Mencari-Makna-Dalam-Kebisingan...

Kebisingan seringkali dihindari dalam musik. Sifatnya yang keras kepala, tidak mau berkompromi, dan melawan kebiasaan kerap menimbulkan sentimen yang perlu disingkirkan. 

Perlu dicatat bahwa kebisingan di sini, bukan cuman sekedar konsep anomali disonan yang diturunkan secara hubungan hierarkis penerapan teori. 

Tetapi merujuk pada artian yang sebenarnya, bahwa perilakunya seperti outlier yang memiliki nilai perbedaan sangat jauh dengan rata-rata prediksinya.  

Lantas apakah benar kalau kebisingan dalam musik itu hanyalah sebatas pengganggu, dan tidak bisa memberikan makna tambahan terhadap musik entah dari sisi kreativitas atau membangun interkoneksi antar emosional terhadap pengalaman mendengar musik?

Kalo ngasih jawaban relativistik, orang pasti ga akan bisa memilih memaknai noise sebagai unsur substansial, toh perhitungannya setiap jawaban (entah pro dan kontra) dalam lingkup relativistik, dianggap sama bobotnya.

Jadi untuk meyakinkan bahwa kebisingan adalah bagian substansial dalam musik, 5 rekomendasi artist ini akan menjawab dan nunjukin secara langsung.

D-Clone – Creation & Destroy

Kebisingan-D-CLone-Creation-and-Destroy

Kasus kontradiktif seringkali terjadi, ketika sebuah band menjanjikan kesegaran baru, tetapi orang-orang menemukan fakta nihil di lapangan. Jargon alibi yang paling usang dan klise yang bakal terlontar sebagai pembelaan, seolah seperti kutipan bijak ala Plato, adalah: “Tidak ada yang baru di bawah dunia matahari ini.”

Itu hanya alasan untuk menutupi keenganan berpikir ekstra. Seolah semua kemungkinan yang ada sudah selesai dijelajahi, sehingga tidak ada ruang untuk menyusuri ruang kemungkinan baru.

Tapi, kolektif crust-punk / noise d-beat kelahiran Nagoya, justru dengan bangga dan lantang berseru bahwa eksistensinya lahir sebagai cloning-an, alias punya DNA hasil replikasi DNA asli. 

Tanpa ragu D-Clone menganggukan kepala bahwa mereka sangat terinspirasi dengan band d-beat legendaris asal Inggris, Discharge dan legenda d-beat asal Jepang, Disclose (dimana Disclose juga, sangat terpengaruh Discharge). 

Tentunya hal yang menjadi daya tarik utama d-beat adalah pola ketukan ritmis drum yang bisa matahin kekonstanan ketukan pada snare. Meski, irama drum d-beat meski gitu-gitu aja, tapi punya sense alami berperilaku keluar jalur alias “melawan”.

D-Clone mengeksplorasi pola ketukan d-beat tradisional ala band angkatan awal, sampe yang lebih ekstrim dengan melipatgandakan kecepatan, dan permainan aksen hi-hat dan crash yang lebih aktif adopsi gaya swedish crust-punk

Distorsi gitar pun terdengar nyaring dan berisi, sementara pemilihan vokal bersuara menjerit tetapi sekaligus galak. Satu hal yang mungkin ga akan dijumpai di skena crust-punk / d-beat luar, adalah lapisan ultra noise yang mereka sengaja hasilkan dari pedal effect

Mengingat Jepang sendiri emang punya skena noise yang mendunia, jadi ga heran D-Clone punya inspirasi untuk menghidupkan kebisingan kusut efek fuzz noise dan membuat signifikansi tingkat kebisingan desibel lebih akut dan sangat “destruktif” terhadap telinga. Kebisingan bisa mengeskalasi tingkat keberingasan dan ledakan dinamika dahsyat yang tidak mampu digapai alat instrumen konvensional.

Tapi itu bukan datang dari keterbatasan skill dan alat, justru disengaja, karena terdengar bahwa hasil mixing suara drum yang tegas dan tetap terpisah dengan suara distorsi gitar, bikin setiap unsur instrumen tetap terdengar meski riuh suara yang luar biasa.

Rekomendasi track : “Creation and Destroy”, “M.K.P.F.”, “I Wish, Life Is..”, “Hatred”, “Weekendpunk”, “Make Next Generation”, “Bright”

Decoherence – Ekpyrosis

Kebisingan-Decoherence-Ekpyrosis

Kilas balik tahun 2020, musisi jelas menjadi salah satu profesi yang paling terkena dampak saat pandemi. Selain sulit untuk menggelar acara-acara langsung yang turut berefek pada pendapatan, pandemi juga berpengaruh terhadap daya kreativitas setiap musisi.

Saking memiliki dampak global, banyak musisi yang akhirnya berbondong-bondong menceritakan kisah dan keluh-kesah pada saat masa pandemi. Jadinya bikin tema album-album yang dirilis pada saat itu, jadi terkesan seragam secara gambaran besar. 

Di satu sisi, realita pandemi yang terlalu mencekik bikin para seniman surut berfantasi memikirkan impian, keindahan, atau harapan. Boro-boro mau ngomongin tentang masa depan, untuk sekedar survive pun, keitung bagus pada masa itu. 

Decoherence ga mau dihimpit oleh kenyataan pahit dan fantasi utopis yang semu. Sebagai gantinya, Kolektif eksperimental black metal, asal California tersebut, membawa jiwa beserta pesawat ulang alik pergi menuju sudut kosmik alam semesta terjauh yang gelap. 

Di sana tidak ada masa lalu, masa depan, hanya ada realitas kosong, dan penuh misteri alam semesta. Paradoks waktu pun bekerja, seolah bergerak di tempat tanpa mengenal konsep gerak waktu linear, tetapi secara diam-diam konsep dilatasi sedang terjadi, mengalienasi diri dengan kehidupan hingga berlaksa-laksa tahun. 

Konsepnya sengaja dibikin “melampaui” pengalaman empiris, dan untuk ukuran musiknya pun tergolong demikian. Bahkan dibandingin sama beberapa cabang musik ekstrim metal lainnya, ceruk musik yang dipilih tetep tergolong esoteris. 

Decoherence ngebuktiin kalo atmospheric black metal bisa dibuat seram dan nihilis. Dengan bantuan elemen dissonant black metal, gaya ambient paling kelam, dan produksi suara ala industrial yang ngeluarin percikan suara bising, Decoherence berhasil ngebentuk kepulan suara dinding noise tremolo riff gitar, vokal yang terkubur tapi sekaligus bergema, serta blast-beat rapat tanpa napas. 

Ini yang bikin unsur-unsur paradoks waktunya berjalan, disaat permainan drum terasa lebih cepat dan menerjang, bagian gitar bikin barisan nada yang pelan ala tempo doom dengan selipan ambient. Bikin satu siklus repetisi secara sengaja lama dicerna, seolah album ini ga berdiri dalam konsep pengulangan riff

Rekomendasi track: “Rearrangement Collisions”, “Primordial Replicator”, “Vestiges Of An End”, “Dimensionless Angular Momentum”

Virtua Dx – Guitarpop Forever

Kebisingan-Virtua-Dx-Guitarpop-Forever

Shoegaze bisa dibilang adalah salah satu genre musik yang berhasil bawa konsep bising yang dominan ke dalam kultur pop. Bahkan shoegaze bisa jadi jembatan untuk nyelem lebih jauh, dari jenis musik niche yang sama-sama manfaatin musik noise dan gitar seperti skramz, emo, noise-pop, dan lainnya. 

Dalam shoegaze, noise atau kebisingan dipandang sebagai objek yang mendistorsi memori dan kenangan indah, dengan realitas suram. Jatuhnya terdengar sentimentil, melankolis, dan emosional.

Begitulah ketika punggawa shoegaze seenggaknya bisa mendamaikan noise untuk berperilaku lebih ramah terhadap indera pendengaran. Virtua Dx bahkan bisa membuat lapisan noise seperti selaput tipis, meski mendistorsi pandangan tapi masih bisa melihat pancaran spektrum warna-warni benda di sisi seberang.

Selain bikin archetype aransemen shoegaze dengan hiruk pikuk efek gitar bising serta glider mengawang, Virtua Dx memukul suara drum dengan lebih keras. Terkadang bisa seagresif musik alt-rock, atau irama nge-beat ala hip-hop tahun 90’an.

Selain nampilin sisi-sisi melankolis, album ini memainkan beberapa konfigurasi elemen elektronik entah dari scratch gaya DJ 90’an, irama breakbeat, dan manipulasi melodi elektronik ber-outfit Y2K.

Jangan lupa juga kalo mastering maupun mixing suara yang sengaja dibuat bright, bikin pallete emosi keseluruhan album ini terasa setara antara kesenangan, kegelisahan, melankolis, nostalgia, patah hati, kegembiraan melebur menjadi satu kata, yakni perasaan.     

Rekomendasi track: “Running”, “Didgy Ringtone and Springtime”, “One of a Kind Prize Cow”, “Guitarpop 4ever”, “Take Care of Yrself”

Li Jianhong – Shuttle Raven of the Dream

Li-Jianhong-Shuttle-Raven-of-the-Dream

Ada banyak cara untuk memeras ide menghasilkan kreativitas hanya menggunakan sebilah gitar. Eksplorasi tangga nada, atau interval nada yang bisa mainin variasi skala dan mode, seperti misalnya musik-musik metal, jazz, dan progressive rock. Ada yang melakukan eksplorasi melalui jalur dinamika yang memanipulasi kontras kuat-lembutnya suara seperti musik post-rock, dream-pop

Kemudian berkat berkembangnya teknologi gitar listrik, kini yang awalnya tekstur gitar terasa statis, bisa dieksplorasi mengeluarkan frekuensi suara maupun jenis timbre yang mustahil dimainkan dalam format akustik biasa, seperti psychedelic rock, metal, dan noise

Meski banyak jalah yang ditempuh, tetapi kalo mau bilang secara umum, tujuan improvisasi cenderung digunain untuk menghasilkan karya dengan konotasi positif. Maksudnya bikin musik yang menuntut keindahan, keselarasan, dan kemerduan. Li Jianhong, gitaris paruhbaya asal China udah bikin belasan hingga puluhan album improvisasi gitar yang condong pada hal-hal negatif. 

Hasilnya? Teritori eksperimen baru, yang bakal terdengar asing, seolah masuk ke dunia paralel dari versi asli. Di tangan dingin Li Jianhong, sayatan gitar yang keluar itu bukan dipandang sebagai rangkaian nada abstrak yang menstimulasi emosi tertentu, tetapi melihat gitar, sebagai penghasil bentuk-bentuk geometris maupun fenomena suara konkrit. 

Li Jianhong memahat tekstur gitar melalui elemen-elemen drone, untaian noise, atau bahkan lengkingan menjerit dari psychedelic rock untuk membentuk suara-suara yang berpotensi bisa diasosiasikan dengan benda-benda padat, seperti raungan suara gitar yang bergerigi, menghasilkan osilasi gelombang berbentuk balok-balok, ombak-ombak saling menerjang, hingga dapat menciptakan landasan tanjakan atau turunan yang menukik, seiring dengan gesitnya nada-nada yang meluncur.

Ngerubah tekstur, otomatis juga ngerubah cara mengkomposisi nada dan teknik bermain gitarnya. Secara pengalaman, Li Jianhong memilih untuk menghubungkan nada-nada yang akan tampak terdengar atonal, sedangkan Li bisa menggesek senar dengan sebilah tongkat, menariknya kesana-kemari, mencabik-cabik, dan menekannya sekuat tenaga.

Ketika rangkaian melodi atau harmoni hanya sebatas “perantara” orang untuk mulai mengasosiasikan diri dengan fantasi dan memorinya, di sini Li Jianhong ngasih pengalaman fenomena suara murni. Hingga yang muncul di benak itu tampak seperti spektrum gelombang hologram, yang berdenyut-denyut mengikuti alunan suara, persis seperti windows media player sempat bikin fitur visualization

Rekomendasi track : “Stone Cab”, “Shuttle Raven of the Dream”

BLACKHANDPATH – These Niggas Is At It Again

Kebiisngan-BLACKHANDPATH

Berjalan setapak dari sudut tergelap Virginia, kolektif experimental hip-hop BLACKHANDPATH membawa konsep antitesis pada meja diskusi skena hip-hop. Paradoksnya, mereka bukan mau terang-terangan melawan motif kelahiran hip-hop sebagai suara perlawanan dan alat resistensi. 

Justru mereka mau nunjukkin kalo perlawanan akan terasa lebih ekstrem dan nyata, dengan menggunakan pendekatan musikal yang berlawanan dari kebanyakan musik hip-hop yang beredar. 

Jika kebanyakan produser boom bap pake beat minimalis konstan, biar pendengar fokus ke irama dan rima kata yang keluar, BLACKHANDPATH justru bikin ketukan yang punya sifat disfungsi terhadap kekonstanan.

Campuran besi berkarat ala industrial, permukaan tampilan beat bergerigi dari power noise dan pola yang terputus-putus jadi modal BLACKHANDPATH buat nunjukin seberapa keras medan yang mereka lawan dan tempuh untuk menyuarakan unek-unek. 

Dibanding fokus merangkai kata per kata dengan pemilihan diksi yang cerdas dan kaya konteks, BLACKHANDPATH berteriak lantang penuh amarah, memaki dengan nada tinggi dan mengancam. Secara langsung nunjukin ekspresi kemarahan melalui kata, gestur, dan mimik vokal sekaligus, tanpa kompromi.

Hip-Hop yang lahir dan besar dari kultur musik kulit hitam, seringkali mengambil sampling dari musik-musik yang juga punya latar belakang kultural sama. Mau itu musik disco, funk, jazz, blues, R&B, apapun musik yang berhubungan dengan musik kulit hitam. Tujuannya, sebagai selebrasi sekaligus menyatukan erat, sehingga menjadi gerakan identitas kultur yang akan diingat dan dihargai. 

Berbanding terbalik, BLACKHANDPATH malah sengata bikin suara sampling dilepas dari konteks asal dan terbebas dari pengaruh kultural apapun. Menjahit banyak potongan sampling yang ditempel dengan rekatan bergaya kolase. 

Kalo mau berusaha menyatukan maksud dari sampling tercecer, cuman satu, yaitu kegusaran. Sampling orasi berapi-api, suara glitch yang merusak kenyamanan status quo, dan teriakan-teriakan yang terus menerjang, bikin rangkaian album nggak akan terlepas dari aksi teror dan aura balas dendam menuntut hak-hak yang telah dirampas. 

Rekomendasi track: “Internet Juche”, “Confused Individual”, “Take It To The Father In Heaven, And We Deal With It Swiftly”, “Feel Good Hormones”, “BeckyBeckyBecky”, “Actual Mental Illness”, “Supersonic Warfare Prayer”

Baca Juga : Melangkah Tanpa Wajah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *