“Miaw…., Miaw…., Miaw…., Mi………. aww….. “
Mendengar suara sayup yang sedari tadi memanggil, berhasil membuat mata kembali terbuka setelah semalaman terpejam. Itu adalah sebuah pertanda… kehidupan masih terus berlanjut, merajut kisahnya setelah berganti hari. Anehnya…., ketika kesadaran telah terkumpul kembali, tidak ditemukan sosok yang membuat kegaduhan kecil di pagi itu. Setelah hampir beberapa detik pandangan sibuk menoleh ke arah kanan dan kiri, tetap saja tidak ditemukan sosok sesiapapun di kamar yang hangat terkena senyuman mentari. Suara itu semakin menguat… dan kini tanpa ada yang mempersilahkan masuk, suara itu seolah telah menyatu dari dalam. Entah mengapa ia berhasil membuat pagi yang hangat diliputi oleh rasa rindu dan hampa yang tak terelakan.
Aku tidak pernah merasakan ini seumur hidupku… mungkin karena aku belum merangkak dewasa…., mungkin karena aku belum mengerti arti dibalik rasanya kehilangan…., yang ku bisa sentuh hanyalah mencoba mengerti dan mengamini bahwa situasi itu bisa hadir tiba-tiba di kehidupan tanpa persiapan, dan bersiap merasakan ikhlas namun terasa sesak tuk menerimanya. Sekali lagi, aku harus berterima kasih pada musik… mereka adalah cara dan medium yang bisa diandalkan mengendapkan dan membagikan sesuatu yang tak nampak, tuk dapat menyentuh dan dirasakan setiap hati orang-orang di luar sana meski tak saling mengenal.
Dari balik kediaman apartemennya yang menjulang di Perancis, seniman kelahiran Jepang, Tujiko Noriko membisikan kisahnya yang penuh pilu sekaligus haru pada dunia melalui senandung dan lantunan musiknya. Album terbaru Tujiko berjudul, “Pon” menjadi bentuk dedikasi Tujiko terhadap kucingnya yang baru saja meninggal akibat kecelakaan. Sekali lagi ku tekankan… aku tidak mengenalnya…. dan mungkin kalian yang mendengar karya-karyanya juga sama sekali tidak mengenalnya, tapi menurutku… apa yang dituturkan Tujiko melalui musiknya, adalah cara kita untuk memahami bahkan menelisik kondisi psikis dan pikiran yang sempat melayang di sekitaran Tujiko. Kucing itu ia adopsi sedari bayi dengan keadaan yang tidak bisa mendengar apapun…. Jadi aku bisa memahami bahwa rasa kehilangan ini tidak didramatisir.. Atas apa yang telah mereka lalui selama ini, mereka cukup melalui dunia yang begitu besar dan penuh misteri ini, dengan saling berpegangan tangan, hingga maut yang menarik salah satu dari kedua ikatan lengan yang terjalin erat.
Saat suara-suara di sekitarmu yang selalu menyelimuti dan memelukmu tak bisa lagi menenangkan, kamu harus bergerak keluar sejenak, merangkai suara-suara untuk dirimu sendiri, sebagai penerimaan yang mengantarkanmu kembali pulang dengan keadaan bahagia dan bersedia memaafkan siapapun, termasuk dirimu sendiri. Itu yang aku rasakan dari perjalanannku menelusuri “Pon”, ketika aku tidak satupun menemukan bunyi-bunyi dari alat musik yang biasa ku dengar selama ini… Tujiko Noriko sedang memanusikan mesin dengan cara ia menenun melodi dan degup ritme yang dihasilkan dari peralatan elektronik.
Entah mengapa… aku masih bisa merasakannya…. merasakan setiap lapisan fase emosi yang dialami Tujiko, di tengah perasaan yang penuh kebingungan, kilas balik, dan ketidakpastian…. Aku merasa justru Tujiko Noriko, lebih banyak bertutur… Bisikan vokalnya halus.. tapi entah mengapa dia yang seharusnya menjadi sosok yang paling berduka, justru mendekati diriku, membelai rambutku tuk menenangkan dan meyakinkan diriku bahwa tidak ada yang harus disesali. Kemudian ia memelukku, menghentikanku dari situasi yang terus berlarut dalam tangisan. Yang Aku suka dari Tujiko dia gak berlagak sok kuat… kekuatan dan keyakinannya ia peroleh setelah melewati proses menyelami jurang kelam yang sempat terbentang di hatinya.
Aku sempat melihat…. bagaimana kondisi Tujiko sempat terbang melayang-layang, meninggalkan tubuh dan pikirannya yang terbelah tak karuan. Itu terjadi pada fase awal… Tujiko masih merasa sulit memproses kenyataan yang harus berhenti berdetak dan berangsur-angsur berubah menjadi kenangan indah semata yang tak lagi bertambah. Kenangan-kenangan masa kecilnya: masa perayaan ulang tahunnya, masa-masa ia bermain dan menghabiskan waktu bersama kucingnya tiba-tiba bergerak cepat memenuhi dan menarik pikirannya…
Tak pernah ku bayangkan dan terpikirkan selama ini…., Tujiko menjadi orang yang paling bersedih, di saat kucing kesayangannya, kini mengeong damai… menuju tempat yang menurut orang-orang sebagai sumber dari segala kebahagiaan bernama Surga. Di tengah penelisikanku pada “Pon”, Aku sempat memasuki persimpangan labirin yang membuat suasana hatiku gundah gulana diterpa rasa dilema. Di satu sisi, kebisingan itu terkadang mendistorsi, memaksaku masuk ke dalam keadaan memori Tujiko Noriko yang terpotong-potong, tapi entah mengapa semakin dia mengingat kenangan yang manis itu, hatinya tak ada henti-hentinya teriris oleh luka mendalam yang tak pernah nampak. Di sana, tidak ada yang berusaha mengingatkan tuk segera menghentikannya, sebelum semakin banyak rasa sakit yang harus ia derita.
Tapi di satu sisi…., aku justru seperti diajak pada labirin yang dipenuhi ruang kosong dan penuh lampu neon berwarna putih. Aku tidak tau harus melangkah ke mana, semua jalan setapak itu hanya mengantarkanku pada ruangan kosong berikutnya. Aku merasakan semeliwir angin yang begitu dingin menabrak wajahku, dan mencoba menerpa tubuhku yang seolah-olah ingin ambruk. Terkadang aku mendengar dinding-dinding yang berbisik kecil, suara seruling sayup-sayup, maupun sedikit sengatan musik elektronik yang menggelitikiku. Aku akhirnya merasakan kebingungan setengah mati…. Dan anehnya kondisi itu terjadi justru di tengah kekosongan yang melompong.
Aku mulai bisa bersimpati atas respon Tujiko yang juga sama-sama dihampiri kehampaan, setelah tak tau lagi harus melakukan apa…. Tidak ada yang bisa lagi kami upayakan, toh semuanya tidak akan pernah lagi kembali tersusun sebagaimana asalnya…. Yang kami lakukan terus melangkah ke depan, tidak peduli seberapa kali merasakan hening yang tidak ada bosan-bosannya menghampiri dan menyapa kami melalui firasat buruk…. Terkadang aku bisa merasakan degup jantung Tujiko, yang terpacu dan memompa darah lebih cepat dari biasanya, hingga membuat ia tiba-tiba menjerit histeris….
Tetapi aku sama sekali tidak terkejut. Kami terus melanjutkan perjalanan melangkah dengan jangkauan yang kecil…., satu jengkal demi satu jengkal … Entah keajaiban apa yang menghampiri…. Tiba-tiba dinding yang mengawasi gerak-gerik kami selama ini, seolah berlari menyusul dan meninggalkan kami secara bergantian. Aku merasa terkejut…., tetapi Tujiko… ia terus melanjutkan langkahnya tak peduli apa yang sedang terjadi di sekitarnya… Kami serasa seperti menaiki kereta ekspress TGV… Aku melihat bulir-bulir cahaya mencuat… Tidak aku tidak melihat cahaya itu datang dari pancaran neon…., melainkan cahaya yang seolah-olah tumbuh di dalam diri kita, mulai mengerubungi sekujur tubuh, membuat pantulan bayangan kami bersatu padu dengan bayang-bayang dinding maupun lampu neon….
Tiba-tiba, kami berada di sebuah lorong yang begitu gelap dan pekat…. Apakah aku kehilangan penglihatanku…..??? Sepertinya tidak. “Tujiko…!!, Tujiko…!!!, Tujiko….!!” aku berseru memanggilnya seraya untuk mengetahui apakah keberadaanya masih berada di sisiku atau tidak. Setelah selang semenit, aku mendengar suaranya…, tapi kali ini suaranya tampak begitu jelas dan lugas…. Suaranya yang halus itu kini mulai menampakan perangai yang bersemi, dan aku mendengar siulannya yang mulai bermekaran…. Aku terus berjalan menelusuri lorong gelap, aku menuntun langkah kakiku tuk mengikuti darimana sumber suara Tujiko berasal.
Tiba-tiba korneaku kembali mampu menerima sorot cahaya, aku terus memantapkan hatiku tuk melangkah menuju sumber cahaya itu berasal. Tak lama berselang aku berhasil melepaskan diri dari cengkraman lorong gelap itu, seketika… suara gelak tawa anak kecil bergantian menyambutku.
Lagu Favoritku di album ini : Bosom, Kikoeru Pon, Knife of Yonder, Beachside Cats, Bokuno Satellite, Kareki Ni Hana, Wakaru Pon, Quarz Rework
Baca Juga : Kawan Mengawal Menuju Sudut Kota…





