City pop adalah fenomena semu yang membuat setiap jentikan lentik jari glamorisasi hedonistik dan langkah kaki di atas lantai dansa, mengetuk perasaan akan kerinduan berada dalam sebuah masa yang sama sekali tak pernah dikunjungi seumur hidup. Sekarang coba pikirkan, ketika fenomena city pop kembali bangkit circa 2016 ditemukan algoritma, Gen-Z dan millennial dari penjuru dunia, antusias menyambut alunan musik garis bass groove tebal, synth halus memancarkan sinar neon optimistik, dan aura vokal vintage 80’an penyanyi Jepang pria maupun wanita tersebut.
Kedua demografi tersebut jelas tidak menyumbang statistik kelahiran di era 80’an, apalagi memenuhi angka kepadatan penduduk di Jepang. Obsesi terhadap kehidupan Jepang periode gelembung ekonomi telah didorong oleh sejumlah medium produk seni Jepang lainnya, seperti gambar, video game, dan anime yang kini semakin diterima dalam skala global. City pop memuncaki rantai perwujudan imajinasi yang terprivatisasi, mengandalkan ekstensi kekuatan abstraksi musik, memicu proses mental setiap orang yang terperangkap, menciptakan kreasi kehidupan metropolitan Jepang era 80’an versi masing-masing.
Tengok, keseluruhan playlist kompilasi city pop di youtube menampilkan gambar thumbnail dan video yang mengafirmasi citra kehidupan urbanistik dan produk hiburan Jepang jadul yang dilukiskan dalam goresan anime retro. Beberapa member dari komunitas city pop di reddit, mengakui bahwa titik pertemuan mereka dengan city pop, berasal dari tayangan animasi seperti Sailormoon, Gundam, hingga judul-judul anime yang mendapat predikat cult-classic maupun underrated.
City pop telah mengalami beberapa kali siklus yang membuat penggalian ulang tidak sekedar sebagai penemuan artefak pajangan, tetapi menanamkan memori false nostalgia dan kerinduan pada kehidupan yang tak pernah dilakoni bagi masyarakat luar Jepang.
Dimulai dari unggahan lagu “Plastic Love”, milik Mariya Takeuchi dengan thumbnail ikoniknya, yang berhasil mampir di teras para pelancong selera dan meraup angka 65 juta stream (video asli telah dihapus). Lagu berusia 40 tahun, “Stay With Me” milik Miki Matsubara yang berhasil menduduki peringkat satu global top chart spotify, serempak di beberapa negara, munculnya kurator yang mengkurasi dan merilis kompilasi city pop, hingga tren video pendek reels dan tiktok, yang berkontribusi menjangkau demografi gen-z lalu mendorong nama-nama artist city pop obskur, seperti Reiko Takahashi menghiasi lagu latar pada ragam konten. Kini city pop memasuki siklus baru, tetapi menuju fase mengkhawatirkan. Tren generative AI yang akhir-akhir ini menyerbu konten musik dan playlist di Youtube, turut menciptakan musik city pop versi artifisial.
Kanal-kanal youtube seperti “Chill City Pop”, “Japanese City Pop’s 80”, dan “Vintage J-Pop Station” bertindak seperti radio broadcast operator non-manusia yang bekerja tanpa lelah mengunggah daftar kurasi lagu-lagu city pop hasil rekayasa AI. Menghiasi gambar thumbnail (juga hasil generative AI) dari gadis remaja Jepang riang yang berdiri berdampingan bersama mobil, berpose di depan latar bangunan kota yang menjulang dan bercahaya. Memerintahkan prompt AI memotretnya dengan model filter kamera Fuji 80’an, menyematkan nama-nama kota Jepang pada playlist, seakan menjadikan rangkaian lagu yang representatif.
Tangan-tangan misterius pengunggah konten AI city pop, memanfaatkan strategi SEO begitu cerdik dan memahami intensi pencarian secara presisi. Tanpa perlu memasukkan kata kunci long tail rumit, kata-kata kunci umum seperti “City Pop Playlist”, “Japan City Pop”, dan “80’s City Pop” berhasil menggiring beberapa hasil pencarian teratas pada konten-konten AI city pop. Memadatkan setiap deskripsi video dengan penjelasan dan daftar lagu yang detail, meyakinkan pengunjung bahwa itu merupakan hasil kurasi playlist sungguhan.
Hal ini akan diperparah oleh ultilias disrupsi kemampuan algoritma dan kecerdasan buatan yang selama ini digembor-gemborkan sebagai wajah masa depan. Minimnya batasan memproduksi konten secara masal pada konten musik AI, memungkinkan setiap kanal dapat mendorong jumlah konten yang banyak dalam waktu singkat. Siapa saja yang tergoda memainkan musik city pop AI, mengaktivasi otomatisasi algoritma Youtube, memberikan rantai sugesti rekomendasi terkait konten city pop AI lainnya, menjerumuskan siapa saja dalam labirin lamunan artifisial city pop tanpa jiwa.
Ini menjadi fenomena kesekian kalinya dari invasi generative AI terhadap beberapa ceruk genre musik. Jika diperhatikan, rentetan gerilya ini mengarah pada jenis genre musik yang tumbuh dan berkembang dalam kultur jejaring komunitas Internet. Seperti yang dituliskan Kieran Press-Reynolds, dalam rubik Pitchfork yang turut menyuarakan keresahan kebangkitan city pop AI, invasi generative AI telah lebih dulu memasuki tren musik instrumental lo-fi.
Penjarahan berlanjut pada musik-musik yang berbasis kuat pada formula instrumental. Synthwave yang semula ditunjukkan pada manusia-manusia transhumanisme yang menolak menjadi mesin seutuhnya pada peradaban cyberpunk 2077, justru seperti ditaklukan oleh mesin itu sendiri. Vaporwave yang diperuntungkan memparodikan pemaparan hiperbolisme kapitalisme terhadap produk-produk teknologi dan impian nya yang gagal, kini berbalik mengolok seakan berhasil memperdaya manusia yang menurunkan daya apresiatifnya, menikmati remah-remah rongsokan teknologi hasil karya tangan robot.
Tren terbaru yang tak kalah meresahkan adalah cover mashup AI, dimana terjadinya daur ulang hits milik penyanyi terkenal masa kini: Maroon 5, Chappelle Roan, Mariah Carey, dan Britney Spears ke dalam versi city pop. Harus dikatakan bahwa pada awalnya, city pop adalah dampak redundansi dari komodifikasi dan komersialisasi industri musik Jepang.
Yosuke Kitazawa kurator, sekaligus pemilik label “Light In The Attic” yang merilis album kompilasi city pop “Pacific Breeze”, mengatakan pada VICE, bahwa orang-orang Jepang yang tumbuh dan besar pada era 80’an justru tidak mengetahui adanya label city pop. Menurut Yosuke, orang-orang cenderung menampilkan sentimen dan mencibirnya sebagai lagu pasaran, tidak berseni, cheesy, lalu menutup makian dengan jargon shitty pop.
City pop menunjukkan anomalitas terhadap identitas musiknya itu sendiri. Sebagai jenis musik yang lahir dan besar pada periode Showa, City pop, diyakini sebagai salah satu produk kebudayaan pop Jepang. Akan tetapi, jika digali lebih dalam, sebagian besar arsitektur instrumen yang merekonstruksinya, diimpor dari kultur musik barat.
City pop menangkap garis bass berat namun bertekstur hangat dan membunyikan groove renyah dari musik funk / soul 70’an, memilih linndrum ala synth-pop & new wave sebagai penyedia ritmis bertempo 4/4, lalu membunyikan gitar elektrik non-distorsi fusion jazz yang melangkah dalam progresi akor tujuh, memiliki lompatan nada lebih kaya dibanding dengan struktur akor triad, meletakan kesan jazzy pada penikmat kasual.
Terkadang muncul kondimen pendamping instrumen lainnya, semacam piano, ragam brass, gitar listrik terdistorsi ala rock, keyboard berefek, hingga synth yang menciptakan dualitas panoramik antara tepi pantai musim panas dan hiruk pikuk kehidupan malam perkotaan. Perlu diketahui dengan banyaknya unsur yang membentuk city pop, membuat karakter musiknya terdesentralisasi.
Setiap artis menghidupi aransemen dalam jenis latar instrumen berbeda-beda. Anehnya meskipun tak pernah terkristalisasi, orang dengan mudah mengklasifikasikan musik-musik populer Jepang 80’an sebagai city pop. Tatsuro Yamashita dengan alunan musik pop jazz– funk groove bernuansa musim panas pantainya, dan Minako Honda dengan gaya musik synth-pop up-beat, sama-sama masuk dalam pandora city pop.
Ini merefleksikan bahwa city pop tidak lagi hanya sekedar mengikat perbedaan pada taraf klasifikasi genre, tetapi lebih luas menunjuk pada kekaguman gambaran kehidupan urbanistik Jepang era 80’an), yang terhimpit antara keagungan materialistik, mimpi futuristik, sekaligus menghadirkan tambahan kesan nostalgia. Dan, tentu saja di mata gen-z maupun millennial, paradigma city pop telah bergeser, memungkinkan adanya perluasan konten emosional dan jaring sosial yang terhubung, tidak hanya sekedar memandangnya sebagai komoditas habis sekali pakai.
Sungguh, city pop seperti timbunan harta karun yang telah ditakdirkan untuk gen-z dan millenial menggalinya. Meski berasal dari musik era-era lawas, percayalah sebagian besar dari orang-orang tua mereka hanya sedikit kemungkinan yang pernah mengenali, memainkan, hingga memiliki koleksi rilisan fisik piringan hitam city pop Jepang. Sementara musik ini tidak lahir dalam rahim industri musik modern, masih ada awan eksklusifitas yang menaunginya.
City pop mungkin tidak akan menghampiri dan memikat, setiap kerabat-kerabat bermain mereka, menjaga disparitas selera seseorang yang tetap terjaga. Suka atau tidak, diakui atau tidak, orang-orang cenderung berbangga diri memiliki selera musik yang menunjukkan nilai variabel perbedaan yang tinggi dalam lingkaran sosial, sebagai garis penanda bahwa mereka berada dalam jalan kebenaran mengapresiasi esensi seni dan city pop menyediakan itu, seperti kepemilikan ekuitas yang berhasil diakuisisi oleh seorang investor.
Genre city pop tidak hanya menumbuhkan plastisitas jaring sosial pada self-esteem seseorang yang tersalurkan dalam selera musik, tetapi menyelami bagian optimistik yang tampaknya beberapa tahun belakangan ini (dimulai dari gelombang pandemi), sulit menyala. Baik gen-z maupun millenial mengapresiasi semangat optimistik city pop yang menari-nari, di tengah gegap gempita lagu-lagu masa kini yang terus berorasi dalam gema ketidakadilan, murung terhadap realitas, dan berpeluh mengembalikan tatanan keadilan pada tahta semestinya.
Sulit dipercaya pada era sekarang, gubahan musik yang sepenuhnya bernyanyi tanpa beban mampu menjadi daya tarik, dimana untuk mencapainya saat ini, hanya ada 2 kemungkinan, mengemis belas kasihan pada sistem, atau mengkonsumsi zat substansi dengan dosis tinggi. Singkatnya, city pop seperti tiket eskapisme penerbangan destinasi wisata Jepang 80’an.
Gejolak gelembung ekonomi pemberi kesejahteraan urban yang merancang pernak-pernik pakaian tuksedo glitter mewah dan begitu necis. Berkeliling kota mengendarai Toyota AE86 berkecepatan di bawah 40 mil, menghirup angin sepoi-sepoi musim panas Tokyo, hingga menenggak bir sampai teler di sekitaran klub malam Shibuya.
Rasanya mensubstitusikan musik city pop sungguhan dengan versi AI, tak ayal mengobrak-abrik realisasi imajinasi, menjadi representasi berwujud VR. Meski itu dapat direplikasi dengan baik, bahkan dapat menyajikan pengalaman yang melampaui aslinya di kemudian hari, tapi ada rasa konektivitas emosional dan bobot sejarah dibaliknya yang meninggalkan lubang kosong.
Jika seandainya city pop belum punah dan kembali terkubur seutuhnya, para penikmat city pop saat ini bisa mengenalkan dan menceritakan pada generasi penerus, bahwa ini adalah soundtrack kehidupan yang menggambarkan secara sungguhan realitas dan ekosistem kehidupan perkotaan Jepang yang terjadi puluhan tahun lalu.
Pemaparan aspek deskriptif lanjutan terkait kondisi-kondisi material yang menaunginya, akan menjadi nafas penyambung kehidupan yang menjadi saksi atas persinggungan langsung terhadap udara Jepang 80’an. Sedangkan menceritakan produk-produk city pop versi AI, hanya sebatas pujian akan kemampuan teknologi mutakhir yang berhasil mereplikasi (dimana musisi asli telah melakukan itu puluhan tahun lalu), tidak lebih dari itu.
Ada alasan yang kuat mengapa AI city pop cepat atau lambat akan menenggelamkan city pop sungguhan bila praktik ini terus mencemari. Secara kuantitas yang tersedia di internet, konten-konten ai city pop tentu akan diproyeksikan mengungguli dalam waktu sekejap.
Seperti yang telah disebutkan di atas, kemampuan produksi minim batasan (siapapun bisa membuatnya dengan ambang batas yang relatif setara) dan algoritma menjadi faktor kunci penekanan distribusi konten-konten city pop AI secara masif. Pada titik yang berseberangan, city pop seperti barang koleksian limited yang tidak dapat dibuat ulang kembali secara sembarang.
Tentu masih ada penyanyi pop kontemporer semacam Yukika, Yung Bae, Kaede, dan, KIM A REUM yang berusaha merevitalisasi gaya ini ke dalam reinterpretasi modern. Tetapi, jika terus mengandalkan penyanyi muda mereproduksi gaya yang sama, siklus redudansi terulang kembali, dan meninggalkan komitmen ontologis musik yang lebih luhur dari eksplorasi kemungkinan tanpa batas. Sementara ada masalah terkait legalitas dan hak cipta, untuk mendaftarkan katalog-katalog diskografi city pop tulen berjumlah masif di Youtube maupun DSP.
Salah satu kanal Youtube pengarsip timbunan musik Jepang lawas terbesar, Xearching for Sounds sempat di-banned dari Youtube mengenai persoalan serupa. Kanal tersebut telah berhasil mengumpulkan ratusan ribu subscribers sebelum menerima surat tilang dari Youtube. Meski kini sang pemilik membuat akun baru dengan nama yang sama, eksposurnya menjadi tidak sebesar seperti sebelumnya. Fokus pengarsipan pun telah bergeser condong menampilkan katalog-katalog album pop obskur barat maupun latin.
Tidak semua konten katalog tersedia dalam database Internet, dan tidak jarang para penjelajah harus menempatkan kata kunci huruf kanji dari nama artis maupun judul lagu dan album yang dicari, dimana hal itu sangat tidak ramah dalam garis peraturan SEO. Hal yang tidak memberikan kepastian, bahwa semua katalog akan merangkul lapisan konsumen permukaan. Restriksi geografis mengimplikasikan perbendaharaan katalog musik yang terbatas, menekan content creator city pop tidak bebas mengenalkan lebih banyak ragam katalog pada audience. Bahkan, secara rekursif melimitasi content creator itu sendiri akan mendeobrak cakrawala pengetahuan yang lebih luas.
Posisi seperti ini, jelas telah menguntungkan pihak city pop AI dari keterlimpahan stok yang berjalan secara paralel terhadap proses pembelajaran iteratif yang terus merangkak, mendekati kualitas dari aslinya. Sebagian besar kolom komentar pada konten-konten “Chilly City Pop” condong membahas tentang bagaimana mereka mempersepsikan musik yang dikonsumsi, persis seperti seseorang pertama kali jatuh cinta akan petikan gitar ikonik “Sparkle” milik Tatsuro Yamashita, seakan membawa tubuh berjemur di pantai, atau mengkhayal berdansa di sebuah klub pesta malam Tokyo 80’an, ketika pertama kali mendengar lagu-lagu enerjik Toshiki Kadomatsu.
Implikasinya mengatakan, kualitas city pop AI saat ini, setidaknya telah berhasil mengelabui pendengar yang tidak mencermati secara jeli peristiwa musikal yang terjadi seperti tatanan produksi, penulisan lirik, dan bagaimana kontrapung-kontrapung itu dimainkan atau diletakan. Kesadaran baru bangkit ketika menemukan kejanggalan pada deskripsi setiap judul lagu yang tidak mengarah pada profil artist maupun laman Discogs manapun.
3-4 tahun lalu, tepatnya ketika teknologi generative ai memulai manuvernya pada pasar pragmatis, kualitas produk yang dihasilkan memang menggelikan. Kekurangan data latih, dan pemetaan semantik bahasa yang tidak dibungkus dalam konteks musik yang hendak dituju, menghasilkan ruang kekacuan. Hasil campuran yang buruk, lapisan pemilihan dan kemunculan instrumen brass yang membosankan dan robotik, hingga beat-beat template yang kaku dan tidak mampu membaca situasi.
Startup-startup generative AI musik pendatang, semacam Suno.AI telah membawa tatanan permainan ini ke level berikutnya. Rasanya kinerja dari pemetaan semantik, menunjukkan perbaikan kualitas yang malah akan tampak terdengar seperti terkaan hermeneutik. Seseorang tidak perlu menjelaskan secara panjang lebar, mengenai angka gain atau keseimbangan mid-treble-bass demi menghasilkan suara groovy yang sesuai.
Cukup mencantumkan frasa “city pop” dan “groovy bass” pada prompt, model algoritma dapat melakukan penyesuaian groovy bass terhadap karakteristik musik city pop sungguhan dan mampu membedakan karakterisasi groove dari jenis musik lainnya, katakan rock atau soul. Hal yang sama berlaku pada instrumen lainnya, dan permintaan tuning parameter melalui prompt telah sampai pada taraf chord.
Pemetaan semantik, menunjukkan output yang baik bahkan ketika berurusan dengan kata-kata abstrak bernuansa dan mengandung konten emosi. Algoritma generative dapat membuat partitur-partitur musik city pop hanya dengan menerjemahkan frasa-frasa abstrak semacam “night vibes”, “neon light”, “summer beach”, “melancholic night”. Ini membuka batas komposisional yang lebih lebar, bahwa proses pemograman bahasa alami dalam generative Ai seperti terjadi 2 arah sekaligus.
Selain membuat mesin mampu mengenali konteks bahasa manusia, penghalang dan jargon-jargon teknis teori musik terpangkas, membuat penikmat yang buta akan pemahaman epistemik musik, dapat merancang aransemen utuh. Selain menjadi komposer utama, generative Ai dapat beralih fungsi menjadi asisten yang baik dan serbaguna.
Seperti yang dikatakan seorang pemuda bernama Sho kepada Pitchfork. Sebagai bentuk protes dan kritiknya terhadap kualitas-kualitas musik city pop AI yang beredar, Sho rela menghabiskan waktu puluhan jam hanya untuk mengerjakan kompilasi playlist city pop. Sho memanfaatkan AI sebagai finalisasi karya dasar kreasi musiknya yang telah ditambahkan efek-efek spatial semacam reverb, hingga memasukkan instrumen konvensional yang ikonik digunakan pada karya asli city pop seperti mesin drum TR-808.
Kanal youtube garapan Sho, Beat Flickers menjadi titik kumpul para pelancong musik dari berbagai pelosok dunia yang mencari playlist menemani aktivitas, atau berusaha terhubung dengan visualisasi kehidupan malam yang tak pernah padam. Terlepas dari kualitas yang secara inkremental meningkat, ada beberapa kelemahan dan limitasi yang terkelupas, hingga mengeluarkan sel-sel kabel di balik balutan kulit dan wajah mulus hasil city pop sintetis ini.
Hal paling mendasar adalah masalah akustik suara yang nihil, membuat lapisan pendengaran berhadapan langsung dengan sinyal-sinyal suara yang masih berbentuk gelombang digital dan begitu kentara direkayasa. Vokalnya, terkesan monoton dan text-book, seperti tidak ada emosi yang berkesinambungan. Tidak ada variasi dan improvisasi pada vokal, ketika harus menyanyi dalam bar yang mirip. Terkadang membuatnya hanya terdiri atas 2 bait verse, 2 repetisi chorus dan sebuah bridge minim yang tidak terjahit utuh.
Pembelokan polifonik, ritmis maupun tempo pada instrumen masih absen, menghasilkan sebuah perjalanan statis, seperti menyetir di atas jalan raya raksasa tanpa belokan yang membosankan. Sebagai komparasi ekstrem, “My Prayer” milik Noriyo Ikeda dan “I Love You So” milik Junko Ohashi, menunjukkan bahwa city pop memiliki banyak wajah komposisional kompleks yang terdiri atas perubahan kejutan tempo, improvisasi berskala mikro yang padat di sekitaran instrumen, hingga melejitkan disparitas emosional dan dinamika pada tarikan vokal.
Lapisan-lapisan yang hilang tersebut, bisa disebabkan dari cara kerja algoritma yang tersedia saat ini, bertindak sebagai generalis. Setiap model (dalam kasus ini model generative AI) dituntut agar dapat menguasai dan menciptakan berbagai bidang musik yang ada, tidak ada ruang memperdalam dan menangkap novelitas dari setiap album maupun lagu city pop yang memiliki perilaku di luar kewajaran pada umumnya.
MP3 yang dihasilkan akan tampak seperti sebuah gelas kaca, yang apabila hendak merombak motif maupun bentuknya perlu diproduksi ulang. Saat ini model-model generative AI belum menyediakan proses pengeditan secara langsung apabila hasil kreasi tidak sesuai ekspektasi. Algoritma yang bekerja di balik metode kotak hitam tanpa transparansi, membuat tidak ada rambu-rambu yang jelas memberi peringatan kepada penulis prompt, bahwa ada yang keliru dalam sintaks, yang menghasilkan output melenceng dari ekspektasi. Mau tidak mau, sintaks prompt perlu dirombak sembari berharap bahwa interpretasi model tidak lagi meleset dari ekspektasi.
Perlu hampir setidaknya 3 dekade untuk menggali katalog-katalog city pop dari reruntuhan sisa periode gelembung Jepang, membersihkannya dari stigma-stigma musik pasaran dan cheesy, memolesnya menjadi secercah harapan optimisik bagi generasi penerus di tengah turbulensi yang bergejolak.
Kehadiran musik city pop yang hanya di buat di atas tumpukkan logika dan pemrosesan bahasahanya akan membuat artist-artist city pop kembali terlupakan (bahkan terkubur selamanya), tergantikan oleh humanoid berwujud pemuda-pemudi Jepang yang bernyanyi sambil tersenyum tanpa mengetahui konten emosional dibaliknya mengapa mereka harus merasa riang gembira. Ini pada akhirnya mengembalikan awan gelap stigma city pop sebagai musik fabrikasi yang bertahan sesaat.
Mungkin argumen ini belum terasa relevan saat ini, ketika penyanyi city pop sungguhan masih berdiri secara berdampingan dengan para humanoid. Tapi bayangkan jika seandainya pertumbuhan eksponensial dari konten-konten city Pop AI terus konsisten, Akan sangat sulit untuk menemukan artist sungguhan dari tumpukkan robot yang semakin menguasai ceruk dominan pengertian kata dari “city pop” itu sendiri.
Bahkan kesadaran untuk “menemukan penyanyi sungguhan city pop” bisa saja lenyap, ketika tidak ada lagi yang tersisa, berdiri di atas permukaan. Meski Youtube telah mengubah kebijakan dengan itikad melimitasi produksi konten-konten AI, namun tidak ada perubahan signifikan yang berdampak. Selama algoritma pemberi sugesti saran bertumpu pada variabel similaritas yang bersifat mempertahankan watch time, dibandingkan variabel serependitas dan novelitas yang mendorong interaksi dengan hal eksploratif, orang-orang akan terus didorong menuju imitasi kota Jepang 80’an yang seutuhnya berlumuran campuran baja dan besi perak.
Menolak city pop AI dengan dalil kualitas yang buruk juga menunjukkan argumentasi yang inkosisten dan tidak tulus. Bahwa cepat atau lambat masalah terkait fidelitas dan kualitas ketangkasan aransemen akan dapat teratasi. Sehingga pada titik ini, seharusnya memunculkan rasa keberanian sikap yang inheren akan memandang city pop tidak lagi didasarkan pada barang bagus atau buruk, tetapi ada konten sejarah dan emosional yang mungkin hanya akan bisa dijelaskan dalam taraf metafisis dan fenomena psikologis rumit. Tidak ada cara lain mengartikannya selain merasakan resonansinya secara langsung dari setiap tutur yang melangkah dari balik perangkat pemutar suara.
Baca Juga : Playlist City Pop Jepang Pengarung Kehidupan Malam





