Album-Teraru-Minggu-Ini-9-Oktober-2026

Sewaktu buka sub-redit yang isinya tentang postingan diskusi-diskusi musik, aku nemuin pertanyaan bagus. Pertanyaanya sih puanjang dan detil banget ya, tapi kalo di parafrase dan dipersingkat sih, kira-kira begini isinya: “faktor apa aja sih, yang bisa bikin kita tau di masa sekarang kalo satu album musik suatu hari nanti bisa jadi album lejen dan selalu diinget orang?.” Jawabannya sih ya macem-macem mau di ukur dari popularitas, aura musisi, sampe nyentuh ngomongin tentang filosofi dan teori-teori yang rumit segala. Tapi beberapa muncul jawaban, kalo gak ada tolak ukur yang pasti, bahkan bisa jadi kita bakalan telat menyadarinya. 

Dan ga jarang juga, album-album yang kita anggap sekarang ini sebagai album bagus, penting, dan mahakarya yang susah ditandingi, di jamannya justru di pandang sebelah mata, even dihujat abis-abisan. Dan aku pribadi sih lebih setuju dan prefer sama jawaban ini, meski ga menampik juga ya kalo jawaban-jawaban bisa lebih bener. Jadi sangat mungkin banget, kalo album-album yang muncul di era sekarang, bisa jadi bakal dapet status dan apresiasi yang tinggi itu 10-15 tahun lagi, sementara di masa sekarang album-album itu cuman kaya selewat-selewat aja. 

Contohnya sekarang ini, mungkin dari sekian banyaknya rilisan-rilisan album baru yang aku kasih tiap minggunya, kita nggak akan pernah tahu beberapa dari album itu bisa aja 10-15 tahun ke depan nanti dpuja-puja banget bak Dewa. Jadi bagi kalian yang rajin-rajin pantengan tulisan sama rekomendasi musikku ini secara ga langsung kalian termasuk bagian yang ngerasaing gimana awal dari kisah-kisah sejarah ini terbentuk (yaelah, lebay banget hihihiihi…). Atau mungkin bisa jadi kalian udah mutusin kalo album-album baru ini, juga bakal jadi saksi sejarah buat lika-liku perjalanan hidup kalian. Oklah udah cukup yappingnya takut kepanjangan, kita langsung mulai aja dari rilisan pertama. Dan seperti janji aku minggu lalu dan seterusnya, aku bakal ngasih rekomendasi album yang urutannya bikin kalian terkejut. 

Kita mulai dari kabar rilisnya album terbaru Remi Wolf yang berjudul “Mud”. Album terbaru ini bakalan jadi rekaman studio ke-3 bagi penyanyi kelahiran Palo Alto itu. Remi Wolf sampe beneran syuting video klip singlenya, “Twiggy” yang nampilin dia mandi lumpur beneran buat nunjukin secara literal konsep sama judul album terbarunya ini. Katan Remi Wolf di press release sih, itu jadi caranya dia buat nunjukkin kalo baik secara dirinya personal atau karirnya, dia lagi mengalami perubahan besar-besaran. Awalnya dia ngerasa kalo fase hidupnya penuh hal-hal gak mengenakan sampe dia bikin perumpamaan kalo tubuhnya semua kaya dikelilingi lumpur. Tapi ketika proses pembuatan album sampai rilisnya album ini, dia seolah kaya dikasih kesempatan buat punya fase hidup yang baru. Beda banget sama kebanyakan, artist-artist yang lebih suka kerjasama sama produser atau orang-orang hebat, Remi Wolf di album ini justru milih membuat album bersama sahabat dan keluarganya. Dan metode itu yang bisa bikin dia paling nyaman buat berkata jujur dan emosional buat ngasih tau semua lika-liku fasenya yang bakal tertuang ke dalam 11 lagu di album ini. 

Sekarang kita beralih ke kabar dari penyanyi alt-pop kelahiran Afrika Selatan, Troye Sivan yang rilis album baru dengan judul “She’s the Best”. Nama dia sebenernya udah ga perlu dikenalin panjang lebar lagi, Troye Sivan sendiri pernah masuk nominasi Grammy, dia juga punya katalog album-album dan lagu yang didengerin sampe milyaran kali angkanya. Tapi baru-baru ini dia kembali bikin viral lagi, setelah di single klip terbarunya, dia secara mengejutkan menampilkan bintang Holywood 80’an, Nicole Kidman. Troye Sivan sendiri bilang kalau album ini bakal terasa beragam dan menyentuh banyak lapisan emosi dan perasaan. Di penghujung album, Troye Sivan menggaet, Lily-Rose Depp buat kolaborasi di lagu berjudul “Lost Time”. 

Kita pindah ke kancah per-indie an, di situ ada nama Lucy: produser, sekaligus penulis lagu musik-musik indie pop, bedroom pop, dan lo-fi rock yang baru aja rilis album terbaru berjudul “Citizen Arrest”. Selain emang dikenal pernah kolaborasi dengan beberapa artist indie beken lintas genre, seperti kolaborasi bareng rapper Yung Lean, sampai band alt-rock The Lemonheads, Lucy juga punya seabreg katalog album-album yang emang banyak mengeksplor jenis musik terutama di musik electronic, rock, dan pop. Jadi kalian ga usah heran kalo musik-musik di album ini bakal banyak banget nyentuh dan bersinggungan sama genre-genre itu. O iya sehubungan sama rilisnya album baru, Lucy juga udah ngumumin kalo dia bakalan tur US plus Canada dalam rangka promoin album barunya, yang bakal dimulai 21 Oktober mendatang. 

Kalo dari tadi kalian masih belum ngerasa terkejut, mungkin saatnya di rilisan ke-4 ini kalian bakal nemu ekspektasi yang gak terduga. Adalah salah satu band lejen crust-punk, d-beat asal Swedia, Wolfbrigade yang baru aja rilis album baru dengan judul “Howl From Underground”. Mereka sendiri udah aktif sejak 2001 dan ini bakalan jadi album studio ke-9 sepanjang 25 tahun karir mereka. Jujur, aku sih belum banyak dengerin karya-karya terdahulu mereka, tapi pas denger single di album terbaru ini, aku ngerasa : “serius ini band ini umurnya udah 25 tahun? Tapi ko musiknya masih beringas dan bertenaga banget, seolah kaya dimainin semara anak-anak remaja?” Ya mungkin namanya musik hardcore punk kali ya, tapi ya aku suka aja ama intensi mereka yang sama sekali ga turun dan tetap konsisten meski udah usia kepala 2 umur band ini. Total album ini bakalan diisi sama 12 lagu yang bakalan lebih dari kata siap buat ngebombardir telinga kalian, sama gebukan drum dan sayatan gitar dan vokal yang cadas.

Kalo sekarang beneran kalian bakal dibuat terkejut sama musik-musik yang diusung sama trio post-punk asal Inggris, Holy Tongue. Lewat album terbaru yang berjudul “Basilikum” trio ini nyoba pendekatan yang eksperimental nyambungin gaya ketukan musik dub, musik-musik perkusi tradisional, musik psychedelia, trance dan post-punk. Aku pun ngerasa kaya penasaran dan campur aduk gitu, gimana ya elemen-elemen musik tradisional berpadu sama musik-musik elektronik atau genre musik yang bisa dikatakan produk dari musik modern. Yang lebih unik lagi, mereka ngerekam album ini di 2 tempat terpisah, satu di kota London, satu lagi di daerah Pegunungan Alpen Swiss. Kaya memang mereka ingin niat bikin musik-musik yang khusus buat meditasi gitu, dan bikin body ini ngerasain banyak pengalaman dalam satu peristiwa, istilah versi aku mah hehehe…. 

