Menuju-Kebenaran-Melalui-Apostasi

Beberapa hari lalu, MTV dikabarkan akan segera bebas operasi. MTV sendiri telah berdiri sejak 40 tahun lalu. mengumpulkan dan menyatukan para penikmat musik dari seluruh penjuru dunia. Selain itu, MTV seringkali mampu menciptakan bintang-bintang musik pada masanya, yang dipuja-puja setengah mati bak dewa oleh para penggemarnya. 

Masa ini adalah, masa ketika patron jurnalis dan institusi musik begitu absolut menciptakan budaya favoritisme. Dampak dari budaya ini, bahkan masih terasa sampai sekarang. Silahkan buktikan bahwa kata-kata di atas hanyalah bualan Cassandra, atau ramalan kebenaran Tiresias yang terbebas dari nikmat bias hawa nafsu penglihatan. Sodorkan kritik yang tajam atau untaian kata-kata peyoratif, pada figur-figur musisi yang “disembah” bagai nabi oleh para pemujanya. 

Kritikan yang terlontar, dituding sebagai “pengkhianatan” terhadap komunitas musik tertentu itu sendiri. Sebuah fallacy ketika menempatkan entitas yang terkandung dalam sebuah ekosistem, dianggap sebagai hal yang esensi dan representatif dari keseluruhan ekosistem itu sendiri.

Inihal bisa dikatakan hasil “didikan” dari era favoritisme, ketika mempertahankan argumen hanya mendasarkan pada narasi-narasi bikinan yang seolah-olah kebenarannya tidak perlu lagi dipertanyakan. 

Selain daripada terkena dampak efisiensi ekonomi, ada salah satu alasan lain sebagai penyebab utama saluran musik MTV berhenti beroperasi. Pergeseran dari cara masyarakat mengkonsumsi konten, digadang-gadang sebagai penyebab esensial utama, yang membuat saluran TV musik, asal Amerika ini menghentikan operasi. 

Orang lebih suka menghabiskan waktu mengkonsumsi konten media sosial yang dinilai ada kebebasan lebih yang tertanam, dibandingkan mengkonsumsi konten televisi yang terstruktur dan terjadwal. Ini menjadi sebuah catatan kritis mengenai peradaban baru media yang lebih mendasar dan tidak hanya sekedar terjadi perpindahan secara tubuh analog menuju digital. 

Artinya, di era sekarang audiens tidak hanya pasif dalam penerimaan, melainkan telah memiliki kapabilitas untuk menyortir, menkurasi, bahkan mencari konten-konten yang tampak ideal bagi personalisasi kebutuhan masing-masing.   

Seharusnya peran media (dalam kasus ini media musik), sudah tidak relevan lagi menciptakan favoritisme dan “dewa-dewa”, hanya demi menciptakan ilusi hegemonik yang hanya menciptakan keseragaman. Sebaliknya, media perlu membantu audiens sebagai jembatan yang bisa membuat audiens menengok cakrawala yang lebih luas. 

Memperlihatkan sisi-sisi dunia yang lebih lebar dan tak terungkap sebelumnya. Implikasinya ada kesadaran yang secara inklusif terlibat dari sisi audiens untuk menentukan sekaligus mengeksplorasi minat dan antusiasme masing-masing secara adil dan transparan.

Dengan cara ini, jalan apostasi diperlukan untuk menuju landasan ontologis manusia, bahwa setiap individu dapat terekonstruksi atas kesadaran dan pikiran yang otonom tak terkecuali dalam menentukan selera musik. 

Ada ujian dan kompleksitas masalah yang lebih luhur lagi yang perlu diselesaikan, yakni mengenai penyingkapan dunia dari kekosongan yang ditinggalkan realitas beserta corong sorot media. Pertanyaan pragmatisnya yaitu bagaimana agar insan musik dapat menengok atau melakukan transit pada katakanlah suatu musik yang belum tersiar dalam media, atau bahkan belum terealisasikan?

