Soulreaper-3-Cover

SOULREAPER adalah segmen yang membahas tentang perkembangan musik metal, rock, hardcore, dan jenis musik lain yang sering dianggap sebagai musik “ekstrim” dalam pandangan umum tentang keindahan.

Sebuah konseptual bersifat abstrak dan atonalitas yang menghasilkan divergensi terhadap pengalaman mental seseorang akan kebenaran apriori terdahulunya terhadap musik yang didengarnya, merupakan sebuah kemenangan bagi kebebasan seni.

Prinsip yang secara paradoks menyokong kebesaran pergeseran seni menuju wilayah baru yang tidak mampu di transendensikan pada level mental seseorang saat itu, hingga akhirnya proses penyesuaian mengambil kendali apakah kelayakan telos untuk dibongkar ulang atau justru menjadi negasi secara totaliter. 

Tidak dipungkiri seni masih mampu bekerja secara efektif sebagai pendongkrak kesesatan status quo yang telah di komodifikasi pikirannya dengan memandang seni hanyalah sebagai komoditas yang tidak mampu menghasilkan sinapsis-sinapsis baru.

Anggap saja seni seharusnya merupakan cerminan perkembangan sinapsis, ketika sinapsis itu tidak lagi menambah koneksi dan jaringan neuron baru maka matilah kreativitas dan kemandekan datang sebagai ajal seni.

Itu tidak datang hanya sebatas proses eksplorasi yang nihil dalam menentukan batasan, tetapi sebenarnya secara tidak langsung sedang melakukan sebuah uji sifat kualitatif yang tidak mampu ditafsirkan dengan bagian pemikiran yang bersifat matematis dan empiris. 

Seharusnya persepsi dan memandangnya tidak bisa hanya didasarkan pada objektivitas dan positivisme logis semata, melainkan melihat lebih dalam mengakar pada substansi musik eksperimental itu sendiri yang akan selalu menjadi advocatus diaboli daripada sisi dirinya yang telah diturunkan dan hanyut dalam proses rekaman yang dipakemkan, seperti seekor hewan yang telah disiram air keras.    

Para Orang Tua & Leluhur

Soulreaper-Fallujah-Xenotaph

Salah satu keunggulan mereka yang telah berkibar dan memiliki nama besar terlebih dahulu, memiliki sejarah yang diketahui khalayak luas. Fragmen itu dapat digunakan sebagai batu loncatan, koleksi memori, atau bahkan jebakan yang dapat melengserkan dari tahta kejayaan.

Fallujah sempat menjadi korban masa lampau, ketika mereka melepas “Undying Light(2019). Dinilai gagal mencerminkan konsistensi, kualitas, dan kredibilitas yang mereka bangun, akhirnya Fallujah mengembalikan elemen technical death metal dan keindahan abstrak pada Empyrean(2022).

Namun, “Xenotaph” sendiri bukan lagi sebuah album penebusan dosa, di sini mereka hanya menajamkan pada apa yang dirasa bekerja dengan baik. Gaya atmosferik technical death metal mereka dipertebal dengan gaya rekaman yang lebih tegas dan steril, serta utilisasi vokal non-growl yang semakin berseliweran.

Gruesome yang sedari awal diniatkan sebagai band tribute DEATH, ingin mengulang kembali sejarah kejayaan dari sang legenda death metal Florida tersebut. Kali ini mereka sedang berada di fase transisi peralihan DEATH dalam era album “Spiritual Healing” (1990) menuju “Human” (1991). Replikasi yang terlihat jeli dan teliti, dimulai dari pemilihan efek gitar yang menyerupai, pola-pola ritme drum, dimana sang penabuh drum Gus Ríos berguru langsung pada innovator asli, Sean Reinert sebelum berpulang, dan menampilkan kecenderungan arah musik yang lebih progresif, dibanding ke-2 album Gruesome sebelumnya.

Katatonia memiliki rentetan sejarah panjang dan telah bermetamorfosis ke dalam beberapa format genre berbeda, meski dialiri dengan benang merah yakni sebagai profesor dan psikoanalis yang ahli menafsirkan seperti apa rasanya depresi, kecemasan, dan kesedihan mendalam. Dalam karya terbarunya ini, Katatonia tidak mengutak-ngutik gaya musiknya, dan cenderung nyaman dengan gaya alternative gothic metal dengan kontras warna vokal Jonas yang halus dan meratap. Jikapun ada perubahan yang terasa, itu terjadi hanya pada peremajaan cara eksekusi bukan perombakan total.

Soulreaper-Gaahls Wyrd -Braiding the-Stories

Gaahl memiliki rentetan sejarah kontroversial. Mulai dari insiden krackow (2004), deklarasi preferensi orientasi seksual, hingga berusaha merebut nama “Gorgoroth” dari tangan sang pendiri sekaligus gitaris utama, Infernus – semuanya dipandang sebagai catatan hitam, atau mungkin justru tampak seperti lelucon. Gaahl’s Wyrd secara implisit adalah proyek Gaahl yang berambisi untuk melalui “catatan kotor”-nya.

Gaahl membuktikan dapat mengomandoi proyek menuju arah yang benar, melebarkan sayap musikalnya hingga menyentuh teritori progressive berpadu dengan gaya nordic dan attitude dari black metal yang melekat padanya, hingga memantapkan diri untuk menanggalkan teknik vokal jeritannya, untuk bernyanyi dengan nada yang halus.

Eksplorasi pada atmosfer dan kesatuan fenomena lebih terasa dalam album ini, ketika elemen ambient dan banyaknya lagu yang memiliki built-up utuh. Apabila Gaahl berusaha mensucikan diri dari pengaruh black metal menuju gaya yang lebih membumi dan menyentuh kultural leluhur, Hexvessel justru merangkul elemen mistisme black metal untuk melakukan perjalanan spiritual yang transenden dari sekedar kunjungan balik pada musik tradisional.

Mereka telah menerapkannya pada album sebelumnya, “Polar Veil”, namun kisah semakin menghitamnya suara mereka berlanjut. Alunan interval nada tidak hanya dialiri melalui musik nordic folk, tetapi juga pada distorsi dan riff yang akan mengingatkan pada gaya dari band sejenis Borknagar, Ihsahn, hingga Enslaved. Kendati black metal menjadi bagian yang penting, aransemen mereka tetap sinematis, dan mengedepankan alur maupun atmosfer.

Tempo yang lebih lambat dipinjam dari doom metal kemudian dipadukan oleh vokal-vokal halus yang berhembus dan bergentayangan. Setiap kali Lord Belial melepas album baru, mereka akan pergi pada konsep Reinkaos (Return to Chaos). Tidak pernah sedikitpun di pikiran mereka, untuk berpaling menjauh dari black metal, meski telah berdiri selama 3 dekade, dan merilis begitu banyak album studio.

Pendirian itu, bahkan sampai saat ini tidak bergerak sedikitpun. Gaya black metal Swedia yang terasa lebih “menyiksa” dan menghujam secara agresivitas, diperkuat. Selain merilis materi baru, Lord Belial secara implisit menaruh “penghormatan” pada rekan-rekan sejawatnya. Gaya riff-riff powerchord yang padat dan berpindah dengan gesit, seperti diambil dari gaya Marduk awal, ketukan blast-beat yang intens dan berada pada level norsecore-ish, memutar memori pada keganasan Dark Funeral.

Lord Belial dikenal sebagai salah satu pionir yang mendalangi pergerakan melodic black metal, dan atas dasar itulah mereka kerap melemparkan riff melodis, atau elemen simfonik. Austere sendiri telah memiliki album “To Lay Like Old Ashes” selaku jejak dsbm / blackgaze yang monumental, sebelum mereka “hiatus” untuk waktu yang lama.

Pasca kembalinya Austere dari “pencarian spiritualnya”, mereka memutuskan mengubah musiknya. Hingga detik ini mereka tidak mendasari keputusasaan yang direntangkan dalam riff tremolo abrasif yang melodis dan terikana menyayat dari gaya depressive black metal. Mereka merangkul elemen gothic metal atau bahkan gaya melodic death yang diperlambat dengan tempo doom metal, untuk menambahkan layer kompleksitas secara dinamika emosional.

Mereka semakin mempertebal cakupan riff untuk melempar hook atau garis yang lebih groovy secara irama dibandingkan dikaburkan oleh distorsi yang bisingan. Secara melodi maupun harmoni, mereka menambahkan lapisan yang terasa sinematik ketika garis melodi yang tebal berjalan melintasi vokal atau ritem latar. Teriakan siksaan mereka masih tersisa, tetapi kemudian tumbuh vokal-vokal halus yang lebih memelas.       

Soulreaper-Putridity-Morbid-Atraxia

20 tahun lamanya Putridity berupaya membangun legiun sejarahnya melalui gaya brutal death metal yang buas, namun secara kerenyahan suara dan orisinalitas yang menonjol. Momentum itu baru mereka dapat 1 dekade silam melalui “Ignominious Atonement”, dan perlu menempuh waktu 1 dekade lamanya, untuk Putridity mengukuhkan mahkota yang menancap.

Sebagai salah satu pionir dan kiblat untuk arah suara brutal death metal modern, mereka kembali membuktikan tidak berkarat sedikitpun meski telah menjalani hibernasi yang membeku. Pedal ganda yang lebih dibiarkan berlari, alih-alih menghentak dengan blast-beat tradisional, distorsi gitar yang terasa tebal namun padat dan mengirimkan irama groovy masih menjadi fondasional mereka yang mempertahankan konsistensi kualitas mereka.

Putridity memang memiliki keluwesan pergantian pola teknis permainan drum, Andrea “Ciccio” Aimone yang memiliki warna vokal menggeram bulat dengan gaya old-school death metal ikonik, dan jangan lupakan riff-riff yang memotong selayaknya pisau jagal, yang memberikan kedalaman brutalitas dan “seni pembusukan” yang terasa alami.

Untuk Cryptopsy, mereka telah merasakan seluruh fase yang terjadi dalam sejarah mereka. Sempat diagung-agungkan dan ditasbihkan sebagai salah satu “raja” death metal / technical death metal sekolah lama, kemudian dilepeh dan dicap sebagai Judas Iscariot, ketika mereka melepas “The Unspoken King” (2008) bernuansa deathcore, yang acap kali menjadi genre pemicu sentimen para puritan death metal.

Kali ini mereka berusaha menciptakan dinasti baru tidak dengan cara berpaling pada jalan yang mereka tempuh. Anggap saja “The Unspoken King” selaku titik lembah kelam, sekaligus awalan baru. Album ini masih menarik benang merah serupa, walau kondimen yang ditawarkan berbeda. Mereka masih menggunakan gaya rekaman deathcore modern, dan bahkan memberikan ornamen-ornamen simfonis dan melodis pada riff gitar maupun efek rekaman.

Vokal Matt McGachy akan terdengar seperti tarikan suara Corpsegrinder (Cannibal Corpse) dan bahkan melakukan interplay dengan jeritan vokal deathcore. Kegilaan yang diimbangin dengan kejeniusan mengubah haluan setup ritmis drum dari Flo Mounier (sang penabuh drum orisinal) masih melekat dan sekaligus menjadi senjata andalan album ini.

Jika Cryptopsy sang gagak yang berusaha merebut kembali mahkota dengan susah payah, timbul sesosok “raja baru” yang tengah bersiap mencatat peristiwa bersejarahnya. Shadow of Intent dianggap sebagai juru selamat, bagi komunitas deathcore modern saat ini yang mulai dilanda kekeringan inovasi dan stagnasi melahirkan pangeran baru.

Sejauh ini, Shadow of Intent tidak pernah gagal melejitkan ekspektasi, dan angin segar sepertinya berhembus kembali di hadapan wajah keempat pria asal Amerika ini. Mereka memahami bahwa Trikotomi performa powerfull vokal Ben Duer dan dinamis dalam mengganti warna vokal, gaya rekaman yang bombastis dan meledak-ledak di wajah, serta teknikalitas yang diimbangi dengan atmosfir musik yang gelap nan simfonik menjadi aset utama, dan hal-hal tersebut yang semakin ter-utilisasi.

Perkembangan mereka tidak berada dalam skala horizontal, yang mencoba merangkul elemen-elemen baru atau jenis musik yang belum pernah mereka masukan sebelumnya. Mereka melakukan pematangan konsep secara vertikal, mengartikan pergi pada penggalian metode yang lebih efektif, seperti mencari timing yang tepat untuk melempar solo gitar, menggelar latar suara yang memanfaatkan momentum dan timing untuk mendramatisir sekaligus memberikan kepastian variasi, serta menempatkan breakdown dahsyat mereka sebagai punchline yang klimaks dan tidak menjadi barang murah yang kehilangan unsur kelangkaan karena secara terus-menerus beredar. 

Soulreaper-Sodom -The-Arsonist

Barangkali terlalu lama berada dalam tahta singgasana dapat memberikan kebosanan. Sodom yang lahir sebagai satu dari 4 titan teutonic thrash metal (Kreator, Destruction, Tankard) berjaya selama hampir 50 tahun. Mereka sempat berada dalam fase kemunduran, namun tidak membuat ekspektasi terjun ke dalami jurang yang menganganga.

Sodom hanya melakukan efisiensi, ketika menyederhanakan bentuk musiknya menuju punk metal dengan gaya yang lebih disederhanakan dari thrash metal, namun punk sendiri menjadi salah satu pengaruh sekaligus elemen yang membuat Sodom dapat menarik garis pembatas dengan kerabat-kerabatnya di Jerman atau bahkan gerakan thrash Amerika.

Album terbarunya tidak jauh dari formula template thrash metal lawas mereka dengan gaya yang lebih punkish dan tetap “kotor” jika dibandingkan dengan rekaman modern thrash metal saat ini. Kali ini sang vokalis Tom, tidak hanya menggeram dengan gaya vokal black metal gelombang pertamanya yang tampak jahat, dia berusaha meniru jeritan iblis dari “Tom Araya” (vokalis Slayer), bahkan sang gitaris, Blackfire mencoba mengintegrasikan Slayer dalam album “South of Heaven” (1988) ke dalam permainan riff-nya.

Seperti yang telah menjadi ekspektasi rutinitas bari penggemar thrash, tidak ada ekspansi, maupun perebutan teritori musikal baru, hanya memperkuat benteng dan serangan meriam yang ada. Tetapi selalu ada ruang untuk melakukan praktik Kaizen meski dalam ekosistem homogen, dan ini yang ditunjukkan oleh Heaven Shall Burn.

Setelah mereka meledakan ekspektasi pada “Of Truth and Sacrifice” (2020) 5 tahun silam, kali ini adalah memperbanyak jumlah serangan dan memfokuskan pada target yang sama. Serangan gaya patahan riff yang melodis sekaligus menghasilkan kerenyahan dari gaya gothenburg melodic death metal (silahkan dengar At The Gates, Desultory, In Flames awal), serta gempuran pedal ganda yang berlimpah semakin diperbesar cakupannya.

Bahkan mungkin menghalangi pengaruh metalcore trendi awal 2000’an mereka. Gaya vokal Marcus Bischoff yang tetap membara, menyulut kobaran api semangat dan agresivitas pada album ini. Mereka meletakan elemen musik EBM, industrial hanya sebagai bentuk penghormatan pada band-band yang telah berjasam bagi mereka.  

Fairyland telah berada dalam bayangan fantasi kayangan yang melayang selama 2 dekade lebih. Mereka mungkin tidak memiliki catatan sejarah panjang, tetapi “Of Wars in Osyrhia” (2003) menjadi pulai fantasi yang wajib dikunjungi bagi penggemar power metal yang penuh sihir magis, naga, dan pertempuran epik. Mereka telah lama tinggal di tanah impian, sehingga tidak ada alasan untuk membongkar apapun yang tertanam.

Hanya sedikit pemanis, ketika mereka mendapatkan kibordis baru, dan vokalis lama mereka, Elisa C. Martin yang kembali mengisi vokal pada salah satu lagu. Gaya Fairyland, tidak didasari pada permainan gitar sweep arpeggio yang berkelok-kelok dan gesit semacam Rhapsody of Fire, atau menekankan kekuatan pada gemuruh pedal dan riff-riff tajam bergaya metal 80’an seperti Blind Guardian, Iced Earth, dan Gamma Ray.

Gaya musik mereka terasa seperti sebuah narasi cerita, tersusun dalam konsep yang rapi terbentuk dari build-up per segmen yang lebih sabar, dan bertaburan elemen simfonia. Berbeda dengan Alestorm, sejarah dan kenyamanan menjadi tidak dibutuhkan untuk sang penjelajah seperti mereka. Mereka meyakini bahwa setiap tanah dan pulau yang dijelajahinya melahirkan petualangan yang menarik mereka untuk hidup dalam momen sekarang, bahkan mereka terlalu mabuk untuk mengingat sejarah.

Sang kapten mengendarai flying dutchman berlandaskan pada kompas Jack Sparrow, membawa kapal pada teritori yang akan membuat pematahan ekspektasi dan terkadang membingungkan. Selain dikenal memadukan gaya musik tradisional ala bajak laut, dengan semangat berlayar dari power metal, mereka jauh bereksplorasi pada gaya elektronik, hingga folk metal dengan geraman growl seperti gaya yang diperkenalkan oleh pahlawan nordik, Ensiferum.

Gaya power metal mereka selain berwarna, dibalut dengan unsur yang komikal, bahkan mendengar Gloryhammer bisa dianggap lebih serius. Mereka melemparkan chorus-chorus anthemic yang gagah, melodi gitar yang lincah, dan irama tarian musik folk yang tersintesisasi dengan elemen elektronik.        

Kepulangan Anak Bungsu

Soulreaper-IATON -Portit-pohjolan

Waktu terus berputar, menyeret pada pembusukan. Siang dan malam silih berganti, namun organ tubuh tertegun setiap harinya menunggu hari penghakiman. Telapak kaki melepuh, terlalu lama menginjak bara api panas. Sembari melangkah terengah-engah, tangan terpasung pada borgol karatan, mata dan telinga tertutup tidak dapat lagi merasakan kebebasan.

Kehidupan serasa kematian, kematian serasa impian, dan impian hanya tinggal khayal. Di tengah raga yang kian sekarat, hanya ada sepercik memori yang sekelebat terpancar, mengenai sebuah tempat hangat, penuh kedamaian, dan rangkulan sukacita. Rumah adalah tempat perhelatan jiwa yang terasing oleh kekacauan dan kepulangannya adalah kerinduan tak tertahankan. 

Rumah bukanlah benteng maupun bunker, tetapi menjadi tempat teraman sekaligus tempat merefleksikan kembali tentang jati diri dan jiwa yang terlalu lelah mengembara. IÄTÖN telah membuktikannya, meskipun kediaman yang berada di tengah-tengah hutan rimbun dan semak belukar sekalipun. Kepulangannya untuk menengok kembali “rumah tua” yang sempat ditinggali oleh para leluhurnya seperti Behexen, Gehenna, Limbonic Art telah memberinya kekuatan kuno yang terbukti jitu membuat kumpulan repertoar black metal monumental. 

Aransemen black metal penuh dengan riff-riff tremolo terus berjatuhan selayaknya badai salju, namun menghasilkan kedalaman emotive nostalgia dari saduran elemen synth simfoni bergaya analog 90’an. Dalam pencariannya yang penuh kejelian (tidak mengandalkan tempo cepat) di tengah kegelapan yang disinari relung-relung, IÄTÖN dapat menapaki 2 jalur sekaligus, menyusuri esensi awal black metal bergaya abrasif, blast-beat yang terus menghunus, dan gemericik vokal sengau satu dimensi, sembari menggali titik refleksi manusia yang paling rapuh, yaitu emosional dengan merangkai bagian riff maupun synth melodis.

Sebaliknya, ketika intuitif mengatakan bahwa, kehidupan nomaden dengan segala bentuk pengembaraan jiwa yang tak pernah letih dan usai justru merupakan persepsi tertinggi dari pencapaian dan kebahagian. Bisa jadi itu adalah sebuah bentuk kepulangan yang secara simbolik digambarkan sebagai kembalinya menyatu tubuh dengan alam.

Deciduous Forest sangat menikmati perjalanan tanpa ujungnya, meski selaput pandangannya tertutupi kabut, dan ruang gerak yang sempit di antara dahan dan dedaunan pohon, dengan udara dingin menusuk. Pandangannya yang terus bergerak dan menjaga perluasannya, membuat sensasi indera bercampur di antara realitas, hantu masa lalu, dan ketidakpastian masa depan.

Terefleksikan bagaimana Deciduous Forest sesekali mengunjungi puing-puing reruntuhan kastil, yang tergores dari guratan pengaruh elemen dungeon synth, atau bahkan elemen yang terasa lebih simfonik. Menciptakan ruang yang lebih sinematis secara produksi dengan menempelkan melodi gitar, tempo yang seperti menuturkan kisah dengan perlahan (perhatikan blast beat maupun tremolo riffing, yang lebih stabil).

Jarum kompas bisa saja menyesatkan pada bagian yang lebih kelam, ketika elemen dari gaya melodic black metal skandinavia (silahkan dengarkan Dissection, Dawn, Sacramentum) menjalar untuk merubah arah aransemen menjadi lebih legam secara nuansa.  

Sargassus hanya dapat membayangkan kapan kepulangan mereka tiba, ditengah perjalanan eksplorasi yang menghasilkan tanda tanya besar. Meski mereka telah melabeli dirinya dengan pergerakan post-metal menuju kerangka musik yang progresif, faktanya Sargassus tidak dapat lepas sepenuhnya pada beberapa corak metal lawas semacam gaya tremolo riffing khas dari black metal Scandinavia (silahkan dengar Borknagar, Arcturus, Enslaved sebagai referensi), melodi-melodi melankolis bersinergi dengan death growl dari melodic death metal (Silahkan dengar In Vain, Borknagar sebagai referensi), letupan drum backbeat bergaya alt-metal, hingga petikan gitar melankolis yang menyentuh ranah nordic folk. Mereka mengambil beberapa pengaruh black metal untuk dipreteli bagian sendu dari setiap bagian, sehingga menghasilkan karya extreme metal yang sarat dengan perenungan dan kedalaman emosional.  

THANATOREAN menjadi pembelok kompas kepulangan spiritualnya. Ketika kebanyakan dissonant metal bergerak secara asketis dan bahkan menolak bentuk-bentuk musik yang memberikan sensasi dan bentuk secara langsung, THANATOREAN justru membuat musik dissonant metal menjadi tidak terlampau esoteris. Gebukan d-beat atau gaya aransemen yang lebih lurus dan sederhana tercecer di sepanjang riff-riff busuk yang mereka mainkan, sementara elemen dissonant hanya bentuk pengejawantahan dari sisi simbolis sonik mereka yang mengalami pendalaman. 

View From The Soyuz - Ubiquitous

View From The Soyuz menemukan kehangatan rumahnya dalam pengaruh melodic metalcore yang sempat bersinar pada era awal 90’an. Patahan riff dwi-fungsi antara mengeskalasi kecepatan dan melodis dari gaya gothenburg melodic death metal sangat dimaksimalkan bahkan membuat replikasi identik. Dengan gaya rekaman yang terasa keruh, dan enggan untuk mengekspansi hibridisasi suara, View From The Soyuz merasa nyaman dengan tipe rumahnya, yang dianggap telah ketinggalan jaman dan enggan untuk mendekorasinya. Menjadikan mereka seolah sebagai salah satu punggawa melodic metalcore yang lahir dalam era kejayaannya.

Berbeda dengan Putrescent, kepulangannya adalah untuk mendekorasi ulang dinding retak, menjernihkan kembali saluran air yang rusak, dan menata ulang furnitur yang berantakan. Menggabungkan sekaligus 4 entitas musik extreme metal, old-school death metal, black metal, doom metal, hingga thrash metal, Putrescent melakukan perbaikan dan polesan pada gaya rekaman mereka yang terasa lebih steril dan menghadirkan bass dengan daya lebih ekstra.

Hasilnya separasi maupun kejelasan intensi artikulasi dari setiap instrumen terasa lebih tajam dan memiliki daya serang berkali lipat. Ketukan triplet yang meluncur menjadi ledakan blast-beat, beradu dengan tremolo riff stem rendah, dan dwi vokal menjadi growl rendah manusia gua dan serangan vokal yang membuat kerongkongan terbakar menjadi episentrum dari keunggulan pengalaman auditori hingga membangkitkan dengan erat asosiasi portal diabolis yang menghitam dan nihilistik.

Selain kecepatan dan agresivitas menjadi senjata primer, porsi doom metal diletakan sebagai tanda rehat yang justru membuat jiwa resah dan gelisah, sebagai tanda penyiksaan lebih dahsyat segera tiba. 

Apa yang terjadi apabila satu-satunya menuju jalan kepulangan rumah, justru dihalangi oleh sebuah batu raksasa? Tidak ada pilihan lain lengserkan, atau hancurkan batu tersebut! Burr Hole maupun LEVEL melakukan hal serupa, ketika jalan kepulangan keadilan dan kesejahteraan manusia terhalangi oleh batu besar yang bernama agenda konspirasi elit, membuat mereka tidak ada pilihan lain selain menghardik batu tersebut.

Burr Hole mengambil pendekatan lebih primitif, dimana mengandalkan serangan sonik yang abrasif dan bising hasil persilangan antara ruang bawah tanah black metal dengan musik-musik punk yang tumbuh dan berkembang liar di garasi dan jalanan.

LEVEL menggunakan kekuatan masokis powerviolence bukan untuk menempelkan bom bunuh diri, melainkan melepaskan rasa sakit internal, dan batin dari tubuh maupun pikiran untuk menghasilkan manusia yang lebih bermartabat. Pada saat itulah mereka dapat meminta kembali keadilan dan kesejahteraan yang telah lama terpasung oleh keserakahan dan ambisi. 

Honorable Mention :

Ukhu Pacha – Yanantin (Black Metal)
Obsidian Spaces – Death Chants Echo from Aphotic Void (Doom Metal)
Indemon – Reclaiming Chaos (Death / Thrash Metal)
Cult of Suffering – By Their Fruits (Melodic Black Metal)
Evildead – Re-Animated (Death Metal)
Somnvs Mortis – Onírica evocación de las auras condenadas (Black Metal)
Masonic Plan – Valley of Shadows (Melodic Death / Black Metal)
Bastard – Sull Putrido Altare Del Salvatore (Death Metal)
Incremated – Eyes Between Worlds (Technical Death Metal)
Водомѣръ – В тёмных водах (Symphonic Black Metal)
HellHunger – The Painful Will of an Ancient Being (Black Metal)
Lucille – Dawn of Destruction (Thrash Metal)
Perpetual Paradox – Deathwish (Metalcore / Groove Metal)
Gravered – Classic Cult to Death (Death Metal)

Temuan Bulan Ini

BYNOISEGENERATOR – Subnormal Dives

Soulreaper-BYNOISEGENERATOR-Subnormal-Dives

3 hal yang menjadikan grindcore sebagai lawan dari estetika romantika. Satu, intensitas yang tak tertahankannya yang mengabaikan peran dinamika (kontras keras-lembut). Kedua, agresivitas yang disadur dari beberapa turunan sub-musik ekstrim sekaligus (hardcore punk, crust punk, death metal, thrash metal). Ketiga, tidak ada tonalitas jelas, sehingga selain menghasilkan keacakan dari segi bentuk dan tekstur, juga menyajikan distopia bagi hirarkis konsep nada.

BYENOISEGENERATOR berusaha untuk membelokan aturan tanpa mematahkan aturan grindcore itu sendiri. Tetap memelihara keliaran grindcore yang bahkan diperpanjang dengan aspek yang lebih teknis dan rumit secara permainan maupun eksplorasi bentuk. Mempertahankan konsep atonalitas yang mengeluarkan banyak nada tidak selaras bahkan mengeksplorasi konsep kromatis saxophone free jazz, atau bassline yang membuat pola anyaman nada rumit, seperti sarang laba-laba.

Hal berbeda ditujukan pada dinamika dan intensitas, ketika BYENOISEGENERATOR menyalahi “aturan lama”, hingga hasilnya terlihat kontras bahwa mereka membuat album grindcore non-one dimensional. Mereka mendeklarasikan diri mengalami mutasi genetik dari sekedar grindcore vanilla menuju jazz math-grind yang lebih evolusioner.

Tidak perlu menunggu lama untuk memetik hasil panen hibridisasi mereka, “Eb(D#)” sebagai lagu pembuka telah menjadi appetizer lezat sekaligus lengkap, seolah memberi kisi-kisi akan seperti apa keseluruhan konseptual sonik album. Tempo drum yang menggiling secara membabi buta dan riff-riff sumbang yang saling mengejek memberikan alternatif suara yang bisa dijelajahi.

Di tengah terjangan kebisingan dan kerumitan bassline, munculah lelehan tiupan saxophone merdu dan petikan halus gitar tanpa distorsi ala post-rock. Jika para penganut fan-boy naked city atau jazz-grind lainnya menggunakan elemen jazz sebagai penguat dukungan penuh pada konsep menghasilkan nada yang atonal dan tidak terstruktur, BYENOISEGENERATOR justru memanfaatkannya sebagai gradasi untuk mengkontraskan kebisingan dengan bagian yang lebih lembut dan melankolis.

Dengar misalnya, “LoveChargedDiveBombs” sebuah lagu grindcore yang memiliki build-up, dan sekali lagi melelehkan liukan legato saksofon atau pada “NULL.state = PERMANENT; return VOID;” atau “UVB-76” menjadi tempat perhelatan spiritual dari gaya permainan saksofon Sun Ra, setelah terombang-ambing oleh hardikan drum maupun gitar.

Build up atau struktur memang sesuatu yang jarang dalam grindcore dan BYENOISEGENERATOR mengadakannya sebagai jembatan mereka bereksplorasi. “NoSucessToday!” memiliki masa jamming section pada pertengahan dari riff funky dengan penempatan ganjil yang kemudian diledakkan bersama snare, “4-HO-DMTNzambiKult” yang memamerkan gaya slapping bass dan solo gitar.

Sekali lagi, mereka tidak mematahkan aturan, hanya melanggar berapa poin. Demi untuk tetap mempertahankan dominasi pengaruh ekstrim, mereka menaikan level permainan teknikal instrument. Ditemukan bagian-bagian blast yang dilemparkan dengan teknik berbeda, “IQ69Exaltations” mengutak-atik aksen blast beat dari gaya tradisional, bomb blast, hingga gravity blast.

Satu perubahan paling mencolok dibanding album BYENOISEGENERATOR lainnya, kali ini mereka menanggalkan pengaruh vokal frognoise dan goregrind, untuk berteriak dengan amarah dan tarikan vokal yang membuat tenggorokan terasa gersang dan terbakar. 

Skin Tension – Machinic Impulses Of The Hyperreal

Soulrepaer-Skin-Tension-Machinic-Impulses-Of-The-Hyperreal

Salah satu pertimbangan situs database metal terbesar, metal-archives tidak memasukan band tertentu ke dalam koleksi arsip mereka, adalah gagalnya konsep riff yang diterapkan. Itu terkadang menjadi alasan (selain sentimen tentunya) untuk tidak melibatkan band hardcore / metalcore yang hanya memilih bagian breakdown sebagai penghubung setiap aransemen mereka, sementara metalcore yang terpengaruh oleh gaya melodic death metal gothenburg (Trivium, Shadows Fall, As I Lay Dying) terdaftar dalam arsip.

Tetapi Skin Tension, mencoba melampaui konsep riff, mempertunjukkan bahwa metal tidak hanya terkonsentrasi pada bentuk yang kaku, melainkan lebih menghadirkan sebuah kesatuan yang lebih besar untuk bercokol pada level pertanyaan yang lebih esoteris, yaitu bagaimana seharusnya metal memberikan pengalaman dan atmosfer yang gelap, mencekam, dan membuat rasa tidak aman.

Skin Tension menempatkan deburan drone, bass yang bergetar lebih kencang, untuk merekatkan nuansa album memiliki sebuah perasaan yang monolitik, meskipun instrumen terpisah dengan baik, akan tetapi elemen drone merayap diantaranya, seperti kawah yang menyelinap dan mengacaukan pengalaman ragam indera.

Gaya dissonant black metal / noise atau apapun itu, yang lebih bergerak pada fenomena daripada sensasi (Silahkan bandingkan dengan La Torture Des Tenebres dengan gaya raw white noise black metal yang menghasilkan output suara lebih menusuk). Siasat mereka menyiapkan ruang kosong yang cukup, dengan tempo lambat dari doom metal atau goresan riff dissonant untuk memunculkan kesan misterius.

Kemudian dengan cepat, permainan drum yang brutal dalam mengeksploitasi ledakan snare dan penempatan yang di sinkopasi merubah dinamika dan atmosfer menjadi terasa menyiksa dan penuh teror. “Conquer Worm” misalnya, meledakan blast-beat di tengah peralihan tempo nestapa doom metal lalu riff bernuansa yang menjuntai seperti diberi efek glissando membentuk kesatuan nuansa ditengah variasi nada yang dimainkan.

Bagian saksofon yang menjerit sebagai penanda, bahwa atmosfer maupun nuansa yang tercipta bukanlah sebuah pemandangan yang sedap, bahkan akan menteleportasi tubuh yang tersimpang antara huru-hara emosional dan absurditas dari serangkai pengalaman acak yang diperdengarkan secara gesit. “Velodromonic Underground” mengalami ketegangan dan demam tinggi yang luar biasa, ketika saksofon semakin aktif untuk berceloteh secara ngelantur dengan menekan sebanyak mungkin kromatis yang dapat dihasilkan.

Kemudian penempatan drum yang kabur dan bahkan berusaha untuk mematahkan ritme, alih-alih menjadi penjaga kestabilan ritme. Sektor vokal terkubur di antara himpitan drone maupun kebisingan drum, menjadikannya tetap berada dalam kesatuan meski mengambil pemilihan gaya vokal sengau black metal yang menjerit dengan nada meninggi.

Hal itu jelas terdengar pada “Crypto -Gerontocoracy” yang memainkan tempo dengan gerakan pendulum, mengayun dari tempo yang lebih lambat, lalu menaikan kecepatan drum sebagai titik kulminasi sesaat, dan terus berulang.

Menerobos kegilaan dan absurditas keseluruhan konsepsi album, sejatinya ditemukan pretelan detil yang mengesankan secara teknis maupun pola melodi. Misalnya banyak ditemukan variasi fill-in drum yang lincah dan atraktif menukar pola snare dan simbal. Kemudian ditemukannya sampel-sampel misterius, maupun solo gitar yang tidak terhubung dengan phrase, seperti pada “Non-Compliance”.

Jeritan atonal gitar dalam lagu ini lebih terkontrol sebagai seutas jalan sempit yang dapat dilalui. Namun melampauinya tidak mudah, dikarenakan bisikan vokal menyeramkan, drum dengan gerakan terhuyung-huyung, dan saxophone yang terus berputar-putar, tetap menjaga abstraksi bentuk lagu.

Lifeless Dark – Dark Forces of Nature

Soulreaper-Lifeless-Dark-Forces-of-Natures

Sebelum metalcore dan grindcore menjadi proses mediasi, menyatukan kultur metal dan hardcore, stenchore secara timeline telah selangkah lebih maju untuk mengambil inisiatif tersebut. Menanggalkan make up corpse paint dan segala atribut satanik, hanya untuk membawa aura keangkeran dari black metal gelombang pertama (Celtic Frost, Venom, Hellhammer).

Kemudian disatupadukan dengan riff-riff lamban yang suram dari doom metal dan mencampurinya dengan agresivitas thrash metal dan kekeruhan gaya produksi crust-punk dan d-beat. Stenchore tidak memiliki jejak evolusi panjang. Ketika Lifeles Dark selaku darah segar yang datang pada era 2010’an, basisnya masih serupa, dengan apa yang diperbuat stenchore prasejarah yang lahir dalam gorong-gorong Skandinavia (Sacrilege) dan Inggris pertengahan 80’an (Amebix, Antisect, Axegrinder).

Tetapi Lifeless Dark memforsir untuk bermain lebih teknis dan mengandalkan multi segmen riff bervariasi, sehingga terdengar seperti band metal yang bermain dalam ruang lingkup crust-punk dengan rekaman yang terasa berpasir serta lirik bermuatan protes politik tajam.

Setiap lagu berkembang tidak hanya sekedar berdiri pada power riff atau ketukan d-beat konstan, mampu membuat harmonisasi gitar NWOBHM (Iron Maiden, Angel Witch) yang melodius seperti pada lagu “Force of Nature’s Transformation”, hingga lagu-lagu bergaya doom metal (Black Sabbath, Saint Vitus) seperti pada “Cryptic Remains” maupun “Medusa”.

Ada semacam sisa-sisa rongsok karatan dari pengaruh Bolt-Thrower awal akan distorsi gitar yang lebih menggulung, serta gitar yang sengaja di-stem rendah, metode serupa yang pernah diterapkan Black Sabbath ketika mereka menciptakan “Master of Reality” (1971).

Teriakan lantang yang membara dari sang vokalis, Elaine di tengah tebalnya distorsi, atau permainan kilat drum menjadi simbol resistensi, para teriakan warga sipil yang tetap melawan dan bersuara meskipun dihadang kekuatan superpower dari status quo.

Selayaknya musik ekstrim yang menuntut kecepatan sebagai primadona, mereka memiliki senjata untuk melakukan itu, seperti pada lagu “Radiation Sickness”, kocokan riff bertenaga dan ketukan d-beat berapi-api pada pembuka “Fear No Evil”, “Broken Mirrors” yang terdengar seperti persilangan antara Slayer era “Hell Awaits” dengan Sacrilege, hingga “Depth of Cold” yang terpengaruh oleh keliaran Motorhead dan okultisme dari Venom.     

The Hatch –  Shape Of Raw To Come

Soulreaper-The-Hatch -Shape-Of-Raw-To-Come

Ketika termin alt-rock justru seperti membalikan makna musik rock dari counterculture menjadi subset dari bagian yang mereka tentang, The Hatch memiliki perspektif berkebalikan. Mereka mengartikannya justru sebagai ajang untuk semakin mempersempit wilayah domain mereka, untuk bermain musik rock yang lebih rumit secara teknis, apresiasi yang menuntut ketelatenan, hingga menembus batasan musik yang lebih ekstrim, tidak hanya sekedar intensitas kebisingan bahkan mengencingi atau membuyarkan batasan yang telah ditetapkan.

Mereka memainkan perilaku musik noise rock atonal, yang mendisintegrasikan peran drum, bass, dan gitar untuk memiliki nalar dan intelegensinya masing-masing. Misalnya pada “Retina” yang memainkan riff yang berbasis pada math rock yang menghasilkan improvisasi subtil pada setiap fragmen kecil urutan ritmenya, menjadikan strukturnya terasa abstrak.

Bagian bass yang sangat tebal menarik garis bergelombang, serta irama drum yang secara konstan mengirimi ketukan sinkopasi. Gaya vokal natural yang bersuara cempreng berusaha diredam dengan menghasilkan warna yang lebih serak, membuat corak emotive yang sekaligus bisa menghasilkan elemen yang lebih getir.

Misalnya, pada “Venom / Olvido” ketika bisikan vokalnya yang menggelayuti secara menyeramkan, di atas lapisan melodi gitar korslet yang dissonant dan sumbang. Bentuknya seperti sebuah kabel listrik yang telah dialiri oleh listrik itu sendiri di atasnya, sehingga menyentuhnya langsung memberikan efek sengatan kejutan.

The Hatch mengambil inspirasi dari banyak elemen noise rock, jazz rock, atau apapun yang menghasilkan perpaduan suara yang keras, bising, dan masam secara bersamaan, tetapi pengaruh modernis dari post-rock hingga math-rock, memiliki peran sama kuatnya. “Volvo” menapaki bass yang secara terus-menerus berkedut dengan daya yang besar, sementara gitar kali ini memiliki spektrum luas dari menjadi phenomena gelombang suara, berselancar seperti surf rock, hingga dengkuran nada rendah beraroma drone.

Memasuki 4 lagu akhir, mereka merubah definisi memberikan kekakuan dengan cara menghidangkan katastropi, menuju benturan antara senyapan suara yang mencekam dan ekstase tak tertahankan. Misalnya pada “Step inna rain” yang mensubstitusikan pola aneh dan tak berbentuk dari riff menuju pendalaman chord serta lekukan saksofon yang tertegun.

Kemudian pertengahan aransemen, mereka memercikan secara tiba-tiba bagian jamming dari gitar dan bass funky, serta piano melompat-lompat dari gaya jazz-fusion, seperti otak yang diberikan stimulasi tambahan.  “As Human” menampilkan nyanyian yang lebih mabuk, bluesy lick yang menenggelamkan seperti melempar jangkar ke dalam air, menghasilkan adegan kabaret yang diperagakan dari gaya marching drum dan letupan bergaya jungle, hingga vokal yang kali ini mengikuti irama dan frasa dari iringan saksofon. 

Sementara “Discharming Us” selaku lagu penutup, lebih terdengar seperti lagu mercusuar yang berkabut, sayup, dan sekaligus berair. Semua yang bergerak dalam lagu ini terasa mendayu-dayu, hingga tarikan vokal wanita yang datar. Lagu berdurasi 8 menit, namun justru menjadi aransemen yang paling repetitif dalam jajaran album. 

Eje Eje – Five Seasons

Eje-Eje-Five-Seasons

Bersama, Satellites, Itamar Klüger mengembangkan irama anatolian rock yang terpengaruh dengan musik folk timur tengah dan aroma psikedelik rock-pop yang menebalkan peran musik yang dapat menembus integrasi kesadaran dan pengalaman empiris di sekeliling, menuju dunia material dari belahan lain yang belum pernah terjelajahi atau dilihat secara mata memandang sedikitpun.

Kali ini Itamar Klüger, semakin mengabstraksikan pengalamannya lewat proyek solonya, Eje Eje yang memilih untuk bermain dalam format instrumental. Sesuai dengan judulnya, secara harfiah Eje Eje mengambil tema 5 musim yang membentang dari migrasi timur tengah menuju daerah timur khususnya China, dimana ada satu tambahan musim selain 4 musim utama, yakni ekor daripada musim kemarau yang menyimpan fenomena iklimnya sendiri.

“The Rainy Dawn” yang merepresentasikan migrasi ketimuran menuju iklim yang beku mengawinkan irama serta perkusi timur tengah dengan suara synth yang dibuat membeku. Saved from the Jazz” sebagai simbol dari musim semi, membuat pijakan suara bass menjadi lebih subur seperti tanah-tanah gembur yang menumbuhkan apa saja yang bertabur di atasnya.

Gitar mengitari turunan dengan melodi jazz yang tumbuh subur, serta ketukan drum yang mengalami fluktuasi gaya ritme dub yang terasa lebih membal. Jahitan dari irama maupun nada timur tengah yang menyatukan jalannya album agar tetap menjaga kohesitifitas ditengah tersebarnya nuansa berbeda yang tersebar.

Misalnya pada “Heat Flux “ dengan iringan ritme padang gurun, dan tekstur gitar yang lebih berpasir membuat alunan aransemen terdengar gersang. “Black Sea Magic” yang membawa angin perubahan musim gugur, lebih senang membuat gitar menuruni interval nada dengan garis panjang yang utuh, seperti daun-daun berjatuhan.

Dionysian – Apollonian Metal Chart 

Soulreaper-Dionysian-Apollonian-Metal-Chart
Images background by : freepik.com

Merangkak di atas jalan berduri menuju pada asketisme adalah seni extreme metal itu berasa. Mereka memahami betul, bahwa dibalik hingar bingar dan hegemonik keindahan dan dunia keteraturan yang penuh kedamaian ditafsirkan dengan anggun oleh pandangan dan kegembiraan tak tertahankan, selalu ada dunia lain yang direpresikan.

Kemampuan intuitif mereka, menyatakan bahwa realitas tidak hanya berdasar pada pengalaman empirik dan sensasi indera yang terhubung secara langsung, tetapi berusaha menyingkap lebih mendalam dan dasar dari kehidupan jika seandainya cahaya tidak pernah datang, yaitu kegelapan.  

Darisanalah timbul ketakutan yang abadi, rasa yang menyiksa dan tidak berdaya itu memaksa para seniman untuk menciptakan demi penebusan mereka yang terlalu lama terbelenggu ilusi dari keindahan. Disebutkan fenomena itu terjadi di bawah kegilaan, ketidakteraturan, sekaligus ketertelanjangan dari Dionysus.

Terlukiskan dalam bentuk jeritan secara harfiah, pukulan-pukulan ritmis yang secara biadab mengacak-ngacak irama tarian, serta alunan harmoni maupun melodi yang lebih memberikan tanda bahaya dengan seruan : “Celaka!”, “Kiamat”, “Kemusnahan Sudah Dekat”. 

Dalam keindahan dan stabilitas keseragaman Apolian, keberadaan dari dunia lain yang terepresentasi oleh Dionysian harus tersembunyikan, oleh nyanyian-nyanyian tipu daya palsunya. Ketika kidung-kidung hanya berisi pemujaan pada keyakinan diri akan kehidupan sebagai sesuatu yang agung dan patut diselebrasikan atau mimpi basah yang berusaha mendekatkan diri pada keabadian cinta dan kedamaian absolut. 

Jalan yang dilalui oleh para seniman extreme metal Dionysian tidak akan sepenuhnya dipahami, dan bahwa mereka yang lebih mencoba merangkul seluruh keping kehidupan yang terbujuk atas penderitaan, dan keragaman palette yang tak terkendali mulai dari buaian kesedihan, kebahagiaan yang berhasil mengubah tragedi menjadi tawa, hingga ketidakpastian yang meringkuk di sepanjang jalur.

Di tengah realitas yang didasarkan pada materialitas seperti era modern saat ini, mereka mengambil jalan pengasingan dan mengatakan dunia dengan cara yang simbolis. Siapa yang dapat tahan seumur hidup di tengah jalan spiritualitas menyentuh esensi kehidupan yang lebih mirip sebagai kutukan itu. Bahwa tidak ada yang mengatakan bahwa esensi hidup harus menjadi asketis seutuhnya.

Kendati jalan tempuh Dionysian menawarkan makna dan esensi pemenuhan metafisis kehidupan, realitas yang dipenuhi material dan relasi empirik juga dapat membawa semacam sensasi ekstase yang mengaktivasi indera. Untuk itulah, dalam beberapa momentum dan celah, mereka yang menyadari bahwa hubungan dualitas yang saling mengikat antara pandangan Apollo & Dionysian tak terpisahkan.

Beberapa bentuk musik metal pada akhirnya merengkuh kenikmatan sesaat, dari melodi maupun harmoni yang direkayasa demi keteraturan dan mengirimkan sinyal kesenangan yang langsung diterima pada setiap ujung stimulus neuron. 

Nyanyian ratapan mereka, dapat berubah menjadi semangat dan keanggunan seperti yang diperdengarkan power metal maupun symphonic metal. Dengan begitu itikad daripada ketidakjelasan tujuan alam yang membuat fantasi sebagai pelipur lara, tidak sepenuhnya tercapai.

Bahwa bagi sebagian para “pembelot” yang merekonsiliasi Dionysian dan Apollo memberikan semacam keunggulan untuk mampu mengungkap “kecurangan” alam mencapai tujuan yang disembunyikan dari realitasnya, sembari menari-nari di atas bukit anggur yang telah siap memasuki musim panen. 

Baca Juga : SOULREAPER – Menuju Chaosophia – 02

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *