali menarik jiwa-jiwa yang telah mengalami masa-masa rekonsiliasi oleh ketenangan ilusi-ilusi untuk kembali tersadar, akan proses kematian yang kembali menjadi wilayah esoteris, yang hanya dilalui oleh proses pembusukan yang dijalankan oleh tingkat kesucian yang tak ternoda setitikpun. 

Baca Juga : Bell Witch – Future’s Shadow Part 1: The Clandestine Gate – Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *