Tunarasa-Pengetahuan-Musik-Kosmik

“Jika hanya mata satu-satunya jendela pengetahuan, apa boleh buat, 1000 orang buta akan layu, dan 1 pasang mata tidak akan mampu melihat dunia.” 

Pernahkah terlintas di pikiran, bahwa apakah harus menjadi musisi dulu untuk bisa mengakses pengetahuan musik? Maksudnya, apakah pernah menjadi perbincangan serius bahwa seseorang memiliki pemahaman yang bagus dari sisi pendengar turut mengambil peran penting, dimana itu seringkali dipandang reduktif terhadap musisi yang aktif mencipta?

Kalo mau ngambil ranah yang lebih praktis, acuan seseorang “paham” musik, dari sisi pelaku jelas akan lebih mudah terukur. Semuanya, bisa dilihat apakah seseorang jago main instrumen, bikin lagu, sampai apa bisa jadi musisi betulan yang rilis masterpiece

Sedangkan dalam sisi pendengar, orang yang “paham” musik dikaitkan sama hal-hal materiil, seperti hafal sejarah, hafal judul lagu, hafal personil band, dan persoalan trivial seolah-olah itu menjadi fondasional esensial dari seorang “paham” musik. 

Untuk sesama antusias musik, harusnya dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang, punya pemahaman seperti itu bukan privilege lagi. Kesenjangan pengetahuan ga akan signifikan, dengan orang yang tahu dan tidak. Poinnya bukan mau bilang bahwa pengetahuan substansial tentang musik itu harus eksklusif, Tapi hal-hal materiil semacam itu bukan sebagai landasan fondasional substansial mengenai akses pada pengetahuan musik. 

Mungkin untuk beberapa saat, pengetahuan yang sifatnya empiris bisa dikesampingkan dulu. Musik tentunya adalah soal rasa, intuitif, dan emosional. Maka dari itu, harusnya jika ingin untuk setidaknya ada peningkatan praktis dalam “pemahaman” musik sisi pendengar, harus terjadi dalam ranah-ranah metafisik semacam itu.   

Apakah hal-hal ini bisa diturunkan jadi tingkat kenyamanan epistemik (pengetahuan), sehingga ada struktur yang bisa dibawa untuk kemudian dipelajari dalam taraf kesadaran? Mungkin di luar sana sudah ada yang membakukan hal semacam itu. Tapi kalo dari refleksi pribadi, ada 2 cara paling sederhana untuk meningkatkan pemahaman yaitu kedalaman dan perluasan. 

Anggaplah satu genre musik mewakili satu planet. Kedalaman terjadi ketika intuitif dan emosional dibawa pada penjelajahan mendalam sebuah planet katakan planet hip-hop. Sekali lagi, penjelajahan di sini bukan pada hal material di atas, tapi lebih pada penghayatan berbagai jenis dan pola suara. Penjelajahan berakhir, jika intuitif dan emosional telah merasa berhasil membangun interkoneksi terhadap planet.

Kemudian, untuk perluasan terjadi ketika intuitif dan emosional dibawa pada penjelajahan beberapa planet sekaligus (katakan planet rock, folk, hip-hop). Tujuan normatif daripada penjelajahan ini tentunya, memiliki pengetahuan setara kosmik, dimana pemahaman dapat mencakup seluruh anggota planet dan memahami setiap karakteristik dan perilaku anggota planet.

Memang untuk saat ini, tingkat pengetahuan seperti itu hanya menjadi angan-angan utopis. Tetapi toh tidak ada kekuatan yang saat ini mampu melimitasi hasrat secara universal, sehingga apa salahnya menikmati setiap jengkal kemungkinan eksplorasi pengetahuan dalam belantara kosmik? 

Wędrowcy~Tułacze~Zbiegi – Droga Do Domu

selera-musik-Wędrowcy~Tułacze~Zbiegi

Kebanyakan orang sepakat musik bagus itu lahir dari karya inovatif dan fresh. Tapi beda cerita kalau musikus udah punya formula solid yang bikin fans militan kadang inovasi justru dianggap hilangnya identitas.

Kasus ini sempat dialami proyek black metal Polandia, Furia, yang punya deretan album klasik. Album avant-experimental “w Śnialni (2021)” kurang mendapat sambutan, hingga akhirnya mereka balik ke sound black metal murni di “Huta Luna (2023)”.

Sang bassist, Sars ngebaca fenomena itu, dan memilih numpahin ide eksplorasi liar ke proyek sampingannya, Wędrowcy~Tułacze~Zbiegi. Meski punya benang merah dalam musik post-punk, sedari awal proyek ini senantiasa mengoplos gerakan musik yang dipelopori oleh band Siouxsie and the Banshees, Wire dan Joy Division itu dengan musik lain yang sebenarnya masih dalam satu domain. 

Misalnya di EP “Berliner Vulkan” mempertemukan pewarnaan instrumen bergaya 16-bit dan ketukan 4/4 status dari synth-pop, dengan lempengan halus synth minimal wave, tapi ngehasilin irama getir ala coldwave. Di EP. “Korpus Czechosłowacki” bikin ritme gitar dan echo vokal gersang ala-ala psychedelic rock

Ini yang secara langsung ngebentuk ekspektasi penggemar kalo, “Wędrowcy~Tułacze~Zbiegi” band eksperimental. Sehingga ketika “Droga do domu” tiba-tiba nempelin elemen black metal, pendengar ga akan kena culture shock.

Jelas ritme statis 4/4 statis disini tergantikan sama drum sungguhan yang lengkap dengan aksen cymbal yang ugal-ugalan dan blast-beat yang nonjok langsung ke muka. 

Rasanya jadi dapet aliran hembusan udara dari hutan dan pegunungan skandinavia, ketika elemen riff gitar yang diimpor dari gaya black metal gelombang ke-2. Tapi bukan Wędrowcy~Tułacze~Zbiegi namanya kalo ga bikin twist., seperti suara synth menjuntai dipasangkan dengan blast-beat pada lagu “Agapa II”, atau “Jak spalić wieś?” secara nuansa suara mirip genre space age pop 50’an, yang ngasih efek arpeggio elektronik dan synth simfonis ruang angkasa, “Muszę iść” punya pendekatan lebih ambient sampai riff gitar dikasih peran sebagai background laid-back.

rekomendasi track : “Agapa II”, “Muszę iść”, “Droga Do Domu”

Clown Core – Van

selera-musik-Clown-core-van

Clown Core adalah representasi sebagaimana album yang dibuat dalam keadaan demam tinggi. Setelah berhasil bikin kepala meledak pada album debut “toilet” dan ep “1234”, kini petualangan halusinasi Clown Core bermula dari mobil van biru. Di dalam van itu, ada sekelompok badut pembunuh yang lagi mencet terompet horn dan piano dengan tingkah laku psikopat-nya. 

Tiba-tiba Van itu masuk time travel menuju dunia cyberpunk melintasi langit item yang punya pergerakan menyerupai aurora dan ritme ganjil ala math rock. Van itu melayang di atas lapisan pancaran sinar bercahaya dari synth punk.

Lintasan kemudian berubah menjadi aspal terjal yang punya daya rotasinya sendiri. Bikin mobil akhirnya jalan ditempat secara ugal-ugalan dengan kecepatan maksimum, seperti gulungan ketukan breakbeat dari drumstep.

Di depan mata ada godzilla versi robot yang berteriak mengeluarkan distorsi ala cybergrind yang sepenuhnya terdigitalisasi sembari membredeli dengan letupan peluru senapan mesin bak suara blast-beat.   

Kemudian van bersama si badut terdampar di sebuah pulau sambil menikmati penampilan permainan saksofon yang lembut ala kelpy G. Tapi kemudian kiamat datang menghancurkan mimpi alias kembali pada realitas menyedihkan, sehingga Tuhan pun seperti meneteskan mata sembari memainkan piano dengan dinamika lembut, dan memencet saksofon secara halus.

Rekomendasi track : “Flat Earth”, “Song”, “Computer”, “Tears of God”, “Bologna Penis”, “McDonalds”, “You Are Pregnant”, “Existence”, ” Infinite Realm of Incomprehensible Suffering”

Luigi Russolo – Die Kunst der Geräusche

Luigi-Russolo

Bukan sekedar klaim simpang siur, komposer kelahiran Italia, Luigi Russolo dinobatkan sebagai bapak musik noise. Memang kemunculan Luigi menjelang akhir abad 19 hingga awal abad 20 bertepatan dengan gencarnya pertentangan “konsep musik klasik barat”. 

Misalnya, pianis sekaligus komponis kelahiran Hungaria, Franz Liszt ngenalin konsep atonal, Arnold Schoenberg, dan 2 muridnya Anton Webern & Alan Berg ngepopulerin konsep serialisme 12-nada, sementara Luigi Russolo bereksperimen nyiptain musik noise, sampe punya aliran sendiri, yakni futurisme

Ga tanggung-tanggung, Luigi Russolo bikin instrumen khusus kebutuhan komposisinya bernama intronamuri yang ditemukan tahun 1913. Bentuknya unik, terdiri dari beberapa box kayu dan dikasih corong speaker baja di depannya. Alasan Luigi membuat ukuran instrumen yang berbeda-beda, agar hasil noise yang keluar punya jenis suara beragam. 

Sayangnya, Intronamuri dihancurkan saat perang dunia, dan karena saat itu teknologi rekaman belum canggih, alhasil ga ada rekaman suara asli intronamuri yang bisa didenger. Beruntung, album kompilasi ini dirilis jauh setelah hari kematian Luigi 4 Februari 1947. Meskipun ini cuman hasil rekonstruksi, dan re-interpretasi dari karya aslinya, tetapi seenggaknya album kompilasi ini udah ngasih gambaran betapa futuristik-nya pemikiran Luigi Rusollo dibanding komposer sejamannya. 

Disaat para filsuf dan komponis lagi berdebat soal ngehubungin dunia musik yang abstrak dengan realitas, Luigi Rusollo pake konsep “noise” untuk ngasih jembatan jawaban. Makanya, komposisi musik Luigi ngasilin suara kebisingan keseharian mulai dari suara mesin, guntur, ledakan, guntur, dentuman, pecahan, dan lainnya. Luigi bikin musik “nyeleneh” dan kontroversial ini bukan tanpa alasan. 

Luigi lagi ngegambarin peningkatan penggunaan mesin dan revolusi industri, Luigi mencoba meramal masa depan musik. Dalam bukunya, “the art of noise” Luigi berpendapat kalau musik era modern semakin kompleks, dan akan lebih banyak musik-musik hasil bantuan mesin.

Selain proyek manifesto noise Luigi, kompilasi ini juga berisi kumpulan beberapa karya saudara kandung Luigi, Antonio Russolo ketika ke-2 nya tampil bersama. 

Rekomendasi track : Risveglio di una città, 1913, Ululatore, Gorgogliatore, Arco enamonirco, Corale, Serenata, Macchina, Canzone Rumorista

Akiko Shikata – Haikyo to Rakuen

Selera-Musik-Akiko-Shikata

Baik gerakan doujin maupun gerakan indie dan etos DIY barat punya banyak kemiripan, tapi juga ada perbedaan yang cukup mendasar. Entah mengapa, terkadang gerakan musik indie Barat, cukup terasa kemarahan dan sentimen mereka dengan industri musik arus utama. 

Alhasil ga jarang mereka bikin karya yang “sengaja mengolok-olok” dan ga setuju dengan apa yang ada di lemari etalase label-label besar. Hingga akhirnya bisa tercipta sub-sub musik ekstrem, yang memang akan tampak “jelek”, “amatir”, dan “tidak menjual” untuk ranah mainstream awalnya (sebelum akhirnya tetep kena komersialisasi juga), seperti punk, hardcore, gabber, black metal, dan lainnya.   

Tapi kalo liat doujin (spesifik musik), orang-orangnya lebih antusias, fokus, dan berdedikasi buat bikin karya inovatif, eksploratif, dan unik. Akiko Shikata contohnya, yang jadi salah satu musisi doujin jebolan era 2000’an awal. Kalo baca dan ngulik tentang latar belakang, salah satu albumnya “Haikyo to Rakuen”, Akiko Shikata malah dibilang kelewat ambisius. 

Album ini punya kedalaman kultural riset luar biasa baik dari sisi penerapan lirik, maupun musik. Akiko mempelajari secara mendalam teknik-teknik vokal dan harmonisasi ala musik periode barok. Darisana jugalah, Akiko punya kemampuan untuk ngeluarin teknik vokal polifoni di album ini, yang bikin teknik vokalnya bervariasi dan bisa menggapai konsep yang dia mau. 

“Haikyo to Rakuen” kalo diterjemahkan secara harfiah, itu reruntuhan Surga dan karena ingin musik ini ada unsur spiritualnya, teknik polifoninya ngebantu Akiko bernyanyi dengan nada-nada tinggi ala koor paduan suara, yang bersinar. 

Bukan berarti juga album ini sepenuhnya konsep yang abstrak. Sebaliknya, selain rekaman baroque pop bermandikan akustik yang sarat unsur “spiritualitas”-nya, Akiko coba ngegabungin beberapa kultur musik daerah seperti musik-musik kawasan Balkan, Eropa Timur, dan musik Latin. Dengan ada ekstra usaha juga, vokal Akiko turut impersonate beberapa corak aksen vokal musik daerah tersebut, meskipun tetap dengan tekstur vokal bersih dan “kekanak-kanakannya”.

Akiko sampe niat, untuk bikin lagu dari gabungan 3 bahasa antara Jepang kuno, latin, dan bahasa-bahasa fiktif buatannya sendiri. Bahkan Akiko ga mau musiknya didenger “sembarang orang”. Rilisannya bisa dibeli hanya melalui pos Nekotoriya (猫鳥屋), buat mastiin bahwa album ini menjangkau audiens secara intim yang emang pengen serius denger karyanya. 

Sebagaimana kultur doujin yang saling terintegrasi, lagu berjudul “Ignos” dijadikan sebagaii lagu tema untuk game doujin Kuzureyuku Kuuchuu Toshi kara no Dasshutsu” , dan lagu “Usu Koori no Hana” dijadiin lagu untuk game yang diadaptasi dari novel “Hanakisou”

Rekomendasi Track : “Come raggio di sol”, “MARE(Andante molto espressivo)”, “Radio Yohou”,” Haikyo to Rakuen”, “Iuripuka”, “Inishie”

Unexpect – Fables Of The Sleepless Empire

Unexpect-Fables-Of-The-Sleepless-Empire

Biasanya, danger kata avant-metal, orang akan merasa jiper dan terintimidasi duluan. Bahkan bagi yang udah berpengalaman denger metal bertahun-tahun sekalipun, bayangan avant-metal masih terlalu abstrak dan sarat kejutan. 

Ada beberapa proyek avant-metal yang sekali danger bisa langsung bikin takjub dengan eksperimen dan eksekusinya, ada yang harus denger berulang baru paham, dan ada yang emang basic-nya cuman menggoyahkan keyakinan estetis seni masing-masing. Jadi kalo mau nikmatin karya avant-metal seperti itu, mau ga mau harus “menyangkal” pandangan estetis yang dianut atau pasti ga akan suka mau dicoba 1000x denger pun.

Unexpect bisa masuk ke dalam tiga skenario di atas. Hal yang bikin kemungkinan orang langsung jatuh cinta sama album ini, tentunya kepiawaian tarik suara vokal utama dari Leïlindel. Gaya vokal operatiknya bisa tetap kokoh bersenandung dan sulit ditaklukan oleh badai instrumen yang terus menerjang. 

Selain itu Vokalnya juga bisa bertransformasi jadi shrieking ala-ala black metal. Selain itu album ini juga sarat dengan unsur-unsur musik kabaret. Permainan slapping bass 9-senar yang dominan ngasih ke dalaman ritme maupun improvisasi di luar nalar juga bisa bikin orang langsung tercengang. 

Skenario kedua, yang bikin orang mikir dan mencerna konsep album ini, ada pada pembauran masing-masing instrumen. Transisinya fluktuatif banget, dalam arti ritme maupun harmoni dan melodi cepet banget berubah. Mau dari tempo cepat tiba-tiba jadi pelan, halus, dari pelan tiba-tiba meledak, atau malah menggandakan kecepatan semuanya ga ketebak. 

Pergantian timbre yang masuk juga banyak dan silih berganti, bisa tiba-tiba suara lick arpeggio gitar, bersatu sama blast-beat, terus latar musik tiba-tiba berubah jadi unsur klasikal dalam sepersekian detik, terus jadi punya nuansa futuristik lengkap dengan manipulasi suara musik elektronik. Mau dibilang bipolar, bipolar sekalian, kadang bisa bikin kesan gaya-gaya seni luhur dan elit dari periode klasik, tapi bisa tiba-tiba berubah jadi nuansa distopia.

Dan meski salah satu tumpuan utama musik metal itu riff, keseluruhan komposisi malah enggan banget terlalu banyak ngulang riff. Akibatnya eskalasi perubahan per-menit nya meningkat terus (bahasa sederhananya progresif). Ga ada pijakan “aman” untuk memori bisa me-rekonstruksi ulang suara yang keluar dalam satu kali denger. Alhasil, hal ini yang bikin skenario ketiga itu terpenuhi.  

Rekomendasi track: “Unsolved Ideas Of A Distorted Guest”, “Orange Vigilantes”, “Mechanical Phoenix”, “The Quantum Symphony”, “Silence the Parasite”, “When The Joyful Dead Are Dancing”, “Until Yet A Few More Deaths Do Us Part”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *