Site icon

Melangkah Tanpa Wajah…

Melangkah-Tanpa-Wajah

Orang-orang bukanlah takut mengenakan topeng, melainkan hanya takut tuk melepasnya. Topeng mengalami pemadatan kondisi materiil, memudarkan kemampuan plastisitas. Sifatnya final, sulit mengkondisikan diri pada keberadaan alam serba fluktuatif.

Diperlukan seperangkat corak ukiran yang memiliki atribusi sebagai amunisi penangkal antisipatif setiap musim. Seperti itulah, penggambaran metaforis klise, mengenai konsep karakter manusia yang seolah melekat dan bersatu dengan sederet zat esensial lain yang dibutuhkan.

Kekhawatiran terbesar datang apabila terlalu banyak berganti topeng demi hanya memuaskan hasrat patronase tirani ilusi yang telah lama bercokol. Efek tertingginya dapat menyebabkan hilangnya karakter sebagai salah satu zat esensi yang menempati ordo tertinggi kepentingan manusia. Manusia terlalu takut untuk kembali bersatu dalam belantara kosmis luas yang tak berwujud dan penuh ketidakpastian.  

Terhimpit antara dualitas keharusan dan celaan. Karakter seperti tempat berpulang untuk memuliakan kehadiran dan pengakuan keberadaan. Tidak perlu lagi memilih merogoh keping topeng dalam tas imitasi, hanya untuk memuaskan perenungan kesucian yang terperangkap. Tetapi bagaimana jika paradoksnya mengatakan, memegang erat-erat karakter sama saja dengan mengenakan topeng abadi. 

Seperti halnya tubuh yang telah teridentifikasi sebagai jasad, karakter membentuk dorongan-dorongan yang menyempitkan realitas, dan menghalangi kehendak untuk menggenggam kebebasan seerat-eratnya. Manusia menjadi tampak begitu obsesif dengan karangan ilusi metafisisnya sendiri, bahwa setiap individu sejatinya seperti bejana yang telah menemukan fasadnya sedari awal.  

Kesadaran menumpahkannya dalam tingkat yang naif, Beban karma yang mereka panggul terlalu berat, sehingga mengalami mati rasa dan kebas. Berjalan menyeret dan menadahkan tangan tanda permohonan, bahwa setiap keberadaan harus sudi memaklumi topeng yang terlanjur melekat sebagai bagian perpanjangan kromosom yang dibawa hingga liang lahat. 

Mencari makna dengan upaya determinis, sama halnya berharap menemukan buah anggur di tengah-tengah hutan menyesatkan dan sulur-sulur yang siap mengikat. Kontradiksi dari kebebasan adalah pencarian karakter, kemandulan perkawinan manusia dengan alam adalah jurang kontur metafisik yang kaku. Segeralah lepas semua topeng yang ada, biarkan kaki melangkah tanpa wajah terpaku. 

Setiap sorot mata akan terpancar sinar paling terang yang pernah bisa dicurahkan matahari selama siklusnya. Setiap langkah terasa lebih enteng dari embun pagi, dan setiap perbuatan dapat memiliki ketulusan lembut yang mengalahkan sutra yang pernah dieksploitasi manusia selama di muka bumi ini.

Pergilah pada sudut yang paling gelap, niscaya cahaya yang paling bersinar akan menghampiri. Pergilah pada ketidakpastian, untuk menyatukan diri dengan ketakterhinggan dan ketidakmenentuan semesta. Pergilah pada rasa sakit, untuk menyucikan diri dari luka. 

Dengan menjalani cara hidup seperti itu, setiap rantai belenggu terlepas. Tidak ada lagi perbedaan antara hutan, sulur, maupun pohon anggur. Tidak ada lagi sekat-sekat topeng yang mampu menahan tubuh ini berkelana. Setiap tanggungan karma lenyap dan barulah tubuh ini mampu memandang kehidupan sepenuhnya dengan cinta dan ketulusan. 

Aşıq Nargilə – Qərib Həyat

Kalo biasanya musik sering dibilang sebagai “ekspresi diri”, musik folk lebih ngeliat kesadaran yang lebih kolektif, sehingga bisa disebut juga musik “ekspresi rakyat” yang punya kesamaan nasib. Nargile Mehtiyeva alias Ashiq Nargilə bisa jadi cermin pantulan seperti apa kondisi rakyat di tanah kelahirannya, yakni Georgia. 

15 tahun sudah Nargilə nenteng-nenteng mainin saz (sejenis instrumen senar) dan dalam albumnya ini dia menyanyikan lirik-lirik dari syair puisi-puisi rakyat Georgia. Dibanding ngambil pendekatan vokal syahdu, atau banyak cengok-cengok merdu, vokal Nargilə lebih suka tampil ekspresif, dengan suara lantang dan membuka mulut selebar-lebarnya. 

Bisa jadi sebagai bentuk ekspresi menyeluruh dan mewakili tema lirik yang dibawainnya mengenai dinamika hidup masyarakat Georgia (kesedihan, tari-tarian, perjuangan). Atau bisa juga memang curahan bentuk dedikasi dan semangat yang tinggi terhadap kebudayaan ini. Nargilə bahkan punya beban besar di pundak, ketika sebagai satu-satunya penyair perempuan yang tinggal di Georgia mengajari seni ini pada generasi-generasi penerusnya.

Gaya dan rekaman album ini juga terasa “membumi”, dalam arti secara penampilan sangat minimalis, cuman terdiri dari vokal Nargilə diiringi genjrengan saz sember, dan petikan yang ngeluarin suara magis. Ga ada tambahan polesan studio dan teknik rekaman yang wah, terasa mentah dan apa adanya, jadinya lebih kaya resital musisi “jalanan”, cuman bedanya ini direkam. 

Rekomendasi track : Ağır Şərili, Mansırı, Göyçə Gülü, Nəğmə Oluram

Hellish Form – Deathless

Genre funeral doom metal itu ibarat, tubuh dengan sengaja membenamkan diri ke jurang tanpa dasar. Semakin ke bawah, terasa semakin gelap, penuh misteri, dan munculin rasa menggigil ketakutan. Tapi kalo bagi Hellish Form, perjalanannya itu serasa dibalik. Meski tetap memulai dari suasana angker dan penuh keputusasaan, tapi seenggaknya mau merangkak naik untuk mencari setitik cahaya pencerahan. 

Secara tema liris, Hellish Form memiliki “itikad” untuk mempertanyakan balik penindasan-penindasan yang sering dialami oleh kaum “terpinggirkan”. Tonalitas suaranya itu tercampur antar 3 sudut, pesimistis, penerimaan rasa sakit, dan sekaligus peringatan. 

Pola musiknya pun kalo dicermati memiliki ciri-ciri yang punya metafora dan driven emosi yang mirip-mirip. Ciri khas suara dan musiknya tetep kelas berat sebagaimana funeral doom metal umumnya.

Tempo 10 bpm, diiringi gemuruh distorsi riff berat, dan melodi ratapan mendayu-dayu dari gitar. Bahkan menambahkan lagi dosis “kecemasan”, dengan efek drone yang seolah seperti nambahin “beban” penderitaan. 

Formasi vokal androgini dari geraman growl death metal dan vokal serak-serak ala sludge metal, mempertebal bumbu pesimistis dan jeritan amarah dan kesakitan yang ngumpul jadi satu gumpalan. 

Tapi dibalik “kengerian” dan “siksaan” itu, melodi-melodi astral dan mengawang-ngawang dari elemen synth kerap bermekaran. Seperti secara simbolisme sebagai bentuk tadahan tangan ke atas, meminta pengharapan agar borgol segera lepas dari tangan.

Terlepas dari apakah berhasil bebas dari belenggu, album ini seperti ngeliatin siklus antara penindasan, keputusasaan, dan pengharapan terjadi terus-menerus.   

Rekomendasi track : Deathless, Texas in Sinking, Pink Tears

Mi-II – 害獣アイドル

Mi-II ini bisa dibilang sub-unit dari grup (lebih tepatnya single idol, sih) 3776 yang cuman beranggotakan Chiyono Ide. Bagi yang ngikutin skena alt-idol Jepang, mungkin udah pada tau, kalo 3776 itu tadinya bernama Team MII. Grup idol besutan Akira Ishida itu resmi berdiri tahun 2012, dan beranggotakan 23 orang. 

Tapi setelah  hampir setahun beroperasi dan ngeluarin beberapa single, Team MII akhirnya bubar dan berganti nama jadi 3776. Sebagian anggota Team MII gabung ke-3776, tapi ga lama semua anggota keluar, cuman nyisain satu anggota sampai sekarang, Chiyono Ide. Namun ternyata 3776 punya grup sub-idol, alias Mi-II ini, yang tadinya diisi oleh beberapa anggota 3776, dan anggota baru. Tapi saat ini Mi-II cuman beranggotakan duo vokal Akina dan Miyuyun. 

Musiknya masih se-frekuensi dengan “kakak kandungnya” atau konsep keseluruhan dari alt-idol, yang emang lebih ngebebasin pada eksperimen dan bentuk. Udah pasti ga bakal nemu, formula instrumen yang lempeng, terus isinya cuman chant nyanyi-nyanyi hore dan ceria. Kalo ngegabungin banyak jenis musik, mungkin udah ga heran, karena in general musik idol kebanyakan gitu, cuman yang bikin nyentrik dari eksekusinya. 

Album ini aja cukup banyak diselingi sama beberapa bagian skit, atau kasarnya ini kaya album-album hip-hop yang isinya dialog atau omongan doang. Tapi kalo 3776 lebih banyak eksplor ritme yang aneh-aneh, nah kalo Mi-II mereka lebih eksplor pada tekstur sama atmosfer musiknya. 

Dari gelagat instrumennya yang banyak ngasih eksperimentasi synth dan gerakannya progresif alias ga statis ngulang-ngulang part sama, jadi ngingetin gaya-gaya musik progressive electronic 70’an. Tapi bukan teksturnya yang mirip lebih ke atmosfernya. 

Kalo untuk teksturnya, selain maduin synth-pop, post-punk, dan bermacam-macam turunan musik elektronik jadi satu. Juga ngeluarin karakteristik suara dengan range lebar. Ada yang mirip banget suara elektronik kartunis, sampe ada suara yang punya karakter distorsi. 

Jarang atau mungkin susah banget nemu grup idol bikin musik instrumen, tapi disini stoknya melimpah ruah. Sebagai bukti selain mau ngedepanin vokal, grup ini juga mau “mamerin” sifat instrumentalnya yang kreatif & eksploratif.

Rekomendasi Lagu :  餌付け, マイフィールド, もう山には戻れない, コケモモ [害獣Synth Cover], 餌付け [Instrumental], マイフィールド [Instrumental], もう山には戻れない [Instrumental]

886VG – I 

Selain karena emang musiknya luar biasa berisik dan nihil melodi, ada hal lainnya juga yang bikin orang ga betah denger musik (bahkan sering ga dianggep musik) “harsh noise”. Pertama, yang jelas minim variasi timbre atau sumber suara. 

Kadang emang ada lagu yang meski durasinya panjang, tapi suara “kresek-kresek” doang. Selain itu juga, bisa dibilang kekurangan dinamika, alias suaranya lempeng aja di titik desibel yang tinggi secara intens. Ga ada jeda, atau pola berulang, pokoknya full bising

Jadinya bikin orang memang sulit rela kalo harsh noise ini dibilang musik (karena baik pola melodi maupun ritmis ga ada). Namun setidaknya, 886VG bisa ngurangin sedikit daftar “dosa” harsh noise yang disebutin barusan.

Secara dinamika, 886VG lebih sudi mau matiin sekejap kehebohan noise yang udah nyampe klimaks, buat bikin ritme putus-putus dan nge-glitch yang looping ala musik post-industrial atau deconstructed club

Dari keheningan itu bisa mencuat varian suara, antara efek fuzz yang kusut-sekusutnya, dengungan tipis ala musik-musik drone atau feedback yang tanpa basa-basi langsung nusuk ala musik power electronic. Dari situ yang bikin beragam konteks nuansa album ini keluar, dari yang mencekam, misterius, sampe yang chaos sejadi-jadinya.  

Rekomendasi track:  En sus ojos solo veo el vacío 3,  Red Lights Night Driving Pt.2,  When You’re Old and Dead,  Class War (T4a-X), Become a Threat (B9992)

Ureuk and The Gypsies – ‘23 – ‘24

Ga banyak jenis musik, yang bisa ngajak orang rela dan sudi buang waktu, cuman buat dengerin rekaman hasil latihan. Biasanya, latihan digunakan buat brainstorming sesama personel, atau ngehubungin beberapa hasil latihan, tujuannya buat nemu bentuk gambaran besar dan konkrit dari sebuah karya. Tapi beda dengan musik free jazz

Sesi latihan (rehearsal sebutannya) jadi ajang buat ngeluarin kemampuan jamming spontan sebebas-bebasnya. Dan hal itu sulit untuk diulang sama persis, makanya hasil rehearsal direkam. Kebiasaan ini pun, turut kebawa pas manggung, jadinya ga heran kalo banyak rekaman free jazz isinya rehearsal, pertunjukkan langsung, atau sesi rekaman tertentu yang sifatnya improvisational. 

Kolektif free jazz asal Korea, Ureuk and The Gypsies pun mengamini hal ini. Ke-5 lagu dari jajaran album, seluruhnya diambil dari sesi rehearsal dan pertunjukkan langsung. Alat buat ngerekamnya pun sederhana, mereka hanya pake rekaman portable H2n, dan Iphone 11 yang bikin suaranya “lebih mentah” ketimbang rekaman live proper. 

Setiap gerakan dalam free jazz, menstimulasi otak buat mikir sesuatu, bahkan hening aja bisa dianggap sebagai langkah buat ngeluarin “sisi spiritualitas” dan katahrasis. Apalagi album ini, yang punya kombinasi 3 genre sekaligus, antara musik tradisional Korea, Gugak, free jazz, dan riff-riff gitar yang masam dan berperilaku atonal ala noise / psychedelic rock

Memang agak lebay, tapi awal kira album ini cuman bikin gambaran skenario what if, kalo musisi legendaris Jimi Hendrix, ngejam bareng sama Frank Zappa dan Sun Ra Arkestra. Sesi distorsi gitar dengan gaya main double stop di album ini perwakilan dari Hendrix.

Akor-akor dan not aneh dan hubungan rumit dari gitar yang seperti diwakili Zappa, sementara jeritan saksofon yang meronta-ronta dan menggulung-gulung, diambil dari gaya Sun Ra.  

Tapi kalo lebih cermat lagi, album ini ninggalin banyak detail kecil. Paling mencolok jelas dari penggunaan beberapa instrumen konvensional Korea, seperti kkwaenggwari, taepyeongso, jing, dan jabara.

Intinya, bisa jadi apa aja sesuai yang diinginkan, bisa tiba-tiba berubah jadi band jazz / noise rock yang urakan dan ugal-ugalan, bisa jadi terasa kalem dan meditatif, atau bisa berlagak seperti seorang innovator jenius, yang nemuin hal-hal ajaib di laboratorium dari hasil kerja tangan sendiri. 

Rekomendasi track : 기산 (気散), 5,  은파 (銀波), 얼쑤

Baca Juga : Seperti Apa Menjadi Diri Sendiri Itu?

Exit mobile version