Seandainya kalian tersesat di suatu tempat yang sama sekali asing, apa yang bakal kalian lakuin? Apa kalian langsung panik, gelagapan buka google maps dan tanya sana-sini biar dikasih tau ke mana arah jalan pulang atau minimal berharap bisa balik ke daerah-daerah yang udah kalian kenal secepat mungkin? Atau kalian tipikal yang santai dan justru manfaatin momen ini, buat jalan-jalan dan liat hal-hal baru, mengubah bencana kecil ini jadi suatu pengalaman baru yang seru buat hidup kalian?
So far.. sih aku belum pernah ngalamin hal ini di kehidupan nyata, tapi kalo buat urusan cari musik, aku sering banget ngalamin hal ini. Pas awal-awal, aku pun ngerasa kaget dan jadi orang tipe pertama yang pengen cepet-cepet segera balik buat lagu atau genre musik yang aku suka dan familiar. Dulu pas aku masih suka dan dengerin lagu lewat Spotify (sekarang aku Apple music enjoyer sih, hehe), kalian pasti tau kalo Spotify itu kadang suka random gitu naro rekomendasi lagu dari artist, atau genre yang belum kalian dengerin sebelumnya.
Aku malah sempet mikir, “ngapain ya, spotify sengaja bikin algoritma kaya begitu?” Soalnya, kalau urusan ngasih rekomendasi yang personal sesuai sama selera pengguna, sepengelaman aku dulu make spotify, algoritmanya cukup akurat. Jadi aku ngerasa, pasti ada alesan tertentu, kenapa Spotify ngelakuin itu. Aku mulai ngerasain titik balik, ketika suatu waktu Spotify ngasih rekomendasi lagu random. Di luar dugaan ternyata lagu yang direkomendasiin random ke aku itu enak dan cocok di kupingku. Nah, sejak saat itu, aku mulai sering nungguin sensasi “kejutan” itu yang bikin pengalaman denger musik aku lebih seru dan menantang. Malah, kalau dulu aku cuman pasif nungguin rekomendasi dari mesin, sekarang aku yang justru aktif nyari atau sengaja “tersesat” di antara hal-hal asing yang belum ku kenal sebelumnya.
Nah kejadian ini percis kembali dialami sama aku di minggu ini. Beda dengan minggu-minggu sebelumnya, rilisan album-album baru dari artis favoritku di minggu ini, itu dikit banget dan malah bisa keitung sama satu jari jumlahnya. Sebaliknya, aku nemu banyak rilisan-rilisan baru dari artist maupun genre musik yang kurang familiar dan malah baru pertama kali denger. Penasaran kan apa aja rilisannya? So gausah lama-lama lagi, mari kita tengok rilisan album terbaru apa aja di minggu ini yang berhasil bikin aku dan mungkin kalian juga “tersesat”.
Aku mulai dari genre musik yang bener-bener beda dan fresh buat aku, yaitu musik elektronik. Boards of Canada, baru aja rilis album terbaru dengan judul “Inferno”. Grup duo elektronik yang terdiri dari Michael Sandison dan Marcus Eoin ini, udah “hiatus” bikin album selama hampir 13 tahun lamanya, sebelum akhirnya mereka berhasil comeback di tahun ini. Jadinya, ga heran ketika beberapa minggu lalu mereka ngumumin akan ada rilisan album baru di tahun ini, banyak penggemar yang antusias buat nyambut kabar baik ini. Ga tanggung-tanggung, buat ngelepasin kerinduan, Boards of Canada udah nyiapin sebanyak 18 lagu di album ini, dengan durasi yang udah mencapai 1 jam lebih. O, ya sebagai salah satu cara Boards of Canada promosiin album “Inferno”, mereka juga ngadain sesi denger album ini bareng-bareng di London, beberapa hari jelang tanggal resmi rilisnya album ini.
Kalau Boards of Canada, sering disebut-sebut sebagai salah satu proyek Elektronik terbaik di era akhir 90’an sampai awal 2000’an, Kim Petras dikenal sebagai salah satu figur ratu pop elektronik saat ini. Penyanyi-penulis lagu kelahiran Jerman ini, udah nyabet beberapa gelar penghargaan musik bergengsi dari Grammy, sampai MTV Awards. Nah di minggu ini, Kim Petras baru aja rilis album baru dengan judul “Detour”. Sebenernya Kim Petras udah jauh-jauh hari ngerencanain buat rilis album baru ini, bahkan beberapa single album seperti “Polo”, “Freak it”, dan “”I Like Ur Look” sudah dirilis sejak pertengahan tahun 2025 lalu. Tapi mantan pihak labelnya dulu, Republic Records nolak buat ngasih tanggal resmi perilisan album dan ga mau bayar orang-orang yang terlibat dan berkontribusi di album terbarunya ini. Kim Petras curhat di akun X pribadinya, kalau dia akhirnya pilih buat jadi artist independent, karena ngerasa gabung label gede malah bikin dia ga punya sama sekali kontrol kebebasan buat dirinya sendiri.
Album ini sendiri diproduseri oleh banyak musisi mentereng mulai dari Kim Petras-nya sendiri, sampai Frost Children, Margo XS, Nightfeelings, Porches, Eric Cross, BC Kingdom, Italian Leather, dan Jonny Rocks. Nama yang paling mengejutkan muncul dari jajaran produser yang terlibat di album ini adalah Sophie. Siapa sangka, mendiang musisi plus produser elektronik yang meninggal di tahun 2021 ini, tetep ngasih kontribusi sebagai produser di salah satu lagu berjudul “Basketball” yang semakin ngedukung pernyataan awal kalau sebenarnya album ini udah disiapin jauh-jauh hari. Kim Petras ngomong, kalau album terbarunya ini bakal punya arah yang beda dari album-album yang dirilis sebelumnya.
Sekarang kita beralih dari dunia musik elektronik, menuju musik pop. Kalau di musik elektronik ada Board of Canada yang di minggu ini lagi merasa lepas kangen, kalo di pop ada sosok Turnover yang baru aja rilis album baru berjudul “Down on Earth”. Sejak beberapa rilisan terakhir, Turnover emang bener-bener udah “puter balik” buat rilis album-album yang vibes-nya ala pop-pop yang dreamy dan kalem banget. Bahkan aku sempet kaget, denger cerita kalo mereka sempat jadi band emo di era album “Peripheral Vision”. Dan, sepertinya adegan puter balik dari Turnover masih mereka lanjutin di album terbaru mereka ini.
Sementara, kita bakal puter balik ke rilisan lain, aku ga nyangka banget bakal dimanjain sama rilisan artist K-Pop yang ku suka selama 2 minggu berturut-turut. Kalo minggu lalu ada LE SSERAFIM, kali ini ada salah satu grup k-pop kesukaanku, aespa yang baru aja rilis album penuh ke-2 mereka berjudul, “Lemonade”. Yang bikin hebohnya lagi dari album ini, aespa kollab sama G-Dragon pada single andalan mereka di album ini, yaitu “WDA (Whole Different Animal) “. Selain kolaborator sesama musisi K-Pop, aespa juga kolaborasi sama salah satu bintang pop rap asal Amerika, Ty Dolla $ign di salah satu lagu yang berjudul “Switchblade” dan kolaborasi sama penyanyi Reggaeton, Becky G yang muncul di lagu “self-titled”. “Lemonade” sendiri bakal ngeksplor lebih banyak jenis genre musik mulai dari elektronik, hyperpop, R&B, bahkan sampai ke pop rock sekalipun.
Aespa memang satu-satunya artis favoritku yang rilis album baru minggu ini, tapi kayaknya aku bakal nemu calon artist favorit baru di minggu ini. Artist yang aku maksud di sini adalah grup alt-idol asal Jepang, Kinopo yang baru aja rilis album baru dengan judul “脳内エレクトリック”. Konsepnya unik dan mungkin jarang dibawain sama idol-idol gede, dimana mereka lebih serius buat eksplor ke musik-musik rock, power pop, atau jenis musik yang ngutamain gitar. Apalagi mereka sesumbar, kalo album terbaru ini bakal jadi karya terberat yang pernah mereka rilis sejauh ini. Dan kalo kalian liat dari segi artwork album-nya pun di album ini, memang cukup ngeliatin sisi nyentrik dari grup idol asal Kyoto ini. Total terdapat 12 lagu dan 5 diantaranya udah rilis duluan lewat format digital.
O iya, ngomongin konsep idol / J-Pop full formasi cewek yang mainin rock, rasanya kurang afdol ga nyinggung nama grup SCANDAL. Kebetulan banget, grup yang udah berdiri sejak 2006 di Osaka ini rilis album baru dengan judul “Echo”. Meski udah terbilang sepuh, formasi SCANDAL sampai rilis album ini masih awet, yang terdiri dari kuartet Haruna Ono (vokal, gitar), Mami Sasazaki (gitar, vokal), Tomomi Ogawa (vokal, bass), dan Rina Suzuki (drum, vokal). Album ini sendiri bakal terdiri dari 9 lagu.
Btw, apakah kalian ngersain juga, tapi akhir-akhir ini aku dapet banget banyak rilisan-rilisan baru dari musik post-punk. Minimal seminggu sekali akhir-akhir ini, aku sering nemu banyak rilisan post-punk, yang bikin aku akhirnya penasaran dengan genre ini. Untuk minggu ini giliran unit post-punk asal Denmark, Iceage yang rilis album baru dengan judul “For Love of Grace & the Hereafter”. Mereka sendiri sebenernya udah cukup lama ga rilis album. Terakhir yang aku lihat, mereka rilis album itu tahun 2021, ketika “Seek Shelter” dilepas.
Sama halnya dengan Iceage yang melepas rindu merilis album solois sekaligus penulis lagu folk rock, Kurt Vile juga ngungkapin perasaan-perasaan yang dicintainya lewat album terbaru berjudul “Philadelphia’s Been Good to Me”. Album ini berisi tentang curhatan dan perasaan dia terhadap kota Philadelphia, yang jadi kediamannya saat ini. Album ini sendiri makan waktu jeda 4 tahun sejak “(watch my moves)” dirilis 2022 lalu. Di album terbarunya ini, Kurt Vile kembali ngajak Natalie Hoffman yang sering kolab bareng dengan Kurt Vile beserta Ethan Buckler vokalis Slint, dan vokalis band garage punk, Oblivians, Greg Cartwright buat ngisi vokal di salah satu single album ini berjudul, “Chance to Bleed”. Di album “Philadelphia’s Been Good to Me” ini, Kurt Vile udah nyiapin sebanyak 13 lagu dengan total durasi yang mencapai 1 jam, bahkan lebih.
Selain kehadiran post-punk di minggu ini, kita juga kedapetan rilisan baru dari band post-hardcore, Static Dress yang rilis album ke-2 berjudul “Injury Episode”. Meski album ini tanpa kehadiran Connor Reilly sang bassist dan backing vocal, tapi mereka masih tancep gas buat bikin materi-materi post-hardcore / metalcore yang cadas. Aku sendiri sempet denger beberapa singlenya, dan aku suka banget, apalagi salah satu single terbaru mereka yang judulnya “Nostalgia Kills” yang kolaborasi bareng sama band Post-hardcore ngetren era 2000’an, Underoath. Selain ngambil pengaruh suara yang lebih luas, aku lihat mereka nonjolin banget grafik dan konsep visual ala horror-horror gitu di album terbarunya ini.
Karena kita udah nyemplung ke musik-musik cadas, tanggung sekalian aja aku ceburin kalian ke rilisan-rilisan metal di minggu ini, hehehehe. Dan thanks buat Kak Ivan, yang ngasih banyak info-info yang bantu aku buat nulis bagian rilisan musik metal ini. Kita mulai dari Godthrymm, grup gothic / doom metal yang rilis album ke-3 berjudul “Projections”. Di album terbarunya ini, Godthrymm ngaku bakal memperluas cakupan musiknya sembari tetep mempertahankan akar musik doom / gothic yang udah mereka kibarin selama ini. Hamish Glencross (vocals, guitar) dan Shaun Taylor-Steels (drum) selaku member inti dan pendiri band Godthrymm ini juga udah banyak makan asam garam bikin musik-musik gothic / doom metal dan udah nukangin banyak band dengan corak serupa salah satunya, My Dying Bride, dan Solstice.
Jadi, wajar kalo di album ini mereka bakal matengin suara khas dari mereka, seperti yang diungkapin sama Hamish Glencross: “Di album baru ini, kami mempersembahkan kepada Anda lagu-lagu yang menyalurkan gairah, kesedihan, cinta, dan amarah kami, esensi yang menjadikan kami seperti sekarang ini, dan kami berharap Anda menemukan refleksi serupa dalam diri Anda sendiri dalam perjalanan ini. “Projections” menghadirkan dan memperluas cakrawala sonik baru yang dibawa ke dalam suara GODTHRYMM.”
Meski sama-sama berlabelkan death / doom, tapi Funebrarum seolah bawa kita ke tempat dan suasana yang lebih ekstrim, horror, dan mencekam lewat album terbarunya berjudul “Beckoning the Void of Eternal Silence”. Gimana, nggak terakhir kali mereka rilis album itu tahun 2009 lewat judul “The Sleep of Morbid Dreams”, dan sekarang 17 tahun kemudian dendam kesumat mereka buat bikin musik yang lebih jahat dan angker dari sebelumnya, kesampean juga. Sebagai bentuk keseriusannya, mereka ngerekam album ini di Elektric City Recording yang juga jadi tempat band-band serumpun seperti Ascended Dead, Coffin Rot buat ngerekam album-album mereka. Mereka juga kerjasama dengan Stephen DeAcutis yang ngurusin sesi rekaman dan mixing album ini. Stephen sendiri juga kayanya udah khatam betul, karena udah pernah kerjasama dengan band-band death metal maupun doom metal lainnya sebut aja Ripping Corpse, Evoken, dan Disma.
Ok, jadi segitu aja buat rilisan minggu ini, dan seperti biasa buat rilisan lainnya udah aku taro di bawah, ya.. Semoga kalian menikmati ketersesatan, ini ya… dan malah bangun momentum kalian buat suka sama hal-hal baru, hehehe… See, ya next week dengan rilisan-rilisan baru lainnya.
Baca Juga : Iceberg #03 – PVA, Nuovo Testamento, Budung, Svitlana Nianio, Traffic Jam
Rilisan Lainnya
- Æpoch – Æpochalypse MMXXVI
- All Them Witches – House of Mirrors
- Balmora – These Graven Halls
- Camellia – Insomnia C(o)urse
- Consecration – Exanimis
- Daupuz – Todeswerk: Uranium II
- Deafkids – Cicatrizes do futuro
- Devin Townsend – The Moth
- Disappear… – Stargazer
- Eleni Mandell – Tailspin
- Eternal Sacrifice – Hierophant
- Galvanist – The Silence Between Stars
- Gluttonous Overindulgence of Relentless Torture – Pandemonium
- Grice – Filter
- Guided by Voices – Crawlspace of the Pantheon
- H//PE Princess – 17.7
- Hecate Enthroned – The Corpse of a Titan, a Lament Long Buried
- Killah Priest – Swift As Light
- Laurence Pike – Possible Utopias for Jazz Quintet
- Leatherwitch – First Spell
- Lenka – Good Days
- Monolord – Neverending
- Mother Bear – Orm 2
- Onsy – Baba Fen
- Paul McCartney – The Boys of Dungeon Lane
- Pharmacist – Vertebrae After Vertebrae
- Saint Agnes – Your God Fearing Days Are About to Begin
- Serpent – As the City Burns
- Serpent Lord – The Once Forgotten Ways of Old
- TDW – Bane of the Talebearer OST
- The Fifth Alliance – Stenahoria
- The Gloria & The Rita – Sottana & Calze
- The Greenberry Woods – It’s All Good, Sugar…
- Tooms – Karst
- Trelldom – …By the Word…
- Verzauber – Dire Garden of the Ages
- Violet Grohl – Be Sweet to Me
- Volus – Elegy of the Necrochosen
- WYRMHEAVEN – Seasons of Gloom

