Apa sih musik bagus itu? Sebenarnya banyak penilaian dan cakupan buat ngasih status bahwa musik tertentu sebagai musik bagus. Untuk tingkat “bagus” versi masing-masing orang, yang paling umum itu seberapa besar musik itu bisa ngasih dampak secara emosional dan mental seseorang. Ada yang bagus, karena relate dengan kondisi emosional, sesuai dalam selera personal, dan berbagai pertimbangan subjektivitas lainnya.
Tapi di jajaran yang lebih besar terkait meja redaksi dan institusi, penilaian musik bagus itu harus datang dari konklusi yang bersifat melebar. Dalam arti, penentuannya ga sebatas subjektivitas personal, tapi berusaha mendekati konsep yang lebih mengarah secara objektif mengenai musiknya.
Misal, suatu musik dikatakan “bagus”, entah karena mempengaruhi gerakan musik tertentu, mendobrak paradigma tertentu, atau bisa menyangkut musik yang punya nilai-nilai terobosan radikal dan revolusioner.
Mana penilaian yang sahih dan bermoral, atau yang melenceng dan keliru? Ini yang masih jadi dilemma, disatu sisi musik memang urusan subjektivitas, jadi mau “secanggih” apapun inovasi musiknya, kalau ga cocok ya apa boleh buat. Di satu sisi juga perlu penilaian yang condong pada objektivitas musiknya, untuk mempertahankan kualitas dari si musik itu sendiri.
Problem ini akan selalu ada, tetapi bukan berarti harus terjebak dalam lingkaran ouroboros itu selamanya. Usaha-usaha buat memperluas nilai apresiasi dan menghubungkan koneksi multiversal musik pada kondisi intuisi seseorang dalam merasakan musik harus setidaknya digaungkan secara sistemik, entah bisa lewat media, acara-acara musik, edukasi, dan lain sebagainya.
Sehingga, ini bisa memicu sisi kecenderungan diri yang lebih natural buat seseorang akhirnya tergerak mengeksplorasi khazanah dan apresiasi musiknya. Dibandingkan menggunakan kesadaran “individualis” yang seolah “memaksakan” perkembangan di tengah iklim dan industri yang belum mendukung untuk bisa menunjang aktivitas pendalaman “intelektual” apresiasi musik secara jangka panjang.
Dengan begitu nanti bakal terbuka jalan diskusi baru mengenai perumusan ulang, mengenai apa kerangka konsep dan perhitungan untuk mengukur sebuah musik dalam kategori “bagus”.
Tapi sebagai pemanasan, tidak ada salahnya untuk meraba-raba dulu sendiri penjelajahan apresiasi musik dengan rekomendasi 5 artist di bawah ini. Siapa tau, selain bisa menemukan selera “baru” yang cocok juga menambah katalog lagu “bagus” yang masuk ke dalam kantong subjektivitas pribadi.
sonkhiri siprachuap – siang khlui ban na
Luk thung nunjukkin bahwa, ini adalah musik yang murni lahir dari rakyat, bukan dari meja redaksi, institut musik, ataupun sorot lampu. Banyak dari bintang luk thung, awalnya adalah warga kelas pekerja yang mayoritas petani, contohnya Sonkhiri Siprachuap. Lahir dan besar di Provnsi Samut Songkhram, Sonkhiri memilih putus sekolah buat bekerja di perkebunan kelapa sawit milik keluarga.
Sonkhiri kemudian pindah menuju kota Prachuap Khiri Khan, dan bekerja di perkebunan nanas. Pada masa istirahat, Sonkhiri sering menghibur peker lain dengan menyanyikan ulang lagu-lagu milik legenda luk thung, Khamron Sambunnanon. Secara diam-diam Sonkhiri bermimpi menjadi penyanyi tenar dan ia mengikuti audisi untuk masuk grup Payong Mukda, tapi tidak diterima.
Singkat cerita Sonkhiri tampil bersama grup ramwong lokal setempat, hingga akhirnya karir menyanyi Sonkhiri melejit setelah membawakan ulang lagu maestro luk thung, Phaibun Butkhan. Bentuk luk thung di era 60’an hingga 70’an udah kecampur dengan instrumen-instrumen barat, dan ini juga turut dirasakan dalam cita rasa album ini mulai dari jazz, musik klasik modern, sampai psychedelic rock.
Tapi tetap berasa otentik, dikarenakan tema lirik album lebih nyeritain keseharian petani, yang mana beda sama kultur Barat yang serba urban. Sonkhiri memilih untuk menyanyi lepas tanpa banyak bikin phrasa atau ritme vokal.
Ditambah dengan gaya vokalnya yang lembut dan instrumen-instrumen string tradisional bikin musiknya bisa ngasih gambaran gimana kehidupan pertanian di pedesaan yang asri, sejuk, dan belum banyak polusi suara yang masuk. Sayangnya ketenaran Sonkhiri gak bertahan lama. Sonkhiri meninggal di tahun 1972 akibat kecelakaan mobil.
Rekomendasi track : “siang khlui ban na”, “nao lom thi renu”, “mon rak mae klong”, “mae krathon ho”, “thung san sathuean”, “num krapao”, “khet laeo”, “phra in chao kha”
Arai Akino – そらの庭
Bikin musik yang cenderung disukai banyak orang, tidak selalu menjadi pencapaian puncak seorang musisi. Kepuasaan tertinggi seorang musisi adalah bisa mengartikulasikan ide-ide dan menghasilkan karya sesuai hasrat, tanpa takut apapun. Kenekatan seperti ini udah pernah dijalani oleh Arai Akino, pada masa awal karir.
Awalnya, penyanyi gadis kelahiran Tokyo ini, merilis album debut, “Natsukashii mirai” (1986) yang memainkan gaya musik synth-pop populer Jepang 80’an atau istilah khususnya, Techno kayo. Arai Akino, bahkan berkesempatan untuk mengisi soundtrack anime “Kurau Phantom Memory” dengan salah satu lagunya berjudul “懐かしい宇宙”.
Tetapi mendadak setelah Arai Akino membuat album techno kayo dan soundtrack anime, Arai merubah total tampilan suaranya pada album “そらの庭”. Elemen gemerlap lampu pancaran synth meredup dan ketukan mekanis drum menghilang.
Tergantikan oleh gubahan elemen string, dan pukulan perkusi dengan suara menggelegar bombastis. Tarikan vokal mengikuti penyesuaian, ketika Arai Akino bernyanyi teknik vokal operatic, berusaha tetap mengendalikan resonansi getaran suara tetap kokoh di atas riuh instrumen.
Konsep instrumentasi yang punya kedalaman tematik dan keutuhan nuansa juga yang mendorong vokal Arai Akino melenggak-lenggok bikin improvisasi vokal halus, merdu, atau mengeraskan suaranya.
Alhasil bisa bikin bounding emosional berbeda setiap lagu, sebelum lebih dalam memeriksa makna lirik. Setelah membawa elemen classical, ambient, folk, art-pop dalam satu pelataran, Arai Akino pun merasa perlu mendapat perlakuan istimewa dari segi produksi.
Mixingnya kinclong dalam arti, instrumen utama dinaikin suaranya sekaligus diberi jarak ruang yang cukup antara instrumen. Alhasil hasil album kedengeran tegas, jernih, dan ga saling tumpang tindih.
Rekomendasi track : “Reincarnation”, “小鳥の巣, 空から吹く風”, “仔猫の心臓”, “Omatsuri”, “アトムの光”, “Black Shell”, “Solitude”, “妖精の死,”, “人間の子供”, ” Little Edie”
Sophia Djebel Rose – Métempsycose
Musik folk selain menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat “akar rumput”, juga sebagai alat kesadaran kebudayaan individu yang terikat suatu komunitas.
Orang Argentina akan cenderung suka musik folk Argentina, karena menyadari status inheren sebagai seorang kelahiran Argentina. Tapi gimana kalo musik folk justru untuk membebaskan individu dari sekat-sekat identitas kebudayaan?
Sophia Djebel Rose nawarin pengembaraan jiwa dan pencarian eksistensial ini lewat setiap tembang yang keluar dari lolongan batin yang membeku. Tidak ada irama-irama pengiring tarian rakyat, dan selebrasi kehidupan.
Keberadaan suara yang terkesan senyap, hanya terdiri atas seutas kesunyian yang terus berjalan lurus tanpa tujuan, dentingan akustik gitar minim ekspresi, dan vokal lirih dari Sophia sendiri.
Meski ada elementer-elementer lain yang masuk seperti psychedelic, beberapa alat instrumen tradisional, dan gaya vokal ala chanson, Sophia Djebel Rose tetap bikin batasan musiknya kabur dan sulit terdefinisikan.
Terlalu gelap untuk gaya musik puitis ala chanson, sekaligus kesunyian dan alienasi yang terlalu nyata untuk gaya musik psychedelic yang banyak bermain di ruang imajinasi. Tetapi dari situ, Sophia ngajarin satu hal bahwa terkadang sesuatu tidak bisa dipandang dengan cara reduksionis seperti itu.
Sophia meresonansikan sebuah kesadaran mengenai penerimaan menyeluruh, bahwa untuk bener-bener ngerasain hidup, perlu adanya interaksi keintiman secara totalitas pada kehidupan itu sendiri.
Rekomendasi track : “Le Palais, Vénus”, “Le Diable et l’Enfant”, “La Louve, La Clairière”, “La Clairière”, “Blanche Canine”
Melissa Aldana – 12 Stars
Sampai saat ini masih menjadi pertanyaan sekaligus misteri, tentang kekosongan tempat dari wajah yang ditinggal skena jazz saat ini. Kalo ngomongin figur yang sangat dihormati hanya dari ruang lingkup sesama penyuka jazz, mungkin banyak
Tapi kalo nyari sosok yang gaung namanya kedengeran di seantero penikmat musik, harus dibilang masih belum ada saat ini. Dulu ada Miles Davis, John Coltrane, Louis Armstrong, sampe yang terakhir era-era smooth jazz 90’an, dimana Kenny G sebagai poster-boy kontroversial.
Sulit untuk nyari alesan pasti dari fenomena ini, mungkin gabungan dari selera musik pasar yang semakin menjauh dari jazz, tuntutan yang serba tinggi kalo musisi jazz harus bikin karya se-inovatif inovatifnya buat dikenang (Miles Davis dengan penemuan modal jazz, atau Coltrane dengan lagu fenomenal Giant-Steps nya), atau justru musik jazz udah kelewat nyentrik dan susah diikuti.
Melissa Aldana, bisa meyakini kalo improvisasi nyentrik itu masih ladang utama daya tarik jazz. Melisa pemain tenor saksofon, sekaligus pemimpin di ansambel-nya memilih bentuk musik post-bop yang memang punya kelulasaan buat membunyikan not di luar tangga nada umum, swing ritme tapi punya gaya yang lebih bebas dan sinkopasi dibanding musik be-bop yang kerasa lebih selaras.
Improvisasinya memang ga kedengeran seheboh musik free jazz yang terang-terangan ngasih banyak pola-pola not bersinggungan ke telinga, improvisasinya lebih terasa di dinamika, dan penempatan instrumen di ruang dan waktu. Melissa bukan tipikal pemain yang niup saksofon sekenceng-kencengnya. Lebih bisa menahan diri, bikin membaur sama instrumen lainnya seperti piano, suling, gitar elektrik non distorsi, yang emang karakter bunyinya halus.
Alhasil bikin artikulasi perpindahan not nya lebih stabil dan effortless meski neken banyak not sekalipun. Kualitas produksi dan keseimbangan dinamika instrumen bikin album ini scalable, dalam arti mau dinikmati volume kecil jernih kedengeran dan lebih santai. Sementara kalo didengerin volume besar suaranya ga tumpang tindih.
Rekomendasi track: “Falling”, “Intuition”, “Emilia”, “The Bluest Eye”, “The Fool”
Faetooth – Labyrinthine
Doom metal lebih banyak dapat sorotan sebagai musik yang punya titik puncak nyeritain keputusasaan, kematian, pesimis, dan ketakutan akan hari kiamat. Tapi yang mungkin luput dari kebanyakan orang, bahwa doom metal bisa mengisi sisi yang lebih anggun, elok, dan sedap secara aural.
Ada beberapa-sub yang ngasih komplementer kedalaman suara yang ga melulu bikin riff stem rendah dan drum suara berat, yaitu doomgaze dan ethereal wave. Nah, Faetooth ini ada dalam lingkaran persenggama hubungan alot ini.
Alot, sebenarnya karena seperti tampak ada paradoks walau sebenarnya nggak ada. Dalam album ini, meski porsi elemen doomgaze yang ngasih petikan gitar bersih nan cair ala post-metal, dan hamparan noise sebagai bantalan latar dari shoegaze, itu bukan buat melemahkan unsur gloomy dari doom metal.
Malah jadi bisa bikin nuansa “kesuraman” dinikmati oleh bahasa emosional yang lebih umum, dibanding harus berusaha ngerti dulu kalo doom metal itu nyeritain hal semacam itu.
Polesan vokal ethereal wave, yang sengaja dibikin paling bersinar, kedaleman reverb melimpah, secara kasat pendengaran memang tampak seperti menampilkan kemerduan dan kehalusan clean vocal.
Tapi sebenarnya itu bisa jadi siasat untuk mewujudkan 2 hal. Pertama, karena album ini ngangkat kisah-kisah spiritual jaman dulu, alunan vokal malah bikin nuansa mistik, seperti roh-roh “leluhur” yang turun melayang-layang dan nyeritain kisahnya sendiri. Kedua, sebagai pelengkap buat bikini kontras yang ekstrim.
Jadinya bikin rentang emosi semakin luas dari yang marah dan berapi-api dari riff berat, dan teriakan yang bikin tenggorokan sobek, dengan suara merenung dari senandungan vokal dan petikan gitar. Intinya, secara suara bisa nampilin kontras, tapi untuk urusan nuansa doom metal akan tetap terkurung dalam ratapan bawah kubur.
Rekomendasi track : “Death of Day”, “It Washes Over”, “Hole”, “Eviscerate”, “Mater Dolorosa”, “Meet Your Maker”
Baca Juga : Melangkah Tanpa Wajah…





