Site icon

Apa Aja Musik Baru di Minggu Ini? – 17 April 2026

Hari Jumat, ialah hari yang ku selalu nanti-nantikan kemunculannya. Selain menjadi hari terakhir-ku disibukkan dengan rutinitas tumpukan tugas kantor, aku bisa memulai kegiatan ritual mingguanku yang paling aku suka. Ritual kesukaan yang aku maksud adalah menggulirkan layar gadget mencari musik-musik baru. 

Bagi kalian yang memiliki hobi senada, sudah menjadi rahasia umum kalau di hari Jumat, penikmat musik selalu dimanjakan dengan banyaknya album-album baru yang dirilis. Beberapa dari kalian, mungkin sudah ancang-ancang lebih dulu membuat wishlist album-album baru yang diantisipasi kedatangannya. Atau, beberapa dari kalian hanya ingin larut dalam rasa penasaran akan kejutan pengalaman apa yang bakal diberikan oleh musik-musik yang belum pernah menyentuh jiwa kalian. 

Namun, aku pribadi memilih tenggelam di antara keduanya. Aku telah mempersiapkan diri untuk mengumpulkan momen-momen indah yang kelak menjadi pengalaman nostalgia berharga lewat setiap dentuman dan senandungan yang telah ku nanti-natikan. Okey, sudah cukup yappingnya, karena tugas aku di sini adalah membagikan kabar dan informasi mengenai album-album terbaru apa aja yang dirilis sepanjang minggu ini. 

Memang… aku sadar kekuranganku…, aku tidak bisa menyebut semua album yang dirilis minggu ini. Tetapi aku akan menyebut semua album-album yang aku temui pada saat proses ritualku berlangsung, dan jika kalian merasa ada rilisan yang terlewat kalian bisa spill di kolom komentar. 

Aku mulai dari kabar Jessie Ware yang rilis album terbarunya berjudul “Superbloom” yang masih dirilis di bawah naungan EMI Records. Album ini digadang-gadang bakal jadi penerus kesuksesan momentum bagi penyanyi R&B / Dance-Pop yang saat ini menetap di Brixton, United Kingdom, Mengapa?. Karena, rilisan 2 album Jessie Ware terdahulu, “What’s Your Pleasure?” (2020) dan “That! Feels Good!” (2023) mendapat sambutan positif baik dari sisi penggemarnya maupun kritikus musik ternama mulai dari Rolling Stone, Pitchfork, dan Fantano. Jadi cukup wajar, kalau ekspektasi album “Superbloom” ini bakalan melejit. 

Selain itu, saat proses pembuatan album ini, Jessie Ware bukan cuman kembali bekerja sama dengan produser Stuart Price, tapi memboyong sederet nama untuk memproduseri album ini mulai dari Karma Kid, Barney Lister, Jon Shave, Tommy D. Sebelumnya, Jessie Ware juga ngebocorin gambaran warna musik di album terbarunya ini, lewat single-single yang dirilis lebih dulu dari Januari hingga Maret lalu. Ke-3 single terbarunya yang masing-masing berjudul “I Could Get Used to This“, “Ride”, dan “Automatic” bakal bergabung dengan 10 nomor lagu lainnya, menjadikan daftar lagu “Superbloom” total berjumlah 13 lagu.

Dari kabar pop Barat, kita beralih ke aktivitas industri musik pop yang paling nge-hype sedunia, ya benar… K-Pop. Yves, yang menjadi salah satu personil dari girl grup K-Pop bernama LOONA baru aja ngerilis mini album ke-4 nya berjudul “Nail”. Kayanya Yves lagi menikmati banget masa-masa bersolo karirnya, pasca “hiatusnya” grup LOONA karena kasus sengketa dengan agensinya yang tidak kunjung usai. Dalam 2 tahun aja, Yves sudah merilis 4 mini album termasuk Nail ini, dan uniknya setiap mini album punya gaya dan komposisi musik yang berbeda satu sama lainnya.

Semenjak mini album “Soft Error” yang dirilis tahun lalu, Yves punya kebiasaan baru, yaitu berkolaborasi dengan artis pop Internasional. Kalo di mini album sebelumnya, Yves duet bareng penyanyi R&B / DnB asal Inggris yang lagi naik daun, PinkPantheress di lagu “Soap” dan duet bareng penyanyi Indie Pop asal Mexico, Bratty di lagu “Aibo”. Di mini album “Nail”, Yves duet bareng penyanyi asal China, Lexie Liu, di lagu berjudul “Break It” dan duet bareng penyanyi R&B asal Perancis Lolo Zouai, di lagu berjudul “self-titled”. Sama seperti mini album sebelum-sebelumnya, “Nail” dirilis di bawah naungan label asal Korea, PAIX PER MIL

Kalau kalian ngerasa bosan dengan musik pop yang gitu-gitu aja, mungkin kalian tertarik untuk nyoba rilisan baru dari musisi Art-pop, Lucy Liyou. Padahal Lucy Liyou sendiri baru aja ngerilis album nyentrik yang berjudul “Every Video Without Your Face, Every Sound Without Your Name” tahun lalu. Tapi konsep dari album terbarunya “MR COBRA” ini ga kalah unik. Dengan sadar, Lucy Liyou bermaksud membuat album yang bergaya selayaknya semi-autobiografi menceritakan mengenai perubahan dirinya. Musiknya sendiri terdiri dari gabungan free-jazz, opera rakyat Korea, musique-concrète, pop era 2000-an, dan potongan-potongan rekaman teks-ke-suara dari berbagai film, komedi, dan teknik pertunjukkan.

Album ini berfokus nyeritain kisah pengalaman Lucy Liyou sebagai transpuan yang diliputi oleh lika-liku kegelisahan dan krisis identitas. Selain menjadi penulis utama lagu, produser, dan pemandu proses rekaman, kali ini Lucy Liyou yang turun tangan sendiri, mengurusi sesi mixing album. Karena album ini juga memiliki konsep bertemakan Opera, Lucy Liyou menggaet ekstra kolaborator untuk membagi peran dari tokoh-tokoh yang diciptakan dalam cerita. Jake Muir dipilih sebagai orang yang memainkan peran MR.Cobra, sedangkan Lucy Liyou bermain peran sebagai tokoh bernama “Babygirl”. 

Kayanya  kita udah terlanjur nyemplung ke musik-musik berbau eksperimental,nih…, jadi sekalian aku kasih beberapa berita mengenai rilisan album experimental minggu ini. Kita mulai dari kabar John Zorn yang bersiap merilis album terbarunya di minggu ini yang berjudul “Alea Iacta Est”. Buat penggemar John Zorn, maupun musik-musik eksperimental, rasanya tiada tahun tanpa rilisan baru dari John Zorn. Gimana nggak, komposer nyentrik kelahiran Manhattan, United States ini udah ngeluarin 200 lebih album studio dalam sepanjang karirnya.

Itu baru album solonya aja lho, sedangkan dia sendiri juga punya banyak proyek sampingan, seperti Alchemical Theatre, Hemophiliac, Electric Masada, Houdini De Sade, Locus Solus, dan masih banyak lagi (bakalan panjang kalau disebutkan semua). Ga heran, sosok John Zorn sendiri sering didapuk sebagai salah satu komposer / musisi eksperimental yang paling penting dan berpengaruh di abad-21 ini. Di samping rilisnya album “Alea lacta Est” ini, John Zorn sebenernya udah nyiapin jadwal rilis album-album sekuel dari proyeknya, “The Bagatelles” yang akan merilis Vol.7 & Vol.8 yang juga ditargetkan buat rilis tahun ini.

Pada album “Alea lacta Est”, Zorn dibantu sama rekan-rekan sesama musisi yang udah sering langganan berkolaborasi dengannya. Brian Marsella bakal memegang posisi piano, Jorge Roeder sebagai pemain bass, Ches Smith sebagai drummer, dan Sae Hashimoto sebagai tamu yang memainkan alat musik vibraphone. Album ini sendiri akan dirilis melalui naungan label buatan John Zorn sendiri, Tzadik. 

