“Dalam album studio ke-2 Mary Hopkin, ada kesadaran tema yang terjahit dalam kepingan repertoar yang tercecer antara waktu, yang melukiskan insinuasi dari kesetian, keputusasaan, dan kepasrahan terhadap cinta.”
Sebelum menyanyikan sebiji not melalui lantunan suaranya yang halus, sang produser Tony Visconti menghampiri Mary Hopkin dengan membawa setumpuk kertas berisikan 200 katalog musik folk dari arsip Essex Music International. Secara telaten dan kebesaran hasratnya membuat rekaman, Mary Hopkin memeriksa dan menyaring dengan hati-hati seluruh katalog yang ada, untuk dibawakan ulang pada album studio ke-2 nya bertajuk “Earth Song / Ocean Song”.
Beberapa repertoar yang terpilih terdiri dari karya-karya musisi folk ternama seperti: duet Gallagher and Lyle, Harvey Andrews, Ralph McTell, Tom Paxton, David Horowitz. Cat Stevens, hingga Liz Thorsen. Independensi kecemerlangan karir Mary Hopkin tersendat akibat narasi sebagai “gadis penemuan Paul McCartney” yang terus mendompleng kemanapun namanya tersiar. Paul McCartney tidak diragukan berjasa besar, sebagai penemu bakat dan pemandu langsung akan kesuksesan album debut Hopkin, tapi keduanya sepakat untuk mengakhiri kerjasama, ketika McCartney disibukkan oleh aktivitas pribadinya, ditengah keinginan Hopkin yang menggebu-gebu sesegera mungkin masuk dapur rekaman.
Praktis, kini Hopkin tidak lagi hanya menjadi talenta yang digerakkan, melainkan terlibat jauh dalam proses teknis. Bahkan pertemuannya dengan produser Tony Visconti (kelak menjadi suaminya) adalah hasil proses riset intuitifnya. Hopkin mendengarkan album “Dragonfly” milik band folk rock kelahiran Inggris, Strawbs, yang ditangani oleh Visconti sendiri. Seketika, Hopkin terkesima dengan pendekatan rekaman Visconti yang mampu memberikan keleluasan ruang antara dimensi suara instrumen bergerak, dan saling berdiri kokoh tanpa menginterupsi muara satu sama lain.
Hopkin memilih Visconti dan keputusan itu berhasil mendatangkan pembaharuan di atas repertoar sortiran yang menjadi juruselamat album “Earth Song / Ocean Song” terhindar dari labelisasi rekaman daur ulang semata. Bahwa secara pendekatan, gaya barok maupun musik folk klasik menjadi suatu yang bersifat idiosinkratik, tetapi rekaman ini mampu terdengar restoratif dan canggih. Visconti seperti mengajak Hopkin secara empat mata, untuk merekam musik-musiknya di padang rumput terbuka, menyingkirkan kotak ruang akustik dan meja-meja equalizer.
Vokal Hopkin yang berseri-seri bersenandung dan sesekali tertegun, diletakan percis setengah inchi dari mic. Dentingan akustik gitar, tiupan suling, dan alat-alat instrumen senar gesek bermekaran di sekitarannya, memberikan mahkota bermotif bunga di atas kepalanya yang bersahaja indah. Ada kesadaran tema yang terjahit dalam kepingan repertoar yang tercecer antara waktu, yang melukiskan insinuasi dari kesetian, keputusasaan, dan kepasrahan terhadap cinta.
Perannya yang terus dirotasi antara kasih diakonis terhadap sang pencipta, seperti pada lagu pembuka, “Internasional”, peran Hopkin kemubian beralih ketika dibiarkan untuk mengais cinta di antara persimpangan kecemasan, keputusasaan, dan sekaligus harapan yang kembali tumbuh di penghujung senja “Silver Birch and Weeping Willow“, sampai perannya menjadi wujud keprihatinan antara benturan alienasi eksistensial dan sistemik “Streets of London” yang bertugas sebagai pemberi pengharapan dan pengobatan, dari sekedar ketidakberdayaan subjek menahan dan melepaskan cinta.
Hopkin dengan mudah resonan, meresapi lirik-lirik yang bukan ditulisnya secara mandiri, mengambil sikap berterus terang dalam pesona vokal anggunnya yang selalu bersinar dan menatap lembut selama ke-10 lagu rangkaian asli, yang terkesan mengayomi pesan secara emosional. Keteguhannya benar-benar diuji sampai puluhan tahun, tepatnya ketika “Earth Song / Ocean Song” dirilis ulang di tahun 2010 dengan tambahan 3 lagu. Setelah ditekan untuk selalu ceria dan menutupi kesedihannya, pada “Let My Name Be Sorrow” vokalnya memberat, menarik keluar suaranya bersamaan dengan linangan air mata. Kali ini Hopkin berkabung dalam suaranya yang lebih rendah hingga selayaknya calypso yang terus-menerus dibuat menunggu dan dikecewakan oleh cinta dalam taraf yang siklikal.
Baca Juga : Margo Guryan – Anak Bungsu Jazz, Yang Telah Berpaling





