Seperti-Apa-Menjadi-Diri-Sendiri-Itu?

Apa, maksud dari menjadi diri sendiri itu? Apa itu karakter? Apa itu Jati Diri? Apa itu Sifat bawaan? Apakah itu berarti harus mengantri di pasar minggu beli stargazer sambil melihat tukang bakso yang punya kentongan terbuat dari tsubasa ozora? 

Rasanya keamanan di negeri ini akan semakin bertambah, ketika pak Zulfi kumur-kumur dengan kuah sarden bekas buka puasa. Sungguh fenomena langka melihat kumpulan lebah menyengat wajah meninggalkan bekas crayon shinchan di lesung pipit.

Nunggu di depan pintu, katanya jodoh berkurang setengah. Tapi yang ada malah dihampiri biawak berkepala Donny yen, dan punya sayap ibu peri dari sinetron “Bidadari” season 2. Jangan pernah ngantri beli nasi goreng lama-lama tengah malam. 

Di sana suasananya angker, sekitaran gerobak banyak penunggu penasaran. Anehnya, tukang nasi goreng malah girang ketika kedainya memiliki banyak penunggu. “Alhamdulillah dagangan laris”, pungkas tukang nasi goreng. 

Atribusi yang terberi dari praduga yang terselubung konsensus justifikasi temporal, mana bisa kemudian ditangguhkan menjadi validitas pengekang derajat ontologis seseorang? 

Apa yang membuat denominator dari wilayah eksternal yang tidak berada dalam himpitan interelasi jiwa, tubuh, dan kesadaran, merasa yakin bahwa jaring kebenaran, memiliki tahapan taksonomi yang lebih luhur, sebagai kedekatan predikat dalam identifikasi yang tak pernah menyentuh ranah apriori sintetis? Sebuah bentuk kekejaman, penghinaan sekaligus perbudakan metafisis, ketika ilusi kegilaan mampu menyulap hasrat Dionysius menjadi Narsisus. 

Dalam realitas semu yang telah dijatuhkan derajatnya menjadi permainan mata normatif moralis, setiap keping tubuh diharuskan pergi pada asketisme. Ketika hegemonitas kesucian menjadi ekstasi psikotropika yang mentransendensi terhadap kebenaran faktual ilusi kosmis. Apa yang terjadi dampak setelahnya? 

Nihilisme kronis menggerogoti setiap saraf, membangunkan tubuh dari ranjang impian dipenuhi mimpi dan fantasi kebohongan. Untuk setiap siklus yang terpatahkan ketika menyentuh ruas lingkaran, jalan pro mortalitas adalah pegasus berikutnya untuk membawa tubuh subtil terbang bersatu dalam zat substansi kekalan. 

Sebuah ironi, ketika ketelanjangan manusia untuk meraih jalan kebahagiaan dalam hidup telah dianggap biadab dan terbuang, hanya karena awan tebal menyelubungi setiap pandangan, hingga saling menikam sekat tulang rusuk akibat tak lagi mampu melihat belantara kehidupan secara keseluruhan. 

Mengapa orang gila, dianggap meresahkan masyarakat? Ketidaksanggupan mengendalikan mekanisme motoriknya, jelas lebih dikhawatirkan karena khawatir melukai dan mencederai seseorang. Tapi, bagaimana ketika menyelam dalam jurang pikiran yang justru berbisik bahwa dominasi antroposentrisme harus dirobohkan? 

Sehingga meski terkesan sebagai upaya terkutuk, orang gila telah berpikir dalam skala yang lebih kosmis, ketika tidak lagi memandang kehidupan manusia, sebagai poros dari keberlangsungan alam. Orang gila telah sepantasnya menjadi makhluk paling tercerahkan yang pernah melintang dalam lingkaran galaksi. 

Struktur mental yang terkonstruksi tertib bisa terlihat berantakan dalam kaidah linguistik, hanya karena proses komunikasi mental mampu menembus metafora, alegori, personifikasi, dan segala bentuk keambiguan bahasa yang ada. Sehingga timbulah bencana terbesar umat manusia, yakni kesalahpahaman. 

Sembari mencari atau menangguhkan jawaban temporal dari pertanyaan tidak berguna ini, 5 rekomendasi album berikut bisa menjadi proyeksi akan seperti apa kepribadian yang diciptakan ilusi pikiran. Atau justru ke-5 rekomendasi album ini mampu sebagai pembebas dari belenggu kesesatan ide absurd semacam itu.    

Muireann Bradley – I Kept These Old Blues

Diri-Sendiri-Muireann-Bradley-I-Kept-These-Old-Blues

Lahir di daerah perbukitan Sungai Finn, tepat di luar kota Ballybofey, country Donegal, Bradley mulai terbiasa sejak kecil dengan musik-musik blues kuno yang tumbuh di sekitar lingkungannya. Matanya berbinar-binar ketika dia menyaksikan sang Ayah mampu memainkan bermacam-macam lagu blues. 

Bradley baru bisa ngikutin jejak sang Ayah, pada usia ke-17, tepatnya bertepatan dengan perilisan album debutnya, “I Kept These Old Blues”. Bradley bawain ulang lagu-lagu dari musisi blues mississippi, ragtime, delta blues dari era 20’an sampai 60’ an seperti: Mississippi John Hurt, Blind Blake, Brenda Evans, Elizabeth Cotten, Stefan Grossman, Rory Block, Robert Wilkins.

Produksi rekaman steril, bikin permainan gitar akustik Bradley yang banyak mainin ritme sinkopasi, petikan lincah ala country-texas blues, dan melodi-melodi double stop jadi lebih tampak.kontras dinamika antar bunyinya. 

Ga ada perombakan aransemen besar-besaran dari versi aslinya, cuman dalam tempo lebih rapi, sehingga kesan “mentah” dari musik blues / country terpoles. 

Lagipun vokal Braudley yang feminim” dan berseri-seri, berasa kumpulan lagu blues di sini, kaya dinyayiin sama remaja cewe yang baru nulis hal-hal indah dalam diary harian. Jadi, rasanya klop kalau Braudley bikin gaya rekaman yang lebih fresh

Dampak Braudley bawain ulang rekaman-rekaman “blues usang”, cukup ketara. Contohnya di kolom komentar Youtube lagu “Richland Woman Blues”, dari Mississippi John Hurt. 

Seseorang ngaku bahwa, lagu bawaan Muireann Bradley yang bikin singgah di sana. Terus, kalo misal iseng googling beberapa judul lagu album ini, google juga munculin lagu versi Braudley, disamping versi asli penyanyi masing-masing.

Rekomendasi track : Richland Woman Blues, Police Dog Blues, Shake Sugaree, Vestapol, Frankie, Police Sergeant Blues, Freight Train

CARTHIEFSCHOOL  – Backmyrage

Diri-Sendiri-CARTHIEFSCHOOL

Kalau misalnya kekurangan atau kehabisan referensi musik cadas bin aneh, tinggal ngelongok aja skena musik di Jepang, serius! Mau cari hardcore, metal, punk, sampe rock yang bentuknya “aneh” dan “ga karuan” ada semua. 

Hebatnya, kualitas maupun kreativitasnya cukup merata, mau dari yang udah punya nama dan go internasional, sampe skena underground-nya. Contohnya ada CARTHIEFSCHOOL trio experimental rock yang baru terbentuk tahun 2016 di Sapparo. 

Abrasif, atonal, agresif, berisik, adalah kata-kata yang tepat buat deskripsiin album ini. Mungkin sebenarnya bisa lebih, jika ada kata lain yang bisa ngegambarin kebinalan album ini. 

Ga usah kaget pas dengerin musiknya tiba-tiba keingetan alunan post-punk yang ngasih ritme getir, psychedelic rock yang bisa bikin tubuh dan pikiran kepisah, feedback noise dan gitar yang sengaja ngacauin konsep kemerduan ala noise rock, tempo fluktuatif rusuh math-rock, dan riff-riff gitar dengan distorsi kasar dan kotor kaya garage rock

Hal lain yang jadi “biang onar” di album ini adalah departemen vokal. Meski pake gaya vokal yang ngingetin sama serak-serak ala screamo / post-hardcore, tapi vokalnya kaya disusupi “roh-roh” jahat. 

Warna vokal tentang putus asa, depresi, kesedihan yang biasanya melekat dalam jenis musik ini, sirna seketika. Tergantikan dengan hal destruktif dan seolah punya sifat “kaustik” yang bisa ngebakar kulit. 

Bagusnya, kualitas produksi keseluruhan ga asal-asalan. Garis bass berasa dan bikin bobot album ini jauh lebih berat, Ritme drum punchy dan setiap gerak-gerik dan pola aksen simbalnya kedengeran jelas. 

Rekomendasi track: backymirage, sapeur, devil’s way, thug machine, Jiken, christ

silica.cue & dotvou – If My Voices Reach You

silica.cue-dotvou-If-My-Voices-Reach You

Kalo mau ngelompokin jenis-jenis musik elektronik, ada genre musik elektronik yang eksplorasi ritme dan timbre gila-gilaan buat bikin badan gerak-gerak ga ketolongan (kaya speedcore, trance, gabber, deconstructed club)

Sebaliknya, ada juga musik elektronik yang malah cocok buat temen melukat. Eksplor hal-hal emosional, batiniah, dan menyentuh spiritual (ambient, slushwave). Drum ‘n Bass’ rasanya fleksibel artinya mau kubu haluan kiri atau kanan juga bisa masuk. 

Untuk kasus album kolaboratif silica.cue & dotvou ini, drum ‘n’ bass mengarah pada bikin musik yang ngedepanin keindahan bertabur melodi, tekstur yang lebih halus, dan nuansa penuh warna. 

Meski breakbeat itu salah satu tulang punggung drum ‘n’ bass, tapi penempatannya terasa hati-hati. 

Temponya, kadang diperlambat, dan penempatan antara breakbeat berikutnya cukup dikasih jarak lebar, biar ga ngerusak alur nuansa album yang emang lebih ngejar ranah emosional.. Sangat jarang breakbeat ber-manuver gigi empat sendirian. 

Buat ngebut pun, diiringi oleh tandem entah itu instrumen yang ngasih timbre lebih halus (gitar akustik, piano), atau direndem sama reverb biar keluar rasa atmospheric-nya. 

Alhasil lagu-lagunya terasa syahdu. Andaikata, album ini nggak di-play secara utuh, bisa-bisa salah kaprah, bisa dianggep musik-musik elektronik / ambient biasa.

Rekomendasi track: Fountain, Life, Magic, Lush, Peeble, Dove, Motif

Santicurado – Arpegio

Jaman sekarang, lagi ngetren jenis hip-hop yang nge-rap nyeleweng dari ketukan. Bukan, berati ngebut ala Eminem atau Tech N9ne

Kasarnya hampir ga dikasih jeda setiap pindah beat dan malah sengaja naro syllable, alias bikin rima nya lebih rapet. Banyak aktor dan rapper yang “bertanggung jawab” ngelahirin rap semacam ini. 

Santicurado jadi rapper underground kesekian, yang terdaftar dalam jenis rap abstrak. Lahir di Buenos Aires, Argentina, Santicurado berkolaborasi dengan rapper-rapper bawah tanah setempat, hingga akhirnya dia bisa rilis album debut solo ini. 

10 lagu dengan durasi 22 menit, yang berarti Santicurado dan kawan ga punya banyak waktu buat unjuk skill. 

Siasatnya, ngebut pake gaya ritme triplet seperti di lagu “Santicuado X Orquesta Mala Onda”, atau seperti rima ala frasa saxophone free jazz di lagu “Me at the Zoo”. Gaya nge-rap santai sambil lompat-lompat ngomongin banyak topik. 

“Fender” dengan protes terhadap kapitalisme, lelucon absurd, sampe nasehat. Braggadocio lirik yang dibungkus perayaan hidup seperti di “Ruido Rojo”. Memang album yang pas buat berfantasi liar. 

Dari cuplikan intro film kartun 40’an dari lagu pembuka “Introducción”, “Zooperficies de A.R.S.O.N” yang punya kolorasi instrumen gaya utopian virtual, sampai teriakan emosional soul di “Skit.Noblezaotorga” memperlengkap paket ke-absurdan album ini.

Rekomendasi track: Zooperficies de A.R.S.O.N, Santicuado X Orquesta Mala Onda, Fender, Ruido Ruji, Me at the Zoo, de Julio

Kay Huang – 沒有你的聖誕節

Diri-Sendiri-Kay-Huang

Rasanya perlu diadakan penelitian mendalam mengenai meledaknya lagi musik city pop. Terlepas dari perdebatan mengenai istilah, musik yang identik dengan gaya perpaduan synth-pop, yacht rock, dan sederet musik populer 80’an ini, ga cuman menjamur di Jepang. 

Di Indonesia, China, Korea Selatan, bahkan di Taiwan sekalipun dijumpai penyanyi-penyanyi yang bawain style lagu city pop semacam ini. 

Cuman harus diakui, Jepang yang bikin genre ini populer, dan lagi penyanyi-penyanyi mereka memang beberapa udah dikenal dari dulu secara internasional (Akina Nakamori, Tatsuro Yamashita, Seiko Matsuda), sebelum genre ini bangkit lagi akibat “ditemuin” algoritma

Kay Huang sendiri, kalo dilihat dari prestasi domestiknya, termasuk penyanyi Wanita yang cukup dikenal pada masanya di Taiwan. 

Buktinya dia bisa masuk sebagai roster di salah satu label rekaman ternama di sana, 滾石唱片. Tapi kalo ngomongin sama fans luar, eksistensinya berasa jadi artis bandcamp yang baru upload album 5 hari lalu. 

“沒有你的聖誕節” ini seperti bentuk persatuan, antara budaya-budaya hedon ala city-pop dengan kegalauan dari musik-musik ballad ala pop mandarin. Tipikal vokal Kay Huang sendiri, lebih serak dan mature, jadi emang cocok nyanyiin lagu dengan tema romansa dan kegelisahan cinta. 

Cuman berkat ketukan ritmis mesin drum di album ini, bikin lagu-lagu ballad di album ini, ga “selembek” musik-musik mandarin yang suka diputer di restoran-restoran. 

Mungkin itu juga jadi salah satu alasan, kalo orang lebih akrab sama musik-musik mandarin atau mandopop berjenis ballad, ketimbang musik city pop yang serba teknologi dan danceable seperti ini.  

Rekomendasi track: 沒有你的聖誕節, 羅曼史, 時髦寵兒, 黃色點唱機, 帶電女孩, 水晶球,  童年往事

Baca Juga : Gara-Gara Short Video, Denger Musik Makin “Ga Karuan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *