Sejak masa embrio, ketika bola mata bolak-balik meratapi lendir-lendir pembentukan organ pencernaan dari luar, kami telah dikutuk!!! Menyambut hari pertama terbangun dari mimpi alam semesta, sepasang mata kami terbelalak melihat wujud menyerupai kami mengelilingi jarak pandangan dan siap mencabut nyawa kapanpun. Kami tidak sedang berkhayal melawan pikiran yang kami tidak miliki, kehendak kami telah diatur seperti mesin yang terbuat dari organ dan kulit. Kami tidak mengenal ikatan dan hubungan yang disematkan dalam frasa. Dalam prinsip dunia kami, siapa yang ingin melihat kerabatnya bahagia begitu saja!
Kehendak bebas kami dikendalikan, kami buta akan moralitas sebagai air kehidupan, yang membuat para dewa-dewi kehausan dan rela mengantri, menjual jiwa demi mendapatkannya! Kami telah membantu membersihkan rumah mereka dari sisa-sisa sampah, menyingkirkan setiap racun yang masuk, dan menjadi gerbang penghalang agar para dewa-dewi tetap bermain-main dengan tubuh dan cacing pikiran fantasinya yang merayap manja. Tetapi mengapa kami hanya dibiarkan tinggal di lubang-lubang kecil?! Mengapa dewa-dewi itu menghampiri kami, berteriak histeris sembari menghamburkan partikel di depan wajah berbatang kami yang mengangkat kami kembali pada jalur reinkarnasi?! Memaksa kami untuk memakan sisa-sisa bangkai hewan yang telah dibunuh?!
Kami ada dimana-mana, pantulan dari setiap kami adalah wujud kami sendiri, kami terhubung dalam wujud-wujud yang lepas dari pergerakan kaki mungil, dan tubuh-tubuh yang ramping menyusup di setiap sela-sela selokan dan menunggangi pencipta kesadaran yang bertebangan di udara. Kami bukanlah pasukan mayat hidup, kami punya tujuan tetapi tidak pernah diberitahu, kami mungkin tidak berguna bagi diri sendiri, tapi kami memberikan hadiah kecil setiap kali bumi menuju masa duduk di kursi roda.
Dewa-dewi itu mengucilkan kami, mendirikan benteng, menguras persediaan, berusaha ingin agar setiap sel yang melekat pada kami, terpisah satu sama lainnya, sehingga bisa menjadi seperti dua sejoli yang berbicara mengenai kesakitan emosional dan keluh kesah secara bertelanjang dada. Setiap langkahnya mendekat, jarum-jarum pompa seperti menusuk mulut menuju jantung, dan memompa banyak pasokan darah dan oksigen, seperti menempelkan bom peledak di dada. Sebagai penguasa yang ditakdirkan menjadi budak yang terjajah, kami merasa iri pada dewa-dewa yang bisa membuat sihir hanya dari fantasi dan kebohongan.
Kami tidak punya kemampuan mekanisme menyembunyikan keburukan, kegilaan, dan keegoisan yang terselip halus di antara gejolak organ tubuh dan lapisan kulit lembek yang disebut pikiran dan perasaan. Jika kami ditakdirkan sedekat mungkin dengan gemburan tanah subur, tumbuhan hijau, aliran sungai, dan kenyataan yang telah dipahat alam semesta, dewa-dewi ditakdirkan menggerakan kehendak alam semesta sesuai dengan imajinasi dan halusinasinya. Jumlah spesimen maupun populasi kami tumbuh berkali-kali lipat, memenuhi setiap dataran dan biji kehidupan yang dapat dipijak, tetapi nyanyian dan teriakan kami takan mampu dipahami sampai kapan pun. Kami mungkin terpisah dari rahim ibu dan dilahirkan dalam kondisi dipenuhi tumor-tumor mengerikan Tapi kami menyimpan rahasia alam yang tidak dapat diketahui siapapun, lewat setiap frekuensi gelombang yang merambat melalui udara menjadi simfoni bising yang tidak pernah dihiraukan!
Formica Obscuripes – Perkawinan & Pertahanan Sang Bara Api Kecil
Dengan penuh rasa kantuk yang menyelimuti selama perjalanan pulang, angin menelusuri setiap perut-perut legam dan rongga kepala kami yang berwarna merah nyala api. Saat itu sore hari, paviliun setinggi 1,5 meter yang terletak di belantara hutan kawasan kepulauan Vashon, Washington menjadi rumah sekaligus tempat perlindungan kami. Demi melindunginya, kami mengunyah remah-remah alam semesta, merubahnya menjadi senyawa kimia, sebagai pagar berduri pelindung paviliun yang menjulang kokoh. Sekalipun, tidak pernah terlibat dalam perang politis Vietnam dan Amerika, anggota yang terdaftar dalam divisi pekerja koloni, tahu bagaimana mengelabui musuh, dengan cara menyembunyikan senjata dan tempat tinggal, yang diselimuti serasah tanaman (thatch).
Tanpa memiliki kuku dan jemari, tangan-tangan ini menusuk tumbuhan, menggergaji siklus hidupnya, mengunyah dan menihilkan keberlangsungan umur vegetasi perlahan-lahan, yang berani serampangan tumbuh di sela-sela paviliun. Semua tahu apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup dalam ruang dan waktu yang berbahaya ini, yakni menemukan kerabat yang bersedia berkomplot dan bahu-membahu. Tidak jauh dari paviliun, aphids dan mealybugs memberikan kami segenggam gula kaya nutrisi atas imbalan dari kesediaan kami memberikan akomodasi tempat tinggal dan bertarung membunuh predator-predator yang berusaha memutuskan ikatan dengan kehidupan masing-masing mereka.
Sesampainya di paviliun, ada pemandangan asing yang tidak pernah muncul setiap kali matahari berpamitan menuju barat. Sepasang benda keras, berwarna hitam berdiri tegap, menghalangi jalur yang biasanya kami lewati sebagai pintu masuk paviliun. Beberapa dari anggota kami terheran-heran dan merasa penasaran, beberapa diantaranya mulai mengorek-ngorek benda itu, menggigitnya dengan tatapan yang penuh sinar kebingungan. Kami saling bertatapan dan menggerakan antena satu sama lainnya, “apakah ini gula jenis baru?”, “apakah ini serasah yang bisa digunakan sebagai tempat perlindungan”, atau “apakah ini benda berbahaya?”. Beberapa saat ketika cahaya mulai memutih dan langit mulai terpejam, benda hitam keras melebihi dari wujud batu obsidian itu sama sekali tidak bergeming,
“Persetan dengan benda bodoh ini, mari lakukan tugas sebagaimana mestinya”, kami berusaha mengalihkan distraksi dari benda tersebut, agar kembali beraktivitas seperti biasa. Sebuah tradisi poligini dalam sebuah koloni, memotong rangsangan pribadi untuk ditempelkan dalam kepentingan mortalis kolektif koloni yang menggelitik menjauhi kepunahan. Cinta dapat tinggal di luar, bersama dengan benda bodoh hitam itu, dan persenggamaan kami ditunjukkan untuk keegoisan alam yang ingin agar semua berjalan sesuai kehendak. Tidak ada yang namanya kesengsaraan, bahkan sekalipun itu dapat membuat pengorbanan setiap cangkang terkelupas, merobek daging dan kepala hingga menyisakan bau busuk dan setetes darah yang mengering. Kami hidup berkoloni untuk melahirkan dan membunuh!
Ratu kami yang gagah berani, menyusup teritori kawanan ras koloni yang berbeda dari kami dan berhasrat menjadikannya sebagai inang! Kami memang tidak menikahi sesama ras, tetapi supremasi adalah jalan bagi kami untuk mempertahankan keberlangsungan pohon genealogi leluhur kami. Malam pertama adalah waktu yang tempat untuk penggulingan kekuasaan! Wewangian parfum ratu kami dapat memikat inang jantan, yang bersedia melakukan persenggamaan dalam bilik dengan sang ratu. Setelah mencapai klimaks, secara diam-diam ratu kami menyelinap mencari keberadaan ratu penguasa dari inang koloni yang disusupinnya.
Tanpa ragu, Ratu kami berlari menusukkan antenanya pada jantung dada Ratu inang koloni, menikamnya hingga tewas terkapar di tanah berlumuran cairan kimia. Hanya butuh satu langkah kecil untuk menggenapi kemenangan ini, Ratu kami menyemprotkan kimia pada sekujur tubuhnya yang dikenali oleh para kelas pekerja inang koloni, menganggap bahwa Ratu kami adalah pemimpin mereka. Setelah masa bertelur selesai, dengan penuh kemenangan, Ratu memerintahkan para pekerja-pekerja yang berada dalam inang koloni untuk membuahi sel-sel telur dan paviliunnya menjadi milik koloni kami. Itulah rahasia bagaimana kami memperlebar jumlah koloni dan kerajaan kami dengan membunuh dan memperbudak sesuai yang telah digariskan!. Kami memiliki sifat polidomi, tinggal dalam beberapa paviliun sekaligus, dan tidak mengenal pemimpin tunggal, komando kami terdiri atas sifat poligini dengan beberapa ratu kami yang dominan!
Tidak terasa, ketika matahari membuat kelopak mata menggulung ke atas, setiap anggota tubuh mulai bergerak sibuk. Kami bersiap untuk melakukan perjalanan seperti biasa, bertarung sekaligus bertahan hidup, menggantungkan pengharapan akan sesuatu yang tidak dimengerti. Baru saja kepala kami melenggok pada arah 9, koloni kami, serempak melihat benda hitam aneh itu masih ada di sana, kali ini berposisi setengah tersandar pada paviliun kami. Khawatir benda itu akan menghancurkan kemegahan paviliun, dengan dikuasai gejolak emosi, semua anggota koloni menyerbu benda hitam tersebut. Kami sudah lama bertarung dalam kesia-siaan, bagi kami ini hanya tampak seperti pemanasan saja. Semua ocehan, gerutu, dan serangan yang dilayangkan tidak ada yang mampu merobohkannya.
“Siapapun tidak boleh ada yang meninggalkan tempat ini!, garuk dan runtuhkan benda ini sebisa mungkin!”, Secara tidak sadar kami telah menciptakan gemuruh suara yang intens, padat, saling beradu, dan menghasilkan suara yang terpercik dari api kemurkaan. Bahkan, nyala api paling terang pun dapat padam suatu ketika, kami bersujud meminta pengampunan pada alam, wujud penyesalan telah melalaikan tugas untuk kekosongan dan kemarahan ego sesaat. Satu-persatu anggota koloni meninggalkan kekacauan itu, mulai berburu mencari makanan dan serasah tanaman seperti biasanya. Setelah kami pulang dari berburu, semua pasang bola mata melotot, mendapati bahwa benda iblis itu telah tiada. Kami bersorak sorai, bernafas lega, berharap bahwa kemarahan kecil kami yang membara tadi pagi, sirna tanpa jejak. Itu adalah aib bagi kami yang menunjukkan simfoni kemarahan dan mengabaikan pusaran kekosongan yang telah ditangguhkan alam kepada kami.
Gryllus – Sinyal Waspada Yang Menenangkan
Bagaimana gumpalan suara sanggup memindahkan pikiran ke dalam toples yang penuh dengan hawa embun dan udara dingin mengitari, tanpa berkhayal mengenai teleportasi? Kami mengidap hemimetabola, semacam ketidaksempurnaan metamorfosis, menggesekan kedua organ, hanya sekedar memberikan sinyal bahwa kami berada dalam fase kegelisahan yang terus berwaspada, sekaligus berada pada fase kasmaran. Obesitas menjangkit hingga pada ubun-ubun tempurung kepala, dan sepanjang masa hidup yang singkat, kami tidak diijinkan terbang melintasi luasnya dunia.
Alam mengaruniai kami dengan sebuah kutukan untuk terus tinggal dalam lingkungan yang sama, dan kami tidak perlu repot-repot bertemu banyak spesimen predator yang mengintai kapanpun, setiap saat. Sesuatu yang mengancam terkadang, tidak menampakan dirinya, keberadaanya hanya tersentuh oleh aura, dan sensasi hanya menangkap dalam kehampaan, tetapi kami tidak cukup memiliki kecerdasan memanipulasinya hingga menjadi coretan mantra yang menutupi goresan luka api lilin yang menempel pada lapisan kulit.
Semua makhluk terlahir dari instabilitas yang dikendalikan suhu, tetapi terkadang lonjakan kegilaan suhu, membuat kami sekalipun tidak berani berjalan di atas sinar, sekalipun kaki terpaku di atas tanah dan tubuh mematung. Siapa bilang cinta harus dipertemukan dalam pasangan yang saling bertatapan dengan kekaguman dan halusinasi yang bercampur seperti air dan tanah? Pada akhirnya, tidak ada yang tahu bahwa unsur air dominan melakukan filtrasi, atau justru mengeruhkan perpaduan wujud menjadi kotoran dan najis.
Dari gesekan benda yang dianggap membawa sumber malapetaka, kami menciptakan bebunyian mistis yang terkonsentrasi dalam rentang frekuensi menjerit, lalu menukik tajam memasuki lobang pendengaran dengan wujud yang tipis namun mengiris setiap selaput yang mengalami friksi. Suara itu tidak diperuntungkan untuk semua dunia berpaling dan tertuju pada sebuah sudut, tetapi menjadi suara panggilan stridulasi untuk memikat lawan jenis. Entah mengapa ritual perkawinan kami, secara selaras membuat para dewa-dewi di Tiongkok ikut terangsang. Tangan-tangannya merangkul setiap persendian dan anggota tubuh, mengirim kami pada sebuah lingkungan yang menyusut menyesuaikan bentuk tubuh. Bagi para dewa-dewi, “nyanyian” kami adalah kekhusyukan spiritual untuk membawa rasa ketenangan dan mengakar dengan alam. Yah…, setidaknya saat ini kami mungkin telah menemukan tujuan hidup yang baru, meski harus melarutkan cinta ke dalam perbedaan ruang dan waktu.
Bagaimana bila seandainya realitas lebih indah dari mimpi? Para dewa-dewi itu menyebut tempat semacam itu bernama surga, tetapi bagi kami hal seperti itu mengartikan melampaui realitas lama menuju realitas baru yang penuh perjuangan mencari sumber daya baru dan menghindari setiap udara yang menyelinap pada lubang pori-pori. Kami bukanlah pengelana spiritual, sedikitpun tidak diijinkan untuk berpegang teguh pada kepercayaan, kami hanya mengepakkan jubah sebagai tanda kewaspadaan.
Memanjatkan kidung yang tertegun dalam antara durasi 1 hingga 4 detik, bukan diperuntukkan pada kemuliaan, hanya sekedar tanda penemuan tempat aman temporer yang dipenuhi lahan vegetasi padat. Di lingkungan yang diamini sebagai limbah yang menghalangi kekuasaan dan ambisi, kami memahat daun, dan melubangi dagingnya, menjepitkan kebebasan kami diantaranya menjadi sebuah lengkingan sangkakala kecil. Daun-daun itu beresonansi sebanyak 2 kali, suara yang mengomandoi batalion bunyi lainnya yang meningkatkan daya friksi pergerakan serangan dinamika hingga membengkak 4 kali lipat.
Dalam keterbatasan, kami harus menemukan separuh diri kami di dalam kubangan yang penuh keraguan dan ketidakpastian. Setiap batang perlu dikupas untuk memperoleh kambium, metabolisme kami diperas, hingga seluruh nyawa bertaruh pada seutas gelombang. Bagaimana sebuah puisi dapat memikat malaikat dan iblis secara bersamaan?, alunan melodi terasa kontemplatif bagi para dewa-dewi, tetapi kami mengamininya sebagai jurang pertaruhan menjerat leher dalam nafas kembang-kempis! Kami bisa menerawang, bahwa yang menghampiri kami adalah sosok Aphrodite sang pendamping dalam penuh balutan luka atau malaikat berkuda hitam yang bersigap mencongkel mata kami keluar dari tatanan kesadaran!
Arthropoda – Stridulasi Koloni Cassandra
Kami mampu meramalkan genangan riak samudra menjadi penyambung kehidupan atau menetes sebagai kilang racun mematikan. Kehadiran kami dikaruniai sebagai tanda akan ketidakstabilan ekosistem yang terjangkit virus ambisi kekuasaan dan kesewenang-wenangan, kami memiliki rahasia untuk melubangi misteri frekuensi alam, dan hebatnya tidak ada yang mempercayai akan atribusi kemampuan kami! Meskipun tidak ada satupun habitat, yang membatasi ruang gerak, tetapi kehadiran kami tidak lebih dari roh-roh halus yang mengantri dalam ruang penghakiman. Kami menuntut bahwa alam sekalipun tidak mengartikan bebas nilai terhadap subjek hukum!!
Jika perlu, kami bersedia merobek otot-otot perut dan mengeringkan gliserin kami, untuk mengadvokasi sekaligus menuntut gugatan pada alam sebagai sumber terbesar yang menyediakan ketidakadilan! Sayangnya, itu terlalu sulit untuk ditaklukan! Lapisan multifaktorial keasaman, kelembapan, dan salinitas berusaha untuk mendekomposisi eksistensi menjadi pupuk pengorbanan dalam kehidupan yang sama sekali berada di luar kehendak kami! Tetapi kami setidaknya sedikit mengucapkan terima kasih dengan wajah datar pada alam, dengan membekali kami senjata runcing yang digunakan untuk menghunus setiap ancaman, dalam kreasi koloseum yang meneteskan darah, bagi setiap yang menjamahnya.
Kicauan soliter yang tersinkronisasi menembus setiap benda materi, mengabaikan kebakuan senyawa kimia, seperti debu yang tidak ada artinya. Resonansi yang bergetar dari rongga, mengeluarkan suara dengan warna holografik yang tajam. Siapa bilang bahwa cahaya hanya mampu ditangkap oleh retina? Setiap selaput lendir dalam membran timpani dapat merasakan suara yang mencolok, membutakan sesaat akan keadaan sekitar! Air bukan sebuah medium untuk menenggelamkan, tetapi medium yang mengapungkan oksigen dari balik corong jarum yang menganga.
Jika ada satu hal yang disodorkan kepada kami sebagai jaminan pertahanan hidup di Antartika, kami tidak ragu untuk mengambil segenggam Nitrogen! Senyawa yang dianggap sebagai racun, tetapi para dewa-dewi tidak mengetahui, betapa pentingnya Nitrogen sebagai lapisan ozon memperpanjang pernapasan, yang setiap detiknya mengurangi limitasi angka suhu! Bentuk kami, tidak lebih besar dari setitik salju yang menuruni tangga bumi, tetapi kami bisa menjadi topping selai keju dan kacang hazelnut pada roti gandum yang baru saja dibeli dari toko!
Nyanyian tanpa kata, berusaha dibedah hanya untuk mendapati nihilitas menyerupai denyut benda mati yang menggumpal dan bergerak tanpa menggunakan otot-otot motorik. Sang dewa-dewi terlalu suci pikirannya, mengorbankan jiwa dan keberlangsungannya hanya untuk ditukar dalam imperialisme besi dan beton, berakhir dalam kepulan puing-puing! Setiap kuping yang menggantung dalam setiap tabung oksigen telah kami bisikan, “hentikan, semuanya sebelum terlambat!”. Tetapi peralatan-peralatan mesin itu terlalu nyaring untuk membekap suara dan nafas kami. Alam sama sekali tidak berdaya, melokalisasi simfoni yang kami mainkan dengan penuh kegelisahan dan kecemasan, terhadap kehebohan dan kesenangan yang hanya membuat terlena dalam setiap objektivitas yang tergerus bersamaan dengan butir-butir pasir yang berjatuhan dalam gelas kaca.
Tidak perlu repot-repot mengotori jari-jemari, dan memporak-porandakan peradaban mikroorganisme, membuat ranjang peristirahatan abadi, setiap belaian yang menyatu dalam oksigen, sudah cukup membuat dewa-dewi tersenyum kekal, dikelilingi cahaya menyorot terang sembari berdansa mengenakan gaun merah. Setiap suara kami, akan terdengar seperti perut keroncongan, meneteskan asam klorida di dalam perut, dan mendorong ke atas katup esofagus, hingga membuat kebakaran hebat yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh damkar sekalipun.
Tak ayal, perpisahan tanpa terucap tidak akan pernah dimengerti dan ditekuni, terlalu sibuk melentingkan sumsum tulang belakang terhadap sekat-sekat ikrar dalam batin. Apa yang dilakukan dirigen itu, tidak lebih memarkirkan kontrapung dalam susunan sonata yang sesuai. Tetapi, bagi kami kebenaran adalah tindakan, 1 aksi lebih kuat dari 10 ribu sumpah-serapah. Seseorang harus berani memulai kekacuaan. Teori fisika manapun tidak akan sanggup menjawab perubahan fenomena suara menjadi benda padat yang mencairkan ketegangan, dan mentrasedensikannya ke dalam asap-asap yang menyublim. Pengetahuan kami tidak akan pernah dikekang material seluruhnya berwujud apriori auditori. Kesunyian, bukanlah kedamaian, sonik yang nyaring justru sebagai signifikansi kehidupan, dan dengan segenap sinkronisasi pulsa, kami membentuk koloni cassandra, yang ber-stridulasi dari pagi sampai dunia runtuh oleh gaung ramalan bualan kami.
Corixa – Kedalaman Air yang Berbisik
Dari bawah laut, tersiar kabar bahwa rasa penasaran tumbuh hingga menembus antar dimensi galaksi. Kami tertawa terbahak-bahak mendengar tajuk berita konyol semacam itu, “Hey, kami sudah menyiapkan semuanya di dalam sini, seperti hidangan yang siap tersaji di atas meja hari-hari perayaan besar.” Sejak bumi mengalami evolusi hebat pertamanya, kami disembunyikan dalam lapisan sosial terdepan. Air menjadi pasang mata, merekam adegan keberlangsungan koloni, menjadi tempat yang dipenuhi sudut-sudut misteri yang sulit terjelaskan oleh penganut mahzab Kantian. Dalam kondisi bentuk tubuh pipih tidak melebihi 16 milimeter, kami tidak membutuhkan sepasang insang untuk melakukan pertukaran senyawa kimia, kami hinggap pada gelembung-gelembung yang lahir dan mengubahnya menjadi paru-paru. Syukurlah, samsara telah mendampingi bersamaan dengan angka kelahiran sel-sel telur yang menetas. Ketersediaan nilai-nilai kebijakan sudah cukup untuk menghilangkan selera nafsu makan, terhadap sesama hewan, dan hanya memunguti sisa sisa-serasah dan gangga yang mengambang di perairan, sebagai penghapusan redudansi kehidupan.
Kami tidak menyetujui bahwa kematian akan berakhir begitu saja, itu adalah lingkaran permulaan siklus kehidupan yang baru, dan itulah mengapa kami menjadi detritivora. Berenang-renang di samudra yang luas tanpa dopamin sedikitpun, memang membuat nyali dan kehendak bergetar, tetapi jika mampu bersalaman akrab dan mengkawin sirihkan lingkungan dan potensi yang dimiliki, itu akan menjadi kombinasi kamuflase terhebat yang tidak akan mampu diledakan oleh penembak jitu manapun. Sekali lagi, ucapan terimakasih harus dilayangkan pada kepeduliaan iklim yang membiarkan perisai dan predator yang haus akan setiap lekuk tubuh kami, berenang-renang dalam lapisan ozon yang setara dan saling memiliki kehendak kuat bermetabolisme tanpa tujuan.
Sejenak tertegun kaku akan pandangan yang melihat belasan dari kami saling menatap, tidak pernah membayangkan proposisi kepala kami melebihi einstein, menusukan jarum demi merajut sweater kehangatan menjaga dari terumbu karang yang bernafas, beterbangan dalam air mengenakan jubah macbeth. Kami bukanlah sosok pencabut nyawa, kami hanya melakukan teorema survival, yang tertulis dari guratan ranting, darah, dan air asin. Setelah sekian lama berenang-renang dalam bentangan sungai Orne, Normandia, tiba-tiba pergerakan terhenti akibat kaki yang menempel di kepala terantuk sesuatu. Neuron terbelah dua menjadi jalan tengah untuk kekacauan laut yang terpinggirkan beberapa sejenak. Benda itu bukanlah terumbu karang, perahu nelayan, atau bangkai-bangkai ikan yang mengambang. Hiruk-pikuk rutinitas laut sama sekali tidak terusik.
Kami tidak pernah bercita-cita menjadi rockstar manapun, memanjangkan rambut bukan hanya sebagai mahkota dan persoalan estetis pemikat, kami menunjukkan bagaimana rambut-rambut menjadi sebuah kebutuhan substantif primer dalam mengumpulkan sisa partikel-partikel makanan, melubangi alam semesta sebagai corong ventilasi, dan bagaimana itu menjadi sebuah kereta bayi yang menenangkan bagi calon penerus kami.
Ada yang mengatakan bahwa indikator kehadiran kami secara melimpah, menandakan angka kesehatan ekosistem sungai tercukupi. Kami ingin sekali merasa tersipu dari terpaan pujian setinggi langit itu, namun apa daya kami terlalu sibuk, lelah bekerja menjauhi takdir mengamputasi langkah gerak kedua kaki belakang menjadi semacam sampan dayung, terpincang-pincang dalam volume air yang melarutkan rasa kegelisahan, dan was-was. Setiap hari, kami mendapat pujian kemuliaan sebagai penanda kesehatan sungai, hanya untuk menemukan fakta perhitungan hari terakhir dan pemakaman untuk segera diterbangkan menunggangi pegasus dan bertemu heracles, sebelum tubuh dan raga diserahkan pada kehidupan yang lebih agung dalam siklus rantai makanan.
“Oh, kami membenci dan menyukai rantai makanan”, menghargai hidup dalam nilai absurditas, dan nihilitas, tidak memiliki opsi secara signifikan untuk menerapkan apa yang disebut konsekuensialis. Yah, setidaknya determinisme hidup kami tidak diadakan dengan halusinasi, tetapi telah terancang atas penanda kehidupan dan menempelkan setiap perut-perut yang meledak tertimpa gunung bernamakan tanggung jawab environmental. Satu-satunya hal ajaib yang dapat kami lakukan menggesekan femur kaki depan terhadap tepi lateral kepala, menghasilkan motif nada pianissimo. Berteriak dalam ambang kesunyian dan kemisteriusan dari lapisan laut paling dasar. Sekali lagi, suatu kehormatan, kami dipercaya dalam divisi keamanan sungai, sembari menjalankan tugas sebagai seniman dalam pemikiran otonom yang membebaskan musik terhadap interpretatif kosa-kata, mengembalikannya dalam bentuk sonik yang pragmatik, dan mencoba membelah isi otaknya dan mengorbankannya pada jiwa-jiwa organik.
Kami adalah stasiun siaran radio broadcast pertama yang mengudara dalam laut. Setiap spesies, kami berikan kenyaringan geometris suara yang kami lengkingan untuk menyesuaikan dengan jenis jangkauan frekuensi dan ketersipuan para spesies terhadap melodi yang menseduksi sekaligus menipu. Tidak terasa setelah kematian kami 3 tahun lalu, dan melihat decitan cicit kami yang menggantikan posisi rantai makanan, benda “sakral”, misterius itu telah menghilang dari selaput bola yang menggelinding melawan gravitasi, tetapi apa yang tertinggal, tetap sebagaimana adanya, hal yang tidak akan menjadi milik, suatu saat akan lenyap, tetapi hei, sejak kapan dunia ini, memiliki konsep kepemilikan, jika semua yang melekat dapat dirampas dan binasa?
Saluran Balas Dendam Pemberi Bantuan
Suatu masa kami sudah cukup muak berjalan di atas putih telur. Mulut kami telah dikorbankan, hanya untuk dikotori dalam mencari intisari kehidupan, tanpa mengecap rasa manis yang dikhidmatkan dalam tetesan madu. Mengapa setiap jalan yang lurus, terasa seperti labirin teka-teki yang setiap sisinya mengantarkan pada labirin berikutnya, dan pintu berduri? Kami merasa bebas, tetapi entah mengapa tidak pernah mampu melongok keluar jendela sekalipun. Kami termenung dibalik jeruji, menggoreskan kapur pada setiap dinding, menghitung setiap detik yang berserakan, untuk kami pungut dan rapikan menjadi sebuah momentum balas dendam. Sedari berbentuk larva, konsep balas dendam tidak lebih penting daripada menyadari akan kepunahan yang lebih niscaya. Tetapi, kami telah memperkirakan kapan keadilan dapat diberikan, ketika alam selalu sibuk menghitung persentase keberhasilan kehendak.
“Saat itu, kami akan tiba!”, “Saat itu, kami akan tiba!” teriakan nyaring yang tidak lebih keras dari berdaham ini, setidaknya membuat makna yang tersendat di labirin, agar sudi membenturkan kepala dan tanda kesadaran terhadapnya. Suatu masa, kelompok kami sedang dilanda kelaparan hebat, terbang menembus lintang batasan yang tidak akan pernah bisa digambarkan para dewa-dewi, tidak ada gunanya dan menemukan hasil 0. Dalam perjalanan menuju olah tubuh spiritual dalam memisahkan hal eksternal dan internal, pasang mata kami tertuju pada sebuah mahluk raksasa, yang tertidur di atas tanah dan kerikil.
Kami sebelumnya telah mengetahui harum dari bangkai, tetapi kami hanya memastikan bahwa apa yang dilihat memiliki nilai yang setara dengan konsep mayat. Kami mulai menghampiri, menyentuh, hingga menggelitiknya, sekalipun tidak bergeming. Seekor burung pegar ini telah bosan untuk mengepakkan sayapnya, dan memilih untuk berdiam diri seperti batu-batu selokan yang tidak pernah menguap. Perjalanan yang mengandung peluh-peluh keringat, sirna seketika dan kami tanpa sengaja membuka gerbang yang lebih luhur menjadi pelayan kehidupan. Kami hinggap dalam salah satu dahan kehidupan yang lahir atas pembusukan yang diterima.
Kami bersujud di atas bangkai, mencoba untuk meletakkan pelatuk-pelatuk dan kaki kami di atas tanah, sambil tetap menggesek anggota badan kami. Tidak ada yang mengira bahwa simfoni lahir, dari peristiwa memuakkan dan kenajisan seperti ini. Kami menjadi pengurai kehidupan sebelumnya, seolah sedang berbalas dendam terhadap siklus kutukan, tetapi kami menciptakan siklus baru sebagai saluran bantuan untuk melancarkan aksi balas dendam terhadap kami berikutnya. Kami rasa, suara kami akan dicatat, untuk kemudian diarsipkan sebagai penjagal daging busuk yang membawa berkat bagi dunia dan menanggung kutuk teruntuk genealogi kami sendiri di masa depan.
Dewa-Dewi Baru…
Terhitung saat ini, kami yang mengambil alih keputusan-keputusan rapat! Membuat kebijakan dan ketetapan yang terpusat, mengorek lubang menjadi terowongan raksasa. Sebisa mungkin, kami ingin menaikkan kemudahan akses ekspor nektar, dan melemparkan lumut-lumut dari setumpuk kertas dan sulur yang mulai menjalar gedung-gedung pencakar langit. Undang-undang transmigrasi dihapuskan atas nama hak agar kami dapat hinggap dan menetap di mana saja tanpa dihalangi angan-angan dan tinta bodoh. Kami memotong lidah, bagi siapa saja yang mengucapkan mantra-mantra sesat yang ditulis dalam setiap prasasti, dan kitab-kitab sejarah. Sebuah kesalahan berpikir dalam pengorganisasian bunyi itulah yang menyebabkan malapetaka selalu tumbuh, meskipun dunia telah mengatur ulang tatanan kembali ke-0 sebanyak 5 kali!
Tidak perlu melelehkan titik beku bumi, hanya untuk menyinari mata-mata yang hanya terpesona buih-buih yang menetes dalam ruangan pengap itu. Kami telah siap menggantungkan, sorot lampu yang menyinari dari kotoran mengering, bersedia menukar kehidupan hanya untuk menerawang satu langkah masa depan. Kami bersedia menancapkan antena di kepala, membelah frekuensi percakapan, menjadi hasrat kopulatif yang buas dan tak terkendali. Tidak butuh waktu lama, kami menaklukan mereka yang berkorban menyerahkan hidup dan tubuhnya, bila perlu setiap sarafnya, harus menjulur dan melepaskan diri dari cangkang, semata sebagai altar persembahan kehidupan baru yang tidak memiliki dosis nikotin.
Setiap malam kami terjaga, mengawasi siapapun kerabat yang bermain api dalam sekam. Apa yang perlu dirisaukan lagi, jika mengetahui seluruh dunia menyelisihi setiap jengkal langkah yang kami ambil? Kami tidak membutuhkan sebilah besi berkarat, untuk melubangi setiap arteri dan kapiler, sebutir pasir dan pecutan gelombang lebih dari cukup membuat ukiran kebesaran kami, tertancap pada setiap kerongkongan. Musim dingin, masa paling mengerikan sepanjang siklus kehidupan. Setiap kami saling bertatap muka di hadapan cermin gletser es, kami selalu bergegas dan waspada mengumpulkan persediaan cadangan energi yang kami rampas dari pelukan ibu pertiwi.
Persetan dengan undang-undang perlindungan, kami telah bersekongkol dengan diri sendiri, mendekatkan diri semirip mungkin dengan cerminan alam, mengamini pepatah bahwa sel-sel kami terdiri atas unsur alam apa yang singgah dalam tenggorokan kami. Biarkan mereka yang tidak mampu bertahan, beristirahat dan menjadi selimut atas tubuh kami yang menggigil kedinginan dalam hasrat kehendak bebas dan kekhawatiran yang tidak pernah retak dihujam meteor sekalipun.
Setiap kali kami menoleh, kami tersenyum puas, pada akhirnya pohoh imajinasi itu tumbang dan hanya menjadi sebilah batang yang mengering, daun yang tumbuh sesegara mungkin layu dan bunga yang jatuh berguguran. Setiap rantingnya tidak lagi mampu menjerat leher kami dengan duri-duri mawar yang mematikan aliran sungai kehidupan yang memerah dalam kenajisan. Kami membantu semesta, membersihkan tumpukkan hama ini, menyerahkan semua gelondongan kayu pada Amphitrite, menghiasi pilar kamar riasnya yang tertancap terumbu karang, dan terhampar luas pekarangan rumput laut yang menari-nari.
Tidak ada lagi tanduk yang bersandar dalam singgasana, ketika semuanya telah dipatahkan, sang minotaur telah menyeruduknya hingga ke ujung langit, kotoran dan mahkota menjadi tidak ada bedanya, ketika ke-2 nya sama-sama menancap di kepala, dan menghisap kesadaran, menyisakan corong cangkang siput. Kami tidak sabar untuk mematahkan setiap sayap kesombongan yang membentang, menjadi dendeng kering. Kami telah siap menahan lapar dan dahaga, hingga perut kami mengeluarkan masa depan yang baru, lalu menyantap dendeng kering itu hingga perut kami memproduksi kembali bakteri, sehingga kami bisa melahap apa yang membunuh dan membinasakan kami untuk ke-2 kalinya.
Kami tidak berpikir sedikitpun, bahwa kami adalah iblis, sentuhan kami telah mengalahkan kehalusan rajutan kebesaran Zeus, paras kami menandingi kecantikan megara dan telah mengenakan gaun ungu yang anggun, ketika kami memangkas rambut kami berbentuk mohawk. Kami tidak hanya mencampurkan senyawa kimia dalam organ kami untuk tampil menawan, tetapi rela mengamputasi sebagian wajah dan tubuh kami hanya untuk tetap bernafas. Bahkan angka 6 pun memiliki tandingan takdir inversinya terhadap angka 9, pada akhirnya kami memainkan simfoni yang indah dari menggosokan neuron di sela kerangka sisa otot trigeminus bersemayam.
Persetan dengan angka kepadatan penduduk! Kami telah diberkati sebilah pidang yang sanggup menggoreskan tinta kepahlawanan atas gliserin para korban kami. Sekali lagi, kami tidak butuh mantra-mantra busuk manipulatif itu! Kami lebih suka berpelukkan dalam kehangatan, hingga salah satu diantara kami tumbang, dan seketika kami menjadi masokis ketika membunuh diri sendiri berkali-kali, menjaga semesta alam dari kepadatan yang berlebihan. Tangan-tangan yang membentang hingga kaki, ikatlah kami dengan seutas sari daun, sebagai persembahan yang agung, dan kami berjalan melintasi di atas ubun-ubun kepala seperti teratai yang mengambang dalam rawa-rawa tipu muslihat.
Siapa bilang, kami ingin menjadi sang juruslamat? Tidak, tidak akan pernah! Kami hanya ingin merasakan bagaimana berdiri di atas puncak piramida, melihat semua yang ada dari ketinggian, seperti kutu yang harus kami injak! Kami terlalu baik, tak sanggup meninggalkan setiap senjata dan racun yang terlanjur menari-nari sejak kami masih menjadi larva. Hei, jangan salahkan kami!, kami seperti lawan bidak catur yang ada untuk dimusnahkan dari permainan! Bukankah setiap awalan ada akhiran? Bagaimana kami mempercayai nubuat kitab, jika satu orang pun tidak ada yang bersedia pergi ke neraka?
Baca Juga : Iannis Xenakis – Membuat Musik Menggunakan Rumus Matematika