Ngomongin tentang komposer legend, minggu ini kita dapat album kolaboratif yang sebelumnya nggak akan pernah terbayangkan, bisa kejadian. “Two Days in Dreamland” adalah hasil dari kombinasi 2 legenda musisi eksperimental dari belahan bumi berbeda, yaitu mendiang Pauline Oliveros dan Miya Masaoka. Selain itu, album ini menampilkan performa dari Issui Minegishi, pewaris sekaligus penampil budaya Ichigenkin. Pauline Oliveros sendiri dikenal sebagai salah satu komposer eksperimental terpenting dari era pasca perang dunia yang juga merangkap sebagai dosen, dan pemain akordeon.

Sedangkan Miya Masaoka, sudah jadi komposer musisi eksperimental yang berusaha menggabungkan elemen musik tradisional folk dengan gaya jazz bebas barat sejak era awal 90’an. Meskipun Pauline Oliveros sudah lama meninggal, beliau menyimpan cukup banyak arsip rekaman yang belum dirilis resmi, sehingga album bermaksud mengembalikan kehadiran Pauline Oliveros yang menggabungkan arsip rekamannya, dengan pendekatan teknik dan komposisi yang berbeda. Arsip rekaman ini diambil dari era ketika Pauline Oliveros, lagi sering menggunakan instrumen Roland V-Accordion sebagai bunyi accordion.

Two Days In Dreamland by Pauline Oliveros, Miya Masaoka, Issui Minegishi

Selain nama-nama besar, komposer kelahiran asal Perancis yang kini menetap di Inggris, Toan merilis album studio terbarunya yang diberi judul “Solitarium”. Seperti salah satu moyang musik elektronik eksperimental musique concrete yang lahir di Perancis, Toan gunain banyak efek suara dari looping pita magnetik, sample suara, dan instrumen-instrumen akustik. Dibalik pendekatan musiknya yang rumit, dan nggak lazim, Toan justru punya tujuan mendalam, ingin menyediakan sarana terapi sekaligus eksplorasi bagi orang-orang yang seolah-olah hidup, tetapi pikiran dan jiwanya melayang entah di mana. 

Solitarium by Toàn

Okey, sekarang, kita balik lagi ke Jepang, karena salah satu komposer eksperimental sana, MEITEI baru aja merilis album studio berjudul “AGATE” melalui label Kitchen. Sebelumnya, MEITEI mulai dikenal secara global sebagai komposer yang unik, ketika merilis album trilogi Kofū hampir 3 taun lalu. MEITEI sendiri gak cuman mendobrak kemungkinan musik baru dari sisi suara, tetapi secara tema pun, MEITEI antusias banget menghadirkan ide-ide yang hampir gak pernah tersentuh banyak seniman suara. 

Album ini ada kaitannya dengan tematik trilogi “Kofū” yang berusaha “menemukan kembali” bagian budaya-budaya Jepang yang mulai hilang yang dilihat dari perspektif masyarakat modern. “AGATE” sendiri menggali lebih dalam menuju akar-akarnya yang dibentuk dengan proses waktu dan tekanan dengan waktu yang lama. Proses yang terus berkelanjutan itu, ngasih inspirasi ke MEITEI mengenai bagaimana batu mineral terbentuk menjalani proses serupa. Sehingga judul album ini sendiri, diberi nama “AGATE” yang punya arti sebagai salah satu jenis batu mineral akik.  

Hmm…pop udah…, electronic udah…, musik eksperimental bin aneh pun udah…, kira-kira apa lagi yang kurang?? Banyak sih sebenernya, muehehe, tapi kalo kurang yang ini ga ditambahin bakal kelewat banyak album-album bagus. Berikutnya aku mau kasih kabar album-album terbaru dari dunia permetalan. Kita mulai dari kabar comebacknya salah satu legenda heavy / power metal, Crimson Glory. Selama kurang lebih 27 tahun “hiatus” bikin album studio, akhirnya di tahun ini mereka pecah telur dengan ngeluarin album berjudul “Chasing the Hydra” melalui label BraveWords Records. Sejak album terakhir, “Astronomica” yang dirilis tahun 1999, Crimson Glory sempat beberapa kali bubar dan gonta-ganti personil. Terakhir, mereka baru kembali aktif di tahun 2023 dengan tambahan 2 member baru, Mark Borgmeyer sebagai gitaris, dan Travis Wills sebagai vokalis utama. 

Kalo Crimson Glory adalah kisah lama yang akan terukir kembali, kita beralih pada kisah-kisah baru yang sedang ditulis dalam lembar sejarah. Symphonic black metal asal Finlandia, Vargrav baru aja melepas album studio ke-4 nya dengan judul “Dimension: Daemonium” yang dirilis lewat label Werewolf Records. Sebelum album ini diluncurkan, Vargrav memutuskan buat merubah formasinya dari yang beranggotakan kuartet, kini sekarang hanya menyisakan duo V-KhaoZ Stormrage sebagai multi-instrumentalis dan backing vocal dan Graf Werwolf Von Armageddon selaku vokalis utama. Eits.. Tapi, kabar baiknya, Vargrav kembali reuni lagi dengan Trollhorn yang dulu sempat memproduseri salah satu album masterpiece mereka, “Reign in Supreme Darkness”. Tapi peran Trollhorn di sini agak lain, sekarang dia mengurusi mixing sekaligus mastering album

Kalo kalian ingin cari album metal yang brutal dan dar-der-dor, Reeking Aura siap menyambut kamu dalam rilisan album terbarunya, “On the Promise of the Moon” yang dirilis lewat label Profound Lore Records. Selain menjanjikan bikin album yang atmosferik, band death metal kelahiran New York ini juga menawarkan racikan death metal yang mematikan, sangar, dan tentunya bikin putus leher. Kalo di album sebelumnya, mereka pake formasi 3 gitaris, nah untuk susunan formasi di album ini, mereka beralih dengan formasi standar 2 gitaris. 

Ngomongin soal yang brutal-brutal, Trichomoniasis juga baru ngasih serangan yang keji, brutal, dan berdarah-darah lewat mini album singkatnya bertajuk, “Containment Facility’. Terakhir kali duo Faustino (drum) dan Hunter (vokal, gitar, bass) masuk dapur rekaman dan rilis materi terjadi di tahun 2023 dengan merilis 2 album sekaligus. Meski “Containment Facility“ baru kesampean dirilis tahun ini, bagian gitar dan bass mini album ini sudah direkam jauh-jauh hari, sejak tahun 2022. Bisa jadi ini adalah side-b, demo, atau beberapa potongan rekaman suara mereka yang ga terpakai di 2 album studio mereka. Tapi lewat durasi album yang cuman 18 menitan, Trichomoniasis lebih dari cukup bikin kamu terus geleng-geleng kepala, dengan aransemen musiknya yang bukan cuman berdarah-darah, tapi juga ruwet, banyak suara yang ga selaras, dan eksperimentasi keluar jalur yang gila-gilaan.

Containment Facility by Trichomoniasis

Tapi kalo telinga kalian pegel-pegel dan pengang tapi masih pengen dengerin death metal, album debut Ordh yang berjudul “Blind in Abyssal Realms” siap memenuhi permintaan kalian. Band progressive death / doom debutan asal Inggris ini ngasih kalian pengalaman mendengarkan death metal yang berbeda. Selain cuman ditorsi gitar dan geraman vokal, mereka ngasih pengaruh elemen musik-musik progressive rock 70’an dan elemen ga lazim lainnya yang ada di death metal yang bisa bikin kamu bilang: “wah.. Ternyata bisa ya, denger death metal tapi sambil mikirin hal yang berat-berat dan dalem”. Meski baru album debut, proses pembuatan dan penulisan album “Blind in Abyssal Realms” ini memakan waktu 5 tahun dan selain itu, sesi rekaman album sendiri mulai direkam sejak tahun 2023, yang diawali sesi rekaman drum di musim panas. 

Buat rilisan-rilisan lainnya yang ga aku sebutin di atas, aku taro daftar rilisan lainnya di bawah sini, ya… selamat menikmati musik-musik baru dan sampai jumpa minggu depan, bersama penulis magang ini, hehe….. 

Baca Juga : Iceberg #03 – PVA, Nuovo Testamento, Budung, Svitlana Nianio, Traffic Jam

Rilisan lainnya

Exit mobile version