Dominasi naluriah primata pemuncak strata
Menggenggam tahta, perolehan durkata
Persebaran kata bermetamorfosa menjadi laktosa
Berhenti menggenggam tombak pencari ukiran lentera
Menghadap langit, terbuai dalam setiap sonata berkabung
Genderang perang tak mampu memadamkan kebatilan setajam parang
Melukis tiang gantung menghadap cahaya firdaus,
Kematian mengharapkan opium hingga perut membusung dan mulut berbusa
Menganga dari placenta, terbang sejak ultramagnetic mengirimkan rima pertama, hingga udara hanya menyisakan elektromagnetik
Siklus merkurius pencetak bayi bourgeois
Pengembara premis keadilan, mengemis sembari menikam dengan keris secara bengis
Sumpah serapah mengikis bagai sampar penghancur setiap buah zakar
Berkelakar di atas nazar burung gagak dan gelak tawa Nebuchadnezzar
Ukiran semen mengurung lingkar stabilitas kehidupan agung
Sebutir jagung sebagai peluh utilitas perbudakan
Mens rea tak terelakan dalam manipulasi literatur sejarah
Kemarahan absu menenggelamkan rahim yang menghamili jantung kenikmatan
Dead City – banned from LA
Dari awal muncul hingga sekarang, musik punk, hardcore, sampai spektrum hibridisasi ke-2 nya sibuk menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan yang silih berganti terjadi. Mau dari sisi paling pragmatik, sampai mengkritik secara sistemik dan afiliasi politik, semuanya sudah wara-wiri dalam setiap ukiran kata dalam lirik.
Lain cerita dengan kegeraman yang tumpah ruah dalam karya kolektif hardcore bawah tanah asal California, Los Angeles, Dead City. Dead City secara mencak-mencak justru ngomelin orang-orang yang memperjuangkan kedamaian dan keadilan, demi kehidupan yang lebih baik.
Secara sadar seperti punya argumen fundamentalis bernada fatalis, kalo manusia itu emang dasarnya biang kerok, akar dari semua bencana dan perpecahan yang terjadi dalam kehidupan.
Jadinya, dead city bikin musik dan lirik yang kurang lebih ngomong begini : “ga usah sok munafik, cari kebaikan, keadilan dan keadaan ideal, semua sama aja, mending saling ribut dan cekcok aja semua sekalian, biar mati dan hancur bareng sekalian. Siapa tau justru itu malah bikin dunia lebih tentram”
Untuk itulah lagu seperti “blood must be shed”, “fuck peace”, “lost my mind again” yang mengglorifikasi peperangan, kekerasan, dan kegilaan berkumandang. Dead City mendapat sikap dan ilham demikian, dari para dedengkot UK.82 yang bisa dibilang moyang dari hardcore punk senada.
Terdengar jelas bahwa pengaruh musiknya kental dan erat dengan scene itu, mulai dari gaya punk yang lebih brutal dan ugal-ugalan. Secara tempo nyerempet thrascore dan crossover thrash, lirik-lirik mengandung kekerasan, suara distorsi dengan gain yang lebih garang dan tentunya berat, serta vokal jeritan yang bikin kuping pengang ala the Exploited meledak-ledak di sepanjang lagu.
Dead City sempet-sempetnya bikin humor lagu parodi untuk band legenda grindcore, Napalm Death dengan judul “napalm dream”. Di situ anomalitas terjadi, ketika musiknya 2 kali lipat lebih cadas, mainin ketukan blasting drum dan gitar yang menerjang masuk bersamaan dengan intensitas dinamika beroktan tinggi ala grindcore.
Rekomendasi track: “blood must be shed”, “fuck peace”, “LA After Midnight”, “human chopshop”, l”ost my mind again”, “napalm dream”, “grayhound”
Benji Blue Bills – Campaign Blue
Hidup dalam lingkungan gangster rap, seperti terjebak dalam lingkaran ouroboros antara mempunyai privilege sekaligus kutukan. Akhir 80’an waktu jenis musik ini mulai berkembang dan disorot publik dan media.
Berbondong-bondong media, pejabat, dan orang-orang konservatif nge-framing bahwa jenis musik ini seperti mempromosikan kejahatan, kekerasan, dan kultur gang pada generasi muda. Khawatir akan dampak negatif yang nyata, ada gerakan dan seruan untuk memboikot hip-hop.
Tentu para rapper menolak mentah-mentah tuduhan itu. Motif pengangkatan tema gangster hanya semata untuk ngasih liat realita yang terjadi pada orang-orang. Bahwa kekerasan, ketidakadilan, dan ketimpangan masih bergelimangan dimana-mana, khususnya dialami masyarakat kulit hitam. Tapi terlepas dari stigma dan pemberitaan miring, gangster rap menjadi salah satu preferensi budaya pop remaja Amerika.
Dari sini privilege sekaligus kutukan itu berlangsung. Privilege nya rapper-rapper bisa sukses besar dengan tetap tampil apa adanya. Kehidupan “jalanan” itu yang justru jadi daya tarik untuk di komodifikasi dalam industri hiburan. Kutukannya, adalah setiap rapper harus selalu tetap tampil dalam balutan branding “gangster”-nya. Kalo engga, tentu akan terancam kehilangan daya tarik.
Sekarang dalam kacamata hip-hop modern, garis perbedaan antara menselebrasikan dan memberitakan kehidupan gangster semakin blur. Enggak dipungkiri bahwa beberapa punggawa rap tetap hidup dan aktif dalam lingkungan gang. Ditambah dengan ekspansi nyeritain kehidupan hedonistik dan glamor, makna gangster bisa kemudian bergeser secara semantik seperti celotehan-celotehan Benji Blue Bills.
Bisa jadi gangster bukan lagi persoalan perang senjata dan kekerasan, tetapi lebih punya kebebasan buat ngelakuin apa aja sesuai kemauan intuitif. Bagi Benji Blue Bills, punya uang dan harta itu seperti seorang gangster yang nodongin pistol glock 30 atau smith and wesson ke setiap kepala musuhnya.
Alias punya wewenang buat mengendalikan situasi sesuai kehendak. Benji enggan menurunkan hasrat maskulinitasnya, dan dia tetep nge-rap dalam gaya sengau dan sombong, bahkan meski dalam lapisan synth yang menyorot secara kalediskopik dan melodik sekalipun.
Ya, bagi yang familiar ini adalah gaya musik Rage yang dipopulerkan oleh salah satu bintang hip-hop terbesar saat ini, Playboy Carti, dengan repetisi beat, dan efek melodi synth. Tetapi Benji punya timbre 21 Savage dengan versi cadence antusiastik, lincah, dan mau membuka mulut dengan lebar untuk meludahkan rima di atas instrumen.
Rekomendasi track: “Appreciation”, “Dirty Ops”, “Out of Bonds”, “Red Dot”, “Gang Files”, “Out of Time”, “Coming Home”, “Bitches”, “Everybody Kilelrs”, “Bust a Move”, “On Fire”, “Gtfoh”
Leibstandarte – La Légion Blanche
Kalo di Indonesia, black metal dengan sentimen terhadap Agama jadi subjek sensitif dibandingkan band black metal yang punya paham dan fraksi politik ekstrim. Di luar justru sebaliknya, black metal dengan paham politik ekstrem cenderung lebih diwaspadai dibanding band yang mengambil sikap oposisi terhadap Agama.
Ituangannya bagi di luar, Agama adalah tanggung jawab sepenuhnya dan hak absolut preferensi pilihan individu, sementara dalam wilayah profan seperti memilih preferensi politik tertentu dikhawatirkan berdampak dalam tingkat kolektif.
Berbeda di Indonesia, dalam subconscious kesadaran masyarakat, Agama bukan lagi sekedar opsi preferensi personal. Tapi sudah tertanam dalam taraf budaya, dan bahkan menjadi salah satu pillar konkrit falsafah Negara.
Tentunya itu bisa dipahami lewat sejarah dan latar belakang, ketika Indonesia punya kedekatan dan hubungan dengan masuknya beberapa ajaran Agama. Sedangkan bangsa barat punya segudang pengalaman langsung mengenai trauma dan xenophobia (Nazisme, Fasisme) akibat pilihan politik. Jadinya ini bisa dijadikan fondasi justifikasi disparitas paradigma yang terjadi.
Tapi tentu bukan black metal namanya, kalo tidak bersinggungan dengan isu-isu sensitif dan ekstrimis. Awal 90’an, band-band black metal yang dituduh neo-nazi (NSBM) masih menyamarkan dukungan. Seringkali bentuk dukungan disusupkan dalam lirik seputar patriotisme, nasionalisme, dan paganisme. Tapi semakin ke sini, banyak organisasi, label, dan band black metal yang terang-terangan menyatakan afiliasi terhadap lingkaran NSBM.
Lingkaran NSBM ini pun tersebar ke seluruh penjuru dunia mau dari Romania, Polandia, Prancis, Inggris, sampai negara dunia ke-3 macam Argentina dan Kolombia pun ada. Aktivitasnya pun gak lagi cuman sekedar nulis dan rekam lagu, tetapi sudah dalam tahap politik pragmatis untuk menyuarakan paham, sampai punya festival tersendiri.
Jadi, ga heran kalo ada banyak band NSBM secara musikalitas itu di bawah standar dan ga layak dengar secara materi sound, penekanan fokus pada adegan politisnya. Tapi Leibstandarte ini masuk spektrum yang dibilang bakal jadi band guilty pleasure buat yang doyan black metal tapi picky dalam milih band yang didengar berdasarkan preferensi paham politik
Meski dari Prancis, tapi nama “Leibstandarte” justru diambil dari nama satuan unit divisi pengawal pribadi Adolf Hitler, Leibstandarte SS Adolf Hitler (LSSAH). Awalnya bernama “Stabswache Berlin”, tetapi selama masa Perang Dunia ke-II, Berkembang dari resimen menjadi brigade, lalu menjadi divisi panzer ke-1 SS “Leibstandarte SS Adolf Hitler”.
Balik lagi ngomongin musiknya, Leibstandarte mengambil salah satu format black metal yang paling disenengin. Gaya rekaman ala black metal Scandinavia gelombang ke-2, lapisan riff gitar yang dibikin melodik, dan vokal dengan tone serak dan garang, dibanding pake teknik vokal yang bikin tenggorokan sakit.
Singkatnya ada rasa raw tapi melodius dari sisi adegan black metal Finlandia, tapi mainin interval melodi lebih tinggi ala medieval black metal Prancis, secuil petikan gitar akustik yang epik dan sedikit berair dari hellenic black metal.
Selain formula dasar barusan yang solid, patahan-patahannya bikin betah denger album ini berlama-lama. Mulai dari ngasih aksen pukulan drum ala punk, ngasih panggung buat riff tampil dominan beberapa saat, maupun rajin mengganti fragmen bagian aransemen, membuang kesan flat dan monoton.
Rekomendasi track: “Continuer à se battre”, “La nuit des longs couteaux”, “H. Jugend”, “Jedem das Seine”, “Leibstandarte”, “Les Chacals”
Darkwood – Notwendfeuer
Masih ngelanjutin topik di atas, kalo NSBM secara terang-terangan dan frontal nunjukin simpati dan dukungan terhadap gerakan neo-nazi. Ada beberapa genre musik lagi yang disinyalir mendukung pergerakan ini. Mengapa masih disinyalir, karena untuk genre musik ini ngambil pendekatan yang menempatkan diri dalam wilayah yang sketchy dan subtill, dibandingkan langsung mendukung butir ideologis konkritnya.
Sadar, bahwa kalau menyatakan sikap pasti akan menimbulkan pertentangan dan ketidaksetujuan ekstrem, akhirnya strategi gabungan yang namanya meta politik dan neo-romantisme digaungkan. Bahasa awam nya, meta politik adalah salah satu strategi yang nyebarin paham bukan secara eksplisit, tapi diselundupkan pada berbagai hal, bisa mengenai seni, literatur, sejarah, dan lainnya.
Dalam neo-folk, penyelundupan paham fasisme atau sosialis disematkan dalam kolong jenis neo-romantisme, dimana musik yang dibuat sengaja menyentuh ekspresi yang lebih emosional, kembali kepada akar tradisi musik, seolah menciptakan perilaku musikal yang religius dan “alim”.
Konsep-konsep semacam atonalitas, disonansi yang menjadi simbol revolusi dan semangat libertarianisme, dikesampingkan dengan mengembalikan paradigma konservatif bagaimana seharusnya musik dibuat.
Ga jarang juga bahwa lirik yang ditulis ikutan nyeritain tentang sesuatu yang berbau romantis, dan percintaan. Tetapi bahwa objek yang dituju pada predikat cinta itu sengaja dibuat ambigu, apa yang dimaksud cinta itu pada seseorang, atau sebagai ekspresi mendukung paham tertentu, bakalan sulit dibedain kalo cuman sekedar jadi pendengar pasif.
Pengalaman seperti ini percis terjadi ketika mendengar album dari kelompok neo-folk asal Jerman, Darkwood dalam albumnya “Notwendfeuer”. Secara sekilas, keseluruhan rekaman “sama sekali ga menunjukan kecurigaan”, karena dikemas dalam format musik folk akustik minimalis yang ga neko-neko secara eksekusi. Apalagi lirik-lirik yang ditulis dalam gaya puitis dan kadang seperti percakapan seorang pasangan, sehingga sulit untuk mendeteksi motif asli.
Secara muskalitas, album “Notwendfuer” pun jadi katalog terbaik yang pernah Darkwood rilis. Terbukti bahwa untuk jenis musik yang tersegmentasi dan menggunakan jalur rantai pendistribusian khusus, Darkwood mampu menjual habis salinan kopi album, hingga mendapat permintaan agar album dicetak ulang di luar dari tanggal rilis peresmiannya
Bagi yang suka dengerin format akustik folk dengan suara bariton yang punya vibes murung tapi nyanyiin lagu-lagu tema romantis bakal kepincut. Manuela Zankl yang selain mendecitkan akordion yang mempertebal garis bawah elemen folk juga menjadi anti-tesis vokal Henryk dengan karakter suara berseri-seri dan lembut.
Selain tema besar yang nyeritain seputar alam, romantisme, tema lirik nyerempet mengenai militeristik dan kepahlawanan. Sedikit intermezzo, kamuflase meta politik dalam genre musik martial industrial, biasanya ngomongin tentang nasionalisme dan patriotisme.
Tetapi kadang jadi bermasalah, karena pemilihan sampling atau gaya musik marching yang dicuplik datang dari lagu-lagu serdadu Jerman Nazi yang lagi-lagi sebagai simbolik dianggap menyatakan dukungan. Terkadang neo folk dan martial industrial bisa bersatu padu, ketika liriknya beririsan pada sisi-sisi paganisme, patriotisme, dan nasionalisme.
Untuk kasus, Darkwood elaborasi martial industrial terintegrasi secara halus, artinya ga terang-terangan bikin lagu yang isinya cuman marching track, tapi samar-samar ada secuil pola drum marching. Terlepas dari kontroversi dan ambiguitas yang menyelimuti, suka nggak suka “Notwendfeuer” adalah album neo-folk yang solid dan konsisten dari awal hingga akhir.
Nuansa getir, murung, tapi sekaligus melankolis dan romantis bisa terartikulasi dengan baik, dari banyaknya instrumen (biola, accordion, cello, trumpet) yang sengaja diperas bikin untaian melodis, dibanding bikin baris harmoni improvisasi. Belum lagi kolaborasi vokal Henryk dan Manuela yang bikin tragedi dan cinta, bedanya seperti sehelai ujung rambut.
Rekomendasi track: “Wintermärchen”, “Lied Am Feuer”, “Feuerkreis”, “Totenburg”, “Roggenfelder”, “Ostenfeld”, “Weltenstürme”
Excoriation – Excoriation
Kalo dipikir-pikir ada semacam fenomena terbalik yang menjembatani penikmat brutal death metal, karya brutal death metal, dan penciptanya. Sekarang brutal death metal jika ngomongin umumnya, tercipta dari hasrat dan fantasi sadisme (ada hasrat kepuasaan bila menyakiti orang lain). Tema-tema gore seperti pembunuhan, mutilasi, hukum siksa secara fisik udah jadi bahasa percakapan sehari-hari diskursus brutal death metal.
Terlepas dari motif dasarnya itu mengkritik, ngasih tahu, atau cuman hasrat yang hanya bisa terealisasikan dalam mental, intinya secara semantik brutal death metal disajikan demikian.
Itu yang menjadi dasar, kalo musik brutal death metal emang sengaja dibikin “busuk” secara suara, pake vokal gurgling yang bikin mual, distorsi gitar dibikin tebal dan down-tuned, serta tempo lebih ngebit dibanding rata-rata sub-metal lainnya.
Itu dari sisi kreasinya, tapi dari sisi penggemar sebenernya fenomena yang terjadi itu bukan jadi mengafirmasi atau menikmati konsep “sadisme”-nya. Malahan lebih terkesan masokis yang masuk (mendapat kesenangan dengan menyakiti diri).
Bukan masokis secara harafiah, tetapi lebih mendapat kesenangan dengan mendengar musik yang punya desibel dan karakter ultra bising, jarang hampir ga ada melodi, dan gaya vokal ala monster, dimana bagi orang umum dianggap sebagai aktivitas menyiksa kuping.
Ketika berdiri dalam sudut penikmat, sebenernya konten lirik, pesan-pesan fantasional yang diutarakan itu ga penting. Orang lebih menikmati artwork dan fenomena musiknya.
Hampir jarang ada orang yang baca, hafal, apalagi mengutip lirik-lirik brutal death metal (kecuali liriknya yang mengandung konteks politis). Dalam lingkun brutal death metal ada micro-trend dengan dalil, kalo semakin “jelek” dan “busuk” suara yang disajikan, justru semakin disukai.
Excoriation jelas masuk ke dalam tamu agung Salty Spitoon nya brutal death metal. Apalagi band brutdeath asal Rusia ini bernaung dalam label New Standard Elite, sebagai salah satu label elit ceruk musik ini, Excoriation jadi punya semacam legitimasi.
Secara arsitektur rekamannya, dibikin melebur seperti lumpur, tanah, dan sedimentasi bebatuan teraduk jadi satu. Mau itu stem gitar ultra-rendah dengan gain distorsi tinggi, vokal yang terus menggerutu dalam teknik guttural atau gurgling, sampe ledakan dahsyat dari kick bass, seperti ditempel rapet semuanya.
Yang bikin percikan di sini, percis adalah suara snare-snare kaleng ala band brutal death sejenis Brodequin dan Baalsebub. Hal yang bikin nikmat adalah fluktuasi tempo mulai dari tempo grinding yang berputar cepat layaknya gasing, tiba-tiba turun pada voltase rendah tempo slamming yang naikin vitalis elemen groovy dan teknik pinch harmonics nyelekit dari gitar, serta vokal yang ngasih lekukan ritmis.
Kuncinya ada di kata “lumpur”, jadi meski suaranya “busuk” tetap menyisakan bagian yang terasa “basah” dan “lengket”, bikin secara tekstur lebih natural, dan nuansa aroma pembusukan on-point secara esensi.
Rekomendasi track: “Orgasmic Scaphism”, “Infected Interior”, “Art of Torture”, “Rotten Womb”, “Icon Of A Hedaless Whore”,
Baca Juga : Mengapa Semua Harus Terjadi…