Itu menjadi pertanyaan besar, tetapi sekaligus menjadi bukti bahwa insan penggemar musik telah mengalami peningkatan intelektual dalam hal apresiasi, dibanding percakapan & ruang diskursus hanya diisi oleh perdebatan omong kosong mengenai siapa “dewa” dan “jagoan” terhebat dari masing-masing kubu.

Yumi Seino – Continental

apostasi-Yumi-Seno-Continental

Kebangkitan city pop Jepang era 80’an, di dunia digital dan algoritma ini memberikan dampak positif sum game. Yosuke Kitazawa kurator, sekaligus pemilik label “Light In The Attic” yang ngerilis series album kompilasi city pop : “Pacific Breeze”, pernah mengatakan ke VICE: kalau orang-orang yang tumbuh bersamaan dengan city pop, justru tidak menyukainya. City pop dianggap musik pasaran, cheesy, dan dilabeli sebagai ‘shitty pop’

Tetapi penerimaan audience di luar Jepang, malah sebaliknya. Penyanyi city pop yang dulu pernah merasakan puncak popularitas, kini mendapatkan lagi sorot lampu dan perhatian dari generasi baru. Bahkan beberapa penyanyi yang dalam masa keemasan, tidak mendapat kesempatan unjuk gigi, mendapat rekognisi dan rilisan fisiknya menjadi incaran kolektor. 

Dari sisi pendengar, city pop bisa jadi pemicu untuk membangun ketertarikan terhadap kultur pop Jepang selama periode Showa, hingga mengaktivasi imajinasi menciptakan fenomena bernama false nostalgia. Melihat permintaan yang meningkat, beruntung perusahaan label yang masih memegang lisensi percetakan. Beberapa label berkesempatan merilis ulang vinyl maupun berbentuk digital.. 

Salah satunya adalah Nippon Columbia yang di tahun 2020 merilis ulang 3 album studio sekaligus milik penyanyi Yumi Seino, yang masing-masing berjudul “U TA GE”, “Natural Woman”, & “Continental”. Berkaca dari popularitas, Yumi Seino masuk ke dalam keranjang penyanyi obskur. Tapi kalau diteliti tentang siapa yang terlibat di balik layar, malah membuat terheran-heran, kenapa album ini tidak populer sewaktu dulu?

Misalnya di album “Continental” ini, nama Masanori Sasaji dan Ken Okada muncul masing-masing sebagai pengarah aransemen dan produser. Masanori Sasaji sendiri adalah salah seorang kibordis, komposer, dan scoring film yang cukup terkenal. 

Masanori sempat menjadi kibordis sesi untuk dedengkot heavy metal Jepang, Loudness, dan Masanori juga menjadi salah satu mastermind dibalik terciptanya album “Fuyū-kūkan”, salah satu album esensial city pop sekaligus album populer dari penyanyi Tomoko Aran. Ken Okada pun bukan produser kemarin sore, Ken telah terbiasa berkolaborasi dengan musisi pop Jepang bergaya nyentrik dan artsy seperti Pizzicato Five dan Midori Hara. 

Ga mengherankan kalau warna album ini terasa sekali kontras perbedaanya dengan “Natural Woman”. Meski “Natural” Woman” juga membawa banyak kolase pengaruh musik (funk, blues, jazz fusion, new wave, AOR) ke dalam kantong, tapi eksekusinya masih tetap dalam koridor musik-musik pop urban. Dalam “Continental”, Yumi dan kolega memberanikan diri untuk membawa dan bahkan menebalkan pengaruh dari gaya musik klasik. 

Ada lagu bahkan dibawa dengan format ballad yang menitikberatkan pada permainan gesekan biola, dan piano sehingga seenggaknya ada ruang untuk memisahkan diri sejenak dari “hiruk pikuk” perkotaan. Konstruksi daripada struktur maupun susunan secara nadanya pun dibikin lebih progresif. 

Misalnya bikin interaksi antara orkestrasi synth, perkusi, dan gitar seolah punya intuitif-nya sendiri berimprovisasi. Atau progresi akor dari vokal Yumi yang nyeleneh dan diisi lebih banyak nada sebelum balik ke nada awal. 

Masanori sendiri memang membawa secara langsung ansambel dari grup progressive rock besutannya, Mariah. Ga heran kedalaman kompleksitas dan eksekusi instrumen dalam album ini, mengambil alih menentukan arah musikalitas berbeda, bukan sekedar menulis formula synth-pop generik di atas kertas.

Rekomendasi track: “You & I”, “Caledonia Love Day”, “Airport 430 P.M.”, “海辺のDecember”, “スカイレストラン”, “ムーンライト マジック”, “Tokyo City Nights”

B o d y l i n e – framework 

Apostasy-B o d y l i n e-framework 

Vaporwave membuka mata dan telinga, kalau musik yang enak didengar itu ga selalu harus dari musisi papan atas yang namanya terkenal dimana-mana. 99% produser atau pemilik proyek vaporwave bergerak secara anonim dan mengenakan pseudonym demi menyamarkan identitasnya. Satu orang bahkan bisa mengoperasikan lebih dari satu proyek, tapi dengan nama yang saling terkait. 

Memang musik vaporwave yang  notabene sample-based sering nargetin musik-musik populer lawas sebagai bahan rekayasa sampling. Tapi semakin banyaknya musisi vaporwave yang aktif, salah satu seni musik ini adalah justru berhasil nemu sampling dari musik-musik obscure era lawas. 

Bahkan konteks pengambilan sample sudah melebar, ga sekedar berpaku dari rekaman-rekaman musik Bisa digali dari muzak-muzak di lobby hotel, lift, supermarket, hingga dari siaran iklan dan berita cuaca di televisi. Ini yang bikin vaporwave berkembang dan melahirkan nama-nama sub-genre baru seperti, mallsoft, broken transmission, weatherwave, dan segudang nama lainnya. 

B o d y l i n e adalah sekian proyek vaporwave obscure yang bisa ditemui secara ga sengaja ketika lagi digging musik di bandcamp. Ga banyak informasi mengenai proyek vaporwave / synthwave prolifik asal Italia ini. 

Tapi satu yang bisa diketahui, bahwa B o d y l i n e tercantum sebagai anggota Danpenka Sareta Yuujin. Sebuah kolektif vaporwave yang merilis album kolaboratif semata wayangnya, “Fragmented Memories” pada 2014 lalu. Selain B o d y l i n e, ada beberapa kontributor yang sudah memiliki nama besar dalam ekosistem vaporwave taruhlah seperti, Hong Kong Express, t e l e p a t h テレパシー能力者, hingga 猫 シ Corp.

B o d y l i n e, ini bisa ngasih pembuktian kalo salah satu seni vaporwave itu bisa mendapatkan sumber sampling musik obscure. Salah-salah, bagi yang ga ngikutin mendalam mengenai musik 80’an, bakal kebingungan menerka sampling lagu yang diambil. 

Diskografi album B o d y l i n e, mencuplik sampel dari musik R&B, hingga perpustakaan arsip musik. Tetapi domain musik yang paling banyak berkontribusi adalah musik-musik city pop. Mulai dari penyanyi terkenal seperti Mariya Takeuchi, Momoko Kikuchi, Yu Hayami, sampai yang obscure seperti Akemi Kakihara, Toshinobu Kubota, Kaori Sakagami, dan Machiko Watanabe pernah samar-samar berseliweran. 

Bahkan situs whosampled, cuman bisa nyantumin 1 judul lagu yang dipake sampling dalam album ini, yaitu lagu “Magens Bay – Errol Reid (Library Music)” rilisan tahun 1987 untuk lagu berjudul “Sheltered”. Overall EP ini adalah tipikal vaporwave yang gampang bikin jatuh hati, kenapa? Gaya parodi sampling vokal dengan pengeditan penurunan pitch ala chop and screw itu dicabut, bikin basis album ini bergerak sepenuhnya instrumental. 

Efek transisional looping glitch yang ngasih pengalaman parno, disfungsional, dan side-effect mengganggu lainnya juga tersingkir (kecuali di track tersinkatnya, “Portasound”). Murni memberikan pengalaman relaksasi dan santai di malam hari, sambil bikin imajinasi mengembara era-era lampau. Bass lebih bergema dari rekaman vaporwave umumnya, dan reverb yang menggenang seperti ngasih filter malam hari. 

Lelehan saksofon yang bikin melodi sustain dan jarang pembelokan nada, serta elemen-elemen synth dan beat yang geraknya melandai (slowjam istilahnya). Suaranya bersinar, tapi masih ada kesan-kesan dan masih terdengar distorted  hasil sampling lagu lawas.

Ibaratnya seperti ngerekam panorama malam hari pake vhs tape. Selain mereka fenomena, jadi di kepala secara langsung sudah tertanam filter, video nya seperti diambil dari gaya 80’an, meskipun perekaman dilakukan saat ini.

Rekomendasi track: “Sheltred”, “Refrain”, “Portasound”, “Elapse”, “Irohosei”

Westhex – Zur Zubereitung von Basilisken

Selama ini dungeon synth dikenal sebagai parade musik analog yang meromantisasi kehidupan abad pertengahan. Seberapapun banyak jenis sub-musik yang berkembang di bawah naungan dungeon synth, rata-rata dari jenis yang muncul berusaha mengeksplorasi estetika dan fenomena yang terjadi disekitar kehidupan era tersebut. 

Beberapa jenis turunan ada mencoba mengeksplorasi dari sisi mahluk-mahluk mitologis abad pertengahan seperti naga, penyihir, kurcaci, troll. Ada yang mencoba mendeskripsikan nuansa kastil-kastil dan penjara bawah tanah yang terkenal akan kemegahan arsitektur bangunannya. Hingga bermain pada koleksi nostalgia semu, impian, dan mimpi. 

Membawa pendengar menuju imajinasi “hidup di hutan belantara atau padang rumput kehidupan abad pertengahan, yang tentram, dan jauh dari kebisingan kota dan teknologi”. 

Bisa jadi akibat titik jenuh setelah genre dungeon synth meledak semasa waktu pandemi, beberapa pemain baru dungeon synth, merasa perlu ada dorongan, dibanding terjebak dalam laut stagnasi dari ratusan proyek dungeon synth yang telah menciptakan estetika serupa.   

Misalnya, ada Diplodocus dan Turonian yang menjadi salah satu pelopor micro-niche dungeon synth zaman prasejarah, atau dino synth. Lalu ada sebuah sub micro yang baru-baru ini belakangan muncul, Tänzelcore. Nama genre itu diambil dari salah satu kata dari bahasa Jerman, “Tänzeln” artinya menari. 

Mungkin agak paradoks atau bertentangan dengan ide awal, tapi Tänzelcore ini justru mengoplos jenis musik elektronik bawah tanah semacam techno, hardcore[edm] dan gabber yang notabenenya adalah produk futuristik. Tetapi para penganut genre ini tetap setia menggunakan output sound 16-bit, dan suara analog serta minimal dari garis besar genre ini lahir. Sehingga separasi penganut Tänzelcore dengan pemain gabber atau techno tulen masih terjaga.

Pelakunya pun masih bisa dihitung jari, dan belum mendapat atensi dari ruang lingkup dungeon synth itu sendiri. Misalnya Westhex ini, yang meski sudah rilis 5 album studio, pendengarnya baru mencapai ratusan. Beat dan kick drum ala Gabber yang biasanya berdistorsi dan clipping dipreteli jadi hanya terdengar rangkaian suara analognya, mirip seperti lampu led yang effortless memindahkan penampakannya. 

Meski punya tempo gesit, dan synth berpindah-pindah cekatan baik naik-turun menggunakan arpeggio, atau geser kanan-kiri dengan stereo, album ini bukan ditujukin cuman buat pesta rave bawah tanah para penyihir. Namanya bawah tanah dan penyihir, unsur-unsur dari angker, mistisisme, dan kegelapan masih menyelimuti sepanjang album. 

Tentunya keberadaan instrumen yang cuman terdiri dari sepasang eksplorasi synth monofon dan fluktuasi beat menyisakan banyak ruang senyap di sekitaran. Keduanya bergerak improvisasi secara horizontal, entah itu tempo yang berdetak cepat, ngebass, atau synth yang bikin lompatan nada hiperaktif, berusaha menaikan nuansa kepanikan dan ketegangan dari aransemen. 

Jika menerjemahkan judulnya secara literal “Persiapan Basilisk” bisa jadi ini adalah kompilasi album untuk menggambarkan teror pengejaran. Basilisk sendiri adalah hewan mitologi berbentuk kadal raksasa. Mendengar bagaimana Westhex seringkali memasukan melodi bertipe bit dan bergerak lincah dengan eskalasi nada meninggi yang mengkhawatirkan. Menggambarkan kondisi paranoid dan ketegangan luar biasa yang terus berlari menghindari si kadal buas tersebut. Jadi bisa dibilang Tänzelcore dalam konteks album ini adalah tarian di atas kepanikan yang terus membuncah. 

Rekomendasi track: “Die Ritterschaft geht gegens Beutelschneiden vor”, “Die haben Reynnharts Bein abgeschnitten”, “Das Fleisch muss hängen vier Tag und vier Nächt”, “Gift vom Basilisk”, “Der Aderlass gegen den schwarzen Tod”

Mariá Portugal – Erosão

Mariá-Portugal-Erosão

Konvensi umum mengenai pop adalah musik yang tidak berseni, stagnan, dan cuman ngejar catchy dan keuntungan sepertinya harus mulai ditinggalkan. Era sekarang musik lebih akrab mencampurkan banyak genre, hingga pemanfaatan teori dan eksperimentasi suara yang lebih luas. Pop pun ikutan berkembang jika dibandingkan dengan jenis musik snobbish yang langganan dapat pengakuan sebagai musik berseni tinggi, taruhlah jazz, rock, dan musik periode romantik ke bawah.

Invensi bergaya pastiche dari kolase sederet jenis musik dan estetik ala hyperpop, hingga ngegabungin seni konvensional dengan kontemporer seperti art-pop, jadi 2 contoh buat ngegambarin eksplorasi pop yang makin berani. 

Mariá Portugal, bahkan bikin garis tebal perbedaan, menjadi sehelai gradasi yang semakin mengaburkan pembatas. Lahir sebagai penabuh drum, produser, sekaligus penyanyi asal Brazil, sudah tentu Mariá berusaha mengumpulkan dan menghubungkan beragam kepingan musik lokal daerah asalnya. 

Mariá mendekorasi dan mewarnai ulang, atau bahkan menggali untuk mencyari lapisan paling subtil atau esensi dari musik, yaitu eksplorasi emosional. Bahwa konvensi awam, menilai musik-musik Brazil kaya dengan penampilan ritmis sinkopasi tribal untuk sekedar tari-tarian atau selebrasi ritual bakalan dibawa lebih jauh dari itu. 

Eksperimentasi album ini terpental kemana-mana, dan  menyentuh semua sudut kemungkinan aspek elementer musikal yang bisa dieksplorasi. Dari paling dasar mengenai eksperimen nada, meminjam dari pengaruh gaya jazz bebas yang sangat leluasa mengeksplorasi beberapa kemungkinan interval dan pola bentuk melodi. Bahkan sampai pada titik ekstrim, untuk menekan sebanyak mungkin not secara kromatis, membuat banyak not berceceran. Intinya setiap lagu itu, ga terikat dengan satu tema hirarki buat nampilin improvisasi yang homogen atau mirip-mirip.

Itu layer paling dasar, kemudian perpanjangan tangan eksperimen berikutnya adalah timbre yang digunain. Selain trumpet, piano, drum, dan gitar yang memang jadi instrumen unggulan dalam musik jazz, Mariá melebarkan cakrawala musiknya pada unsur elektronik, rock, dan folk. Dari elemen elektronik, Mariá dapat memeras tekstur yang merentang dari akustik halus dan berwujud yang mengambang seperti ambient, sampling ala field recordings yang menghidupkan nuansa hutan seperti burung-burung atau suara fenomena alam lainnya, hingga sampai mendapat bentuk yang futuristik, dari gaya glitch. 

Peran elemen rock dari distorsi gitar yang nyaring bin rewel, sudah jelas sebagai check & balance mengisi kegaduhan yang memecah kesunyian yang mengendap. Folk tentu mengisi peranan yang sifatnya non-materiil, misalnya mengeksplorasi sisi nuansa “sakral” dari gabungan turunan musik tradisional Brazil. Perluasan bunyi yang sangat berperan untuk menghidupkan dan menempelkan alam-alam tropis ala pesisir Brazil di benak.

Tekstur dan nada ini juga turut dieksplor pada bagian vokal, ketika Mariá rajin mengganti register vokalnya, dari suara bawah dengan cengkok yang meliuk sampai harmoni-harmoni vokal yang bersinar. Bahkan Wagner Barbosa mengisi bagian improvisasi spektrum vokal pria. Koleksi timbre banyak bikin nuansa dan penempatan sonik di album ini juga bisa lebih variatif dan bahkan dalam taraf nyeleneh. 

Terkadang format teknik polifoni, dimainkan dalam ritme ganjil berubah-ubah membuat perilaku album ini seakan bergerak “atonal”, ditambah dengan setiap instrumen yang diberi keleluasaan buat mengeksplorasi sisi harmoni dan nada yang keluar. Mariá sering usil buat nempatin transisi glitch atau “kerusakan suara” pada transisi di tempat-tempat tidak terduga, yang tentu bakal menambah pallete keabstrakan album ini.   

Tetapi terkadang yang terjadi justru sebaliknya, dikarenakan durasi rata-rata lagu yang panjang ada kalanya komposisi hening yang hanya menyisakan dengkuran bass atau selaput tipis suara seperti ngehidupin suasana album ini dalam versi berkabut. Itu juga yang mengeksplorasi sisi dimensi tata ruang dalam album ini. 

Vokal yang sangat dekat dengan mic, sementara tiupan suling tipis-tipis bisa seolah dipersepsi sebagai resonansi bunyi dari kejauhan. Sektor bass bisa tetap menjadi pijakan, yang meskipun banyak ornamen instrumen yang melangkah di atasnya, suaranya ga tenggelam, tapi ga overpower yang mengganggu kestabilan artikulasi juga. 

Dari penjelasan di atas, sepertinya udah cukup buat ngasih tau secara eksplisit, bahwa album “Erosão”, ini adalah album pop buat yang lebih doyan mantengin sisi produksi dan tetek bengek teknis lainnya. Mengenai persoalan yang sifatnya menyentuh emosi, mental, dan spiritual rangkaian album ini lebih ngebebasin interpretasi yang tentunya berhimpit di antara seremoni kultural, dan pengembaraan spiritual. 

Rekomendasi track: “Cheio / Vazio”, “Dois Litorais”, “O Grao Da Voz”, “Petroleo”, “Um Ohlto Alberto”

Dorcas – Dorcas

Dorcas-Dorcas

New age adalah cerminan dari pencarian dan pengembaraan jauh mengenai kehidupan spiritual timur kuno. Meski melewati berbagai tahap dan latar belakang kultur, musik new age justru terlepas dari pengaruh konten material sejarah dan kebudayaan itu sendiri. Maksudnya, musik ini menitikberatkan pada pengalaman yang menyangkut persoalan spiritualitas, meditasi, dan hal-hal metafisis terkait pendalaman jiwa lainnya

Para ahli dalam musik ini, bahkan bersepakat buat menentukan jenis-jenis timbre, harmoni, dan tetek bengek teknis musik lainnya. Memastikan kemurnian tujuan spiritualitas dari jenis musik ini. Misalnya cenderung memilih menggunakan timbre berkarakter halus seperti harpa, piano elektrik, flute, dibanding memiliki timbre yang bertekstur lebih keras dan punya dinamika volume lebih tinggi seperti biola, gitar listrik, dan terompet. 

Ambient bisa dibilang menjadi fondasi new age yang memanfaatkan ruang, sebelum membangun perseptual mengenai unsur-unsur spiritualitas bersifat asketis di atasnya. Akan tetapi, Dorcas menuruni satu langkah anak tangga dari tahta kesucian itu.

Bergerak dari hal yang murni mengawang-ngawang, menuju pada wilayah simbolik. Nama Dorcas sendiri diambil dari salah satu tokoh alkitab, yang kembali bangkit atas kesetiaanya. Namun, karakter Dorcas kemudian ini diadaptasi dalam sebuah novel bertajuk “The Book of The New Sun” sebagai kekasih seorang protagonist bernama Severian. 

Serangkaian album ini mengeksplorasi dilematis kehidupan Dorcas yang secara tidak sengaja dibangkitkan oleh Severian dengan menariknya dari danau spiritual. Dari sini, akan terdengar serangkaian album new age yang memiliki instrumen berlapis, tidak selalu bergerak dengan sifat gelombang yang bermonolog batin.

Selipan-selipan synth, potongan horn megah, dan perkusi menggelegar malah menggeser new age yang bersifat surgawi menjadi duniawi. Ada banyak tempelan tekstur, yang seperti” melanggar” kaidah new age, sehingga terkesan dekat pada spektrum album scoring untuk film-film fantasi sinematis. 

Ya mungkin itu bisa jadi semacam gambaran simbolik kebingungan dari karakter Dorca itu sendiri. Meski dia hidup bersama sang kekasih, Severian, Dorca harus mengorbankan kehidupan spiritualnya yang damai ketika terlelap di dalam danau. Sementara menjalani hubungan cinta dan cara hidup duniawi, membuat kesucian sisi spiritualnya menjadi ternoda dan tidak murni lagi.    

Terkadang musiknya bisa menjadi pendamai sekaligus penenang jiwa, ketika synth atau instrumen-instrumen bertekstur halus bermekaran berdampingan dengan sampling kicauan burung dan suara alam.

Namun bisa juga menjadi sangat menegangkan, terwakilkan dari perkusi yang membentuk pola marching, harmoni vokal tragedi, deru bass, serta synth maupun instrumen string yang menggesek interval nada bawah secara pilu. Bagian sedih dan isak tangis album dapat dirasakan dari dentingan pad synth yang dibunyikan secara lunglai dan lesu dalam perpindahan nada. 

Bisa dibilang ini menjadi wujud kritik secara simbolis melalui ikonografi Dorcas, jika hidup yang tanpa celah, dan murni seperti kebanyakan ekspektasi orang yang bisa didapat dengan menempuh jalan-jalan transcendental, mungkin tidak akan pernah terwujud. 

Rekomendasi track: “II”, “III”, “IV”, “V”, “VII”

Baca Juga : Menjadi Tidak Bermoral…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *