Gara-Gara-Short, Denger-Musik-Jadi-“Ga Karuan”

Sore-sore, pas lagi nungguin temen siap-siap di kamar kosan lantai 2, pintu kamar tetangga di sebelah, ngablak kebuka. Dari dalam ruangan, samar-samar kedengeran suara vokal autotune cewe pitch tinggi, musik tempo cepet, dan instrumen yang serba elektronik. 

Selang berapa detik, otak langsung ngasih respon buat ngingetin dalam pikiran, “oh ini genre hyperpop”. Ga sampe 10 detik, musiknya berubah, kali ini mirip slowcore / dream pop, berubah lagi jadi hip-hop, dan begitu seterusnya. Asumsi langsung mengarah pada kesimpulan, kalo orang yang berada dalam kamar itu lagi swipe-swipe short video

Terus kejadian di hari berbeda, lagi ngantri beli nasi goreng, ada ibu-ibu yang lagi duduk nunggu pesenannya. Kejadiannya sama persis sama yang di atas, cuman beda lagunya. Kali ini lagu yang keluar dari ponselnya, lagu-lagu soundcloud hip-hop (lupa artistnya), R&B kontemporer, sama lagu Linkin Park, “Final Masquerade”. Ya, bener ga salah denger, itu lagunya Linkin Park! 

Jaman, dimana sekarang orang-orang pada konsumsi short video, musik-musik yang mereka denger bisa “ga karuan”. Maksudnya, baik secara sadar atau enggak telinga sudah mulai terbiasa dengan banyak jenis genre yang masuk. Kalo dulu orang mungkin denger musik, pada genre tertentu aja sesuai dengan apa yang tren atau media yang dikonsumsi. 

Audience VIBES mungkin lebih banyak denger hip-hop, orang yang suka baca majalah Rolling Stone atau remaja 90’an lebih condong ke musik rock dan musik kultur alternatif. Atau kalau versi lokalnya, yang dulu baca majalah Intisari lebih condong denger dangdut, dan sebagainya.

Tapi sekarang, secara sadar dan ga sadar waktu orang itu bisa diambil untuk dengerin ragam genre. Mau itu dangdut, musik elektronik, rock, semua bisa berpotensi selama nyantol di algoritma.

Fenomena seperti ini sebenarnya bagus untuk permulaan pergerakan baru bagi penikmat musik. Orang jadi terbuka dan lebih mudah untuk eksplor musik-musik baru. Ga jarang juga, ketika ga sengaja denger lagu A dari genre B yang sama sekali ga kenal sebelumnya, terus penasaran cari lagunya. Akhirnya malah bisa jadi suka artist atau genre tersebut, yang sebelumnya nggak pernah dengerin bahkan dilirik sama sekali. 

Penerimaan pasar yang berkembang dan beragam seperti ini kalo lebih ditingkatin, harusnya bisa jadi pemicu agar musisi bikin karya yang fresh dan ga itu-itu aja. Musisi ga usah khawatir dan pusing lagi mikirin market, kalo mau eksplor, market dengan kondisi seperti itu jauh lebih terbuka. 

Nah, untuk merealisasikan ekosistem musik yang baru seperti itu, artikel ini akan sedikit berkontribusi ngasih rekomendasi 5 album dari musisi yang punya background genre berbeda-beda. Harapannya biar orang terus semakin melek dan aware dengan musik-musik baru dan berbeda. Meski bukan dari musik-musik kesayangan algoritma sekalipun.

Dabda – Yonder

Denger-Musik-Dabda-Yonder

Skena K-indie akhir-akhir ini lagi banyak digempur sama shoegaze dan dream-pop. Jadi ngomongin math rock di sana kaya kurang aja gaungnya. Memang sih, math-rock itu lebih dominan di Jepang, tapi Dabda ngebutkiin bahwa Korea juga punya jebolan band math rock menjanjikan. Kuartet asal Seoul ini sudah rilis album debut era Covid.

“Yonder” ini adalah ep perpanjangan karya mereka yang nyeritain pengalaman trip mereka ke Thailand. Asli, meski mereka berpenampilan kalem ala mahasiswa, bukan berpose rocker glam 80’an. Tapi barangkali malah cara main mereka terasa lebih ulet dan jelimet, dibanding band-band rock idola para sepuh itu. 

Tau sendiri kan, kalo math rock itu lebih ngejar eksplorasi pada tekstur, pola ritme yang ga lazim secara penempatan atau teknik, dibanding kecepatan dan atraksi panggung teatrikal. Dabda, sendiri ngejar tekstur kelembutan sekaligus variasi bunyi.

Ga, keitung sudah berapa banyak ritmis drum atau gitar berfluktuasi. Ternyata selain gitar improve secara fret, juga berlaku untuk tone dan teknik permainan gitar. Hebatnya, tetap berada di jalur kohesif ngasilin melodi catchy dan tekstur yang lembut. Berasa ada nuansa sentimentil ala post-rock, dan lapisan rekamannya steril dan jernih. 

Rekomendasi track: Playing With Fire, Flower Tail, Origin, One, World, Wound

Yara Asmar – Synth Waltzes & Accordion Laments 

Denger-Musik-Yara-Asmar-Synth-Waltzes-Accordion-Laments

Seringakli danger musik yang dimainkan menggunakan accordion itu di film kartun atau film bertemakan era-era abad pertengahan. Penggambaran musiknya sering lekat dengan musik buat nari, penambah semangat, dan kadang dihubungin sama hal-hal kocak.

Tapi dalam genggaman seniman ambient kelahiran Beirut, Lebanon, Yara Asmar. instrumen Accordion jadi punya pengalaman baru mengenai suara spiritualitas dan mistik. Asmar menggunakan accordion Hohner Marchesa, milik Neneknya untuk membuat album ini sekaligus ngasih lapisan ambient halus dan lo-fi

Gaya metafora abstraknya buat ngejabarin vibes album ini, bayangin lagi nonton video pemandangan atau padang rumput. Gambar yang diambil pake teknik wide, gerak agak lambat, terus angle kamera agak di atas (tapi bukan eagle eye) dan pewarnaan gambar yang agak redup dan dominan biru tua. Suasananya teduh, tapi berasa lagi terisolir atau eskapis.

Lantaran pendekatan suara se-minimalis itu dikasih ruang auditori yang lebar dan luas. Apalagi ga ada bass sebagai pijakan tanahnya, jadi bikin secara tekstur juga melayang-layang. 

Rekomendasi track : to die in the country, everything is wrapped in cling film, are these your hands? would you like them back? (with majd chidiac), it is 5:00pm and nothing bad has happened to us (yet), i liked it better when we lived on see-saw hill, Jumana

Mossback – Black Canyon City

Denger-Musik-Mossback-Black-Canyon-City

Metal emang jadi salah satu genre musik yang open banget nerima musik-musik aneh dan ga lazim. Tapi, untuk kasus Mossback, batasan itu pun bahkan dilewati, seolah jadi kembali mempertanyakan “memang metal boleh se-aneh ini?”.

Dan jawaban yang dikasih oleh grup asal Portland ini adalah, Iya tentu aja boleh! Coba deh jujur, apa pernah seumur hidup pernah dengerin lagu yang punya gabungan genre dari : “soundcloud trap, country, gothic, southern rock, sludge, blues, grunge dan stoner rock” bersatu padu?

Secara jumlahnya aja udah kebanyakan, dan lagi trap fusion sama country? Rasanya kombinasi langka dan mismatch, sampe metal-archives ogah masukin nama mereka di database. Tapi Mossback ngasih pengalaman abstrak dan sekali seumur hidup itu sepanjang 65 menit penuh. 

Dan outputnya ga se absurd dan aneh seperti yang dibayangkan, serius! Formula dasar yang membentuk kerangka musiknya itu ialah blues, southern rock, grunge, stoner dan sludge.

Kalo mau kilas balik sejarah masing-masing genre, masih ada benang merah dan keterkaitannya. Corak vokal depresif, tarikan dalem dari jakun, dan melodius ala grunge begitu ketara. Kadang nuansanya bisa menjadi doomer, gersang, dan heavy ala-ala gorong-gorong new orlean dan stoner rock (coba denger “Black Canyon Spirit Dance”, “Cain”). 

Kadang-kadang bisa terdengar lebih sentimentil dengan tambahan petikan gitar akustik country yang muram bercorak gothic, atau lead-lead bluesy (coba dengerin “Black Orchard”, “Pilgrim”, “Flight of the Doorman”).

Sementara porsi dari elemen ketukan dan rapping soundcloud trap, kadang muncul dalam lagu-lagu tertentu, atau nge-blend dalam ngasih ketukan yang lebih nonjok (coba denger lagu “Horsethief”, “Abel”, “New Angola”).

Rekomendasi track : War Baby, Cain, Horsethief, Lark in the wrong, Bone Orchard, Pilgrim, Black Canyon Spirit Dance, Flight of the Doorman, Bleeding Aura, Granite Mountain Hotshots

Kathryn Mohr – Waiting Room

Kathryn-Mohr -Waiting-Room

Bagi Kathryn Mohr kalau mau bikin musik spooky alias mencekam, misterius, dan bikin batin gelisah ada 2 cara. Pertama bikin musik yang justru punya banyak ruang hening. Kedua, bikin musik yang senyap, dimana ga banyak instrumen yang dibunyiin sekaligus dan pake volume suara yang rendah.

Bikin musik yang punya kesempatan hening itu, ibarat duduk di ruang tunggu yang kosong melompong. Bawaanya bikin rasa cemas ga karuan, deg-degan, dan overthinking.

Terus bikin musik senyap, ibarat masuk ke ruangan gelap misterius dan ga tau apa yang bakalan terjadi disekeliling. Itu gambaran metaforanya, kalo mau ditelisik secara tekstur dan kondimen musiknya, Kathryn Mohr punya beberapa pendekatan, meski tetep berpegang pada prinsip awal. 

Mohr bikin sepasang helai instrumen elektronik yang bergerak abstrak alias ga berbentuk dengan dengungan nada frekuensi rendah menggelegar seperti di lagu “Rated”, “Driven”, “Cornered”.

Bikin suara akustik gitar yang chord progression sedikit tapi teksturnya mentah seperti di lagu “Pertified”, “Take It”. Mohr turut menyumbang tarikan suara beragam, mulai dari komat-kamit bisikan yang kurang jelas ngomong apa, menghela tarikan vokal agar terkesan punya tekstur melayang-layang, sampai sengaja bikin suara datar menambah kesan murung album ini.

Ada kalanya, Mohr ngasih distorsi berminyak seperti di lagu “Elevator” yang aksennya garage rock, tapi teksturnya berasa noise rock

Rekomendasi track : Diver, Driven, Petrified, Elevator, Horizonless, Wheel, Waiting Room

Yuji Takahashi – Evryali; Herma / Quatre études de rythme

Yuji-Takahashi-Eryali-Herma-Quatre-Etudes-De-Rythme

Aki Takahashi & Yuji Takahashi adalah 2 pianis kakak-beradik kelahiran Jepang. Dua-duanya tergila-gila dengan musik-musik komposer akhir abad 19’an dan abad 20’an. Ga, keitung udah berapa komposer dari era itu, yang karyanya mereka bawakan ulang mulai dari John Cage, Iannis Xenakis, Erik Satie, Steve Lacy, Peter Garland, Anton Webern, Arnold Schoenberg, dan segudang nama-nama komponis lainnya. 

Tapi Yuji Takahashi lebih ngambil pendekatan teknis dan rumit dalam hal pemilihan komposisi yang dimainkan ulang, atau yang dia ciptain sendiri. “Evryali; Herma / Quatre études de rythme” sendiri berisi karya-karya monumental gerakan avant-garde abad 20’an hasil sumbangsih 2 komponis ternama: Iannis Xenakis dan Olivier Messiaen.

Tentunya bukan tanpa alasan Yuji Takahashi, mutusin buat mainin karya ulang Xenakis-Messiaen, dan dijadikan satu kesatuan konsep album. Pertama, kalo diliat sejarahnya, Xenakis-Messiaen punya hubungan sebagai kolega. 


Kedua, Yuji Takahashi dengan cermat memilih karya yang mau dibawain ulang, berdasarkan kesatuan konsep yang sama, yaitu mengenai eksplorasi ritmis. Dari kubu Xenakis, Yuji Takashi mutusin buat ngebawain dua karya, “Evryali” dan “Herma”.

Sedangkan karya yang dibawakan ulang dari Messiaen di album ini, Takahashi milih “Quatre Études de rythme” (Four Rhythm Studies) yang terdiri dari 4 gerakan terpisah. So kalo mau dilihat garis besarnya, Yuji Takahashi mau ngasih unjuk musik-musik yang punya eksplorasi elemen ritmis out of the box.

Rekomendasi track : Eryali, Herma, Quatre, Etudes, De Rhythme 

Baca Juga : Bisa Ga Sih, Dengerin Musik Yang Normal-Normal Aja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *