Ketika setiap kali teman main ke rumah, speaker seperti diatur default buat muter musik-musik mainstream. Mau itu musik Travis Scott, Playboy Cartii, Lorde, The Weeknd, Sabrina Carpenter, Billie Eilish, atau pop-pop melayu dan dangdut 2000’an sebagai ruang nostalgia, tersedia. Tetapi 30-45 menit berselang, playlist sengaja disusupi lagu-lagu dari genre beragam.
Mulai dari musik folk Turki, dissonant black metal Islandia, adegan free jazz jepang, sampe album noise / elektronik random yang cuman nangkring di Bandcamp. Semuanya menari-nari dan bersahut-sahutan di speaker.
Playlist biadab ini baru berhenti, ketika terdengar celetukan “musik apa sih ini? Dengerin musik yang biasa-biasa aja bisa ga sih?” Buat yang pertama kali denger celetukan itu mungkin kesel dan langsung sensi. Tapi buat orang yang udah dengerin respon ini puluhan kali, malah bisa jadi bahan buat bikin secuil analisis, tentang apresiasi musik.
Apakah ini cuman perkara selera? Jawaban dangkalnya sih, ya bisa jadi, tapi dugaan bisa juga mengarah pada masalah struktural dan relasi hirarkis antara penikmat dan pemegang kepentingan musik. Jadi seolah-olah “selera”, jadi kambing hitam.
Ruang disonansi masyarakat kelas mayoritas saat ini lagi banyak terserap dalam keseharian mereka. Diomelin bos lah, overwork, tuntutan keluarga, situasi makroekonomi yang serba ga pasti, belum lagi musibah-musibah dadakan kaya kecelakaan, kena PHK, putus dari pasangan, dan banyak lagi.
Imbasnya, kecil atau bahkan ga ada lagi ruang apresiatif buat dengerin musik yang ribet-ribet, dari awal sampai akhir bisingnya ga karu-karuan, dan abstrak. Istilah kata, orang-orang udah ngalamin “kekisruhan” itu di dunia nyata, membuat konsumsi musik itu sebagai upaya katarsis bukan hal eksploratif.
Sinyal-sinyal pasar dan demand ini, yang sekiranya ditangkep sama produsen musik. Entah mereka bikin musik yang secara lirik relate dengan keseharian, atau emang secara instrumentasi musik yang diterima oleh pasar, dengan “keadaan” emosional dan kehidupan mereka yang udah “compang-camping”.
Walhasil kebanyakan orang sebenarnya secara tersirat tidak dalam kondisi 100% dalam penerimaan apresiasi musik. Beruntung bagi yang masih suka dan ngulik banyak ragam musik, mengartikan bahwa seenggaknya memang punya semangat untuk “mempertebal” nilai apresiasi musik. Dan 5 rekomendasi album di bawah ini bisa menambah asupan pengalaman apresiasi musik.
Esoctrilihum – Ghostigmatah – Spiritual Rites of the Psychopomp Abxulöm
Jujur aja, nemuin album yang durasinya panjang tapi konsisten ngasih twist dan kenikmatan sampai akhir, masih jadi tantangan. Apalagi ngeliat tren konsumsi musik yang sudah bergeser. Dari yang tadinya full denger album beralih ke playlist.
Imbasnya bikin pertimbangan keputusan musisi buat ga mikir jangka panjang ngeliat album sebagai medium kesatuan konseptual. Atau, paradoksnya malah mendorong musisi bikin lagu seabrek dalam 1 album, cuman buat menuhin angka stream dan mengabaikan nilai kohesitivitasnya.
Beruntung Esoctrilihum, masih jadi “anomali” yang baik. One-man black metal asal Prancis ini udah langganan bikin album yang durasinya lebih dari 1 jam. Malahan, Esoctrilihum sering rilis 2 album sekaligus dalam rentang waktu 1 tahun!
“Ghostigmatah – Spiritual Rites of the Psychopomp Abxulöm” barangkali bisa masuk ke dalam salah satu katalog album terbaik yang pernah Esoctrilihum buat, kenapa?
Album ini bisa dibilang kumpulan kilas balik dari saduran elemen musik yang bikin Esoctrilihum terdengar otentik, dan one of a kind dari ribuan band black metal yang ada. Band ini udah pernah bikin materi black metal yang paling esoteris dan abstrak serapan dari gaya avant-black seperti di album “The Telluric Ashes of the Ö Vrth Immemorial Gods“.
Bikin symphonic black metal yang depresif seperti di album “Saopth’s” atau simfonik yang lebih megah kaya di “Dy’th Requiem For The Serpent Telepath”, dan proyek black metal berbau tema horor kosmik lovecraftian seperti di album “Astraal Constellations of the Majickal Zodiac”.
Nah, di album ini semua elemen-elemen itu seolah berpadu jadi satu, ditambah perpanjangan elemen-elemen magis psychedelic atau bahkan string-string gaya musik new age (coba denger “Supplication Of The Veiled Saint From The Secret Book Of The Ghostigmatah Rites”). Selain emang pake format insturmen konvensional, Othaliël masukin instrumen synth, organ katedral, harpa, dan kantele (sejenis alat musik senar).
Esoctrilihum suka banget ngasih ketukan blast-beat rapet yang suaranya udah kaya senapan mesin. Bagusnya, biar ga berasa monoton, porsi melodi dan atmosferik dari synth maupun gitar ngisi sendi-sendinya. Jadinya jauh banget dari kesan one-dimensional alias suara yang gitu-gitu aja.
Eksperimentasinya totalitas di segala lini, mulai dari struktur lagu yang berubah-ubah, ke dalaman variasi instrumen, sampai range vokal luas mulai dari ala black metal konvensional, sampe lantunan atmosferik dan choir-choir ada semua.
Lagu Rekomendasi : Hark! The Bewitched Trumpet Of The Red Harbinger I, Kneeling Before The Keeper Of The Golden Key To The Absolute Void, Hypnotic Danse Macabre Of The Blind Noctivagants, Orgiastic Sacrificial Mass To Conjur Abxulöm, Psychopomp Supreme, Saturnal Towers Of The Mighty Scarlet Moon Upon The Black Universe, The Cosmic Deathbringer Comes, Riding A Bloody Horse Of Goshenite, Supplication Of The Veiled Saint From The Secret Book Of The Ghostigmatah Rites
Né Ladeiras – Traz os Montes
Siapa bilang kalau musisi itu harus ego-sentris (NPD juga kadang) cuman nyeritain dan ekspresiin dirinya? Salah satu bintang penyanyi folk 90’an asal Portugal, Né Ladeiras ngebawa disiplin ilmu antropolog sekaligus etnomusikolog ke dalam karyanya.
Selain album, “Traz os Montes” ini memang menjadi album terbaiknya, Né Ladeiras banting tulang dan meres keringet selama ampir 2 tahun buat garap album ini. Dari kabar yang beredar, Né Ladeiras rela ngebongkar arsip-arsip dari etnomusikolog ternama seperti Michel Giacometti dan antropolog Jorge & Margot Dias demi menemukan budaya-budaya musik yang sudah terlupakan begitu saja di era sekarang.
Pencarian dan riset mendalam membuat penyanyi kelahiran Porto, 1959 ini buat nulis album menggunakan elemen bahasa dan linguistik dari Bahasa Mirandes. Sederhananya Mirandes adalah salah satu bahasa daerah Portugal tetapi cuman banyak digunain di kawasan sekitaran Mirando do Douro (bagian Trás-os-Montes).
Makanya, ga heran album ini juga disebut dalam payung genre folk Trás-os-Montes. Né Ladeiras sedari dulu memang punya tingkat obsesif tinggi dengan musik folk. Bahkan dia sering bawain lagu-lagu folk, ketika dia masih bergabung dalam kolektif Brigada Victor Jara akhir 70’an.
Walhasil album ini mengambil melodi, struktur musik, dan bahkan gaya syair yang gak lazim (diperkirakan berasal dari abad ke-16). Selain berhasil nemuin ornamen bahasa musikal yang terobskurasi, Né Ladeiras ngehubungin elemen musik-musik pop kekinian di jamannya. Dia bikin lagu-lagu ballad kaya “Anda Duermente Niño”, “Roro”, atau bahkan kalau didengerin sekilas, lagu “Indo Por La Sierra” punya petikan gitar gaya americana.
Sebagai bentuk dedikasi karena berhasil membangiktkan minat dan antusias masyarakat pada musik folk yang nyaris punah. Stasiun televisi nasional Portugal, RTP sempat membuat program musikal yang terinspirasi penuh dari album ini.
Lagu Rekomendasi : Çarandilheira, Pingacho, Beijai o Menino, O Que Estriga Tenho na Roca, Linda Pastorica, Cirigoça, Indo Por La Sierra, La Molinera, Perlimpimchim
Qebrus – ◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙
Dalam teknik komposisi musik ada namanya komposisi berdasarkan arsitektural. Bahasa sederhananya, kalau biasa bikin musik itu awalnya dari instrumen tertentu (katakan gitar), kemudian ketambahan instrumen lainnya (bass, drum, dan lainnya).
Nah, kalo arsitektural ini merancang komposisi musik langsung menjadi satu kesatuan utuh. Teknik komposisi arsitektural ini, udah pasti susah kalo cuman ngandelin kemampuan konvensional, maka sang komposer manfaatin algoritma buat bikinnya (bukan generative AI).
Nantinya si algoritma tersebut bekerja untuk menempatkan dan menyebarkan banyak gelombang menggunakan persamaan probabilitas. Kemudian, dari persebaran gelombang itu nanti ditemukan banyak pola, dan itu yang akan tertangkap sebagai musik.
Teknik ini udah cukup lama dipake, salah satu yang paling tersohor adalah stochastic music ciptaan komposer avant-garde, Iannis Xenakis. Qebrus mengimplementasikan teknik aristektural ke dalam album “◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙” ini.
Dia sendiri bikin komposisi musiknya dari 0, alias bukan sampling atau niru melodi maupun struktur yang sudah paten dan sering digunakan. Meski sama-sama dalam genre IDM, tapi beda musiknya bagai bumi dan langit kalau dibanding veteran genre ini (Aphex Twin, Autechre, Squarepusher).
Secara struktur ritme musiknya terasa atonal (malah lebih kaya musik deconstructed club), suara ambient kadang diselingi noise atau urutan nada yang ga familiar di telinga. Jangan kaget juga, kalo transisi atau perubahan nuansa musiknya seringkali ngasih jumpscare alias dadakan.
Kadang dari keheningan bercorak futuristik synth bisa tiba-tiba punya tekstur dan ketukan breakdown ekstra berat. Dari tempo kalem dan moody, bisa berubah tempo kejar-kejaran ala drum n bass, atau suara laser dan glitch yang nusuk langsung ke dalam telinga. Intinya, silahkan cobain sensasi ke-”random-an” arsitektural post-modernisme album ini.
Lagu Rekomendasi : ◙◙, ◙◙◙, ◙◙◙◙◙, ◙◙◙◙◙◙◙, ◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙, ◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙◙
Lim Sung Eun – 미련
Taun 90’an jadi titik balik bangkitnya industri K-Pop. Para record label raksasa asal Korea Selatan, SM, DSP, dan YG serempak terbentuk pada dekade ini. Hingga akhirnya lahir istilah big three yang dikenal oleh fans K-Pop generasi sekarang. Fenomena-fenomena girl group maupun boys group Korea Selatan mulai dikenal pada era ini.
Kalo di era 80’an industri musik domestik Korsel berseliweran nama-nama penyanyi solois sohor seperti Jang Pill-Soon, Lee Moon-Se, Kim Wan-Sun. Era 90’an muncul nama-nama grup seperti Seo Taiji & Boys, S.E.S, H.O.T, Baby V.O.X, dan kawan-kawan. Kalau diperhatiin lagi dengan seksama, pengaruh westernisasi dalam musik K-Pop semakin gencar di era ini.
Itu karena ulah, Seo Taiji & Boys, yang bawa dan ngenalin musik new jack swing, dan Hip-Hop ke dalam musiknya plus ditambah koreo breakdance ala anak-anak hip-hop Amerika. Darisitulah, gelombang musik K-pop kebarat-baratan berasal.
Penyanyi usia 20’an kelahiran Jeju, Lim Sung Eun pun terkena cipratan dampak dari pengaruh budaya Barat ini. Eun, awalnya tergabung dalam anggota grup K-Pop naik daun Young Turks Club, sebagai vokalis utama.
Tetapi akhirnya dia mutusin buat fokus solo karir. Sempat bikin album dengan corak ballad musik K-Pop 80’an, pada tahun 1992 dengan judul “이렇게 슬픈 마음으로 “. Tapi album tersebut kurang dapat sambutan hangat.
Baru, ketika Eun merilis album “미련” tahun 1997, namanya melejit. Eun bahkan bisa tampil di acara musik domestik bergengsi, MBC Top Music, dan lagu-lagunya diputar secara rutin.
Balik lagi masalah kebarat-baratan, “미련” ini seperti kaleidoskop mengenai apa aja musik yang lagi nge-tren saat itu. Misalnya lagu “자존심”, “지금은 달라”, dan “Feel” yang nuansa dan instrumentasi ala europop banget, dan memang momennya pas ketika genre itu lagi nge-tren kembali di Jepang.
“미끼” bakal ngerasa deja-vu ngiterin daerah west-coast lengkap dengan elemen g-funk hip-hop dan new jack swing, tapi ini di Seoul. “미련” bawa nuansa tropis elektronik dari musik-musik latin. “Cyber Girl” yang sesuai namanya, vibes futuris banget.
Tapi, kalau misal penasaran dengan gimana suara K-Pop era 80’an, Eun nyisipin beberapa track ballad di sini kaya “이별” atau “체념”.
Rekomendasi Lagu : 구미호, 이별, Feel, 체념, 아쉬움
Patrick Shiroishi – Descension
Ketika telinga udah mantep mutusin dengerin rekaman-rekaman album avant-garde atau free jazz. Harusnya ekspektasi buat dengerin lagu yang punya melodi syahdu emosional atau irama-irama yang bisa dibawa santai udah bukan prioritas lagi.
Antara emang kepengen liat skill-skill virtuoso masing-masing personel, atau emang cari bagian improvisasi-improvisasi ajaib yang ga akan ditemuin di sembarang tempat. Tapi untuk album satu ini, kayanya kalu mau denger rekaman avant-jazz agar bisa ngaduk-ngaduk emosional, bisa jadi pertimbangan.
Patrick Shiroishi sebagai satu-satunya konseptor, bisa nahan diri di 2 lagu awal (atau tepatnya sekitar 11 menit) buat ga mencet banyak not atau bikin kombinasi passing note, chromatic aneh bin liar dari tenor saxophone-nya.
Shiroshi emang ngekombinasiin juga dengan elemen musik noise, tapi lagu pembuka “Once There Was Only Dark” bisa jadi bukti kalo musik noise juga bisa menggesek nada-nada emosional pilu. Tenor saxophone yang sustain nadanya sengaja diteken dan dibengkok-bengkokin teksturnya, malah lebih mirip gesekan biola.
“Grandchildren of the Camps” malah nambah rekaman lebih dramatis, ketika Shiroishi ngelakuin overdub atau bikin lapisan baru suara saksofonnya yang diredam pake reverb sebagai latar.
Nah, baru kalau mau liat wujud asli kekusutan dan kesemrawutan dari jenis musik ini, “Tomorrow is Almost Over” selama 10 menit, ngasih banyak kombinasi not-not lincah nan akrobatik tenor saksofon, latar belakang suara nge-drone, dan manipulasi feedback yang lebih beringas dan menusuk-nusuk.
Dari yang awalnya sibuk improvisasi ala Ornette Coleman, Kaoru Abe, tiba-tiba Shiroshi ngerobek setelan jas rapihnya, dan jadi musisi noise yang urakan dan berteriak mengenai hidup yang kelam. Lagu penutup, “Above the Black Heavens is Endless” malah ngingetin sama iklim musik yang terkesan heritage dan folk-ish.
Gara-gara dikasih lantunan vokal-vokal mistis, dan setup musik yang lebih berasa ambient daripada lapisan teksturnya seperti di 2 lagu sebelumnya. Overall alur album ini kaya ngikutin siklus kurva bell.
Lagu pertama dan kedua itu, ibarat tahap pra crescendo, bukit yang sebelum sampe puncak. Di lagu ke-3 itu klimaks atau titik puncaknya, sedangkan lagu terakhir, ketika tensi udah melambai, jadi gambaran lembah di anatomi kurva bell itu.
Lagu Rekomendasi : Once There Was Only Dark, Tomorrow is Almost Over, Above the Black Heavens is Endless
Baca Juga : Utopia – Dystopia – Kemajuan – Keterasingan





