Aku berpikir… kalau hidup yang kita jalani selama ini adalah sebuah permainan…. Beberapa orang terus memainkannya dengan mengikuti aturan yang sudah dibuat, ada juga beberapa dari mereka yang bermain dengan curang agar bisa menang lebih banyak dan cepat mengalahkan mereka yang hanya mengikuti aturan. Tapi…, tidak sedikit orang-orang justru berteriak dengan lantang dan mengatakan bahwa aturan yang dibuat terasa curang dan membuat pihak tertentu menang, sedangkan pihak yang kalah merasa dirugikan.
Mereka bermaksud tuk membongkar permainan yang selama ini kita mainkan terus-menerus secara turun-temurun oleh kita manusia selaku bidaknya, menjanjikan permainan yang membawa kegembiraan dan keadilan tuk kita semua…. Tapi…, pada akhirnya, apapun kondisinya, apapun penerimaan kita, dan apapun rasa emosi kita yang sedang kita pergumulkan, tetap saja hanya ada satu hal pasti yang beriringan dengan kematian, kita harus tetap melempar dadu-dadu itu, tuk melangkah dan menentukan kemana pelabuhan tujuan kita berikutnya…
Apakah kita ingin menang? Menyelesaikan permainan secepatnya? Membuat ego kita semakin tinggi, semata merasa berhasil mengalahkan musuh-musuh kita? Tak jadi soal… semuanya membutuhkan mata-mata dadu itu berjatuhan di lantai, seketika membuat kita lebih sadar momen saat ini. Setiap hari terasa seperti kredit permainan, jika kita melempar dadu dan mendapatkan angka yang diinginkan, kemungkinan pada lemparan berikutnya kita harus merasakan kekecewaan, dan sudah pasti jika lemparan pertama meleset, ambisi tuk melempar dengan kemungkinan menghasilkan kesalahan yang lebih fatal, terasa membuat kita sama sekali tak gentar dan takut. Yang aku pikirkan, aku tak mengerti mengapa emosi sedih dan ekspresi menangis itu perlu diciptakan tuk merespon kejadian yang tidak semestinya? Bukankah kita hanya tinggal melempar dadu berikutnya?
Semua insight ini kudapatkan, ketika aku mendengarkan album penuh dari entitas post-punk yang menamai diri mereka COLA yang merupakan singkatan dari “Cost of Living Adjustment”. Bahkan tuk menekankan bahwa hidup kita ini selalu bergantung dengan sebab-akibat dari permainan pilihan yang kita ambil baik secara sadar atau tidak, COLA membuat album dengan judul yang sama dari kepanjangan nama band mereka. Pengalaman dan koleksi ingatanku dengan musik post-punk memang tak banyak, tapi aku merasa COLA memanfaatkan musik post-punk yang mereka mainkan di album ini beriringan dengan getaran musik rock, semata sebagai pelampiasan emosi yang tak bergantung pada koleksi emosional yang direkam memori. Apakah ini artinya, album ini tidak bisa merasakan emosi manusia dan seperti robot? Hmm…. menurut aku bukan seperti itu kesimpulannya.
Aku tetap masih bisa merasakan emosi yang sedih, kesepian, bersemangat, kecewa, bergairah, tapi yang kumaksud adalah emosi-emosi itu tidak mengendap menjadi memori masa lalu yang membentukmu di masa kini dan masa depan kelak. Yah… aku pikir ini tentang merasakan setiap emosi itu di masa saat ini, sebagai satu-satunya yang nyata… Tapi kemudian aku berpikir sekali lagi tentang permainan melempar dadu…. Lemparan dadu saat ini sama sekali tidak menentukan lemparan dadu berikutnya dan seketika aku jadi membuka memoriku saat pelajaran probabilitas, yang ku pelajari ketika aku duduk di bangku SMP. Aku diajari bahwa setiap lemparan koin selalu berpeluang mengeluarkan gambar atau angka, tidak peduli sebelumnya kita sudah mendapatkan 10 lemparan koin yang menghasilkan gambar atau angka secara berturut-turut.
Kedengarannya mungkin terasa kosong…, emosi seolah silih berganti pergi begitu saja tanpa meninggalkan bekas apapun yang berkesan…, tapi bagiku itu yang justru bisa membuat kita terlepas dari rasa trauma dan sentimen… Kita kemudian bisa menerima setiap kemungkinan yang kita terima dari lemparan dadu, seperti melihat sebuah lukisan yang menurut kita indah. Kita bisa terpaku sekaligus terpana kagum, melihat guratan dan campuran warna lukisan, semata gambar-gambar itu menghasilkan citra yang bagus, tidak lebih dari itu…. Entah darimana kita bisa merasakan kekaguman dan emosi yang tiba-tiba muncul di sebelah bahu, dan merasakan kedamaian ketika menatap lukisan yang indah….
Kalau aku mau bilang…. Dalam penerimaan sebuah kejadian aku merasa rangkaian album “COLA” ini, berusaha melampaui batasan tuk melihat dan menimbang setiap kejadian dari baik dan buruk…., dan aku mungkin masuk merasakan bahwa keduanya memang seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan… Ketika suara-suara gitar itu terus berjingkrak… irama drum yang mengiringi santai dan nyanyian yang tidak memberatkan, Aku merasa jiwaku belum beranjak dari ranjang seutuhnya, tetapi entah mengapa aku bisa merasakan mimpi yang menjadi kenyataan, dan dibalik tubuhku yang merasa lunglai dan belum mampu mengepalkan tangan erat-erat, aku merasa ada yang membara dari dalam sisi diriku.
Hmmm, apakah itu pengalaman yang absurd? Kenapa dua hal yang seharusnya saling bertentangan justru terasa seperti melengkapi dalam perbedaanya? Jika aku mungkin hanya menerima sisi yang satu…. dan menelentarkan sisi yang satunya…., kemungkinan aku hanya seperti pasien yang terus selalu membutuhkan obat tuk senantiasa sehat, dan merasa sakit kemudian bila tidak diberi asupan obat… Aku rasa mimpi yang selalu jadi kenyataan tidaklah membuatmu selalu bahagia…, dan mungkin hidup ini hanya akan lebih cocok dijalankan jika kamu bisa memilih penderitaan dan masalah yang maksimal bisa sanggup kamu tampung…
Setiap orang selalu merasa apa yang mereka jalani saat ini adalah sesuatu yang tidak layak yang ingin terus pertahankan, sementara orang-orang sengaja melenyapkan mimpi dan kenyamanan karena mereka takut hal itu hanya mendekatkan mereka pada kehidupan lugu, naif, dan berperasaan. Sepertinya ini harga yang harus dibayar… merasa canggung tuk mendekati apa yang membuat kita hidup, dan merasa muak tuk beranjak sesegera mungkin pada hal apa yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya.
Aku merasa, permainan ini semakin absurd…., kita selalu memang merasa seperti berada dalam neraka, ketika setiap kali melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak kita ingingkan, bertemu dengan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal dan suka, tapi entah mengapa justru itu hal yang membuat kita bisa mendapat keleluasaan tuk melempar dadu lebih sering, membalikan kartu dana umum, dan memiliki apa yang tidak diciptakan sepenuhnya tuk kita. Kata orang-orang… kehidupan yang kita jalani selama ini sudah dilakukan semenjak leluhur kita masih hidup, tapi aku sendiri tidak mengenal siapa leluhurku dan bagaimana perasaan mereka menjalani hidup ini, terlebih yang membuatku heran mengapa aku mengikuti cara mereka tuk hidup? Aku merasa….., kita ini hanyalah sebagai bidak pengganti, tuk mereka yang telah lelah dan memilih undur diri dari permainan ini….
Setiap kali membalik pintu beranjak dari kesunyian di tengah keramaian, menuju kesunyian mendalam, aku selalu tahu percis tidak akan ada suara yang membalas dan menjamah panggilanku, tapi di saat itu juga… aku merasa sadar, setiap dindingku dipenuhi lukisan indah yang bisa ku amati dan kukagumi setiap saat…. Jadi menurtku, aku tidak berlebihan..kan bila menyebut hidup ini terasa seperti kita yang terus melempar dadu… dan memandang setiap kejadian yang muncul seperti kita menatap sebuah lukisan yang terpampang di dinding? Sepertinya begitu… sayangnya aku tak punya lagi waktu tuk melanjutkan semua ini, saat ini aku harus melempar dadu berikutnya…
Lagu favoritku di album ini: Forced Position, Hedgesitting, Satre-torial, Polished Knives, Third Double, Conflagration Mindset, Favoured Over the Ride, Skywriter’s Sigh
Baca Juga : Begini Rasanya Ditinggal Kucing Kesayangan





