Aliencore-Bentuk Pengasingan-Dari Yang-Terasing-Menuju-Keterasingan

Saat ini, beberapa dari anda mungkin berdiri kaku sambil merasakan kekesalan dan kejengkelan dari maraknya deathcore yang sulit untuk dibunuh dan dimusnahkan secara prematur. Semenjak sekelompok bocah membagikan karya-karya paling brutal dan cadas yang pernah mereka buat seumur hidupnya, melalui jejaring platform purba Myspace pada medium 2000’an, deathcore menembus jangkauannya dari sekedar kebisingan yang dilokalisasi kamar tidur dan tembok distrik yang rapuh terkena aksi vandalisme menjadi fenomena global. 

Nampaknya, mereka yang berharap kematian prematur deathcore harus mengendapkan hasrat semacam itu dalam kesabaran, bahwa deathcore bisa saja mati atau musnah secara alami, ketika mereka mulai merasakan stagnasi, mereplikasi antar sesama, dan secara perlahan mengalami defisit terhadap para pelaku. Jika ketiga unsur ini terpenuhi, bisa jadi deathcore hanya menyisakan arwah hauntologis yang hanya diisi oleh zombie-zombie yang mengkanibalisasi tuannya. Tapi, sepertinya peristiwa itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat setidaknya beberapa tahun ke depan. 

Bahwa benar saat ini, deathcore sedang menunjukkan indikasi dalam stagnasi, dan peniruan yang kian bertumbuh bak limbah plastik, seiring dengan banyaknya band yang berusaha tampil menjadi sangar, kelam, melankolis, rumit, dan berperan sejahat iblis dan joker disaat yang bersamaan, dalam tren “symphonic blackened deathcore”. Tetapi terima kasih atas beberapa pendahulu deathcore yang berjajar sejak era Despised Icon, A Job for Cowboy, Suicide Silence, Whitechapel, Winds of Plague, Oceano, Angelmaker, Infant Annihilator, Rings of Saturn, the Acacia Strain, Shadow of Intent dan sederet band lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, silih berganti membuat deathcore berurusan dengan begitu banyak perkara yang dipersoalkan seperti kematian, nihilisme, depresi, hari kiamat, kepercayaan, konspirasi, kritik sosial, hingga alien. 

Hal itu yang membuat sekelompok anak remaja, yang baru saja terjun dalam kultus semacam ini, merasa memiliki begitu banyak karakter dan pahlawan yang bisa mereka pilih, sebagai penunjuk jalan kelahiran karya mereka, seperti seorang pemain awam Dota atau Mobile Legends, yang terkesima akan banyaknya ketersediaan karakter-karakter dan jurus-jurus keren yang bisa digunakan. Tetapi dalam beberapa tahun ini, terjadi siklus, dimana ada masanya ketika sebuah karakter atau hero ini begitu banyak disukai, dipakai, dan bahkan dijadikan andalan bagi hampir sebagian besar pemain, sedangkan ketika permainan mengalami update secara masif dengan penambahan karakter dan role baru, masa pemujaan itu silih berganti begitu saja. Mereka akan segera mengganti andalan baru, menggantikan pahlawan lama yang mulai membosankan. Percaya atau tidak, siklus ini terjadi pada sebuah meta-genre dalam deathcore, bernama aliencore

Aliencore sempat mendapat tingkat popularitasnya yang singkat dalam rentang awal menuju pertengahan dekade 10’an, ketika band-band semacam Aversion Crown, Aegaeon, Rings of Saturn, Gamma Sector, Borns of Osiris, dan Abiotic mulai menginvasi deathcore dengan kisah-kisah alien fiksional yang dikarang dalam tapping-taping not maupun lick solo gitar bergerak gesit dan memusingkan menyerupai sandi-sandi bahasa alien yang sulit dimengerti, dan lirik-lirik yang berusaha meyakinkan bahwa di masa depan, dunia jatuh berada dalam kekuasaan alien, dan memulai sebuah neo-peradaban yang tidak lagi berlandaskan pada kehendak antroposentrisme. Masa-masa, dimana pengetahuan ekspansi kosmologis dan penjajahan terhadap umat manusia akan tampak menjadi semacam nafas baru yang dicekoki dalam percakapan publik. Singkatnya, terjadi pergeseran protagonis di sini, yang telah secara rekursif menjelaskan apa yang dimaksud dari istilah aliencore itu sendiri. 

Images by : bandpicks.com

Tidak seperti kebanyakan istilah genre yang lahir dalam ketidakjelasan, dan subjektivitas sejarah yang dialirkan dari mulut ke mulut berbasiskan kepercayaan anekdotal buta, termin aliencore dilemparkan ke atas udara oleh mereka yang diakui sebagai pionir penanggung jawab gerakan ini secara langsung. Awalnya, gitaris Rings of Saturn, Lucass Mann berusaha menjelaskan konsep musiknya terhadap pihak label yang tertarik dengan musik mereka. Tidak ingin mendeskripsikan musiknya secara bertele-tele dan pretensius, Mann dalam nada bergurau, menjelaskan bahwa musik yang dibawakan Rings of Saturn disebut sebagai aliencore. Bagi Mann, istilah itu adalah simbol yang tampak komikal sekaligus mengandung kesadaran penuh, untuk mendefinisikan ke-2 inti musiknya yang tercampur dalam memainkan aransmen deathcore dalam wujud yang rumit, teknis, sulit dimengerti, dengan tema-tema lirik yang bercerita seputar invasi alien, ruang angkasa, dan ilmu-ilmu pengetahuan bermazhab sci-fi.  

Siapa sangka, Rings of Saturn justru menjadi alien yang dipuja-puja dan dihormati di muka bumi, selepas mendaratkan album “Lugal Ki En” di tahun 2014. Bahkan ada sebuah masa, ketika berbondong-bondong manusia mengharapkan diri, agar wujudnya bisa sesegera mungkin diubah menjadi alien, agar ikut merasakan keagungan dan memiliki kemampuan yang identik yang dialami Rings of Saturn, sebagai alien pertama yang dielu-elukan oleh masyarakat bumi. Namun sebelum berlarut-larut membahas lebih dalam mengenai kebangkitan dan kejatuhan sang alien, bahasan mengenai dinamika dari sejarah perkembangan dan pergeseran paradigma dalam deathcore perlu dicuplik untuk dapat menjelaskan secara kronologis, mengapa spesies semacam aliencore ini bisa sampai turun ke bumi? Dan terlebih lagi, apa yang membuat pada akhirnya para alien ini terbang kembali menuju planet pengasingan tempat asalnya, setelah beberapa tahun dielu-elukan oleh segelintir masyarakat bumi?.

Jika digambarkan dalam sebuah garis, perkembangan deathcore tidak akan digambarkan dalam garis yang lurus 180 derajat. Artinya setelah menjelajah beberapa saat, anda akan menemukan garis ini terputus, tetapi kemudian anda juga segera menemukan cabang yang menyimpang dari garis sebelumnya, sehingga membuat anda terasa bingung, “apakah ini jalur yang dilewati untuk menuju destinasi yang sama?”, “atau apakah jalur ini justru membawa pada tempat yang 180 derajat berbeda?” Fakta bahwa deathcore sendiri, tidak menjanjikan tempat destinasi utopis yang perlu anda tuju, menjadi siklus pelengkap akan sejarah deathcore yang saat ini sangat sulit tergambar secara utuh dan berkembang atas desas-desus dan teori subjektivitas. 

Ide untuk menyelewengkan kultur metal dan hardcore telah muncul sejak 80’an, seiring dengan band-band thrash metal wilayah east coast yang juga terpengaruh akan aksi-aksi hardcore seantero Brooklyn, New Jersey, New York, yang melahirkan terminologi crossover-thrash dan dipopulerkan oleh kolektif macam: D.R.I, Suicidal Tendencies, Nuclear Assault, Carnivore, dan S.O.D. Lalu ketika para punggawa hardcore semakin membusungkan dada, dan memutar knob volume secara maksimal pada era 90’an, band-band seperti Ringworm, Integrity, Excessive Force, dan Strife menggondol lebih banyak pengaruh musik metal menuju budaya hardcore, membuat apropriasi ini semakin dalam dan lancip. Saat itu, Metal membantu dalam menancapkan integritas hardcore yang terasa maskulin, perkasa, dan bermain agresif dan binal, ketika menciptakan distorsi gitar yang lebih berat dan alunan beatdown drum sebagai pembuka lapangan moshpit yang terasa menuangkan aura provokatif lebih pekat dari biasanya. 

Disaat yang bersamaan, para remaja pembenci Madonna, dan pecinta band baragajulan rock n roll yang dipermak oleh bourgeois, kini mulai beralih dan menyukai narasi-narasi kematian patologis dan okultisme yang disuarakan lebih ekstrim dari thrash metal. Death metal mulai lahir dan menjamur di Amerika dan beberapa bagian negara Eropa, memasuki dekade 90’an. Tetapi lagi-lagi, perkembangan death metal di wilayah New York mengungkapkan gejala anomali, dimana mereka seperti mengamini sebanyak 2 kali kata “memberontak”, yaitu memberontak pada komodifikasi kekuasaan, dan memberontak terhadap kaumnya sendiri. Mungkin penjelasan ini terasa melingkar, ketika band seperti Suffocation, Internal Bleeding sebagai referensi utama band-band yang menjadi pemicu inspirasi munculnya pergerakan deathcore 90’an, justru menyusupkan pengaruh hardcore secara ketengan.

Mereka (Suffocation dan Internal Bleeding), seringkali berperilaku eksesif dari kebanyakan band death metal, dengan memainkan ketukan sinkopasi drum yang melambat, menurunkan tempo sesaat untuk membuat hentakannya terasa menggelegar sekaligus berirama naik-turun, memainkan teknik riffing yang bergerak dalam kromatis yang telah membuat separasi antara nada terdengar jelas, membuat garis kontras groove terkesan mudah ditangkap. Teknik-teknik semacam itu, banyak dijumpai dalam skena hardcore punk 90’an, yang lazim disebut sebagai ketukan beatdown, atau mengorbankan semua keriuhan suara dan menukarnya pada pola ritmis sederhana yang dimainkan secara selaras dan terpotong antara jeda, yang disebut sebagai breakdown. Dying Fetus juga dapat disematkan sebagai catatan kaki, meski mereka bukan berasal dari New York, namun pada masa-masa awal, Dying Fetus sedang melakukan percobaan agnostik, ketika menulis materi di antara persilangan death metal dengan hardcore new york, sampai membuat aransemen bergaya Ramones maupun glam metal, diiringi geraman vokal kematian John Gallagher yang meluluhlantakkan alunan-alunan selaras yang sudah susah payah dirangkai dalam riff dan tempo yang lebih manusiawi. 

Memasuki pertengahan hingga akhir 90’an, beberapa band seperti Deformity (sebagai salah satu anggota H8000), Abnegation, Prayer for Cleansing, dan Embodyment telah dicap sebagai band-band yang memulai deathcore, atas musik mereka yang menyajikan daging mentah busuk yang dipotong oleh pisau death metal, kemudian dilemparkan dan diarak-arak dalam lingkaran pesta moshpit hardcore. Tetapi ada 2 hal yang perlu dicatat dalam era ini. Pertama, istilah deathcore sendiri belum ada yang menggunakan, apalagi mempopulerkan nya. Kedua, band-band yang disebutkan di atas, tumbuh dan diasuh dalam budaya dan ekosistem hardcore, dimana jika berkaca pada adegan deathcore sekarang, deathcore diperlakukan sebagai anak tiri dalam metal, yang sebenarnya memiliki darah anak kandung, dari seorang ayah angkat. Saya secara sengaja, memetaforakannya dalam hubungan rumit serba kontradiktif, hanya untuk memperlihatkan bahwa deathcore saat ini lebih banyak beririsan dan bertikai dengan adegan metal

Sekarang mungkin anda menyesal, setelah menghabiskan beberapa jam masa-masa remaja anda hanya untuk berdebat secara pepesan kosong di Facebook, mengenai siapa pencipta term “deathcore” beserta etimologis yang mengikatnya dan berusaha meyakinkan lawan bicara, bahwa anda mendapatkan informasi itu seperti seorang jurnalis dan investigator lapang handal yang mendapatkan informasi kualitas A1. Barangkali 99 dari 97 argumen yang anda lemparkan atau terima, saat ini hanya seperti berita-berita di koran yang sudah berlalu. Anda mungkin dapat menganggapnya sebagai fakta valid secara temporer, tapi setelah beberapa tahun, fakta-fakta tersebut tampaknya bukan jawaban substansial.

Desember 2025 lalu, Alexandre Erian sebagai pentolan vokalis sekaligus drum bagi Despised Icon, mengungkapkan kepada Chris Garza (gitaris Suicide Silence), melalui acara podcast Garza, mengenai darimana istilah deathcore itu berasal. Kisah ini dimulai dari sebuah cerita anekdotal Erian, yang berkunjung ke venue Montreal’s Salle de L’X (X Club) untuk menonton pertunjukkan langsung band death metal bernama Malamor. Sebagai band death metal yang lahir di New York, perilaku eksesif para pendahulunya, telah diturunkan kepada Malamor yang yang membuat anak-anak hardcore berlapang dada menerima setiap geraman dan murka Malamor. Selama pertunjukkan berlangsung, Erian melihat seseorang penggemar hardcore bernama Nick Racicot sedang melakukan tarian moshing. Bagi Erian, pemandangan semacam itu, mendatangkan sensasi surreal, dengan penuh kebingungan bahwa tarian mosh yang biasanya hanya dilihat dan dipraktekan dalam acara dan gigs hardcore, tiba-tiba dibawa pada situasi konser death metal. Nick sendiri kemudian mendirikan band hardcore-nya sendiri bernama “A Death for Every Sin” yang menurut kesaksian Erian, sebagai band hardcore pertama yang mengibarkan panji di Montreal, Canada. Setelah Malamor turun dari panggung, seperti biasanya pihak band akan menggelar lapak booth merch dengan menjajakan kaset-kaset, CD, dan berbagai model baju dan celana. Secara samar-samar, Erian mendengarkan sang vokalis Malamor yang tengah berkerumun bersama penggemarnya dan sedang berceloteh kepada salah seorang pembeli kaset musik mereka, bahwa musik yang dimainkan Malamor, bernama “Deathcore!”. 

Pengalaman singkat tidak terduga itu, membuat batin Erian terguncang dan akhirnya memutuskan menyematkan kata-kata deathcore, pada merch yang bertuliskan bahwa Despised Icon adalah deathcore dari Montreal. Sejak kemunculan Despised Icon, deathcore tidak lagi berjalan dengan merangkap sambil meraba-raba, dan menjadi semacam penopang bagi bagaimana apropriasi death metal dan hardcore tidak memiliki penyatuan zat yang lebih bersifat minyak dan air. Antagony, terkadang menjadi selipan sejarah pelopor deathcore versi lain yang bisa diperdebatkan, dengan dasar mereka telah lebih dulu menggubah death metal dan hardcore dengan intensitas yang begitu sengit. Tetapi seperti kebanyakan aliran metalcore gelombang awal, dan deathcore 90’an, Antagony seperti terkena adiksi akan mutasi melodic death metal bergaya gothenburg, Swedia yang kian lama semakin tersaturasi dan redundant. Tiba-tiba duet gitaris At The Gates, Anders Björler dan Alf Svensson mendadak menjadi punya begitu banyak band sampingan di Amerika Serikat. Despised Icon seperti memiliki anti-dote disakunya, menyuntikkannya dan memiliki imunitas terhadap wabah-wabah gitar melankolis yang menjangkit sebagian besar populasi metalcore.

Formasi duo vokal androgini diperkenalkan, ketika mereka dapat menjahit vokal  yang menggerutu secara serak macam Frank Mullen, Wallace Milton, terhadap jeritan seseorang yang menahan sakit tumor yang memilih berteriak senyaring-nyaringnya, dibanding senyap dalam kamar. Alunan gitar pun diperluas, bukan hanya sekedar chuggy dan power-chord riffing gagah-gagahan, bermutasi seolah seperti lengkingan feedback yang tidak cuman mendengkur, tetapi mengeluarkan kata-kata sumpah-serapah: rumit, tetapi sekaligus membuat telinga seperti terkena flashbang. Percaya atau tidak, hal-hal itu yang memisahkan timeline antara deathcore pra-Despised Icon, kemunculan Despised Icon, dan pasca kemunculan Despised Icon. Glass Casket seperti penyintas kanker yang belum bebas sepenuhnya meski menjalani begitu banyak proses kemoterapi pembersihan karsinogenik gothenburg melodic death metal, sedangkan the Red Chord maupun Animosity, terlalu sibuk menghancurkan teori keselarasan dan irama rotasi waktu, hingga trayektorinya terlalu eksentrik untuk dikuntit.

Jadi anak-anak, menjadi pionir dalam komunitas tidak hanya mewacanakan invensi yang menawan dan penemuan jenius di laboratorium, tetapi bagaimana sebuah kultur dapat diterima secara generasional yang tidak lagi hanya diperbincangkan sebatas oleh teman-teman satu tongkrongan, melainkan merekat menjadikannya peradaban baru. Despised Icon membebaskan deathcore dari jeruji kebisingan bawah tanah antar distrik, menjadi perbincangan regional, kemudian mulai melalang buana di berbagai wilayah seantero Amerika. Fakta bahwa, Despised Icon kemudian memiliki agenda tur bersama band-band death metal seperti Deicide, Immolation, Skinless di tahun 2005, menjadi semacam jawaban atas keterlekatan deathcore yang kian lama kian memekat menuju erebus metal setiap kali waktu menetes. Rasanya waktu yang tepat, untuk menutup album-album lama mengenai sejarah deathcore pada titik kilometer ini, pembahasan berikutnya akan lebih banyak berkutat pada fenomena-fenomena yang terjadi secara gamblang, namun sulit sekali untuk menangkapnya dengan kedua tangan, dan titik ini bermula dalam revitalisasi gelombang deathcore Myspace

Era dimana, para puritan sekalipun akan kewalahan untuk melakukan sensus berapa banyak band dan album-album deathcore yang bertebaran saat itu. Band semacam All Shall Perish, A Job for Cowboy, As Blood Runs Back, The Faceless (era awal), Carnifex, Veil of Maya menjadi dewa-dewa saat itu. Dari sekian daftar panjang, ada satu band yang membawa deathcore menerobos dari sekedar fenomena jejaring maya, menjadi aksi rockstar yang mengguncang secara sungguhan, yakni Suicide Silence. Anda akan melihat bahwa kebiasaan pengkultusan figur seperti dewa-dewi rock ‘n’ roll 70’an yang disembah bak juru selamat, senantiasa kembali merasuk pada pesona seorang Mitch Lucker. Sementara “The Cleansing” meninggalkan warisan berupa jejak-jejak paling berdarah dari sisa potongan daging yang membusuk terurai, pamor Suicide Silence semakin terdorong untuk akhirnya bisa bernyanyi di atas stadium maupun venue-venue berkapasitas puluhan ribu jiwa.

Pada “The Black Crown”, Mitch Lucker dan kolega kali ini membawa antiseptik, suntikan bius, dan alkohol dalam genggamannya untuk membuat reka aksi “pembunuhan” yang terasa lebih profesional, terstruktur, dan tidak secara sembrono meninggalkan bukti-bukti forensic terjadinya adegan penghilangan nyawa. Singkatnya, mereka membawa breakdown, kegarangan isapan vokal Mitch terhadap kearifan kultur groove, nu-metal, dan musik-musik metal yang berjaya di era Milenium. Saya rasa orang, telah terlanjur mencintai Mitch, bahkan cinta itu bisa tumbuh hanya dari melihat caranya berpenampilan. Hampir seluruh penggemar Suicide Silence, dapat mendeskripsikan secara detail bagaimana penampilan kaos kutangnya, celana panjang hitamnya, mengenakan sepatu casual TOMS dan Converse, lalu membuat seluruh tato di lengan maupun di lehernya secara terbuka dapat terlihat. Itu belum termasuk dengan, banyak orang yang juga tergila-gila akan kemampuan dan kualitas warna timbre dari vokalnya, yang otentik tetapi sekaligus memuaskan hasrat mereka-mereka yang datang mendengar Suicide Silence untuk mencari yang sesuatu gila, marah, berdarah-darah, tetapi sekaligus mendatangkan perasaan decak kagum, inspirasional, dan ear-opener seolah mereka tidak percaya apa yang baru saja didengar dari balik corong speaker mereka.  

Deicide-Immolation-Despised-Icon-Tour-Poster-2005
Images by : Scraperecords

Sebagai implikasinya, Suicide Silence menjadi band yang sangat berjasa, untuk membawa fenomena deathcore diterima dalam skala global. Saya membayangkan bahwa Suicide Silence, seperti narkoba yang mendapat izin dipasarkan di seluruh apotek rumah sakit. Persetan, jika ada zat semacam speed, cocaine, atau zat-zat keras lainnya memang beredar di luaran sana, selama narkoba yang dijual di apotik itu dapat mendatangkan sensasi giting paripurna, pantang mundur!! tidak ada barang sebiji rintangan pun yang mampu memisahkan. 

Dalam psikologis pengkultusan semacam ini, ada asumsi atau harapan yang menggantung bahwa sebuah subjek seolah memiliki atribusi kualitas diluar dari batas kewajaran menempel secara inheren. Dan atas dasar ini, saya merasakan terjadinya pergeseran dalam kultur deathcore dar berawal dari semangat kekolektifan akhirnya pergi untuk mencari dan menemukan dewa-dewa baru. Selain Suicide Silence, Whitechapel juga telah berjasa dalam mendongkrak popularitas Deathcore. Beberapa rilisan mereka, telah menjadi langganan untuk setidaknya mencetak debut dalam peringkat top 200 Billboard, bahkan salah satu album mereka, “Our Endless War” sempat bertengger di peringkat 10 chart Billboard selama 6 pekan, dengan penjualan mencapai 16 ribu eksemplar. Selaku frontman, Phil Bozeman juga menjadi salah satu figur vokalis deathcore yang paling dikagumi. Terlepas dari caranya berpakaian dengan memasang tindik anting dengan diameter selebar biji karambol, Phil Bozeman juga dihormati karena dinilai memiliki kualitas vokal yang extra-ordinary

Kebiasaan atau mungkin saya sebut sebagai “takdir” deathcore yang baru ini terus berlanjut, Oly Sykes bersama BMTH, CJ McMahon sewaktu bersama Thy Art Is Murder, Alex Koehler sewaktu bersama Chelsea Grin, Dickie Allen dulu ketika bersama Infant Annihilator, Alex the “Terrible” dengan Slaughter to Prevail, hingga yang paling relevan saat ini, Will Ramos bersama Lorna Shore. Tingkat adiksi terhadap kehadiran sosok transenden semacam ini, turut meluap dalam mereaksi bagaimana para personil lainnya membunyikan instrumen. Anda mungkin pernah berada pada suatu masa, ketika jagat maya (lebih tepatnya jagat deathcore) digegerkan oleh sebuah video berdurasi 7 menit 10 detik, yang memperlihatkan bagaimana drummer Infant Annihilator, Aaron Kitcher yang sedang tremor secara sadar, memukul-mukul drum dengan tingkat kecepatan yang seolah sedang melawan kodrati manusia akan hukum fisika dan kemampuan biologis. Drum playthrough untuk salah satu lagu Infant Annihilator berjudul “Cuntcrusher” itu direkam dengan pencahayaan seadanya bak direkam dalam gudang pengap, miskin estetika, tetapi semua mata dan telinga tertuju pada satu titik, yaitu setiap momen berdebar ketika setiap kali stik dihempaskan pada bagian drum manapun.

Seperti biasa, salah satu jenis konten yang laku untuk menunggangi viralitas semacam ini adalah, konten reaction video. Beberapa dari mereka ada yang merasa takjub, ada yang merasa ego-nya terintimidasi ketika hasil jerih payah bertahun-tahun latihan drumnya, dikacaukan oleh video berdurasi 7 menit, yang membuat mereka sesegera mungkin beranjak dan menjual seluruh peralatan drumnya untuk pensiun secepat mungkin. Beberapa dari mereka, ada yang merasa dibodohi dan dicurangi, hingga membuat reaksi video untuk membongkar pembodohan yang dipertontonkan, seolah  merasa seperti seorang pesulap bertopeng yang secara brilliant membocorkan rahasia dari trik-trik sulap fenomenal yang pernah diciptakan. 

Lalu apa implikasinya dari semua ini? Lingkungan deathcore menjadi begitu tergila-gila akan kemampuan-kemampuan super yang melampaui manusia pada umumnya. Kebanyakan dari mereka menjadi begitu obsesif untuk menciptakan sesuatu yang lebih rumit, atmosferik, dan aransemen yang membutuhkan perhitungan, kecermatan, dan teknikalitas lebih dalam. Jika anda masih menganggap deathcore salah satu sub-hardcore (jika tidak, pun tak ada soal, itu masalah anda), anda akan dapat mengerti maksud saya di atas melalui rekayasa percakapan di bawah ini: 

Sial, mereka meremehkan kita, ayo kita buat musik yang paling brutal dan sadis yang pernah diciptakan sejarah manusia. Mari buat breakdown sebanyak-banyaknya sampai leher mereka putus. Bila perlu, kita gilas kepala mereka dengan dentuman drum berkekuatan ultra ini, dan buat isi kepala mereka meringkus keluar, dengan sengatan riff-riff ini.” 

Sementara itu…. 

Tunggu, saya sedang memperdalam teknik exhale ini, tunggu sampaii saya menguasainya baru kita rekaman… Hmm sebaiknya kita panjangkan bagian interlude, dan masukan aransemen simfonis ini untuk menambah vibe pada lagu. Tunggu, Saya kemarin baru saja menemukan teknik sweep yang mampu bertransisi dari mode Aeolian menuju Locrian dengan ghost note, tolong rekam dan masukan bagian ini di section 6B pada lagu sebelum menjelang simfoni penutupan. Apa-apaan ini!!, kenapa aransemen lagu kita hanya berdurasi 4 menit?? Segera panjangkan menjadi 9 menit, bila perlu tambahkan progresi berkelok yang rumit, extended piano, saksofon, sepotong dialog film, dan kampanye video iklan merchandise dan promosi tur band di antaranya.”  

Entah mengapa, tiba-tiba ruang percakapan deathcore lebih banyak memperbincangkan mengenai kualitas, berdebat tentang teknik vokal yang digunakan, berapa jumlah senar gitar yang mereka gunakan, dan seberapa hebat dan tahan mereka menahan nafas dan mengeluarkan kemampuan vokal jangkauan terendahnya. Ya penggemar deathcore saat ini, akan merasakan alergi dan mual tak berkesudahan, jika masih ada band deathcore yang tidak lihai menulis riff pada gitar 8 senarnya dan hanya menggunakan string teratas, memperlakukan gitarnya seolah-olah segmentasi fret itu hanya hiasan semata, lalu membuat irama breakdown dari senar bukaan, seolah masa akan mengerumuni dan mengelu-elukan mereka. Tidak, bung, tidak… masa-masa itu telah terkubur bersama dengan para remaja di myspace yang juga telah lama mengubur masa pubertasnya.  

Percaya atau tidak, fenomena ini yang awalnya membuat aliencore tumbuh dan berkembang, sampai kemudian membuat titik kulminasi kerelevansiannya dipertanyakan saat ini. Perlu anda ingat, memilih menjadi aneh, adalah artinya membatasi ruang gerak anda dalam ruang dan domain yang berbeda, tidak ada urusannya dengan kekuasaan. Kepala anda mungkin tidak ditodong oleh revolver, dan anda bisa memilih kotak mana saja yang bisa anda masuki dengan bebas. Tetapi pilihan itu adalah jebakan konsekuensialis yang mengikat dan entah mengapa, kemudian menjadi semacam topeng identitas dan tanggung jawab anda yang baru. Anda jelas tidak boleh lagi berperilaku seperti orang pada umumnya, tetapi disaat yang bersamaan anda juga tidak bisa berperilaku seperti orang aneh yang berbeda dengan keanehan yang telah anda pilih sendiri, atau anda dicap sebagai manusia yang tidak konsekuen dan sama sekali tidak layak untuk menyentuh martabat. 

Kesalahan atau saya sebut sebagai kekeliruan deterministik intuitif, aliencore telah memilih kotak yang terasa kecil dan sempit, sehingga membuat persediaan oksigen terus menipis seiring berjalannya waktu. Dalam gagasan lirik, apakah kita benar-benar membutuhkan 60-80 band, untuk menceritakan Alien dengan ode yang serupa? Bahwa kita hanya memiliki sedikit interaksi, teori, dan pengalaman selain teori-teori konspirasi yang melingkar terhadap peradaban alien, membuat lubang yang tidak cukup dalam untuk digali, selain hanya mempertanyakan konspirasi apakah kalian percaya alien atau tidak, menceritakan invasi alien di seluruh alam semesta, dan menertawakan kepunahan umat manusia di tangan alien. Ya mereka bisa berdalih dengan menyisipkan tema-tema yang terkesan filosofis, dan reflektif secara emosional, tetapi untuk berada dalam lingkaran aliencore, anda harus terus membawa buku-buku komik cerita mengenai alien, kemanapun anda pergi. Beberapa dari punggawa aliencore, mungkin bisa membuat cerita alien yang terasa menarik dan menjauh dari kesan klise, tetapi jelas ini tidak akan tahan uji, jika ada begitu banyak penulis cerita, berbondong-bondong mengisahkan hal yang sama. 

Kemudian dalam proses pembuatan sampul album, pikiran anda selalu dihantui untuk menaruh objek berupa makhluk dan monster astral dengan susunan anatomi menjijikan, menaruh objek planet-planet dan langit bertabur bintang yang entah dari ordo galaksi ke berapa, dan sesekali menyisipkan ornamen pesawat antariksa dengan bentuk post-modernisnya. Sekarang jika mulai melihat apa yang terjadi di sekeliling, anda akan melihat bahwa saat ini semakin banyak seniman deathcore memilih untuk bekerjasama dengan para seniman extreme metal yang telah terkenal menggabungkan kemampuan metaforanya dalam menjelaskan keadaan manusia lewat lukisan-lukisan surreal yang bahkan disembunyikan dalam tahap simbolik sekalipun. Anda bisa melihat para pekerja seni seperti Eliran Kantor maupun Mariusz Lewandowski (R.I.P) mulai sibuk menerima pesanan lukisan untuk sampul album deathcore

Anda tidak bisa menyembunyikan kisah depresi seorang Alien (bahkan, kita tidak tahu bagaimana menggambarkan kondisi semacam itu), dalam simbol-simbol yang terlepas dengan asosiasi terhadap dirinya, lalu menggambar taman dan bunga, beserta langit mendung seperti rekaman “Slow Decay” milik The Acacia Strain. Dalam kesiapan, anda perlu dedikasi dan komitmen tinggi untuk menghasilkan karya yang rumit secara penampakan suara, tetapi tidak mendapat cukup kredo mencapai diversifikasi teori terapan musik itu sendiri. Saya akui bahwa merangkai begitu banyak satuan note yang diorganisasi dalam gaya tapping, sweeping, atau apregio yang membutuhkan kejelian dan presisi, tetap menjadi hal yang memerlukan investasi dan kesabaran tinggi dari hanya sekedar mempelajari struktur chordal dasar. Tetapi apa yang menjadi semacam muara tujuan mengapa mereka membuat nada se-rumit semacam itu, untuk menciptakan kesan bahwa mereka sedang mempersonifikasi bagaimana sang alien berkomunikasi dengan domain pengertian yang jauh dari daya tangkap manusia, tidak ada cita-cita luhur untuk membuat begitu banyak pelajaran teori rumit mengenai musik. Kita tidak sedang berhadapan dengan musik yang menggunakan peralatan teorema-teorema semacam gerakan jazz, yang sedang bereksplorasi pembebasan dengan menyusuri banyak kemungkinan rangkaian nada yang ditemukan. 

Yang kita pedulikan dalam alinecore, adalah bagaimana solo-solo gitar itu mengitari, dengan frasa-frasa asing, yang membuat bulu kuduk merinding, dan merasakan ada alien sungguhan yang sedang mencoba berkomunikasi. Jadi dalam hal ini, realisasi terhadap penciptaan keadaan material terhadap objek (dalam kasus ini alien) jelas sebagai ordo terdepan, dibandingkan menciptakan perbedaan yang mencolok mengenai variasi kombinasi mode atau skala pada gitar. Persetan dengan apa yang terjadi di dalam suaranya, selama anda dapat membunyikan secara presisi dan benar menurut keyakinan aliencore, itu tak jadi soal. Anda kemudian akan menemukan pola serupa dengan penerapan gravity blast atau formasi vokal androgini, yang ditempatkan secara bersilangan yang hampir banyak dijumpai sebagai hak-hak paten dalam bermusik aliencore. Jadi dibanding anda merasa repot-repot untuk memprotes, mengapa semakin sedikit kemunculan band dengan gen aliencore? Saya melihat bahwa genre ini tidak resilien untuk diskalasi secara masif, sembari berharap bahwa masing-masing individu membawa semacam perubahan substansial, karena tidak banyak variasi gen yang bisa disediakan. Anda hanya akan dihadapkan pada 2 kemungkinan, yaitu melihat adegan seperti di film Alien, yang menelurkan banyak anakan dengan wajah dan perilaku yang mirip-mirip sebagai kompensasi keterbatasan biaya produksi dan efektivitas kreativitas, atau anda akan melihat pemberhentian massal reproduksi. 

Saya sudah berusaha memberikan jawaban “kemusnahan” aliencore yang menemui dualitas paradoks antara sistem reproduksi dan kehendak bebasnya, sekarang saya akan membedah dari sisi “kepunahan” aliencore dari sisi “sang induk”, atau bisa dikatakan para penanggung jawab yang sering disebut sebagai pionir dari pergerakan ini. Anda mungkin pernah berada di suatu masa, dalam fase membangun hubungan yang begitu lekat dengan suatu hal entah itu tokoh, film, buku, dan apapun itu. Hal tersebut telah menjadi bagian dari hidup anda dan tak terpisahkan, sampai-sampai anda tidak tahu caranya hidup, jika seandainya hal itu hilang di suatu pagi ketika anda baru saja membuka mata. 

Tetapi kemudian seiring berjalannya waktu, bertambahnya kantong beban karma, dan pertumbuhan yang tidak terbantahkan, anda bisa dengan tiba-tiba memutuskan ikatan begitu saja, entah karena anda telah memiliki hal lain yang merasa lebih dekat dan mewakili, atau anda seperti seseorang beranjak dewasa yang memutuskan menjalani hidup selayaknya orang dewasa, dan meletakan semua mainan yang telah menghibur dan menemani masa kecil anda. Saya sama sekali tidak melihat perbedaan ini, bahkan pada para pria usia kepala 30 dan 40’an yang berusaha menjalani hidup secara serius dengan mendirikan band dan membuat musik. Mereka cukup bergembira untuk menciptakan ruang eskapis, dengan menceritakan betapa kerennya dunia imajinasi dan kisah-kisah fiksional alien, sampai pada suatu titik mereka tengah merasakan bahwa proses alienasi itu telah mereka rasakan secara tidak langsung. 

Para pionir ini sedang berada dalam periode yang mendesak mereka untuk mempertanyakan ulang keberlangsungan dari proses artistik mereka, apakah ini menjadi semacam hal sepadan untuk mengorbankan potensi dari sebuah seni sebagai medium reflektif dirinya yang lebih jujur dan terbuka, hanya menukarnya dengan cerita karangan alien yang sudah banyak dijumpai dalam literatur dan budaya pop? Dan hal-hal semacam itu yang akhirnya merubah haluan keputusan mereka, yang kadang orang menyebutnya sebagai proses “pendewasaan”, ketika The Faceless semakin hari mulai berurusan dengan hal-hal yang lebih eksistensial, Abiotic yang berurusan dengan hubungan rumit takdir manusia dengan tradisi, hingga Aversion Crown yang sepertinya mulai tidak begitu berselera membahas mengenai sci-fi dan memilih mengangkat isu-isu yang membuat kadar misantropis mereka menjadi begitu membara. 

Baca Juga : Ordh – Blind in Abyssal Realms – Review

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *