Site icon

Apa Aja Musik Baru di Minggu ini? – 24 April 2026

Apa-Musik-baru-di-minggu-ini-17-Apr-2026

Cari musik baru, bisa bikin aku senyum-senyum sendiri sampai bikin aku ketagihan buat ngelakuinnya. Lah… ko bisa begitu? Well, kesenangan orang emang beda-beda aja sih, tapi itu jadi salah satu tanda ekspresi kekagumanku aja. Setiap aku nemu musik yang menurutku “aneh” atau di luar pikiran orang pada umumnya, aku senyum-senyum sendiri sambil mikir “kok, kepikiran ya mereka bikin jenis-jenis musik kaya begini…”. Ya, mereka kaya berani dan nothing to lose aja gitu untuk mengekspresikan dirinya seotentik mungkin tanpa mempedulikan pengamatan dan penghakiman orang. 

Tapi, aku juga kagum bukan cuman sama musik yang niche banget atau orang bilang musik yang cuman bisa didengerin kaum selera “elit” doang. Aku juga kagum sama artis-artis pop yang masih mau push mereka punya boundaries untuk selalu bikin karya-karya yang fresh dan beda dari apa yang udah mereka buat sebelum-sebelumnya. Intinya sih, aku kagum aja berkenalan dengan hal-hal baru yang belum pernah aku jumpai di keseharian sebelumnya. Nah, siapa tau kalian di sini punya kesukaan yang serupa, makanya aku di sini mau berbagi kesenangan itu dengan ngasih rekomendasi-rekomendasi album terbaru apa aja yang rilis sepanjang minggu ini. 

Berhubung kita udah bahas tentang keunikan, aku mulai aja dari kabar rilisan album dari artis-artis yang terkenal bikin karya-karya nyentrik. “Setiap seniman harus menemukan suaranya”, sepenggal kutipan yang dilontarkan Gia Margaret. Kalimat itu bukan cuman dilontarin sebagai nasihat, tapi juga sebagai bahan refleksi bagi karir sang penyanyi dan penulis lagu kelahiran Chicago, Amerika Serikat ini. Gia Margaret sempat mengalami cedera pada pita vokalnya, yang bikin dia ga bisa bernyanyi selama bertahun-tahun. Tidak menyerah dengan keadaanya, Gia Margaret memutuskan tetap membuat musik bernuansa ambient. Setelah cederanya pulih, Gia Margaret bikin album studio debut dengan vokalnya pada tahun 2018 dengan judul “There’s Always Glimmer”. 

Kini 8 tahun setelah melewati momen krusial itu, Gia Margaret baru aja ngerilis album studio ke-4 nya berjudul “Singing” yang dirilis lewat label Jagjaguwar. Album “Singing” ini bakal nyeritain perjuangan Gia Margaret baik secara fisik maupun emosional mengenai proses pengembalian kepercayaan diri setelah suaranya sempat hilang. Gia Margaret mengaku, terkadang kegelisahannya tidak bisa menyanyi lagi terus menghantui. Bahkan, setelah pemulihan pun, perjuangannya tak lekas usai setelah Gia Margaret kembali mencoba terhubung kembali dengan bagian-bagian lamanya yang sempat terputus lama sekali. 

Album ini sebagian direkam di London bersama Guy Sigsworth dari Frou Frou. Selain itu beberapa penampil tamu seperti. David Bazan, Amy Millan, Kurt Vile, Deb Talan, dan Sean Carey menghiasi perjalanan “Singing”. Doug Saltzman masih setia memproduseri album Gia Margaret dan turut.menyumbangkan suara, piano, dan gitarnya untuk lagu penutup.

Kalau Gia Margaret ngelakuin pengembaraan artistiknya sebagai jalur pencarian kembali jati dirinya, beda halnya dengan Dorian Electra yang memanfaatkan kebebasan ekspresinya sebagai bentuk perlawanan. Sepak terjang Dorian Electra sebagai musisi dikenal sebagai sosok yang tidak segan-segan buat mendobrak batasan. Ga heran, kita bakal sulit ngedefinisiin musiknya, karena setiap album yang dirilis Dorian Electra punya tema, vibes, dan suara yang berbeda-beda. Sampai pada album “Fanfare” yang dirilis 2023 lalu, kita bisa bilang Dorian Electra adalah musisi hyperpop atau electronic-pop. Tapi sekarang, diliat dari rilisan album terbarunya yang bertajuk “Self-Titled, sepertinya kita harus bongkar dan cari istilah baru lagi. 

