Memperingati salah satu periode paling bersejarah di Indonesia, Sonorri melacak lagu-lagu apa saja yang populer sekaligus mampu mewakili wajah musik Indonesia selama masa transisi menuju kemerdekaan.
Menggunakan corong lensa pengandaian, apabila teknologi layanan streaming seperti Spotify, sudah ada di zaman kemerdekaan, daftar lagu berkut bisa jadi konsisten berada di tangga chart lagu top lokal, menghiasi berbagai kurasi playlist top, memiliki ratusan ribu hingga jutaan pendengar setiap bulan, dan rutin masuk wrap-up tier list tahunan para rakyat & pejuang Bangsa Indonesia.
Dekade 40’an sampai 50’an bisa dibilang merupakan titik balik kebangkitan industri musik Tanah Air. Selama masa-masa sulit perebutan kedaulatan, musik masuk dalam sela-sela kehidupan masyarakat yang menjadi medium pemersatu suara rakyat. Lewat musik, masyarakat kelas pejuang mampu menyuarakan aspirasi sekaligus perjuangan sebagai ekspresi kerinduan akan kemerdekaan yang semakin dekat di ambang pintu.
Kisah ini bermula dari awal hingga pertengahan dekade 40’an, ketika bangsa Indonesia masih berada dalam himpitan cengkraman kekuasaan Jepang dan Belanda. Kemudian, dilanjutkan oleh penyerahan kekuasaan dari Jepang dan deklarasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Akan tetapi, Belanda enggan mengakui kedaulatan Indonesia begitu saja dan membuat Indonesia dilanda oleh iklim sosial-politik dan ekonomi yang serba tidak menentu.
Belanda melancarkan operasi Agresi Militer demi merebut kembali Indonesia. Serangan Agresi Militer Belanda terjadi selama 2 periode, periode pertama berlangsung Juli hingga Agustus tahun 1947, dan periode kedua berlangsung tahun 1948 hingga tahun 1949.
Memasuki dekade 50’an, ketika kedaulatan negara mulai stabil, Indonesia fokus pada pembangunan beberapa sektor. Pemerintah mulai memiliki kesadaran akan pentingnya menanamkan nilai-nilai budaya pada masyarakat, sebagai salah satu identitas bangsa. Maka dimulailah pembuatan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pertumbuhan ragam jenis budaya, salah satunya musik.
Bagimu Negeri (Oleh: Kusbini – 1942)
Pada saat Jepang masih menduduki Indonesia, sistem administrasi dan broadcast radio milik Jepang, Hoso Kanri Kyoku dan Hoso Kyoku,diintegrasikan ke dalam stasiun radio lokal. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan sebagai alat propaganda pusat, yang bertugas menyiarkan berita perang dan melarang pemutaran lagu berbahasa asing.
Seorang musisi sekaligus komposer kelahiran Mojokerto, Kusbini ingin menciptakan lagu-lagu bertemakan nasionalisme. Agar tidak dicurigai Jepang, Kusbini berdiskusi dengan Ir.Soekarno mengenai pembuatan lagu. Keduanya sepakat untuk tidak menyebut secara eksplisit kata “Indonesia” dalam lirik. Kusbini menggunakan kata “Negeri” sebagai makna simbolis sekaligus menyampaikan pesan nasionalisme secara tersublimasi.
Lagu ini kemudian berhasil diputar di radio Hoso Kanri Kyoku. Ibu Sud, seorang penyanyi yang reputasinya dianggap netral, terpilih membawakan lagu “Bagimu Negeri”. Siasat Kusbini dan Ir.Soekarno terbukti ampuh, ketika lagu tersebut lolos berkumandang tanpa menimbulkan kecurigaan pihak Jepang. Setelah kemerdekaan, popularitas lagu ini melonjak, kemudian ditetapkan sebagai lagu nasional.
Bersamaan dengan semakin mudahnya produksi piringan hitam, label-label musik lokal mulai bermunculan di era ini. Hingga akhirnya katalog-katalog musik dalam negeri dibanjiri oleh rilisan-rilisan musik lokal.
Maju Tak Gentar (Oleh: Cornel Simanjuntak 1946)
Setelah deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pejuang Indonesia yang dipimpin oleh Abdulrachman Saleh berhasil merebut stasiun radio lokal yang dikuasai Jepang. Sebagai gantinya, Abdulrachman Saleh mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI) Pada 11 September 1945. Misi Utama RRI adalah sebagai wadah dan corong yang memihak kepentingan rakyat dan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Namun operasi tidak berjalan mulus, RRI mendapat serangan dari Agresi Militer Belanda. Tahun 1946, ketika kondisi negara sedang darurat, Ir. Soekarno dan Prof. Mohammad Hatta memindahkan pemerintahan termasuk pusat pengoperasian RRI ke Yogyakarta, bersama rombongan yang dipimpin oleh Usmar Ismail.
Dari antara rombongan yang bermigrasi, seorang penyair-pembuat lagu, Cornel Simanjuntak turut migrasi ke Yogyakarta. Di sana, Cornel Simanjuntak mempelajari kesenian musik lalu mendirikan paguyuban paduan suara, bernama “Pemuda Nusantara”.
Tugas dari “Pemuda Nusantara”, ialah menyanyikan lagu-lagu ciptaan Simanjuntak yang disiarkan rutin oleh RRI yang saat itu berlokasi di Kotabaru, Yogyakarta. Salah satu lagu ciptaan Simanjuntak, “Maju Tak Gentar” menjadi terkenal di kalangan prajurit dan pejuang Indonesia.
Selain relevan dengan keadaan Indonesia yang belum stabil, lirik lagu tersebut dianggap memberikan semangat patriotisme kepada para prajurit dan pejuang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Satu Nusa Satu Bangsa (Oleh: Liberty Manik)
Pemindahan status ibu kota dan operasi pusat RRI menuju Yogyakarta tidak mengartikan Indonesia bebas dari serangan sekutu. 27 November 1945, Balai Mataram Yogyakarta yang digunakan sebagai tempat operasi RRI mendapat serangan pengeboman dari pihak Sekutu. Tidak hanya di Yogyakarta, RRI daerah lainnya ikut terkena terror dan serangan dari pihak sekutu.
Meski mendapat tekanan ancaman luar biasa, RRI pantang menyerah. Stasiun radio RRI tetap mengudara dari studio-studio darurat, menggunakan pemancar rahasia yang disembunyikan di berbagai tempat, seperti di rumah-rumah penduduk di sekitaran Secodiningratan, Yogyakarta, dan di Playen Gunung Kidul.
Melihat kondisi Indonesia yang carut marut dan tidak kondusif, seorang komponis sekaligus pengajar musik dari kampus ISI Yogyakarta, Liberty Manik membuat sebuah lagu berjudul “Satu Nusa Satu Bangsa”. Berbeda dengan lagu “Maju Tak Gentar” yang lebih familiar di kalangan prajurit dan pejuang garda depan, lagu ini secara strategis lebih diterima oleh masyarakat sipil.
Lirik yang ditulis oleh Liberty Manik terinspirasi dari Sumpah Pemuda. Namun meski mengangkat konsep “abstrak” mengenai persatuan dan kesatuan, Liberty Manik meringkas idenya dengan pemilihan kata yang sederhana. Sehingga ini menjadi alasan lagunya mudah diterima dan memiliki pesan yang tersalurkan kepada masyarakat sipil.
Bengawan Solo (Oleh: Gesang – 1949)
RRI sebagai episentrum yang membentuk lanskap musik Indonesia dari pertengahan dekade 40’an hingga akhir dekade 50’an. Setiap lagu kurasi RRI memiliki langkah strategis untuk memenuhi tujuan revolusi Indonesia. Selain memutar lagu-lagu patriotisme dan nasionalisme, RRI memiliki serangkaian program untuk memutar lagu dari berbagai kebudayaan dan daerah Indonesia.
Dari sekian banyak lagu daerah, keroncong menjadi genre yang sangat populer di RRI. Keroncong sendiri berasal dari hasil asimilasi musik-musik Portugis dengan budaya lokal yang sudah ada sejak abad 16. RRI Solo (Surakarta), memiliki program khusus menayangkan siaran Orkes Surakarta. Dari siaran tersebut bermunculan penyanyi-penyanyi terkemuka dan salah satunya ialah Gesang yang dikenal lewat salah satu lagu ciptaanya berjudul “Bengawan Solo”.
Lagu “Bengawan Solo” sudah banyak direkam ulang oleh musisi legendaris Indonesia, mulai dari Oslan Husein, Bing Slamet, Titiek Puspa, Waldjinah, Sundari Soekotjo, dan masih banyak lagi. Uniknya, lagu ini justru begitu disukai dan populer di kalangan Masyarakat Jepang. Tak tanggung-tanggung, masyarakat Jepang yang tergabung dalam komunitas pecinta Gesang di sana, mengusulkan pembuatan Taman Gesang di dekat Sungai Begawan Solo dan mengumpulkan dana. Ide itu mulai digagas pada tahun 1983, tetapi peresmian fisik Taman Gesang baru terjadi pada tahun 1991.
Ayam Den Lapeh (Oleh : Orkes Gumarang – 1954)
Selain sebagai warisan lagu asli daerah Minang, “Ayam Den Lapeh” menjadi salah satu lagu daerah yang mampu menembus pasar musik negara tetangga Asia seperti Malaysia dan Vietnam. Kepopulerannya tidak luput dari peranan Orkes Gumarang, sebuah kolektif musisi Minang yang berdomisili di Jakarta. Biduan dari regu Orkes Gumarang, Nurseha menjadi penulis utama lirik, sementara aransemen melodi digubah oleh Abdul Hamid.
Lagu ini mengenalkan konsep dualisme antara lirik dan musiknya. Lirik, berbentuk sajak pantun, menggambarkan kesedihan dan kehilangan mendalam. Menceritakan makna mengenai kehilangan cinta dialami langsung Nurseha, ketika menjalin hubungan asmara, dengan seorang pelaut. Cintanya kemudian kandas di jalan, dan demi “menyamarkan” kisah asli, Nurseha melukis metafora mengenai seseorang yang kehilangan seekor ayam yang berharga.
Ironinya, penggunaan ritme cha-cha-cha yang energik, justru seperti menumbuhkan kesan ritme ceria, dan jauh dari kesan muram. Orkes Gumarang memainkan peran krusial dalam memperkenalkan musik Minang ke panggung musik nasional, terutama melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan rekaman di perusahaan rekaman negara, Lokananta.
Nurlaila atau Nurlela (Oleh: Bing Slamet – 1956)
Dekade 1950-an menjadi saksi pergeseran signifikan dalam industri musik Indonesia. Dominasi perusahaan rekaman asing dari era kolonial, seperti Columbia, Odeon, dan British Gramophone Company, mulai menurun. Para pengusaha lokal mengisi kekosongan ini dengan mendirikan perusahaan-perusahaan rekaman nasional seperti Irama Record, Remaco, dan Lokananta.
Perwira Angkatan Udara Soejoso Karsono, mendirikan Irama Records (1951-1967). Irama Records kemudian menjadi salah satu perusahaan label lokal pertama yang memainkan peran sentral dalam industri musik nasional.
Perusahaan ini tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi aktif mendukung kebijakan pengembangan kebudayaan dari pemerintah. Irama Record meluncurkan karir musisi dan penyanyi besar seperti. Bing Slamet, Nick Mamahit, Mus Mualim, Jack Lesmana, dan Lilis Suryani.
Jauh sebelum dikenal sebagai maestro lawak bersama grup Kwartet Jaya awal 70’an, Ahmad Syech Albar atau akrab dengan sebutan Bing Slamet, sudah aktif menghibur berbagai divisi dan batalion pejuang Indonesia. Bing Slamet kemudian melanjutkan karir sebagai pemain film, penyanyi, sekaligus pencipta lagu.
Sudah banyak lagu Bing Slamet yang sukses dan dikenal khalayak, salah satunya “Nurlaila” atau “Nurlela”. Lagu ini dirilis tahun 1956 dalam format vinyl 10 inch 78 RPM bersamaan dengan lagu “Belalang Sajang” sebagai side-B. Lagu ini kemudian muncul dalam salah satu film Bing Slamet, berjudul “Bing Slamet Tukang Betjak” yang rilis tahun 1959.
Sebagai salah satu bukti nyata kesuksesan “Nurlela”, lagu ini sudah banyak dinyanyikan ulang oleh sejumlah artis dan musisi kondang, mulai dari Trio Lestari (Tompi, Glenn Fredly, dan Sandhy Sondoro), Payung Teduh, Muchsin Alatas, hingga yang terbaru persembahan dari duet Andre Taulany dan Ayu Ting Ting.
Gending Jawa (Oleh: Ki Nartosabdho)
Sementara itu, Lokananta berdiri pada 29 Oktober, 1956, sebagai perusahaan rekaman milik pemerintah. Lokananta menginisiasi peran sebagai lembaga yang mengarsip dan mendiseminasikan musik-musik yang dianggap penting bagi identitas bangsa. Penelitian Philip Yampolsky menunjukkan, bahwa Lokananta mengklasifikasikan piringan hitam produksinya menjadi tiga kategori: Musik Nasional, Hiburan Daerah, dan Musik Teater Daerah.
Kategori Musik Teater Daerah, menduduki posisi kedua dengan 41% dari total volume produksi, atau menjadi salah satu segmen andalan dalam katalog Lokanata. Kategori ini mencakup rekaman-rekaman dari seni pertunjukan tradisional seperti wayang kulit purwa, ketoprak, ludruk, gamelan, dan gending.
Seniman-seniman yang karyanya direkam di sini berasal dari RRI Surakarta dan kelompok-kelompok istana, mengukuhkan peran Lokananta sebagai wadah pelestarian budaya.
Salah satu tokoh sentral dalam katalog musik daerah adalah Ki Nartosabdho. Dikenal sebagai seorang maestro karawitan dan dalang legendaris yang sangat produktif, Ki Nartosabdho diperkirakan telah menciptakan lebih dari 300 gending (lagu gamelan) Jawa.
Karya-karyanya terkenal karena menggabungkan tradisi karawitan klasik dengan sentuhan modern yang menyesuaikan selera masyarakat, sehingga mudah diterima dan menjadi populer.
Ada beberapa karya gending Ki Nartosabdho yang populer diantaranya seperti: “Gugur Gunung”, “Ibu Pertiwi”, “Caping Gunung”, “Kebo Giro”, dan “Perahu Layar”. Karya-Karyanya kemudian direkam, lalu diabadikan oleh Lokananta.
Sabda Alam (Oleh: Ismail Marzuki – 1956)
Memasuki dekade 50’an, industri musik Indonesia dibanjiri oleh musik dan seni pertunjukkan daerah, sementara lagu “Sabda Alam” justru mengambil gaya musik balada vocal jazz ala Barat. Lagu ini diciptakan oleh seorang komposer sekaligus penulis lagu ternama, Ismail Marzuki.
Meski terkenal dengan komposisi tembang bernuansa patriotisme seperti “Halo-Halo Bandung”, “Gugur Bunga”, tapi lewat lagu ini, Ismail Marzuki dapat membuat tema-tema lirik yang bersinggungan dengan isu-isu sosial, yakni mengenai belenggu patriarkis.
Lagu ini selesai pada tahun 1956, dan direkam melalui Irama Records. Theresha Zen, menjadi penyanyi yang membawakan sekaligus merekam lagu ini pertama kalinya, bersama orkes Lima Serama pimpinan Amin Usman.
Sabda Alam dinobatkan sebagai salah satu dari 150 lagu Indonesia terbaik versi majalah Rolling Stone, dengan menempati posisi ke-40. Banyak yang mengira bahwa “Sabda Alam” versi penyanyi legendaris alm.Chrisye, sama dengan “Sabda Alam” ciptaan lagu Ismail Marzuki. Namun ke-2 nya jelas berbeda, bahkan alm.Chrisye merilis album “Sabda Alam” pada dekade 70’an.
Gunung Nona (Oleh : Nick Mamahit & Trio Irama – 1956)
Lagu ini direkam oleh grup Trio Irama yang terdiri atas Nick Mamahit (pianis), Jim Espehana (bassist) dan Bart Risakotta (drummer). Nick Mamahit sendiri, kelak dikenal sebagai tokoh sentral dalam pergerakan awal musik jazz Indonesia.
Sebagai putra asli Manado, Nick Mahmit kemudian pindah menempuh pendidikan jurusan harmoni dan teknik piano di konservatorium Amsterdam, Belanda. Sepanjang dekade 40’an, Nick menghabiskan waktu di Belanda dan kembali ke Indonesia pada tahun 1951.
Lagu “Gunung Nona” bukanlah komposisi orisinal Nick Mamahit, melainkan hasil dari gubahan ulang sebuah lagu rakyat Maluku. Pengaruh Barat, dalam hal ini genre jazz, tidak digunakan untuk menggantikan tradisi, melainkan untuk memperkayanya. Melodi rakyat yang sederhana diberi sentuhan harmonisasi modern dan ritme kompleks.
Selain mengaransemen ulang “Gunung Nona”, Trio Lesmana turut menyulap repertoar-repertoar tradisional seperti : “Rayuan Pulau Kelapa”, “Tari Payung”, “Sarinande”, dan “O Ina Ni Keke”, melakukan akulturasi antara otentisitas musik kedaerahan yang asri, dengan peningkatan isi dan harmoni suara menjadi sedemikian kompleks.
Referensi
- Metrotvnews. “Sejarah 5 Lagu Perjuangan Nasional dan Penciptanya.” Metrotvnews.com. Diakses 7 September 2025. https://www.metrotvnews.com/read/N4EC4WQd-sejarah-5-lagu-perjuangan-nasional-dan-penciptanya
- ResearchGate. “Functions and Meanings of Indonesian Patriotic Songs.” ResearchGate. Diakses 18 September 2025. https://www.researchgate.net/publication/334801942_Functions_And_Meanings_Of_Indonesian_Patriotic_Songs
- Universitas Diponegoro. “Artikel: Functions and Meanings of Indonesian Patriotic Songs.” Indonesian Historical Studies (IHiS). Diakses 22 September 2025. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/ihis/article/download/1919/1284
- Radio Republik Indonesia (RRI). Sejarah RRI Yogyakarta. Diakses 4 September 2025. https://ppid.rri.go.id/download/dokumen/sejarah_rri_yogyakarta.pdf/13468
- Detik.com. “Lirik Lagu Bengawan Solo Gesang Beserta Pencipta dan Maknanya yang Mengharukan.” Detik Jateng. Diakses 13 September 2025. https://www.detik.com/jateng/budaya/d-8085867/lirik-lagu-bengawan-solo-gesang-beserta-pencipta-dan-maknanya-yang-mengharukan
- Irama Nusantara. “Rilis Musik No. 2554.” Iramanusantara.org. Diakses 19 September 2025. https://www.iramanusantara.org/release/2554
- ResearchGate. “Lagu-Lagu Daerah Indonesia pada Panggung Musik Nasional 1950–1960an.” ResearchGate. Diakses 24 September 2025. https://www.researchgate.net/publication/364921729_LAGU-LAGU_DAERAH_INDONESIA_PADA_PANGGUNG_MUSIK_NASIONAL_1950-1960AN
- Universitas Gadjah Mada. “Artikel di Sasdaya Journal.” Sasdaya Journal. Diakses 2 September 2025. https://jurnal.ugm.ac.id/sasdayajournal/article/view/36457
- Universitas Gadjah Mada. “Artikel PDF di Sasdaya Journal.” Sasdaya Journal. Diakses 10 September 2025. https://jurnal.ugm.ac.id/sasdayajournal/article/view/36457/21277
- Far Side Music. “Irama Jazz (CD-R, FSD6801).” Farsidemusic.com. Diakses 14 September 2025. https://www.farsidemusic.com/acatalog/Irama-Jazz–CD-R–FSD6801.html
- Irama Nusantara. “Rilis Musik No. 3791.” Iramanusantara.org. Diakses 3 September 2025. https://www.iramanusantara.org/release/3791
- Cari Forum. “Thread: Lagu Daerah dan Budaya.” MForum.cari.com.my. Diakses 17 September 2025. https://mforum.cari.com.my/forum.php?mod=viewthread&tid=1254583
- Padangkita. “Sepenggal Kisah dalam Lagu Ayam Den Lapeh Karya Nurseha, Penyanyi Pop Minang dari Orkes Gumarang.” Padangkita.com. Diakses 5 September 2025. https://padangkita.com/sepenggal-kisah-dalam-lagu-ayam-den-lapeh-karya-nurseha-penyanyi-pop-minang-dari-orkes-gumarang/
- Cimbuak.net. “Ayam Den Lapeh (arsip PDF).” Internet Archive. Diakses 1 September 2025. https://web.archive.org/web/20100703024236/http://www.cimbuak.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=471
- Langgam.id. “Asbon Madjid dan Orkes Gumarang: Pembuka Pintu Indonesia untuk Musik Minang.” Langgam.id. Diakses 16 September 2025. https://langgam.id/asbon-madjid-dan-orkes-gumarang-pembuka-pintu-indonesia-untuk-musik-minang/
- Scribd. “Ayam Den Lapeh.” Scribd.com. Diakses 20 September 2025. https://id.scribd.com/document/393916198/AYAM-DEN-LAPEH-doc
- Rolling Stone Indonesia. 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa. Edisi 56. Jakarta: Rolling Stone, 2009.
- Anang Sujoko, Menuju Sistem Penyiaran yang Demokratis (Jakarta: Feniks Muda Sejahtera, 2022).
Baca Juga : Musik Bagus Adalah Satuan Tak Terukur

