RateYourMusic (disingkat : RYM) adalah platform database musik sekaligus salah satu platform komunitas musik online terbesar saat ini. Salah satu keunggulan situs RYM, penikmat musik bisa ngasih penilaian berupa rating dan komentar pada beragam jenis musik dan artis yang tersedia dalam database.
Nantinya setiap album akan memperoleh rating hasil nilai rata-rata setiap pengguna yang ngasih rating pada album tertentu. Tetapi belakangan sistem rating RYM ini bukan cuman sekedar tempat mencurahkan opini dan pendapat pribadi mengenai sebuah karya. RYM digunakan oleh penikmat musik mencari referensi musik baru sekaligus sebagai indikator penentu, apakah sebuah karya layak disebut sebagai karya yang bagus dan worth it didengerin atau karya jelek yang sebaiknya dihindari daripada buang-buang waktu dengerinnya.
Hadirnya sistem rating RYM ini perlahan menggeser cara orang mengkonsumsi kritik dan kurasi pilihan dalam musik. Kalau dulu orang mungkin baca blog (Pitchfork, The Quietus), majalah (Wire, Rolling Stone, Trax, Hai), atau dengerin reviewer ngoceh di Youtube (the Needle Drop) buat dapet referensi musik baru dan kritik musik.
Sekarang, orang langsung loncat ngeliat rata-rata rating setiap album yang ada di RYM buat mencari musik baru maupun sekedar ngeliat opini dan kritik musik yang dirasa lebih valid dan mendekati objektif. Kenapa bisa begitu? Alasannya sebenarnya sangat sederhana, setiap album bisa di kasih rating oleh banyak orang. Bahkan untuk album dari artist terkenal, bisa sampai puluhan ribu orang yang ngasih nilai.
Selain itu, bagi yang cuman sekedar nyari referensi dan opini, bisa ngeliat spektrum pendapat yang lebih luas dan lengkap mengenai satu album. Ada yang ngasih nilai bagus dengan alasan tertentu, juga ada yang ngasih nilai jelek dengan alasan tertentu juga. Jadinya, opini pencari referensi itu seolah “ga disetir” oleh bias dan favoritisme berlebihan dari individu atau instutisi, dan bisa mutusin sendiri secara mendekati objektif mengenai opininya terhadap album.
Tapi bukan berarti sistem begini terhindar dari hal minus. Dengan sistem rating seperti ini, kadang bikin orang akhirnya cuman mau dengerin dan coba album-album yang rating nya tinggi (biasa yang dapat nilai 3.50 ke atas). Album yang punya rating di bawah nilai 3.50 biasanya jarang dilirik buat didengerin, dan apalagi nasib-nasib album yang cuman dapet rating di bawah 2.00, seolah-olah punya kualitas jelek mutlak yang ga layak denger.
Nah, makanya tulisan ini dibuat untuk memastikan apa benar, album musik “jelek” menurut komunitas RYM itu memang ga layak didengar, atau rataan nilai rating jelek yang diberikan komunitas RYM itu berlebihan, dan album-album ini bisa punya kesempatan buat dapet nilai yang lebih tinggi.
Deathprod – Composition
Terkadang punya reputasi sebagai seorang musisi yang dicap langganan bikin musik bagus dan disukai pendengar, seperti pedang bermata dua. Satu sisi, karya-karyanya jelas bakal dielu-elukan dan ga jarang bakal dinobatkan dengan predikat ala-ala jurnalis sebagai “album terbaik”, “album berpengaruh”, dan seterusnya.
Sebaliknya, tiap kali mau rilis materi baru, musisi seolah dibebankan dengan ekspektasi tinggi yang bercokol dan bayang-bayang dari masa lalu ga bakal terelakan. Apalagi jenis musik yang notabene nya bukan fokus di ranah hiburan dan performa tapi yang ngedepanin eksperimentasi dan narasi, standar yang ditetapkan bakal semakin melejit.
Ini sepertinya yang dirasakan seorang komposer asal Norwegia, Helge Sten ketika merilis album berjudul “Compositions” melalui moniker proyeknya, Deathprod pada 2023 silam. Di situs RYM sendiri, album ini cuman dapet rata-rata nilai 2.97 dari 222 penilai.
Tapi apa musiknya seburuk itu? Kalo yang terbiasa dengerin musik ambient, drone atau musik-musik minimalis era awal abad 20’an, harusnya album ini masih bisa didengar dan ga menutup kemungkinan mendapat nilai 3 ke atas. Helge sendiri ngaku, kalau di “Composition, Helge mencoba pendekatan baru, ngegabungin prosesor audio digital yang udah di utak-atik dari generator suara yang usang, lalu dipadukan dengan sistem tuning rahasia miliknya. Jadi ga heran album ini beda dari karya-karya terdahulu Helge bersama Deathprod.
Kuncinya ada di sistem “tuning” rahasianya, ketika Helge bisa eksplor nada-nada dengan jarak yang relatif sempit, dan apalagi dengan pendekatannya yang minimalis, bikin setiap keanehan nadanya terdengar jelas di kuping. Nuansanya emang mungkin “disturbing” bagi yang ga biasa denger-denger musik eksperimental, berasa kaya melayang-layang di ruang angkasa yang gelap, dan ga ada tanda-tanda kehidupan di sekitar.
Dibilang terlalu statis juga engga, toh Helge masih kasih lapisan variasi tekstur dari suara dengkuran drone, lengkingan frekuensi suara, melodi yang bentuknya serpihan, sampe mainin dinamika suara. Tapi kalo denger album-album masterpiece nya seperti “Morals & Dogma” yang dirilis 2004 lalu, bisa paham juga kenapa penikmat musik Deathprod, “kecewa” sama album ini
Di album “Morals & Dogma” Helge ibaratnya lebih tampil urakan, dengan eksperimen dar der dor nya mulai dari mainin tekstur suara sampe tingkat yang ekstrim dicoba (noise yang keras sampai ambient yang tipis), dan jadi gerak maupun timbre yang dihasilin pun punya perubahan dan gerakan yang eksponensial, dibanding “Compositions” yang terasa linear, dimana kalau mau ada perubahan, harus nunggu lagu berikutnya. Jadinya pendekatan minimalis “Compositions” dianggap sebagai “penurunan kreativitas” secara tampilan dan pengalaman soniknya.
3OH!3 – Self-Titled
Ga dipungkiri kalo komunitas musik di internet (reddit, rym, 4chan) memang punya budaya gatekeep yang cukup kuat. Bukan hanya mengkritik, tetapi dampaknya ngasih sentimen yang bisa bikin suatu artist atau genre tertentu kena cancel culture. Dan bukan sesuatu yang heran juga, kalau rata-rata artist atau sub-kultur yang kena cancel itu malah musik-musik mainstream yang cenderung disukai banyak orang.
Alasannya banyak, mau dari yang dalem seperti kaitannya dengan psikologis, sampai motif kecemburuan, bahwa ngerasa sebenarnya ada artis atau gerakan subkultur musik yang lebih pantas dan berbakat untuk dapat spotlight, dibanding apa yang ada di atas sorot panggung sekarang.
Salah satu genre yang langganan kena gatekeep dan cancel culture adalah crunkcore. Kalau lihat chart di RYM, semua rate album crunkcore cuman punya nilai rata-rata satu koma, dari ribuan yang nilai. Crunkcore sendiri meledak pada era-era Myspace dan ekspansi musik yang banyak mengalami fase-fase “emo”.
Musiknya sendiri campuran dari beat hip-hop, electronic, pop dan bisa juga minjem elemen rock / metal mainstream 90’an awal 2000’an dan tentunya style musik-musik ala emo versi persepsi pop culture saat itu. Alasan penolakannya rata-rata mengarah pada taraf kultur, dan mismatch campuran musiknya.
Kadang riff cadas dari musik rock dan metal, dikasih kontras berlebihan dari vokal ala emo, beat-beat hip-hop atau EDM, dan synth yang malah ngasih nuansa, ceria, manis dan positif vibes.
Liriknya pun dianggap cringe, dimana mayoritas lebih nyeritain kehidupan hedon (party, dance, seks) fase remaja yang menurut puritan ga ada esensi dan substansinya. Fashionnya sendiri sebenernya ga jauh dari gaya fashion anak emo / gothic yang memang ngejamur di kalngan remaja saat itu.
3OH!3 sendiri bisa dibilang masuk dalam pionir crunkcore ini, bahkan yang bisa bawa crunkcore ke pasar yang lebih mendunia. Salah satu single andalannya, Starstrukk adalah hasil kolaborasi 3OH!3 dengan Katy Perry, yang namanya mulai dikenal pada saat itu. Masing-masing punggawa crunkcore mengambil pendekatan musik berbeda-beda, dan 3OH!3 main di ranah EDM yang digabung sama elemen hip-hop khas southern bikin ritmik bouncy dan ketukan triplet
Dibanding album-album sesudahnya yang semakin radio friendly oriented, disini masih ditemuin lagu kaya “Saydem Up” yang punya line vokal yang “marah”, lagu yang lebih menghentak dan banger kaya “don’t dance” atau “Neatfreak87” yang nyerempet-nyerempet post-punk dikasih elemen electroclash.
Tapi overall musiknya memang kaya permen karet, dimana synth maupun banyak part vokal dan beat yang manis banget dan nimbulin kesan kesukaan instan atau earworm sesaat. Tetapi sekalinya kenal musik yang “lebih canggih”, yang tadinya denger crunkcore bakal jadi orang yang ngantri buat meratapi kesalahannya, bersama warga reddit yang sempet bersalah ketika masa remaja sempat menikmati crunkcore.
Tougher Than Nails – Delusional Blasphemies Destroyed
Meski metalhead cenderung lebih toleran ngadepin bentuk-bentuk musik yang “aneh”, tapi ada 2 hal yang bakal merubah persepsi menjadi sentimen dan bisa sampai pada tahap bikin konsensus buat menyuarakan ketidaksukaan atau perlawanan terhadap band tertentu. Hal pertama, menyangkut paham politik dan kedua, menyangkut hal teknis dalam produksi musik.
Ketika pertama kali ngeliat rating jeblok album dari one-man midi cybergrind / brutal death metal, Tougher Than Nails, ada dasar yang masuk akal, sebagai justfikasi album ini cuman dapet nilai 0.77 dari 513 orang yang nilai. Pertama dari sisi politis, banyak reviewer yang berkomentar band ini punya pandangan homofobia, rasis, dan islamophobia. Tuduhan itu bukan asal bunyi, tapi berkaca dari intro orasi album sepanjang kurang lebih 3 menit, yang memang mengangkat isu-isu di atas.
Pokoknya kiblat politiknya cenderung konservatif, apalagi ada simbol kekristenan, yang bikin metalhead jadi 2 kali lebih sebel (metalhead luar memang cenderung punya sentimen dengan kekristenan). Kedua, soal produksi yang agak tricky. Faktanya, memang ada ceruk metal seperti lo-fi raw black metal yang secara sengaja dan doyan suaranya dibikin mentah, abrasif, dan noise yang meleber kemana-mana. Tapi itu pun tetap bisa dibilang ada teknik dan pendekatan yang bisa dijadikan dasar ilmu.
Sementara “Delusional Blasphemies Destroyed” seperti memang disengaja diproduksi dengan teknik yang seancur-ancurnya (bahkan bisa diblang ga berteknik?). Setiap instrumen sendiri, direkam langsung dalam gaya midi. Vokal maupun drum diatur sampe mentok bikin suara yang ultra distorted, pecah-pecah, dan nyelekit di kuping. Kick drum yang sengaja di spamming ke part-part yang mustahil buat dimainin sama drum manusia.
Vokalnya bener-bener pick di tengah banget, seolah diteriaki oleh Pithecanthropus langsung di depan muka. Teknik vokalnya memang kedenger lebih kaya gorenoise, yang menggerutu tapi sekaligus teriak. Ga berhenti dari situ, yang bikin jengkel orang yang “terlanjur” denger album ini, adalah aransemennya sendiri. Baik riff, ketukan drum, dan vokal sengaja ga dibikin selaras. Riff nya pun ditaro di “sembarang tempat”, dengan dekorasi nada yang bisa dibilang ga utuh dan kurang jelas terdengar.
Ya bisa dibilang ini adalah album rage bait yang bagus malah. Kenapa ragebait? Jelas album ini memang secara “sengaja” dibikin jelek. Toh dalam beberapa momen, ada bagian gitar yang bisa pantes disebut riff, lalu masih ada niat buat bikin tempo yang konstan dan pengulangan, yang dijadikan kanon utama dalam lagu. Lagipun Mark pernah gabung dalam grup brutal death metal bawah tanah, Devastation Inc.
Dari sini udah keliatan bahwa, album “Delusional Blasphemies Destroyed” adalah pemancing handal, yang berhasil bikin 500 orang lebih mencak-mencak dan ngerasa berdosa, buang waktu 54 menit buat dengerin album ini.
Russell Hasswell – Recorded While It Actually Happened
Sampai batas tertentu, ada karya-karya audiovisual yang bersifat menguji batas keilmuan definisi dan teori musik yang sejauh ini sudah ditetapkan. Definisi musik menurut umum adalah, bunyi-bunyian yang memiliki kecenderungan pola yang dapat ditemukan dalam tingkat ritmis, melodi, maupun harmoni.
Tapi apakah teori musik saat ini telah mencapai titik puncak penemuan keselarasan dari domain keseluruhan musik itu sendiri? Alam menyimpan bunyi-bunyian yang juga tersusun dari keselarasan, namun memiliki cara tersendiri yang saat ini masih menjadi misteri atau belum terungkap seluruhnya oleh teori.
Ada berbagai jenis musik yang sengaja mendedikasikan dirinya buat meneliti hal-hal semacam ini. Misalnya, ada komposer experimental, avant-garde asal Inggris, Russell Haswell yang ngerekam suara-suara alam dan fenomena secara langsung.
Eksperimentasi mentah dan langsung dari Russell Hasswell, ga jarang bikin orang bertanya-tanya, “ngapain sih?”, “ini bisa disebut musik ya”?. Salah satunya adalah album yang Russell rilis pada tahun 2009 berjudul “Recorded While It Actually Happened”. Meski di situs RYM cuman ada 17 orang yang ngasih nilai, tapi itu sudah lebih cukup bikin “Recorded While It Actually Happened” mendapat rating 1.60.
Investigasi Russell sendiri adalah pada fenomena suara, makanya pendekatan yang dia buat adalah hasil rekaman eksperimentasi mentah yang di uji coba pada berbagai metode berbeda. Kalo ada yang bilang atau mengklaim musik adalah seni konfrontasi, Russell ini lagi melakukan konfrontasi pada pakem musik konvensional.
Lagu pembuka, “A Horde of Flies Feast on a Rotting Pheasant Carcass”, berisi 29 menit uji eksperimental teknik rekaman Russell pada fenomena simulasi koloni lalat bertebangan dan hinggap di tubuh mayat Pheasant (sejenis unggas), yang membusuk. Kedengarannya memang agak menjijikan, tapi dengan mikrofon yang sengaja langsung ditodongin ke device suara, bikin hasil rekaman serasa in your face.
Orang mungkin merasa jijik duluan kalau mendekat langsung dengan fenomena seperti itu, tapi lewat pendekatan lagu ini, Russell mau ngasih unjuk bahwa kepakan sayap lalat juga bisa membentuk semacam pola ritmis, bentuk, dan dinamika suara yang berubah-ubah. Ambience alam terbuka dan kicauan burung sengaja ditempel biar menghidupkan kesan nature album ini
Russell dalam album ini sengaja milih fenomena yang bakal susah atau luput diamati pada kejadian sekitar lalu direkayasa melalui fenomena suara. Misalnya lagu berikutnya, “electroswat” yang ngasih unjuk sensasi terkena setrum versi audio. Sudut kenikmatan yang bisa dipetik dari sini adalah perubahan dari kualitas suaranya yang ekstrim, dari bentuk noise yang nyelekit ke telinga, suara mirip kaset kusut, sampe gelombang dengan garis tajem yang ga bisa tersentuh. Bisa dibilang Russell terbiasa untuk bikin suara bukan cuman sekedar fenomena suara yang mempengaruhi emosi, tapi punya semacam struktur kepadatan dan bentuk.
Exoskeleton – Plutonian Herd
Meski jurnalis maupun metalhead ngelabelin sludge metal itu sebagai musik gorong-gorong, berlumpur, dan asosiasi-asosiasi “kotor” lainnya, ada satu spot yang bikin musik sludge metal menyenangkan dan berpotensi memuaskan pecinta musik taraf audiophile.
Hasil pengaruh doom metal yang memperlambat riff ber-stem rendah (Drop C#, Drop #A), dengan mid-tone gitar yang besar, dan treble yang di-adjust buat suaranya ga meluber dari mid-nya bikin suara gitar jadi berasa groovy, bertekstur creamy, dan pulen secara sound.
Apalagi kalau muter musik sludge di piringan hitam atau kaset, dengan sokongan audio system mumpuni, rasanya kaya makan atomic burger. Memang rasanya pedas membakar, tapi masih bisa ngerasain setiap lapisan tekstur mulai bagian tender dari roti, sampai tekstur padat dan dari daging, tomat, dan acar.
Tapi gimana kalau esensi kenikmatan sludge itu malah diganti dengan godokan setengah mateng dari raskin? Ini yang kemudian jadi sumber masalah dari Exoskeleton, band sludge asal Finlandia yang kena bomb rating jelek. “Plutonian Herd” yang jadi album satu-satunya Exoskeleton mendapat nilai 1.77 dari 444 penilai. Dari 56 orang yang ninggalin komentar pun sebagian besar mempersalahkan teknik produksinya yang kelewat mentah, sehingga jadi ga bisa dinikmati dan cenderung bikin sakit kuping.
Coba dengerin album debut dari band legenda black metal gelombang pertama asal Swedia, Bathory. Kalau denger Bathory aja udah ga nyaman dengan suara gitarnya yang bergerigi, dan kasar, Exoskeleton bikin versi jumbo nya. Suara gitarnya 4x terdengar lebih buzzing, bergerigi sekaligus tajem. Sama kaya chainsaw mode on, meski lagi diem ga motong apapun, desingan suaranya tetap nyaring dan luar biasa berisik.
Secara suara, vokal di album ini sukses bikin orang bergidik ketakutan sendiri. Jangan kaget dalam sepanjang album sering ditemui jumpscare jeritan vokal maniak ala-ala Stalaagh yang bikin jantungan. Vokal pun bisa berubah suara menjadi terdengar menggeram seperti terror yang datang dari balik kegelapan.
“Plutonian Herd” dibilang album jelek hanya salah era dan pelabelan genre. Sekarang berandai-andai, kalau album ini dirilis sekitar tahun 1984-1985’an, dimana saat itu belum banyak jenis musik extreme metal yang beredar. Dengan representasi sonik yang serupa, bukan mustahil kalau “Plutonian Herd” kelak malah justru dibilang sebagai salah satu album first wave black metal terseram sekaligus tercadas yang pernah dibuat pada masanya.
Baca Juga : Menuju Kebenaran Melalui Apostasi…





