Jürgen Müller – Komposer Yang Terlahir Kembali Dari Bawah Laut
Ivander Yoshua
Images by: freepik.com
“Seumur hidup… saya bersyukur memiliki kesempatan yang sangat langka bertatap muka dan berbicara secara langsung dengan seorang yang mampu menghubungkan idealismenya, terhadap ketulusan akan proyeksi pikirannya yang selalu dipenuhi melodi dan nada-nada yang brilliant setiap saat. Setiap kali dia menceritakan proyek ambisiusnya yang futuristik sekaligus meluhurkan kehidupan naturalistik yang termarjinalkan, saya hanya bisa menganga, sembari kembali bertanya, ‘apa kau serius dengan semua ini?’ dan di saat itu juga, ketulusan dan keberaniannya selalu berhasil meyakinkanku akan setiap langkah yang ia ambil.” Peter Blanque (komposer, teorikus musik).
2 Maret 1981 di Universitas Kiel, Schleswig-Holstein, Jerman, seorang mahasiswa bernama Jürgen Müller baru saja meninggalkan ruangan dosen sembari menggenggam berkas dokumen berwarna merah di lengan kirinya. Dia baru saja selesai menjalani proses legalisir pengesahan proposal proyek tugas akhirnya sebagai calon lulusan mahasiswa oseanografi.
“Jürgen…, adalah pria ramping paling pemalu yang pernah kukenal seumur hidupku. Saya selalu mendapati dirinya sering mengurung diri di kamar, mengutak-atik piano elektrik, dan synthesizer sampai larut malam. Dia jarang berbicara, tapi dia merasa lebih antusias untuk membicarakan mengenai musik maupun kehidupan-kehidupan di laut yang jauh dari kehidupan keseharian kita, dibandingkan membicarakan mengenai mode, atau mobil keluaran terbaru. Dibalik perangai dan sorot matanya yang seolah tidak berani menghadapi orang berlama-lama, tersimpan ambisi yang menggebu-gebu. Dia pernah bercerita padaku, bahwa suatu hari dia berhasrat mewujudkan perpustakaan mahakarya musik elektronik untuk digunakan sebagai soundtrack produsen film-film dokumenter mengenai peradaban yang tak terpikirkan berdampingan bersama kita.” Jean Müller (Kakak kandung kedua Jürgen Müller).
Hari penantian kini telah tiba, dibalik kertas tulisan yang terselip dalam map merahnya yang tak sampai 5 lembar, Jürgen Müller memutuskan melakukan penelitian terkait deteksi kadar toksisitas yang berada di laut utara, dan kemudian mereplikasi dinamika ekosistem yang terjadi untuk diprogram dalam gerakan musik elektronik penganut sekolah Berlin, dan mendekatkan diri pada kontemplasi ambient penuh nuansa meditatif dan minimalis. Dia menulis dengan penuh keyakinan dan ketelitian, bahwa selain menjadi tempat akan kehidupan dan peradaban makhluk hidup kedua, laut memiliki lapisan emosi dan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dalam ocehan belaka. Untuk menggenapi hipotesanya itu, Jürgen Müller mengusulkan pendekatan auditori sebagai penyalur ekspresi yang paling resonatif terhadap emosi dan perasaan.
Dengan hanya membawa peralatan selam, alat dokumentasi, perbekalan secukupnya, dan kapal transportasi sederhana, Jürgen Müller bersama ke-3 rekannya, mulai melakukan penelusuran kehidupan di bagian laut lepas utara. Mereka memutuskan pergi pada musim panas, ketika gelombang laut lebih tenang dan aktivitas ekosistem kehidupan bawah laut gamblang terlihat dan indah dipandang bersamaan hamburan sorot cerah matahari yang membuatnya menjadi semakin kemilau. Setelah kurang lebih 6 bulan meneliti kawasan laut utara, Jürgen Müller beserta rekan menuju daratan untuk melakukan finalisasi proyek terakhirnya, mengubah semua temuan dan informasinya menjadi denyut orkestra yang keluar dari peralatan elektronik yang dia pinjam.
“Ya, saya mengenal dia… (Jürgen Müller), saat itu banyak mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas musik berdatangan menghampiri saya untuk sekedar meminjam peralatan elektronik bereksperimen atau sekedar meminta saran mengenai teknik komposisi sebagai penyelesaian pekerjaan rumah mereka. Tapi anak ini , membuat saya betul-betul terkejut. Dia datang sebagai mahasiswa bidang kelautan, yang justru meminjam peralatan musik elektronik tanpa bertanya lebih lanjut, seolah dia sudah tahu persis apa yang dilakukannya.
Aku bertanya-tanya, ‘apa yang sedang dikerjakannya?’ ‘sejauh mana yang ia tahu tentang musik elektronik?’ Dan aku pernah berkesempatan berbicara dengannya, dimana tadinya aku berniat memberikan masukan-masukan mengenai teknik komposisi musik elektronik, tetapi setelah berbincang dengannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam saja, saya yang justru merasa perlu belajar banyak darinya dan merasa apa yang saya pelajari selama ini perlu direvitalisasi….” Leonard Bauer (dosen musik, produser, komposer).
Jürgen Müller tidak pernah mengenyam pendidikan musik secara formal… Pengetahuannya semata didapat atas dedikasi dan ketekunannya mendengarkan banyak karya-karya musik hebat dari berbagai era, menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan untuk mencari pemahaman epistemik musik dan mengaplikasikannya dalam bentuk yang pragmatis di balik eksperimen bilik kamar hingga larut malam. Bersamaan dengan tumbuhnya antusiasme musikalitas Jürgen Müller pada dekade 70’an, ekosistem musik Jerman mulai memasuki disrupsi hebat.
Sebuah era yang tak pernah terlihat pada zaman sebelumnya…. Manusia semakin mempercayakan ekspresi emosi dan kreativitasnya kepada alat-alat elektronik dan komputasi cermat sebagai perpanjangan kreativitas yang intensif. Gerakan seperti sekolah berlin yang kemudian terspesifikasi dan bergeser sebagai konvensi bernamakan krautrock telah menginspirasi penggunaan synth dan alat-alat musik berpapan sirkuit elektronik yang mengambil kemudi kurva-kurva melodi maupun harmoni itu digariskan dalam musik.
“Saya rasa… ini adalah respon tebal atas kejenuhan dari gerakan musik rock yang selalu memaksakan diri tampil secara maximalist. Saya tidak habis pikir, bahwa musik rock semakin hari semakin memuakkan dan kaku akan topeng maskulinitas mereka yang usang. Entah dalam kondisi apapun, para pria gondrong urakan ini, harus senantiasa mengatur knob volume speaker mereka dalam sudut 180 derajat, mengatur preset-preset distorsi gitar yang hanya menghebohkan secara momentum, dan berteriak nyaring melebihi suara ibu mereka sendiri.
Mereka menyebut diri mereka sebagai seniman dan pahlawan disaat bersamaan, tetapi mereka hanya mabuk, dan berpesta semalaman, sambil terus memperlakukan wanita sebagai komoditas penanda teritori kekuasaan mereka. Glamoritas telah memaksa rock untuk selalu tampil bak seperti Achilles, menelanjangi kejujuran, dan efek buruknya berkontemplasi pada adiksi alkohol dan zat-zat terlarang, yang saya sebut sebagai sirkularitas seppuku yang terkutuk.” Franz Fuchs (kritikus musik dan etnomusicologia asal Jerman).
Sudah bertahun-tahun lamanya, setiap speaker maupun alat pemutar musik di sudut kota dan stasiun radio Jerman, selalu memutar ulang hits lagu-lagu rock Amerika dan rock Invasi Inggris (terkhusus di wilayah Jerman Barat), sementara adegan musik di Jerman sendiri, masih begitu tertinggal dengan senantiasa berkutat dalam ritme rockabilly ala Chuck Berry, atau musik-musik pop dan folk yang sangat berorientasi pada periode-periode besar musik barat di abad terdahulu. Modernisasi mode dan gaya preferensi musik anak-anak muda Jerman, telah secara disadari atau tidak dikendalikan oleh produsen musik-musik negara dan benua tetangga, satu dari beberapa hal yang sedang dalam masa transisi pemulihan pasca perang dunia ke-II yang belum kunjung menemui titik equilibriumnya.
Suatu hari.., panoramic kota berbeda, suara-suara distorsi gitar melipir dari himpitan organisasi nada yang berhamburan. Minim presensi vokal atau bahkan dimanipulasi dalam sinyal audio yang merekayasa suara manusia menjadi robot, dan letupan drum dari kulit, bertransformasi pada tekstur yang terasa sintetis dan terelektrifikasi. Biasanya para pekerja kerah biru hanya berinteraksi dengan piranti robotik ketika memasuki masa kerja, seiring dengan peningkatan elektrifikasi di ranah industrialisasi dan konstruksi yang terus ditekan eksplosivitas kegunaanya. Tapi kini, interaksi-interaksi yang orang sebut sebagai terawangan masa depan manusia, mulai menggema dari balik instalasi perangkat audio mereka, menandakan masa depan… kian mendekat dalam dekapan setiap orang.
“SOME SKEEZIX dari salah satu harian lokal berada di sini beberapa hari yang lalu, untuk mengerjakan cerita “minat manusia”, dan tentu saja penerbit kami yang dermawan memanggil saya ke kantornya untuk menjawab edisi ini dari melayangkan sebuah pertanyaan abadi: ‘Ke mana arah musik rock?’ ‘Ini sedang diambil alih oleh Jerman dan mesin-mesin,’ jawabku tanpa ragu.” (Lester Bangs, ex-jurnalis Rolling Stone, ex-jurnalis Creem 1975).
Ketika Kraftwerk datang dengan mengenalkan “Autobahn” (1974), saat itu juga kritikus-kritikus musik telah meramalkan itulah awal dari peradaban musik yang baru. Tidak sedikit kritikus yang melayangkan pernyataan-pernyataan negatif atas rilisnya “Autobahn” sebagai upaya dehumanisasi musik yang mencoba menjauhkan sisi kreasi manusia, menjadi ketergantungan atas suara-suara mesin yang menurut mereka tidak memiliki presensi jiwa di dalamnya.
“Saya lelah membaca dan melihat editorial-editorial musik rock, yang kian hari hanya menyajikan sampah dan limbah gosip infotaiment. Saya berpikir bahwa jurnalis musik rock adalah manusia paling hipokrit yang pernah ada. Mereka lebih tahu tentang apa warna pakaian dalam Robert Plant dan menulisnya dalam sebuah essay 700 kata menggunakan heading font berukuran raksasa, atau gosip baru seorang rocker yang mengencani seorang wanita random yang baru ditidurinya dalam keadaan mabuk, dan di satu sisi mereka meyakinkan para remaja polos, bahwa musik rock adalah evolusi musik saat ini. Apakah jurnalis-jurnalis ini menggunakan LSD atau menyuntikan beragam zat psikotropika setiap kali menuliskan opininya?
Sekarang mereka membicarakan apa yang sama sekali mereka tidak paham, dan semakin jelas bahwa mereka tidak memiliki kualitas dan kapabilitas inheren apapun berbicara mengenai musik, selain berperan sebagai agen humas sewaan untuk meyakinkan mendengarkan musik berdistorsi itu adalah sesuatu yang paling keren dan berseni. Para begundal ini menyerang “Autobahn” sebagai agen dehumanisasi, tetapi mereka sama sekali tidak menggali subtantifnya mengapa album ini lahir.
Jelas ini adalah periode transisi Kraftwerk dari era komputasi musik mereka yang acak dan eksperimental menuju pengkondisian material yang lebih solid akan proyeksi dari kehidupan industrialisasi Jerman yang telah membaur menjadi keseharian. Pemuda-pemuda ini sedang merekonstruksi ulang konteks tradisi dan budaya Jerman, pada ranah modernisasi yang dapat lebih diterima, bahkan ada semacam proyeksi futuristik yang menjadi pilar optimistik Jerman berikutnya yang sedang berusaha kembali membangun reputasinya.
Tentu hanya sedikit jurnalis rock yang benar-benar memiliki pemikiran berbobot memandang musik dalam ranah multidisipliner sebagai agen budaya dan gerakan sosial. Sisanya, kehidupan kritikus musik rock hanya melihat musik sebagai komoditas pengiring sempurna untuk adegan seks para rocker yang serampangan dan tidak beradab itu, lalu kemudian tolak ukur yang mereka gunakan adalah keberhasilan mendatangkan jutaan dollar ke meja label rekaman yang selalu tidak membayar penuh intensif artistnya.” Franz Fuchs (kritikus musik, etnomusicologia asal Jerman).
“Autobahn” telah membawa Kraftwerk pada pencapaian yang lebih komersil, kuartet ini kemudian dikontrak oleh label EMI dan mendirikan anak perusahaanya sendiri, Kling Klang sebagai perjanjian lisensi global yang berdiri di bawah bendera Electrola untuk wilayah Jerman, Swiss, dan Austria. Bisa dibilang “Autobahn” satu dari sedikit rekaman elektronik yang mampu melepaskan persepsi musik elektronik sebagai tabung eksperimen para ilmuwan, berevolusi menjadi alat-alat dan piranti elektronik yang menemani dan membantu kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan kritikus rock lainnya, Bangs dalam sentimen jawabannya yang meninggi dalam corak distopian, mengatakan inilah titik keberangkatan kiamat bagi musik rock. Dan seketika perkataannya mau tidak mau menjadi sebuah nubuat yang diterima, era para satria bergitar dan para superstar bercelana denim telah berangsur-angsur menurun untuk wilayah pasar Barat. Kraftwerk hanya sebagai dampak residual, setelah kerja keras bertahun-tahun dari generasi pendahulunya yang akhirnya berhasil menelurkan sebuah perwujudan karismatik dan ramah terhadap kultur pop, atau bahkan sebagai antidote yang dicari-cari masyarakat Jerman selama ini, untuk menjawab kegundahan mereka yang sedang mengalami pemulihan dalam masa post-power.
Salah satu kolektif yang paling berpengaruh atas retentan kesuksesan ini ialah Tangerine Dream, orang menyebutnya sebagai sang prodigi dari wilayah dataran rendah Berlin. Tidak hanya sekedar menjadi segelintir grup yang mencari peruntungan dalam persaingan peta global musik, Tangerine Dream secara telaten melahirkan pemikir-pemikir dan komposer visioner dalam gerakan musik elektronik yang sedang bergerak menuju arah modernisme dan mengatur arah kemudi akan kemana masa depan musik berlabuh…
“Saya melihat Tangerine Dream, seperti kultus para inovator. Saya telah banyak menyaksikan komunitas, proyek band maupun konvensi para musikus seumur hidup saya…, tetapi apa yang dilakukan Tangerine Dream sangat berbeda di jamannya. Saya tidak ingat berapa banyak band yang memiliki banyak talenta-talenta jenius di dalamnya, Edgar Froose; dia selalu terobsesi dengan hal yang bersifat transenden dan esoteris, Michael Hoenig; selalu menyukai hal-hal sinematis dan mampu memberikan pengalaman dokumentasi yang membuat orang selalu berkhayal menerobos masuk pada dimensi pikiran dan cakrawala dunianya yang tak terbatas dalam bentangan galaksi, dia sangat menikmati perjalanan crescendo-nya dalam ketabahan dan sangat paham mengatur ledakan klimaks yang sangat layak ditunggu, Klaus Schuelze; seperti seorang anti-natalist yang sedang meyakinkan hipotesisnya untuk berkaca pada belantara kosmis yang gelap dan sesak akan absurditas; Conrad Schnitzler; saya mengira dia seperti komponis impressionist yang banyak melakukan hal-hal gila dan memberontak terhadap era sebelumnya, tetapi masih ada sebuah kontur yang dipertahankan, terhindar pada aktivasi konjungsi pergerakan abstraksi spektral belaka.” (Husf Strüver, ex-editor majalah Cruz, penulis, kritikus musik Jerman).
Mereka bereksplorasi pada keheningan, sebuah gerakan yang lebih teratur dan sabar dalam merotasi kanonisasi nada, dan fasilitator rentang waktu dan ruang untuk emosi mengekstrapolasikan fantasi dan turut merasakan getaran emosi suara yang belum pernah diterima sebagai sensasi indera. Para komposer telah bekerja mati-matian untuk meminta bantuan pada mesin, agar mereka dapat sesegera mungkin melancong jauh dari hiruk pikuk industrialisasi dan konstruksi, mendirikan kemah dan tenda di sekitar alam-alam atau sungai yang jarang dihiraukan oleh produktivitas harian.
Mereka bisa saja mendapat diagnosa setengah gila, tetapi hanya mereka saat itu yang benar-benar memikirkan bagaimana mekanisme sebuah ekosistem bekerja dan berhutang untuk membuat musik sebagai timbal balik hasil observasi mereka. Tetapi apa yang lebih hebat dari kisah mereka merevolusi musik? Semuanya diserahkan pada keterbatasan intuitif mereka yang tidak terasah dalam pisau pendidikan formal maupun mendapat wahyu dari membawa pulang sekantong asam garam pengalaman. Semua dimulai pada masa membujang, suatu periode yang selalu tersimpang antara kerentanan memasuki kesadaran semu, atau mengalienasi diri dari realitas holografik ini, menemukan cara baru dalam memandang dunia, dan Tangerine Dream menteleportasikan pikiran dan tubuhnya pada pilihan ke-2.
“Saya rasa, untuk pertama kalinya Jerman berhasil menemukan proyek pencerahannya dan ironisnya itu lahir dari bidang yang secara tidak sengaja diinstitusionalisasikan. Para pelopor krautrock, saya rasa hanyalah dampak kecil dari serangkaian efek domino sejarah panjang Jerman yang muncul selama ini. Dalam bidang intelektualitas, Jerman pernah dilanda fase pencerahan, ketika para Filsuf menyodorkan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai alat untuk pembebas realitas mereka yang distortif dan semuanya adalah upaya melahirkan sebuah kebenaran tunggal yang berlaku. Kant selalu bersiteguh dalam kategoris imperatifnya, bahwa pada dasarnya ada sesuatu yang secara absah menjadi rasio yang secara inheren muncul,
Hegel;menggali kembali struktur sejarah dan kesadaran, hingga Marx; yang mempertanyakan dasar sesuatu atas basis material yang mempengaruhinya. Kemudian capaian ini diperpanjang pada pasca perang dunia ke-II atas parafrase sejarah Jerman yang terombang-ambing, menyesatkan sesaat identitas budaya mereka. Tidak heran mengapa Kraftwerk mengatakan upaya mereka adalah penggalian kembali untuk menemukan suara yang murni, atau para pengusung krautrock yang mengklaim pencarian mereka untuk kembali pada alam, atas itikad membawa kembali suara darimana tempat berasal, itu semata adalah proyek pencerahan yang mendekatkan suara pada interaksi dan realisasi yang lebih objektif dan penyelidikan menyeluruh. Dan itu juga mengartikan pada penemuan kembali kepemilikan identitas budaya Jerman yang sempat menguap.” Franz Fuchs (kritikus musik asal Jerman).
Dibalik kilauan permukaan laut utara yang hening, terlihat beberapa areal terkontaminasi oleh genangan cairan kental berwarna coklat tua hasil dari hibahan minyak mentah yang senantiasa luber sebanyak ratusan barrel setiap jamnya. Jürgen Müller mengambil serum zat itu untuk mendeteksi kandungan senyawa yang tersebar dan melakukan rincian analisa lebih lanjut terkait konsekuensi dan pasca pemulihan yang dilalui. Menjauhkan kapal dari gumpalan toksisitas berasal, Jürgen Müller mulai menyelam kedalaman 20 kaki dari permukaan. Dari ekosistem yang jauh dari jangkauan tangan manusia, Jürgen Müller menemukan rasa penghormatan dan terima kasih akan peletakan batu pertama tradisi budaya musik Jerman yang baru di wilayah yang sama sekali tidak terduga.
Dia telah menemukan kepingan resonansi suara yang selama ini absen, menemukan simfoni-simfoni indah dari gesekan buih-buih air mengudara, gerakan tanaman yang melambai dan gelombang-gelombang air yang dihasilkan dari aktivitas migrasi koloni ragam spesies ikan serta makhluk laut lainnya. Semuanya terekam begitu jelas, meski gelombang air membuat pandangannya kabur. Selama hidupnya menjadi komposer elektronik serabutan, Jürgen Müller telah mengarsipkan begitu banyak catatan dan coretan isi pikirannya yang tumpah bersatu dalam buku catatan bersampul biru tua.
Catatannya terbagi atas 2 fase, fase pertama ketika Jürgen Müller berada dalam masa studi pengembangan rencana riset akademiknya, fase kedua adalah fase ekstensi, dimana dia merasa apa yang didapatnya dalam studi penelitian toksisitas di laut utara belum cukup, karena fokusnya yang terdistraksi. Sehingga untuk menggenapi penemuan yang exceptional, Jürgen Müller melakukan perjalanan menuju laut Indo-Pasifik, dan kanalisasi sungai-sungai yang terkenal akan habitat dan keberlangsungan hidupnya. Tetapi sebagai manifesto konkrit atas saduran coretannya yang tercecer, kelahiran “Science of the Sea” sebagai album semata wayangnya adalah proses penggenapan idenya yang selama ini melayang-layang di antara pikiran yang bebas dan ambisinya yang kembali digali dan ditemukan dari kolong lautan.
“Saya, tidak tau apa yang membuatnya menjadi sosok yang begitu pemalu, apalagi menimbang segala kelihaian dan keahliannya yang dia miliki sejak saat masih muda, seharusnya dia perlu menjauhkan rasa minder-nya. Tapi aku menjadi salah satu orang yang diberikan piringan hitam rekaman cetakan pertama, “The Science of Sea”. Bahkan dia terlebih dahulu meminta konsensus diriku atas ketersediaan untuk mendengarkan karyanya dan itu terdengar menggelitik bagiku. ‘Tentu dengan senang hati aku menerimanya’.
Saya mungkin hanya pernah berbicara dan bertemunya beberapa kali, dan dia juga dikenal sebagai mahasiswa oseanografi yang lebih senang bergaul dengan para komposer, tapi terus terang setiap dia mulai berbicara, saya selalu mengaguminya, dan firasatku tentang itu terbukti benar ketika “The Science of Sea” baru saja membuat jarum pemutar vinyl ku berputar 360 derajat dalam waktu kurang dari 2 menit”. Peter Blanque (komposer, teorikus musik).
Sebagai proyek pilot untuk realisasinya menembus pasar produsen film dokumenter, Jürgen Müller memproduksi “Science of the Sea” berjumlah 100 keping piringan hitam. Satu sisi yang menampilkan sisi kelembutan sekaligus menjadi faktor yang menyumbat sirkularitas populasi karyanya dapat dijangkau luas, Jürgen Müller terlalu jujur, dia tidak menyukai pekerjaan sebagai humas atau agen penjualan yang berusaha melakukan trik-trik manipulasi pasar untuk meyakinkan musiknya adalah sesuatu produk mutakhir, revolusioner, dan WAJIB didengar oleh setiap orang yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan karyanya. Jürgen Müller bahkan hanya diantar teman seperkuliahannya menghampiri tempat percetakan piringan hitam, dan sama sekali tidak ada kesepakatan kontrak label yang ditandatangani, ketika cetakan pertama dirilis. Dengan kata lain, Jürgen merekam semuanya seorang diri, menguras tabungan pribadinya, dan berdiri sebagai seniman dengan etos D.I.Y.
“Anda mungkin bisa saja mengatakan orang gila mana.. yang malu untuk memperjualbelikan emas dan berlian, tapi aku pernah merasa di fase ini selama beberapa bulan menemani Jürgen Müller mempromosikan karyanya. Pernah di suatu sore, dia berencana ingin bertemu dengan salah satu kolega lamanya yang berprofesi sebagai instruktur musik di kota dan memintanya untuk mendengarkan karya buatannya, alih-alih langsung menghampiri dengan rasa kejutan, dia justru menelpon kerabatnya terlebih dahulu, meminta persetujuan dengan nada yang malu-malu, dan kemudian meminta saya untuk menemaninya. Sungguh jarang sekali seorang jenius yang memiliki kerendahan hati seperti dia” (Joseff Hughes, teman seperkuliahan Jürgen Müller).
Satu-satunya langkah promosi publik yang sempat ditempuh Jürgen Müller adalah ketika dia memberanikan diri menelpon beberapa produser film dokumenter dari kenalan kerabat-kerabatnya untuk meminta ketersediaan melibatkan album “The Science of Sea” dalam proyek dokumenter yang mereka garap. Sayangnya dari sekian penawaran yang dibuat, tidak ada satupun produser mengiyakan tawarannya. Alasan klisenya, mereka telah memiliki tim komposer sendiri, atau tim produser tidak bertanggung jawab penuh atas divisi penata suara.
“Saya sebenarnya sangat ingin menanyakan hal ini padanya, tapi mungkin saya selalu mengurungkan niat atas ketakutanku yang bisa membuatnya tersinggung, tapi saya pastikan itu bukan datang dari latar belakang lingkungan dan pola asuh. Kehidupan kami semasa kecil sangat berkucupan dan memiliki hubungan yang baik, Adikku sangat dekat dengan Ayah dan Ibu, bahkan ketika semasa kecilnya, dia begitu manja pada ibunya. Tetapi, entah mengapa dia jarang sekali menceritakan masalah hidupnya sejak beranjak remaja.
Yang saya lihat, dia mungkin tipe orang yang enggan menyusahkan orang lain, dan memang pemalu. Tapi buktinya hari-harinya selalu berjalan baik, saya sama sekali tidak pernah mendapatinya dalam fase murung atau depresi berat, meski interaksi kami berkurang atas kesibukan yang dijalani dan sifat tertutupnya. Sampai suatu ketika saya menemukan catatan buku pribadinya yang tergeletak di atas meja belajarnya. Rasa penasaran saya mencuat, untuk melihat apa yang ditulisnya selama ini. Ketika mulai membalik beberapa halaman dari catatan itu, saya melihat anak ini ternyata punya keberanian dan daya pikir yang sangat liar dan sulit dimengerti. Sampai akhirnya, saya membuat kesimpulan anekdotal, mungkin alasan dibaliknya enggan berbasa-basi, karena dia menganggap lawan bicaranya tak cukup pandai dan sepadan untuk mengimbanginya, dan sialnya, mungkin aku jadi salah satu orang yang dimaksud adik kecilku itu…… (tertawa)” Jean Müller” (Kakak kandung kedua, Jürgen Müller).
“Science of the Sea” tidak lebih panjang dari durasi 1 babak pertandingan sepak bola, tapi itu merupakan hasil evolusi pikirannya atas embrio yang menetas dan mulai berenang-renang pada riak-riak neuron yang meresap bersamaan dengan aktivasi plastisitas setiap orang yang mengangguk pelan, menumbuhkan setiap bisikan suara kolong laut kaya akan keanekaragaman dan kisah-kisah menarik. Catatannya menjadi kotak hitam yang terburai, sebagai catatan kaki referensi proposisi arsitektural soniknya yang cermat, tertata, dan terukur, mendokumentasikan proses otopsi pembedahan meta-kognisinya dalam membentuk kongruensi antar suara, alam sekitar, pemikiran, dan muatan emosionalnya.
“Saat saya pertama kali berkelana di laut utara, tentu saya menemukan banyak sekali genangan zat dan minyak yang bertumpahan di atas laut biru yang luas dan tampak tenang itu. Saya tentu saja geram dan mengutuk mereka yang membiarkan perbuatan keji dan amoral semacam itu terjadi, bahkan saya sempat sesak nafas mendapat informasi tambahan dari warga setempat dan temuan saya sendiri, zat yang dibuang mencapai ribuan ton yang terdiri atas minyak mentah dan zat-zat dan semuanya yang hanya memakan waktu 2 jam saja, anda bisa bayangkan tentang betapa tercemarnya ekosistem laut ini, yang diperparah oleh arogansi birokrasi dan ketidakpedulian antroposentris dalam skala korporasi yang tidak bermoral itu?” (Dalam Catatan : “ Wasserwelt”, Bab “Jenseits des stormes”, pp.3).
Laut utara…. selaku jantung perairan bagi negara-negara wilayah Eropa Barat dan Utara. Letak geografisnya yang strategis dan vital justru menimbulkan kerentanan akan potensi kemunculan aktivitas toksifikasi secara berkala. Laut itu menggenang di antara himpitan negara-negara maju yang mengembangkan pemerataan industrialisasi besar-besaran. Laut Utara menjadi destinasi migrasi terakhir dari hibahan limbah-limbah yang dibuang melalui sungai-sungai atau secara langsung mencuat dari pipa-pipa pembuangan dari dasar laut yang bocor. Meski ada upaya detoksifikasi yang secara berkala menurunkan angka pencemaran untuk sementara waktu, siklus toksifikasi selalu berulang antara setiap dekade.
Salah satu bencana yang paling besar datang dari tumpahan minyak lepas di platform Bravo, pada 22 April 1977. Tumpahan minyak itu berasal dari lapangan minyak Ekofisk, yang berdomisili di sektor Norwegia. Kecelakaan ini terjadi akibat ketidakcakapan yang terjadi selama proses pemeliharaan rutin sumur B-14. Sebuah katup pengaman bawah tanah yang berjarak 50 meter di dasar laut tidak terinstalasi dengan memenuhi standar. Gelontoran limbah yang terus menerus disalurkan melalui pipa membuat tekanan gas melonjak, mementalkan katup tersebut menuju dek rig, minyak mentah dan gas bertumpahan tidak terkendali selama beberapa saat, menaiki dasar laut dari ketinggian 50 meter, dan mengapung bebas menuju permukaan laut. Menurut pemberitaan yang beredar, sebanyak 112 kru platform berhasil dievakuasi dengan aman tanpa adanya korban jiwa.
“Saya mencoba merumuskan secara urutan kronologis pada respon yang diberikan oleh mahluk dan tumbuhan mungil itu. Setidaknya saya mendapatkan sedikit berkah dari bencana mengerikan itu, bahwa tidak ada kerusakan ekologis masif yang ditimbulkan. Tetapi tentu saja distraksi tetap tumbuh dan hidup di antara mereka dalam jangka waktu hingga proses detoksifikasi usaik dilakukan, sehingga itu yang menjadi konvergensi atas karya saya yang memainkan kejernihan overture di antara pusaran kabut efek-efek nada kabur yang saya berikan di sekitarnya menembus bayang-bayang dan transisi gelombang laut dan toksifikasi minyak mentah menuju kehidupan sebenarnya” (Dalam Catatan : “ Wasserwelt”, Bab “Jenseits des stormes”, pp.7).
Dia mengabadikan inspirasi tanda selamat datang yang terhubung secara intens pada kawasan laut utara, melalui sebuah gubahan repertoar berjudul “Beyond the Tide”. Lagu tersebut sengaja ditempatkan selaku salvo “The Science of Sea”, menanggung beban durasi terpanjang di antara daftar lagu, sebagai wujud pengenalan sekaligus pendalaman karakter yang menyeluruh pada sebuah dinamika baru kehidupan kelautan yang menjadi atmosfer bersama dalam rotasi waktu ke depan.
“Dengar… Jürgen, anda tidak bisa menjadi begitu naif dalam menggabungkan apa yang sudah ditakdirkan tidak bekerja satu sama lainnya, sampai anda benar-benar menemukan sintesis yang mendasarinya. Anda tahu… bahwa karya-karya hebat seperti Mahler, Wagner, Debussy. tidak hanya membutuhkan konsonansi di dalamnya untuk meresolusi ketegangan, tetapi membutuhkan disonansi yang justru membuat semuanya terdengar lebih variatif, berjarak sehingga anda benar-benar harus menertibkan pertikaian itu atau membiarkannya yang mana menjadi inti keindahan dari masterpiece mereka, intinya anda harus mengetahui apa yang ingin anda ciptakan sebenarnya, tanpa ditunggangi oleh nafsu atau keyakinan buta yang mengeras menjadi symptom halusinasi yang seringkali menjangkit para seniman dan itu yang akan memisahkan mana seniman sesungguhnya dan yang tidak…” (Kutipan Komposer Richard Buuren Dalam Catatan: “ Wasserwelt”, bab : “Sammlung kompositorischer Begleittexte”).
Meski ia sering dicap sebagai seorang komposer yang seolah memiliki kapabilitas secara inheren, Jürgen Müller sering mencatat dan mengarsipkan kutipan-kutipan dari komposer yang sempat ia temui untuk berdiskusi atau menyadur kutipan-kutipan dari buku-buku teori musik dari belahan dunia. Dia masih merasa perlu untuk mencari kebenaran bahwa musik adalah sarana ekspresi medium yang paling unggul untuk menyampaikan pengalaman-pengalaman abstrak kepada manusia yang dipandangnya sebagai makhluk yang absurdis.
Pertama-tama dia akan memikirkan hal-hal yang immaterial dan kemudian merasionalisasikannya dalam wujud yang menjadi material atau terhenti pada taraf fenomenologis. Dia seraya seperti seorang bocah laki-laki kota yang entah mengapa sangat memiliki kedekatan intim terhadap kehidupan-kehidupan yang tak pernah dijangkaunya dalam sehari-hari. Dan sepertinya, intuisinya telah menjadi sensitivitas yang lengkap untuk cakap mentransendensikan apa yang sulit dikomunikasikan menjadi sebuah pancaran sinyal yang mentransmisikan hal-hal personalnya.
“Suatu hari di masa-masa rehat melakukan penelitian, saya pergi menuju salah satu cabang sungai di daerah Rhine. Seketika saya seperti membangun sebuah konektivitas seperti seorang yang melepas masa rindunya selama bertahun-tahun. Saya tidak tahu kapan terakhir kali saya merasakan antusiasme semacam ini, mungkin ketika ibu membelikan gitar akustik pada malam natal pada usia-ku yang ke-12. Saya rasa Meergrün (warna hijau laut) yang menyelimuti sungai itu, akan tampak menjadi ideasi besar dari karya-karya yang akan saya garap.
Saya membuat bahwa anda perlu menyelam atau menengok dari sekedar lapisan permukaan untuk mendapatkan suatu keindahan, atas tanda ketulusan dan pengorbanan anda untuk mencintai sesuatu. Untuk itulah saya sengaja menaruh lapisan harmonik yang pelan, terkadung tenang sebagai teman kontemplasi refleksi anda atas memulai realisasi pikiran anda untuk mengatur sensitifitas merespon sekitar. Saya tentu menambahkan kontras pada melodi yang berkilap dan merekayasa timbrenya dalam efek sembab sebagai latihan motorik kesadaran anda menempatkan disfungsionalitas pada pendengaran anda yang terlalu konsonan selama ini agar memperhatikan dan mengikuti setiap lapisan kontur yang saya letakan.
Dan anda benar-benar mencapai momen ajaib, ketika mampu mensinergikan getaran nada rendah dan nada-nada tinggi yang bersinar seperti Meergrün sungai yang dipancari sinar matahari, dan anda akan melihat sekumpulan ikan pelagis dengan perutnya yang berwarna putih berenang-renang dan menggerakan sirip dan ekornya dalam distorsi riak gelombang yang menyentuh pori-pori kulit dan sela jari kaki anda.” (Dalam Catatan : “ Wasserwelt”, bab : “ Meergrün”, pp 43).
Dia terkadang meminta teman-temannya untuk menuju daratan terlebih dahulu, meninggalkannya dan menjadi satu-satunya manusia yang berenang-renang di antara riak gelombang. Sejenak dia melupakan perannya sebagai peneliti atau melepaskan kondisi biologisnya sebagai manusia. Dia telah benar-benar menganggap dirinya sebagai salah satu spesies dan anggota keluarga ikan yang tinggal di sana. Tabung oksigennya telah menjadi insang yang membuatnya bertahan hidup di kedalaman lautan, dan sepatu fins nya adalah pengganti ekor dan sirip yang membantunya bergerak melaju melawan arus. Proses meditasi di bawah air ini ia lakukan ketika cuaca yang sangat mendukung, dengan terik matahari dan panas mencapai suhu 33 derajat celcius. Secara tak sadar, Jürgen Müller telah menjadikan laut utara, sebagai simbolik penyuciannya atas beban karma dan masalahnya yang ia pikul selama ini, dan kembali menjadi semacam jiwa yang baru setiap kali ia selesai menjalankan “ritual ini”.
“Saya tentu sangat mengagumi kedalaman filosofis dari karya-karya John Cage, bahwa dia membawa ajaran spiritual Zen dari timur dan mentransmisikannya dalam temuan musik aleatoric-nya semata mengembalikan peran jeda menjadi kembali vital di-tengah era musik sekarang yang semakin obsesif mengumpulkan polifoni tidak beraturan dan aneh secara makroskopis, sebagai satu-satunya episentrum dari cara pandang komposer dalam menjalankan evolusi musik. Tapi saya sendiri juga tidak bisa melakukan apa yang Cage lakukan, bahwa pada dasarnya saya merasa spiritualitas tidak hanya bisa didapat dari buku-buku dan informasi pedagogis tidak langsung dan saya tidak memiliki pengalaman spiritualitas timur apapun.
Saya lebih memandang spiritual adalah inklusivitas dari apa yang benar-benar kita alami yang tidak bisa orang lain pahami, dan bagi saya domain ini adalah arti sebenarnya dari spiritualitas sebagai proses transformasi yang intim dan menyendiri. Itu yang saya sadari ketika saya berenang-renang di antara alam dan mahluk-mahluk laut seorang diri di laut utara, pengalaman itu telah membawa saya pada pribadi yang baru sekaligus membawa pendalaman intelektualitas terhadap persepsi saya dan seketika kesadaran saya mengalami peningkatan dalam taraf yang universal.” (Dalam Catatan : “ Wasserwelt”, bab: “Meeresbett meditation”, pp 57).
Laut utara, terkategorisasi sebagai laut dangkal, dengan kedalaman mencapai 90 hingga 100 meter di wilayah selatan, dan memiliki kedalaman 700 meter memasuki area parit Norwegia. Wilayah laut ini memiliki 2 karakteristik yang saling bertolak belakang menyesuaikan iklim dan cuaca. Memasuki musim dingin, gelombang memiliki jarak pendek dengan pergerakan yang cepat dan tidak teratur, sering kali berbahaya meskipun tidak selalu sangat tinggi. Badai extratropical cyclones dari Atlantik Utara sering menghasilkan gelombang terbesar membuat iklim laut utara menjadi lebih ekstrem. Sebaliknya, memasuki musim panas Gelombang memiliki rataan lebih rendah. Di bagian timur Laut Utara: gelombang hanya memiliki rata-rata 1 sampai 1.5 meter dan bahkan tidak melebih 1.5 meter pada hari-hari yang tenang dan tidak sedang dilanda cuaca ekstrem.
“Baik suara maupun air, keduanya menggunakan medium osilasi gelombang untuk realisasi manuver, sehingga ini sudah tampak jelas bagi saya, bahwa saya perlu mempelajari karakteristik gelombang untuk mensintesiskan ke-2 domain yang tampak tak berkaitan secara langsung. Saya melihat bahwa karakteristik gelombang di Laut Utara pada saat saya berkunjung di musim panas, memiliki riak pola yang cepat, namun panjang amplitudo per gelombangnya sangat singkat. Saya bisa menggambarkan fenomena ini terhadap kanvas notasi saya yang sengaja mengatur pitch dalam register nada, pada karakteristik pitch yang tinggi.
Saya juga menambahkan pola arpeggio meningkat dan langsung menempatkan bagian arpeggio menurun sebagai responnya, lalu menambahkan pola staccato singkat, hanya semata memberikan efek kurva melodi yang realistis terhadap pengalaman mendengar, bahwa itu akan seperti terdengar osilasi gelombang air pasang surut yang cepat dan memiliki usia singkat. Apa yang hebat dari musik elektronik ini, saya bahkan bisa memotong beberapa sinyal suara yang menurut saya mendistorsi kebenaran auditorial yang sebenarnya hendak dituju, sehingga membuat penampakan suara yang keluar dari alat-alat saya,terdengar jernih, lebih cepat merespon pergantian nada, dan yang terpenting begitu transparan untuk saya tidak ambil pusing menonjolkan bagian harmoni yang biasanya tidak dihiraukan pendengar.” (Dalam Catatan : “Wasserwelt”, bab: “Meeresbett meditation”, pp 59).
Satu tujuan spesifik terakhir Jürgen Müller sebelum menyelesaikan studinya, Jürgen ingin menemukan spesies makhluk laut yang hanya bisa dijumpai di perairan Laut Utara. Tapi, itu tidak semudah apa yang diucapkan dan dipikirkannya… Sebagai perairan yang terhubung langsung dengan Samudra Atlantik Timur Laut, perairan Laut Utara tidak memiliki spesies biota laut yang endemik. Arus Laut Atlantik yang mampu menyusup dengan mudah pada perairan Laut Utara terbuka membuat setiap larva dan spesies-spesies kecil “bermigrasi” akibat kekuatan arus. Tidak mengherankan lokalisasi biota menjadi sulit, spesies-spesies yang seharusnya hanya bisa tumbuh dan berkembang biak di Laut Utara, turut terbawa arus, menyebar menuju medan perairan lainnya mulai dari Skagerrak, Kattegat, kanalisasi wilayah Inggris, hingga landasan kontinental Atlantik bagian timur laut.
“Saya akui bahwa saya berada dalam fase ahistoris pada masa penjelajahan. Saya lebih mempercayai buta mimpi saya dibanding dari fakta dan catatan-catatan yang telah dihamburkan tepat di depan mata saya. Sampai suatu hari saya bertemu dengan spesies Cyanea Lamarckii(ubur-ubur biru). Mereka memiliki pergerakan yang sangat lambat dan hampir mendekati statis, menjalani masa hidupnya yang singkat tanpa banyak melihat apa-apa. Kemudian saya berpikir bahwa apa yang menjadi mimpi mahluk ini jika tidak memiliki apapun yang dilihat selama masa hidupnya. Hingga saya akhirnya menyadari ke-2 mimpi dari kami pada dasarnya sama, hanya sebatas hiasan dari reproduksi immaterial kita yang tak perlu disikapi dengan serius” (Dalam Catata : “Wasserwelt”, bab: “Traumfolge Einier Qualle”, pp 68).
Warna tubuh Cyanea Lamarckii mengalami transformasi dramatis seiring pertambahan usia. Tubuh mereka akan tampak pucat, putih, atau kuning muda ketika memasuki fase remaja, membuat sulit para peneliti untuk mendiagnosa secara dini spesies Cyanea Lamarckii. Memasuki fase dewasa, pigmen tubuh mulai menggelap dan memadatkan karakteristik warna menjadi biru elektrik, violet, atau ungu tua yang kontras terhadap warna air laut. Salah satu yang menjadi ciri khas dari famili ubur-ubur adalah bentuk tubuhnya yang memiliki struktur menyerupai parasut (bell). Cyanea lamarckii memiliki bell berbentuk kubah atau saucer yang transparan dan dinamis ber-diameter 10 hingga 30 sentimeter. Sebagai hewan bersifat pelaktonik, Cyanea lamarckii tidak memiliki atribusi mengendalikan arah renangnya secara horizontal. Pergerakannya telah dideterminasi berdasarkan arus yang menghampiri dan mendorong mereka.
Namun, mereka memegang kendali penuh atas navigasi vertikal mereka di dalam air. Payung mereka yang lentur dapat bergerak seperti pompa piston. Melalui kontraksi ritmis dari otot-otot di sekitar tepi payung, Cyanea lamarckii menekan air di bawah tubuhnya keluar secara berkala, menghasilkan daya dorong ke atas. Kontraksi ini menyebabkan kemunculan dari dua jenis pusaran air yang berbeda. Satu pusaran bertekanan tinggi di bawah rongga payung yang melontarkan tubuh mereka maju, dan satunya lagi berupa pusaran bertekanan rendah di tepi luar payung.
“Saya membayangkan fenomena motif suara apa yang cocok untuk mewakili atribusi pergerakan mereka yang terbatas namun unik. Saya rasa semua ini lebih kepada aksi motoris dari ritme, dan itulah saya mengapa tidak merotasi banyak pergerakan melodi pada lagu ini, karena saya berfokus pada permainan aksentuasi dalam fragmen nada. Saya akan membuat beberapa nada terlihat lemah secara presensi suara, kemudian menaikan volume sesaat pada menjelang pengulangan beat untuk memberikan gerakan pompa vertikal mereka yang seperti pompa piston.
Saya hanya sedikit mendramatisir menambahkan kata “mimpi” dalam rancangan judul kali ini, karena seperti yang anda dengar: bagi mereka, kehidupan mimpi dan kenyataan tidak banyak berbeda. Bahwa ini hanyalah tentang pergerakan biologisnya yang memompa seumur hidupnya dan membiarkan tubuhnya terombang-ambing arus tanpa lelah memancarkan kubah bersinar ultravioletnya yang justru memberikan inspirasi mimpi bagi makhluk sekitarnya.” (Dalam Catatan : “Wasserwelt”, bab: “Traumfolge Einier Qualle”, pp 70).
6 bulan pasca perjalanan penelitian menuju Laut Utara yang melelahkan, Jürgen Müller bergegas menciptakan aransemen hingga memproduseri lagu-lagu sebagai uji coba proyek thesisnya. Dia tidak banyak melakukan pendekatan teknik produksi musik professional, maupun alat-alat canggih. Dia hanya menggunakan perangkat keras synth, penerima sinyal transmisi analog melalui analog step sequencers, dan efek-efek tape yang dimaksimalkan. Jürgen Müller tidak menyukai pendekatan yang membuat kemampuannya dalam memindahkan deskripsi menjadi organisasi nada menjadi tereduksi. Beberapa instrumen semacam mellotron dan moog synth meski dinilai memberikan warna suara yang berwarna, tetapi bagi Jürgen Müller warna timbre dari instrumen tersebut terlalu sintetik dan tidak natural.
“Suatu hari… Jürgen menghampiriku dengan membawa beberapa demo lagu yang telah ia buat sendiri. Sembari saya mendengarkan, dia mengoceh antusias tentang apa makna, simbol, atau apapun yang keluar, seolah semuanya telah dideterminasi dan direncanakan dengan begitu presisi dan tidak ada yang luput dari pengamatannya. Jujur saja… saat itu saya merasa tidak terkesan dengan semua yang ia bawa padaku.
Sebagai komposer memang kita dididik untuk secara objektif menempatkan pitch, motif, kontrapung, ritme, dan melodi menyesuaikan kedisiplinannya, tapi kita juga tidak harus menjadi egois, bahwa pada akhirnya mendengarkan musik adalah persoalan penghayatan jiwa dan mampu merekapitulasi sesuatu keadaan emosi dari ketiadaan menuju kesadaran. Saya menilai modalitas komposisinya terlalu formal, meski itu dibenarkan secara epistemik, tetapi itu seperti suara keteraturan dari mesin yang statis dan tidak menghasilkan arti dan pemaknaan apapun. Anda sekali-sekali harus memperhatikan bahwa musik justru memiliki aspek pemenuhan irasionalitas yang lebih penting dari sekedar menjadi patuh.
Saya percaya penemuan teori dimaksudkan untuk memberi anda lebih banyak kesadaran formasi dan bentuk arsitektural geometris yang bisa diaplikasikan bukan bermaksud mengurungnya, dan Anda hanya akan mempersulit situasional pengalaman bagi pendengar, jika yang anda bawa hanyalah kalkulasi dan probabilitas, tetapi tidak ada distribusi emosional yang bisa secara introspektif beresonansi. Saya berharap agar komposisi anda meraba lebih banyak lapisan emosi, dan anda bisa berperilaku sebagai proyektor atas apa yang anda dapatkan dalam pengalaman anda pada mereka yang sama sekali buta akan hal itu.” (Kutipan Komposer Richard Buuren Dalam Catatan: “Wasserwelt”, bab : “Sammlung kompositorischer Begleittexte”).
Ini pertama kalinya dia mendapatkan kritikan dan teguran yang menohok atas karyanya. Meski dia mendapatkan kelulusan atas hasil dan jerih payah penelitiannya, tetapi secara tujuan musikalitasnya, Jürgen menyadari bahwa pekerjaannya jauh dari kata selesai. Dia memutuskan untuk melakukan perombakan total dari demo yang telah direkamnya, menambahkan beberapa lapisan, melebarkan kemampuan intuitifnya, dan menguji lebih banyak kombinasi yang lebih bisa dicoba untuk mengisi kekosongan yang disebutkan dalam kritik tajam Richard Buuren. Setelah memakan waktu sebanyak 3 bulan untuk menata ulang pekerjaanya, Jürgen merasa lebih percaya diri dengan upaya perbaikannya, namun Jürgen masih merasa ada sebuah kekurangan yang masih hinggap dalam garapan musiknya.
“Saat saya tadinya memutuskan untuk merilis karya-karya dalam bentuk EP dengan hanya menyertakan 7 lagu sebagai awal, tiba-tiba saya menyadari ada sebuah kekurangan bersifat integratif yang saya lewatkan. Saya telah bercerita panjang lebar mengenai bagaimana situasi dan kondisi laut utara yang saya transposisikan ke dalam repertoar yang telah saya rekam, tapi saya kekurangan konteks akan seperti apa rasanya makhluk hidup yang secara alami telah lahir, hidup, dan menghabiskan seumur hidupnya di kedalaman air laut. Meski ini kedengarannya sulit dan mustahil dilakukan, saya ingin merasa secara emosional lebih dekat dengan apa yang mereka rasakan, dan demi menemukan jawaban, saya tergerak untuk kembali melakukan perjalanan selanjutnya dengan itikad berbeda dari penelitian akademis sebelumnya.“ (Dalam Catatan: “Wasserwelt”, bab : “Unter weiten welten“).
Kali ini Jürgen tidak perlu membawa lapisan baju musim dingin tambahan untuk mencegahnya dari kondisi hipotermia. Kawasan wilayah laut Indo-Pasifik, terletak di pulau dan negara-negara Tropis. Berbanding terbalik dengan laut utara yang memiliki suhu air mencapai 4-12 derajat celcius, suhu laut Indo-Pasifik dengan stabil berada di rentang 23 hingga 29 derajat celcius. Seperti yang pernah dilakukannya dulu, kunjungan Jürgen terjadi kembali di musim panas satu tahun setelah petualangan menuju laut utara. Sifat gelombang air yang lebih tenang, dan jarang terjadinya curah hujan, sangat membantu Jürgen melakukan penelitian yang lebih intens tanpa terkena distraksi dari variabel yang tidak bisa dikendalikan.
Satu hal yang membuatnya yakin akan perjalanannya kali ini sebagai pelengkap sempurna kepingan puzzle yang hilang, Jürgen menemukan keanekaragaman hayati yang lebih hidup dan berwarna. Hamparan terumbu karang yang sangat sulit ditemukan di kawasan wilayah Laut Utara, melimpah ruah menghiasi sepanjang kawasan laut indo-pasifik (setidaknya menyelimuti teritori yang dijelajahi Jürgen).
Terumbu karang membutuhkan interaksi simbiosis mutualisme spesies alga zooxanthellae dengan fotosintesis cahaya matahari. Wilayah Indo-Pasifik yang memiliki visibilitas kejernihan air lebih tinggi, memudahkan proses penetrasi cahaya menuju area dangkal laut, menjadi pembentukan terumbu karang lebih mungkin terjadi. Hingga saat ini, kawasan laut Indo-Pasifik masih memegang reputasi sebagai asal-usul keanekaragaman terumbu karang bertumbuh.
“Saya berusaha untuk menekan diri bukan lagi memposisikan sebagai seorang peneliti maupun ilmuwan, tapi mencoba untuk menjadi seorang sastrawan yang seringkali melanggar batas fiksasi realitas, agar mendapatkan kembali ketidakpastian jiwanya yang bermekaran. Jika saya terlalu memandang secara deskriptif… pasti saya akan menggambar kekuatan ritmis yang lebih tegas dan berpijak sebagaimana karakteristik dari mineral-mineral terumbu karang yang mengeras itu… Tapi kali ini saya membuat pendekatannya terasa berbeda, saya membayangkan bagaimana jika terumbu karang itu hidup, bernafas, dan memiliki emosi.
Saya membayangkan terumbu karang memiliki melodisasi dan vokal yang feminim atas tampilan mereka yang begitu indah, memikat, dan berseri-seri setiap saat jika diberi sinar matahari, mereka seringkali menghamburkan gelembung-gelembung ke atas entah hanya dipandang sebagai pernak-pernik ekosistem atau diperlakukan sebagaimana sebuah roda keberlangsungan stabilitas ekosistem. Saya menambahkan banyak lapisan polifoni melodi pada bagian ini, memberikan ketebalan pada ekstensi nada, sembari membuat garis kemungkinan baru yang menjadi pijakan berikutnya atas gerakan melodi yang bertahap melanjutkan. Begitulah lagu ini bekerja.., saya juga membuat efek granulasi yang dikombinasikan dalam reverb memberikan efek partikel subatomik gelembung yang berhamburan keluar dengan cepat bertumbuh dan meletus.
Yang jelas saya juga tidak ingin membuat kekuatan harmonis hanya tertinggal statis di bawah tanah dengan menggunakan frekuensi nada terlalu rendah. Bahwa kebanyakan dari terumbu yang saya jumpai berpijak pada pasir yang sering ikut terbawa mengapung oleh arus, membuat ekosistemnya memberikan tekstur yang terasa lebih membaur dalam satu cairan polimer dibanding membentuk hubungan bersifat sedimentasi. (Dalam Catatan: “Wasserwelt”, bab : “Korallen phantasie” pp.79).
Bukan sesuatu yang berlebihan jika kawasan laut pasifik Indo-Pasifik sebagai aktivitas metropolitan laut terbesar dan tersibuk yang dibanding wilayah perairan bumi manapun. Suara riuh miliaran udang pistol terus-menerus mengatupkan capitnya, berpadu dengan suara geraman, siulan, dan dengungan dari berbagai spesies ikan karang. Jutaan spesies ikan, plankton, dan spesies makhluk lainnya menggunakan Indo-Pasifik sebagai jalur migrasi atau justru sebagai tempat destinasi rumah para spesies yang baru. Jejak sebagai tanda akan kepadatan rutinitas yang senantiasa lalu lalang melintang di wilayah Indo-Pasifik, ialah banyaknya kehadiran gelembung yang terus bertumbuh dan meletus dalam jumlah yang sangat besar dalam hitungan detik.
“Dalam perjalanan menuju laut Indo-Pasifik, saya menjadi melankolis dan sensitif terhadap hal-hal yang mungkin orang anggap remeh dan sama sekali tidak berarti. Dibalik aktivitas yang melimpah ruah dari spesies yang berenang-renang kesana kemari, saya justru memperhatikan hal yang kerap diabaikan, ialah tentang kehadiran gelembung-gelembung kecil itu. Saya justru merasakan prihatin terhadap gelembung-gelembung kecil yang malang itu. Meski kehadiran mereka sebagai tanda positif kehidupan, tetapi justru merekalah yang memiliki rentang usia yang sangat sedikit hanya sekitar beberapa milisekon ke depan, untuk mereka akhirnya meletus seolah tidak ada yang merasa kehilangan, karena kehadiran setiap gelembung begitu tergantikan dengan cepat.
Dan harus saya katakan, saya dengan sadar memilih tonik nada yang paling minor di antara beberapa lagu lainnya, membuat durasi terpendek di antara lagu lainnya, dan dengan sengaja menebalkan presensi transisi harmoni dominant- dan sub-dominantnya atas keberlangsungan siklus mereka yang tiada henti kembali menuju titik semula mereka, ketiadaan. Saya melumuri dengan efek suara dari pad semata memberikan nyawa bahwa gelembung tidak hanya terdiri atas lapisan selaput tipis dan wujud geometris, tetapi juga membawa semacam semangat dan energi sebagai tanda akan peradaban kita yang masih diberikan kesempatan dan waktu untuk berdenyut menghiasi planet ini.” (Dalam Catatan: “Wasserwelt”, bab : “Sauerstoff blassen” pp.81).
Kali ini Jürgen sama sekali tidak membawa ambisi apapun selain menikmati panorama laut Indo-Pasifik, sembari berenang-renang di antara bentangan laut yang luas. Tetapi siapa sangka, lepasnya ikatan dan obsesinya justru mengantarkannya pada impian-impian kecilnya. Kegagalan Jürgen menemukan spesies endemik di kawasan Laut Utara, akhirnya terealisasikan dan ini sekaligus menjadi momen langka yang hanya terjadi sekali dalam seumur hidupnya. Dia berenang di tempat yang tepat untuk menyaksikan tumbuhnya kehidupan spesies kuda laut kerdil yang disebut Pygmy Seahorse. Segitiga terumbu karang, adalah rumah bagi makhluk vertebrata terkecil di muka bumi ini.
Pygmy Seahorse hanya mampu tumbuh dengan tinggi 1,4 hingga 2,7 sentimeter, bahkan tidak lebih tinggi dari ukuran ibu jari anak-anak. Berbeda dengan spesies kuda laut umumnya, kelompok Pygmy Seahorse mempunyai ciri anatomis yang unik, seperti lubang insang tunggal yang menyatu di bagian belakang kepala serta sistem pengeraman telur internal yang terletak di dalam rongga tubuh atau trunkus, bukan pada kantung luar di bagian ekor. Para kuda laut mungil ini tinggal dan banyak ditemukan di sela-sela polip kipas laut yang tergolong dalam genus Muricella.
Tubuh Pygmy Seahorse dipenuhi oleh nodul-nodul berdaging yang disebut tuberkel. Selain tuberkel, tekstur kulit mereka dirancang untuk menyerupai jaringan daging kolektif yang melapisi cabang-cabang kipas laut tersebut. Kedua kemampuan ini menjadi mekanisme pertahanan Pygmy Seahorse menutupi kekurangannya sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan dalam bergerak. Pygmy Seahorse menghabiskan seluruh siklus hidupnya hanya berenang-renang dan berkembang biak tidak jauh dari sekitar kipas laut. Ajaibnya, Pygmy Seahorse memiliki kemampuan mimikri dengan mampu merubah warna tubuhnya menyesuaikan palet warna kipas laut yang menjadi sarang mereka. Seringkali Pygmy Seahorse digambarkan memiliki warna kemerahan, namun seringkali mereka dapat berubah warna menjadi warna abu-abu pucat, kuning kejinggan, hingga berwarna ungu, membuat ilmuwan seringkali kesulitan mendeteksi spesies Pygmy Seahorse.
Disaat makhluk lain mengandalkan kecepatan untuk menghindari serangan predator, Pygmy Seahorse justru memiliki taktik statis yang mampu menyelamatkannya dari incaran predator. Ketika predator seperti Longose Hawkfish sering berenang di sekitaran kipas laut untuk mencari mangsa, secara naluriah Pygmy Seahorse akan memposisikan sudut kemiringan dan posisi tubuh sedemikian rupa, sehingga punggu maupun struktur kepala tubuh terkesan menyatu dengan dahan kipas laut. Selain itu Pygmy Seahorse memiliki kemampuan membaca tanda bahaya yang akan datang. Kedatangan predator biasanya dicirikan dengan penyusutan polip dan karang bunga sekitar yang tadinya memekarkan tubuh mereka, kemudian seketika menutup katup-katup mereka. Di saat itulah Pygmy Seahorse merasakan tanda bahaya dan mulai menerapkan mekanisme pertahanan alamiahnya.
“Terus terang, saya selalu merasa inferior dengan keajaiban alam semesta yang secara terus menerus memberikan fakta yang sulit dijelaskan bahkan oleh manusia terpintar sekalipun yang pernah lahir. Saya baru saja bertemu dengan spesies termungil di sekitaran laut Pasifik Indo yaitu Pygmy Seahorse yang ukurannya bahkan tidak lebih tinggi dari kelingking saya, tetapi mereka memiliki kemampuan mekanisme pertahanan yang luar biasa. Di samping itu mereka bahkan sangat pintar dalam membaca situasi dan mengelabui musuhnya. Tidakkah anda terpikirkan berapa cc otak yang dimiliki makhluk ini jika tingginya saja tidak mencapai 2 sentimeter?
Tetapi mereka bisa melakukan kamuflase seperti seorang perwira terlatih selama puluhan tahun di medan perang. Itulah yang membuat saya tergerak untuk menciptakan keajaiban melodis yang lahir justru dari fragmen-fragmen melodi yang tidak pernah menjadi motif, tetapi secara sengaja saya berikan kualitas nada yang jernih, bahkan secara samar-samar saya menyisipkan modulasi sebagai konjungsi atas metafora atribusi mereka yang mampu merubah warna kondisi tubuhnya tanpa sepengetahuan siapapun memberikan lapisan kejut sekaligus estetika dalam ruang dimensi dan waktu secara bersamaan.” (Dalam Catatan: “ Wasserwelt”, bab : “Das unfassbare seepferdchen” pp.86).
Setelah 4 bulan masa pengembaraan menuju laut Indo-Pasifik, Jürgen akhirnya kembali untuk menyelesaikan dan menyempurnakan album semata wayangnya, “Science of the Sea” dan tidak sabar untuk menunjukkan wajah sintesis karyanya yang baru. Namun sebelum berpamitan, Jürgen membisikkan impian berikutnya, bahwa suatu saat nanti ia ingin kembali dengan membawa medan dan teknologi yang berbeda. Ia berhasrat untuk datang dengan menggunakan kapal selam, melihat lebih banyak lagi peradaban-peradaban laut Indo-Pasifik yang tidak sempat terjangkau sebelumnya.
“Saya terkadang memikirkan selain dampak ekologis yang ditimbulkan teknologi yang mana cenderung merusak, apakah teknologi bisa juga memberikan dampak pada psikologis dan rantai sosial dari kehidupan makhluk laut? Mungkin jika ya, ini bisa saja mahluk-makhluk laut ini dapat memperlakukan teknologi sebagai hiburan layaknya manusia yang memiliki pola baru dalam terjebaknya mereka akan siklus konsumeristik. Saya bisa membayangkan bahwa bisa saja ada ikan pelagis berenang lebih cepat dari kawanannya untuk mengimbangi kecepatan kapal selam, atau justru mereka bisa tiba-tiba saling bertikai memperebutkan wilayah tempat melintasnya kapal selam. Siapa yang tahu? Saya rasa mungkin saya perlu membuktikan hal itu, sebagai proyek saya berikutnya.” (Dalam Catatan:“Wasserwelt”, bab. : “Nach U-Booten jagen” pp.92).
Sayangnya hingga seluruh kertas catatannya menguning dan tinta penanya memudar, proyek sekuel Jürgen mengenai modernisme kehidupan aquatic hanya sekedar menjadi angan-angan utopis belaka. 24 September 1998, Jürgen Müller menghembuskan nafas terakhir, akibat penyakit pneumonia yang ia derita selama beberapa tahun menjelang masa akhir hayatnya. Jasad Jürgen Müller kemudian dimakamkan di sebelah makam Ayahnya, yang berdomisili di tanah kelahiran keduanya di Kiel, Jerman. Jürgen Müller meninggal di usianya yang ke-38 tahun.
Meski dia meninggal dalam kegagalannya mencapai semua cita-cita dan aspiratif yang diidamkannya selama ini, tetapi upayanya justru telah menunjukkan bahwa cita-cita dan aspiratifnya-lah yang terlalu kerdil dibandingkan dengan pekerjaan hebat dan catatan ambisinya yang melahirkan sebuah karya album ambient / progressive electronic monumental berjudul “The Science of the Sea”. Daya magisnya bahkan masih terasa sampai saat ini, meski hari kepulangan Jürgen Müller telah lama kelabu dan dilupakan, tetapi “The Science of the Sea” masih menggulung angka eksposur compounding interest-nya hingga saat ini. Salah satu label musik pengepul suara-suara ambient dan drone asal Amerika, digitalis memberikan tanda penghormatan dengan mencetak ulang “Science of the Sea” secara fisik dan mengabadikannya dengan mengkonversi album ini ke dalam bentuk digital.
Pada akhirnya “Science of the Sea” bukan lagi sekedar arsip perpustakaan musik pengiring dokumenter, tidak disangka Jürgen Müller telah mengerjakan orkestrasi dokumentasi secara mandiri mengenai peradaban kolong laut yang telah selama ini terabaikan menjadi penyokong kestabilan rantai kosmik dan dengan sekuat tenaga melanjutkan kehidupan agar dapat dirasakan pada benih-benih generasional berikutnya.
“Ketika adikku mendapat kenyataan pahit pertamanya, bahwa ia diberitahu tidak ada stasiun TV maupun produsen film dokumenter manapun menginginkan karyanya, dia hanya tersenyum lebar. Agaknya orang kerap menyalahartikannya sebagai seseorang yang pesimis atau tidak memiliki kepercayaan diri, tapi dia seorang konsekuensialis yang mempercayai bahwa alam semesta telah menyediakan timbal balik yang tidak terduga. Bahwa pada akhirnya dia memberikan tujuan hanya sebagai alat bantu yang menandakan apakah proses yang ia alami sudah sesuai, dan ketika dia merasa telah melakukan hal yang benar tujuan awalnya sudah tidak lagi berarti, karena dia yakin suatu saat apa yang dikerjakannya akan terbawa menuju pada situasi yang di luar perkiraanya terlepas itu dinilai dalam moralitas yang baik maupun buruk. Dia hanya mengatakan padaku: ‘kita terlalu egois jika kita hanya menuntut semua dunia bekerja sesuai kehendak kita, sekali-kali kita harus melepas apa yang terlanjur melekat pada kita dan bersiap untuk mendapatkan transformasi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.’” Jean Müller (Kakak kandung kedua Jürgen Müller).
Epliog : Oh… anda masih bertahan sampai menuju bagian ini?? Sungguh hebat, dengan tulus saya membungkukkan tubuh saya sebagai tanda penghormatan yang mendalam. Bagaimana dengan cerita di atas? Apakah anda sedang menikmati akan terbuai dalam rantai ilusi itu? Sepertinya tidak ada bedanya….Kita terlalu lama terjebak dalam ilusi, sampai-sampai tidak bisa menemukan batasan di antaranya dan merubahnya menjadi keyakinan. Begitu juga dengan kisah Jürgen Müller selaku tokoh fiksi yang diciptakan mendiang komposer Norm Chambers. Mungkin sekarang anda merasa bimbang… apakah realitas itu berpihak pada anda atau ini hanyalah rekonstruksi perseptual holografik yang terlanjur anda pungut dari kesadaran eksternum yang sedang berusaha mengendalikan anda? Saya tidak berhasrat untuk memberikan jawaban atas ketidakpastian konyol itu.
Saya ingin menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari itu, anda bisa memproduksi zat substantif anda sendiri, tanpa mengeluarkan kocek dan keselamatan anda untuk membeli pil-pil bodoh yang telah diracuni oleh kebobrokan hidup ini. Saya bukan seorang ahli spiritual yang ingin membuat anda menanggapi kondisi ekstase anda setiap saat, silahkan jadikan sebagai pekerjaan rumah hidup anda…. Yang jelas anda harus menemukan caranya, sampai anda menyadari bahwa anda tidak perlu mencari kebahagiaan apabila anda sendirilah yang menjadi episentrum atas kebahagiaan itu sendiri. Anda kemudian menemukan diri anda telah merubah diri anda dari penimbun yang pasif, menjadi reseptor yang aktif.