“Pada Heart of Darkness”, Positive Noise memainkan peran yang koheren pada tembang legendaris “Sympathy for the Devil” milik Stones, dan mengamininya secara sarkastik, bahwa logika mistika dan sosok antagonis Iblis sebagai bantalan dari banalitas, hanyalah tipu muslihat manusia.”
Kehidupan terkadang seperti melangkah dalam radang ranjau. Tidak ada yang tahu kapan, pergerakan beberapa inchi mampu membuat tubuh terpelanting atau justru pijakan selanjutnya sebagai antrian keraguan berikutnya. Hal itu yang mungkin kerap dirasakan Nick Launay pada awal tahun karirnya sebagai produser maupun teknisi audio. Sebelum dikenal menjadi langganan produser bintang alternative (Talking Heads, Arcade Fire, Kate Bush, Silverchair, hingga Lou Reed), Nick telah merakit ranjau hits yang meledak sewaktu-waktu pada tahun-tahun pertamanya di atas meja produksi. Pada masa 1979 – 1982, Nick Launay menjadi sosok Ayah bagi regenerasi post-punk, memproduseri untuk Killing Joke, Public Image Ltd., The Slits, The Birthday Party, Gang of Four, dan Positive Noise.
Tidak hanya melejit secara komersial, Nick berhasil meledakan post-punk menjauh dari suara madchester dan melepas bayang-bayang sosok flamboyan Ian Curtis bersama Joy Division, demi membuat regenerasi post-punk otentik. Nick merevitalisasi post-punk agar terdengar menggeram, nyentrik secara eksekusi, dan bertekstur berat, dari drum maupun distorsi gitar yang berminyak dan abrasif saduran gaya industrial rock maupun noise rock. Positive Noise memiliki warna kelabu dalam hal popularitas, namun “Heart of Darkness” bisa menjadi timbunan kitab kesaksian, yang ingin melihat kegelapan manusia sebagai fatalis dari lensa post-punk yang sinis dan ringkih menyikapi kehidupan.
“Heart of Darkness”, memainkan peran yang koheren pada tembang legendaris “Sympathy for the Devil” milik Stones, dan mengamininya secara sarkastik, bahwa logika mistika dan sosok antagonis Iblis sebagai bantalan dari banalitas, hanyalah tipu muslihat manusia. Jantung kegelapan ini diterangi dari bawah / Prajurit Tidak Tahu, teriak vokal Ross Middleton pada pembukaan “Darkness Visible”, menyusupkan bahwa manusia modern telah hilang kesadaran oleh dogmatisme dan reproduksi sosial, melupakan jati diri bahwa kegelapan yang mencuat bawaan dari lahir.
Selain terkontaminasi Nietzsche-ism, Ross merangkap sebagai jurnalis musik, yang membuat Positive Noise memiliki kedalaman sonik yang banyak mengutip referensi budaya pop maupun alternatif yang menjamur pada eranya. “Hypnosis” meletakan melodi gitar bergaya zolo, lincah sekaligus menghipnotis, memaksa agar gelombang berfrekuensi tinggi masuk dan mengontrol pikiran. “And Yet Again” yang mengisahkan alienasi dari jeruji keramaian sosial, meromantisasi kesan melankolis. “Ruangan penuh orang-orang diam dengan tirai tertutup / Meskipun kita berkomunikasi / namun tak pernah sampai ke kota ini” Ross menyanyi dengan suara yang tertegun di atas lengkingan saksofon, dan gerakan bass yang murung.
“Warlords” mengambil kesombongan glam rock 70’an dengan langkah bass yang membusungkan maskulinitas suara dan irama gitar yang menghentak. Aku melihat para panglima perang datang lagi / Aku mendengar suara ribuan orang lagi / Taman gantung terbakar lagi / Aku melihat para panglima perang datang lagi, lagi, lagi / melupakan kejahatan terkelam / Pertimbangkan itu, temanku, dan di zaman kita, bait yang diteriakan secara lantang dan membara. Menjadi masuk akal, ketika Positive Noise membawa pengaruh drum tribal, sebagai penegasan kejahatan yang telah lama bersemayam jauh sejak manusia berkomunal.
Baca Juga : Pink Section – Sectioned, Pemberontakan Terabaikan Dari Bay Area





