Sisi-Tepi-Korea-Selatan-Cover

Nampaknya, semakin hari kalo ngomongin musik luar, udah ga bisa lepas lagi dari perbincangan musik-musik di Korea Selatan. Mungkin dulu, ketika K-Pop gen pertama baru naik, atau fenomena lagu “Gangnam Style” milik PSY mengglobal, segerombolan nerd dan geek musik bakal sinis dan mengkritisi habis-habisan nanggepin kehadiran tren semacam itu.

Ya mungkin mereka, terheran-heran, gimana bisa musik-musik yang mereka anggap “gak berskill” dan “gak berseni” bisa laku keras, viral, dan musiknya diputar dimana-mana. Sehingga ga heran kalau kesimpulan akhir yang ngatain musik K-Pop itu musik “sampah, modal tampang, dan ga berbobot” beredar dalam lingkungan para nerd dan geek

Tapi sekarang sejak skena musik indie Korea Selatan (disebut K-Indie) punya fondasi kuat dan mulai mengglobal sejak pertengahan dan akhir dekade 10’an, Korea Selatan kini dianggep udah bisa ngasih fanservice ke berbagai tipikal penikmat musik dunia, sesuai selera masing-masing. Mau dari metal, R&B, hip-hop kekinian, hardcore punk, math-rock, shoegaze, dream-pop, elektronik, sampe musik experimental semuanya tinggal sebut dan tunjuk. 

Korea Selatan kini seolah punya 2 franchise besar skena musik yang tersegmentasi. Yang pertama adalah K-Pop yang berasal dari barisan idol grup maupun penyanyi solo besutan 3 agensi K-Pop terbesar asal Korea Selatan (SM, YG, JYP).

Satu lagi, K-Indie yang berasal dari musisi maupun penyanyi yang ga tergabung maupun terafiliasi dengan big three agensi. Walau rekognisinya ga akan sebesar dan seluas K-Pop, tetapi artist-artist K-indie sama-sama punya kans untuk go internasional dan bisa menjadi fenomena di luar Korea. 

Misalnya aja, Parannoul proyek shoegaze / lo-fi pop kamar tidur yang hanya berisi seorang pemuda misterius, yang musiknya udah terkenal di kalangan pecinta musik indie global internet dan dapet sertifikasi ulasan positif dari beberapa redaksi dan reviewer musik ternama seperti Pitchfork, Anthony Fantano, dan Consequence of Sound

Terus ada Say Sue Me, yang musiknya bakal ngembaliin memori ke era-era musik indie / alt-rock era 90’an. Bahkan penyanyi-penulis lagu R&B, Yerin Baek sampai sekarang commit untuk bergerak secara independen, setelah cabut dari JYP 2019 lalu.

Awalnya, Yerin Baek, mendirikan label Blue Vinyl, tetapi karena kontraknya habis, akhirnya Yerin Baek beserta the Volunteers (band indie rock buatannya) sepakat meninggalkan Blue Vinyl, dan tetap bergerilya di jalur independen dengan bikin label baru sendiri bernama peoplelikepeople. 

Rekomendasi artist-artist berikut ini mau nunjukin kalo gerakan K-Indie ini memang ga kenal batasan. Bahkan meskipun Korea terkenal dengan budaya “keseragaman” dan “kesopanannya”, itu ga cukup menghalangi, bahwasanya gerakan evolusi dan eksperimentasi musik K-indie terus semakin bercabang dan radikal dalam menembus batasan seiring berjalannya waktu. 

Heejin Jang – Souvenirs From Hell

K-Indie-Heejin-Jang-Souvenirs-From-Hell

Sebagai komposer improvisational multidisipliner, Heejin Jang nggak cuman mendekatkan diri pada hal-hal yang dianggap terlalu jauh dan sulit dipahami dari lensa kehidupan sehari-hari. Justru, Heejin Jang bertekad mengeksplorasi apa yang tampak terjadi dalam keseharian, menjadi punya observasi makna yang mendalam.

Tidak hanya mengupas apa yang terlihat, tetapi mencoba menelisik hal-hal non-materiil di sekelilingnya yang membuat sebuah objek bisa tercipta atau setiap kejadian bisa hadir. Kadang Heejin Jang bisa menggunakan metafora dan alegori yang “aneh” untuk menyampaikan makna yang terselubung, seperti pada “Me and the Glassbirds”.

Dalam album itu, Heejin Jang mencoba ngejelasin pergumulan batin melawan diri, melalui metafora aneh, yaitu seseorang yang menembaki burung-burung kaca buatannya sendiri di laboratorium dengan ketapel, lantaran ketakutan setengah mati dengan refleksi pantulan bayangan sang pencipta itu sendiri. 

Musik Heejin Jang pun, ga kalah nyentriknya, dimana ngegabungin sudut musik ekstrim kanan dan kiri. Musiknya bisa terdiri dari sehelai ambient yang bernuansa meditatif dan menenangkan. Lalu seketika, melintasi lempengan noise kacau, nan bising yang bisa menguras kekuatan psikis dan mental. Mayoritas katalog Heejin Jang, memiliki bentuk musik yang mengawang-ngawang, tetapi kali ini Heejin Jang mutusin untuk memadatkan massa dan bentuk suaranya. 

Dalam “Souvenirs From Hell”, Heejin Jang memahat bilah-bilah ritmik yang ditempa dari elemen industrial dan irama musik post-club atau biasa akrab dengan sebutan deconstructed club. Jadinya, Heejin Jang lebih rajin mengeksplorasi nada-nada rendah menyentuh domain sub-bass yang ngasih nuansa gelap, serta ketebalan tekstur yang kasar, gak punya fiksasi bentuk, dan bisa menyebar ketegangan dan teror kapanpun tanpa ngasih rambu peringatan.

Elemen-elemen ambient yang penuh keheningan dan proses meditatif, lebih berkurang di album ini. Hal yang terjadi adalah, suara ambient kelam yang menebal, dengan gerakan latar suara yang sibuk menggangu secara samar-samar, seperti trauma masa lalu yang tiada henti-hentinya terus memanggil dan berbisik.

Meski berada dalam tahap imajerial, tetapi makna album ini serta eksekusinya setidaknya dibikin ga terlalu bengkok secara pemaknaan. Maksudnya penyampaiannya bisa dipahami secara literal. Heejing Jang mencoba menggali sejarah-sejarah kepahlawanan Yunani dan teori psikologis modern, yang dianggap memiliki keterhubngan.

Ketika para pahlawan Yunani mencoba menjelajah masuk ke “ruang bawah tanah”, untuk mencapai kemuliaan, yang terjadi justru mendapat rasa kehilangan dan penghukuman, sementara dalam psikologis modern “ruang bawah tanah” itu dianalogikan sebagai titik terkelam dan terendah seorang yang mengalami stress pasca trauma, lalu digunakan sebagai titik keberangkatan awal memahami kondisi agar bisa bergerak pada penyembuhan. 

Ga heran, kalau suara album ini diibaratkan oleh Heejin Jang seperti “menjelajah dalam neraka”, yang menggenapi siklus rantai saling berkesinambungan barusan. Semua orang bisa masuk dalam siklus perputaran ini tanpa terkecuali.

Seseorang yang sedang mencari kejayaan, harus bersiap buat menyusuri lorong kelam ini. Sementara, bagi seseorang yang “telah sembuh”, pergumulannya adalah bagaimana cara menghilangkan bekas goresan luka. Dan jalan satu-satunya ialah menyelesuri kembali ruang “bawah tanah” yang penuh dengan siksaan dan ketidaknyamanan menyelidiki trauma masa lalu.  

Track rekomendasi : “Smooth Immigration”, “The Hellbound”, “Out of 8”, “Negotiation”, “A Guided Tour”, “Unsolicited Trinket No.1”, “In The Whale”

Country Gongbang – Unknown Poets

K-Indie-Country-Gongbang

Bluegrass bisa dibilang salah satu format musik country paling awal yang berkembang di sekitar daerah pegunungan Appalachian, Amerika. Namun ga ada yang expect kalo bluegrass ternyata mampu menarik minat sekelompok pemuda asal Seoul, Korea Selatan yang tinggalnya berjarak lebih dari 6000 mil dari daerah pegunungan Appalachian. Sampai saat ini, Country Gongbang mungkin bisa dibilang satu-satunya grup bluegrass tulen dari Korea Selatan yang berhasil mendunia. 

Awalnya, para pendiri grup: Jang Hyunho (banjo), Kim Yebin (vokal, mandolin), dan Kiha (double bass) adalah teman seperkuliahan, tetapi baru resmi membentuk Country Gongbang pada tahun 2015. Darisitu Country Gongbang mulai aktif mengenalkan bluegrass pada audience Korea Selatan, bahkan sekitaran negara Asia dengan tampil di berbagai acara festival dan broadcast Radio. Sejauh ini Country Gongbang pernah tampil di Takarazka Bluegrass Festival di Jepang, Green Plugged Festival di Korea Selatan, sampai pernah tampil di salah satu Festival bluegrass terbesar, ROMP Festival di Amerika.

