Wah ga kerasa… tahun 2026 udah tinggal 3 bulan lagi aja, padahal rasanya baru kemarin aku sama beberapa temenku ngobrol tentang album atau artis apa aja yang bakal menggebrak di tahun ini. Dan kalo diliat lagi ke belakang, aku merasa tahun 2026 ini akan bakal terasa ninggalin banyak jejak berkesan buatku.
O iya… tapi sering aku perhatiin kalo menjelang akhir tahun gini, entah mengapa rilisan album baru jumlahnya juga mulai berkurang (atau mungkin cuman perasaan ku aja, sepertinya hehehehe….). Entah apa mungkin di penghujung taun kali ya, mereka antara nyimpen tenaga buat tahun depan, atau ngincer perilisan album pas di hari-hari besar seperti Halloween, atau natal biar kesannya bertambah.
Yang jelas sih, meski kali ini rilisan yang aku dengerin ga sebanyak seperti biasanya, tapi tetep bisa juga ko buat asupan kalian yang emang udah biasa dan hobi cari musik-musik baru. Malahan keuntungan jarangnya artis atau musisi besar yang rilis album di penghujung taun, kita bisa mulai aktif dan nyari lagi nih musik-musik baru, siapa tau kita dapet hidden gem atau ga diduga-duga ketemu artist atau album yang bisa bikin jatuh cinta hehehe… Ok deh langsung aja tanpa lama-lama aku bakal mulai dengan kabar dari kolektif asal Inggris, Ibibio Sound Machine yang rilis album baru berjudul “Chopping Mountain”. Sebenernya mereka udah lama dibentuk sejak tahun 2013, tapi semenjak tahun 2020 kolektif ini mengalami bongkar pasang personil yang masif, jadinya ngerasa kaya terlahir baru kembali aja. O Iya walau aku baru denger beberapa single-nya, aku ngerasa musik mereka unik banget kaya ada campuran musik jadul gitu (psychedelic gitu kali ya? sebutannya), tapi ada unsur nuansa musik elektronik dan beat-beat yang buat joget gitu. O iya selain itu di album ini, ada penampilan dari vokalis Dele Sosimi yang ngisi vokal di lagu “Give Me Peace”. Total album ini bakal diisi sama 10 lagu dengan total durasi mencapai 40 menit.
O iya ngomongin kolektif dari Inggris, Ezra Collective juga unjuk gigi ditahun ini dengan rilis album studio ke-4 nya yang dikasih judul “Here Because of Hope”. Bedanya sama Ibibio Sound Machine , Ezra Collective ini lebih main di ranah jazz atau musik-musik yang lekat banget sama kultur kulit hitam. Bahkan di album barunya ini aja, mereka sengaja bikin musik yang coba menelusuri perjalanan musik kulit hitam dari berbagai benua dan dekade, mulai dari tempat asalnya di Afrika, sampe gimana bisa musik-musik mereka masuk ke London. Mereka ngelakuin perjalanan jauh itu, karena mereka ingin berusaha ngejawab sebuah pertanyaan, “Kok meski kebanyakan masyarakat kulit hitam itu hidup menderita, tapi kenapa musiknya malah kek keliatan seneng, gembira, dan optimis begitu?” Nah mungkin kalian bertanya-tanya hal yang sama juga, dan untuk dapet jawabannya kalian cukup tinggal denger album ini ya…
Sekarang kita beralih ke kabar permusikan elektronik, komposer sekaligus musisi kelahiran Belgia yang kini menetap di Prancis, Maxime Denuc baru aja ngerilis album ke-2 “Club Imperiale”. Dari yang aku baca, album ini punya banyak banget kisah dan latar belakang menarik. Pertama, mulai dari pengambilan nama judul album yang diambil dari nama tempat hiburan malam (sekarang udah tutup) di Tuscany, Italia. Maxime terkesan banget sama tempat hiburan ini, karena letaknya itu menghadap ke pantai di pesisir Tuscany yang indah. Terus berikutnya, inspirasi pembuatan album ini dateng dari kejadian yang ga diduga-duga. Dua tahun lalu, salah satu penggemarnya itu ngirimin video ke Maxime Denuc. Video itu direkam saat sebuah acara pernikahan di sebuah gereja di Menorca, nah tapi si pemain organnya malah mainin salah satu lagu andalan Maxime Denuc di album debutnya, “Nachtron” (2022) yang judul lagunya itu “’Infinite End’. Dia pun kaget dengan peristiwa itu, tapi itu justru malah ngedatengin inspirasi buat dia bikin album baru. Maxime pun ngomong kalo dialbum barunya ini, dia itu lagi ngebayangin nuansa-nuansa acara keagamaan Katolik gitu tapi dicampur sama musik-musik elektronik 90’an yang energik dan bawaannya pengen joget terus sampe semua pegel-pegel hehehe…. Buat yang penasaran dengan konsep nyelenenhya Maxime, kalian cukup dengerin album “Club Imperiale” ini aja, dijamin kalian bakal melongo dibuatnya, hehehe…
Selanjutnya ada proyek witch house, White Ring yang rilis album studio ke-4 nya dengan judul “FATE”. Hmm… kayanya sih kalo diliat dari tema-tema musiknya yang horror (kayaknya kebanyakan witch house gitu ga sih??) kayaknya lebih cocok dirilis pas hari raya Halloween, biar momennya pas. Tapi tak apalah… rilis sekarang pun, nuansa horrornya pun tidak berkurang. Ya memang sih, di kupingku masih belum menyesuaikan, karena biasanya aku denger musik-musik jenis elektronik itu, kebanyakan vibes nya tentang dance, party, atau seneng-seneng gitu, kalo ini jadi agak sedikit merinding dengernya (maaf, lebay nih heeheh…). O iya, tadinya White Ring ini beranggotakan 3 orang, Bryan Kurkimilis, Kendra Malia, sama Adina Viarengo, tapi di tahun 2019 Kendra Malia mutusin buat ga lanjut lagi, dan sepertinya sampai sekarang White Ring cuman beranggotakan 2 orang aja. Album terbaru White Ring kali ini bakal ngasih kalian 10 lagu dengan total durasi 37 menit.
Sekarang kita beralih ke kabar grup jangle pop asal London, The Tubs yang baru selesai ngerayain perilisan album studio ke-3 nya berjudul “Hard Life”. Mereka nyelesain album ini justru ditengah-tengah jadwal tur Amerika mereka yang padet alias super sibuk. Bagi yang udah ngikutin mereka dari album debut, “Dead Meat” dan “Cotton Crown” mereka bilang kalau album ini bakal ngambil pendekatan suara yang serupa dengan ke-2 album itu, tapi bukan berati kemudian jadi sama persis, The Tubs juga terbuka banget buat ngasih perubahan-perubahan dalam albumnya kali ini. Album ini punya tema lirik yang muter-muter di sekitar duka, kekecewaan, penyesalan, dan rasa malu, sampe akhirnya justru itu yang bikin bangkit dari keterpurukan sebagai orang baru yang telah berubah. Hebatnya, The Tubs walau bikin tema-tema yang berat dan bikin overthinking, mereka tetep mengemasnya dengan gaya musik pop bergitar yang enak banget didengerin, dan ada rasa kaya unsur-unsur nostalgianya juga menurutku.
Sekarang kita bakal pergi dan nengok adegan musik di negara Jepang. Pertama dateng dari trio indie rock / post-hardcore TsuShiMaMire yang rilis album baru dengan judul “The Greatest World”. Siapa sangka, band yang isinya 3 personil ciwi-ciwi imut ini udah aktif selama 27 tahun, dan sebagai bentuk selebrasi yang usianya sepanjang itu, mereka rilis album terbaru ini dengan nampilin sebanyak 7 lagu baru dan 4 lagu sisanya diambil dari setlist live mereka waktu manggung di Kanada tahun 2025 lalu. TsuShiMaMire ini sendiri udah ganti personil drummer mereka sebanyak 2 kali, yang terakhir ada Asami Suzuki yang gantiin Maiko Takagi di tahun 2024. Jadi bisa dibilang ini bakal jadi album pertama yang bakal diisi drummer baru mereka. O iya disamping bikin album baru, mereka juga udah nyiapin rencana kalau mereka bakar tur keliling dunia termasuk di benua Eropa, North Amerika, Jepang, dan Australia.
O iya ngomongin, band yang isi personilnya ciwi semua, selain TsuShiMaMire ada juga band Haku. band indie rock / Shimokita-kei asal Osaka yang rilis album studio ke-2 nya dengan judul “世界が変わる時” atau kalau diterjemain ke bahasa Inggris judulnya “When the World Changes “. Katanya sih ini bakal jadi album studio major pertama mereka, tapi aku liat mereka juga pernah bikin album “僕らじゃなきゃダメになって “ yang rilis di tahun 2023. Selain itu mereka juga bakal ngadain sesi live stream Youtube dan Instagram di akun resmi mereka, buat sesi ngobrol tentang album terbarunya ini ditambah dengan mereka tampil di studio bawain lagu-lagu baru mereka di album terbaru ini. O iya, di album ini kalian bakal diisi sama 14 lagu dengan total durasinya itu mencapai 49 menit.
Berikutnya ada penyanyi, penulis lagu, sekaligus komposer Haruomi Hosono yang rilis album baru dengan judul “Yours Sincerely”. Sedikit informasi buat kalian, setelah aku baca-baca dikit biografi tentang doi, ternyata dia jadi salah satu anggota pendiri untuk band Jepang legendaris tahun 70’an seperti Yellow Magic Orchestra dan Happy End. Dia juga udah tergabung dan terlibat kolaborasi dengan banyak band maupun musisi Jepang ternama, dan bahkan udah rilis album solo nya itu dari tahun 1973 (wihh.. Salut dan keren banget bisa konsisten punya karir musik sepanjang itu.). Dan sekarang meski usianya sudah 78 tahun, dia tetep produktif buat bikin karya baru dan kalo ditotal-total, ini jadi album solo ke-23 nya selama bersolo karir lebih dari 50 tahun! Di balik gaya musiknya yang sederhana, dan folk banget, Haruomi Hosono juga ngaku kalau album terbarunya ini, terinspirasi dari banyak musik-musik kekinian yang dia coba pelajari dan pahami, bahkan biar lagunya punya nuansa yang berbeda dia sengaja ngasih beberapa lagu buat dinyanyiin sama vokal perempuan. Tapi yang bikin mendalam di konsep album terbarunya kali ini, dia bilang kalau lagu-lagu dalam album ini menyentuh sisi naluri kita bersama, mencoba membangkitkan perasaan yang serupa dengan “insting yang terpendam dalam kasih sayang dan belas kasih seorang ibu, hal-hal yang jarang kita rasakan dalam keseharian.”
Sebagai penutup, biar kalian tetep semangat setelah baca tulisanku yang super panjang ini, aku bakal ngasih kalian 2 rilisan musik metal yang bikin kalian bertenaga lagi. Yang pertama, dari band stoner / doom metal asal Inggris, Green Lung yang baru aja rilis album studio ke-4 nya yang dikasih judul “Necropolitan”. Entah kenapa aku suka banget sama artwork album ini, walau secara warna itu simpel, tapi perintilan dan detil gambarnya itu rumit tapi bagus banget hasilnya. Itu yang bikin aku akhirnya nyobain beberapa single dari mereka, dan musiknya aku baru denger ada musik metal jenis kaya begini. Pelan, lambat, tapi kaya berat gitu kaya gimana musik metal biasanya. Mereka sendiri udah mulai garap dan rekam album ini sejak Januari lalu, tapi akhirnya baru bisa selesai dan dirilis 9 bulan kemudian. Albumnya sendiri terdiri dari 9 lagu dan total durasinya itu 40 menitan.
Yang terakhir, ada kabar dari grup doom / death metal asal Perancis Epitaphe yang rilis album ke-3 yang juga ditulis pake simbol angka 3 ala huruf Romawi “III”. Kalo kalian cuman liat seklias cover albumnya, kalian pasti bakal terkecoh (itu yang aku rasain, ketika ketemu sama band ini hehehe). Awalnya aku liat dengan tema artwork yang serba tentang pemandangan itu, aku kira ini kaya album-album folk, ambient, atau semacamnya. Tapi pas dicoba, ternyata… buset kontras banget sama apa yang ditampilin sama albumnya yang indah, berwarna, dan tampak tenang. Aku ngerasa musiknya mirip-mirip gitu sama Green Lung, lambat, berat (apa semua doom metal begini kali ya?), tapi bedanya yang ini ada kaya vokal serak-seraknya gitu dan kaya lebih berwarna aja musiknya. Tapi yang jelas ini jadi salah satu temuan unikku di minggu in, apalagi kalo soal tracklistnya. Meski cuman 5 lagu isinya, tapi durasinya itu bisa sampe 54 menit lebih, gila ga tuh, bahkan lagu-lagunya bisa punya durasi di atas 10 menit. Aku yang dari semula cuman nyicipin singlenya jadi tertarik nih buat coba fullnya kaya gimana.
Ok kehebohan temuan Epitatphe aku tadi, bakal jadi akhir perjumpaan kita minggu ini, dan seperti biasa aku juga ngasih list di bawah album-album lainnya yang bisa kalian cari dan dengerin juga, siapa tau ada yang nyantol. Oke sampai jumpa minggu depan, stay safe dan bye semuanya.
Baca Juga : Dari yang Riuh Untuk Bising, Menggugat Ketenangan Dengan Katastropi
Rilisan Lainnya
- 7Fo – Hirotta Ishiga Wareta
- Angela Autumn – Believer
- Archgoat – Nightbringer, Lightbringer
- Avulsed – Nordic Embryogenesis
- Blood Artillery – Anti-Human Militarism
- Bonobo – Distance in Static
- Cales – Unexplored Territories
- Carl Stone – Arthur Fischl Conducts the Music of Carl Stone
- Colin Stetson & Brìghde Chaimbeul – All the Light in the World
- Diabolisher – Astral Presence of Evil
- Dreadnought – Wars of Spirit // Wards of Light
- Fluisteraars – Jacht der mysteriën
- Gammacide – Toxic Mercenaries
- Hate Meditation – Degenerator
- Harlott – Exsequiis
- Helena Gao – Gao Dan Dan
- Horizon Ablaze – Livets høst
- Hrafnablót – Guðlaugar saga
- infinite highway #999 – Into the Galaxy
- John Beltran – Sunrise and the Life We Live
- Killer – The Grand Finale
- laraaji – Openness
- LAUSUB – Society | Lazy
- Lonely Robot – An Ending
- Lost Hierarchy – Beneath the Southern Sky
- Myri Foxtrot – Summer Delusion
- Nate Mercereau – Fantastic Thoughts
- Natanya – Attitude Era!
- Neolith – Inbir
- ODAE – MOIREMOIREMOIRE
- Offernat – The Ecstasy of Death
- Pretty Sick – Anarchy
- Shrineburner – Hymns of Despair
- Sněť – V bažinách vědomí
- Ssorc – If
- Sylvan Esso – Ow ∞
- This is Lorelei – The Singer in My Band
- Til the End – Til the End
- Tygers of Pan Tang – Electrifyed
- Vaginality – Suffocating in Gastric Filth
- Werner Dafeldecker & Eliad Wagner – Fray Field
- Wet Silhouette – The Virgin’s Ballade
- Whispered – Honorbound
- Wrath Division – Cremation Grounds Abyss


