Pergerakan avant-garde modernisme terutama kebangkitan generasi komponis Wina ke-II, telah membukakan jalan pendekatan seni yang semakin mendekatkan diri terhadap cita-cita luhur keontologisannya yaitu pengejewantahan relasi intersubjektivitas emosional dan ide yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah medium dalam proposisi murni. Artinya, penciptaan seni tertuju pada kehendak bebas secara absolut yang diadakan dari subjek, tidak lagi diintervensi oleh kekuatan eksogen semacam persekongkolan kekuasaan aristokrasi (seperti yang terjadi pada abad kegelapan menuju resinans), rigitas epistemik, dan kekangan estetis yang diselundupkan pada kepentingan pemuasan hasrat kolektif yang seolah “digantungkan” menjadi sebuah cakrawala kebenaran yang tidak mampu diadvokasi lebih jauh.
Dari sanalah kemudian, memunculkan sifat-sifat “kebebasan” seni dalam definisi harafiah, yang tidak hanya mengandalkan secara positivistik buta terhadap teori-teori semantik yang sudah dibakukan dalam standar intelektual aturan tertulis, tetapi menyediakan ruang kapasitas kelulasaan intensi dan interpretasi hermeneutis dari pencipta karya memiliki pengaruh pedagogis besar terhadap penaruhan makna, simbol, dan konstruksi musikal. Dapat dikatakan pergerakan avant-garde pada masa itu telah memasuki wacana pasca-modernisme, dengan berupaya melewati batasan generalitas musik-musik yang telah menjadi ketetapan mapan pada abad-abad sebelumnya. Para komponis ini tidak merasa puas akan pencapaian musik yang tercipta selama masa pencerahan, hingga mencoba melampauinya dengan upaya penyempurnaan dan pembenahan, bahkan dalam sudut ekstremitas tertentu upaya dekonstruksi, merombak fondasional dengan cara-cara yang radikal tidak segan-segan ditempuh, demi meruntuhkan kemapanan romantisme yang terlalu bermajarela selama berabad-abad.
Sayangnya, apa yang mereka lakukan saat itu tidak memiliki “cukup nyali” untuk dikatakan sebagai pergerakan musik pasca-modernisme, dan lebih sering disebut sebagai era modernisme yang baru. Pada akhirnya kanalisasi ide mereka sebagai pikiran alternatif, tersumbat, dan tidak lagi mampu menciptakan auto-kritik terhadap dirinya yang justru mendatangkan kemapanan berikutnya. Fenomena seperti ini telah menjangkit sejumlah komposer penting dari pergerakan abad ini, mulai dari Schoenberg yang bertahan dengan konsep serialisme, John Cage yang berkontemplasi dalam keheningan aletoris yang ter-apropriasi oleh pencerahan kesadaran Zen, atau musikus avant-garde Prancis yang bertahan setelah mereka menemukan teknologi pita magnetik yang ditambal sulam, hingga menghasilkan kolase-kolase suara yang disebut sebagai pergerakan musique concrete. Serialisme mennjadi salah satu konsep “handal” yang ditemukan, terlepas dari kontroversi, dan lontaran kritik dari para komposer yang menentang prinsip ini, bahwa serialisme mengabaikan realita spektralitas dari sebuah karya musik, dan terlalu terpaku pada fragmentasi karya. Xenakis menyebutnya sebagai pemahaman mikroskopis, sementara Pierre Boulez mengatakan dalam essai terkenalnya, “Schoenberg is Dead”: serialisme dodekafonik Schoenberg hanyalah seperti penemuan fonem tanpa kerangka bahasa. Serialisme pun dengan cepat menemui masa redudansinya, seiring dengan maraknya komponis-komponis muda saat itu, yang menggandrungi serialisme.
Konsep Trans-Humanisme Dalam Musik
Ketika peralatan teknologi dan kemampuan komputasi akhirnya diperkenalkan dan mulai digunakan dalam musik, asa dan wacana pasca-modenisme kembali tumbuh. Seiring perkembangan musik elektronik yang bertumbuh secara eksponensial selama hitungan dekade, musik elektronik mampu membawa manusia ke dalam kondisi trans-humanism, ketika manusia menggunakan perpanjangan tangan teknologi dan komputasi, semata menangai tugas dan menuntaskan masalah yang tidak mampu terselesaikan akibat keterbatasan alamiah dan kondisi biologis manusia. Dalam musik, kemampuan alamiah manusia dalam menghasilkan jangkauan suara dan timbre suara sangat terbatas, sehingga perlu menciptakan alat instrumen konvensional (gitar, perkusi, dll) dengan maksud menjadi alat bantu manusia untuk mampu menjangkau rentang frekuensi suara yang lebih luas, dan memungkinkan menghasilkan variasi timbre atau kualitas tekstur suara yang lebih kaya.
Namun ketika teknologi dan kekuatan komputasi memasuki dunia musik, kemampuan bertambah secara eksponensial dalam meningkatkan kemampuan manusia untuk mereproduksi dan memanipulasi suara menjadi ragam tekstur, pitch, dan interval hingga pada taraf yang melampaui pikiran dan kemampuan biologis (sekali lagi, konsep trans-humanise digaungkan). Tidak sedikit jenis-jenis musik elektronik tertentu, membawa konsep di hadapan manusia tentang melawan kaidah biologis manusia yang seringkali dibatasi oleh kemampuan organ, rangka, neuron, dan sistem saraf. Misalnya, jika hanya mengandalkan kemampuan bio-esensialis seseorang tanpa alat, manusia secara umumnya, tidak akan sanggup menuntaskan pekerjaan menghasilkan 1000 ketukan dalam waktu 1 menit (1000 BPM dalam istilah satuan musik). Tetapi dalam sebuah familia musik elektronik yang disebut speedcore, hal semacam ini justru menjadi suatu keniscayaan dan tidak lagi dianggap sebagai kuasa supranatural yang di luar batas kemampuan.
Speedcore : Musik Yang Melampaui Detak Jantung Maksimum
Sesuai dengan arti harfiah dari terminologi “speedcore”, musik-musik elektronik yang tergolong dalam jenis ini memfasilitasi para komposer atau pencipta lagu bergerak menciptakan musik dengan kecepatan tempo yang mampu melewati batas maksimum detak jantung yang bisa dicapai manusia, yaitu 300 detak per menit (300 BPM). Sebaliknya, 300 BPM justru dijadikan rujukan titik awal, ketika suatu karya musik elektronik tertentu, dapat tergolong sahih terdaftar dalam taksonomi gen speedcore. Batas maksimum kecepatan yang dapat ditempuh jenis musik ini mencapai satuan 1e+45 BPM yang jatuh ke dalam salah satu sub-genre musik speedcore yakni extreme hypertone.
Sejatinya tidak ada bukti empiris yang menyatakan bahwa musik-musik extreme hypertone, benar-benar mencapai limitasi angka 1e+45 BPM, bisa jadi itu hanyalah ungkapan alegoris junto hiperbolik, untuk menunjukan tentang seberapa cepat jenis musik extreme hyperone melampaui kecepatan dari jenis musik apapun yang pernah tercipta di muka bumi. Di bawah ini grafis yang menunjukkan perbandingan perbedaan kategori musik speedcore dengan jenis turunan musik elektronik lainnya yang dibedakan berdasarkan BPM. Harus diakui, secara kasat pendengaran akan sulit untuk menilai dan memilah mana musik speedcore atau mana musik elektronik cepat lainnya yang tidak berada dalam jenis speedcore. Setidaknya untuk telinga yang tidak terbiasa memproduksi musik, membutuhkan setidaknya beberapa kali pendengaran disertai dengan bukti referensial tertulis untuk menjustifikasi speedcore ke dalam suatu karya musik elektronik.
Hanya ada 2 cara untuk mengidentifikasi secara akurat terkait pemakaian jenis BPM, sebagai satuan tempo, pertama, menggunakan bantuan metronom lalu mengatur metronom ke dalam beberapa jenis BPM (100 BPM, 200 BPM, 250 BPM, dst..). Gunakan ketajaman dan konsentrasi pendengaran untuk mengidentifikasi perbedaan setiap suara yang dihasilkan jenis BPM berbeda. Cara kedua, yang bersifat lebih praktis justru menyetel metronom pada tingkat maksimum (antara 300 – 320 BPM) secara beriringan dengan lagu. Gunakan intuisi dan kepekaan telinga untuk melakukan komparasi, apakah kecepatan beat nya menyamai, melampaui, atau tidak lebih cepat dari pengaturan BPM berdasarkan metronom? Perdebatan selanjutnya terkait garis pendefinisian speedcore, dengan melihat apakah kecepatan BPM hanya menjadi landasan atomistik yang berlaku untuk mendefinisikan secara general jenis musik speedcore atau Speedcore terstruktur atas beberapa karakter yang saling berkaitan dan tak terpisahkan? Jawabannya mengarah pada opsi ke-2, bahwa ada beberapa proposisi ciri unsur mendasar lainnya yang membuat speedcore menarik garis perbedaan (demarkasi) dan terlihat otentik dengan sifat keadaan entitas musik elektronik lainnya. Kendati di awal, bahwa speedcore berupaya untuk melampaui kemampuan manusia, tetapi dengan kontras speedcore segera memperlihatkan bahwa dalam penerapannya, Speedcore juga berupaya menarik konsep fisika khusus ke dalam musiknya. Memang setiap yang melata, dan melantai di muka bumi tidak terlepas dari konsep fisika, namun ada intensi dari genre speedcore yang menarik konsep fisika yang terspesifikasi, di luar dari rutinitas alamiah atas konsekuensi dari upaya penghadiran kecepatan di luar batas kewajaran. Penarikan konsep ini, perlu dibahas dikarenakan berkaitan secara langsung terhadap representasi bentuk musik speedcore yang beririsan langsung terhadap pengalaman pendengaran, bukan hanya sekedar landasan konseptual abstrak yang hanya dapat ditakar oleh rasionalitas maupun kemampuan silogistik.
Mengaburkan Realitas & Bayang Dengan Kecepatan
Teori efek relativitas Albert Einstein mengacu pada perubahan sifat fisik suatu objek saat bergerak dengan kecepatan tinggi mendekati kecepatan cahaya. Salah satu postulat dari teori itu membicarakan mengenai konsep length contraction yang menjelaskan kecenderungan pergerakan sebuah objek dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya akan tampak memiliki sifat materi yang seolah “memendek” atau “mengecil” di sepanjang arah gerakan yang disebabkan oleh persamaan transformasi Lorentz. Kontraksi panjang ini didapat dari hasil pengukuran, bukan semata-mata apa yang tertangkap indra penglihatan. Ketika objek bergerak pada kecepatan relativistik, pengalaman sensasi visual menghadirkan distorsi bentuk yang lebih kompleks.
Distorsi ini dikenal sebagai penampakan relativistik, sebuah objek yang tidak hanya tampak memendek tetapi juga seolah berotasi atau membengkok. Hal ini terjadi, ketika cahaya dari berbagai bagian objek membutuhkan waktu tempuh yang berbeda untuk mencapai mata. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, dalam skala milisekon hingga pecahannya yang dapat dianalogikan sebagai mili frame dalam video, indra penglihatan menangkap kumpulan foton yang tiba secara bersamaan. Kumpulan cahaya ini membentuk datum visual pada satu momen tertentu, dan datum tersebut tidak selalu sama dengan bentuk fisik objek saat diam. Artinya dalam beberapa saat tertentu, ruang dan waktu melalui perilaku cahaya dan kecepatan objek yang ekstrem mengizinkan penglihatan untuk memiliki datum yang berbeda dari sifat kematerialan yang melekat. Dengan kata lain keterbatasan fisiologis mata dalam menangkap kecepatan, berpadu dengan efek geometri ruang-waktu, menghadirkan sensasi visual yang secara langsung mencerminkan sifat relativistik alam semesta.
Sama seperti teori relativitas yang menunjukkan bahwa realitas bisa terdistorsi pada kecepatan ekstrem, musik speedcore menggunakan distorsi dan kecepatan ekstrem untuk menciptakan realitas soniknya sendiri yang seolah-olah ‘membengkokkan’ persepsi pendengar terhadap suara. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa musikal, distorsi dalam konsep bunyi dan suara terjadi ketika bentuk gelombang asli sinyal audio diubah atau berubah bentuk. Intinya, bahwa distorsi adalah upaya untuk merubah atau menyamarkan kualitas kematerialan asli, memiliki bentuk yang seolah-olah serupa, padahal ada beberapa kualitas yang terdegradasi. Pengaturan efek yang diupayakan seperti mengatur bentuk gelombang yang sengaja dipertajam (wave shaper), mengirimkan kick drum dengan karakter suara yang noise dan disebarkan dengan cara spamming, kompresi pada kick drum, hingga pengamputasian kemampuan mid dansub-bass pada bagian equalizer – adalah siasat produser speedcore menghasilkan efek dan konsep distorsi yang dijelaskan sebelumnya.
Karakteristik dari musik speedcore itu sendiri yang bergerak secara cepat, memungkinkan para produser untuk berpikir menciptakan efek serealistis mungkin dengan membiarkan efek suara yang terdistorsi tumbuh bahkan membabi buta di sepanjang aransemen. Mereka sengaja menaruh sampling drum dengan karakteristik yang tebal dan kuat, sebagai tanda pembeda terkait objek asli yang asli dan “bayangan” objek yang hanya terbentuk dari efek distorsi. Untuk itu para produser speedcore seringkali menggunakan mesin drum TR-909, dengan penambahan efek Boost bass pada EQ untuk menghasilkan hantaman suara yang besar dan letupan suara dengan daya serang dinamika yang keras.
Klasifikasi Musik Elektronik Berdasarkan Kepentingan
Jika mencoba memeriksa ulang terakit cacatan historis yang berupaya merunutkan genealogi dari speedcore, akan ditemukan banyak kekusutan. Hingga sekarang, masih menjadi perdebatan tanpa mencapai titik temu, tentang siapa yang pertama kali memainkan jenis speedcore, atau siapa yang akhirnya memutuskan untuk memberi ketentuan mapan terkait musik speedcore untuk tetap berada di ambang kecepatan 300 BPM ke atas. Tidak butuh penelitian membingungkan untuk membuktikan kekusutan ini, silahkan ajukan pertanyaan tentang siapa pelopor speedcore, 9 dari 10 pasti akan menyodorkan jawaban nama dan lagu yang berbeda antara satu dengan lainnya. Rasanya kerumitan ini terjadi disebabkan adanya semacam pergeseran kepentingan dan intensi ketika orang menggunakan dan memahami terminologi speedcore pada tahun 90’an, dengan terminologi speedcore yang dikenal orang saat ini. Pada tahun 90’an, secara garis besar musik elektronik terbagi menjadi 3 berdasar kepentingan utama. Kelompok pertama diwakili oleh jenis-jenis musik elektronik yang menghadirkan kesan alamiah dari sebuah peristiwa dan fenomenologi yang terjadi dalam keseharian.
Tidak peduli apapun jenis maupun metode dan tekstural yang mereka gunakan, tujuan utama dari kelompok musik elektronik ini mereplikasi suatu realitas yang terjadi atau sebuah realitas yang masih berbentuk impian untuk diinisiasikan ke dalam dunia virtual dan elektronik. Musik industrial yang berupaya menggambarkan fenomena kehidupan di lingkungan industrial, ambient yang berupaya untuk membawa tubuh subtil seseorang agar kembali mendekat pada alam, atau progressive electronic yang membuka intelektualitas dan cakrawala pemahaman pada ranah-ranah yang bersifat fiksi dan astronomi. Tidak jarang jenis musik elektronik semacam ini, akan selalu berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan eksitensial dan ontologis terkait “bagaimana seharusnya keadaan musik di masa depan?”. Bahwa setiap detiknya, akan terasa seperti sebuah upaya pendakian melelahkan dalam menghilangkan dahaga, dari kehausan pengetahuan maupun penciptaan karya yang meluhurkan sifat-sifat kebebasan kreativitas, eksplorasi tanpa batas, dan menciptakan semacam landasan paradigmatik baru.
Fraksi ke-2 memanfaatkan ruang lingkup musik elektronik pada sifat yang lebih pragmatis. Mereka tidak terlalu pergi mengawang-ngawang pada pengandaian dan ilustrasi yang abstrak, tujuannya adalah membuat agar pendengar berdendang dan berdansa, ketika dentuman drum mekanik maupun peralatan synth dan analog elektronik mereka berbunyi. Jenis musik elektronik semacam techno, house, disco, HI-NRG, Italo Disco, dan lainnya tergolong ke dalam jenis musik ini. Kelompok terakhir direpresentasi oleh kelompok musikus, dj, maupun produser musik elektronik yang berhasrat untuk mendobrak batasan limitasi kecepatan, hingga berujung menghasilkan jenis-jenis musik elektronik yang rancak, agresif, dan cepat dan tidak sedikit juga terpengaruh oleh etos kultur musik punk, hardcore dan metal. Bisa jadi, fraksi ketiga, adalah sintesis dari ke-2 fraksi sebelumnya, dengan opsi memiliki kemampuan keberpihakan di antara salah satunya, atau justru meniadakan keberpihakan di antaranya dengan penggabungan menjadi semacam landasan unison. Bahwa alasan satu jenis musik elektronik tertentu upaya evolusionis percepatan tempo atas dasar ketidakpuasan akan generasi musik elektronik sebelumnya yang tidak cukup kuat menciptakan irama dansa yang lebih bergairah dapat dibenarkan dalam fraksi ini dan tidak bersifat dikotomis.
Asal-Muasal Musik Speedcore
Penggunaan terminologi speedcore pada awal kemunculannya dikhususkan untuk mereka yang tergolong ke dalam kelompok fraksi ke-3. Tidak mempedulikan ambang batas BPM, musik-musik elektronik yang secara kasat pendengaran memiliki intensi untuk tampil dengan lebih gesit dan agresif dari domain umum musik elektronik, langsung tergolong dalam speedcore. Akibatnya jenis-jenis musik elektronik yang muncul di beberapa wilayah Eropa dan Amerika seperti hardcore techno (terrorcore), gabber, nerdcore, frenchcore diasumsikan masuk ke dalam payung speedcore pada masanya. Mayoritas musik dimainkan dalam rentang 200 – 250 bpm dan metode spamming kick drum hanya digunakan dalam situasi tertentu, tidak menjadi semacam landasan yang menjadi penopang karakteristik utama aransemen. Klaim ini bisa dibuktikan dengan merujuk pada beberapa rilisan album (baik studio maupun kompilasi) yang beredar saat itu. Kata speedcore langsung diselundupkan secara harafiah pada beberapa judul rilisan, misalnya album kompilasi berjudul Speedcore Mix hasil kolaborasi dari DJ Jessy James dan Liza ‘N’ Eliaz yang dirilis tahun 1996.
Album tersebut berisi kompilasi lagu. gubahan beberapa dj maupun produser musik elektronik bawah tanah dan beberapa diantara mereka seringkali dikaitkan sebagai pionir yang bertanggung jawab melahirkan prototipe cetak biru speedcore, seperti Disciples of Annihilation (D.O.A), Delta-9, dan DJ Skinhead. Satu tahun berselang, D.O.A merilis album studio nya sendiri yang berjudul “New York City Speedcore”. Kemudian pada tahun 2001, sebuah label elektronik bawah tanah yang berlokasi di Swiss, Mascha Records melepas album kompilasinya sendiri berjudul “Speedcore Slaughter”. Kompilasi tersebut terdiri dari beberapa artist elektronik bawah tanah seperti BTC 107A, Kopfkrank Terror Team, Mordtrupp, Milan Speedcore Project, dan Messias. Grup maupun produser elektronik yang sangat jauh diluar percakapan bagi antusias musik elektronik saat ini, bahkan terpinggirkan dalam pembahasan ceruk speedcore itu sendiri.
Maju pada tahun 2002, seorang dj bernama DJ Totschläger merilis album kompilasi bertajuk “Ultra Speedcore” yang sepertinya diisi oleh adegan-adegan musik elektronik lokal Jerman. Meski pada saat itu mereka tidak mendeklarasikan secara langsung bahwa speedcore adalah semacam genre dan jenis musik yang baru, tetapi intensi mereka dapat terbaca dengan jelas bahwa ada upaya untuk memberikan jarak pembeda dengan menggolongkan musik-musik elektronik berkarakter ultra-cepat, tekstur yang kasar dan penuh distorsi, serta agresif ke dalam terminologi speedcore.
Musik Speedcore Memasuki Abad Milenium
Tetapi jika berkaca pada definisi musik speedcore era sekarang, mayoritas dari lagu-lagu yang termasuk dalam kompilasi speedcore era terdahulu, sejatinya hanya terdiri dari gabungan lagu dari berbagai sub-genre elektronik lain semacam Terrorcore, Gabber, Nerd Techno, Amigacore, dan Hardcore (EDM). Seperti yang sudah disinggung awalnya, mayoritas lagu yang terdaftar pada mayoritas kompilasi terdahulu, dimainkan dalam rentang 200 bpm – 250 bpm, tidak dimainkan dalam tempo menyentuh 300 bpm sebagaimana yang diyakini speedcore saat ini. Perbedaan menuju ke ranah kualitas speedcore modern, mulai diperlihatkan pada kompilasi “Speedcore Slaughter” (2001), ketika tempo musik memasuki angka rata-rata 300 bpm dan spamming kick yang mulai mendominasi. Adanya metode spamming kick pada drum mengindikasikan tempo semakin berakselerasi ke tingkat yang lebih tinggi. Karena ini sudah menjadi semacam kebenaran pasti yang bersifat universal dan teruji secara proses unsur logika enumerasi.
Apabila semakin banyak dan berlipat ketukan yang mampu dimunculkan dalam rentang waktu 1 menit, itu akan secara pasti meningkatkan indikator level bpm yang akhirnya berimbas pada naiknya tempo pada sebuah lagu. Selain mulai tumbuh dan berkembang pesat pada adegan elektronik di benua Amerika maupun Eropa, speedcore berhasil menarik minat dan antusias di Jepang. Adegan speedcore di Jepang turut membantu melestarikan varian dan keberagaman speedcore yang mulai tumbuh.
Misalnya produser kelahiran Saitama, Akira Sato yang terkenal dengan proyek solonya, Coakira memainkan jenis speedcore extratone (dipopulerkan oleh musisi asal Polandia, Diabarha), yang meningkatkan level kecepatan pada rentang angka 1000 bpm ke atas. Bokusatsu Shoujo Koubou proyek besutan Umahara Shigeru, memadukan speedcore dengan musik-musik elektronik 8-bit chiptune. Speedcore yang dielaborasikan dengan cybergrind bukan lagi menjadi semacam culture shock, seperti yang dilakukan Ozigiri, proyek speedcore asal Shinjuku. Sebuah opini internet bersifat montase seringkali menggambarkan speedcore sebagai grindcore versi elektronik. Keduanya, sama-sama sebagai spesimen yang mewakili familia genre musik tertentu (grindcore terhadap metal dan hardcore, speedcore terhadap elektronik) yang secara radikal merepresentasikan biang antitesis daripada konsep dinamika pada aransemen (yang tergantikan dengan katastropi kebisingan total), maupun keberagaman warna pada aransemen (yang tergantikan dengan warna pekat dan mono-warna.).
Kobaryo melakukan hal sebaliknya, ketika produser sekaligus pendiri label Hitnex Trax kelahiran Jepang ini justru berupaya melepaskan kemelekatan keberadaan speedcore yang kerap menempel tema-tema mengerikan sekaligus konfrontatif, potongan suara sampling yang dihamburkan secara sembrono, pengerjaan sampul album fotokopi beretos punk D.I.Y, dan nihilis terhadap konsep melodi maupun struktur. Sebagai upaya subtitusinya, Kobaryo memainkan sebuah varian baru, bernama melodic speedcore, meluhurkan peran melodi yang seringkali melompat dalam variasi permainan piano lambat, melodi synth yang dimainkan dalam mode staccato maupun arpeggio, bantalan progresi akor, mengandung reverb yang begitu luas semata penambahan konteks yang bersifat atmosferik, dan memegahkan nuansa seperti penggunaan library / sampling musik orkestra atau alat musik senar.
Melodic speedcore jmengenalkan pembagian kanon-kanon seperti break, built up, drop melody, dan climax, pemandangan yang jarang ditemukan atau disadari speedcore orisinil yang terikat dalam sifat kemonolitikan struktur yang hanya berorientasi pada pemberontakan kecepatan bukan pergi pada orientasi kecantikan estetik bentuk. Turunan melodic speedcore di Jepang (Kobaryo termasuk) kedapatan menempelkan kultur anime pada sampul album utama, dan meletakan potongan sampel suara karakter anime atau vokal yang sengaja dimainkan secara off-beat. Di luar subgenre yang telah disebut di atas, terdapat turunan speedcore yang tercipta.
Hypertoneyang menjauh dari kualitas musik elektronik EDM yang semakin mendekat dengan unsur-unsur keabsolutan musik noise dan efek-efek drone. Dipopulerkan oleh produser maupun dj seperti Darkblack XIII, Zustand D, Cuntspiltterkor, Blue Wind Echo, dan Hylna. Splittercore pergi dalam pemahaman moderat, dimana penciptaanya dimaksudkan untuk tampil lebih cepat dan agresif dari speedcore umumnya (600 – 1000 bpm), tetapi secara bersamaan kualitas suaranya tidak dirombak total seperti hypertone.
Gaya splittercore mulai ditemukan oleh sebuah komunitas speedcore dan gerakan netlabel di Ceko, “Czech Extreme Speedcore Netlabel”. Netlabel yang didirikan pada bulan Agustus 2007 oleh Kurwastyle Project ini, secara tidak langsung mengenalkan varian splittercore melalui album kompilasi bertajuk “Splitter Destruction” yang dirilis pada 2007. Seorang dj, pendiri label, dan produser asal Jerman, Pressterror mengukuhkan terminologi baru dalam musiknya yang disebut Suizidcore. Sebuah varian musik speedcore dengan menampilkan sudut dan penggambaran musik depresif, dimana ada begitu banyak sampling teriakan, ledakan, dan jeritan meringis kesakitan, dengan suara drum yang begitu distorted, dan durasi setiap lagu yang lebih panjang dari speedcore umumnya (speedcore biasanya berdurasi 2 – 4 menit, suizidcore berdurasi 7 – 9 menit). Ketika musik gabber dan hardcore techno telah memasuki ranah black metal, orang mulai menyebutnya sebagai musik blackened speedcore. Varian adegan ini dipopulerkan oleh Legionz ov Hell, Iperyt, Sangre, dan Servants Of The Apocalyptic Goat Rave.
Sokongan Serdadu Digital
Sama seperti perkembangan jenis musik elektronik bawah tanah lainnya, perkembangan speedcore mengandalkan komunitas dan platform jejaring Internet. Forum reddit dan channel discord, sudah menjadi seperti ruang konferensi untuk bertemunya para musisi, produser, maupun penggemar untuk mulai membuka dialog percakapan dan pembahasan mengenai perkembangan dan produksi musik speedcore. Platform seperti soundcloud, youtube, atau bandcamp menjadi muara para pencipta karya untuk menaruh hasil jerih payah mereka dan juga berinteraksi dengan penggemar. Beberapa artist speedcore ada yang memilih bergerilya melalui jalur independen, dan sebagian ada yang tergabung dalam label skala indie atau netlabel.
Beberapa netlabel berupaya mendedikasikan operasionalnya untuk menaungi artist serta merilis album speedcore seperti Splitterkor Rekords Dziwko!!!, Speedcore Worldwide Audio Netlabel, dan Speedcore Abyss. Sementara untuk pergerakan speedcore di Jepang, komunitas doujin sudah menjadi wadah lengkap sebagai sarana interaksi dengan penggemar, maupun sebagai medium untuk menjajakan karyanya. Produser elektronik ternama yang berasal dari sirkel doujin seperti T+Pazolite atau Camellia pernah merilis album speedcore, meski pada dasarnya ke-2 produser tersebut besar dan dikenal dalam ranah musik elektroniklain (Camelia dengan denpa, T+Pazolite dengan J-Core).
Baca Juga : Apa Enaknya Musik Data Sonification?





