“‘UA’ mengandung dwi makna sekaligus sebagai “bunga” & “membunuh, sehingga Kaori Hasegawa tidak perlu menegaskan bahwa di dalam dirinya tersimpan keruwetan paradoks yang saling membantah namun bersinergi antara keindahan dan tragedi.“
Asosiasi senjata & setangkai bunga sebagai cinta & luka telah terakuisisi sebagai sinonim untuk label merk band hard rock papan atas, Gun’s & Roses. Melihat, tidak ada lagi definisi yang tersisa, penyanyi kelahiran Osaka, Kaori Hasegawa memakai kata simbolik dari bahasa Swahili, ‘UA’ sebagai nama panggungnya. Secara definisi, pelipiran kata menebalkan garis dualitas, dimana ‘UA’ mengandung dwi makna sekaligus sebagai “bunga” & “membunuh, sehingga Hasegawa tidak perlu menegaskan bahwa di dalam dirinya tersimpan keruwetan paradoks yang saling membantah namun bersinergi antara keindahan dan tragedi.
Sebelum melangkah sebagai penyanyi profesional, Hasegawa telah mengasah secara keterampilan artistik maupun pengalaman sebagai penampil, dengan sangat matang. Sejak sekolah dasar, Hasegawa telah mempelajari karya-karya komponis asal Jerman, Carl Orff. Di bawah metodologi Orff, UA mempelajari alat musik tak lazim dimainkan anak seusianya seperti seruling dan xylophone, yang secara tidak sadar mengembangkan kemampuan kognitifnya akan pemahaman ritme dan ragam tekstur suara. Beranjak masa remaja, Hasegawa memulai karir bermusik, sebagai penyanyi amatir untuk klub-klub malam dan lounge di sekitar Osaka, sebelum bakatnya ditemukan oleh produser, Hiroshi Fujiwara.
Namanya semakin dikenal secara nasional, setelah single demi single dilepas. Puncaknya, UA semakin memperluas rekognisinya, lewat perilisan single ke-4 “Jōnetsu” atas reaksi pasar musik Jepang dalam menanggapi format revitalisasi R&B 90’an yang menjamur di negara Amerika. Namun berdasarkan pengalaman, UA tidak pernah merasakan kenyamanan seperti ini, sehingga pada album debutnya “11”, UA memutuskan untuk semakin melonggarkan engsel-engsel kreativitasnya, bergerak dalam keleluasaan penuh ketidakpastian.
UA diberi kepercayaan sebagai inisiator utama mengumpulkan talenta terbaik dari kancah musik elektronik, jazz, dan pop seluruh Jepang. Album “11” telah mempertemukan sederet produser dan DJ ternama sekaligus unik seperti, Shinichi Osawa (Mondo Grosso), Hirofumi Asamoto (mantan anggota Mute Beat), Takuji Aoyagi (Little Creatures), dan Nobukazu Takemura. Album “11” tidak akan dipandang lagi sebagai redudansi tiruan komodifikasi R&B sebagaimana beberapa karya terdahulu UA, tetapi telah bertransformasi menjadi ketulusan UA dalam mengeksplorasi kultur-kultur musik dunia.
Terdengar bagaimana tim produser telah berhasil mencari titik kesinambungan sonik dari berbagai genre yang terkadang terpisah dalam wilayah waktu dan ruang kultural. “リズム” yang mencoba menghidupkan gaya jazz pop terompet, dengan ketukan boom-bap hip-hop Queensbridge yang subur dan bassline R&B hangat. Pada “落ちた星”, setiap ketukan trip-hop menetes membentuk bayang-bayang masa lalu yang terlihat jernih dari pantulan air, “バラ色” menempelkan tempo breakbeat berlarian dengan getaran bass membal dan berat dari pengaruh elemen acid jazz, hingga “情熱” yang menghantarkan semacam transmitter gelombang synth aneh yang mengorbit di antara rotasi bass yang menggeram dan percikan ritem dub. Seperti yang telah dikatakan, pengalaman UA mengajarkan bahwa ritme tidak hanya menjadi semacam gerbang penjaga kestabilan estetis, tetapi sebagai tembusan batasan dimensi ruang untuk keterbukaan akan interpretasi berbagai jenis musik yang hinggap.
Presensi vokal UA, memiliki intensi untuk memutus semacam ikatan kesukaan secara hirarkis. Tampak bagi UA, vokalnya hanya satu dari sepersekian bagian timbre yang melancarkan kumpulan gelombang suara yang memberikan makna secara simbolis. Tekstur vokalnya terasa goyah, berfluktuasi sesering mungkin daripada menekan nada utama sekeras mungkin, untuk menciptakan kesan keindahan vokal secara monogami. Mungkin hanya pada beberapa lagu seperti “雲がちぎれる時” , “紅い花”, dan “情熱” yang memposisikan UA sebagai penyanyi utama dalam konteks menempatkan presensi suara mapun aksen melodinya yang tampak dominan.
Album “11” telah menjadi langkah bagi UA, untuk memasuki wilayah transpersonal yang tampak sebagai upaya mengalienasi diri pada lanskap pop Jepang kontemporer saat itu, demi merasakan selangkah yang lebih dekat terhadap kemauan diri yang telah bersinergi dengan kekuatan transformatif evolusioner yang menjadi inti dari pertumbuhan ekspresi seni.
Baca Juga : Sally Yeh – Bertatapan Dengan Cinta Yang Buta