Gimana nggak, Dorain Electra sempat mengejutkan dengan merilis lagu cover dari penyanyi folk ternama, Bob Dylan yang berjudul “Mr. Tambourine Man “. Lalu, kemudian disusul dengan merilis salah satu lagu cover milik band alternatif Gorillaz berjudul “Feel Good Inc”. Terakhir tanggal 31 Maret, 3 minggu jelang perilisan album Dorian Electra rilis lagu cover lagi yang diambil dari grup indie pop klasik berjudul “Young Folks”. Kalo dilihat dari penamaan judul albumnya yang bold nyematin namanya dan perubahan besar-besaran, Dorian Electra seperti ngasih tahu ke kita secara eksplisit, bahwa sosok dirinya memang rumit, susah ditebak, dan selalu berubah-ubah. 

Ngomongin kebebasan berkespresi dalam karya seni, Vylet Pony menggunakan kemampuan itu untuk membuat kisah-kisah narasi imajinatif di sekitaran musik yang dibuatnya. Di minggu ini Vylet Ponny baru aja ngerilis mixtape ke-2 berjudul “Gonarch’s Lair” lewat label buatannya sendiri, Horse Friends. Vylet Pony sendiri punya beberapa jenis mode musik mulai dari electronic pop, hyperpop, R&B, EDM, sampai hip-hop sekalipun. Mixtape ini sendiri bakal mengasah lebih tajem sisi hip-hop Vylet Pony yang nge-blend sama kultur musik-musik pop internet.

Dari background narasi albumnya, ini jadi salah satu koleksi cerita petualangan menegangkan yang pernah ditulis Vylet Pony. “Gonarch’s Lair” sendiri nyeritain secara fiksi kisah seorang gadis pegasus bernama Lunarch yang melakukan perjalanan ke dunia alien mengerikan bernama Xen, demi menyelamatkan rekan-rekannya. Di sepanjang album yang durasinya ga sampe 45 menit ini, Vylet Pony ngundang cukup banyak musisi tamu seperti lulamoon, Feather, Chi-Chi, NekoSnicker, zombAe, maple. 

Btw, kalo kalian ingat Lolo Zouaï yang sempet di mention minggu lalu sebagai salah satu musisi yang berkolaborasi dengan solois K-Pop, Yves di mini album terbarunya, kali ini giliran Lolo Zouaï yang unjuk gigi dengan rilisan album ke-3 nya berjudul “Reverie” yang dirilis melalui label Because. Ini jadi album pertama Lolo Zouai lho, setelah penyanyi R&B kelahiran Paris yang besar di San Francisco ini ga merilis album hampir 4 tahun lamanya semenjak album “Playgirl”.

Di album “Reverie” ini Lolo Zouai bercerita dibalik proses “diamnya” selama 4 tahun yang penuh gejolak antara duka, perasaan ketidaksanggupan, dan proses kelahirannya kembali. Ga sampai disitu, album “Reverie” ini menjadi kesempatan Lolo Zoual menggabungkan 3 kultur sekaligus yang mewarnai hidupnya, sebagai seorang yang lahir di Prancis, dibesarkan di Amerika, dan memiliki akar budaya Algeria dari leluhurnya. Ga heran, disamping lagu yang didominasi bahasa Inggris, kalian bakal nemuin Lolo Zoual menyanyi dalam bahasa Perancis (lagu “Les Mots”) dan menampilkan elemen-elemen musik etnik dari kultur leluhurnya.

Ok, kita tarik napas dulu sejenak dan kita bakal santai ditemani penyanyi vocal jazz debutan, Eliana Glass yang baru aja rilis mini album nya berjudul “E at Home” yang dirilis lewat Shelter Press. Mini album ini bisa dibilang B-Sides atau kumpulan lagu aransemen asli dari album debutnya, “E”.  Bagi Eliana Glass, mengekspresikan secara bebas justru bisa bikin terhubung dengan masa lalu yang belum sempat dinikmatinya. Album ini sendiri direkam dengan menggunakan mesin perekaman pita yang sama yang pernah digunakan sama musisi folk Sibylle Baier (Colour Green) ketika membuat rekaman style ala rumahan di tahun 70-an. Eliana Glass mengaku, karena mesin itu ngasih tekstur dan nuansa tersendiri pada musiknya yang ngasih sentuhan emosi yang raw dan apa adanya, yang bikin beresonansi dengan pendengar lebih cepat dan intim. 

Kalo kalian belum puas dan masih kepingin nostalgiaan, A View of Earth From the Moon ngeluarin album studio ke-2 nya berjudul “Rolled Over Like A Wave”. Jonathan Fickes satu-satunya personil grup, punya jejak rekam bikin musik-musik power pop dan alternative era 90’an lewat album debutnya, “Closer to a Ghost“ yang dirilis 2017 lalu. Sekarang udah 9 tahun berlalu, A View of Earth From the Moon masih setia dengan style musik-musik pop ala 90’an nya di album “Rolled Over Like A Wave”. Album ini sendiri diproduseri oleh Jonathan Fickes yang juga dibantu sama Andy D. Park. 

Ok sekarang, kita bakalan cabut dan menengok kabar dari negeri Sakura. Duo grup J-Pop yang belakangan namanya lagi ngetren, YOASOBI baru aja nih rilis mini album terbarunya dengan judul “E-Side 4” lewat label Sony Music Japan. Buat yang ngikutin kiprah duo Ayase dan Ikura sejak lama, kalian bakal ngeh kalo ini adalah mini album sekuel dari lanjutan mini album konsep berbahasa Inggris berjudul “E-Side” yang udah jalan dari 2021 lalu. Well seperti biasa, meski konsepnya mini album tapi Yoasobi untuk nyiapin 9 lagu dengan durasi lebih dari setengah jam, yang bikin ngerasa kaya album penuh.

Ok, kalau kalian ngerasa panggung YOASOBI terlalu bertabur cahaya dan penuh gemerlap keglamoran, grup shoegaze / dream pop Tokyo Shoegazer nawarin nuansa album yang lebih intim lewat album terbarunya bertajuk “Remains”. Album ini sendiri udah mulai direkam sejak Desember 2025 lalu dan baru rampung 1 Maret lalu. Kalo kalian ngeliat sampul albumnya, kalian akan ngerasa berbeda, meskipun Tokyo Shoegazer masih ngegunain Kucing sebagai tokoh utamanya. Kontras warna sampul albumnya lebih gelap, dan nuansanya pun serasa lebih suram dibanding album-album sebelumnya yang bercahaya. Itu memang bukan cuman firasat kok, musik Tokyo Shoegazer di album ini memang sekilas bakal kedengaran lebih keras, suara gitar yang terasa lebih berat dan banyak ruang-ruang gelap kosong yang dibiarin. 

Kita tinggalin dulu sejenak eksplorasi Tokyo Shoegazer yang bermain-main dengan dunia malamnya, Grup big band jazz yang dimotori oleh komposer Miho Hazama ngajak kita ke petualangan dunia suara lewat rilisan terbarunya, “Frames” yang dilepas melalui label Edition. Album ini jadi album studio ke-4 Miho Hazama sebagai komposer yang namanya udah mulai dikenal secara internasional. Kurang lebih Miho Hazama bakal memimpin sebanyak 19 personil pemain instrumen dalam album terbarunya ini. 

Terkadang yang berwarna itu ga selalu cuman ngehasilin kebahagiaan, bisa jadi sebaliknya tentang ngasilin kegilaan tanpa batas. Sensasi ini yang bakal kalian rasain lewat rilisan album “THE HORIZON SPIRALS / THE HORIZON VIRAL”. Ini adalah album split antara grup noise / experimental rock asal Osaka, OOIOO, dengan grup Noise / Experimental Rock asal Amerika, Lightning Bolt. 2-2 nya sama punya rekam jejak bikin musik nyentrik dan berisik luar biasa, yang dibungkus dengan tema dan konsep visual album yang penuh warna. Disisi OOIOO, mereka menyumbangkan 1 lagu dengan durasi yang mencapai 18 menit lebih, sedangkan the Lightning Bolt udah nyiapin sebanyak 5 lagu untuk mengisi album split ini. Seperti ekspektasi dari penggemar ke-2 nya atau penyuka noise rock, kalian bakal disuguhin secara intens musik-musik distorsi berdesibel tinggi, dengan bentuk yang gak lazim dan sulit untuk dipikirkan secara logika umum. 

Ngomongin band rock yang udah punya rekam jejak panjang, Foo Fighters baru ngerilis album studio ke-12 sepanjang karir mereka dengan judul “Your Favorite Toy” yang dirilis di bawah naungan label Roswell & RCA. Dave Grohl dan kolega udah nyempetin masuk studio rekaman 606 di Los Angeles untuk mempersiapkan dan merekam materi album ini sejak dari tahun 2024. Album ini sendiri jadi ajang pembuktian si “anak baru”, Ilan Rubin yang baru aja gabung di Foo Fighters tahun 2025, menggantikan drummer Taylor Hawkins yang berpulang pada 15 Maret 2022 lalu.

