Apakah semua hal yang terjadi sudah digariskan dalam sekat-sekat hukum kausalitas? Bagaimana dengan semangat “kehendak bebas” yang menggaungkan setiap manusia dapat menggenggam dan mengendalikan takdirnya sendiri?
Bagaimana bahwa kalau manusia terjebak dalam paradoks ganda? Ketika kehendak bebasnya telah diatur oleh kausalitas lebih besar yang tersembunyi? Seperti hasrat individualisme liberal yang terbentur dalam modus-modus yang tersusupi dalam kondisi materiil?
Prinsip linieritas waktu turut mengikat dalam taraf ontologis bahwa manusia mengalami fiksasi dalam menempati satuan ruangan dan waktu tertentu. Mari buang sejenak realitas sempit dan membosankan ini dalam dunia parallel multisemesta. Setiap manusia dapat berkomunikasi dengan dirinya di masa depan atau lampau, dalam posisi waktu yang sejajar
Sifat dan kehendak manusia mampu berubah bahkan lebih cepat dari lesakan partikel molekuler manapun yang pernah dijumpai. Setiap lapisan memiliki kedudukan superposisi untuk menentukan pembentukan unsur zat. Seorang penjahat, seorang malaikat, seorang spiritualis, seorang materialis, seorang penyanyang, seorang pembunuh, terpencar dan bergerak secara paralel. Ter-fabrikasi dari entitas sama yang memiliki kehendak multisemesta.
Bayangkan bila semua itu terjadi…
The Independents – The First Time We Met
Ketika musik soul mulai mengalun dari speaker, seketika dunia ini cuman dipandang hanya ke dalam satu bahasa, yakni “Cinta”. Baik perempuan atau laki-laki, spiritual atau materi, hubungan persahabatan atau kekeluargaan, musik soul selalu ga kehabisan kata-kata ungkapan cinta.
Bahkan bentuk pengecualian untuk beberapa penyanyi-penulis lagu soul seperti Marvin Gaye, Stevie Wonder, dan Curtis Mayfield yang bikin lirik kritik sosial. Ketiganya tetap memilih mengungkapkan dengan cara mempertanyakan kembali rasa moralitas dan cinta sesama manusia.
Laki-laki se-macho dan maskulin di tongkrongan pun, sekalinya kena siraman tembang soul, perlahan menjadi pria flamboyan yang merasakan relasi inklusivitas dengan cinta. The Independents adalah representasi dari cinta yang timbul dari rasa impresi pertama kali berjumpa.
Secara wujud bisa saja beranjak menjadi cinta sejati, atau kandas, tapi memorinya akan terus melekat. Perasaan pertama kalinya jantung berdegup kencang, gagap mengungkapkan kata-kata, masuk pada sensasi-sensasi melankolis romantis yang bikin bergidik, hingga merasakan rindu tak tertahankan terangkum semua dalam album ini.
Sang penyanyi utama, Chuck Jackson berbisik menghembuskan nada-nada menjuntai, merayu dengan kata-kata manis. Polesan instrumen string lembut, frasa piano meliuk anggun, dan tiupan horn seolah membangkitkan gairah dan merestui agar penerimaan cinta segera terafirmasi ke dalam batin.
Memang, ini juga menjadi salah satu gaya utama dari musik soul Chicago, memoles aransemen terasa lebih merdu, melankoli-sentris, dan musik-musik yang lebih accessible dalam sekali pendengaran. Album ini juga bisa menunjukan sisi gairah dan berapi-apinya, pada beberapa tembang yang digubah dalam tempo up-beat, drum menghentak, dan ritme sentris.
Pengaruh psychedelic rock dan musik funk memang tidak dipungkiri menjadi salah satu trendsetter musik utama saat itu. Ga heran, Chuck Jackson beserta kolega memutuskan mengkooptasi ke-2 musik trendi itu, menjadi semacam sengatan listrik kejut yang bikin badan berjingkrak-jingkrak ngikutin irama untuk beberapa menit.
Sekali lagi, bagi The Independents, cinta bukan soal wujud tapi rasa. Meski The Independents pernah dicintai oleh masyarakat soul / R&B, hingga kemudian bertahan dalam Billboard selama 3 minggu, lalu terlupakan kemudian. Tetapi bagi yang berhasil menemukan album ini dari tumpukan piringan hitam, dijamin akan mulai merasakan bahasa cinta sedikit demi sedikit mewarnai setiap sudut hati.
Rekomendasi track: “I Just Want to Be There”, “Our Love Has Got to Come Together”, “Can’t Understand It”, “Just as Long as You Need Me (Part 1 & 2)”, “Leaving Me”, “Couldn’t Hear Nobody Say (I Love You Like You Do)”
lizzy’s personal army – all lizards go to heaven!!!
Tuntutan untuk menjadi musisi saat ini semakin berat. Selain harus mikir keras sisi entertainment untuk kepentingan showbiz dan survive, musisi seolah “bertanggung jawab” penuh mikirin nasib dan luka penderitaan kolektif sosial.
Musisi harus jadi pahlawan setiap saat, seolah kalo ga bikin karya yang lirik-liriknya ga relate dalam keadaan, seolah ga layak dengar, dan sisi fatalisnya bisa dituduh sebagai individu nir-empati dan ga peka sosial.
Di tengah gonjang-ganjing dualitas luka dan trauma sosial yang menjelma menjadi tirani heroic syndrome, salah satu jenis musik, hyperpop terasa lebih longgar memfasilitasi orang yang bosan jadi hero dan pengen nuangin segala imajinasi dari isi kepalanya. Haluan politis dan suara genre ini ga melulu harus diungkapkan harfiah dari lirik, tapi salah satunya bisa melalui sikap dalam bagaimana mengaransemen musik bisa menjadi tanda dan sinyal kuat.
Ga heran dalam hyperpop setiap estetika ataupun dunia imajinasi yang digambar dari sesama artist hyperpop, bisa sangat berbeda secara signifikan dan unik. Seorang artist hyperpop asal Baltimore, Beardy bahkan bisa kepikiran menciptakan karakter fiksi jelmaan kadal 2 dimensi ala estetika Y2K, yang seolah menjadi ajudan pribadi dalam salah satu proyeknya, lizzy’s personal army.
Mau dibilang sepenuhnya cheerful, energetic, dan positive vibe, Beardy ngingetin secara singkat dalam laman bandcamp-nya kalo album ini juga punya lubang hitam yang ga disadari. Tetapi kalau ga mau ambil pusing buat nerjemahin musik album ini mentah-mentah arpeggio-arpeggio synth lincah, sudut aransemen yang non-stop bikin hook, sampai vokal bright bikin album ini kebanjiran dopamin dan hal-hal menyenangkan.
Supaya albumnya ga terkesan diabetic, karena cuman melimpah hal-hal “manis” ynag dibuat dari sintetis instrumen elektronik maupun polesan efek-efek vokal, eksplorasi ketukan trap mode malam (synth dibikin redup, suara lebih senyap), sampe bikin gumpalan suara synth mendung, seenggaknya bisa nyiptain secuil kontras, dan mungkin ini juga yang dimaksud lubang hitam itu.
Meski banyak sudut percampuran genre yang berderet mulai dari pluggnb, digicore, future bass, trap hip-hop, sampe ambient, transisi ga terdengar chaotic ala arsitektur-arsitektur post-modern, dan tempo yang tergolong masih dalam taraf bpm wajar (di bawah 200 BPM).
Rekomendasi track: “777 MPH”, “don’t like me”, “PUSH ME ASSIDE”, “save the world”, “MORPHINE dream, “TIMEBOMB”, “green target”, “break my teeth”
культура курения (Kultura Kureniya) – Полночь в Новосибирске
Baik depressive black metal (dsbm) maupun post-punk punya sentimen senada, yaitu sama-sama dianggap sebagai musik depresi. Kalo dsbm jelas bahwa sudut-sudut pesimistik justru dirangkul sebagai bahasan tema utama. Sedangkan post-punk baru ketara tuduhannya, sejak salah satu pelopor, Ian Curtis bersama band legendaris asal Manchester, Joy Division punya kisah kelam dan ga jarang musik-musiknya adalah refleksi dari kisahnya.
Post-punk pun semakin kelam, ketika menambah pengaruh corak gothic yang bukan secara visual, tapi secara pengalaman aural musiknya. Tapi apa jadinya kalo ke-2 ekstrem ini bersinergi jadi satu, apa jadi musiknya depresi kuadrat?, bener-bener hopeless?, dan cuman nampilin unsur musik yang seutuhnya suram?
Paradoksnya, Kultura Kureniya malah bikin elementer post-punk seolah ngasih kontras, dengan rela mainin tekstur suara yang lembut lewat pengaruh jangly gitar yang daya sparkling-nya redup, atau seenggaknya ngasih progresi akor melodius syahdu, meski dalam rudungan nuansa melankolis nan duka.
Ketukan drum post-punk khas yang mainin hi-hat dengan gesit dan snare atraktif di atas bassline melodius, bisa jadi pembukaan lagu yang menaikan gairah dengan gaya sesi jamming, sebelum menuju hidangan utama.
Beralih menuju sisi elementer blackened-nya album ini, elemen dsbm sebagai representasi entitas sub-genre memang ga terpenuhi seutuhnya. Semenjak gaya rekaman black metal ber-fidelitas rendah menjadi tren di kalangan underground, dsbm sekarang pun seperti jadi formalitas menggunakan teknik produksi serupa. Di album ini sendiri, justru sebaliknya, produksi masih terasa bersih, dengan suara gitar yang masih kedengeran pergerakan melodinya, dan ga blurry dengan instrumen atau vokal.
Tapi buat penyematan tags dsbm di sini juga bisa masuk akal, mengingat disamping menyuntikan pengaruh black metal, lirik-lirik dalam album ini juga bercerita mengenai depresi, penyesalan, keputusasaan, dan topik-topik yang beririsan dengan domain dsbm. Tapi cara pengungkapannya, ga se-eksplisit dan se-suicidal dsbm.
Malah unsur black metal di sini lebih pekat menyentuh ranah atmospheric black metal dan post-black metal. Ada beberapa momen dengan durasi cukup lama, dimana lapisan tremolo riff dibiarin mengeksplorasi melodi dengan deliver tradisional blast-beat dengan timing lebih telat, berusaha sekuat tenaga membangun nuansa dan mood album dari instrumen.
Dengan memiliki kolam yang terdiri dari kubangan black metal, post-punk, gothic, dan terkadang bumbu doom metal turut larut, Kultura Kureniya melompat terjun secara bebas, tenggelam menyelami kolase emosional yang merentang dari kesedihan, kesepian, keputusasaan, dan kehampaan.
Rekomendasi track: “Вечное молчание безлюдья”, “Ирина”, “Раны дождя”, “Призрачность”
Ganavaya – Daughter of a Temple
Selain jazz menangani sisi sekuler, sebagai simbol kultur yang mendobrak sekat-sekat ketidaksetaraan dan pengucilan. Jazz punya tempat kontemplasi tersendiri untuk mengeksplorasi sisi spiritual dan rohani.
Pemain saksofon legendaris, John Coltrane berhasil menemukan kembali dirinya, lewat transformasi penyucian transendental dalam album, “A Love Supreme”. Lewat mahakarya itu, John Coltrane bangkit dari keterpurukan adiksi heroin & alkohol sekaligus mampu melahirkan kembali visi bermusik Coltrane yang 180 derajat berbeda.
Album itu menjadi lanskap kelahiran sub-genre spiritual jazz, dan sang istri, Alice Coltrane turut berkontribusi besar mengekspansi musik jazz pada fenomena-fenomena abstrak melalui petikan harpa dan menanggalkan unsur kepercayaan hindu dalam setiap lantunan nada.
Setelah lebih dari setengah abad, bisikan spiritualitas pasangan coltrane mampu menggetarkan sanubari seorang gadis bernama Ganavya Doraiswamy. Sebagai bentuk penghormatan pada “leluhurnya”, Ganavya membuat sebuah album tribute.
Meski berlabelkan “album tribute”, Ganavya tetap membawa pengaruh kedekatan pengalaman personal spiritualnya, sehingga ini tetap menjadi album dengan domain penggambaran jiwa pribadi. Ganavya membawa 30 seniman lebih dari berbagai divisi instrumen, sehingga punya rentang lebar untuk bermain dalam irisan musik jazz spiritual dan ornamen musik otentik khas asia selatan.
Album ini sendiri seperti terbagi ke dalam 2 sisi, sisi pertama dengan format pembawaan musikal biasa. Sisi bersebrangan, tersusun dari satu suite yang terpecah jadi 4 segmen. Sudah jelas bahwa ide itu, digali dari “A Love Supreme” nya John Coltrane, bahkan suite pun diberi garis besar judul tema dengan nama serupa.
Selain piawai sebagai multi instrumentalis, peran tarik suara Ganavya di sini sangat vital. Vokal bisa beroperasi pada beberapa bentuk mulai dari ngeluarin cengkok merdu. Lalu ada harmoni-harmoni vokal yang ngasih lapisan kontemplasi ritualistik ala sembahyang kepercayaan hindu.
Biarpun kelimpahan tenaga dan variasi instrumen, Ganavya ga takabur buat mamerin semua personnel untuk mainin improvisasi masing-masing instrumen. Ganavya percaya bahwa jalan kesunyian (bukan kesendirian) adalah cara yang ampuh untuk memasuki fase transformasi spiritual. Itu yang bikin album ini punya banyak ruang kosong untuk merenung dan refleksi meski melibatkan banyak tangan dan kepala.
Ga heran mau instrumen apapun baik yang karakter suaranya lembut (suling, violin, harpa) sampe yang keras kaya (sitar, piano, saxophone) hanya diberi jatah peran mengisi satu lapisan, sehingga instruksinya mirip dengan ambient dan new age. Sebagai penguat sarana spiritualitas album ini, Ganavya turut membawa prinsip kehidupan Sanātana Dharma ala Hinduisme.
Ganavya mencoba menerangkan secara subtil salah satu tahapan kehidupan, Vānprasthya ketika seseorang berhasil melepaskan diri dari ketergantungan dan obsesif terhadap keterikatan dunia. Bagi yang telah menyampai tahap ini, kehidupannya berpaling untuk menciptakan kuil (ungkapan metaforis) yang bisa membawa kedamaian dan perlindungan baik untuk diri sendiri maupun sekitarnya.
Rekomendasi track: “A Love Chant”, “Om Supreme”, “Prema Muditha”, “Om Mamah Shivaya”, “Journey in Satchidananda / Ghana Nila”, “A Love Supreme, Part 2: Peter Sellars”, “A Love Supreme, Part 3: Alice Coltrane”, “A Love Supreme, Part 4: IONE”
Lil E – Playa 4 Life
Adegan memphis hip-hop 90’an boleh kalah pamor dari rivalitas adegan east-coast & west-coast hip-hop. Tapi, hari ini situasi berbalik, memphis hip-hop malah yang terasa lebih dekat pengaruhnya terhadap adegan hip-hop modern.
Dulu sangat terbatas orang-orang yang kenal memphis hip-hop, karena keterbatasan kemampuan distribusi, dan jarang dapat coverage dari media-media besar. Eropa, sebagai pasar ke-2 hip-hop terbesar setelah Amerika pun, masih terasa asing akan kehadiran adegan memphis hip-hop.
Secara teknologi, teknik dan eksekusi produksi musik masih “terbelakang”, dibanding adegan hip-hop pantai timur dan barat, yang saat itu dipandang sebagai kiblat hip-hop. Disaat CD mulai dikenal dan populer pada tahun 90’an, Memphis hip-hop masih mengedarkan karya-karya melalui format kaset.
Tapi siapa sangka dibalik keterbatasan para produser maupun dj, malah mendorong mereka untuk ngembangin teknik produksi khas sendiri dan malah mendunia. Ketukan beat gemuk mendominasi ruang ritme yang dihasilkan dari mesin TR-808 dan hi-hat yang suaranya mirip cetekan kompor gas pas mau habis, yang biasa dipakai oleh para soundcloud rapper kekinian, itu asalnya dari kreasi anak-anak Memphis.
Gaya hi-hat yang gesit dan beat yang laid-back itu bikin rapper-rapper di sana lebih nyaman ngisi flow rima dengan gaya triplet, gaya 32 bars (cepat atau lambat), biar masukin verse lebih panjang, dan sengaja bikin jeda di antara rima pas mau bikin hook lagu.
Dari sisi memberikan warna pada instrumen, umumnya di maupun produser ngasih banyak layer sampling, tapi tersamarkan dengan suara synth dengan unsur gloomy dan spooky. Yah, eksplorasi “sisi gelap manusia” dalam memphis hip-hop ga cuman berenti di tatanan sosial. Tapi ke ranah yang lebih personal mengenai ketidakstabilan emosi, kepercayaan, dan gangguan psikologis.
Ga heran seringkali liriknya mengangkat tema horror dan depresi. Bahkan satu-satunya adegan hip-hop pada masa itu yang membawa tema satanisme ke dalam kultur musik ini. Dengan pendekatan produksi yang cenderung masih mentah, kotor, dan lo-fi, baik figur yang sudah terkenal (Three 6 Mafia, Koopsta Knicca) atau underground pun ga terlalu ninggalin gap besar.
Lil E masuk kategori tier rapper underground dari adegan Memphis hip-hop. Tergabung dalam grup hip-hop, Playa Posse, Lil E cuman rilis satu album solo sepanjang karirnya. Memang bukan album esensial, tapi tergolong katalog yang solid dan wajib didengerin buat yang lagi gali-gali sound khas memphis hip-hop. Berkolaborasi dengan produser hip-hop bawah tanah Blackout, keduanya bikin album yang sesuai dengan kaidah dari dasar musik memphis hip-hop yang udah dijelasin panjang lebar di atas.
Secara delivery flow, Lil E tipikal rapper yang main dalam tempo relatif medium menuju lambat. Bukan cuman Lil E seorang yang ngisi bar demi bar kalimat, beberapa rekannya seperti Terror, Lil Slim, Wako, Peanut, gang Play Posse, dan Blackout turut menyumbangkan lirik dan rima. Ini yang bikin dari segi tempo dan timbre delivery flow lebih beragam, seperti Stout Pimp ngoceh lebih gesit dan teknis atau Lil Slim yang suaranya terasa menggigit.
Sedikit intermezzo, kalo dilihat daftar anggota dari Playa Posse, hampir semua anggota menggunakan nama depan “Lil” (termasuk Lil E). Berkaca pada adegan hip-hop era sekarang, banyak rapper bermunculan menggunakan nama panggung “Lil”. Sekali lagi ini juga bisa pembenaran statement di atas, kalo memang adegan memphis hip-hop yang saat ini terdepan dalam mempengaruhi para generasi sekarang.
Sehingga kalo dibilang adegan hip-hop modern itu melupakan dan menyalahi akar hip-hop, engga sepenuhnya benar. Mereka hanya lahir dan besar dari leluhur berbeda dari kebanyakan leluhur pujaan orang banyak.
Rekomendasi track: “In This Bitch”, “Playa For Life”, “Hype Off Them Drugs”, “Blizo Got Me”, “Lil Sumn For Your Heroes”, “Last Song”
Baca Juga : Tunarasa Pengetahuan Musik Kosmik…





