Album-Baru-Minggu-Ini-19-Juni-2026

Ga kerasa nih… tahun 2026 udah nginjek usia setengah taun aja tapi yang lebih bikin aku ga sadar itu ketika pas aku ngobrol sama temen-temenku tentang album baru favorit tahun 2026 kita sejauh ini. Salah satu hal yang paling inget obrolan bersama temenku itu ngeliat ekspresinya yang setengah kebingungan ketika aku nyebutin 15 album favoritku sejauh ini. Hal yang bisa bikin dia terheran-heran itu, ‘kok bisa aku denger musik baru sebanyak itu?’ Terlepas dari aku yang dimintain tolong kak Ivan untuk nulis bagian ini, whiches aku  sebenernya udah suka cari-cari musik baru sejak beberapa tahun belakangan ini (That’s why kenapa aku di sini nemenin kalian, hehehe) aku ngerasa setiap tahun aku butuh soundtrack atau lagu-lagu baru yang mewakili perjalananku setiap tahun. 

Memang ga ada kewajiban sih kalo lagu untuk mendampingi perjalanan setiap tahun itu, harus juga diisi dengan lagu-lagu yang rilis di tahun yang sama, tapi buatku pribadi aku cuman mau agar memoriku terarsip dengan timeline yang lebih rapih sih, supaya aku bisa gampang dan lebih banyak memori yang aku inget. Entahlah… tiap kali aku coba dengerin musik-musik lawas yang lahir jauh dari eraku, memoriku dan kisahnya itu selalu mengandung hal-hal yang belum pernah ku alamin aja, jadinya aku kaya ngerasa fake aja gitu sok ngerasa nostalgia atau punya ikatan emosional, yang padahal aku ga pernah hidup di zaman itu, aku lebih realistis buat mengisi memoriku sendiri aja di kehidupan sekarang. Jadinya aku denger musik lawas itu buat selingan, kalo ada lagu-lagu yang bener-bener aku suka atau unik. 

Dan dengan cara ini aku jadi lebih gampang inget memoriku yang tersusun dengan timeline yang rapih sampai peristiwa-peristiwa kecil. Aku jadi inget di perjalanan pulangku suatu sore yang indah di November tahun 2024, karena pas waktu itu ILLIT baru aja rilis single “Baby It’s Both“. Terus aku bisa inget aku pernah berkebun dan nanem beberapa bunga di halaman belakangku (meski sekarang bunganya udah ga ada, hiks..) di tanggal 1 Mei 2023, karena aku ngerjainnya sambil dengerin album debut LE SSERAFIM, “Unforgiven”. 

So buat jadi calon sountrack kalian di minggu ini, aku udah nyiapin rilisan-rilisan album terbaru yang rilis minggu ini. Siapa tau di minggu ini kalian ada peristiwa dan hal-hal yang bakalan jadi memori kalian kelak, dan album-album ini siap sebagai soundtrack pengiringnya. 

Buat yang lagi punya pengalaman aneh, absurd, atau ga terpikirkan sebelumnya itu bakal kejadian, kalian bisa denger album terbaru Pond bertajuk “Terrestrials” yang baru aja rilis minggu ini. Mau dari sampul album, tema lirik, sampe lagunya kalian bakal ngerasain perasaan campur aduk. Musiknya yang punya tempo ngebeat itu ngerasa bikin semangat dan ceria, tapi di satu sisi melodi-melodi gitarnya itu ngeluarin sensasi yang aneh bisa ngerasa kelabu, sedih, atau penuh pertanyaan jadinya bener-bener album yang punya rasa campur aduk hehehe. “Terrestrials” ini sendiri terdiri dari 10 lagu baru dan mereka juga langsung tancap gas bikin agenda tur Amerika dalam rangka promosi album terbarunya. 

Kalo kalian lagi ngerasa sentimental atau punya mood yang cenderung melankolis, kalian bisa denger ini nih, album terbaru The Veils, grup indie pop asal New Zealand yang rilis album baru berjudul “Fragile World”. Buat yang pertama kali denger mereka, kalian bakal disuguhin dengan vokal berat Finn Andrews yang justru bisa nyanyi buat nunjukkin sisi kerapuhan, ditambah dengan petikan halus suara gitar listrik non distorsi yang makin berasa nuansa melankolisnya. Dan meski mereka baru aja rilis album “Asphodels” tahun lalu, The Veils tetep ga mau berlama-lama buat rilis album studio ke-8 sepanjang karir mereka ini. Sama halnya dengan Pond, The Veils juga udah nyiapin 10 lagu baru buat nemenin kalian mengisi hal-hal yang bakal jadi memori berharga untuk diinget kalian kelak.

Kalau lagi ngadepin suasana dan mood yang santai, kalian bisa dengerin album terbaru dari The Hanging Stars dengan judul “Just A Day”. Mereka emang sengaja bikin lagu-lagu dari album ini sebagai potret mereka mengenai kehidupan sehari-hari tentang rasa rindu, kerapuhan, tapi dibalut dengan musik yang didominasi sama gitar akustik. Album ini direkam di Clashnarrow Studios di Dataran Tinggi Skotlandia, yang makin menambah “kesejukan” suara di album “Just a Day” ini. 

