Minggu lalu, atau tepatnya hari jumat lalu, aku chatan sama kak Ivan. Seperti yang udah kalian tebak lah, apalagi obrolan kami kalo bukan seputar musik heheh… Seperti biasa kami saling tuker-tuker referensi, sama ngomongin Sonorri bakal kaya gimana kedepannya. Pas, disela-sela obrolan… kak Ivan ngirimin aku link youtube yang thumbnailnya: “What’s in My Bag” dan ada gambar beabadoobee. Dia nyaranin aku buat nonton konten itu, katanya sih siapa tau bisa buat jadi referensi atau inspirasi buat aku nulis di Sonorri.
Ini pertama kali banget, aku nonton konten, “What’s in My Bag” versi musik, karena yang aku tahu sih konten “What’s in My Bag” ini biasanya buat nge-spill barang-baran apaan aja yang dibawa artist-artist selama mereka beraktivitas atau bepergian. Tapi konsepnya sih ya mirip-mirip, yang ternyata setelah aku cari lagi emang banyak banget episode “What’s in My Bag” versi musik ini dari artist dan musisi ternama pula. Kebetulan banget beabadoobee ini salah satu artist favorit aku, makanya aku jadi tambah semangat nonton kontennya.
Intinya sih konten itu, nge-spill sambil nyeritain apa aja album-album yang dibeli si artist dari toko rekaman musik Amoeba. Dan jujur aja, aku terkesima banget sama cara dia ngejelasin setiap album-album yang dia pilih. Mulai dari nyeritain kesannya, sejarah band, sampe musiknya pokonya lengkap deh. Tapi sekali lagi seperti yang aku bilang dulu, yang paling aku suka di sini rasa kejutannya. Pas tiap kali, beabadoobee gantian ngejelasin rilisan yang lain, aku kadang selalu ngomong sendiri: “wah ternyata, dia denger musik kaya begini juga, kok beda ya sama musik yang dia mainin”. Kita bener-bener dikasih kejutan dan ga tau kira-kira album apa dan genre musik kaya gimana yang bakalan dia jelasin.
Nah maka dari itu, mungkin buat sekarang dan seri-seri berikutnya, aku bakal nulis album-album atau rilisan baru ga lagi berdasarkan diurutin per genre. Aku coba tulis aja urutannya yang kemungkinan besar punya lompatan yang jauh dan beda banget dari satu rilisan ke rilisan lainnya. Aku sendiri udah ngomong ke kak Ivan, dan dia sih fine-fine aja, so.. Semoga pendekatan baru ini bisa lebih diterima sama kalian ya.
Biar makin kerasa kejutannya di awal, aku mau langsung bahas rilisan album yang di-request kak Ivan untuk masuk di sini, yaitu album terbaru dari Spirit Possession yang berjudul “Cathedral Speech”. So far, duo black/death metal asal Amerika ini udah ngasilin 3 album studio termasuk album terbarunya ini. Yang bikin unik dari album ini, katanya selain bakal nampilin karya black / death metal yang brutal dan sangar seperti cara-cara biasa mereka, duo Steve Peacock (gitar, vokal), sama Ashley Spungin (drum, synth) bakal bikin rekaman musik yang megah dan analog banget, inspirasi dari musik musik 70’an.
Dari black metal kita pindah ke kabar grup trio indie rock / experimental rock Deerhoof yang rilis album baru dengan judul “Divine Schism”. Apri lalu sih, mereka sempet bikin album baru juga tapi dengan nama panggung yang berbeda, Deerhoof & The Sound Sanctuary. Dan musik di album barunya itu kayanya beda banget dari kebanyakan rilisan mereka. Nah kalo di album terbarunya ini, seperti biasa deerhoof bakal nampilik gaya musik-musik rock yang gak lazim dan eksperimental. Yang bikin sedih bin miris, album ini nyeritain kisah naratif tentang hubungan kompleks antara ibu dan anak. Intinya sih ada kesalahpahaman di antara ke-2 nya yang justru malah bikin ngerugiin 2 pihak, si anak yang sengaja bikin ngelakuin hal-hal yang bikin si ibunya mikir kalo anaknya menjauh dari dia itu, gara-gara kepingin mandiri, padahal yang sebenernya diinginkan si anak justru sebaliknya, kepengen dapet perhatian dan kasih sayang dari Ibunya, tapi dia ngerasa ga dianggep (huhu…) . O iya album ini jadi album pertama Deerhoof yang dirilis mandiri lho, setelah label mereka Joyful music, ngijinin salah satu band andalannya ini buat bikin musik di bawah nama mereka sendiri.
Sekarang kita geser ke musik-musik yang bisa dibilang lagi banyak disenengin nih, apalagi kalo bukan musik dream pop, indie pop dan sejenisnya. Adalah band Wishy yang baru aja keluarin rilisan album ke-2 nya berjudul “Nature’s Pill”. Kalo kalian suka musik-musik power pop, dream pop, indie pop atau musik-musik ala-alaan alternative, shoegaze 90’an, kemungkinan bakal suka sih sama mereka. Aku mostly, baru aja dengerin musik kaya begitu itu beberapa bulan lalu, jadi aku ngerasa resembling mereka dengan jenis musik yang aku sebutin itu kuat dan nempel banget di aku. Mereka sendiri mulai dikenal lewat album debutnya, “Triple Seven” (2024) yang dapet respon dan ulasan positif dari kalangan penggemar sampai reviewer musik. O iya, album ini sendiri terdiri dari 12 lagu dengan total durasi 42 menit.
Dari tadi kita udah kenyang nih disuguhi musik-musik dengan gitar, kali ini aku bakal ngajak kalian ngeliat rilisan baru dari penyanyi soul, R&B Meshell Ndegeocello lewat album barunya berjudul “Synonym”. Di sini Ndegeocello bakal banyak banget nyelem mendalami berbagai lapisan ekspresi mulai dari keinginan, kepedulian, patah hati, pertemanan, kekecewaan, sampai perasaan cinta. Makanya, dia bikin musik yang banyak banget variasinya mulai dari musik folk 60’an, hip-hop, soul 70’an, musik elektro-boogie, sampe musik alt-rock 90’an buat ngewakilin betapa kaya dan beragamnya ekspresi album barunya kali ini. Yang bikin gilanya lagi, dari 15 lagu yang tersedia, ga ada satupun lagu yang absen dari munculnya musisi atau kolaborator lain yang ikut terlibat. Nih, aku spill aja daftar musisi tamu yang bakal eksis dan nyumbang bakatnya di album ini: Cynthia Erivo, Cat Power, Chaka Khan, Brandi Carlile, Bill Callahan, Chris Thile, Nick Hakim, Robert Glasper, Madison Cunningham, Laura Lee (of Khruangbin), Lizz Wright, Emily King, Lianne La Havas, Moses Sumney, Destin Conrad, ANOHNI, WILLOW, Evann McIntosh, dan Ink (Gila ga tuh…).
Sekarang kita bakal lompat jauh lagi ke jenis musik yang 180 derajat beda banget. Zodiacs on the Wing yang notabenenya proyek musik yang suka gabungin musik-musik folk dengan musik-musik indie yang trendy di kalangan internet, baru aja rilis album terbarunya dengan judul “The Shriek at Assisi”. Sejauh ini dia udah ngeluarin 3 album, sejak proyek ini baru mulai aktif tahun 2023. Hebatnya lagi, doi ngerjain semua albumnya itu, pas masih masa-masa sekolah loh. Buktinya, dia sama temen-temennya ngerekam instrumen piano dan orkestra nya itu di sekolah mereka, sedangkan drum direkam pas selesai jam sekolah. Mereka juga ngaku, kalo pembuatan album ini pake perangkat-perangkat yang relatif murah dan seadanya. Hebatnya, dibalik keterbatasan waktu, alat, dan tenaga, mereka justru bisa bikin musik-musik yang disenangi dan bisa punya grup penggemar dan penikmat musiknya sendiri. Zodiacs of the Wing ini mainin hampir sebagian besar instrumen yang ada di sini lho, mulai dari piano, gitar, bass, synth, piano, vibraphone, xylophone, marimba, glockenspiel, melodica, accordian, harpsichord, tubular bells, timpani, flexatone, perkusi, sampe bikin bunyi-bunyi yang ditemuin jadi sesuatu. O iya di album ini, dia juga dibantu 4 orang temannya dan gurunya lho: Lumi yang ngisi saxophone, Luke (guru bandnya) yang mainin trombone, George yang mainin Saxophone, dan Eaman (guru band dia lainnya) yang mainin terompet.
Sekarang aku masih mau ngomongin di ranah per-indie an tapi kali ini geser dikit ke ranah yang lebih nge-rock. Penyanyi, sekaligus penulis lagu Greg Freeman baru aja rilis album studio ke-3 nya dengan judul “All Set the Bone”. Buat ngerekam album ini dia bela-belain lho pergi mengasingkan diri, bahkan ninggalin pekerjaan asalnya dia sebagai penata makam. Selain Greg Freeman suka band-band alternative 90’an kaya Pavement dan Modest Mouse, dia juga mulai ngelebarin pengaruh musiknya ke musik musik kaya Fugazi dan Unwound yang emang notabenenya juga band favoritnya. O iya, album ini sendiri bakal diisi 13 lagu.
Biar makin kerasa kejutannya, aku kasih lagi nih rilisan musik metal (tentunya request dari kak Ivan, hehe..). Kali ini kita dapet rilisan baru dari band melodic death metal asal Finlandia, Brymir dengan judul albumnya “What We Leave Behind”. Kata kak Ivan sih, Brymir jadi salah satu band metal yang potensi bakal disukain sama orang yang justru ga suka metal. Katanya, karena musiknya lebih melodik, nuansanya epik, dan auranya lebih semangat dan ga gelap-gelapan mulu (mati lampu kali.., ah hihihiih). O iya balik lagi ngomongin rilisan baru Brymir, ini bakal jadi album pertama mereka dalam waktu 4 tahun, semenjak jeda perilisan album “Voices in the Sky” (2022). Total album ini bakal diisi sama 11 lagu baru, dan siap-siap aja telinga kalian bakal kebanjiran tempo musik yang cepet, drum yang menggebu-gebu, suara vokal serak, tapi gitar dan atmosfernya justru terasa melodius dan kontras banget (anjay.., sok tau banget hehehe).
Okay.. dari tadi kita ngomongin musik yang berat-berat dan serius mulu, coba aku cairin ketegangan ini lewat rilisan baru dari Kyle Gordon dengan judul “Kyle Gordon Is Everywhere”. Buat yang kurang tau backgorundnya, Kyle Gordon ini emang seorang komedian, jadi wajar kalo musik-musiknya itu lebih banyak diisi sama parodi, jokes-jokes lucu, sampe bikin satir. Nah di album terbarunya ini, Kyle Gordon itu coba ngeparodiin musik, dengan cara bawain hampir semua genre musik yang belakangan lagi tren lagi, tapi dengan gaya lelucon dan nyeleneh khasnya. Ini juga katanya bakal sekaligus nutup seri trilogi dari album parodi dan komedi yang sengaja dia buat detil, namun catchy sejak dirilisnya “Kyle Gordon Is Great” 2024 lalu. Kalo mau tau kaya gimana salah satu ciri utama style parodinya Kyle Gordon, dia itu sering bawa persona dan nama panggung musisi yang seolah-olah berbeda, dan bahkan jumlahnya pun seabreg. Di album terbarunya ini dia bawain persona dari Barry Bergen, 10 Year Plan, .exegesis, Downshift, Mae Heaven Thompsons, Eddie O’Dell & The Dellvettes, Billy Mainframe, The Vigil, Tony Diamond & the Bruckner Express. Dari sekian banyak featuring list, cuman Daniel Radcliffe yang bener-bener emang musisi lain dan bukan Kyle Gordon. Album ini sendiri terdiri dari 14 lagu dengan total durasi mencapai 32 menit.
Masih mau nenangin diri dari musik-musik cadas? Kalo begitu aku kasih rilisan baru dari penyanyi sekaligus komposer musik ambient, Emily A. Sprague yang rilis album baru berjudul “Cyano”. Meskipun notabenenya bikin musik Ambient, tapi Emily suka lho bernyanyi di atas insturmennya, atau ngasih beat yang nonjol, beda banget sama kebanyakan musik-musik ambient yang aku dengerin. Di album ini, Sprague mencoba buat melakukan refleksi sekaligus transformasi diri pake cerita-cerita fiksi mahluk hidup yang tinggal di semacam planet imajiner gitu. Intinya sih dia mau nunjukin dunia dan perasaan yang ada dari luar jangkauan kita, dan biar suaranya makin terasa beda, unik dari biasanya dia juga ngegunain modular synthesizer (dari yang aku baca, hehe).
Sekarang kita beralih ke kabar penyanyi, musisi J-Pop Moka Sato yang baru aja rilis album studio ke-6 nya dengan judul “Shilly Shally”. Aku pernah denger beberapa lagu dari penyanyi kelahiran Okayama, Jepang ini, dan menurut aku dibalik dari cover albumnya yang selalu nyajiin gambar yang imut dan girly banget, musiknya beragam banget nyampurin berbagai unsur mulai dari jazz pop, indie pop, sampe musik yang agak bertenaga dikit dengan gitar. Nah di album barunya ini, gakan jauh beda dari kebiasaan Moka Sato selama ini, dia bikin lagu soft rock, terus musik-musik indie-indie an, sampe musik ballad yang judulnya “Ai wa Wana”, yang sekaligus dijadiin lagu penutup untuk drama TV Tokyo yang judulnya “Otto yo, Shinde Kurenai ka”.
Berikutnya aku kasih lagi band-band rock, kali ini dari trio garage rock, The Schizophonics yang rilis album baru dengan judul “Burning Floor”. Meski mereka emang tergolong band baru, tapi musik-musik mereka itu banyak ngegali dari referensi musik-musik era 60’an dan 70’an. Misalnya di album ini aja, mereka bilang kalau musik di album ini bakal terinspirasi banget sama gerakan garage rock 60’an dan juga musik-musik punk era 70’an. Album ini sendiri berisi 10 lagu dengan total durasi 32 menitan.
Nah sebagai penutup, aku bakalan kasih kejutan kabar rilisan album terbaru dari musisi yang kalian mungkin ga expect darimana asal negaranya. Adalah Litku Klemetti proyek indie oop / indie rock asal Kuhmo, Finlandia yang rilis album terbarunya dengan judul “Sata pahaa poikaa”. Ini bakalan jadi album studio solo ke-7, bagi Litku Klemetti, yang juga tergabung sama beberapa proyek lainnya mulai dari Jesufåglar, Mäsä, Sateenkaarina, Zorse. Nah kalau di album sebelumnya, Funny Girl (2024) itu dirilis lewat label Is This Art!, album “Sata pahaa poikaa” ini bakal dirilis lewat label baru, Lördag. Sebelum, Klemetti udah sempet rilis mini album, Januari lalu yang isinya 5 lagu. Tapi ga ada satupun dari ke-5 lagu mini albumnya, masuk ke album penuhnya kali ini. Jadi album barunya ini bener-bener fresh dan ga ada lagu daur ulang dari mini album sebelumnya.
Ok guys, kayanya untuk minggu ini cukup ini dulu aja, kalo kalian masih belum ngerasain kejutan dari rilisan yang udah aku bahas di atas, tenang aku juga udah nyiapin daftar rilisan lainnya seperti biasanya di bawah ini, jadinya… kalian bisa tetep cari-cari rilisan baru lainnya dan siapa tau malah bikin kalian terkejut berkali-kali lipat hehe…. Ok see you next week ya, have a nice weekend semua…
Baca Juga : Jürgen Müller – Komposer Yang Terlahir Kembali Dari Bawah Laut
Rilisan Lainnya
- AllDay Project – Crash
- Amon Amarth – The Allfather Awakens
- Andy Boay – Doomed
- Blossoms – Songs from the Wedding Cake
- Catalyst Crime – Acquired Immunity
- Circuit Circuit – Start Laughing
- Close Your Eyes – 256th Note
- Contact Sports – Contact Sports
- Crystal Throne – Chantry of Sacrifice
- Dead Neaderthals – Flesh Is Fragile
- Dead Poet Society – Monarch
- Deconsekrated – The Inexorable Transcendence of Death
- Dev Lemons – Hunting What We Already Killed
- DJ_Dave – Hardcore Software
- Drumpcorps – Breakdown
- Fat Dog – Cancel Me (I’m Tired)
- firtan – Helios
- Frozen Crown – The Legend of the Six Kings
- Glyph – The Pendulum Swings Yet…
- GoreSkinCoffin – Echoes from the Crypt
- Haunt – Setting Course
- Hekatoxen – Obsidian Majesty
- Holidays in United States – How to Count to Five
- Imminence – Axis Mundi
- Intestinal Sodomy – Sculpting Demented Perversities
- Johny Marr – The Age of Everything
- Kaitlyn Aurelia Smith – Ruin: It’s Not Just Music
- Kiyo – Todos los furros te aman hasta que muerdes
- Klein – my own fairytale
- Kontravoid – Sound of the Void
- LEENALCHI – SUGUNGGA
- Lustmord Lombardo – The Pulse of Atoms
- Lèpoka – Rebelión animal
- Maître Bach – Pierre Hantaï
- Miles MeCloud – Miles to Midnight
- Miranda Lambert – Crisco
- Miss May I – No Place For Me
- Morbid Stench – Doom Metastasis
- Nettspend & OsamaSon – NXO
- Next Day Air. – Rockitneedspace & Surf Gang
- Nihilus – Borealis
- NiziU – Sour Grapes
- Posthumous – Signs Carved in Flesh
- Prof. Stranger – Certified Music From the Heart
- Quavo – Qrömelife
- Quad Machine – Future
- Resurrect – Answer to Sickness
- Servant – Lux ex inferis
- Servant – Lux Ex Inferis
- Sgàile – Onwards to Embrace the Echo
- Susanne Sundfør – Revelations of Divine Love
- Swans – Newly Sentient Being
- Temic – Ceiba
- The Album Leaf – A Body of Voices
- The Fall – Post Script
- The Koreatown Oddity – Purdy
- To the Grave – Liberation Front
- Ungraceful – Silence Between Stars
- Urisk – Call
- Vacations – Pursuit of Anything
- Vanishing Twin – Archives
- Victoria Monét – Frequency of Love
- Viled – Ascension Into the Immortal Aeon
- Vynh – As Raw, So Below
- Wraithstorm – Revenant
- Xasthur – Open to Misinterpretation
- Zazie – Volatil