Tak lama, Country Gongbang pun diperkuat 2 personil tambahan, yakni Yoon Jongsu yang bergabung pada tahun 2016 sebagai pemain fiddle, dan Won Sujnae yang bergabung pada tahun 2018 sebagai gitaris. Country Gongbang mengakui, kalo musiknya banyak terinspirasi dari beberapa musisi legendaris bluegrass sebut saja: Rhonda Vincent, Alison Krauss, Sierra Hull, Ricky Skaggs, dan Sara Jarosz.

Tapi yang bikin beda, Country Gongbang ga bikin musik plek-ketiplek sama dengan bluegrass barat. Punya keunikan dan latar belakang budaya berbeda, justru dimanfaatkan dengan memadukan elemen musik folk asal Korea Selatan, dan cengok vokalnya yang terinpsirasi sama pendekatan vokal K-pop modern. 

Seperti yang diketahui kalo musik folk Asia itu, sarat dengan alat senar gesek, sampe setiap daerah punya alat tradisional khasnya sendiri, dan ini yang bikin lapisan musik bluegrass Country Gongbang masih kedengeran taste musik Asia-nya. Nuansa musik maupun aransemennya terasa sinematis, dinamis, seiring dengan pengaruh musik klasik dan folk Korea yang silih berganti mengisi aransemen di album ini. Isinya ga melulu chicken-picking atau genjrengan suara banjo. Bahkan kalau mau dibilang, vokal jadi salah satu titik sentral dalam hampir jajaran lagu. 

Misalnya, menjelang bagian akhir album, bakal lebih banyak berjumpa dengan lagu-lagu yang formatnya ballad. Tata letak vokal yang sengaja ditaruh di tengah dengan suara yang lebih ke-”depan”. Ketika ditanya, kenapa Country Gongbang berani dan percaya diri mainin musik bluegrass di Korea Selatan, yang notabene peminatnya sedikit, Hyunho menjawab bahwa bluegrass itu musik yang lekat dengan alam. 

Hyunho juga menambahkan, kalo bluegrass bisa menjadi musik pelipur lara, bagi yang jenuh sama musik-musik sekarang yang terlalu dipoles dan dibikin “sempurna”. Bagi Hyunho, musik bluegrass adalah medium ekspresi musik yang autentik sekaligus membumi. 

Track rekomendasi : “The Cowboy of Steep Hill”, “Voyage to Raleigh”, “The Dream to Summer”, “Portrait”, “Blessed Journey”, “Small Window”

System SEOUL – SS-POP 2

K-Indie-System-Seoul-SS-POP-2

System Seoul baru-baru ini bikin sensasi dalam skena musik underground Korea Selatan, dengan merilis 2 album sekaligus di tahun ini. Meski gaungnya ga sebesar di Amerika atau belahan negara lainnya, tetapi adegan hyperpop di Korea Selatan akhir-akhir ini mulai merangkak naik.

Kehadiran System SEOUL tentu jadi angin positif untuk semakin meramaikan kancah hyperpop domestik Korea, mengingat System SEOUL ini berformat grup yang beranggotakan rapper maupun produser hip-hop soundcloud bawah tanah asal sana, yaitu: MUNZi, sn7, hawks, dan ycs

Mungkin kalo berkaca dengan adegan hyperpop, digicore atau RAGE secara keseluruhan, System SEOUL memang belum ngasih lompatan twist eksperimen yang signifikan, tapi untuk seukuran adegan musik bawah tanah Korea, jelas ini ngasih jalan dan inspirasi baru, yang mau ngulik betapa “rumit” dan banyak potongan referensi yang perlu disadur dari kultur internet dan teknologi dan berbagai era, agar bisa bikin musik hyperpop yang memikat. 

System SEOUL, bisa bikin beat EDM yang menghentak-hentak, sambil ngelapisin synth semanis dan selengket es krim rainbow paddle pop kaya di lagu “Russian Roulettte”, nyiptain synth neon keras ala synthwave yang dikasih aliran elektro mirip irama membandel ala Zedd periode “Clarity”, sampe update bikin nomor tembang emo rap yang dilapisi sama ketukan berat TR-808, dan sampling lagu-lagu ballad K-Pop, kaya di “i miss ㅠ” atau “Regret Scenario”. 

Enaknya, dengan keunggulan multi-anggota, bikin lapisan vokal pun punya warna variasi yang tersedia. Ycs dengan gaya vokal emo rap ala sadboy, sementara MUNZi seperti punya 2 kepribadian, antara jadi gadis dengan suara yang berseri-seri dan bercahaya dari efek auto-tune mengkilap di lagu “시간을 달리는 소년”.

Tapi lagu berikutnya, “4 april” emosi vokal serasa datar meski di depan mukanya dibombardir sama rentang emosi ekstrim dari potongan sampling musik K-Pop yang kena redam ketukan berdistorsi sampe lonjakan beat elektronik mekanikal agresif menjelang penghujung lagu, yang sama sekali ga berhasil bikin wajahnya bahagia.

Hawks ngasih respon yang lebih lembut pada lagu “2018”, yang tetap tulus menyanyi dalam kemerduan, dibalik tensi irama yang sama sekali belum turun hibahan dari lagu sebelumnya. Sebelum berpisah, System SEOUL ngasih lagu “aNYOnE – 나의어린시절 -” yang meski durasinya 3 menit, tapi tampak seperti kumpulan megamix hasil kumulatif dari setiap sudut musik yang dijelajahi sebelumnya.

Mulai dari vokal imut emosional, kerusakan sirkuit elektronik dimana-mana, bikin potongan sampling yang punya transisi belokan tajam ala dariacore, sampe bikin ketukan bass raksasa, ugal-ugalan ala eurobeat  

System Seoul seolah punya dunia Roblox-nya sendiri yang berisi berbagai macam kesenangan dan kenangan yang bisa ditemuin dalam kultur musik di Internet maupun teknologi masa lampau. Dari kesenangan berlebihan musik speedup / mashcore sampe ngasilin lapisan glitch, gaya produksi potong dan tambal sulam ala meme-meme lo-fi, mengatur memori, balik ke-era 2010’an ketika Gen-Z bikin pesta rave sendiri di rumah dengan muter playlist-playlist edm trendi favorit, permainan nostalgia berbayang dan harapan dari vaporwave, sampe adegan emo / cloud rap yang lebih terbuka ngomongin kondisi mental dan kerapuhan diri. 

Dasom Baek – Mirror City

Dasom-Baek-Mirror-City

Bagi Dasom Baek, alat musik tiup merupakan instrumen yang paling dekat dengan emosi dan kehidupan setiap orang. “Saya pikir daya tarik alat musik tiup terletak pada suaranya yang bergantung pada cara Anda bernapas. Kisah-kisah yang saya simpan dalam pikiran saya, saya hirupkan ke dalam alat musik tersebut – semuanya menjadi musik.” Ucap Dasom Baek, melihat kilas balik dirinya sebagai seorang komposer yang turut mengambil spesialisasi pada alat musik tiup tradisional Korea, Daegeum dan Sogeum.

Siapa sangka dibalik lapisan ambient menenangkan yang melapisi musiknya serta keterlimpahan warisan luhur musik tradisional, Dasom Baek malah ingin mendalami kehidupan modernitas warga urban, yang hiruk pikuk dan selalu sibuk, seolah tidak ada lagi waktu untuk berkesenian maupun menghela nafas menenangkan diri sejenak. 

Intensinya membuat berbagai instrumen menempel secara kolase dan tidak utuh, bisa jadi sebagai manifestasi “siasat” Dasom Baek buat ngegambarin kekisruhan kota yang dihuni banyak polusi suara. Ketidakselarasan penempatan antara potongan vokal yang sengaja tidak diselesaikan, frekuensi tiupan suling yang tinggi dan melengking, dan alat musik string yang terpotong jadi lempengan-lempengan, saling tumpang tindih dan tidak selalu terjahit dengan rapi dan halus. 

Meskipun tampak “berbentuk acak”, kekuatan ritmis maupun premis melodi utamanya masih kedengaran jernih, jadi bisa dibilang Dasom Baek secara pendekatan komposisinya, menganut gerakan post-minimalism yang mencoba memadukan elemen musik folk tradisional Korea, dengan musik jazz dan gerakan avant-garde abad 20’an.

Magisnya, ketika “kekacauan” dan “ketenangan” diletakkan dalam perjalanan aransemen, setidaknya itu bisa membangunkan kesadaran, bahwa ternyata penting untuk diam dan hening sesaat, setelah menghadapi berbagai gejolak dan ketidakstabilan. Ya, ini yang membedakan representatif kehidupan kota versi “Mirror City”, dengan kehidupan kota sesungguhnya.

Tidak ada yang memberitahu dalam kehidupan sebenarnya, bahwa perlu keheningan sesaat demi menjernihkan pikiran dan memulihkan kondisi mental, sehingga kehidupan terus dijalani dengan melihatnya sebagai beban tanggung jawab, sementara dalam “Mirror City” kesemrawutan itu justru sebagai uji kesiapan usai menyucikan diri dalam kontemplasi keheningan dan meditasi.   

Track rekomendasi : “Concrete Forest”, “Mirror”, “Human Machine”, “Invisible”, “Urban Ghosts”, “Tightrope”

OBSG (O-Ban-Sing-Gwa) – 오방神과

K-Indie-OBSG-오방神과

Sebagai yang lahir menuju periode akhir gen-X, Lee Hee-Moon begitu aktif dan produktif bikin musik dengan corak folk asal tanah kelahirannya, Korea Selatan. Mulai dari proyek solonya yang bikin album-album fusion antara musik kontemporer dengan musik tradisional Gugak, sampe SsingSsing, grup yang bikin Lee Hee-Moon dan kawan-kawannya dikenal secara global lewat penampilannya di NPR

Sayangnya, SsingSsing hanya bertahan sebentar, sebelum Lee Hee-Moon membubarkannya pada Oktober 2018. Sebagai gantinya, Lee Hee-Moon mendirikan proyek baru bernama O-Ban-Sing-Gwa (disingkat OBSG) pada 2019 lalu. Grup yang beranggotakan 10 orang termasuk Lee di dalamnya, mencampuradukkan berbagai gaya musik dari belahan dunia seperti reggae, blues, dub, jazz, dan tak ketinggalan juga irama musik klasik Korea.

Meski udah banyak banget bikin proyek dan karya yang dibentuk di atas dasar musik folk, Lee Hee-Moon sendiri sebenernya ga muluk-muluk punya tujuan mulia “untuk mengenalkan musik folk korea pada dunia”, atau “punya niat sebagai regenerasi baru”. Lee mengaku kalo musiknya, sepenuhnya cuman buat proyek seneng-seneng, dan ketika ditanya kenapa milih medium musik folk, Lee hanya nyodorin jawaban singkat dalam bahasa Korea, “Palja” (팔자) yang artinya “Takdir”. 

Ya walau keliatannya “ga serius”, tapi mentalitas itu yang bikin Lee ga terkekang sama aturan atau tuntutan harus nunjukkin citarasa musik folk asal daerahnya secara dominan, bahkan dalam OBSG bakal terasa modern dan kontemporer dengan dekorasi musik funk, rock, blues, jazz, reggae dan dub di setiap sudut.

Bagi, Lee presensi suara vokal dan bahasanya yang bercorak oriental khas Korea, udah lebih dari cukup buat nunjukin semangat bermusik kedaerahan. Instrumennya dipoles jadi kedengeran terang, fresh, dan berwarna seiring dengan banyaknya jenis instrumen yang digunakan. 

Mulai dari “허송세월말어라” dengan dandanan funk abis dari pallet gitar yang ngasih kocokan berirama, tempo drum yang asik bikin groove buat nari-nari di lantai dansa, “나리소사” yang terbuat dari irama selonjoran ala dub yang berseliweran selingan piano minimalis dan gitar psikedelik yang bikin kepala plong. “긴 난봉” lagu slow jazz, yang malah ngasih vokal tempat spotlight dan ngendaliin improvisasi aransemen.

“노래, 가락” ngasih campuran kocokan gitar dan pukulan kendang eksotis reggae, dengan gitar yang dicelup dengan efek “masam”, dan potongan terompet yang riang.  “어랑브루지” punya nuansa yang melankolis bantuan dari petikan halus gitar listrik non-distorsi dengan gaya musikal slow blues.

Apa yang dikatakan Lee ada benarnya, bahwa setiap corak vokal dan lirik dan intonasi Koreanya, bikin album ini tetap mempertahankan erat unsur-unsur orientalnya, sekalipun pemilihan instrumen yang berporos pada kultur musik non-Korea.

Dan satu lagi, musik folk Asia yang biasanya ngasih dimensi spiritual dan kontemplasi yang seolah ngasih jarak pada kehidupan duniawi, diganti oleh Lee dengan ngasih pandangan, memaknai hidup itu justru menjalani, menari-nari, dan bersenang-senang bersamanya.   

Baca Juga : Dengerin Musik Jelek Menurut RYM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *