“KAT tampak seperti sekumpulan begundal sekaligus penyintas ketidakadilan yang berang dan “kerasukan roh iblis” untuk menghabisi omong kosong institusional suci yang kerap menjadi sasaran atas kemurkaan mereka.“
Baru-baru ini, Behemoth membatalkan konser di Bangalore, India, setelah mendapat resistensi dari kalangan konservatif Agama di sana. Khawatir berpotensi mengancam kondisi fisik dan konflik berkelanjutan, Adam Nergal beserta rombongan sudah memberikan statement sebagai respon dan memutuskan membatalkan penampilan Behemoth. Penolakan terhadap veteran blackened death metal kelahiran Polandia ini bukan yang pertama, juga bukan kedua, dan ketiga kali. Behemoth kerap diposisikan sebagai antagonis bagi institusi maupun haluan politis konservatisme di negerinya sendiri dan sudah cukup banyak upaya yang dikerahkan demi menjegal Behemoth, seperti desakan pembatalan konser, penyensoran, dan serangan kampanye hitam. Bagi pihak konservatisme agama Polandia, ini juga bukan pertama kali mereka mengalami friksi terhadap kultur heavy metal yang sudah menjadi kanalisasi kultur alternatif remaja Polandia sejak lama.
Salah satu legenda thrash metal paling berumur di Polandia, KAT mengalami tekanan dan atmosfer yang serupa dengan Behemoth. KAT dituduh oleh otoritas pemerintahan Polandia yang memang digenggam oleh kelompok konservatisme, sebagai provokator perusak moral bangsa. Saat itu, Roman Kostrzewski yang baru bergabung sebagai vokalis pertama KAT pada tahun 1981, langsung dituduh sebagai representasi karikatur Satanis di Polandia secara terang-terangan. Pihak pemerintah sempat menolak memberikan paspor dan visa pada personel KAT selama 15 tahun, yang secara langsung telah menghambat potensial kiprah Kat di kancah gerakan metal internasional. Beruntung, pada September 1987, KAT memperoleh kesempatan sekali seumur hidup menjadi band pembuka untuk Metallica di Spodek, Katowice dan KAT menyebutnya sebagai 38 menit adegan terbaik dalam hidup mereka, mendokumentasikannya menjadi album live bertajuk “38 Minutes of Life”.
Selain berhutang budi akan sejarah, KAT tidak sungkan mengatakan bahwa Metallica, beserta pahlawan pahlawan thrash metal Bay Area lainnya, menjadi pendorong lahirnya generasi pembangkangan di Polandia yang terjadi di antara “kerapihan tradisi” yang patut dipertanyakan. Paras sinisme KAT, terasa lebih tajam ketika tema-tema liris mereka mengenai kebobrokan institusi kepercayaan dan tradisi agama, secara langsung mengusik posisi politisnya yang telah berada dalam taraf status-quo. Kedisiplinan KAT dalam mendemonstrasikan riff-riff palm-mute perkusif, lesakan ekor efek flanger gitar yang memberi kepadatan massa suara, dan tarikan powerchord groovy dari persilangan Testament, Metallica, hingga Iced Earth semata untuk menegaskan kepentingan estetis thrash metal sebagai musik berat, bertenaga, dan paralel menghasilkan irama-irama menghentak penuh rasa keberanian dan kesenangan tanpa merasa gentar untuk melawan. Tetapi lebih dari sekedar prioritas estetis, masa-masa ketika Kostrzewski mulai merobek kerongkongan dan merubah tekstur vokal yang bergejolak parau di atas riff abrasif dan ketukan pedal ganda yang berhamburan, menjadi lontaran kemarahan sekaligus pandangan kritis yang mereka anut.
Posisi KAT memiliki relasi quasi terhadap pesona Slayer. Slayer telah begitu obsesif untuk duduk di atas tahta tertinggi sang iblis, dan berkuasa untuk segala tungku nyala api neraka. Atas dasar itu, mereka bersumpah untuk tidak sedikitpun mengendurkan tempo, membiarkan solo-solo gitar yang menjerit secara arbiter, dan lontaran vokal tanpa belas kasihan dari Tom Arya. Sedangkan KAT memang tampak seperti sekumpulan begundal sekaligus penyintas ketidakadilan yang berang dan “kerasukan roh iblis” untuk menghabisi omong kosong institusional suci yang kerap menjadi sasaran atas kemurkaan mereka. Fakta bahwa, tingkat amoralitas suara dari lengkingan tremolo dapat dikendalikan, mencegah agar jeritangitar tidak menggapai taraf oktaf di luar batas kendali manusiawi
KAT memerlukan peralatan bantuan dari gitar akustik dan solo-solo gitar berperisa melodi secara surplus, sebagai visualisasi ketegangan perlawanan mereka yang secara terus-menerus berfluktuasi. Fenomena-fenomena itu dapat disimak, ketika mereka mengendurkan tempo pada “Spisz jak Kamien”, pembukaan lagu “Mag-Sex” yang akan lebih bersifat pengenalan tema melodis, hingga “Glos z Ciemnosci” yang memiliki intensi kerapihan menulis lagu semi-ballad dan transisi dengan tensi bergerak secara memuncak. KAT masih mengalami penerimaan bersifat daging yang tidak mengeluarkan aura kejahatan yang bersumber atas dirinya, sehingga masih terlukis akan kegelisahan, kegetiran, perasaan muak, hingga rasa bersenang-senang.
Baca Juga : 713avo Amor – Teriakan Benteng Terakhir Keadilan


