Aku punya salah satu kebiasaan, tentang nyusun playlist. Walau kadang aku juga suka dengerin full album, tapi aku cukup punya banyak koleksi-koleksi playlist, mulai dari playlist buat aktivitas tertentu, buat deskripsiin mood tertentu, sampai playlist yang isinya itu ngumpulin lagu-lagu dari negara tertentu. Nah… dari banyaknya playlist yang ku-buat, aku punya 2 playlist yang lebih spesifik ngarah ke perbedaan musiknya. Buat aku sendiri, aku ngerasa kalo di era sekarang ini, musik itu cuman ke bagi-2, antara musik yang pake gitar, atau musik elektronik, atau bahkan mungkin bisa gabungan ke-2 nya.
Soalnya aku udah banyak dengerin musik-musik di era sekarang, dan sejauh ini aku amati, kalo musik sekarang itu belum bisa lepas dari 2 instrumen itu. Hmmm…. Mungkin karena 2 instrumen itu juga kali ya, yang paling banyak digunain buat bikin melodi-melodi dalam musik, jadi perannya ga bisa lepas dari dunia musik saat ini. Kenapa aku bahas ini?, karena pas kebetulan minggu ini, aku bisa bilang jadi salah satu album terpadat aku dalam hal aktivitas nyari musik baru. Secara jumlah aja, kalo aku itung-itung kasar album yang kutemui minggu ini lebih banyak dari minggu-minggu sebelumnya. Terus aku juga nemu album-album yang jumlahnya sama banyak, dari album yang aku kategoriin musik pake gitar, dan album yang aku masukin ke playlist elektronik. Jadinya, secara bersamaan jumlah lagu di dalam 2 playlist aku itu, naik drastis banget hehehe.
Okay, karena minggu ini topiknya tentang gitar dan musik elektronik, makanya kali ini aku mau ngebagiin musik-musiknya berdasarkan jenis yang udah aku tentuin sebelumnya. Ok ayo langsung kita mulai, aku bakal kasih rilisan-rilisan album dari musik-musik dari pahlawan bergitar yang aku temuin di minggu ini.
Aku mulai dari kabar band The Linda Lindas, yang rilis album ke-3 nya dengan judul “Gotta Get Out”. Buat yang kurang tau siapa mereka, aku kasih dikit biografi tentang mereka, Band punk rock asal California yang beranggotakan 4 ciwi-ciwi imut ini (Bela Salazar, Eloise Wong, Lucia De la Garza, Mila De la Garza) ini dapet inspirasi dari salah satu film drama asal Jepang, Linda Linda Linda yang rilis tahun 2005. Di film itu diceritain, kalo ada 4 anak ciwi SMA, yang berniat bikin band, nah… makanya band ini pun mau nyoba idupin konsep ini ke dunia nyata bukan sekedar jadi band yang cuman di film-film aja (Maaf spoiler dikit, hehehe). Makanya mulai dari nama, anggota personil pun dibuat mirip-mirip. Kata mereka sih, meski musiknya masih sama mengusung punk ala Gen-z, tapi bakal ada sesuatu gebrakan baru yang bakal mereka hadirkan. Selain itu, musik The Linda Lindas juga selalu bikin lagu yang tetep bisa kita nyanyiin bareng kok, walau notabene nya musik punk, jadi aku ngerasa dengerin musik mereka itu kaya ada rasa kebersamaanya gitu, karena bagian sing along nya itu, kadang dinyanyiin sama semua personilnya.
Ngomongin musik punk rock yang beranggotakan semua ciwi (Kata kak Ivan sih, sebutannya Riot Grrrl), di Korea Selatan juga punya grup yang namanya Sailor Honeymoon. Meski udah terbentuk sejak 2022, tapi trio Riot Grrrl asal Seoul ini, baru pecah telur bikin album debut di minggu ini dengan judul “The Worst of Sailor Honeymoon”. Awalnya sih, Sailor Honeymoon ini dibuat cuman sekedar proyek iseng aja, makanya mereka di masa awal karirnya ga terlalu mandan serius soal produktivitas. Belakangan, ketika mereka mulai banyak tampil di panggung-panggung kecil lokal sampe ke panggung-panggung kecil di Eropa, baru mereka punya titik balik kalo band ini ternyata bisa dibikin serius dan sekaligus jadi ajang buat ketiga personil eksplor gaya musik baru. Lewat album barunya ini Sailor Honeymoon mau nunjukin ke dunia, kalo ada lho sisi kultur musik Korea Selatan lainnya, di luar dari musik K-Pop. Menurut mereka, alasan kenapa mereka bikin musik punk dibanding musik K-Pop, karena ngerasa musik K-Pop itu terlalu dipoles, dituntut untuk selalu tampil sempurna, dan tanpa celah, sementara mereka lebih mau nunjukin sisi manusia dari kreativitas mereka yang emang banyak lubang dan celah, tapi sekaligus bisa bikin mereka bangga karena berhasil ngekspressin dan nampilin jati diri musik mereka sebagaimana adanya.
Ok dari dunia per-Riot Grrrl-an, kita pindah yuk ke genre musik bergitar lainnya. Aku dapet kabar kalo band blues rock, Alabama Shakes baru aja ngerilis album baru di minggu ini dengan judul “I Must Be Dreaming”. Jujur ngomong aku masih buta banget sih soal musik blues, tapi aku perhatiin kayanya memang makin jarang musik-musik sekarang mainin blues. Ya mungkin kalo adapun, rame dan aktifnya itu lebih hidup di sesama komunitas pecinta blues. Nah… yang aku lihat, Alabama Shakes ini cukup punya base penggemar dari kalangan penggemar non-blues juga. Siapa tahu dengan album barunya ini, bikin orang (seperti aku ini) yang kurang paham atau jarang dengerin blues bisa mulai kepincut atau mulai dengerin blues, ya walaupun Alabama Shakes memang bukan musisi atau band yang murni maenin blues, alias ada campuran dari elemen musik lainnya, terutama musik rock. O iya aku lupa ngomong, kalo album ini itu jadi tanda resmi kembalinya Alabama Shakes, setelah 11 tahun absen bikin album. Gara-garanya sih, karena Alabama Shakes sempet hiatus, belum lagi kabar yang menimpa drummer mereka Steve Johnson yang dituduh melakukan tindak kriminal child abusive, yang ternyata tuduhannya itu ga bener dan bikin akhirnya Steve hengkang dari band di tahun 2021. Sebagai gantinya, mungkin di album ini, mereka pake “Noah Bond” yang emang di-hire buat jadi pemain drum yang ngisi kalo Alabama Shakes tampil secara langsung.
Berikutnya ada 2 band yang kalo aku cari informasi-informasi tentang mereka pas nulis ini, ternyata band-band lejen yang udah disegani, ninggalin banyak rilisan penting, dan punya fanbase yang bejibun. Kabar pertama datang dari unit post-punk asal New York, Interpol yang rilis album dengan judul “This Mirror Weighs a Ton”. Kalo dari deskripsi musiknya sih di album ini mereka emang bakal gabungin musik-musik synth dengan gitar, dan instrumen dawai lainnya. Tapi aku kayanya bakal tetep masukin musik mereka ini ke dalam kategori musik gitar, kenapa? Karena aku ngerasa, itu yang jadi salah satu ciri musik mereka yang dikenal selama ini.
Kabar berikutnya dari band ke-2 yang aku sebut lejen itu, yaitu Dinosaur Jr. yang bikin album baru dengan judul “There Near”. Buat nyederhanain musik mereka yang komplek, banyak karakter, dan terus berkembang, Dinosaur Jr. lebih suka ngelabelin dirinya itu sebagai band yang mainin musik noise pop. Jadinya istilah ini yang ngerasa buat mereka paling sejalan buat deskripsiin musik mereka yang meski pake vokal yang santai, tapi tetep bisa ngasilin kebisingan dari gitar di sekeliling musiknya. Selain itu Dinosaur Jr. juga ngasih keterangan di laman bandcampnya kalo lirik-lirik di album ini sebenarnya, ga punya makna spesifik di awal bakal nyeritain apa. Kata mereka, biar makna-makna itu tumbuh ketika orang mulai dengerin musik dan lirik-lirik mereka di album ini. Jadi bisa dibilang lirik mereka itu filosofis, abstrak, dan punya banyak banget makna yang bisa diambil. Dinosaur Jr. ini emang udah aktif sejak tahun 80’an, jadi wajar meski ini bakal jadi album studionya yang ke-13, mereka ga bisa lepas dari pengaruh musik-musik yang berjasa dan bikin namanya jadi gede seperti sekarang ini.
Selanjutnya ada band instrumental post-rock Russian Circles yang rilis album baru “Nine”. Sesuai dengan judulnya, album ini jadi album studio ke-9 dari band asal Chicago itu. Mereka lebih suka ngerayain momen-momen bersejarah mereka dengan hal yang sederhana, bahkan pihak band pun berani bilang, meski mereka ga punya hit yang bikin nama mereka lebih dikenal luas, tapi mereka ngasih jaminan kalau konsistensi yang jadi alesan kenapa band ini bisa bertahan lebih dari 20 tahun, yang hasilnya bikin penggemar sulit dan kelabakan kalo ditanya album Russian Circle terbaik mana versi mereka, karena band ini sendiri punya banyak album bagus. Mereka balik lagi kerja sama Kurt Ballou buat jadi engineer, yang sebelumnya udah nanganin ke-2 album Russian Circles sebelumnya, “Gnosis” (2022), & “Blood Year” (2019). Meski mereka terkenal punya ciri khas tersendiri, tapi mereka tetep terus banyak eksplor musik rock dan metal dari berbagai area dan periode. Itu yang bikin musik mereka, mungkin sampai sekarang meski tetep punya karakter, tapi masih bisa ngasilin sesuatu yang baru dan fresh.
Okay kita anggep Russian Circle jadi gerbang pembuka buat ngasih rekomendasi album-album bergitar yang musiknya lebih kenceng dan cadas, sekarang aku bakal kasih kalian rilisan baru dari grup screamo / post-hardcore (eh bener ga ya, genrenya??) Dreamwell dengan judul “Hymns for the Denial of God”. Album ini udah jadi koleksi album ke-4 sepanjang mereka berkarir selama 1 dekade. Setelah cukup lama bikin lagu-lagu yang nyeritain tentang seputar dirinya dan kilas balik, Dreamwell kali ini bikin musik yang lebih mengangkat isu-isu luar, seperti isu-isu mengenai akibat agama yang disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan, genosida, dan kebencian terhadap sesama. Hal ini langsung dikonfirmasi sama vokalis mereka, Kezah Staska, ketika diwawancara mengenai album terbaru Dreamwell sama pihak Brooklyn Vegan. Total mereka bakal masukin sebanyak 10 lagu termasuk, “Plath vs. Kafka vs. Romance” & “Carrion Birds on the Ark” yang udah rilis dulu sebagai single buat album ini.
Mastodon punya kisah yang naik turun, sebelum akhirnya band progressive metal ini bisa sampe bikin dan rilis album baru dengan judul “Marrow Deep” di minggu ini. Aku lumayan kaget, ketika baca profil Bandcampnya, ternyata mereka pernah menang Grammy dan setelah aku cari ternyata bener, mereka menang di tahun 2018 sebagai best metal perfomance dan lagu Sultan’s Curse yang kepilih. Tapi pas aku lanjut baca biografi mereka, salah satu personil lama sekaligus pendiri band yang ngasih banyak kontribusi dan jasa buat ngisi vokal dan gitar sekaligus nulis lagu, Brent Hinds baru aja meninggal tahun lalu akibat kecelakaan motor. Akhirnya nyampelah Mastodon di fase sekarang, ketika mereka bikin album tanpa salah satu sosok kunci. Mereka datengin Nick Johnston sebagai gitaris pengganti, dan kemudian menyusul João Nogueira yang baru aja join di tahun ini sebagai kibordis. Ini jadi pertama kalinya, Mastodon pake kibor di album ini, karena aku ngelihat daftar personil terdahulunya, ga ada personil yang megang kibor di Mastodon. Meski mereka emang lagi berada di suasana berduka yang mendalam, tapi itu ga menghentikan mereka buat tetep bikin musik yang cadas, agresif, sebagaimana mereka biasanya. Total di album ini bakal diisi sama 13 lagu dengan total durasi yang nyampe 65 menit lebih!
Kalo masih kurang cadas dan brutal, aku bakal kasih yang literally brutal kalo gitu heheh. Band brutal death metal asal Republik Ceko, Epicardiectomy baru aja nih pecah telur lagi setelah 8 taun absen rilis album. Album yang dinamain “Dismal Landscapes of Voluptuous Pustular Cadaverosis” ini (buset panjang amat judul albumnya, hehe) dirilis di bawah label New Standard Elite, label yang udah rilis dan kerja sama dengan Epicardiectomy sejak album-album sebelumnya. Bukan cuman itu aja, di album terbarunya ini mereka juga ngajak beberapa vokalis tamu buat ngisi album mulai dari Angel Ochoa yang muncul di lagu “Defiled Human Autopsical Delicacies”, Clayton Meadae yang muncul di lagu “Malformed Genital Phlebotomys”, dan terakhir Kyriakos Destounis yang muncul di lagu “Trench of Gangrenous Putrefaction”. Total album comeback Epicardiectomy kali ini bakal diisi sama 8 lagu baru.
Okay, kalo udah brutal-brutalnya, kita ademin dulu suasana dengan rilisan baru dari Billy Strings sang gitaris bluegrass lewat albumnya yang berjudul “So Much for Goodbyes”. Kalo diitung-itung tanpa album kolaborasinya sama Don Julin, album terbarunya ini bakalan jadi album studio ke-5 nya Billy Strings. Tapi meskipun ini album solonya Billy Strings, tapi seperti biasa dia juga ngajak beberapa musisi sesi yang juga ngasih kontribusi buat mainin instrumen dan nyumbang vokal juga. Formasinya yang aku liat dari album sebelumnya masih tetap, ada Billy Failing yang mainin banjo sekaligus vokal, Royal Masat sebagai bass dan juga vokal, Jarrod Walker yang mainin mandolin dan vokal, sama Alex Hargraves yang mainin fiddle. Dan bukan cuman personil inti aja yang diajak, Billy juga ngajak belasan musisi adisi lainnya juga buat berkontribusi di album ini. Ga heran sih, Billy ngajak segitu banyak musisi, karena album ini juga bakal diisi sama 16 lagu dengan total durasinya itu sampe 75 menit!
Nah kabar Billy Strings ini sekaligus jadi akhir kabar album-album terbaru yang aku kategoriin sebagai musik bergitar, selanjutnya album-album berikutnya bakal lebih banyak ada di ranah elektronik. Aku buka dengan kabar dari rilisnya album baru dari salah satu grup K-Pop favoritku, NCT 127 dengan judul albumnya “Blingy”. Sebelumnya, mereka rilis single dengan judul yang sama, dan udah berhasil menduduki peringkat pertama Itunes di beberapa negara lho, mulai dari Finlandia, Turki, Malaysia, sampe Indonesia juga termasuk. Ga heran sih comebacknya NCT 127 ini ditunggu sama NCTzen (nama fandom mereka), karena di tahun sebelumnya mereka absen bikin album penuh selain rilis album remix sama Aespa. Belum lagi NCT 127 juga udah ngasih janji kalo di album terbarunya ini, mereka bakal nampilin musik yang fresh dan berbeda yang udah mereka lakuin sebelumnya. Termasuk singlenya, album ini berisi 9 lagu dengan total durasi 26 menit.
Berikutnya, aku dapat kabar comeback nya Erykah Badu yang balik lagi rilis album penuh dengan judul “Before the World Blows”. Penyanyi R&B dan neo soul yang ngetop di 90’an sampe awal 2000’an ini, sebenarnya udah lama banget ga rilis album. Terakhir kali doi rilis album itu tahun 2010, lewat judul albumnya “New Amerykah Part Two: Return of the Ankh”, artinya udah 16 tahun Erykah Badu absen ga bikin album lagi. Yang menarik, justru di album ini dia ga sendiri, karena album ini konsepnya adalah album kolaborasinya Erykah Badu, sama salah satu produser hip-hop ternama, The Alchemist. Ga heran, kalo di album ini banyak rapper-rapper sampe penyanyi generasi sekarang yang ikut berkontribusi di album terbaru sang legenda ini. Mulai dari Westside Gunn, Earl Sweatshirt, Kamasi Washington, Thundercat, Joi, DJ Creole Princess, dan Steve Lacy ikut meramaikan.
Selanjutnya ada penulis lagu, penyanyi sekaligus produser kelahiran London, iKeda yang baru aja rilis mini album ke-2 nya, “Bangs n Braces”. Nama iKeda ini mulai melejit, berkat dia yang dipercaya buat jadi penampil pembuka buat PinkPantheress yang waktu itu lagi ngejalanin serangkaian tur ke Amerika dan Eropa. Bukan cuman itu aja, album mini debutnya “Pretty Little Problem” yang dirilis 2024 juga emang enak dan banyak yang ngasih pujian dan respon positif, makanya dia deserve buat dapet kepercayaan itu. Selain itu iKeda sendiri lho yang ngeproduserin album-albumnya ini, dan dia juga campurin banyak banget jenis musik elektronik ke dalam albumnya. Total mini album ini bakal diisi sama 6 lagu dengan total durasi 17 menit, termasuk single “Go!” yang didedikasikan buat para perempuan yang hidupnya easy going dan nggak ambil pusing dengan omongan orang
Berikutnya ada juga produser musik elektronik asal Manchester, Floating Points yang kerja sama dengan grup The San Francisco Ballet Orchestra buat bikin album bareng dengan judul “Mere Mortals”. Tapi sebenernya ini bukan kali pertama Floating Points mutusin kolab sama grup orchestra, sebelumnya di album “Promises” yang rilis tahun 2021 lalu, Floating Points juga ada kolab sama grup Pharoah Sanders London Symphony Orchestra. Bahkan udah dari beberapa bulan yang lalu, Floating Points udah sibuk rilis beberapa single buat ngasih cuplikan dan gambaran gimana suara album terbarunya kali ini. Total album ini sendiri bakal diisi sama 14 lagu dengan durasi nya 1 jam lebih.
Sekarang kita geser ke Jepang, ada yang nyebutnya sebagai seniman elektronik, avant-garde, progressive pop, tapi apapun itu sebutannya, Hakushi Hasegawa bakal siap ngasih kejutan lewat album terbarunya “Honest Feeling Album”. Kali ini Hasegawa ga tampil solo, tapi juga dibantu dengan band yang baru dibentuknya dengan sebutan HaHa and The Hairpins. Jadinya kali ini Hakushi Hasegawa bakal nampilin band sungguhan ke rekamannya, dan ini jadi experience dan sesuatu yang baru pertama kali hadir di album-albumnya. Tapi bukan cuman itu aja, Hakushi Hasegawa juga nampilin beragam kolaborator lintas genre, mulai dari Mito Tsukino, tofubeats, Accorinrin (Otoboke Beaver), dan Lee Lang. Bahkan Hasegawa udah ngomong kalo albumnya ini perpaduan dari berbagai suara mau itu jazz, J-Pop, musik elektronik, sampai musik industrial sekalipun ada.
Sebagai penutup artikel ini, aku bakal kasih salah satu temuan album paling menarik di minggu ini. Album itu datang dari komposer kelahiran Kanada yang kini menetap di Amerika Serikat, Sarah Davachi yang baru aja rilis album terbarunya dengan judul “The Will of Tongues”. Kenapa aku bilang menarik, dari segi durasi aja, album ini bakal nemenin kalian selama 2 jam lebih, atau lebih tepatnya sekitar 139 menitan! Selain itu juga, Sarah Davachi bukan jadi satu-satunya yang tampil di album ini tapi dia juga ngajak banyak melibatkan kelompok musisi dan ansambel dari berbagai penjuru AS dan Eropa, diantaranya Whitney Johnson (viola), Eyvind Kang (viola), Lucy Railton (cello), Diapason (ansambel alat musik tiup logam eksperimental/mikrotonal asal Los Angeles), Phaedrus (ansambel seruling era Renaisans asal Swiss), serta Chamber Choir Ireland (di bawah arahan konduktor Nils Schweckendiek). Jadi meski kadang Sarah Davachi emang suka disebut sebagai musisi minimalis, drone dan ambient tapi dia buktiin kalo di album ini juga bakal banyak munculin elemen kejutan, variasi, dan hal-hal yang beda dan unik lainnya yang bakal kalian dapetin kalo kalian dengerin sendiri album ini hehehe.
Ok…, untuk minggu ini cukup dulu sepertinya, karena sudah kebanyakan juga sepertinya heheh, takutnya kalo ditambah terus kalian malah jadi bingung mau coba album yang mana. O iya… kalo masih belum puas juga, aku udah nyiapin list rilisan album lainnya juga di bawah kok, buat kalian gali dan cari-cari. So selamat mendengarkan ya, sampai ketemu lagi minggu depan!
Baca Juga : Aku Sadar Hidup Itu Hanya Perkara Melempar Dadu Sambil Menatap Lukisan
Rilisan Lainnya
- Aidan Baker – Adverse Camber
- Ambulacrum – Historiae Romanae Fragmenta
- Atomic Aggressor – The Occult Forces
- Azgaal – Divine Hitman
- Beartooth – Pure Ecstasy
- Besvärjelsen – Till Glömskan Ad Oblivionem
- Black Door – In the Shadows of a Funerary Gleam
- Czarface & Frankie Pulitzer – Czarface Meets Frankie Pulitzer
- Dominia – Tamas
- E-40 – Turning My Money Over
- Elephant Stone – ASHA
- EZ8 – The Easy Way Out
- Exumer – Death Mask Messiah
- ExWHYZ – zION
- Flotsam and Jetsam – Rats in the Temple
- Gorod – The Ember Gone
- Graham Hunt – American Pyramid
- Gráinne Ní Choinn – Qalb-E-Saleem
- Hesperia – Picenum (True Marchigian Black Metal Renaissance)
- Holding Absence – Modern Life Is Lonely
- Ibridoma – Sangue innocente
- In This Moment – Witch
- Kamelot – Dark Asylum
- Lancey Foux – The Time of Our Lives
- Lope Dope – Tuyển tập Tình Ca Thành Phố Vịnh
- Lonesome_Blue – Fourth Dimension
- Manaka – Pretty Machine Gun Ⅱ
- Mike D – Thank You
- Mindwork – Adrift
- Miscreance – Reminiscence
- MOLØ – Fold
- Morgued – Ordnance obscenum
- NEXZ – Saucin’
- Ninth Realm – Damnation’s Veil
- Pissdeads – Healing Process
- Prince – Timeless
- Rat Cage – Not Asking for Much
- Sadness – Sunset Blush
- Sara Bareilles – Good Grief
- Saul Williams – Leap Life
- Seiko Oomori – Baby! Pink! Music!
- Šimanský Vaľko Podracký – K-Drone
- Sortilège – Larmes des héros: Meme les dieux pleurent
- Tha God Fahim & NicoJP – Chess Moves 2
- The Jayhawks – Sanctuary Park
- The Warning – Everything’s Falling
- Totalitär – Totalitär
- Train – Mad Dog in the Fog
- Triosphere – Oceans Above, Stars Below
- Ty Segall – Chrome
- Upper Wilds – Mercury
- Vanessa Moreno – Vanessa Moreno visita Djavan
- Xenith – To No Avail