Kalian yang kepingin buat hidup bebarengan dengan album-album yang orang sebut sekarang album lejen, Placebo ngasih kesempatan langka itu di minggu ini yang kalian ga boleh lewatkan. Band alt-rock kelahiran London ini, mulai dikenal sejak mereka bikin album debut dengan judul “Self-titled” di tahun 1996.  Nah untuk 30 tahun perayaan dari album yang membesarkan namanya itu, Placebo merekam dan mengaransemen ulang album debutnya itu dengan judul “Placebo RE:CREATED”. Meskipun sifatnya re-created, tapi di album ini bakal ada sinergi antara hal-hal terbaik mereka di masa lampau dengan suara-suara fresh, karena di album ini ada kehadiran  Steve Forrest selaku drummer band yang baru aja bergabung 2008. Jadinya, hampir dipastikan album ini tetep makal munculin sisi baru. Selain 10 lagu inti “Self-titled” yang direkam ulang, “Placebo RE:CREATED” juga ngasih beberapa lagu yang di remix dengan gaya yang berbeda. 

So kalo kalian butuh soundtrack atau lagu-lagu sebagai temen merenung, kalian bisa nyobain album terbaru dari Ohzora Kimishima, yang baru rilis album solo ke-3 nya dengan judul “Hanaotsurukotoshirutasho”. Penyanyi kelahiran Tokyo yang juga tergabung dengan grup duo 鏡鏡鏡鏡 ini udah mulai dikenal dengan pendekatan musiknya yang lebih banyak nampilin nuansa ambient. Gaya musiknya doi yang minimalis dan lebih “senyap”, bisa bikin kalian dengerin musik-musiknya sambil merenung (tapi jangan sampai overthinking ya, hehe). Sebenernya agenda comeback Ohzora Kimishima udah mulai ketara sejak penampilan solonya Januari lalu di Tokyo Garden yang sukses mengguncang penggemar-penggemarnya. Album ini sendiri bakal diisi dengan 9 lagu baru. 

Dan, guys kalo kalian mau memilih untuk menyendiri dulu dan mencoba mikirin apa yang udah kalian lakuin dan jalanin selama ini, Warning siap untuk menjadi tempat kalian mengeluarkan segala isi uneg-uneg itu. Band doom metal asal Inggris yang sempet “hiatus” bikin album studio baru selama 20 tahun ini, akhirnya mutusin buat melanjutkan perjalanan mereka lewat album ke-3 berjudul “Ritual of Shame”. Sang vokalis sekaligus gitaris Patrick Walker ngaku kalo album barunya ini adalah cerminan dari perubahan kehidupan yang dialaminya setelah Warning rilis album “Watching From a Distance” 2006 lalu. Dia pun bahkan sampai rela buat mengasingkan diri ke sebuah rumah terpencil di atas bukit di luar Florence, Italia, untuk bikin liriknya jadi tambah dalam dan intim. Intinya album ini bakal nyeritain banyak persoalan mengenai rasa bersalah, malu, kegagalan pribadi, obsesi, kerinduan, dan perpisahan, tetapi, yang terpenting dari itu semua buat dia adalah cinta.  

So jadi apa musik cuman bisa dirasain emosinya kalo kita lagi sentimentil dan melankolis doang? O, tentu tidak dong… Buat kalian yang lebih mentingin emosi yang meledak-ledak dan merah meradang, aku bakalan kasih rekomendasi dari album debut band black metal asal Canada yang kini menetap di India, Nirriti dengan album debutnya berjudul “Dhrupad Anutpada: Apophatic Ragas of Non-Origination”. Mereka bakal “ngehajar” telinga kalian dengan 6 lagu non-stop tanpa henti-hentinya ngasih kecepatan, kebisingan, dan ketegangan yang terus menerus meninggi. Aku kurang tau jenis spesifik musik ini seperti apa (nanti aku tanyain ke kak Ivan), tapi ini mostly beda dari beberapa album black metal yang sempet aku icip-icip. Tapi meskipun mereka secara totalitas main gedebak-gedebuk, tema lirik mereka cukup unik yang nyeritain spiritual-spiritual dan cerita-cerita Dewa-Dewi yang dipercayai masyarakat India (atau mungkin khusus Hindu). Yang jelas buatku album ini cukup ngasih perspektif yang unik, buat orang yang ga tahu banyak soal musik metal kaya aku. 

Dan sebagai penutup, aku bakalan kasih kalian pengalaman ter-random yang mungkin bakal kalian rasain minggu ini. Band experimental asal Prancis, Le Grand Sbam baru rilis album studio ke-3 mereka dengan judul “Janus”. Yang jelas musik ini bakal jauh berbeda dari musik-musik yang umumnya kita dengerin, bahkan dari formasinya aja udah beda. Le Grand Sbam diisi oleh banyak vokal, instrumen-instrumen senar, dan perkusi, serta dipimpin oleh seorang konduktor. Temanya sendiri memang kedengarannya berat banget, tentang mengeksplorasi kompos, fosil, dan orang mati melalui praktik-praktik baru, sekaligus ngasih penghormatan pada beberapa pemberani Jean-Pierre Petit, ahli biologi dan filsuf ekofeminis Donna Haraway, dan Matshish Kapéu. Meski terbilang “ndakik-ndakik” pembahasannya, mereka bikin semuanya jadi hiburan karena diisi dengan penampilan orkestra yang heboh dan suara-suara yang bikin kita berdecak kagum sambil bertanya-tanya, “ko bisa orang-orang bikin musik kaya gini ini?”.

Ok itu dulu untuk minggu ini, memang ga sebanyak minggu-minggu lalu sih, karena yang aku liat minggu ini ga terlalu banyak rilisan juga, dan alasan lain karena aku sibuk dengan pekerjaan lainnya, huhuhu… Tapi seperti biasa, aku bakal taruh list album sisanya di bawah. Sampai jumpa minggu depan, siapa tau minggu depan bakal kembali diisi dengan banyak rilisan-rilisan album baru yang menarik, happy weekend!    

Baca Juga : Kawan Mengawal Menuju Sudut Kota…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *