Site icon

Apa Aja Album Terbaru Di Minggu Ini – 25 September 2026

Album-Teraru-Minggu-Ini-25-September-2026

Gara-gara kejadian malem itu, pas aku pertama mulai dengerin musik pas pulang, aku kadang jadi suka ngelamun. Tenang… aku bukan ngelamun karena galau atau hal-hal yang buat aku sedih. Aku justru kadang mikirin kira-kira soundtrack atau lagu apa ya yang tepat buat ngisi momen itu. Misalnya nih… udah lama banget kan kita belum lagi ngerasain ujan, nah aku suka mikirin kira-kira album atau lagu-lagu apa ya yang cocok buat diputer di kondisi musim panas kaya gini. Atau misalnya momen tertentu ngeliat kucing aku, nah aku kadang suka ngide, kira-kira lagu apa ya yang bisa ngewakilin perasaan atau pikiran kucingku saat itu.. 

Emang agak aneh sih.. Tapi ini juga yang bikin aku jadi semangat buat mantengin dan nyari rilisan-rilisan album baru, ya walau ga seniat dengerin semunya satu-satu. Cara yang paling aku sering gunain, aku cukup liat sampul album atau judul albumnya, kira-kira cocok ga lagu-lagu yang aku temui sama momen yang pengen aku isiin soundtrack di dalamnya. Jadinya ini juga salah satu faktor yang bikin aku butuh banget banyak jenis musik buat aku emang masukin ke momen-momen atau perasaan yang berbeda-beda. Karena aku sendiri sebenernya percaya, kalo ada musik atau lagu-lagu tertentu yang emang lebih cocok diputer atau didengerin dalam suasana tertentu, dan vibes nya kaya lebih keluar gitu, walau aku ga bisa jelasinnya. 

Nah kalo kalian kepengen juga nyobain apa yang aku lakuin, aku udah nyiapin banyak banget rekomendasi rilisan-rilisan album baru di minggu ini, yang masing-masing bisa kalian pilih buat nyesuain momen atau emosi yang pengen kalian isi dengan soundtrack. Ok ga usah banyak yapping lagi, aku mulai aja dari kabar album terbaru salah satu penyanyi R&B yang namanya udah well-established, yaitu Tinashe dengan album barunya berjudul “Popstar”. Beda banget sama 2 album sebelumnya, BB/ANG3L (2023) sama Quantum Angel (2024) yang emang intent buat dibikin proyek album yang singkat, “Popstar” kali ini bakal punya format yang lebih panjang dengan total lagu 16 lagu. Sebelum rilis BB/ANG3L, Tinashe bilang kalo dulu dia emang niat buat bikin album dengan konsep trilogi, tapi belum ada kejelasan apakah album “Popstar” ini jadi album ketiga dari seri trilogi yang dijanjiin Tinashe  Tapi di album ini sendiri, Tinashe ngejanjiin konsep yang segar, baru, dan inovatif dari apa yang udah dia lakuin sebelumnya. Dan kalo ngeliat formatnya beda dengan 2 album sebelumnya, bisa jadi ini adalah album Tinashe dengan konsep baru. Tapi hal yang sama dari “Popstar” sama ke-2 album Tinashe sebelumnya, album ini sama sekali ga nampilin musisi tamu atau performer dari artis lain, alias album ini emang fokus sama kemampuan performa Tinashe atau juga dia sebagai penulis atau produser buat beberapa lagunya di album ini. 

Dari Tinashe, kita beralih ke kabar sesama penyanyi R&B, Jae Stephens yang baru aja rilis album debut dengan judul “Audacity”. Beda dengan Tinashe yang udah punya nama, Jae Stephens baru aja memulai karir kesuksesannya sebagai penyanyi big hit berikutnya. Namanya sendiri udah mulai dikenal dari tahun 2024 ketika penyanyi kelahiran Texas yang kini tinggal di Los Angeles ini rilis mini album dengan judul “SELLOUT”. Terus di tahun 2025, Stephens rilis mini album sekuel dengan judul “SELLOUT” dan langsung dibuat versi deluxe gabungan dari ke-2 mini album nya dengan judul “TOTAL SELLOUT”. Jadi bisa dibilang, ini pertama kali Stephens rilis album penuh. Meski debut album, Jae Stephens punya dukungan orang-orang dibalik layar yang udah berpengalaman. Dia dibantu MNEK (penyanyi-penulis lagu yang udah pernah kerjasama bareng Zara Larsson, Beyoncé dan Dua Lipa) buat nulis lagu. Ga sampai di situ, kreatif director album ini, Cass Meyers juga pernah kerjasama bareng beberapa penyanyi papan atas, sebut aja SZA, dan Megan Thee Stallion. Album ini sendiri bakal diisi sama 11 lagu dengan total durasi 33 menit. 

Sekarang kita beralih dikit ke kabar musik elektronik. Produser Michael Fiedler a.k.a Ghost Dubs baru rilis album barunya berjudul “Oblique” dengan keadaan yang sumringah. Gimana nggak sumringah, album debutnya “Damaged” (2024) dapet banyak pujian dan sambutan hanget baik dari penggemar maupun sesama musisi mulai dari Justin Broadrick (Godflesh/Jesu), Regis, Stefan Betke (POLE), Steve Von Till (Neurosis). Makanya, di album ini Ghost Dubs ngerasa antusias dan bersemangat banget buat ngenalin musik-musik barunya. Di album ini, Fiedler  mau ngebuktiin kalo musik ambient tidaklah identik dengan kebosanan dan kepengen matahin asumsi itu. Makanya, di sini dia sengaja bikin musik yang lebih bervariasi, lebih kaya, dan ngegali nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Lewat kedaleman musiknya yang bakal susah didefinisiin, Ghost Dubs pun mutusin buat ngasih 12 lagu baru di album ini yang bakal ngajak kalian ke petualangan musik-musik Ghost Dubs yang lincah bergerak dari berbagai elemen musik elektronik mau itu musik ambient, musik elektronik minimalis, sampe musik elektronik jedag-jedug ala techno pun ada di sini. 

Sekarang kita beralih ke Jepang, penyanyi ambient-pop sekaligus penulis lagu Smany baru rilis album baru dengan judul “Petrichor at Dawn”. Aku coba baca dan gali-gali tentang informasinya dia, tapi aku ga terlalu banyak nemu background, kecuali mengenai Smany yang udah buat musik sejak 2013 lewat mini albumnya yang diberi judul “Komoriuta”. Di album ini sendiri, selain kita disuguhkan dengan tulisan lirik dan nyanyian Smany, kita juga bakalan banyak dikasih selipan permainan piano yang dibawain oleh Hiromi Kurosaki. Selain itu di bagian aransemen sama mixing, album ini juga dibantu sama world’s end girlfriend, yang notabene nya sebagai salah satu proyek indie rock lejen Jepang, dan dia sendiri emang yang punya label rekaman Virgin Babylon Records, label yang juga ngerilis album maupun karya-karya Smany sebelumnya. Album ini sendiri diisi sama 13 lagu dengan total durasi 46 menit. 

Sekarang seperti biasa, kita bakal ngulik musik pergitaran hehehe… Aku mulai dari kabar kuartet post-punk, Protomartyr yang rilis album terbarunya dengan judul “Hotel Usona”. Sudah berdiri selama 18 tahun, band asal Detroit ini bukan cuman produktif aja dari sisi bikin album, tapi bisa dibilang konsisten banget bikin album yang bikin mata kita merem melek. Ga seperti biasanya, post-punk di tangan Joe Casey (vokal), Greg Ahee (gitar), Alex Leonard (drum), Scott Davidson (bass) justru dipake buat ngelawan pergumulan mereka mengenai hal-hal yang menakutkan, menyedihkan, yang bikin jati diri mereka terbentuk. Nah.. katanya di album baru ini, Joe Casey bikin analogi kalo negaranya itu ibarat seperti sebuah hotel. Di masing-masing kamar hotel itu, dihuni oleh tamu bermasalahnya masing-masing, yang Joe ingin jadi cerminan masalah-masalah yang dialami negara asalnya, Amerika. Album ini sendiri terdiri dari 9 lagu dengan total durasi 45 menit. 

Aku belum habis nih ngomongin post-punknya, karena grup post-punk asal Irlandia, Gurriers ternyata rilis album baru berjudul “Nobody’s Coming to Save You”. Dari yang aku baca-baca info tentang mereka, Gurriers sendiri baru mulai dikenal sekitar tahun 2024, tepatnya ketika mereka rilis album debut dengan judul “Come and See”. Pendekatan musik post-punk mereka unik dan beda banget dengan para pendahulu dan sesepuh genre ini. Mereka coba maduin pendekatan musik post-punk dengan musik-musik rock yang eksperimental dan noise. Jadi emang berat dan lebih berisik sih, tapi justru disitu letak plus poin keunikan mereka. Selain bikin album baru, mereka juga ada rencana buat tur keliling Irlandia dan Inggris dalam rangka promosi album barunya ini. 

Wah keknya minggu ini, minggunya post-punk deh, jarang-jarang soalnya aku dapetin 3 rilisan baru sekaligus yang dirilis sama grup post-punk yang udah punya basis penggemar yang solid. Rilisan post-punk ke-3 yang mau aku bagiin kali ini datang dari grup post-punk / experimental rock asal Irlandia juga yakni Gilla Band (bukan Gila ya, hehe…) berjudul “Pugnello”. Nah kalo Gurriers baru muncul di dekade 20’an, lain halnya sama Gilla band yang emang udah eksis sejak tahun 2011. Tapi yang bikin mereka unik, meski udah punya cukup banyak pengalaman, tapi sebenernya mereka ngaku kalo mereka ga mau nentuin apa yang bakal kejadian kedepannya. Whiches, itu yang justru bikin eksperimentasi musik mereka hidup dan berkembang. Kadang mereka masukin elemen post-rock, experimental rock, pokonya macem-macem deh. Album ini sendiri diisi sama 10 lagu dengan total durasi mencapai 42 menit. 

Sekarang kita ke musik yang lebih cadas lagi nih, band hardcore asal New York, Pain of Truth baru aja rilis album ke-2 mereka dengan judul “self-titled”. Meski musik-musik mereka itu terinspirasi banget sama musik hardcore 90’an, tapi di album baru ini, mereka bikin musik yang lebih fresh, karena kualitas rekaman musiknya yang lebih jernih. Apalagi, sebelumnya mereka emang udah punya jejak rekam bagus, ketika rilis album debut Not Through Blood (2023), yang ngebangkitin nostalgia akan musik-musik hardcore di New York. O iya, di album ini mereka udah nyiapin sebanyak 11 lagu baru yang siap-siap bikin muka kalian bengkak dan benjol-benjol, sama kepala pusing akibat ngangguk-ngangguk mulu, tapi yang penting justru itu letak kenikmatan menikmati musik mereka.

Berhubung di atas kita udah singgung Godflesh, kebetulan nih mereka juga rilis album baru minggu ini. Jujur baru pertama kali aku dengerin jenis musik metal yang dibawain Godflesh. Itupun perkenalan awalku dengan Godflesh bermula dari aku yang iseng dengerin lagu “Living/Ending”, yang ternyata diambil dari single album terbaru Godflesh berjudul “Decay”. Justin Broderick selaku frontman dan pendiri band Godflesh ngaku kalau proses rekaman dan pembuatan album “Decay” ini barengan sama album “Purge” yang udah dirilis sejak 2023 lalu. Tapi berhubung, Broderick sempet nyari label musik luar yang buat dijadiin rumah buat rilisannya, niat Godflesh buat ngerilis album jadi sedikit tertunda, dan akhirnya tibalah hari ini, album studio ke-10, band industrial metal asal Birmingham itu rilis. Album “Decay” ini sendiri bakal diisi sama 6 lagu dengan total durasi 41 menit. 

Sebagai penutup, mungkin sabi kali ya kalo aku kasih yang seger-seger. Maksudku yang seger di sini adalah rilisan terbaru dari musisi country folk, Ian Noe yang rilis album dengan judul “Canyol Falls Trailer Band”. Album ini itu nyeritain konsep tentang band fiktif bernama Canyon Falls Trailer Band yang tampil cuman satu malam buat mereka ngebuktiin diri biar dapet pengakuan dari industri musik. Band ini ngelakuin segala cara, sampe bikin musik dari berbagai elemen cuman buat narik perhatian dan minat label. Kalian mungkin perlu dengerin semua karya-karyanya, buat dapetin gimana ending dan epilog, agar band ini justru bisa dapet status legenda cuman dari satu malam aja. 

Album ini direkam sama Andrija Tokić di studio The Bomb Shelter, Nashville, orang yang udah lama banget dipercayai band ini buat ngelakuin kerja serupa. Album ini pun ngasih musisi tamu ruang buat kontribusi mulai dari Charlie McCoy yang main harmonika, Billy Contreras yang main biola, dan Russ Pahl yang mainin pedal steel. Simak “The Heidelberg Fisherman’s Ball” di bawah ini. Total album ini berisi 16 lagu dengan durasi yang nyaris hampir 1 jam alias 57 menit sekian detik. Ok guys, untuk minggu ini segini dulu, kalau kalian masih ngerasa kurang, tenang aku udah bikinin list album terbaru lainnya di bawah kok, yang ga aku lipat, jadi tetep happy digging ya, sampai jumpa minggu depan… 

Baca Juga : Dari yang Riuh Untuk Bising, Menggugat Ketenangan Dengan Katastropi

Rilisan Lainnya

Exit mobile version