Kalian mungkin ngerasa nggeh…., musik rock maupun metal di era sekarang ini, ga bisa fokus cuman mentingin volume dan intensitas yang super kenceng. Kedua jenis musik itudi era sekarang udah jauh berkembang dan bisa bikin aransemen yang indah, kompleks, dan penuh warna. Kalo kalian nggak percaya, coba aja denger rilisan terbaru dari gitaris kelahiran Australia, Plini yang ngasih kejutan di tahun ini, dengan rilisan album ke-3 nya berjudul “An Unnameable Desire”.

Album ini udah ditunggu-tunggu 6 tahun lamanya, buat penggemar melihat kembali kejeniusan Plini setelah meninggalkan kesan mendalam di album “Impulse Voices” yang dilepas tahun 2020. Berbanding terbalik dengan apa yang pernah dibuat Plini selama ini, “An Unnameable Desire” bakal ngasih “tegangan setrum” yang lebih tinggi dengan masukin lebih banyak pengaruh musik djent dan progressive metal modern. Hasilnya mungkin ini bakal jadi karya terberat dan ter-metal yang pernah digarap Plini selama ini. Tetapi bagi kalian yang masih cinta Plini apa adanya, dia ga sepenuhnya meninggalkan rootnya sebagai pemain gitar fusion kok. Jadinya ya, ini bakalan seperti seseorang yang ingin berubah tanpa melupakan jati diri sebenarnya. 

Sepertinya, Plini hidangan pembuka yang pas sebelum kita menuju hidangan utama yang penuh dengan minyak dan lemak distorsi kebisingan. Salah satu band melodic metalcore yang nge-tren di awal tahun 2000’an, Atreyu ngerilis album studio barunya berjudul “The End Is Not the End” yang dirilis lewat Spinefarm Records dan diproduseri oleh Matt Pauling. Pentolan mereka, Brandon Saller sesumbar pada Blabbermouth kalo mereka ngaku udah bikin lagu-lagu tercadas yang pernah mereka tulis dalam album ini. O iya, Atreyu bahkan ngajak salah satu pentolan eks vokalis dan gitaris Sepultura, Max Cavalera untuk mengisi di salah satu lagu mereka yang berjudul “Children of Light“. 

Yang masih mau ngerasin nostalgia musik-musik cadas era 2000’an dengan rasa yang baru, salah satu legenda screamo / post-hardcore The Saddest Landscape akhirnya kembali rilis album baru, setelah 1 dekade lebih absen. Sebagai “penebusan dosa” mereka yang bikin penggemar khawatir, The Saddest Landscape langsung tancap gas bikin album berkonsep ganda di “Alone With Heaven”. So, pasti kalian bakal dimanjain dengan tracklist yang relatif padat berjumlah sebanyak 16 lagu.

Eitss.. Ga sampai di situ, The Saddest Escape juga nampilin guest star yang mengejutkan.Penyanyi indie folk Julien Baker tampil untuk mengisi di lagu terpanjang album ini, “The Invisible Hurt”, soloist midwest emo, Into It. Over It juga turut meramaikan lewat lagu “ Where Angels Ascend”. Selain jajaran para penampil yang ngetop, orang-orang yang terlibat proses pembuatan album dibalik layar juga ga kaleng-kaleng. Album ini diproduseri langsung oleh Steve Albini. Selain itu nama Jack Shirley juga muncul sebagai produser sekaligus orang yang ngerjain urusan tetek bengek audio dari album ini.

Kalo comebacknya The Saddest Escape ngasilin kesan nostalgia yang bersemi kembali, comebacknya At The Gates bakal ngasih perasaan yang campur aduk, antara senang, tapi juga ngerasa sedih dan kehilangan. Seperti yang kalian tau, Tomas Lindberg selaku vokalis utama band melodic death metal asal Swedia ini baru aja meninggal 16 September 2025 lalu, karena penyakit kanker yang dideritanya. Entah bisa dibilang kabar baik atau mengharukan, Tomas Lindberg udah sempet ngerekam dan membuat materi-materi album terbaru At the Gates.

Jadi meskipun rilisnya “The Ghost of a Future Dead”, yang mungkin bisa dibliang album semi-posthumous, masih diisi oleh penampilan terakhir dari Tomas Lindberg. Jens Bogren yang sebelumnya pernah nanganin rilisan At the Gates terdahulu, balik lagi buat ngurusin mixing dari album. Ya mungkin agak disayangkan aja sih, At the Gates sempet “ngilang” ga bikin album apapun di sepanjang awal 2000’an. At the Gates baru mulai comeback bikin album di tahun 2014, ketika “At War With Reality”. Jadi ngerasa At the Gates itu ga se-produktif band-band melodic death metal Swedia seangkatannya. 

Ada yang bilang kalo metal ngandelin berisik dan teriak-teriak doang. Portrayal of Guilt sendiri seolah ga ambil pusing buat nyikapin pernyataan itu. Daripada di debat, mereka bener-bener bikin musik yang total berisik dengan mengambil elemen musik dari berbagai turunan musik cadas (bukan cuman metal aja) di album terbarunya, “…Beginning of the End”. Mulai dari post-hardcore, industrial, elektronik, nu-metal, black metal, sampai sludge metal sekalipun mereka hajar. Well Portrayal of Guilt sendiri ngingetin kalo denger album ini kaya minum kopi pahit sepekat Deathspell Omega, yang ketumpahan Deftones, Massive Attack, Dystopia, sampai Celtic Frost sekalipun. 

Tapi kalo kalian lagi kepingin cari metal yang tulen, band death metal asal Italia, Devoid of Thought baru aja rilis album studio ke-2 nya berjudul “Self-Titled” lewat label AvantGarde. Devoid of Thought ini termasuk salah satu kelompok death metal yang suka menjelajah tema-tema angkasa dan kosmik kayak Blood Incantation, Tomb Mold, dan sejenisnya. Ga heran disini kalian bakalan dapetin kombinasi elemen old-school death metal dengan riff-riff doomy yang terinspirasi dari 2 band itu. 

Drudkh sendiri kayaknya masih susah move on dari konsep album penuh “Shadow Play” yang baru aja dirilis tahun lalu. Nah bagi Drudkh…, mini album berjudul “Thaw” ini adalah lanjutan konsep dari karya sebelumnya itu, tapi lebih kepada pencarian jati diri ke dalam. Meski cuman berisi 3 lagu, kalian masih bisa ngerasain sound atmospheric black metal khas ala Drudkh yang melodinya sejuk, tempo yang kalem, dan diselingi sama elemen folk dari gitar akustik, atau simfoni kecil-kecilan dari synth

Kita juga punya kabar dari dalam negeri mengenai Pure Wrath yang baru aja rilis album studio ke-4 antisipatifnya berjudul “Bleak Days Ahead”. Band one man black metal asal Bekasi ini ngasih banyak kejutan dan twist meski notabene-nya bentuk pengembangan dari karya sebelumnya. Dari segi temanya sendiri udah mulai mengerucut ke ranah personal, yang bakal resonate sama keseharian beberapa dari kita yang semakin terasa berat. Udah gitu sang frontman, Januaryo Hardy mutusin untuk bikin gaya rekamannya jadi punya feels yang semakin organik, dan lebih mirip seperti format full band dibanding format seorang diri. Yurii Ciel yang sempet ngisi drum pada beberapa album Pure Wrath sebelumnya, kembali dipercaya buat duduk dan mukulin drum di album ini. 

Kabar terbaru rilisan album minggu ini, bakal ditutup sama berita dari duo grup hip-hop Blu & Exile asal West Coast, yang rilis album terbarunya, “Time Heals Everything” lewat label Dirty Science. Well, kombinasi Blu & Exile ini masih jadi bukti kalo hip-hop di ranah West Coast masih bisa bikin karya-karya yang brilliant, fresh, tapi tetep stay to the root. Sang produser, Exile sengaja bikin beat dan instrumennya terasa berwarna di album ini, dan album ini juga diisi oleh banyak rapper tamu lainnya, yang bikin album ini jauh lebih fleksibel dan berwarna. 

Selain nampilin gaya rapping blu sebagai sajian utama, “Time Heals Everything” ini juga kedatangan banyak rapper East-Coast dari berbagai generasi. Mulai dari Rome Streetz rapper kelahiran U.K yang kini menetap di Brooklyn permisi buang bar di drop beat “Crumbs” bareng sama rapper asal Los Angeles, ICECOLDBISHOP. Duet Black Thought & Mach-Hommy yang bikin lagu “T.S.O.D” yang nonstop ngasih rima yang nampol. 

Ok lah, segitu dulu daftar rilisan album baru minggu ini, sisanya seperti biasa bakal aku drop listnya di bawah, dan kalau ada yang kelewat kalian tinggal komen aja ya. See, ya next week! All of my Hommies! 

Baca Juga : Ordh – Blind in Abyssal Realms – Review

Rilisan Lainnya

Exit mobile version