Sekarang selepas aku bawa kalian dari suasana pegunungan Alpen Swiss, kita bakal kembali lagi menyelam di jejaring internet, karena penyanyi hyper-pop, saoirse dream baru aja rilis album terbaru dengan judul “grimdark”. Waktu emang kerasa cepet banget ya, padahal aku inget percis tahun lalu, awal mula aku kenalan dan dengerin musik-musik saoirse dream itu dari album yang judulnya “self-titled” yang waktu itu emang dirilis di tahun 2025. Sekarang aku cukup ngerasa surprise kalo tiba-tiba doi rilis album baru lagi aja di tahun ini. Catherine Egbert alias saoirse dream masih jadi produser sekalius penulis lagu, dibantu sama leastfavorite! selaku co-produser. Cuman bedanya kali ini, leastfavorite! Juga muncul jadi penampil di salah satu lagunya yang berjudul “Dolled Up” bareng sama Left at London dan estelle allen. 

Sekarang aku bawa rilisan baru dari komposer sekaligus musisi elektronik Jeremiah Chiu yang baru aja rilis solo album dengan judul “Edge Conditions”. Chiu sendiri bilang kalau album terbarunya ini bakal lebih banyak mainin musik-musik elektronik, dibanding album-album kolaborasi dia terdahulu bersama pemain viola Marta Sofia Honer. Dia bahkan ga ragu mention nama-nama musisi elektronik yang besar dari era 70’an sampai 90’an mulai dari YMO, Aphex Twin, Art of Noise, Boards of Canada, Yasuaki Shimizu, sampai Arthur Russell. Album ini juga bakal jadi bentuk lanjutan dan pengembangan apa yang dilakuin Jeremiah Chiu pas bikin album “In Electric Time” 2023 lalu. Di situ, dia sengaja bikin pendekatan musik yang spontan, dan penuh permainan improvisasi synth analog. Nah kalo di album barunya ini, meski dia masih punya kebebasan, tapi juga dia mau kasih limitasi kalo bakalan ada konsep yang bakal jadi batasan sekaligus benang merah buat ngehubungin banyaknya elemen musik yang dia pake. Pokonya aku baca rekaman ini penuh pemikiran dan filosofis banget, sampe-sampe kalo aku baca deskripsinya di laman Bandcamp album ini, aku malah pusing sendiri, huhuhu….

Kali ini kita bakal ngomongin rilisan dari Jepang, tapi kalo kebanyakan di minggu-minggu sebelumnya kita ngomongin rilisan J-Pop, kali ini aku justru bawa rilisan baru berhaluan elektronik. Rilisan yang aku maksud itu dateng dari produser sekaligus musisi dengan nama panggung BBBBBBB, yang rilis album baru berjudul “Poop Disco”. Walau judulnya musik elektronik, tapi kalo aku denger sedikit beberapa lagunya, dia lebih seneng bikin musik elektronik yang ekstrim, bising, dan bikin telinga kalian pengang sama musik-musiknya. Emang sih, kalo kalian ngeliat tag-tag genrenya, BBBBBBB main di ranah musik-musik elektronik yang emang udah ekstrim dari sananya kaya gabber, breakcore, digital hardcore, power noise, Drill n Bass. Ga heran deh kalo musik-musiknya luar biasa bising. Nah, tapi di album terbarunya ini BBBBBBB mau ngasih bumbu yang bisa bikin musiknya lebih buat joget. Tapi se joget-jogetnya musik BBBBBBB, tetep aja bagi orang yang ga terlalu dengerin musik elektronik sampe keakarnya (kaya aku ini), musiknya masih keitung ekstrem hehehe… 

Masih ngomongin rilisan elektronik, sekarang kita pindah ke London, karena di sana ada HAAi, musisi, produser, sekaligus pendiri label musik elektronik yang baru aja rilis album ke-3 nya berjudul “DIGITiSE”. Katanya sih ini jadi kelanjutan album sebelumnya, “Humanise” yang baru aja dirilis tahun lalu. Meski judulnya album elektronik, tapi HAAi justru mau menggali dan memikirkan lagi peran dan makna jadi manusia di tengah kehidupan kita yang kini semakin dikelilingi sama teknologi, dan AI. Dan HAAi ngerasa kalo kebersamaan atau rasa komunitas yang mana jadi salah satu unsur penting manusia itu seolah memudar, dan makanya HAAi bikin album ini juga buat mempersatukan kembali orang-orang agar berinteraksi di lantai dansa. Di album “DIGITiSE”, HAAi berkolaborasi sama beberapa musisi seperti Echonomist, Skybreak, dan Cantoalegre serta kembali berkolaborasi sama artist-artist yang memang pernah kolaborasi dengan HAAi sebelumnya, seperti Pat Alvarez, ILA, James Messiah, dan Kaiden Ford. 

Nah sekarang aku kasih album yang di request Kak Ivan, yaitu album terbaru dari band epic doom metal, Smoulder yang judulnya “Witch Wife in an Alien World”. Dari yang aku baca informasinya, asalnya band ini dari Canada, tetapi kemudian mereka pindah ke Finlandia. Kata ka Ivan sih, musik-musik yang mereka mainin itu kentel banget sama unsur epic doom metal, traditional heavy metal yang berkembang udah sejak dari dekade 80’an. Makanya jujur pas aku denger musik-musiknya, kek ngerasa lebih catchy dan epik gitu, beda banget sama mostly kebanyakan musik metal. Vokalnya, Sarah pun kedenger syahdu banget di kupingku hehehe… O iya, meski album ini bertemakan fantasi gitu (kalau baca dari judulnya), tapi sebenernya album ini juga punya pesen yang cukup kuat. Mereka ngomong kalo album ini lagi ngekritik kehidupan kita sekarang yang terpecah-belah sama kapitalisme yang bikin kehidupan kita itu cuman didominasi sama keuntungan, dan malah kita sering diadu domba sama sistem ini. 

O iya, aku baru sadar kalo kita jarang banget bahas musik-musik instrumental (selain elektronik). Nah, buat nebus itu aku udah bawa rilisan terbaru dari komposer, sekaligus penulis lagu Goldmund yang berjudul “In Each Moment”. Keith Kenniff yang jadi orang dibalik Goldmund bilang kalo musik-musiknya ini terinspirasi sama tulisan-tulisan dan ceramah dari biarawati Buddha, yang dijuluki Sister Dang Nghiem. Inti dari ceramah-ceramah dan tulisan yang ditangkep Goldmund sih kira-kira begini: “Kita bisa hidup dengan indah dan meninggal dengan indah dalam setiap momen”  Nah Goldmund juga mau ngasih tau lewat album ini, kalo dari kesederhanaan kita bisa lho justru dapetin sesuatu hal yang rumit dan mendalam, seperti perkataan-perkataan barusan. Mungkin kita ngerti maksudnya, tapi kalo soal proses mengalaminya itu lain soal.

Nah kita tinggalin dulu sejenak pengalaman spiritual Goldmund, karena sekarang aku mau ngajak kalian buat menikmati kebisingan lagi (jangan marah ya, heheh….). Kuartet post-punk sekaligus post-hardcore asal Belanda, Tramhaus baru aja nih rilis album studio ke-2 mereka yang dikasih judul “Blister”. Mereka sendiri sebenernya lagi disibukkan sama jadwal tur mereka yang padet, tetapi Tramhaus kayanya udah ga sabar kepingin banget buat ngasih unjuk album terbarunya kepada penggemarnya yang udah dinanti-nantikan selama 2 tahun. Gimana nggak, album debut mereka “The First Exit” cukup mendapat sambutan dan ulasan positif, yang akhirnya bikin kehadiran mereka buat bikin materi baru layak ditunggu. 

Ok dah di penghujung ini, aku mau tutup dengan rilisan album dari musik folk. Penyanyi sekaligus penulis lagu Kristian Matsson, lewat proyek solonya bernama The Tallest Man on Earth rilis album baru dengan judul “Just Beyond Endless Mountain”. Di album terbarunya ini, Matsson banyak mainin musik-musik folk dari daerah Dalarna, Swedia, yang emang jadi tempat kehidupan dia semasa kecil. Nah, waktu di masa-masa pembuatan album, Matsson sempet ngaku kalau sebenernya dia pernah ada di masa-masa ngerasa antipati sama warisan-warisan budaya. Tapi setelah dia mulai baca-baca literatur dan memahami warisan budaya musik asal daerahnya, akhirnya dia ngerubah pikiran dan sekarang malah bikin album penuh yang emang khusus dia bikin buat menghormati warisan kultur dan budaya musik tanah kelahirannya itu. 

OK, buat minggu ini segitu dulu, kita bakal ketemu lagi minggu depan sama rilisan-rilisan baru lainnya, yang siapa tau makin seru, asik, dan bagus-bagus hehehe… O.. iya hampir lupa, buat kalian yang masih ngerasa kurang, tenang aku seperti biasa udah bikin list rilisan album lainnya di bawah, jadi kalian tinggal cari aja album-album yang mau kalian dengerin. Ok.. see you next week. 

Baca Juga : Dari yang Riuh Untuk Bising, Menggugat Ketenangan Dengan Katastropi

Rilisan Lainnya

  • Absolutely Yours – Desire Path
  • Amaseffer – When the Lions Leave Their Den (Exodus Part II)
  • Avertia – De mørkeste dager
  • Balthvs – Manifest
  • Bodega – All Inside Aquarium
  • Bilderburch – ∞+1
  • Calla – De facto
  • Callous Master – Callous Master
  • Chloe Slater – Riot Youth
  • Cordyceps Corpse – Perverse Craving for Rotting Corpses
  • Cultus Sanguine – Tears Painted Sky
  • Danille Ponder – Everything Has Changed
  • Dawn Richard – Creole Culture
  • Daydream Diaries – ponderosa may bloom
  • Death Valley Girls – Welcome to Earth
  • Détresse – Misères
  • Dominic Fike – How to Quit Smoking
  • Effin – Heartbeats
  • Esoctrilihum – Annochiül xar sorthïlazur
  • Gnod – Chronicles of Gnowt (Vol. 2)
  • Graveyard – Fever
  • Greeta Van Fleet – Palace for the People
  • heavensouls – Cantu of the Sower
  • Hvit Ulv – Метаморфозы
  • Inner Failure – Inner Failure
  • Jamie T – Ghosts (100 Days of Morning)
  • Jess Williamson – A Mile South of Heaven
  • Joshua Sabin – Caochan
  • Joyce Wrice – Machiko
  • Kerasfóra – From the Spectral Depths
  • Kilat – Tirai Niskala
  • Lamenting Satanas – Lotus
  • Left to Suffer – Unwelcome Guest
  • Marina Herlop – Dja Dja
  • more eaze – Valley and Structure
  • Nao Toyama – ver the Rainbow
  • Näarkhatak – Irrévérence à L’Égard Des Masses
  • Nymue – Born from Darkness Waters
  • Odious Spirit – The Sourceless Scourge
  • Odium Incarnatum – Werewolves Blood
  • Orbita – Farewell to All We’ve Lost
  • Ovrkast. – Striking
  • Pet Shop Boys – A Man from the Future
  • Pitbull – Pitcoin
  • Radiant Knife – Sankalpa
  • RAM – Against
  • Resavoir – Above the Clouds
  • Sheryl Crow – Pick You Up
  • Teenage Fanclub – Do Not Dare to Dream
  • The Boo Radleys – In Spite of Everything
  • The Pineapple Thief – Far and Wide
  • Tobe Ngiwe – The Bridge
  • Toundra – Siete
  • Unholy Lobotomy – Gore Frenzy
  • Veret – Coven of Sodoma
  • Wage War – Landfall
  • Water Gun Water Gun Sky Attack – Training Musisic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *