“Sally Yeh, tidak pantang menyerah sedikitpun dalam menyuarakan cinta, pengharapan, dan rasa bebas sekalipun memerlukan pengorbanan paling berharga dengan menghilangkan kemampuan penglihatan dalam prasangka. Membebaskan cinta dari kurungan keraguan, terbang bebas selayaknya merpati putih yang mengepakkan sayap di atas langit.“
“Begitu banyak harapan, begitu banyak mimpi, semua karena kesepian di hatiku/Biarkan aku merajut fatamorgana ini, hari demi hari, sedikit mabuk seumur hidup.”, Sally Yeh menghayati sepenggal refleksinya, dengan nada yang diselimuti harapan pada “Drunk for Life”. Lagu tersebut menjadi begitu dikenal ketika terdaftar sebagai soundtrack utama film laga hong kong seminal klasik, “The Killer” (1989). Sally Yeh sekaligus mendapatkan peran utama wanita beernama Jenny mendampingi Jeffry (diperankan Chow Yun Fat), sebagai gadis penyanyi cafe kesepian yang hanya merasa hidup, ketika membuka hati di depan mic dan membalas tatapan kosong pengunjung cafe yang menikmati nyanyiannya. Setidaknya, Jenny dapat meraba dan merasakan mimpinya, meskipun terlalu berkilau, hingga matanya tak sanggup menatap barang sedetikpun. Secara bersamaan, Jenny mendapatkan tragedi pilu yang merenggut daya penglihatan, sekaligus menjadi titik mimpinya yang lambat laun melebur dalam kenyataan.
John Woo, sang produser film laga yang dikenal mampu mengendurkan batas antara romantisme dan kekerasan, awalnya meminta soundtrack utama “The Killer” diisi oleh vokal jazz bergaya barat, sebagai semiotik dualisme melankolis yang bersanding dengan dunia mafia kelam. Rekan produsernya, Tsui Hark menolak, melontarkan alasan audience Hong Kong tidak mengenal kultur semacam itu. Perseteruan ambisi ke-2 produser perfeksionis ini terhenti, pada pertemuan dengan Sally Yeh. Woo dapat bernafas lega meneruskan ambisi eksentriknya, karena Sally Yeh pernah tinggal dan tumbuh besar di Kanada, memahami seluk beluk kultur musik pop barat. Hark dapat tersenyum lebar, sembari tetap memikat audience domestik, dengan lagu yang dinyanyikan dalam bahasa kanton.
Situasi ini semakin menjelaskan, terkait album “Face to Face” yang meneropong jahitan remah-remah musik pop Barat, yang bukan datang dari kelatahan modernisasi dipaksakan dalam persaingan globalisasi terhadap Barat. Bahkan pada masa awal karirnya, Yeh dibantu oleh Penyanyi kawakan sekaligus CEO Warner Music Hong Kong, George Lam (kelak menjadi suaminya) untuk melafalkan dialek kanton dengan benar. Kekurangan sekaligus kelebihan yang dimilikinya, telah menggaris batas cukup tebal terhadap penyanyi Hong Kong yang tumbuh satu generasi. Suaranya bergetar di atas petikan gitar akustik bossa nova pada lagu “Self-Titled”. Meskipun mencoba bernyanyi dalam register yang lebih rendah, Sally tidak bisa memendam rasa, menyanyikan sesuatu yang berbinar-binar, dan selalu mengingatkan: “Sekalipun langit gelap, rumahmu akan tetap hangat”.
“Past Dreams” mengalun dalam petikan gitar akustik datar dan berayun-ayun dalam pengaruh country folk hippie bergaya 60’an, menciptakan peristiwa sporadis. Mainland jelas memiliki keterlimpahan referensi kultural yang dapat disadur oleh penyanyi-penyanyi pop kanton kontemporer, ketika Yeh memutuskan untuk mengingat padang rumput yang luas dan gubuk sederhana di sekitaran wilayah Vancouver, alih-alih mentransfigurasi pikiran pada gunung-gunung kokoh dan kemegahan kastil-kastil peninggalan tradisi dinasti. Hampir sebagian besar lagu, digerakkan dalam ballad gemulai, yang akan melebarkan jarak kontras suara semangat dan menggebu-gebu dari Sally Yeh, yang ditempatkan selain menjadi poros daya tarik, tapi semacam suara-suara pengharapan yang entah berbicara dari lapisan langit sebagai wahyu atau berbisik dalam rongga perasaan dalam bentuk introspektif.
Itu yang dilakukannya ketika vokalnya membuncah tak tertahankan pada balada vocal jazz, “I Only Know”, yang sesuai normatifnya disenandungkan dalam nada-nada panjang berat, “Wide Sky” yang menebalkan ekspresi chorus dan meliuk menjelang penutupan. Seperti yang telah digariskan kepercayaan spiritualitas timur yang memandang sinis terhadap hal bersifat ke-duniawian, vokalnya sama sekali tidak mengalami demistifikasi terhadap pasang surut instrumen balada yang mencari validitas cinta pada pembuktian dan pengorbanan yang dapat tersentuh. Sally Yeh, tidak pantang menyerah sedikitpun dalam menyuarakan cinta, pengharapan, dan rasa bebas sekalipun memerlukan pengorbanan paling berharga dengan menghilangkan kemampuan penglihatan dalam prasangka. Membebaskan cinta dari kurungan keraguan, terbang bebas selayaknya merpati putih yang mengepakan sayap di atas langit.
Baca Juga : Akina Nakamori – Fushigi, Lompatan Menuju Perangkap Hitam





