Abstrak-Evinha-Cartão-postal-Cover

” Evinha, mempercayai cinta sebagai ladang panen kesuburan bagi universal, sebagai langkah yang mencegah kewajaran agar tidak berubah menjadi sesuatu yang utopis.”

Ketenaran terkadang seperti amfetamin yang mendatangkan kenikmatan dan halusinasi berada di tempat tertinggi sesaat, untuk kemudian ditenggelamkan kegelisahan, kesepian, dan penyerahan sepenuh jiwa menjadi budak. Sayangnya para seniman telah mengantri sedemikian lama tanpa diberitahu seberapa batas dosis yang perlu mereka tenggak, agar tidak merusak syaraf kewarasan. Tetapi tidak semua, yang setengah gila mencarinya dapat menggenggamnya, ketenaran bisa seperti nomor undian lotre yang tidak terduga, sehingga kebijaksanaan yang seharusnya menjadi masinis, justru menjadi gerbong paling belakang.

Penyanyi sekaligus penulis lagu, Eva Correa Jose Maria (Evinha), tidak pernah mengira, bahwa semua sorot lampu berbinar dan siulan pujian itu tertuju untuknya. Dia telah merasa cukup bahagia, ketika menjadi bagian bisnis keluarga sebagai salah satu penyanyi grup MPB / bossa nova 60’an, Trio Esperança bersama ke-2 saudaranya. Kebahagiaan sederhana Evinha, terhenti sesaat, ketika sang adik, Marzinha mengandung pada tahun 1968, menghantarkan Trio Esperança pada masa hiatus sesaat, dan Evinha seperti melintasi keluar gerbang taman Eden, membangun karir solo dari tanah kosong.

Setahun berselang, Evinha menjuarai kompetisi menyanyi Festival Internacional da Canção k-4, dengan membawakan lagu “Cantiga por Luciana”, melejitkan namanya menjadi salah satu ikon penyanyi nasional Brazil. Alih-alih berambisi menjadi manusia setengah dewa, Evinha menjadi masyarakat biasa yang asketis terhadap bentuk glamorisasi. “Cartão postal” selaku album studio ke-3 nya ini, menggaet armada musisi MPB legendaris Roberto Carlos, Marcos Valle, Beto Guedes, Guttemberg Guarabyra, dan Erasmo Carlos, sebagai penghormatan setengah bungkuk terhadap tradisi dan sejarah. MPB hanyalah labelisasi atas musik Brazil pasca perang Dunia ke-2, sebagai upaya modernisasi. 

Abstrak-Evinha-Cartão-postal

Tetapi jika di dekonstruksi pada presentasi album ini, MPB melantaikan musik samba maupun bossa nova yang bermutasi pada musik soul daerah utara yang lebih keras, funky, dan ritme berdegup kencang yang menggores permukaan irama ketegasan rock. Bossa nova sendiri juga berhutang pada pergerakan jazz Amerika, yang semakin mengukuhkan representasi MPB sebagai bentuk budaya nasional hasil apropriasi. “Cartão postal” mengalami peristiwa yang serupa, dan didorong oleh gaya rekaman berdesis, suara drum maupun gitar yang tetap menggigit, meski lapisan alat gesek dan tiupan saksofon terkadang meromantisasi atmosfer menjadi feminim dan berseri-seri. Mengingat kapabilitas Evinha duduk berdampingan dengan para praktisi berpengalaman, sudah tentu pendekatan rekaman dibangun secara metodis. Hentakan dan kementahannya, menjadi potret kegembiraan kecil dan pertikaian sederhana, disekitar dinding distrik ghetto yang tetap berusaha rasional dan bahagia, dikala represifitas material mengintai. 

Evinha, secara personal dan bebas berceloteh mencari, menemukan, dan merawat cinta yang benar-benar menjadi satu-satumya keterusikan tema album. Tidak peduli seberapa kaleidoskopik dan padatnya instrumen yang dimainkan bersamaan, vokal Evinha selalu terangkat dengan kebersahajaan lirik-liriknya yang berterus terang pada sisi emosional. Sepanjang album Evinha tidak meletakan topeng apapun, bahkan dia tidak berusaha menutupi keluguannya, ketika menyanyikan lirik: “Hari ini aku tidak lagi tahu apa yang kupikirkan / apa yang kuinginkan/apa yang kucari / Aku sangat ingin menjalani masa depanku bersamamu” dengan setengah mabuk pada “Esperar prá ver”. 

Pada “Tema de adão”, dia sama sekali tidak bergeming dalam dendam dan nihilitas dari kebohongan cinta diterimanya. Sebaliknya, memimpikan keabadian simbolik cinta luhur dengan berseru “Dan aku akan menjadi Hawa untukmu” pada calon pria yang berani memandang apa adanya. Evinha telah menemukan penawar kedengkian pada “Cartão postal”, yang memimpikan cinta yang saling terpenuhi. Harmoni vokalnya bertumbuh menjadi sensasi plaintive, dengan gesekan string yang membelai kemana vokal bermuara. Evinha, mempercayai cinta sebagai ladang panen kesuburan bagi universal, sebagai langkah yang mencegah kewajaran agar tidak berubah menjadi sesuatu yang utopis. Dia bahkan mendedikasikan dirinya menyanyikan mengenai harapan dan dengan eksplisit menyatakan dorongan radical break, ketika suaranya lebih mengeras pada “Feira Moderna”, atau melambai dalam kebahagian dan harapan marching drum yang samar-samar tumbuh pada “Olha o Futuro”. 

Baca Juga : Margo Guryan – Anak Bungsu Jazz, Yang Telah Berpaling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *