Eh.. kalian percaya gak, dengerin musik baru yang beda dengan preferensi awal kalian, justru bisa bikin tambah lengket dan cinta sama musik yang kalian suka selama ini? Aku gatau percis yang kalian rasain, tapi ini ngena di aku banget. Aku sendiri punya genre kesukaan di antara musik pop-pop asia, electronic, dan belakangan lagi rajin-rajinnya dengerin hip-hop. Aku sendiri sebenernya udah ngikutin hip-hop cukup lama, dan ngefavoriitin beberapa rapper, tapi aku ngerasa beberapa bulan kebelakangan ini, aku bener-bener lagi kasmaran sama hip-hop.
Awal kejadian ini bermula, ketika aku ga sengaja dengerin musik-musik jazz sama musik-musik tradisional yang unsur ritme dan perkusinya itu kentel banget. Aku mulai ketagihan denger musik yang ritme nya itu dominan, dan bahkan senang ketika mereka mulai mainin pola ritme yang aneh-aneh bin ganjil, di telingaku yang sudah kekenyangan sama ritme 4/4. Itu pertama kali aku bersentuhan dengan musik jazz maupun musik tradisional Afrika. Setelah beberapa hari aku intens dengerin, aku mulai coba balik ke playlist lama dan dengerin beberapa lagu hip-hop kesukaanku.
Abracadabra, telinga aku jadi lebih tajam dan enjoy banget dengerin musik hip-hop yang emang jenis musik ini kuat banget sama unsur ritmis baik dari instrumen atau gaya vokal nge-rap. Hal ini juga yang bikin aku akhirnya semangat dengerin banyak jenis musik, selain menambah preferensi juga mengakrabkan rasa sayangku pada cinta lama, hehehe. Kalo kalian tertarik nyoba saranku ini, aku bakal ngasih beberapa rekomendasi album terbaru yang rilis di minggu ini, yang bisa kalian coba, siapa tau kan, momen magic ini juga terjadi di kalian.
Ok, karena tadi di awal kita ngomongin hip-hop, kita bakal mulai dari situ. Kabar pertama, datang dari salah satu rapper pentolan Griselda Records, Mach-Hommy yang rilis album terbaru dengan judul “5786 AM: Easy Listen”. Ini sekaligus bakal jadi album studio ke-25 bagi rapper kelahiran Haiti tersebut, setelah berkarir sebagai solois rapper 1 dekade lebih lamanya. Tentu kehadiran album ini, bakal dinanti sama fansnya, apalagi Mach-Hommy ga rilis album apapun tahun lalu dan ini jadi suatu hal yang anomali, karena sejak tahun 2016 Mach-Hommy ga pernah absen buat nyetor bikin album studio.
Album ini sendiri diproduseri sama Playa Haze, dan Sam Gendel juga dibantu Mach Hommy ngerjain bagian mixing album, yang ditutup sama Mike Bozzi sebagai orang yang ngulik mastering album ini. Udah jadi karakter Mach-Hommy, drop banyak lagu namun dengan durasi yang relatif pendek. Nah, di ke-13 baru dengan durasi yang ga sampe 33 menit ini, Mach-Hommy turut mengundang beberapa rapper dan musisi tamu seperti: Blu, Spook, MAVI, dan Spank Nitti James.
Album hip-hop yang mendarat minggu ini, berikutnya datang dari rapper Isaiah Rashad dengan judul album “It’s Been Awful” yang dirilis di bawah naungan label Top Dawg. Doi sendiri, mulai dikenal luas sejak rilis album studio ke-2 nya berjudul “The House Is Burning” yang rilis tahun 2021 lalu. Meski waktu jedanya 5 tahun, orang tetep bakal penasaran seperti apa kelanjutan dari karya brilliantnya itu, dan “It’s Been Awful” ini jadi ajang pembuktian Isaiah Rashad. Dari ke-16 lagu yang ditampilin, Rashad berani cuman untuk ngundan 3 musisi tamu aja. Rashad yang bakal duet bareng SZA di lagu, “Boy in Red”, Julian Sintonia yang muncul di “Do I Look High?”, dan Dominic Fike yang bakal memeriahkan jalannya lagu berjudul “Camera”.
Sekarang kita beralih dari kabar rapper industri yang dibesarin sama cara dan label konvensional, ke kabar rapper yang besar dengan platform digital. Salah satu rapper yang namanya besar di Soundcloud, BBY Goyard baru aja ngerampingin album studio terbarunya berjudul “Corsa Della Morte”. Entah masih jadi teka-teki, apakah ada sekuelnya seperti kebanyakan album-album terdahulunya, tetapi yang jelas album ini ngasih lore baru yang ga terkait langsung sama kisah-kisah album sebelumnya. Kalian bakal dimanjain sama 30 lagu yang durasinya bisa hampir 1 jam an ini. Sebagai tanda keseriusan, BBY Goyard bahkan ngajak sampai 30 lebih produser buat menggarap proyek album ini. Selain itu ada beberapa penampil tamu dari kawan sirkel rapper-nya mulai dari Joeyy, Marlon DuBois, Yungster Jack, Voodoo Vincee, David Shawly, 27xans, dan melody english.
Sementara BBY Goyard jadi rapper soundcloud yang udah cukup dikenal di komunitas pecinta musik hip-hop Internet, Kneecap lagi berjuang untuk sampai ke situ dengan rilis album ke-2 nya bertajuk “FENIAN” yang dirilis lewat label Heavenly. Grup trio hip-hop kelahiran Belfast ini mulai mengguncang dunia hip-hop internet lewat album debutnya, “Fine Art” yang dirilis 2 tahun lalu. Selain bikin musik hip-hop kreatif, Kneecap bikin musik hip-hop nya terus membara, marah, dan punya semangat revolusionis yang tinggi. Ga heran, musik-musik mereka bakal kedengeran menggigit, provokatif, dan agresif di saat bersamaan. Mereka berhasil menggaet Dan Carey (Fontaines D.C., Kae Tempest, Wet Leg) untuk memproduseri album terbaru mereka kali ini.
Ok rasanya udah cukup tentang kabar dari per-hip-hop an, aku mau kasih kabar besar rilisan minggu ini yang datang dari unit midwest-emo yang paling tersohor, American Football yang rilis album studio ke-4 nya, “American Football (LP4)”. Setelah rilis, “American Football (LP3) “ tahun 2019 lalu, segelintir fans dibikin risau setelah hampir 6 tahun, American Football rehat bikin album. Takut-takut gap 17 tahun bakal kejadian lagi seperti jeda waktu antara album pertama dan keduanya. Untungnya, kita ga perlu nunggu waktu selama itu buat dengerin sekuel ke-4 dari band kelahiran Urbana ini. Mike Kinsella dan kawan-kawan negasin, kalo album ke-4 nya ini bakal jadi album tergelap, terkompleks, tapi juga paling menyenangkan dari antara album-album lainnya. Selain menghadirkan 10 lagu sebagai kado manis, American Football juga udah nyiapin beberapa penyanyi tamu kejutan.
Misalnya vokalis Turnstile, Brendan Yates jadi adisi vokal untuk lagu “No Feeling”, lalu ada penyanyi ambient pop, Caithlin De Marrais yang bakal ngisi vokal di lagu “Blood on My Blood”. Terakhir ada solois shoegaze, Wisp yang bakal ngebangunin kita lewat vokalnya di lagu “Wake Her Up”. Daripada aku nge-spoiler lebih jauh lagi musiknya kaya apa, mending coba kalian langsung dengerin dan rasain sendiri, yang pasti kalian bakal dibikin merem-melek oleh mereka.
Nah sekarang kita udah masuk ngomongin musik-musik yang kuat bangelin ngandelin gitar, jadi rasanya ga afdol kalo ga ngomongin rilisan-rilisan baru dari jenis musik ini, ya benar…, apalagi kalo bukan musik metal. Trio heavy metal asal Vancouver, Spell punya caranya tersendiri tentang gimana ngebawain musik metal. Sang frontman sekaligus bassist, Cam Mayhem ngomongin cara Spell memposisikan diri sebagai band heavy metal generasi baru yang mencoba bermain di jalur ini: “Saya pikir terpaku pada cara lama adalah kematian. Anda harus terbuka untuk belajar dari pengaruh baru, atau Anda akan terpuruk dan menjadi karikatur diri sendiri. Saya menganggap Spell sebagai band heavy metal, dan oleh karena itu, musik apa pun yang kami buat, akan menjadi heavy metal, bukan sebaliknya, di mana Anda mencoba membuat band Anda sesuai dengan ceruk sempit apa pun yang menurut Anda seharusnya menjadi suara heavy metal.”
Ga mengherankan, kalau kalian dengerin musik-musik Spell kalian bakal nemuin sesuatu baru yang mungkin jarang kalian dengerin di band-band heavy metal lainnya. Hal ini juga masih berlaku di album terbarunya mereka berjudul “Wretched Heart” yang dirilis di bawah label Bad Omen. Spell ngasih pengaruh elemen musik gothic yang kuat, disamping dari gitar-gitar yang cenderung lebih ngeluarin sisi melodius. Mereka kembali kerja sama bareng Felix Fung yang ngerjain sesi mixing untuk album mereka sebelumnya dan seniman visual Adam Burke yang sebelumnya juga pernah nyumbang artwork untuk album ke-2 mereka, “For None and All“ (2016).
Tapi kalian juga bakalan sepakat kalo label “musik berisik” itu ga lagi cuman melekat di musik rock dan metal beserta turunannya, musik elektronik pun punya segudang cara buat bikin musik yang super duper hiperaktif dan juga berisik. Kalo ga percaya, coba kalian dengerin album terbaru dari grup digital hardcore, synth punk asal New York, Lip Critic yang berjudul “Theft World”. Ga pake banyak ba bi bu, mereka bakal ngasih ke kalian musik elektronik yang agresif dengan maen-maen di antara noise, breakbeat, dan suara-suara synth yang teksturnya berat begitu. 11 lagu yang durasinya cuman setengah jam ini, kayanya udah lebih dari cukup deh, buat “menghajar” gendang telinga kalian.
Kita sekarang beralih ke Jepang, karena ada 2 produser musik elektronik langganan yang bikin musik-musik elektronik yang ngebut, berisik, dan menggebu-gebu. 2-2 nya cukup dikenal, dan 2-2 nya juga besar di sirkel doujin. Pertama, ada musisi, pendiri label sekaligus produser Kobaryo yang ngerilis album baru berjudul “Super World Reboot“ yang dirilis lewat label besutannya, Hitnex. Kalo kalian cukup ngikutin kiprahnya Kobaryo, doi jadi salah satu pionir yang mempopulerkan musik-musik speedcore di Jepang, dan bisa sampe ngembangin dan punya style tersendiri, yaitu melodic speedcore yang dijadiin salah satu sub jenis speedcore.
Yang unik dari Rei Furuba alias orang dibalik proyek Kobaryo ini, dia juga suka bikin banyak karakter-karakter fiktif yang punya nama dan gaya musiknya masing-masing. Jadi kalo kalian liat daftar lagu di album ini yang beberapa di antaranya nampilin musisi tamu, itu semuanya orang yang sama. Beberapa nama kolaborator yang muncul di album ini, Srezcat, DJ Necojita, Matatabi Sound System, Blaxervant, Nyankovsky, dan Shinonome Interface.
Kobaryo mungkin terkenal banget dengan style J-Core dan melodic speedcore-nya, tapi t+Pazolite lebih dikenal produser sekaligus musisi yang bikin style musik elektronik gado-gado, alias udah banyak banget jenis musik elektronik berbeda yang pernah dibikin sama produser dengan nama asli Tomoyuki Hamada ini. Total doi udah bikin sebanyak 30 lebih album studio, termasuk album “OMOIDE Patchwork” yang baru aja dirilis Minggu ini. Di album kali ini, t+pazolite bawa nama Nanahira, penyanyi denpa yang udah sering banget kolaborasi sama t+Pazolite untuk ngisi vokal di lagu “オモイデ・パッチワーク・サービス”
Tapi Nanahira bukan satu-satunya penampil tamu di lagu itu, t+pazolite juga kolaborasi sama produser asal korea selatan, Mitsukiyo yang punya proyek musik asal Jepang, Yumegatari. Di album ini, juga terdapat beberapa lagu-lagu lama yang diaransemen ulang, yang juga turut didukung sama musisi tamu lainnya, seperti Kaneko Chiharu yang ngisi di lagu “ 雨露霜雪” versi OPW, dan produser musik elektronik, Chroma yang ngisi di lagu baru album ini yang judulnya, “Paint Your Own Universe”.
Ngomongin musisi Jepang yang udah dikenal luas, ada satu lagi nama legenda yang pasti bakal kalian kenali. Akina Nakamori, idol sekaligus penyanyi yang namanya ngetop di era 80’an, akhirnya “buka suara” lagi dengan ngerilis album berjudul “Akina Note” via Warner Music Japan. Udah hampir 9 tahun lamanya, pelantun lagu “Black Door Night” ini ga rilis-rilis album, semenjak duo album “Akina” & “Cage” yang dirilis 2017 lalu. Selama jeda tersebut, Akina Nakamori sempet “hilang dari perbincangan”, sebelum akhirnya doi mulai berani ngumumin kondisinya lewat akun X resminya.
“Akina” Note” sendiri jadi album cover kesekian, yang diisi sama lagu-lagu era keemasan Nakamori, yang di-cover ulang ke dalam versi jazz vokal. 6 lagu diambil dari lagu-lagu cover jazz yang udah dirilis sejak 2024 lalu (TATTOO”, “BLONDE”, “Gypsy Queen”, “Kita Wing,” “Slow Motion”, “Fin”). 7 lagu berikutnya diambil dari lagu-lagu cover jazz yang dirilis sepanjang Oktober 2025 sampai Januari 2026 (Kazari Ja Nai no yo Namida wa” “Days” “I hope so “, “I MISSED “THE SHOCK”, “Futari Shizuka”, “APPETITE”, “Tsukihan”). Sebagai tambahan, Album ini juga diisi 5 lagu cover baru yang belum pernah dirilis sebelumnya.
Aku udah mention nama Akina Nakamori sebagai salah satu bintang pop besar Asia era 80’an, dan sekarang kita beralih ke bintang pop masa kini, yang belakangan namanya lagi naik daun Namaku yang maksud adalah girl group K-Pop, ILLIT yang baru aja rilis mini album ke-4 nya berjudul “MAMIHLAPINATAPAI” yang dirilis lewat label BE:LIFT. Ini jadi tahun ke-3 berturut bagi grup yang diisi sama Yunah, Minju, Moka, Wonhee, dan Iroha yang selalu tampil dengan ngerilis mini album.Mini album ini sendiri berisi 5 lagu, dengan laguberjudul “It’s Me” yang dipilih sebagai single utama album.
Btw kalo kalian lebih suka musik-musik pop yang lebih tradisional atau resembling ke era-era dulu, ada penyanyi folk / pop country Kacey Musgraves yang rilis album terbaru berjudul “Middle of Nowhere” lewat label Lost Highway. Ketika sesi-interview bersama NPR, Kacey Musgraves mengaku bahwa di album ini, dia banyak eksplorasi jenis-jenis musik country dan bluegrass yang bukan cuman tumbuh di Texas, sebagai kota kelahirannya aja. Musgraves menjelajah ke musik-musik bluegrass, country dari era 70’an sampai 90’an, sampai menjelajah ke musik-musik asli yang berasal dari beberapa daerah, kaya musik norteno yang berasal dari musik Meksiko tradisional dan zydeco, musik khas daerah Louisiana.
Album ini sendiri dibuat dari persimpangan antara masa pasca putus-cinta Kacey Musgraves dengan pacarnya, Cole Schafer yang resmi berpisah 2023 lalu. Tapi persimpangan lainnya, justru nyeritain Kacey Musgraves yang “balikan” lagi kolaborasi bersama beberapa produser yang pernah menangani album debutnya, di antara lain Luke Laird, Shane McAnally, Josh Osborne, dan Brandy Clark.
Ngomongin pembuatan album yang dilanda oleh kegalauan, Ana Roxanne juga punya kisah-kisah serupa yang relate dengan proses mendamaikan diri pada patah hati. Sejak debut albumnya, “Because of a Flower” yang dirilis 2020 lalu, Ana Roxanne mengaku kalo dia sedang mengalami banyak proses transformasi. Nah, lewat album keduanya yang bertajuk “Poem 1” ini, Ana Roxanne mau memperlihatkan proses dan hasil transformasinya yang sudah dijalaninya selama bertahun-tahun. Hasilnya bisa kalian rasain langsung dengan kontras, kalo Ana Roxanne menarik suaranya paling depan di antara rekaman-rekaman suara lainnya.
Ana Roxanne udah mulai lebih berani menyanyi tanpa bantuan suara atau elemen kebisingan yang biasanya diambil dari rekaman musik elektronik drone atau teknik elektroakustik. Musiknya sendiri bener-bener bertransformasi ke arah yang emosional, jujur, dan lebih terbuka sama kisah-kisah pribadi Roxanne.
Aku bakal nutup kabar edisi rilisan album terbaru minggu ini, dengan musik-musik yang sinematis dan atmosferis. Kabar itu datang dari duo ambient asal Norwegia, Deaf Center yang balik bikin album baru berjudul “Through Time” via label Sonic Pieces. Duo Erik K Skodvin dan Otto A Totland ngaku bahwa di album terbarunya ini, mereka bikin pendekatan baru yang nonjolin elemen elektroakustik dengan alunan melodi yang panjang, supaya pendengar bisa nangkep perasaan yang lebih intim akan kekaguman dan kedamaian, sekaligus juga jadi ajang duo ini buat memperlihatkan ke penggemarnya kalo mereka punya atmosfer dan dunia yang beragam.
Ok, mungkin segitu dulu untuk minggu ini, dan kalian juga bisa cek rilisan album-album lainnya di list di bawah ini. Sampai ketemu lagi, minggu depan.
Baca Juga : Aliencore – Bentuk Pengasingan Dari Yang Terasing Menuju Keterasingan
Rilisan Lainnya
- 16 – Forgeries Volume 1: 1972 – 1984
- :LOR3L3I: – Peace by Proxy
- Alvarius B, – Malarial Dream
- Amorphophallus Titanum – The First Geometry
- Ashen Horde – The Harvest
- Black Clice – Votive Fire
- Blarf – Film Scores for Films That Don’t Exist
- Bogside Sniper Squadron – Bogside Sniper Squadron
- Calibre – Tricklemore Sea
- Chizawa Q – UzU
- Cindy – Another Country
- Cognizance – In Light, No Shape
- Come Back from the Dead – Ad Nauseam
- Crobot – Supermoon
- Delphine Dora – La lune
- Devenial Verdict – Blessing of Despair
- Duendita – Existential Thottie
- Ertie Ruffian – KE TE PASA FLAKA?
- Eveale – Enter the Woodland Realm
- Fall of Messiah – Green Lands
- fulusu – Birth in Vitro
- Furnace Floor – Ceremonial Passage Through Fire
- Grond – The Temple
- Hajduk – Хвърковата чета
- Hrob – Brána chladu
- Jolanda Moletta – Oceanine
- Kim Dayeon – 원천 [Wellspring]
- Klonns – G.A.M.E.S
- Knats – A Great Day in Newcastle
- Kyle Eyre Clyd – The Sound Outside
- Lalibach – MUSICK
- LCN – }{
- Lucy Bedroque – C
- Lunar Chalice – Antiquum
- Lune -Into Eternal Sleep
- Melanie C – Sweat
- Modern Woman – Johnny’s Dreamworld
- Mother Iron Horse – Mother Iron Horse
- Necropia – Our Kingdom Befouled
- Oldowan Gash – 1000 Dreams of War
- Orbis Daemonium – Onirógrafo
- Posset – Scraping the Barnacles off my Back
- Russell Hasswell – Let It Go
- Safety Trance – Sacrificio
- Schatterau – Wir gingen durch leere Stunden
- Sevendust – One
- Torver – Witching Hour
- Various Artists – Digital Hardcore Assembly
- Vansind – Hævnen
- Venom – Into Oblivion
- Wandar – Tiefe Erde
- Weird Nightmare – Hoopla
- wRec; – age
- youbet – Youbet
- Young the Giant – Victory Garden
- Yu Su – Foundry





